~The Dormitory~
.
Super Junior © SM Entertainment
.
Chapter 7 :
Holiday - Day 1
.
Rating : T
.
Cast :
Super Junior's members and the others support cast.
.
Pairing :
Super Junior's Pure Pairs.
.
Genre :
Romance, Friendship, School Life.
.
Warning :
Boys Love, Typo(s), Confusing Plot, AU, a Little OOC, Over.
.
~oOo~
.
Flames Are Not Allowed!
~Don't Like, Don't Read~
.
.
~oOo~
.
.
Keduanya saling duduk bersebelahan. Tidak ada yang bersuara alih-alih membiarkan deru ombak di malam hari mendominasi keheningan yang tercipta di antara mereka. Namja yang berambut kecoklatan mencoba mencuri pandang ke arah teman di sebelahnya sembari mengubur sepasang telapak kaki telanjangnya dengan timbunan pasir putih yang menjadi alas duduk mereka berdua. Namun yang dipandang tetap statis dengan kedua bola mata sayunya yang terpaku menatap laut.
"Hae-ya.." sapaan pertama dari setengah jam kebersamaan mereka malam itu.
Yang dipanggil hanya mendengus pendek sebagai jawabannya. Wajah tampan yang selalu ceria itu mendadak murung dan tidak bercahaya sama sekali.
"Mianhae.." ucapan kedua si namja bersurai coklat ketika dirasa dirinya semakin tidak dianggap.
Diam. Temannya hanya bisa diam. Dan itu menjadi awal keheningan mereka berikutnya.
Sayup-sayup lantunan suara biola menyisip di antara desir angin. Instrument Let's Not milik Super Junior mengambil alih atensi dari kedua namja yang kini hanya saling berdiam.
"Mochi sangat pandai bermain biola. Dia sangat multitalenta sebenarnya." Wajah yang sedari tadi muram itu pun akhirnya menunjukkan segaris senyumnya.
"Nde.. Dia sangat berbakat."
"Hyukkie.."
"Hmm?"
"Kenapa kau tidak mengatakan jika kau akan berlibur di sini?"
Namja yang dipanggil Hyukkie itu spontan menoleh. Wajah namja di sampingnya tersebut kembali tertekuk. Rahang tegas yang membentuk wajah tampan itu nampak mengeras menahan emosi.
"Aku-"
"Beberapa hari ini kau selalu menghindariku. Kau juga jarang main ke asrama. Bahkan kau juga absen di klub dance. Berkali-kali aku mencoba mengirim pesan kepadamu tetapi tidak pernah kau balas. Sebenarnya kau ini temanku atau tidak?"
Serangkaian kalimat yang sedari tadi berkelut di pikirannya akhirnya mengalir mulus bak sapuan ombak yang membasahi hamparan pasir di depan mereka.
Namja bernama Lee Donghae itu kini menatap Eunhyuk sepenuhnya. Air wajahnya mencerminkan sebuah kekecewaan yang begitu mendalam. Dan matanya... bias percikan api yang menari dari unggun di dekat mereka menyala dalam kedua bola mata Donghae yang berkaca-kaca.
"Aku tidak bermaksud menghindarimu, Hae.." suara Eunhyuk bergetar. Wajahnya ia tundukkan sedalam mungkin.
"Setidaknya, kau mengabariku soal rencana liburanmu."
"Untuk apa?" kali ini Eunhyuk hanya berbisik, namun Donghae masih bisa mendengarnya.
"Untuk apa katamu?" desah Donghae semakin kecewa. "Hyukkie, kau ini sahabatku. Aku berhak tahu kemana kau pergi."
Eunhyuk mengernyit tidak suka. Sekarang ia mencoba memberanikan diri menatap mata Donghae. Sebuah senyuman masam tercetak di wajah sendunya. "Sahabat? Ne, aku memang hanya sahabatmu, Hae. Dan karena kau juga hanya sahabatku, maka bukankah itu tidak penting untukmu mengetahui dimana pun aku berada?"
Ia tidak pernah seemosional ini sebelumnya. Sekalipun Eunhyuk tidak pernah se-sensitif ini jika menanggapi kata-kata Donghae, semenyakitkan apapun itu untuknya. Namun kali ini, rupanya namja pencinta dance itu sedang dalam titik jenuhnya. Atau karena semata-mata ia terbawa suasana?
Untuk sejenak, Lee Donghae hanya bisa kembali diam. Lantunan nada biola Henry masih terdengar. Ombak di pantai makin menderu dan angin malam menusuk kulit semakin dalam.
"Lagipula... Bukankah kau bilang kau akan berlibur di kampung halamanmu bersama Yesung-hyung?" ucap Eunhyuk getir. Rasanya ia ingin menangis saat ini juga.
"..."
Lagi-lagi tidak ada jawaban dari Donghae. Pelan dan tanpa suara, air mata itu turun begitu saja. Donghae menangis dalam diamnya. Dan Eunhyuk tidak menyadari itu.
"Tidak jadi. Aku tidak jadi berlibur ke Mokpo bersamanya," katanya datar.
Eunhyuk tertegun, "Wae?"
"Kau tahu, Hyuk. Sesaat sebelum aku menyampaikan tentang rencana liburanku pada Yesung-hyung, aku mendengar pembicaraan yang sedikit menyakitkan. Kau tahu Kim Ryeowook? Adik angkat Yesung yang pernah aku ceritakan padamu. Dia mengatakan di telponnya jika ia dan Yesung akan ber... berkencan. Dan yang lebih menyakitkannya lagi, Yesung sama sekali tidak menghubungiku setelahnya. Saat itu... aku berharap ada seseorang yang bisa menjadi teman berbagi ceritaku. Meredam emosiku dan menyemangatiku seperti yang biasa kau lakukan padaku. Tapi tiap kali aku mencarimu dan mencoba menghubungimu, kau selalu menghindar dan menjauh. Dan entah kenapa, justru itulah yang membuatku paling bersedih."
Kini giliran Eunhyuk yang terdiam. Ia tidak menyangka bahwa Donghae akan mengalami hal yang kurang menyenangkan beberapa hari ini. Eunhyuk bukan bermaksud menghindari sahabat karibnya tersebut. Hanya saja ia ingin menjaga hatinya jika sewaktu-waktu Donghae akan terus-menerus bercerita padanya tentang rencana liburannya bersama Yesung. Sejujurnya Eunhyuk sudah lelah sakit hati.
Namun mendengar penjelasan dari Donghae mau tak mau rasa bersalah perlahan menyusupi hatinya yang sensitif. Tak seharusnya ia menghindar dari sahabatnya tersebut. Ia merasa bukan Lee Hyukjae sahabat Lee Donghae. Lee Hyukjae adalah seseorang yang selalu berada di sisi Lee Donghae baik di saat sedih maupun senang. Dan beberapa hari kebelakang ini, Hyukjae telah menghilang dan ia amat menyesal akan itu.
"Donghae mianhae..." lirihnya. "Nan jeongmal mianhamnida.."
Eunhyuk mulai menangis. Entah kenapa malam ini begitu emosional bagi kedua insan tersebut.
Donghae menoleh padanya. Melihat Eunhyuk menangis seperti itu menggerakkan hatinya untuk tiba-tiba merengkuh namja kurus di sampingnya tersebut dengan posesif.
"Uljima, Hyukkie-ah.."
Pelukan itu sangat hangat.. terlalu hangat hingga membuat dada Eunhyuk terasa semakin sesak. Ini adalah pelukan yang sangat ia harapkan. Pelukan seorang Lee Donghae. Jika ia diperbolehkan untuk merasa egois barang sekali saja. Ia ingin memiliki pelukan itu seumur hidupnya..
"Hae-ya.."
"Eum?"
"Mianhae.."
"Nde.."
.
"Hae-ya.."
"Hm?"
"Aku lapar.."
.
.
~oOo~
.
.
Leeteuk malam ini boleh sedikit lega. Mungkin kata-kata Jungmo beberapa saat yang lalu tentang menikmati liburan tanpa memandang latar belakang asrama, untuk kali ini bisa ia pegang. Entah mimpi apa yang semalam menghinggapinya, namun ia merasa aneh sekaligus haru melihat teman-temannya yang biasanya berkubu, kini bisa saling berbaur tanpa ada kecanggungan sama sekali.
Di sampingnya, Kangin yang selalu setia menemaninya diam-diam menelisik ke wajah Leeteuk. Wajah malaikat yang selalu bisa mendamaikan hatinya itu malam ini sedang fokus memikirkan sesuatu. Entah apa.
Iseng, namja bertubuh kekar itu mencolek kecil sisi pipi kiri namja berlesung pipi tersebut. "Jangan terlalu banyak melamun. Kau bisa kemasukan roh penunggu pantai ini lho, hyung," godanya.
Leeteuk sontak menoleh. Memandang wajah tengil namjachingu-nya tersebut dengan alis naik sepasang. "Sejak kapan uri Kangin percaya hal-hal gaib seperti itu, eoh?" ia ganti menggoda.
"Tapi penduduk sekitar percaya jika pantai ini ada penunggunya, hyung." ucap Kangin serius.
"Jinjja?"
"Ne. Maka dari itu berhati-hatilah. Terutama saat kau tidur malam nanti. Apalagi kau tidur tanpa aku," lelucon Kangin semakin menjadi-jadi.
Leeteuk nampak mengguman pelan dan terlihat sedang berpikir keras. "Tapi sepertinya aku tidak khawatir soal itu, Kangin-ah."
"Eoh?" Kini gantian alis Kangin yang naik sepasang.
"Karena nanti aku akan tidur dengan ditemani pangeran iblis. Aku yakin, hantu apapun pasti takluk di tangan Kyuhyun."
"Ppppfftt... bwahahahaha.." Tawa Kangin seketika meledak. Ia sekonyong-konyong tergelak sampai terjungkal di pasir. Ternyata malaikat pun bisa membully iblis. =_=v
"Kyuhyun akan membunuhmu, hyung! Hahahaha.."
"Ia akan berpikir dua kali sebelum melakukannya."
"Aku akan mengatakannya pada Kyuhyun."
"Coba saja. Maka kau yang akan kubunuh duluan." Leeteuk mencubit pinggang Kangin.
"Memangnya kau rela kalau aku mati?" Kangin malah menggoda.
"Aku akan berselingkuh dengan Heechul."
"Mwo? Pasangan macam apa itu? Siapa uke siapa seme jika kau dengan Heechul?"
"Tentu aku seme-nya!" ucap Leeteuk yakin.
"Kau tidak akan bisa, hyung.." sangsi Kangin.
"Kau meragukanku, eoh? Mau kubuktikan?" tantang Leeteuk.
"Di depanku? Sekarang? Dengan Heechul? Make out on the beach sepertinya seru." Kangin malah berseloroh.
Di sampingnya, Leeteuk langsung melotot ngeri, "Yaaa! Pervy Racoon!"
Satu pasangan lagi yang nampaknya sangat berbahagia malam ini. Tidak ada derai air mata maupun ekspresi sendu. Kangin dan Leeteuk akan menghabiskan hari dengan canda dan tawa yang tiada akhir. Biarkan untuk sekali ini, ayah dan ibu asrama Ocean menikmati waktu berduanya tanpa beban yang melingkupi.
.
.
~oOo~
.
.
Sementara itu, beberapa meter dari tempat Leeteuk dan Kangin..
"Hatchim.."
"Kau sakit, Kyu?" Siwon melirik cemas ke arah Kyuhyun yang sedari tadi bersin berkali-kali.
"Apa?" ia menggosok-gosok hidungnya yang sudah memerah. "Tidak kok. Mungkin ada yang sedang membicarakanku. Entahlah." ia menggedikkan bahu acuh.
Kyuhyun dan Siwon seperti halnya teman-teman mereka yang lainnya. Berkumpul bersama dalam satu lingkaran yang mengelilingi api unggun besar di hadapan mereka.
Tidak semua murid asrama Ocean, Blue dan Sapphire yang berkumpul di dekat api unggun, sebagian ada yang menyendiri dan ada juga yang ikut berbaur. Beberapa diantaranya adalah Kibum dan Sungmin. Dua bersaudara ini duduk bersebelahan tepat di seberang Kyuhyun dan Siwon. Dan di ujung, ada Henry dengan biola putihnya yang masih senantiasa memberikan sentuhan berupa lantunan not yang ikut mengisi kebersamaan mereka malam itu.
"Cho.."
"Hm?"
"Kau merasa tidak jika sedari tadi Lee Sungmin mencuri pandang ke arahmu?" bisik Siwon.
"Tidak."
"Liar! Kau pikir aku tidak tahu kemana arah matamu itu?" Siwon menyikut pelan tulang kering Kyuhyun.
Kyuhyun memiringkan tubuhnya sedikit. Sesungguhnya ia memang berbohong, bodoh jika ia tidak menyadari tatapan diam-diam Sungmin kepadanya. Tapi namja jenius bermarga Cho itu berbohong bukan semata-mata hanya karena asal menyeletuk. Ia berani bersumpah, jika sedari tadi mata Siwon pun juga mencuri pandang ke arah Kibum dan Sungmin, entah kepada siapa mata itu tertuju.
"Kau perhatian sekali ya dengan Lee Sungmin. Atau jangan-jangan justru kau yang melihat ke arahnya?" sindir Kyuhyun to the point.
Siwon nampak sedikit terkejut.
"Hyung, ingat. Kau masih berhutang penjelasan padaku. Aku tahu kau mengenal baik Lee Sungmin. Aku benar 'kan?" Kyuhyun menyeringai samar. Membuat si Presiden Siswa itu mendengus panjang.
Haruskah ia menceritakan pada Kyuhyun tentang masa lalunya? Tapi sepertinya tidak ada salahnya juga ia berbagi dengan Kyuhyun. Mungkin dengan begitu, prasangka buruk bocah evil itu terhadapnya akan sedikit berkurang.
"Nde.. Aku mengenalnya," kata Siwon memulai ceritanya. "Sungmin itu kakak sepupu Kibum walau usia mereka hanya terpaut bulan. Lee Sungmin sejak kecil tinggal dan bersekolah di Jepang sampai ia lulus sekolah menengah pertama. Aku hanya mengenalnya selama beberapa bulan saja. Saat itu Kibum yang mengenalkanku padanya. Kau tahu 'kan kalau aku dan Kibum berteman dekat?"
Kyuhyun menyimak cerita hyung-nya tersebut dengan seksama. Selama ini Siwon hanya bercerita seputar kedekatannya dengan Kibum—dahulu. Namun tak sepatah kata pun Siwon pernah menceritakan tentang Sungmin padanya, sekalipun penyebab retaknya persahabatannya dengan Kibum. Jika saja Siwon tidak keceplosan tentang Sungmin tempo hari, maka Kyuhyun juga tidak akan menaruh curiga kepada Hyung perfeksionisnya tersebut.
"Saat pertama kali aku bertemu Sungmin, aku..." suara berat Siwon makin melirih. "Aku jatuh cinta padanya."
Gotcha!
Itulah kalimat yang paling Kyuhyun tunggu. Kyuhyun adalah tipe orang yang acuh terhadap sesuatu. Namun jika menyangkut dengan orang yang disukainya, ia akan mengejar apapun itu sampai ia mendapatkan jawabannya.
"Jadi itu penyebab kau dan Kibum tidak bersahabat lagi? Kibum menyukaimu tapi kau menyukai Sungmin, sepupunya. Benar 'kan tebakanku?" Lagi-lagi kalimat Kyuhyun menembak tepat sasaran.
"Aku sungguh tidak tahu jika ternyata Kibum menyukaiku," ucap Siwon frustasi. Nyala api di depan matanya makin meninggi, memburamkan sosok Kibum yang saat ini sedang tertawa lepas di hadapannya.
"Lalu?"
"Apa?"
Kyuhyun masih ingin menguak lebih dalam. "Bagaimana perasaanmu pada dia sekarang?"
"Aku tidak tahu, Kyu. Aku tidak tahu bagaimana perasaanku kepada Kibum," kalimat Siwon semakin melirih jengah.
"Bukan pada Kibum, tetapi kepada Sungmin." Rupanya Kyuhyun memang terlahir sebagai namja yang tidak suka bertele-tele.
Untuk sedetik, Siwon terpaku. Pertanyaan Kyuhyun begitu menancap di otak dan hatinya kali ini. 'Bagaimana perasaannya kepada Sungmin?' Satu pertanyaan yang tidak pernah bisa ia jawab. Setidaknya sampai detik ini.
"Kenapa, hyung? Kau tidak bisa menjawab?" Pertanyaan Kyuhyun menghunus semakin dalam.
Namja bertubuh atletis di sampingnya itu hanya mampu menatap kosong ruang di hadapannya. Otak cerdasnya seolah mati untuk sesaat. Satu hal yang tidak pernah ia pelajari selama ini adalah, ia tidak tahu bagaimana cara menerjemahkan bahasa hatinya.
"Bagaimana jika kita buktikan saja?" lagi-lagi Kyuhyun berkata ambigu.
Siwon menatapnya sembari mengernyitkan dahi tidak paham. "Maksudmu?"
"Ikut aku, hyung." Kyuhyun beranjak duluan meninggalkan Siwon yang masih mencerna ucapannya. Namja itu dengan mantap berjalan ke arah Sungmin dan Kibum.
"Ya, Kyu. Apa maksudmu?" Walau perasaannya tidak enak, tetapi namja tinggi itu tetap mengikuti langkah Kyuhyun.
.
.
.
"Ehm, maaf mengganggu kalian," ujar Kyuhyun ketika ia sampai di hadapan Kibum dan Sungmin yang masih saling asyik berbicang.
Alhasil, suara berat Kyuhyun sukses mencuri atensi kedua bersaudara tersebut. Keduanya serempak menoleh padanya.
"Kibum-ssi. Bolehkah aku berbicara dengan Sungmin sebentar?" tanyanya sesopan mungkin. "—Berdua," tambahnya cepat.
Kibum nampak tidak suka dengan kehadiran Kyuhyun, terlebih saat ia melirik ke arah belakang Kyuhyun, dimana Choi Siwon berdiri tidak jauh darinya. Namun ia sedang tidak ingin mencari masalah, lagipula Kyuhyun sudah meminta izin dengan baik-baik. Akhirnya dengan kaku ia pun meng-iyakan permintaan Kyuhyun.
"Terima kasih, Kibum-ssi." Kyuhyun tersenyum penuh wibawa sebelum mengisyaratkan pada Sungmin untuk ikut dengannya.
Dan saat namja berambut ikal itu melangkah melewati Siwon, satu bisikannya mampu membuat hyung-nya tersebut sekali lagi hanya bisa terperangah. "Temui Kibum-mu sekarang dan buktikan sendiri perasaanmu pada'nya'."
.
.
~oOo~
.
.
-Everland Park, 08:45 pm.-
"Indah sekali.." gumaman penuh takjub terlontar dari bibir mungilnya yang nampak mengkilap akibat terbias cahaya lampu kota di bawah sana yang bagai hamparan kunang-kunang beraneka warna.
Sepasang mata bulat itu memejam tenang. Membiarkan sepoi angin malam menerbangkan helai-helai rambut coklatnya yang menjuntai di sekitar dahinya.
Namja itu berada pada ketinggian lebih dari seratus meter dari permukaan tanah, ketinggian maksimum sebuah bianglala raksasa yang membawa tubuhnya seakan terbang di malam hari.
"Tutup jendelanya, Wookie-ah," sahut seorang namja lain yang saat ini juga berada satu kompartmen dengannya.
"Biarkan seperti ini dulu, hyung.." namja mungil itu tetap pada posisinya menghadap jendela yang ia biarkan terbuka lebar.
"Nanti kau bisa masuk angin." ujar hyung-nya khawatir.
"Sebentar saja, hyung.." ia bersikukuh.
"Wookie.."
"Baiklah, Yesung-hyung. Aku akan menutupnya." akhirnya namja yang di panggil Wookie itu pun menurut dan menutup jendela bianglala tersebut seperti sedia kala.
Kim Ryeowook membenahi posisi duduknya sejenak dan hendak memulai ocehan panjangnya tentang pemandangan kota yang ia lihat di bawah sana kepada seseorang di hadapannya. Namun ekspresi berseri-serinya sontak memudar begitu melihat wajah Hyung di depannya itu nampak sedang gusar dan tidak tenang sambil memandangi layar handphone-nya.
"Waegeurae, hyung-ah?" tanya Ryeowook hati-hati.
Wajah yang sedari tadi menunduk itu pun mendongak, tetapi tidak menatap Ryeowook melainkan pemandangan yang ada di sampingnya. Kerlip lampu gedung pencakar langit terpantul di manik hitam sayunya.
"Hari ini tepat seminggu aku tidak menghubunginya," gumamnya masih tanpa memandang namja yang lebih kecil darinya tersebut. "Aku sudah sangat jahat kepadanya, Wookie."
Ryeowook paham benar maksud kata-kata hyung-nya itu. Jika boleh jujur, ia pun juga merasa jika tidak seharusnya semua ini terjadi. Rasa 'sakit' ini, tidak seharusnya mengakar pada diri mereka serta pada seseorang yang berada jauh di sana.
"Kau tidak jahat, Yesung-hyung," lirih Ryeowook sembari meraih telapak tangan Yesung yang bebas. "Kau terlalu menyayanginya hingga kau tidak tega untuk menyakiti hatinya, benar?"
Kini namja bernama Yesung itu mengalihkan pandangannya untuk menatap mata Ryeowook.
"Aku menyayangi Donghae."
"Aku tahu," Ryeowook tersenyum tulus.
"Tapi aku mencintaimu, Kim Ryeowook."
Senyum Ryeowook nampak sedikit memudar. Ia semakin erat menggenggam tangan Yesung seolah menyalurkan pesan sebagaimana hatinya begitu takut untuk mendengar pernyataan tersebut, walau itu bukanlah yang pertama kalinya.
"Kumohon jangan sakiti Donghae-hyung." namja mungil itu mulai terisak pelan.
Yesung balas menggenggam telapak tangan mungil Ryeowook. Ia juga butuh kekuatan, dan dari Ryeowook-lah ia mendapatkannya.
"Lalu aku harus bagaimana, Wookie?" ucapnya sungguh-sungguh. Hubungannya dan Donghae bukan sekedar hubungan yang baru beberapa bulan mereka jalani. Bukan hubungan yang akan dengan mudahnya terputus saat salah satu diantaranya mengucap ikrar untuk berpisah.
Yesung dan Donghae dulu saling mencintai, begitupun dengan sekarang. Mereka saling menyayangi dan jalinan yang mengikat mereka selama dua tahun lebih membuat keduanya akhirnya menjadi saling membutuhkan. Namun cinta yang Yesung rasakan padanya sekarang berbeda. Bukan ia tidak mencintai Donghae lagi, hanya saja rasa cinta itu menafsirkan pesan yang berbeda pada hatinya.
Ia mencintai Donghae, seperti adik kandungnya sendiri.
"Aku tidak ingin menyakitinya lebih lama lagi. Aku harus mengatakan yang sebenarnya pada Donghae."
"Donghae-hyung tidak layak disakiti. Ini semua salahku. Jika ia harus membenci seseorang, maka akulah yang pantas ia benci." Ryeowook semakin terseguk.
"Wookie.. berhenti menyalahkan dirimu sendiri," jemari mungil Yesung mengusap air mata yang turun di pipi Ryeowook. Melihat Ryeowook selalu menyalahkan dirinya sendiri membuat hati Yesung semakin teriris. Namja yang lebih muda dua tahun darinya itu jelas bukan pihak yang patut disalahkan, namun ia selalu menempatkan dirinya pada posisi yang paling bersalah atas takdir yang menimpa mereka.
"Aku akan mengatakan yang sebenarnya pada Donghae jika hubungan kita bukanlah sebatas hyung dan dongsaeng. Aku akan mengatakan jika aku— aku sudah memiliki tunangan. Dan itu adalah kau, Kim Ryeowook."
Hening...
Bianglala mereka mulai bergerak.
Senyap, seolah dunia ikut menjadi saksi atas kejujuran Yesung. Saksi atas pecahnya kepura-puraan Yesung selama satu tahun ini.
"Hiks," tangisan Ryeowook mengisi keheningan yang sejenak tercipta. "Aku tidak seharusnya menjadi tunanganmu Yesungie.."
Yesung terperanjat. Mata sipitnya membelalak kaget. Ditelusurinya bola mata Ryeowook, ia ingin menemukan kebohongan di sana.
"Wookie, kau tidak boleh mengatakan hal-hal seperti itu! Apa kau menyesal dengan pertunangan kita? Apa kau tidak mencintaiku, eoh?" ucap Yesung kalap.
Bahu Ryeowook bergetar. Pikirannya seolah kembali ke masa beberapa tahun silam. Saat ia dan Yesung masih sama-sama baru menginjak remaja. Saat ia dan Yesung masih belum mengerti makna dari kalimat perjodohan. Saat ia dan Yesung masih bebas bersahabat dan bermain sesuka hati. Saat ia dan Yesung belum mengenal perasaan mencintai dan dicintai..
Entah kapan perasaan itu mulai tumbuh di antara mereka. Kebersamaan mereka selama bertahun-tahun membuat keduanya tidak bisa membedakan yang mana cinta dan mana yang bukan. Sampai pada suatu hari ketika Yesung memutuskan untuk pergi jauh ke suatu negara di seberang sana, hati Ryeowook pun akhirnya menyadari, seberapa penting arti seorang Yesung untuknya.
Dan jawaban dari segala tanda tanya besar mengenai perasaannya kepada Yesung adalah, saat Yesung menceritakan padanya jika ia telah jatuh cinta dan berpacaran dengan seorang namja bernama Lee Donghae. Sejak saat itu, Ryeowook menjadi yakin, jika rasa yang ia miliki untuk Yesung adalah cinta.
Setahun lebih ia memendam dan mencoba menghilangkan perasaan yang ia anggap salah itu. Namun hasilnya nihil. Yang ada ia semakin mencintai Yesung. Karena itulah ia berjanji akan tetap mempertahankan perasaannya, menjaganya, dan tidak pernah mengatakannya pada ia yang dicinta.
Namun setahun kemudian, semua mimpi-mimpi indah Ryeowook akhirnya terjawabkan. Doa-doanya terbalas, begitupun dengan perasaanya. Mereka dijodohkan seiring dengan pengucapan kata cinta Yesung untuknya. Ketika itu tidak ada yang bisa ia lakukan selain menangis haru. Ia terlalu senang. Ia berjanji akan melakukan apapun untuk membuat Yesung bahagia, termasuk berakting dan menyembunyikan status mereka pada namjachingu tunangannya tersebut.
Sama sekali Ryeowook tidak merasa keberatan sedikitpun karena—
"Aku mencintaimu Yesungie.. Sangat mencintaimu."
—Karena ia terlalu mencintai Yesung.
.
.
~oOo~
.
.
Sungmin tidak menyadari jika sedari tadi Kyuhyun sudah selesai dari kegiatan mengupas ubinya dan kini namja berkulit pucat itu ganti memandangi dirinya yang sedang serius mengupas sedikit demi sedikit kulit di ubi bakarnya yang baru saja masak. Sesekali Kyuhyun tersenyum melihat ekspresi lucu Sungmin ketika merasakan panas saat jemarinya bersentuhan langsung dengan daging ubi yang masih mengepul. Dengan alis bertaut dan bibir mengerucut secara naluriah, Lee Sungmin sungguh membuat Kyuhyun ingin mencubit habis sepasang pipi gembulnya.
"Butuh bantuan?" tawar Kyuhyun basa-basi. Sebenarnya ia tidak tega juga melihat Sungmin yang nampak kesusahan dengan ubinya.
"Tidak perlu, Kyu." Sungmin bersikukuh dan tetap pada kegiatan kupas-mengupasnya tanpa menghiraukan tawaran Kyuhyun sama sekali.
Ia mengajak Sungmin ngobrol berdua saja bukannya tanpa sebab. Sesungguhnya namja berperawakan tinggi itu ingin mengutarakan sesuatu pada Sungmin. Namun Sungmin malah asyik sendiri dengan ubi gosong sialan itu. Benar-benar memadamkan semangatnya.
Kyuhyun tercenung beberapa saat, otak jeniusnya harus berfungsi di momen-momen menguntungkan seperti sekarang. Namja itu terdiam lama, nyaris melamun, sebelum bohlam imajiner di atas kepalanya tiba-tiba berpijar terang.
"Min.."
"Hn?"
"Lee Sungmin.." iseng, jari telunjuk Kyuhyun menyentuh pelan pipi kiri Sungmin. Seperti memencet lebih tepatnya.
"Nee.." Sungmin menjawab singkat, tanpa menoleh tentu saja.
"Sungmin-ah." Melihat usaha pertamanya tidak berhasil, kali ini ia memencet dua kali dan lebih keras.
"..."
Hening... Sungmin tetap terfokus penuh pada ubi yang nyaris telanjang di tangannya.
"Ya, kau tidak menghiraukanku, Min!" Kyuhyun frustasi. Apakah pemandangan ubi hangus lebih menarik di banding menatap wajah manusia super tampan seperti dirinya? Oh~ Demi Tuhan, Lee Sungmin.
"O?" Berhasil. Sekarang Sungmin sudah menoleh penuh pada Kyuhyun yang sedang merajuk seperti bocah taman kanak-kanak.
"Kau juga mau ubi, Kyuhyun-ah?"
Kyuhyun menatap Sungmin tidak percaya. Sepasang matanya nyaris berkaca-kaca saat ini juga, namun bukan karena terharu, melainkan karena kesal. Dewa mana yang menciptakan Sungmin begitu indah namun juga dengan kurang ajarnya tidak menambahkan speed dalam memahami suasana?
"Tidak, terima kasih." ucap Kyuhyun sedikit ketus. Ia masih sebal karena Sungmin seperti tidak menganggapnya ada padahal sudah sekitar lima belas menit mereka bersama.
Di sampingnya Sungmin merengut kecil. Kyuhyun yang biasanya tidak pernah sedingin ini padanya. Namun tidakkah ia sadar jika sebenarnya itu semua juga karena salahnya?
"Kau marah padaku, Kyu?" tanyanya dengan suara sedikit mencicit.
Mata Kyuhyun sontak melirik Sungmin singkat. Sedikit. Dan Sungmin sepertinya telah sadar dengan kesalahannya dan tampak begitu bersalah. Melihat hal tersebut membuat sisi evil di jiwa Kyuhyun kembali menyala-nyala. Ia ingin sekali saja menggoda kelinci mungilnya itu.
Dengan wajah ditekuk sedemikian rupa dan ekspresi sekesal mungkin, Kyuhyun menatap Sungmin dingin.
"Kau mengacuhkanku, Min." bahkan suaranya pun dibuat sepilu mungkin.
"Hehe.. mianhae Kyu. Aku tidak bermaksud seperti itu, sungguh."
Mendengar nada jawaban Sungmin membuat sebelah alis Kyuhyun terangkat. 'Ternyata ia sadar jika sedang mengacuhkanku.' Namun sepertinya Kyuhyun masih ingin mengerjai Sungmin sedikit lagi. Dengan masih mempertahankan ekspresi dongkolnya, Kyuhyun pura-pura membuang muka dan tidak menatap balik Sungmin.
"Mollaseo. Terserahmu saja, Min. Aku sudah tidak mood." lagi-lagi Kyuhyun merajuk.
"Ah.. begini saja," kata Sungmin tiba-tiba. Membuat Kyuhyun untuk yang kesekian kalinya harus mengernyit bingung.
"Tunggu ne." Kyuhyun cengo. Sungmin malah pergi meninggalkannya. Dengan langkah yang sedikit dipaksakan−mengingat keseleo di kakinya yang belum sembuh benar, Sungmin berjalan mendekati Siwon dan Kibum.
Sungmin nampak berbicang singkat pada Kibum, mengambil sebuah benda yang terletak di belakang Kibum dan hendak kembali lagi ke tempat Kyuhyun. Namun sebelum Sungmin akan berbalik, Kyuhyun melihat Siwon seperti sedang memanggilnya. Sungmin terpaksa menunda langkahnya dan menanggapi kalimat Siwon. Dari tempatnya yang lumayan berjauhan, Kyuhyun jelas tidak dapat mendengar obrolan mereka, tetapi dari cara Sungmin tersenyum dan dari raut wajah Siwon yang berbinar, sepertinya mereka sedang membicarakan hal yang menyenangkan. Hal itu membuat Kyuhyun mendadak ingin terjun ke lidah api di hadapannya. Sesuatu dalam dadanya berkedut kuat, meremas jantungnya.
Selang beberapa menit, Sungmin kembali dan duduk di sampingnya seperti semula. Rupanya benda yang ia ambil di dekat Kibum tadi adalah sebuah gitar akustik berwarna coklat pelitur.
"Maaf membuatmu menunggu, Kyuhyun-ah." Sungmin tersenyum sekilas pada Kyuhyun yang air wajahnya semakin mengeruh saja.
"Ya~ kau masih kesal padaku?" kali ini Sungmin yang ganti merajuk. Namun Kyuhyun tetap bergeming.
"Hh~ baiklah. Sebagai permintaan maafku, aku akan menyanyikan sebuah lagu untukmu."
"Eoh?" Kyuhyun sekilas terkejut. 'Menyanyi? Sungmin bisa menyanyi juga?'
"Tetapi janji jangan ditertawakan. Aku menyanyi dengan serius mungkin hanya sekali dalam setahun. Dan berbanggalah, karena ini khusus aku lakukan untukmu." ucap Sungmin panjang lebar sembari mempersiapkan chord gitarnya.
Di sisinya Kyuhyun masih bertahan pada sikap tak acuhnya meski nyatanya ia penasaran bukan main. Jantungnya yang tadi berdenyut-denyut ngilu karena melihat Sungmin yang tampak akrab dengan Siwon, kini berubah menjadi berdebar-debar.
Sungmin akan menyanyi untuknya? Apakah Sungmin akan melamarnya lewat sebuah lagu? Dan kenapa justru Sungmin yang melakukannya? Seharusnya ia yang melamar, ia yang menyanyi untuk Sungmin, dan di akhir lagu ia akan berlutut, memegang tangan Sungmin dan berkata 'Would you marry me?'
"Whenever I'm weary from the battles that rage in my head.."
"You make sense of madness when my sanity hangs by a thread.."
Sederetan fantasi Kyuhyun tiba-tiba melebur begitu saja ketika sebuah suara yang dipadu dengan denting dawai gitar menyapa lembuh syaraf pendengarannya.
Sungmin mulai menyanyi..
"I lose my way but still you seem to understand..
Now and forever I will be your man.."
Suara Sungmin tidak sekelas penyanyi papan atas, namun entah kenapa suara itu mampu membuat hati Kyuhyun berdesir. Namja itu terdiam khidmat sembari memperhatikan Sungmin yang sedang melantunkan lagunya sambil sesekali memejamkan mata seolah chord gitar telah berada di luar kepalanya.
"Until the day the ocean doesn't touch the sand..
Now and forever I will be your man.."
"Now and forever I will be your man.."
Bibir indah itu berhenti menyanyi dan digantikan oleh pemandangan yang tak kalah indahnya di mata Kyuhyun. Lee Sungmin tersenyum. Senyuman tulus seribu makna yang hanya ia berikan untuk Kyuhyun seorang. Dan matanya... Kyuhyun bersumpah jika sepasang manik itu adalah berlian terindah yang pernah dianugerahkan oleh Tuhan kepada seorang anak manusia.
"Suaraku jelek ya?" ucap Sungmin takut-takut ketika dirasa Kyuhyun tidak lepas memandanginya.
Tetapi si lawan bicara sama sekali tidak menanggapinya alih-alih menatap matanya lekat. "Jangan berikan hatimu untuk Siwon-hyung."
"Apa?" Sungmin terperanjat.
"Lee Sungmin−" suara berat Kyuhyun mengambil porsi di antara bisikan ombak yang mengisi ruang di antara mereka.
Dan malam pun menghilang seiring dengan jutaan kembang api yang meledak di hati Sungmin begitu Kyuhyun menautkan jemari mereka dalam sebuah genggaman posesif yang sarat akan makna. Semuanya terjadi begitu kilat sehingga Sungmin tidak mampu berpikir apa-apa lagi karena setelahnya otak Sungmin bagai membeku, sesaat setelah bibir mereka saling menyatu.
Dan satu-satunya kalimat yang ia rekam sebaik mungkin selain struktur lembut bibir tebal Kyuhyun adalah..
"−Watashi wa Anata ni aishite imasu."
.
.
~oOo~
.
.
To Be Continue..
.
.
.
Next Chapter..
'Tuhan, bantu aku menghilangkan perasaan ini dan bantu aku membuka hati untuk seseorang yang saat ini sedang menitikkan air matanya karena diriku.'
"Kibum-ah, bagaimana jika kita taruhan saja?"
.
"Sooyoung 'menembak'ku."
Satu hal yang Victoria benci dari Hankyung adalah, teman senegaranya itu tidak pernah tegas dengan perasaannya.
"Apa kau pernah sekali saja berusaha untuk memastikan perasaanmu kepada 'dia'?"
"Aku ini straight, tolong mengertilah.."
.
Yeoja itu sudah diambang batas sadarnya. Sembari mengesampingkan hangover yang seakan memecah tengkoraknya, ia meminum tetes alcohol terakhir di botolnya dalam sekali tegukan kasar.
"Jika tidak bisa menghancurkan lawanmu, maka kau harus menghancurkan pionnya terlebih dahulu."
"Maksudmu aku harus menghancurkan 'mereka'? Kau gila!"
.
.
Plak!
"Kau bodoh, Cho Kyuhyun!"
"Cukup!" Donghae yang selalu diam dan tenang pun bahkan ikut tersulut amarah.
"Ketua macam apa kau ini, hah?!"
"Kenapa hyung masih selalu suka memukulku?"
.
"Ini benar kau, Heenim-ah?"
"Kau bahkan jauh lebih tampan dari Siwon! Hahaha.."
"Mungkin suatu hari Hankyung yang ganti akan mengejar-kejar dirimu."
"Kalau aku bilang aku ini sebenarnya straight bagaimana?"
.
"Mereka akan kembali? Secepat ini?"
"Mereka siapa yang kau maksud?"
"Siapa lagi? Tentu saja murid kelas dua belas asrama Ocean."
"Mwo? Kukira asrama Ocean hanya dihuni murid kelas sebelas saja."
.
"Seharusnya kita tidak seperti ini."
"Tapi nasi sudah menjadi bubur, Kangin-ah. Kompetensi ini akan terus berlangsung, setidaknya sampai asrama Ocean benar-benar terpuruk. Atau bahkan ditutup."
.
"Aku janji akan melindunginya. Dengan segenap nyawaku. Hyung bisa memegang kata-kataku."
.
.
The Dormitory (Holiday - Day 2)
.
.
Halooo~~ Apa kabar teman-teman? :D
Bagaimana dengan chapter ini?
Chapter ini lumayan pendek dan sangat nyebelin sepertinya.. Semoga sudah tidak ada salah paham lagi diantara kita ya readers~ kkk.. part Hanchul emang sengaja saya cut, biarkan saja! Kkkk.. /evillaugh/ :p tapi next chap janji deh mereka mendominasi(?) :p
Anyway, adakah Petals di sini? PETALSELF, uri King is back! ayo potong tumpeng~ ;A;
Aku ada pesan buat yang biasnya lagi wamil ataupun yang belum wamil.. bukan bermaksud sok bijak atau sok dewasa, tapi aku hanya ingin berbagi~ ehe.. jangan pernah nganggep wamil itu cobaan, tapi anggep aja tantangan~ tantangan buat kesetiaan kalian untuk tetep cinta sama dia, buat tetep dukung dia, n' jangan lupa terus berdoa buat dia.. 2 tahun itu cepet kalau kita bisa melewatinya dengan penuh manfaat.. :) fighting!
Special BIG Thanks to:
puzZy cat . L'Affect . Viivii-ken . reaRelf . ite ganteng(-_-") . MinSeulELFSparFishy . sitara1083 . psykkh . MinChan137 . AyuClouds69 . ChoHuiChan . hani107 . Kim HeeRa WKS . KS . minhyunJOYers137 . ulfarafida . gengpetals . Mrs EvilGameGyu . MichiMizuka
May I hug u all? ;;
See you in next The Dormitory 8th Chapter as soon as possible~
Review engga review, I'd like to say: Thank you so much~ moach :*
