~The Dormitory~

.

Super Junior © SM Entertainment

.

Chapter 8 :

Holiday - Day 2

.

Rating : T

.

Cast :

Super Junior's members and the others support cast.

.

Pairing :

Super Junior's Pure Pairs.

.

Genre :

Romance, Friendship, School Life.

.

Warning :

Boys Love, Typo(s), Confusing Plot, AU, a Little OOC, Over.

.

~oOo~

.

Flames Are Not Allowed!

~Don't Like, Don't Read~

.

.

~oOo~

.

.


Lima belas menit yang lalu Kyuhyun meninggalkannya sendirian bersama Kibum. Dan setelah itu Siwon yang tidak tahu harus mengawali pembicaraan darimana, akhirnya memutuskan untuk beringsut mendekati Kibum tanpa berkata apa-apa. Sedangkan Kibum yang juga tidak ingin mengawali topik bahasan dengan Siwon hanya statis dengan sikap dinginnya dan lebih memilih memfokuskan diri pada layar ponselnya.

Keheningan ganjil yang tercipta terlalu lama membuat keduanya lelah dan tanpa sadar, ego tinggi masing-masing pihak akhirnya mencair untuk sesaat. Keduanya saling rindu dan kenyataan itu tidak ditepis oleh hati mereka. Betapa Siwon merindukan saat-saat berduanya dengan Kibum, dimana selalu ada bahan pembicaraan yang tidak akan ada habisnya. Begitupun dengan Kibum yang selalu bisa mengimbangi Siwon, bahkan tidak jarang juga mereka beradu pendapat kecil yang berakhir dengan Siwon yang mengalah atau sebaliknya.

Dan setelah hampir setahun lebih keduanya tidak saling bertegur sapa, akhirnya moment itu pun kembali tercipta. Mereka terhanyut dalam pembicaraan ringan yang begitu nyaman. Tidak ada sedikit pun emosi seperti biasanya. Bahkan tak jarang keduanya saling melempar tawa. Keakraban alami yang begitu mereka rindukan.

Siwon dan Kibum, bisa dikatakan adalah pasangan yang selalu bisa menjaga keharmonisan di antara keduanya. Namun dinding mereka tidak cukup kokoh untuk sekedar membentengi kecemburuan yang telah berhasil memporak porandakan semuanya, termasuk jalinan persahabatan yang telah mereka bangun hampir enam tahun lamanya.

Ketika kedekatan mereka nyaris kembali terbangun, api itu datang lagi. Kibum melihat semuanya, saat Sungmin menghampiri mereka untuk mengambil gitar yang berada di dekatnya, ia melihat raut wajah Siwon yang berubah drastis bak bunga di musim semi. Merekah menyambut kehadiran sosok Sungmin.

"Sungmin-ah," sapanya tepat sebelum Sungmin kembali ke tempatnya.

Sungmin yang memang dasarnya ramah terhadap siapa pun menoleh dan tersenyum singkat pada Siwon.

"Kau masih suka bermain gitar?"

"Ne. Aku masih suka memainkannya sesekali."

"Termasuk menyanyi sendirian di balkon belakang rumahmu?" Siwon menyinggung kebiasaan lama Sungmin saat dia pertama kali menetap di Korea.

Sungmin tertawa kecil, "Itu juga kadang masih aku lakukan, hyung."

Sesaat Siwon terdiam, dalam hatinya ia rindu dengan kata sapaan itu. Sapaan Sungmin kepadanya, yang ternyata tidak pernah berubah.

Di sisi lain pisau imajiner seolah sedang mencoba mengiris hati Kibum. Rasanya ia ingin meneriaki hatinya yang masih saja suka berdenyut perih saat melihat sepupunya dan Siwon saling berbincang.

Sungmin sudah kembali ke tempatnya di samping Kyuhyun, namun mata Siwon serasa enggan untuk beranjak dari si sosok mungil tersebut. Lama ia terpekur sambil masih mengamati Sungmin diam-diam. Bagi Siwon, tidak ada yang lebih indah dibandingkan pemandangan Sungmin yang menyanyi dengan penuh penghayatan bersama gitar kesayangannya. Hingga saat pemandangan indah itu berganti dengan moment mengejutkan yang menghantam dadanya begitu kuat.

Kyuhyun yang mencium Sungmin.

Saat itulah Siwon sadar bahwa bukan hanya ia yang merasa teriris. Di sampingnya ada seseorang yang jauh lebih tersakiti dibanding dengan dirinya. Dan tidak ada pemandangan yang lebih menyesakkan dibanding melihat Kibum dengan air mata yang turun membanjir.

"Kibum.."

"Gwen-gwenchanayo.." namja itu buru-buru mengusap air matanya dan sebisa mungkin menghindari tatapan Siwon.

"Kibum-ah, kumohon." Siwon bersikeras membalik tubuh Kibum menghadap kembali ke arahnya meski Kibum tetap berusaha sekuat tenaga untuk menghindar.

"Aku ingin kembali ke penginapan," ucap Kibum cepat-cepat. Sungguh ia harus segera pergi dari Siwon. Ia tidak ingin menangis lagi.

Namun Siwon cukup gesit untuk sekedar menahan Kibum sehingga namja itu terpaksa kembali duduk dan otomatis bertatapan dengannya. Melihat Kibum yang berusaha menahan tangis membuat Siwon reflek meraih kedua pipinya dan membuatnya memandang wajahnya secara langsung.

Obsidian dibalik kacamata itu sudah memerah total. Reflek Siwon berikutnya adalah melepas benda yang menghalangi mata Kibum, dan entah karena emosional atau hilang akal, Siwon tiba-tiba mencium Kibum begitu saja.

Rasa manis bercampur asin air mata Kibum menyeruak memenuhi indera pengecapnya, menghantarkan impuls yang secara magis mampu menenangkan batinnya barang sesaat.

Tanpa menghiraukan tangisan Kibum yang sudah pecah, Siwon justru memperdalam ciumannya. 'Beri aku jawabannya, Tuhan' batinnya sembari tetap menutup mata dan merasakan tiap jengkal bibir lembut Kibum yang bergetar dalam kendalinya.

'Tuhan, bantu aku menghilangkan perasaan ini dan bantu aku membuka hati untuk seseorang yang saat ini sedang menitikkan air matanya karena diriku.' Siwon terus berdoa untuk meyakinkan dirinya bahwa segala rasanya untuk Sungmin harus segera ia kubur dalam, dan bibit cintanya untuk Kibum harus segera ia tumbuhkan.

Tautan mereka terlepas ketika Siwon merasa Kibum begitu membutuhkan udara. Berciuman dalam kondisi terseguk hebat bukan hal yang baik. Tapi semua rangkaian memorinya tiba-tiba memudar saat dengan kerasnya Kibum tahu-tahu menamparnya.

Dan dunia Siwon pun kembali dalam kesadaran terbaiknya saat isak Kibum memecah keheningan di antara mereka, menyelaraskan segala kebingungannya.

Kibum begitu rapuh meski sekuat apapun ia mencoba membangun benteng es pada hatinya. Sikap dinginnya selama ini ia tunjukkan semata-mata hanya sebagai tameng untuk menutupi sifat yang sebenarnya. Menunjukkan pada Siwon jika ia baik-baik saja, namun sekali lagi, cuma Siwon-lah yang mampu meruntuhkan segalanya. Membuktikan jika hanya seorang Choi Siwon yang bisa membolak-balik hatinya.

"Anggap saja hari ini tidak pernah terjadi," ucap Kibum berusaha nampak tegar. Namun bagaimana bisa Siwon mematuhinya? Semua telah terjadi begitu mendalam untuk Siwon.

Tiba-tiba sebuah ide terbersit dalam pikiran Siwon. Jika ia tidak bisa memastikan perasaannya terhadap Sungmin, maka ia harus berusaha memusatkan perasaannya terhadap Kibum.

"Kibum-ah, bagaimana jika kita taruhan saja?" celetuknya tiba-tiba.

Namun Kibum tidak terlalu menghiraukan Siwon, rasa syok yang berdentum-dentum di hatinya masih membuatnya tidak bisa berpikir jernih sedikit pun.

"Kita taruhan," Siwon berkata hati-hati. "Jika kau nanti terpilih menjadi Presiden Siswa, maka aku berjanji akan melepaskanmu, aku akan pergi sejauh mungkin dan tidak akan mengganggumu lagi. Namun jika sebaliknya," suaranya tercekat.

"Aku berjanji akan membuatmu melihatku lagi, termasuk menjadikanmu sebagai kekasihku."

.

.

~oOo~

.

.

Sementara itu..

Di sudut lain yang jauh dari keramaian..

"Malam ini kau jadi malaikat, eoh?" Tiffany menyeringai.

Kesadarannya yang tinggal setengah masih cukup mampu untuk mengingat-ingat beberapa menit yang lalu, dimana Kim Jungmo, rekan yang notabene adalah pihak yang paling anti dengan asrama Ocean mengatakan dengan begitu bersahabatnya bahwa kita semua yang ada di sini akan menikmati liburan tanpa memandang latar belakang asrama.

Mengingat hal itu, jujur membuat Tiffany ingin tertawa sekeras-kerasnya.

Bau tajam alkohol menguar dari mulutnya yang sedari tadi terus mengigau asal. Dua botol minuman berkadar alkohol cukup tinggi tergeletak kosong tepat di samping tempatnya merebahkan tubuh mungilnya.

"Jangan minum lagi, Tiff. Apa kau ingin mati muda?" rekannya yang berambut perak berusaha mengambil botol terakhir yang hendak yeoja itu teguk.

"Aku sudah kalah, Jungmo-ya~" igaunya kembali. "Siwon-ssi tidak akan pernah menyukaiku. Kau lihat sendiri kan tadi? Dia mencium Kim Kibum! Hahahaha.. nampaknya tidak ada ruang untuk kaum straight di sekolah kita.."

Pening di kepalanya mulai berkedut liat. Ia merasa otaknya akan pecah sebentar lagi. Namun rasa sakitnya tidak seberapa jika dibandingkan dengan yang di dalam sana, di sebuah tempat jauh dalam rongga dadanya.

Di sebelahnya, Jungmo ikut mendengus pendek. Diteguknya sekali cairan di botol yang barusan ia rampas dari Tiffany. Sesekali mata tajamnya menerawang ke gelapnya langit di atas mereka.

"Apa sih hebatnya para murid Ocean?" ucapnya skeptis. "Bahkan Kim Kibum pun menjadi tunduk pada rivalnya sendiri."

Lagi-lagi Tiffany menyeringai. "Kau tahu apa yang di sebut pesona tidak?"

"Maksudmu?"

Tiffany terbahak. Suaranya yang nyaring melengking membuat Jungmo ingin menyumpal mulutnya.

"Satu-satunya keunggulan yang paling mencolok dari murid Ocean yaitu, mereka memiliki pesona yang tidak dimiliki oleh sebagian besar murid Blue," yeoja itu mengedip penuh arti.

"Haish.. aku tidak mengerti," hardik Jungmo jengah.

"Bahkan Lee Sungmin pun juga akhirnya tunduk pada pesona bocah Cho itu," Tiffany terkikik sambil sesekali terseguk kecil.

Jungmo dan Tiffany menyendiri bukan berarti mereka tidak tahu tentang apa saja yang terjadi pada lingkaran api unggun yang jauh di sana. Mereka mengamati segalanya. Sedetailnya. Seperti pasukan yang mengintai musuhnya terlebih dahulu sebelum melancarkan aksinya.

"Setelah Hyukjae yang terang-terangan melawan kita, sekarang ada Sungmin yang sepertinya..." yeoja itu menggantung ucapannya. Mengerling ke arah Jungmo yang nampak tidak suka jika dirinya membicarakan tentang Sungmin. "...sedikit lebih berbahaya daripada Lee Hyukjae."

Alis Jungmo langsung naik sepasang. "Apa maksudmu mengatakan seperti itu?"

Sekilas Tiffany mencibir remeh, "Sungmin, meski kelihatannya begitu polos, tapi aku yakin jika dia tidak selemah Hyukjae. Di tambah orang yang selalu melindunginya adalah Kyuhyun.."

Sejenak Tiffany teringat tentang penyerangan Sungmin beberapa waktu yang lalu. Ia ingat benar saat Sungmin dengan beraninya melawan kepungan murid kelas dua belas suruhannya, di tambah Kyuhyun yang terang-terangan menghajar habis orang-orang yang menyakiti Sungmin.

Tiffany yang saat itu bersembunyi di balik kelas kosong, jelas tidak percaya dengan pemandangan di hadapannya tersebut. Rencananya untuk sedikit memberi pelajaran Sungmin karena dendam masa lalunya harus berakhir naas begitu saja.

"Kyuhyun tidak seperti Donghae yang polos dan cenderung naif, bocah itu cerdas. Dia tidak akan segan melakukan hal-hal di luar aturan jika memang dia harus."

Jungmo membenarkan argumen Tiffany. Kyuhyun menyelamatkan Sungmin tanpa tedeng alih-alih, tidak peduli yang dihadapinya adalah senior maupun junior, bahkan ia tidak segan untuk melakukan tindak kekerasan di area sekolah. Tipe namja yang berpikir sempit, mudah tersulut emosi namun sangat membahayakan.

"Lalu aku harus bagaimana?" Jungmo bertanya gamang pada Tiffany yang sudah menghabiskan nyaris tiga per-empat botol beer-nya. "Bagaimanapun juga, asrama Ocean harus dihancurkan."

Tiffany menyandarkan kepalanya ke bahu Jungmo. Yeoja itu sudah diambang batas sadarnya. Sembari mengesampingkan hangover yang seakan memecah tengkoraknya, ia meminum tetes alkohol terakhir di botolnya dalam sekali tegukan kasar.

"Jika tidak bisa menghancurkan lawanmu, maka kau harus 'menghancurkan' pionnya terlebih dahulu."

Kim Jungmo melotot ngeri. Ia tahu benar maksud tersirat Tiffany, namun tak sekepingpun ia pernah membayangkan harus melakukan tindakan yang jauh dari kata manusiawi. Apalagi yang artinya ia harus bermusuhan dengan teman-temannya sendiri. Ia akan merusak nama baik asrama Blue jika nekat melakukannya.

"Maksudmu aku harus menghancurkan Hyukjae, Sungmin dan Kibum?" ia mengulangi, masih tidak percaya Tiffany mengusulkan ide semacam itu. "Kau gila!"

.

.

~oOo~

.

.


Keesokan harinya..

Meski kini sepasang manik kelamnya terpaku pada sepucuk kertas persegi empat berwarna salem yang berada di genggaman, namun tidak dengan pikirannya yang saat ini sedang melanlang jauh entah kemana. Tidak ada yang spesial dari kertas itu. Begitu juga dengan sebaris kalimat yang berderet rapi di permukaannya. Sebuah kalimat yang sebenarnya sangat menyentuh jika saja yang membacanya bukan seorang Tan Hankyung.

"Aku menyukaimu, Hankyung-ssi. Maukah kau menjadi kekasihku?"

Namja China itu mendengus panjang untuk yang kesekian kalinya. Seharusnya rasa itu ada. Sebuah getar misterius yang seolah menggelitik rongga perutnya. Namun entah mengapa Hankyung sama sekali tidak merasakannya. Meski dibaca dari sudut manapun, kertas itu hanyalah selembar benda mati yang tidak akan merubah apapun.

.

.

.

"Dimana Heechullie?"

Suara nyaring beraksen oriental tiba-tiba membuyarkan lamunan Hankyung. Yeoja itu, Victoria, menyodorkan sebuah minuman kaleng ke depan wajah Hankyung dan kemudian menyamankan dirinya di samping si namja itu.

"Xie xie," ucap Hankyung singkat sebelum ia menunjuk ke suatu arah di depan sana menggunakan dagunya, dimana Heechul sedang asyik sendiri dengan dunianya, bermain pasir, menyanyi tidak jelas dan terkadang berlari takut-takut ke arah pantai.

Mata Victoria menelusuri arah yang ditunjukkan Hankyung, lalu ia mengangguk singkat dan sedikit berdehem. "Tidak ikut bermain pasir dengannya?"

Hankyung hanya diam. Ia tahu Victoria hanya sedang berbasa-basi.

"Seharusnya kau juga di sana. Bukankah itu romantis~ sepasang namja yang bermain pasir berdua sambil menanti matahari tenggelam?" kali ini Victoria dengan sengaja menggoda Hankyung.

"Kau sedang mabuk?" sangsi Hankyung karena yeoja di sisinya tersebut malah sibuk dengan fantasinya.

"Bergandengan tangan sembari menatap matahari yang perlahan pulang ke peraduan. Lalu saling melempar kalimat cinta dan berpandangan mesra.." bukannya menanggapi Hankyung, yang ada fantasi Victoria makin menjadi.

"Vic, please. Hentikan imajinasi bodohmu." Hankyung jengah. Ini bukan yang sekali dua kalinya yeoja itu tenggelam dalam fantasy land miliknya. Victoria, entah karena efek menjadi yeoja satu-satunya di asrama Ocean, atau memang sejak dulu sudah memiliki sifat delusional seperti itu, yang jelas ia begitu menyukai romansa terlarang yang baginya melebihi kisah cinta Romeo dan Juliet.

"Hankyung," ucapnya tiba-tiba sambil menepuk pelan bahu kiri Hankyung hingga membuat si pemilik bahu sedikit berjingkat saking kagetnya.

"Bukankah ini saat yang tepat untuk kalian?"

"Maksudmu?"

"Saat yang tepat untuk saling mengungkapkan isi hati."

"Ige mwoya?" Hankyung semakin tidak paham arah pembicaraan Victoria.

"Aish! Kau dan Heechullie! Nyatakan perasaanmu sekarang padanya atau kau akan menyesal." entah kenapa yeoja satu ini begitu menggebu-gebu dan Hankyung menjadi risih karenanya.

"Apa yang kau pikirkan, eoh? Kau pikir aku menyukainya? Aku tidak mungkin menyukai namja, kau tau pasti tentang hal itu, Vic." sergah Hankyung frustasi. Namun entah mengapa hatinya merasakan adanya sedikit pemberontakan saat ia mengucapkan hal itu.

Victoria menatap Hankyung dalam namun mata Hankyung seakan tidak ingin balik menatapnya. "Aku tau kau menyukainya. Berhenti membohongi perasaanmu sendiri, gege."

Namja China itu tersentak. Jika Victoria sudah memanggilnya dengan sapaan China-nya, itu artinya dia sedang serius berbicara dengannya.

"Sooyoung 'menembak'ku," lirih Hankyung tanpa menatap Victoria.

Sesungguhnya ia ragu hendak mengatakan hal itu pada Victoria atau tidak. Victoria pasti akan menentangnya habis-habisan, seperti biasa. Namun Hankyung perlu wadah untuk berbagi. Setidaknya Victoria adalah pihak yang netral, menurutnya.

Srak!

Sudah diduga. Yeoja China itu semata-mata langsung merampas kasar kertas persegi yang sedari tadi terus digenggam Hankyung. Dengan geram dia mambaca tulisan tangan kecil-kecil di permukaannya dan kemudian tanpa ragu menyobeknya menjadi beberapa bagian.

"Jangan hiraukan yeoja itu!" tandasnya.

"Aku akan menjawab pernyataannya."

"Bie!"

"Wei shenme?"

Keduanya kini hanya bisa saling menatap. Hankyung dengan ekspresi tenangnya dan Victoria dengan ekspresi berangnya.

Satu hal yang Victoria benci dari Hankyung adalah, teman senegaranya itu tidak pernah tegas dengan perasaannya.

"Apa kau pernah sekali saja berusaha untuk memastikan perasaanmu kepada, Heechullie?"

Hankyung membeku. Seketika memori-memorinya saat bersama Heechul ter-flash back dengan sendirinya. Saat pertama kalinya ia bertemu Heechul, saat bunga-bunga di dadanya serasa ingin memekar begitu ia membaca nama Heechul berada pada daftar absen yang sama dengannya, saat-saat Heechul selalu menggodanya, saat mereka berbincang berdua, mulai dari pembicaraan ringan sampai yang membuat kening berkerut. Bahkan saat mereka bertengkar karena masalah sepele. Entah kenapa itu semua—sadar atau tidak—membuat hari-hari Hankyung menjadi seratus kali lebih bermakna.

Namun ego si namja berdarah China itu terlalu tinggi untuk sekedar mendengarkan isi hatinya sendiri. Dengan angkuhnya bibir itu mengucap tegas suatu kalimat yang ia tahu hanyalah sebuah kebohongan belaka.

"Aku ini straight, tolong mengertilah.."

Dan di saat yang sama, ia tidak menyadari jika beberapa langkah dari tempatnya, seorang namja berambut coklat karamel sedang berbalik badan dan menghilang secepat mungkin. Ia terlalu sibuk menyeka kasar air matanya hingga tidak memperdulikan sepasang telapak kaki telanjangnya yang sedikit nyeri karena menapak bebatuan, dan tidak peduli dengan alas kakinya yang ia biarkan tertinggal di bibir pantai, tepat di samping tulisan besar hasil goresan ranting kayunya di atas hamparan pasir putih yang tak tersentuh ombak.

"HC (love) HK"

.

.

~oOo~

.

.


Tiga hari dua malam berharga mereka telah terlewati dengan berbagai macam jenis peristiwa dan moment. Baik moment berharga milik Donghae dan Eunhyuk yang akhirnya berhasil kembali akur dan selalu menempel berdua kemana-mana, moment langka berdua milik ibu dan ayah asrama Ocean, Kangin-Leeteuk, moment romantis Kyuhyun yang berhasil menjadikan Sungmin sebagai kekasihnya, meskipun sampai detik ini Kyuhyun belum menceritakan pada siapa pun tentang hubungan barunya dengan Sungmin. Disertai dengan moment menyesakkan yang dialami oleh Sang Presiden Siswa dengan pangeran es-nya, Kibum. Dan jangan lupakan juga pasangan 4D Hankyung dan Heechul. Meski tidak ada moment berarti yang terjadi di antara mereka, namun suatu hal tidak menyenangkan sepertinya telah membuat hubungan keduanya jadi sedikit merenggang pasca liburan.

Terbukti sejak mereka meninggalkan penginapan pagi tadi hingga di perjalanan sampai tiba kembali di asrama tercinta, baik Hankyung maupun Heechul keduanya sama-sama menunjukkan sikap yang tidak seperti biasanya. Seolah mereka adalah orang asing yang tidak saling mengenal.

Hankyung sejujurnya sudah cukup terbiasa dengan kebiasaan buruk Heechul yang seringkali moodswing dengan cukup ekstrim, namun kali ini entah kenapa aura namja cantik teman sekelasnya itu jauh lebih suram dibanding biasanya. Sejak kemarin dia tidak menyapa Hankyung sama sekali. Bahkan saat makan malam pun Heechul lebih memilih bermain game dibanding menyantap ikan bakar dan cumi bakar buatan Leeteuk.

.

.

~The Dormitory~

.

.

.


-SM International High School, 10:15 am-

Hankyung tidak pernah seyakin ini sebelumnya. Kaki-kaki panjangnya melangkah mantap membelah kerumunan siswa yang baru saja keluar dari kelas masing-masing untuk segera menuju surganya pusat makanan dan minuman seantero sekolah—kantin. Sepasang mata elangnya menyisir di sepanjang koridor, mencari sosok yang menjadi tujuannya kali ini.

Semalaman ia telah menimang-nimang dengan sedemikian rupa akan keputusannya siang ini. Hankyung bukan tipe namja yang ceroboh dan berpikir sempit. Meski ia tahu jika keputusannya ini mungkin akan menorehkan sebuah kekecewaan yang mendalam pada beberapa pihak, terutama 'dia', namun ia harus tetap meluruskan semuanya, ia harus tegas jika tidak ingin melukai orang tersebut lebih dalam lagi.

Sudah hampir sepuluh menit ia mencari, tetapi objek yang dicarinya tidak kunjung terlihat. 'Apa ia tidak masuk sekolah?' sekejap pemikiran cemas itu datang. Bukan karena terburu-buru, hanya saja semakin cepat ia menyelesaikan hajatnya, maka semakin cepat pula ia akan terbebas dari pikiran-pikiran yang selalu mengganggunya.

Tubuh jangkung itu berbelok ke arah koridor kelas sepuluh di lantai satu, dan seketika matanya menangkap siluet sosok yang sedari tadi terus berkelit di pikirannya. Akhirnya ketemu juga!

Yeoja itu, seseorang yang Hankyung cari sedari tadi saat ini sedang bercengkrama santai dengan dua orang yeoja lain yang disinyalir adalah hoobae kelas sepuluh. Yeoja itu tidak menyadari keberadaan Hankyung sebelum akhirnya suara bass lembut menyapa namanya.

"Sooyoung-ssi?"

Surai berombak keemasan itu berayun ringan seiring ia menolehkan kepalanya. Wajahnya nampak muram, namun matanya seketika dipenuhi binar begitu obsidiannya menangkap sesosok namja berpostur tinggi proporsional kini sedang berdiri tepat di depannya. Namja pujaan hatinya yang telah menyita seluruh atensinya selama setahun belakangan.

"Hankyung-ssi?" sapanya dengan sedikit rona pink yang menghiasi kedua pipinya.

Selama beberapa detik Hankyung hanya diam, sesungguhnya ia grogi. Jika boleh jujur ini adalah pengalaman pertamanya mengajak bicara seorang yeoja, err.. kecuali Victoria tentu saja. Ditambah Sooyoung juga bukan teman sekelas Hankyung. Jelas saja jika ia merasa kaku saat ini.

"Ada perlu denganku, Hankyung-ssi?", kata-kata Sooyoung menarik Hankyung kembali dari alam lamunannya.

"Ah, ne." Namja itu buru-buru membuat dirinya terlihat wajar. "Bisakah aku meminta waktu sebentar agar kita bisa bicara berdua?"

Sooyoung jelas langsung mengangguk dengan sejuta semangat. Buru-buru ia pamit kepada kedua hoobaenya dan mengajak Hankyung ke sebuah sisi yang sekiranya nyaman untuk mengobrol.

"Aku benar-benar tidak menyangka kau mau menemuiku, Hankyung-ssi." ucapnya kelewat bahagia. Karena bermimpi Hankyung menyapanya saja ia tidak berani.

"Aku.. ee.. sebenarnya tujuanku menemuimu adalah.. soal suratmu.." Hankyung rasanya ingin terjun melewati pagar pembatas di sampingnya. Mengapa susah sekali untuk to the point?

"Omona.." terdengar Sooyoung memekik pelan. Sekujur tubuhnya langsung mendingin dan jantungnya berdentum cepat. Hankyung akan menjawab suratnya cintanya? For God's sake, ia sungguh belum siap menerima segala bentuk jawabannya.

"Sebelumnya terima kasih atas kejujuranmu," ucap Hankyung tanpa melihat mata Sooyoung sehingga ia tidak tahu jika saat ini ekspesi wajah yeoja itu sungguh tidak karuan.

Sooyoung sama sekali tidak siap. Ia tidak tahu harus sebahagia apa jika nantinya Hankyung membalas cintanya, sebaliknya ia juga tidak tahu harus semenderita apa jika Hankyung menolaknya.

Diam-diam ia menyilangkan kedua jari telujuk dan tengahnya. Berdoa dalam hati jika semua keputusan Tuhan adalah yang terbaik untuknya.

"Sooyoung.." entah kenapa Hankyung merasa lidahnya kelu mendadak. Membuat seluruh rangkaian rencana yang telah ia susun matang seketika buyar begitu saja.

"Ne?" yeoja itu menanti dengan sabar.

"Aku.."

"Katakan saja, Hankyung-ssi. Aku siap dengan segala jawaban darimu."

Hankyung menghela nafas sebisa yang ia mampu, dan dengan berbekal keyakinan yang telah ia tanamkan sebelumnya, dengan mantap ia pun mengatakannya juga..

"Aku menyayangimu, Sooyoung-ssi."

.

.

.

Beberapa meter dari tempat Hankyung dan Sooyoung berdiri, nampak sesosok yeoja berambut red brown menyala sedang berusaha menyembunyikan tubuh rampingnya di balik pilar terdekat.

Sesekali ia menengok untuk mengintip kedua insan tersebut. Riuhnya suasana istirahat membuat terbatasnya kemampuan pendengarannya untuk merekam tiap kata yang terucap oleh Hankyung maupun Sooyoung.

Entah di dapat darimana keberanian menguntit seperti ini, tetapi rasa ingin tahunya mengalahkan segala perasaan yang ada, rasa was-was bahkan rasa sakit yang mungkin akan diterimanya sebentar lagi.

.

.

.

Sooyoung nyaris berkaca-kaca atau bahkan mungkin ia sudah menangis saat ini. Ia tahu tindakannya itu memalukan di hadapan namja yang disukainya, namun ia tidak tahu harus mengekspresikan perasaannya seperti apa lagi. Ia hanyalah seorang yeoja biasa yang memiliki batas kerapuhan tertentu. Ia akan menangis saat hatinya terlalu bahagia, dan akan melakukan hal serupa saat hatinya tercabik sedemikian rupa.

Seperti halnya yang terjadi saat ini. Saat ia yakin jika pendengarannya tidak mengalami masalah tertentu ketika Hankyung mengucapkannya.

Sebuah kalimat pendek yang mampu menghempaskannya jauh ke dalam inti bumi dan terbakar habis di dalamnya.

"Tapi aku tidak bisa menjadi kekasihmu."

Dan kata-kata itu menjadi penutup dari luruhnya segala uneg-uneg yang mengganjal di hati Hankyung semalaman. Ia telah mengatakannya. Dan entah mengapa ia merasa seperti tengah terlahir kembali.

"Aku tahu jika ini menyakitimu. Tapi aku harus mengatakannya. Aku tidak ingin kita berdua sama-sama terluka. Kau yeoja baik-baik Sooyoung. Dan kebahagiannmu bukanlah bersamaku, karena aku tidak bisa membalas apapun darimu. Termasuk rasa cintamu. Aku harap kau mengerti."

Jauh dari yang dibayangkan oleh Hankyung, Sooyoung sebenarnya sudah menduga jawaban apa yang nantinya akan ia dapat. Ia tahu Hankyung sama sekali tidak mencintainya. Hankyung hanya terlalu baik sehingga namja itu berusaha untuk tidak menyakiti hatinya. Namun Sooyoung mengerti, ia tidak akan bisa memaksa matahari untuk terbit di malam hari, sebagaimana ia tidak bisa memaksa Hankyung untuk mencintainya.

"Terima kasih Hankyung-ssi." ucapnya sembari menahan air matanya untuk tidak tumpah di hadapan Hankyung. "Terima kasih karena kau sudah mau jujur denganku. Terima kasih karena kau sudah membuat hari-hariku menjadi beratus-ratus kali lipat lebih berwarna selama setahun ini. Terima kasih untuk segalanya."

Sooyoung meraih tangan Hankyung untuk yang terakhir kalinya sambil menunjukkan senyum terbaiknya. Saat itulah Hankyung merasa tersentuh dengan segala kebaikan hati Sooyoung. Reflek Hankyung merengkuh tubuh yeoja itu. Tidak ada yang ia pikirkan, ia hanya ingin membawa Sooyoung dalam rasa aman. Meyakinkan yeoja itu jika ia tidak membencinya.

"Gomawo Sooyoung-ssi. Jeongmal gomawo."

.

.

.

Jauh dari tempat mereka berada, yeoja berambut red brown menyala yang sedari tadi berdiri di balik pilar itu kini sudah meninggalkan tempat persembunyiannya dan sekarang ia sedang berlari sekencang mungkin. Kaki-kakinya yang masih ngilu pasca liburan kemarin sedikit berdenyut-denyut perih karena ia berlari dengan menggunakan heels lima senti.

Pikirannya kacau balau. Ia sudah melihat semuanya..

Ia melihat Hankyung memeluk yeoja itu. Kandas sudah harapannya. Ia memang ditakdirkan untuk kalah. Ia tidak akan bisa menjangkau perasaaan Hankyung. Seberapa keras pun ia berusaha.

.

.

.

Di sebuah cermin besar rest room khusus di lantai 3, Kim Heechul mematut bayangan dirinya yang terpantul begitu menyedihkan di hadapannya. Ia mengusap kasar lipstick yang memoles bibir penuhnya dan menghapus segala unsur make up yang melekat di wajahnya.

Terakhir ia melepas wig merah kecoklatan sebahunya dan mengacak-acak rambut aslinya yang berwarna coklat karamel. Sejenak ia mendapati bahwa bayangan di depannya saat ini menjelma menjadi sesosok namja yang luar biasa tampan, bahkan dalam kondisi tanpa make up dan berantakan pun sosok itu tetaplah mempesona.

Heechul tersenyum miris dengan bayangannya. Sesungguhnya ia hanya perlu menjadi dirinya sendiri dan hidup dengan lebih santai.

"Lupakan segala perasaan lemahmu dan jadilah Kim Heechul yang apa adanya," ucapnya menyemangati diri sendiri.

Terakhir ia merogoh kedalam tasnya dan mengambil satu set seragam laki-lakinya. Sekilas ia kembali memandang bayangannya yang masih mengenakan seragam wanita ber-rok mini satu jengkal di atas lutut. Ia menghela nafas kemudian satu per satu melucuti pakaiannya sembari berpikir jika nanti ia akan memberikan seragam wanitanya kepada Victoria saja.

.

.

~oOo~

.

.


-Kelas 11-D, 15:30 pm-

Hari pertama setelah liburan bukan berarti kegiatan belajar mengajar tidak seratus persen aktif. Justru sebaliknya, hari ini tiga dari empat mata pelajaran yang diikuti kelas Leeteuk dan Kangin mengadakan test harian mendadak. Hal itu tentunya membuat seluruh kelas menjadi geger. Satu-satunya memori yang masih tersimpan baik dalam otak murid-murid yaitu suasana liburan mereka, dan bukan rumus vektor maupun hukum atom.

Kini begitu bel penanda akhir pelajaran berdering, suasana kelas 11-D yang tadinya bak kamuflase neraka akhirnya mendingin seolah mendapat guyuran air surga. Seluruh murid menghela nafas kompak dan berbondong-bondong ingin segera meninggalkan kelas terkutuk mereka secepat mungkin.

Suasana hati yang buruk juga berlaku bagi sejoli asrama Ocean ini. Meski kemampuan otak murid Ocean bisa dikatakan di atas rata-rata, namun mereka juga anak manusia biasa, yang juga merasakan jengkel jika hari pertama mereka bersekolah seusai libur panjang harus diisi dengan pemforsiran kerja otak.

Leeteuk yang biasanya selalu keluar dari kelas dengan wajah yang berseri-seri, kini ekspresi wajahnya seratus delapan puluh derajat berbeda. Entah disadari atau tidak, namun muncul kerutan di antara sepasang alisnya. Penampilannya yang selalu rapi kapan pun dimana pun seakan tidak ia hiraukan lagi. Wajah malaikat itu kusut dan nampak siap menerkam siapa saja yang coba-coba untuk mengusik emosinya. Bahkan Kangin pun yang cenderung lebih emosional dibanding Leeteuk memilih untuk tidak banyak bicara daripada dirinya harus kena omel nantinya.

Dalam perjalanan mereka menuju gedung asrama, tiba-tiba langkah Leeteuk terhenti, membuat Kangin yang berjalan tepat di sampingnya ikut menghentikan langkahnya.

"Wae, Teukkie?" tanya Kangin penasaran.

Tetapi Leeteuk tidak menjawab melainkan menatap sebuah objek yang berada kurang lebih lima ratus meter dari tempatnya.

Kangin yang tambah penasaran, spontan mengikuti arah pandang Leeteuk. Saat itulah ia tahu apa sebenarnya yang membuat namjachingunya itu berhenti mendadak.

Tidak jauh dari tempat mereka berjalan, nampak Kyuhyun yang merangkul pinggang Sungmin dengan sangat mesra menuju sebuah tempat yang jelas berlawanan arah dari gedung asrama Blue maupun Ocean. Mungkin ke arah danau buatan, entahlah. Yang jelas posisi tubuh mereka saat ini begitu nampak intim.

Kyuhyun mungkin bukan tipe namja yang terlalu mengurusi lingkungan sekitar, namun Leeteuk tidak. Dengan jelas ia bisa melihat bahwa murid-murid di sana melayangkan pandangan heran sekaligus syok melihat Kyuhyun dan Sungmin yang seolah tidak ragu untuk pamer kemesraan.

Sebagian yeoja ada yang berbisik-bisik heboh dan tak jarang pula menatap mereka dengan berang.

Tidak ada yang tidak mengenal popularitas Cho Kyuhyun. Dia, meskipun di anggap murid termuda di angkatannya, namun bukan berarti ia tidak terkenal. Hampir delapan puluh persen murid SM International merasa iri terhadap Kyuhyun karena kemampuan akselerasinya. Dan oleh sebab itulah, pepatah semakin tinggi kau berada, semakin kencang angin yang berhembus sangat berlaku bagi namja ber-IQ 180 itu.

Dan pemandangan menghebohkan yang baru saja tersaji cuma-cuma di tempat terbuka itu bisa menjadi skandal empuk untuk menjatuhkan image Kyuhyun mengingat ia melakukan cross love dormitory—yang jelas-jelas begitu terlarang—dengan Lee Sungmin.

Air wajah Leeteuk yang awalnya mendung, sekarang berubah menjadi badai. Ia melangkah tergesa menuju gedung asrama tanpa mengindahkan Kangin yang masih terpaku pada pemandangan Kyuhyun dan Sungmin di belakangnya.

.

.

.

Kyuhyun memasuki pintu utama asrama dengan wajah yang begitu ceria, jauh berbeda dengan sebelum-sebelumnya, yang selalu menampakkan raut monoton—wajah dingin acuh dan terkesan angkuh.

Ia ingin sekali cepat-cepat naik ke kamarnya dan membersihkan diri. Berharap akan menghabiskan malam dengan menelpon kekasihnya, Sungmin.

Namun belum sempat ia meraih gagang tangga, sebuah suara menginterupsinya.

"Kyuhyun-ah," Kyuhyun yang tergesa-gesa tidak menyadari kehadiran Leeteuk yang sedari tadi telah stand-by di ruang tengah asrama mereka.

"Ya, hyung?" Kyuhyun menghampirinya sesopan mungkin.

Leeteuk menatapnya, datar meski terkesan sedikit menusuk.

"Tadi aku melihatmu dan Lee Sungmin berjalan berdua. Apa ada sesuatu yang kau rahasiakan dari kami?"

Kyuhyun memandang Leeteuk heran, mengapa tiba-tiba hyung tertuanya itu menanyakan tentang perihal hubungannnya dengan Sungmin. Ada sesuatu yang tidak biasa di sini, Kyuhyun yakin sekali.

"Nde, aku dan Sungmin sekarang pacaran. Tapi kami tidak bermaksud merahasiakannya dari kalian. Aku hanya mencari waktu yang tepat untuk menceritakannya. Hanya itu," jawab Kyuhyun tenang dan jujur, tanpa menyadari jika urat di pelipis Leeteuk sudah berkedut.

Plak!

Dan satu tamparan pun melayang mulus di pipi kiri Kyuhyun. Menghasilkan gelombang kejut yang luar biasa bagi magnae itu.

"Hyung!" Donghae yang hendak ke pantry otomatis terkejut dengan adegan di depannya. Teriakannya seperti alarm yang membuat teman-temannya yang lain serentak ikut berkumpul di sumber masalah.

Kelima sosok manusia yang ada di sana reflek memandang Leeteuk dan Kyuhyun dengan berbagi ekspresi keterkejutan beragam. Kangin yang sigap langsung meloncat ke arah Leeteuk dan mencoba menenangkan kekasihnya itu. Tidak ada yang berani mendekati Kyuhyun karena antara takut ikut mencampuri masalah mereka maupun takut kena hardik Kyuhyun.

"Kenapa Hyung menamparku, eoh?" tanya magnae itu tidak habis pikir. "Aku hanya berpacaran dengan Sungmin dan bukan menghamilinya!"

Penjelasan Kyuhyun menjawab berbagai pertanyaan yang menggantung di benak keenam anggota asrama Ocean yang lainnya. Nampak Siwon yang paling terkejut dengan statement Kyuhyun sedangkan yang lain lebih memilih untuk menunggu alasan Leeteuk mengapa ia memukul Kyuhyun.

"Hanya berpacaran katamu?" Leeteuk menjawab lirih. "Apa sedikitpun kau tidak mempertimbangkan resiko dari keputusanmu itu, hah?"

Kyuhyun ganti memandang Leeteuk berang.

"Jika maksud hyung aku dan Sungmin telah melanggar peraturan tidak tertulis mengenai hubungan antar asrama, maka jawabannya adalah, aku tidak peduli dengan semua omong kosong itu!"

Plak!

"Kau bodoh, Cho Kyuhyun!"

Satu pukulan sekali lagi mendarat, kali ini di tepat kepala Kyuhyun.

"Cukup!"

Bahkan Donghae yang biasanya tenang pun jadi ikut tersulut emosi.

Kyuhyun yang semata-mata dilanda rasa syok yang berakumulasi hanya mampu menatap Leeteuk nyalang. Kepalan tangannya mengeras hingga kuku-kukunya menancap pada telapaknya. Sebelum emosinya bangkit lebih tinggi lagi, ia memutuskan untuk secepatnya pergi dari hadapan Leeteuk, tidak peduli rasa hormat atau sungkan lagi.

Ia berlari menggapai tangga dengan masih memegangi pipinya yang memanas. Di belakangnya, diam-diam Hankyung mengikutinya.

Masih di ruang tengah, teman-temannya yang lain hanya mampu diam seribu bahasa dan memandangi ketua mereka dengan pias.

"Ketua macam apa kau ini, hah?" dan suara Heechul menggema memecah keheningan.

Detik berikutnya tangisan Leeteuk pecah. Ia terseguk hebat hingga seluruh tubuhnya berguncang.

"Kau bodoh sekali.." tangan Leeteuk bergetar hebat seakan semua emosinya telah meluap tanpa bisa ia kendalikan.

Ia merosot ke lantai seperti selembar kertas yang tak berdaya oleh grafitasi.

.

.

.

Hankyung yang diam-diam mengamati Kyuhyun merasa prihatin dengan nasib bocah itu. Kyuhyun jelas bukan pihak yang sepenuhnya patut disalahkan. Ia masih terlalu muda untuk di hadapkan pada masalah serius semacam perseteruan antar asrama.

Lamat-lamat Hankyung menghampiri Kyuhyun yang meringkuk sendirian di balkon loteng asrama mereka. Namja itu nampak begitu terpukul dan diliputi sejuta emosi. Dengan tenang namja China itu mendekati tubuh Kyuhyun yang sedang memeluk lutut erat-erat.

"Kyu.." Hankyung bingung harus memulai pembicaraan darimana melihat Kyuhyun yang sepertinya tidak mood diajak berbincang.

"Kenapa hyung masih suka memukulku?" ucap Kyuhyun lirih.

'Hyung' yang dimaksud Kyuhyun pasti adalah Leeteuk. Mendengar itu Hankyung otomatis merangkul pundak Kyuhyun seakan ingin menguatkan dongsaengnya tersebut.

Hankyung tahu benar bagaimana perasaan Kyuhyun saat ini. Hari ini seperti trauma setahun silamnya kembali meluap ke permukaan. Dimana Leeteuk juga pernah memukulnya seperti tadi, setahun yang lalu.

Saat itu Kyuhyun yang berusia 15 tahun dan menjadi anggota termuda asrama Ocean jelas memiliki sifat yang berbeda dari hyungnya yang rata-rata berusia di atasnya. Kyuhyun yang berasal dari keluarga terpandang serta merupakan anak tunggal cenderung memiliki sifat manja dan labil. Hampir setiap hari ia melanggar peraturan sepele asrama seperti jadwal bersih-bersih asrama maupun jadwal belanja kebutuhan asrama. Awalnya semua menolerasi kelalaian Kyuhyun, namun ia terlalu sering melanggar sehingga Leeteuk marah padanya dan terpaksa menggunakan tangan untuk menghukumnya karena Kyuhyun yang saat itu mencoba berkelit.

Seiring dengan bertambahnya waktu, Kyuhyun berhasil mengurangi sifat buruknya dan perlahan menjadi dongsaeng yang penurut walau terkadang sikap kekanakannya tidak pernah bisa lepas dari dirinya.

Begitupun dengan Leeteuk, kedewasaannya membuat ia sedikit demi sedikit mengurangi kebiasaan memukulnya. Hingga hari ini, dan permasalahannya hanya karena Kyuhyun memacari Sungmin.

Di kala Hankyung masih mencoba menenangkan Kyuhyun, tiba-tiba muncul Leeteuk yang tahu-tahu menghambur ke arah mereka dengan air mata berderai yang nyaris membasahi seluruh wajahnya.

Ia meraih Kyuhyun dan memeluknya erat.

"Mianhae Kyuhyun-ah.. jeongmal mianhae.." ucapnya dengan suara terputus-putus. Air matanya membasahi blazer seragam Kyuhyun.

"Aku tidak bermaksud menyakitimu.." Leeteuk mengeratkan rengkuhannya. "Aku terbawa emosi hingga aku memukulmu. Maafkan aku.."

Kyuhyun hanya diam, sesungguhnya ia juga menangis di pelukan Leeteuk.

"Aku hanya terlalu mengawatirkanmu, Kyuhyun-ah.." ia semakin terisak. "Jika kau berpacaran dengan Sungmin, kau bisa membahayakan nyawa Sungmin dan bahkan..."

Kyuhyun menutup matanya, seakan paham dengan kekhawatiran Leeteuk terhadapnya. Kekhawatiran yang sama seperti yang ia perangi ketika pertama kalinya ia mengenal Sungmin. Namun tekadnya sudah bulat, ia akan mengambil segala resikonya, demi Sungmin dan demi asramanya sendiri, meski itu artinya ia akan membahayakan..

"..bahkan nyawamu sendiri.."

.

.

~The Dormitory~

.

.

.


Esok harinya..

Suasana pagi asrama Ocean nampaknya sudah kembali normal. Satu hal positif yang menjadi poin plus dari anggota Ocean adalah mereka tidak pernah membiarkan suatu masalah menjadi berkepanjangan. Jika masalah tersebut telah selesai, maka tidak ada satupun lagi yang akan membahas hal itu di kemudian harinya.

Seperti halnya hari ini. Leeteuk kembali menjadi ibu yang baik bagi keenam anak-anaknya. Mengomeli Kyuhyun yang bangun terlambat dan memastikan semua anggotanya sudah terisi oleh sarapan dengan baik. Jika ada salah satu dari mereka yang tidak hadir di meja makan, maka ia akan mencari orang tersebut kemana pun ia berada dan menanyai sebab ia tidak ikut bergabung bersama.

Hari ini Heechul dan Victoria lah yang absen di meja makan, dan pengecualian untuk mereka, Leeteuk sudah paham benar jika kedua manusia itu akan selalu terlambat bergabung karena.. berdandan misalnya?

"Aish, kurang lima belas menit lagi bel masuk, tapi Heechul dan Vict tidak keluar juga?", namja berlesung pipi itu mendumel sendiri sambil terus mengecek arlojinya.

Ketika anggota yang lain sudah bersiap-siap untuk berangkat, muncullah kedua sosok yang sedari tadi dicari oleh Leeteuk.

"Kalian lama seka—" namun seketika ucapan sang leader terhenti. Hening sesaat. Mengundang yang lain ikut menoleh ke arah Leeteuk.

Dan reaksi berikutnya yang terjadi adalah.. melongo, seolah mereka sedang memandang sebuah masterpiece ternama keluar dari balik tirai beludru.

"Heechul..." bisikan pertama Leeteuk di tiga menit penuh keheningan. Kelopak matanya seakan lupa untuk berkedip. Dan rahangnya yang seakan lupa untuk mengatup dikala ia menatap sosok Heechul dalam balutan penampilan yang seratus delapan puluh derajat berbeda dari biasanya.

Tidak ada lagi seragam wanita, rok mini, high heels, wig panjang berwarna-warni, lensa kontak biru laut, parfum beraroma feminin yang menguar pekat dan make up tebal yang memoles wajah cantiknya. Heechul yang saat ini berdiri di hadapan Leeteuk kini menjelma menjadi sesosok namja yang benar-benar tampan, natural dan sangat manly.

Rambut karamelnya ia pangkas pendek dan di cat hitam legam. Seragam pria yang melekat pada tubuhnya begitu rapi namun tidak menghilangkan sedikitpun kesan trendy modernnya. Wajahnya ia biarkan tampil apa adanya tanpa make up kecuali pelembab sehingga ia akan selalu terlihat segar. Dan sepatunya.. tidak ada lagi heels kecuali pantovel hitam mengkilap yang begitu pas di sepasang kakinya.

"Ini benar kau, Heenim-ah?" Leeteuk masih terperangah.

"Wow.. kau bahkan lebih tampan dari Choi Siwon! Hahaha.." ganti Donghae yang menyeletuk. Membuahkan tatapan malas dari Siwon di sebelahnya.

"Aku hanya ingin mencoba penampilan baru," namja cantik itu tersipu. Ia tidak menyangka reaksi teman-temannya akan seberlebihan ini saat melihat penampilan barunya. "Sepertinya kelak aku akan menjadikan Victoria sebagai cordy noona-ku. Dia terampil sekali merias seseorang."

Di sampingnya, Victoria hanya memasang wajah datar tidak tertarik.

"Kajja kalau begitu, kita sudah hampir terlambat, kau sarapanlah di kelas saja." ucap Leeteuk kemudian pada Victoria dan Heechul.

Tetapi Heechul sudah buru-buru menyambar sandwich dagingnya dan menyuapkan ke mulutnya sambil berlalu. "Aku akan makan sambil jalan, ayo berangkat!"

"Ya! Makan sambil jalan itu tidak baik, Heechul-ah!" Victoria bersungut sebal di belakang sambil memberesi sandwich miliknya dan cepat-cepat menyusul langkah teman-temannya.

"Hey hyung," Donghae menyikut Heechul yang berjalan di sampingnya sambil tersenyum-senyum jahil.

"Hn?"

"Kalau kau terus berpenampilan setampan ini, mungkin suatu hari ganti Hankyung hyung yang akan mengejar-kejar dirimu," godanya sembari terkikik pelan. Entah ia sengaja atau tidak, tetapi Hankyung yang berjalan tepat di depannya rupanya menjadi sedikit terusik akibat pembicaraannya dengan Heechul barusan.

Namja China itu menoleh pendek kebelakang. Dan hal itu jelas disadari oleh Heechul.

Sambil berlalu mendahului Donghae dan Hankyung, ia sengaja menambahkan volume suaranya dikuti dengan seringai kecil yang begitu kentara di wajah tampannya.

"Kalau aku bilang aku ini sebenarnya straight bagaimana?"

.

.

"Uhuk, uhuk!"

Tidak sadarkah kau Kim Heechul jika kata-katamu tadi telah berhasil menohok Hankyung?

Namja China itu terbatuk beberapa kali hingga Siwon yang berjalan di depannya reflek menoleh dan buru-buru membantu Hankyung menepuk-nepuk punggungnya.

"Gwenchana?"

"Nde, gwenchanayo.. uhuk.."

.

.

Kedatangan para anggota asrama Ocean yang bergerombol selalu menjadikan mereka sebagai pusat perhatian. Tidak ada yang menyangkal akan pesona mereka. Bukan rahasia umum lagi jika kehadiran mereka akan selalu mengisi atmosfer sekitar dengan aura yang berbeda.

Namun ada sesuatu yang lebih berbeda pagi ini, koridor utama mendadak ramai karena beberapa siswa nampak sedang seperti berlomba untuk memadati area tersebut. Sebagian besar adalah murid tahun pertama, dan ada juga murid kelas sebelas maupun kelas dua belas.

Suasana seperti itu sering ditemui saat pembukaan tahun ajaran baru, pesta pergantian musim maupun saat kelulusan. Terakhir kali SM International dipenuhi euforia ganjil di pagi hari yaitu karena Heechul yang menjelma sebagai siswa perempuan. Lalu kejadian apalagi yang mampu mengulang euforia serupa seperti yang sekarang sedang terjadi?

Kedelapan siswa asrama Ocean hanya mampu saling melempar pandang heran. Siwon yang Presiden Siswa pun bahkan tidak mengetahui sebab dibalik kehebohan itu. Menit berikutnya, nampak seorang namja dengan rambut coklat pendeknya tiba-tiba berlari menghampiri mereka. Dia adalah Eunhyuk.

"Hae-ya.." ucapnya sambil sedikit tersengal. Ia menunjukkan layar handphonenya kepada Donghae. Sebuah pengumuman terpampang jelas di layar lima inch tersebut. Entah darimana ia mendapatkannya, namun rupanya hal tersebut telah berhasil membuat sepasang mata Donghae melebar dengan seketika.

"Mereka akan kembali? Secepat ini?" kata Donghae yang hampir terdengar seperti bisikan.

"Mereka siapa yang kau maksud?" Heechul bertanya heran, sebuah pertanyaan yang mewakili rasa penasaran keenam temannya yang lain.

Donghae yang ditanya hanya mampu menatap Leeteuk dan Eunhyuk bergantian dengan pandangan yang sulit diartikan. "Siapa lagi? Tentu saja murid kelas dua belas asrama Ocean.."

"Mwo?" Heechul nampak semakin tidak paham.

"Apa katamu hyung? Yang benar saja? Bahkan sekarang masih belum masuk akhir semester satu," Kyuhyun ikut angkat bicara, seolah hal tersebut merupakan sesuatu yang tidak wajar bagi mereka.

"Kukira asrama Ocean hanya dihuni murid kelas sebelas saja.." timpal Heechul yang lagi-lagi merasa takjub.

Namun sepertinya ekspresi takjubnya begitu kontras dengan ekspresi yang ditunjukkan teman-temannya yang lain. Donghae bahkan nampak mematung untuk sesaat.

Tidak ada yang berkata-kata, semua seolah sibuk dengan pikiran masing-masing. Bahkan tidak ada yang menyadari jika ekspresi Eunhyuk-lah yang begitu kentara di antara mereka.

Namja itu nampak risau. Dan bisikan berikutnya yang masihlah cukup terdengar ditengah kekosongan itu adalah..

"Yesung hyung.."

Donghae reflek menatap Eunhyuk..

.

.

.

~oOo~

.

.

.

To Be Continue..

.

.


Annyeong teman-teman.. ^^

Semoga masih ingat dengan alur ff ini.. hehe..

Saya tahu ini terlalu lama update, tapi saya senang karena masih dikasih kesempatan buat melanjutkan ff ini sekaligus berjumpa dengan kalian.. kkk.. :D

Untuk jumlah words yang mungkin kepanjangan, alur cerita bertele-tele dan plot yang ga turn on turn on(?), saya minta maaf banget..

Ini ff mencakup beberapa konflik dan pairing, jadiyaa~ beginilah..

Saya harap kalian bersabar.. /dih ngarep/ :p

And~ ohya!

Saya juga mau mengucapkan "Happy Anniversary Super Junior~"/telaaaattt TvT/

More than ∞ years we belong together..

Semoga persaudaraan kita semakin kuat terjaga, semakin solid, semakin kompak, semakin dewasa dan bijak, dan semakin kuat menghadang segala rintangan! Fighting! ^^

.

Last, Special Big Thanks To:

MinSeulELFSparFishy (kalau sama authornya kangen apa engga? ._.) . ECssKGnGMx135 (ini sudah panjang kan ya? Semoga tidak mengecewakan~ huhu.. TT) . L'Affect (iya~ entah kenapa aku suka yesong yg sokmisterius.. *nyengir semut/?*) . pumpkinsparkyumin (annyeong baby~ *sok akrab* makasi uda baca dan meninggalkan cuap2nya di every chap~ aduh aku pingin meluk kamu.. kk~ :*) . reaRelf (Hangeng masih belum nyadar perasaannya kan? Iya dia emang nyebelin, pingin aku keramasin aja rasanya u,u) . hani (penantian petals berbuah manis, penantian hanchul defender berbuah mengkudu/?) . KS (AAA~ kamu Petals? ;; bagaimana perasaanmu saat Heechul comeback super show? ;w;) . I AM 968 (aduh, kamu kok gombal sih cyin~ x3 ) . Santiyani_febby (authornya juga keren loh aslinya -_-v) . Pumpkin Ite (magnae yg sholehah, sibum bikin jumma pingin salto saking susahnya bikin moment mereka yg diem2an gitu u,u ) . sitara1083 (artinya "watashi wa anata ni aishite imasu" itu "kamu sexy" ._. wkwkwk~ XD artinya "I love you") . puzZy cat (hwaa~ itu maaf hanchulnya ada 'badai' sedikit~ bentaran juga reda kok, cius~ ) . gengpetals (ini hanchulnya nyesek ga sih, say? ;;) . Mrs EvilGameGyu (aaaa maaf chap ini kyuminnya samar2/? doank~ TT) . Ri Yong Kim (pacarnya dongek itu saya.. ==v) . DwitaDwita (aigoo~ kenapa kamu baik banget sayang~ TvT terharu seriusan ;A; makasi banyak yaa~ aku bakal berusaha semaksimal mungkin..) . Fly99 (lanjut? This is it~) . Thalita (sebenernya saya lagi sebel sama hanchul loh.. *jadicurhat*) . Kim HeeRa Elforever (heera kamu kok bisa menerawang/? apa yg terjadi di chap depan sih? -_-) . Tenshi 39 (kangteuk? iya mereka paling ayem walau ntar mungkin bakal ada 'something' getoh~) . Bryan Andrew Cho (hai Bryan *sok akrab lagi =="* makasi sudah baca~ doakan saja waktu dan ide berjalan semulus paha sungmin.. /slap/ :P)

YOU'RE THE BEST, GUYS!

See you ini next The Dormitory 9th Chapter as soon as possible~

Seperti biasanya, review engga review, I'd like to say: Thank You So Much~ :))