~The Dormitory~
.
Super Junior © SM Entertainment
.
Chapter 9:
Unchanged Destiny
.
Rating : T
.
Cast :
Super Junior's members and the others support cast.
.
Pairing :
Super Junior's Pure Pairs.
.
Genre :
Romance, Friendship, School Life.
.
Warning :
Boys Love, Typo(s), Confusing Plot, AU, a Little OOC, Over.
.
~oOo~
.
Flames Are Not Allowed!
~Don't Like, Don't Read~
.
~oOo~
.
.
-SM International 07:12 am-
"Ya! Perhatikan langkahmu, bodoh!" entah sudah umpatan keberapa yang keluar dari mulut pedas Heechul. Dan entah sudah berapa siswa yang dibuatnya segera terbirit-birit pergi malah bahkan ada yang hampir menangis. Bukan salahnya mengeluarkan kata-kata kotor seperti itu. Ia hanya terjebak dalam lautan siswa yang nyaris memenuhi seperempat koridor utama dan membuatnya beserta ketujuh teman seasramanya yang lain tidak bisa lewat saking ramainya.
"Shit! Matamu buta hah? Kau menginjak kakiku, dasar yeoja gila!" sekali lagi namja cantik itu mengeluarkan sumpah serapahnya. Ini sudah yang kesekian kalinya kakinya diinjak oleh siswa maupun siswi yang terlalu heboh dengan suasana, tidak sedikit pula yang menyodok-nyodok rusuknya, entah itu disengaja atau tidak.
"Lebih baik kita jangan lewat sini," ucap Leeteuk yang juga mulai gerah karena didempet-dempet oleh beberapa siswa yang hendak menyeruak ke barisan paling depan. Anggota Ocean yang lain ikut mengiyakan. Siwon bahkan sudah risih karena hoobae-hoobae yeoja disekelilingnya mulai mencuri-curi kesempatan yang kurang senonoh padanya.
"Sialan, memangnya mereka sehebat apa sih sampai membuat seluruh sekolah menjadi abnormal seperti ini?"
.
.
~The Dormitory~
.
.
Sementara itu, beberapa meter dari megahnya gedung SM International yang menjulang begitu anggun di kejauhan, sebuah mobil van putih melaju dengan kecepatan sedang melewati jalanan yang pagi itu rupanya begitu padat. Sebuah rutinitas alami yang selalu tercipta di hari aktif sebuah kota metropolitan ibu kota.
Seorang namja yang duduk di bangku paling belakang seakan enggan mengalihkan atensinya dari luar kaca jendela di sampingnya. Pandangan tak terbaca dari iris coklat kelamnya tersembuyi dengan rapi di balik lensa hitam yang bertengger sempurna di pangkal hidungnya.
"Hyung-ah..", namja berbadan sedikit tambun mencoba menarik perhatiannya. Namun respon yang ia dapat tidaklah jauh berbeda dengan satu jam yang lalu, saat mereka bertemu di bandara Internasional Korea Selatan setelah lebih dari enam bulan lamanya mereka berpisah.
"Sudahlah Shindong-ssi, mungkin dia memang sedang kelelahan," ucap salah satu namja lain yang juga berada satu van dengan mereka.
"Tapi sejak kita tiba tadi hingga sekarang hanya dia yang terus membisu seperti ini. Aku jadi khawatir Zhoumi-ssi," namja tambun tadi menimpali.
Zhoumi, namja berpostur jangkung, berambut coklat menyala dengan logat orientalnya itu hanya mampu menatap si objek perhatian dengan prihatin.
"Hei.. bukankah seharusnya kau bahagia jika kita kembali lebih cepat dari jadwal yang ditentukan?"
Lagi-lagi si namja berkaca mata hitam itu hanya diam. Sinar matahari yang merembes dari jendela di sampingnya mempertegas raut risaunya yang sebenarnya cukup kentara meski sekeras apapun ia mencoba untuk menutupinya.
"Haah~ aku sungguh tidak menyangka jika kita akan kembali secepat ini. Enam bulan di Canada membuatku rindu berat dengan Korea. Ah, apalagi makanannya. Rasanya lidahku hampir mati rasa gara-gara terlalu sering menyantap hidangan western," Shindong memutuskan mengoceh sendiri ketimbang memikirkan temannya yang sedari tadi bak mayat hidup.
Zhoumi yang duduk di depannya menoleh, ikut mengiyakan ucapan teman berisinya itu dengan pandangan yang sedikit menerawang. Sesungguhnya ia juga teramat merindukan Korea meski hanya enam bulan dirinya merantau ke belahan negara lain. Terutama dengan yeoja centil yang menjadi musuh bebuyutannya sejak setahun yang lalu, Victoria. Yeoja cerewet yang tidak pernah akur dengannya. Ia tidak menyangka akan melihat wajah menyebalkannya lagi setelah beberapa bulan hidupnya berangsur tenang. Sejenak Zhoumi teringat jika ia lupa untuk membawa boots kulit domba hasil kalah taruhannya dengan Victoria setahun silam. Namja jangkung itu mendesah panjang, gedung SM International tinggal beberapa meter lagi dan ia merasa ingin kabur dan kembali ke Sydney saja.
.
.
"Boys, bersiap-siaplah karena sebentar lagi kita akan tiba dan kalian akan kembali bertemu dengan teman-teman kalian," terdengar suara lengkingan Shim seongsaengnim dari samping bangku kemudi yang memberikan peringatan jika mereka akan sampai di tempat tujuan.
"Ayo hyung, kau harus bersemangat! Ingatlah, Donghae sudah menantimu," ujar Shindong tanpa beban sembari menepuk pelan bahu namja yang sedari tadi hanya terpaku di tempatnya.
Shindong dan Zhoumi sedang sibuk bersiap mengenakan blazer seragam mereka, sehingga tidak menyadari raut suram yang terpancar dari wajah tampan namja yang berada si sampingnya tersebut.
Namja itu menghembuskan nafas panjang sambil melepas frame hitam yang sedari tadi melindungi kedua matanya. Hatinya bergulat hebat di dalam sana, sesungguhnya ia mendengar segala yang teman-temannya bicarakan di sepanjang perjalanan ini. Ia diam hanya karena ia tidak tahu harus menyiapkan diri seperti apa. Berita kepulangan mereka begitu mendadak. Terlalu dini baginya untuk kembali ke asrama sekaligus terlalu cepat untuk kembali bertemu pandang dengan seseorang yang selalu ada di hatinya selama ini. Seseorang yang sebenarnya sedang ingin ia hindari namun begitu ia rindukan.
Dengan perlahan ia mengenakan blazer biru sapphirenya. Menyematkan emblem emas berukir "Ocean" kebanggaannya dan membenahi letak name tag-nya yang bertuliskan Kim Jong Woon.
Terakhir sebelum van mereka memasuki halaman luas SM International, ia mengerling sejenak pada layar smartphone-nya, memandang singkat foto seorang namja manis yang sedang tersenyum indah di sana lalu memutuskan untuk me-non aktif-kan gadget tersebut.
.
.
~oOo~
.
.
"Sudah menjadi agenda wajib murid kelas dua belas asrama Ocean untuk mengikuti program student exchange, atau yang sering kali kita sebut pertukaran pelajar," Ryeowook dengan suara kecilnya yang melengking mencoba untuk menjelaskan kepada Sungmin yang sepertinya tidak tahu apa-apa mengenai kehebohan pagi hari ini.
"Di akhir semester empat biasanya para murid Ocean sudah wajib untuk mempersiapkan program exchange-nya, seperti mengikuti bimbingan intensif, persiapan tes, serta keperluan yang lainnya."
Ryeowook terus berceloteh lancar di tengah hiruk pikuk yang terjadi di sekelilingnya karena pasalnya para murid kelas dua belas Ocean itu sudah mulai memasuki koridor utama yang di sambut dengan kehebohan bak mendatangkan artis papan atas luar negeri.
"Lalu apakah pertukaran pelajar itu hanya untuk asrama Ocean saja?" tanya Sungmin penasaran.
"Kabarnya sih tidak, kita murid asrama Blue juga bisa mengikuti program tersebut asal kita lulus saat mengikuti tes seleksinya."
Di sebelahnya Sungmin hanya manggut-manggut tanda paham.
"Kau kenapa bisa tahu hal-hal seperti itu sih?"
Nampak Ryeowook sedang memutar bola mata dramatis, "Kau saja yang terlalu kuper, Sungmin-ah. Sesekali kau perlu untuk mencari info-info up to date juga sepertiku."
Sebelum Ryeowook sempat menjelaskan lebih detail lagi, suasana di sekelilingnya tiba-tiba meriuh, membuat Sungmin secara reflek langsung melongok ke bawah, tepatnya di lantai dasar yang berada satu tingkat dari tempatnya berdiri. Sepasang mata foxy-nya kini beralih pada tiga orang yang sekarang tengah berjalan penuh kharisma membelah koridor utama dengan didampingi beberapa guru dan petinggi senat.
Tiga orang siswa laki-laki yang bagi Sungmin memiliki aura berbeda dari yang lain. Emblem emas di dada mereka berkilat ditempa sinar matahari pagi. Jerit histeris para yeoja menggema dari berbagai sudut tatkala ketiga namja tersebut melangkah semakin dekat dengan mereka.
"Omona Zhoumi sunbae~~!" yeoja di samping Sungmin tiba-tiba memekik histeris saat namja yang paling tinggi di antara ketiga murid kelas dua belas itu tidak sengaja mendongak menatapnya.
Sungmin otomatis menjauhkan tubuhnya, ia masih sayang dengan gendang telinganya.
"Ya Tuhan Lee Sungmin~ tidakkah kau merasa jika Zhoumi sunbae begitu mempesona? Aigo~ aku tidak menyangka jika ia setinggi itu."
Namja bertubuh mungil itu berjingkat pelan saat mendapati jika Ryeowook pun juga ikut-ikutan terkesima. Diperhatikannya mata mungil Ryeowook yang nampak berbinar, Sungmin jadi sedikit merasa ilfeel.
"Yang bertubuh besar itu siapa namanya?" tanya Sungmin mengalihkan perhatian.
"Lee Dong Hee sunbae. Haah~ konon kabarnya dia itu jenius sekali. Sering mengikuti olimpiade dan telah mengantongi beberapa medali. Sungguh beruntung yeojachingu-nya memiliki kekasih seperti dia.."
"Jadi dia straight?" Sungmin nampak sangsi. Sebelah alisnya naik sedikit.
"Sepertinya sih begitu." Ryeowook hanya nyengir sambil menggedikkan bahu.
"Dan yang berjalan paling belakang itu?" kini pandangan Sungmin beralih ke namja yang paling akhir.
Dia tidak berpostur cukup tinggi, berambut hitam dengan tatanan cukup rapi yang mempertegas bentuk wajahnya. Lain dengan Zhoumi dan Shindong yang nampak begitu ramah, namja yang satu ini rupanya sangat dingin dan beraura pekat. Matanya sipit tetapi pandangannya tajam. Kedua tangannya terselip di saku celana. Pria ini begitu elegan meski kesannya begitu misterius.
"Berarti, dia kan orangnya?" ucap Sungmin lirih kepada Ryeowook.
Tidak seperti beberapa menit yang lalu, Ryeowook kali ini lebih banyak diam walau pandangannya tak lepas mengikuti langkah si namja berambut hitam itu.
"Nde.. dia yang berjalan paling belakang itu tunanganku, Yesung hyung."
.
.
~oOo~
.
.
-Kelas 11-C, 11:30 am-
Ini tidak seperti biasanya. Semalas-malasnya Donghae dalam mengikuti proses belajar mengajar di kelasnya, sekalipun ia tidak pernah melamun separah hari ini. Sudah dua mata pelajaran berselang namun tak seinchi pun ia menggoreskan penanya di atas buku catatannya. Buku paketnya terbuka lebar, namun halaman yang terpampang jauh meloncat dari bab yang sekarang sedang di bahas oleh Jung seongsaengnim di depan kelas.
"Secara umum sintesis protein terdiri dari tiga tahapan utama, yaitu replikasi DNA, tahap transkripsi dan tahap translasi. Adakah yang bisa menjelaskan apakah itu tahap translasi?" Sepasang mata Jung seonsaengnim mulai bergerak menelusuri seisi kelas. Ia berdehem kecil, sudah hafal dengan perilaku murid-muridnya yang berakting seolah-olah sedang serius membaca sehingga tidak akan bertatapan langsung dengan dirinya.
Namun hal yang berbeda tidak sengaja tertangkap oleh sang guru. Yaitu salah satu murid favoritnya yang nampaknya sedang menatap kosong ruang di hadapannya. Pandangannya lurus ke depan, tetapi Jung saem tahu jika namja itu tidak sedang memperhatikannya.
"Lee Donghae-ssi? Tolong jawab pertanyaan yang tadi saya ajukan."
Donghae langsung terperanjat begitu namanya disebut. Sambil mencoba memfokuskan kembali konsentrasinya, ia pun menjawab.
"Setiap sel dapat memperbanyak diri dengan cara membelah. Sebuah sel membelah menjadi 2 sel, 2 sel membelah menjadi 4 sel dan seterusnya. Sebelum sel membelah, terjadi perbanyakan komponen di dalam sel termasuk DNA. Perbanyakan DNA dilakukan dengan cara replikasi. Dengan demikian, replikasi adalah proses sintesis DNA baru atau penggandaan DNA di dalam nukleus." jawabnya lancar namun begitu membelok dari pertanyaan yang diajukan.
Seisi kelas hening mendadak..
Semua mata kompak tertuju pada Donghae. Eunhyuk di sebelahnya semena-mena langsung memukul jidatnya sendiri meski ia tidak tahu jawaban yang benar, tetapi ia tidak cukup bodoh untuk menilai jawaban Donghae yang jelas-jelas menyimpang.
Donghae yang masih belum menyadari tindakan bodohnya menoleh pada Victoria di belakangnya. Namun yeoja itu malah balas menatapnya dengan pandangan 'ke-laut-saja-kau-leedonghae'.
"Yang saya tanyakan adalah tahap translasi, Lee Donghae-ssi, bukan replikasi DNA," Jung seonsaengnim mengoreksi dengan tenang namun begitu mengena.
"Boo~~"
"Huuurr~~"
Seisi kelas mendadak riuh berlomba menertawakan Donghae. Kesempatan yang jarang terjadi mengingat Donghae yang jarang melakukan kesalahan di tengah pelajaran.
"Waeyo?" Donghae berbisik pada Eunhyuk yang lagi-lagi hanya mampu menatapnya prihatin.
Namja berambut coklat pendek itu mendengus keras, tanpa pikir panjang ia menarik tangan Donghae dan mengajaknya keluar dari kelas mereka saat itu juga.
"Jeosonghamnida seonsaengnim, sepertinya Lee Donghae sedang tidak enak badan, saya izin membawanya ke ruang kesehatan dulu, permisi."
.
.
Donghae tidak paham dengan aksi tiba-tiba Eunhyuk, tetapi ia tidak punya alasan untuk menolak. Dengan tergesa mereka melangkah menjauhi kelas yang samar-samar masih terdengar sibuk menertawakan kebodohannya.
"Kau kenapa sih?" tanya Donghae saat ia merasa Eunhyuk membawanya terlalu jauh.
Eunhyuk berhenti dan langsung menghempaskan tangan Donghae yang sedari tadi digenggamnya begitu saja.
"Kau yang kenapa?!" semburnya balik.
Sejujurnya Eunhyuk sudah jengkel luar biasa dengan Donghae. Selama pelajaran berlangsung, semua pertanyaannya tidak ada yang digubris, bahkan saat ia meminjam bolpoin pun Donghae sama sekali tidak bereaksi.
"Kau itu kenapa hah? Kau sadar tidak jika kau sudah terlalu banyak melamun hari ini?" ucap Eunhyuk akhirnya.
Pernyataan Eunhyuk bagai percikan pada syaraf-syaraf Donghae. Namja itu tersadar, ia memang sangat tidak fokus hari ini. Pikirannya memecah. Berkeping-keping. Dan jujur saja itu semua karena kepulangan Yesung yang begitu mendadak.
"Kau ingin menemuinya? Bilang saja, aku yang akan mengantarmu!" Eunhyuk semakin meletup-letup.
Namun Donghae malah diam. Melihat air wajah Eunhyuk yang dilanda emosi seperti itu justru membuatnya ingin menenangkan sahabatnya tersebut daripada menemui Yesung.
Perlahan Donghae meraih kesepuluh jemari Eunhyuk. Ia menggenggam erat jari-jari itu sembari tersenyum pilu.
"Tolong jangan pernah tinggalkan aku, Hyuk," lirihnya yang seketika membuat Eunhyuk bingung lantaran takjub.
"Aku hanya takut untuk kembali bertemu dengannya," ucap Donghae jujur.
Eunhyuk mencibir, "Dia itu kekasihmu, Hae. Apa yang perlu ditakutkan?"
"Entahlah.."
Donghae menatap sekilas pada jam raksasa katedral yang berada tidak jauh dari tempat mereka berdiri, waktu istirahat akan berlangsung lima belas menit lagi. Sepertinya ia tidak akan kembali ke kelas. Saat ini yang ada di pikirannya hanya ingin bersama Eunhyuk, entah mengapa.
"Hae.." Eunhyuk berkata takut-takut. Tanpa sadar genggaman tangannya pada tangan Donghae mengerat.
"Bagaimana perasaanmu saat ini?"
"Maksudmu?"
"Err, perasaanmu pada Yesung hyung.." Eunhyuk merasa salah. Tidak seharusnya ia bertanya hal bodoh seperti itu.
Donghae menggumam pelan. Sekilas ia teringat moment pagi tadi. Saat Yesung melangkah tepat di hadapannya. Sosok Yesung yang masih sama sejak terakhir kali mereka bertemu sebelum namja itu meninggalkannya ke Manchester.
Donghae tersenyum kecil yang tidak disadari oleh Eunhyuk. Reflek ia balas mengenggam lebih erat telapak halus di rengkuhannya tersebut.
"Aku merindukannya. Sangat merindukannya.." ia berbisik.
Dan tanpa disadari oleh Donghae pula, Eunhyuk sedang mengumpat dalam hati.
.
.
~oOo~
.
.
-SM International High School, 12:15 pm-
Hankyung menatap kosong pada awan yang berarak di atas kepalanya. Mendung menggantung lemah nampak siap menumpahkan lelehannya. Hawa musim gugur yang di prediksikan akan datang dua bulan lagi terasa begitu lekat akhir-akhir ini.
Bel istirahat sudah berdering lima belas menit yang lalu, namun Hankyung seakan enggan beramai-ramai memenuhi kantin seperti teman-temannya yang lain. Sepertinya suasana muram siang ini berimbas pada suasana hatinya.
Namja tinggi berambut hitam alami itu berjalan lunglai ke arah halaman belakang sekolah, satu-satunya tempat paling damai yang bisa ia temui di jam-jam riuh seperti sekarang. Berharap dengan mengistirahatkan tubuhnya sejenak ia bisa melanjutkan hari dengan pikiran yang lebih fresh.
Tepat di bawah pohon maple rindang favoritnya, terdapat sepetak lahan berumput pendek yang cukup memadai untuk sekedar merebahkan tubuh. Namun belum sempat dirinya mendekat, sepasang matanya menangkap adanya seorang siswa yang sudah terlebih dahulu menempati tempat incarannya itu.
Hankyung tetap mendekat, barangkali masih ada ruang tersisa untuk tubuh rampingnya, pikirnya. Dan saat ia benar-benar sudah mendekat ke arah sosok tersebut, seketika hatinya mencelos. Siswa yang berbaring di sana adalah seseorang yang sedari tadi berkelut di pikirannya jika ia boleh jujur.
"Sica-ssi, ayo kita makan siang berdua, kali ini aku akan menraktirmu!"
Hankyung masih ingat benar ucapan Heechul beberapa menit yang lalu kepada primadona di kelasnya, Jessica. Heechul dengan terang-terangan mengajak Jessica untuk makan siang bersama. Dan entah mengapa hal sepele tersebut membuat mood Hankyung menjadi drop mendadak.
Tetapi saat ini, ketika Hankyung justru menemukan Heechul sedang berbaring pulas di bawah pohon maple alih-alih makan bersama Jessica, mood baik namja China itu secara drastis kembali meluap.
Heechul yang terlihat begitu tenang dalam tidur siangnya secara naluriah membuat Hankyung mengulas senyum. Pelan-pelan, takut mengganggu tidur Heechul, ia ikut mendudukkan dirinya tepat di samping namja cantik itu.
"Chullie-ah.." Hankyung berbisik lembut. Berharap Heechul akan terbangun, namun nyatanya ia hanya berbisik pada udara. Heechul tetap terpejam.
"Hh~"
Mungkin ada baiknya juga jika ia tidak membangunkan Heechul. Ia tidak ingin Heechul kembali menghancurkan moodnya dengan kata-kata pedasnya. Saat ini ia hanya ingin berdamai.
"Nh.." terdengar Heechul yang menggeram pelan sembari merubah posisi kepalanya yang tadi membelakangi Hankyung kini jadi menoleh ke arahnya.
Hankyung sudah siaga satu untuk segera beranjak jika Heechul tiba-tiba terbangun namun ternyata namja cantik itu tetap tertidur, ia bisa sedikit lega.
Hankyung menoleh sedikit pada Heechul. Sekedar memastikan jika namja itu tidak pura-pura tidur. Dan pemandangan awal yang terekam oleh obsidian kelamnya adalah wajah cantik Heechul yang sangat damai dan polos. Seperti bayi perempuan yang baru meninggalkan rahim ibunya.
Melihat itu Hankyung tidak bisa jika tidak kembali tersenyum. Rongga-rongga dadanya menghangat secara magis. Cantik. Heechul terlalu cantik dalam balutan seragam pria dan model rambut pendek seperti sekarang. Bibirnya yang merah alami sedikit terbuka, dan tidak tahu kenapa hal itu justru membuat Hankyung jadi ingin menyentuh permukaannya.
Jari-jari panjang Hankyung mulai bergerak mendekat. Sedikit ragu di awal namun syaraf motoriknya seolah tidak ingin ditentang.
Nyut~
Dadanya berdebar hebat. Sebegitu ajaibkah bibir Heechul sehingga sensor di ujung jarinya langsung menyetrum tepat pada ulu hatinya? Buru-buru Hankyung menarik tangannya. Darah di wajahnya mengalir deras saat ini. Ia yakin wajahnya sudah memerah, yakin sekali.
"Kau mengagetkanku," katanya yang lagi-lagi pada udara.
.
.
"Heenim.."
Setelah terdiam lebih dari lima menit lamanya, Hankyung memutuskan untuk bercerita. Tidak apa jika Heechul tidak mendengar, setidaknya ia ingin mengungkapkan segala yang ingin ia sampaikan pada Heechul.
"Kemarin aku sudah menyakiti hati seorang yeoja," ia memulai ceritanya. "Tapi jika aku tidak begitu aku akan semakin menghancurkannya."
Hankyung mendesah panjang. "Aku tidak bisa menyukainya.." adunya.
Angin berhembus lirih, menerbangkan sebagian daun maple yang berguguran di dekat kakinya. Dengan hati-hati Hankyung mengambil daun yang mendarat di kepala Heechul, ia tidak ingin hal sekecil itu mengganggu tidurnya.
"Tetapi selain itu.. ada hal lain yang masih mengganggu pikiranku hingga saat ini.." wajah namja China itu kembali muram.
"Kau yang tiba-tiba berubah, Chullie.." ia berbisik.
"Aku tidak tahu apa yang telah terjadi padamu. Tetapi aku merasa sejak kita pulang dari liburan tempo hari, kau selalu menghindariku."
"Kau tidak menyapaku, tidak menghiraukan pesan-pesanku, dan juga tidak menggodaku.." Hankyung kembali memerah saat mengucapkan hal itu. Ia terlihat begitu memalukan, tapi siapa peduli? Heechul tidak mendengar.
"Padahal aku berharap kau bisa menghiburku seperti biasanya. Membuatku lupa dengan semua masalah-masalahku. Namun kau justru menghindar dariku."
Hankyung menoleh ke arah Heechul. Namja itu masih terpejam dengan deru nafas yang teratur. Sebegitu lelahkah kau Kim Heechul?
"Hari ini kau merubah penampilanmu," sekali lagi Hankyung menelisik ke cara berpakaian Heechul. Tidak ada lagi rok mini ataupun kemeja kekecilan. Kaki jenjang Heechul terbalut rapi oleh celana panjang seragam pria.
"Kau itu terlalu cantik untuk menjadi seorang namja.." Hankyung terkekeh pelan. Ia membayangkan Heechul pasti akan memukul kepalanya jika mendengar komentarnya.
"Oh ya, kau tahu tidak? Tadi Victoria mengirim pesan padaku," lanjutnya. "Katanya kau berubah begitu karena aku," air wajahnya muram lagi.
"Memangnya aku kenapa?" namja itu mendongak, sinar temaram matahari menyusup di sela-sela ranting.
"Apa arti diriku buatmu?" tanyanya yang lebih pada dirinya sendiri.
Hankyung menghela nafas, sebagian uneg-unegnya telah tersampaikan. Tetapi perasaan resah itu datang lagi begitu ia sadar jika orang yang sedari tadi ia ajak bicara ternyata masih terlelap dalam mimpinya.
Mengapa susah sekali untuk mencurahkan perasaannya dengan cara yang wajar?
Teng..
Bel tanda berakhirnya jam istrirahat telah berdentang nyaring.
Hankyung menatap Heechul sebentar, namja itu belum terjaga. Sebenarnya ia ingin sekali membangunkan Heechul, namun diurungkannya niat itu. Dengan hati-hati ia beranjak dari sana dan kembali ke kelas. Mungkin ia akan membangunkan Heechul dengan cara menelponnya saja saat ia sudah tiba di kelas nanti.
.
.
Beberapa saat ketika Hankyung sudah menghilang di balik koridor gedung, Heechul membuka matanya.
Ia mengedip-kedipkan sebentar kedua kelopaknya guna menyesuaikan retinanya dengan cahaya pasca tidur panjangnya.
Ia mengecek sekilas arlojinya, sudah pukul satu lebih. Dan saat ia hendak beranjak untuk kembali, tidak sengaja ia menangkap ada sebuah handphone hitam yang tergetak tepat di sampingnya.
Heechul mengenal pasti pemilik benda itu. "Kau tadi di sini eoh?" ia tersenyum samar namun setelahnya ia menggeram kesal sembari mengantongi handphone tersebut.
"Dasar pabo! Kenapa dia tidak membangunkanku hah?!" gerutunya sambil berlari dan secepat mungkin kembali ke kelas.
.
.
~oOo~
.
.
-01:50 pm-
Sekalipun Kangin tidak pernah membayangkan bagaimana wujud dari alam bawah sadar..
Mungkin inilah kunjungan pertamanya..
Cahaya kuning bersinar terik di depan matanya, membutakan sekaligus mendamaikan..
Apakah ini yang dinamakan kematian?
Apa semua perjuangannya harus berakhir semenyedihkan ini? Masih ada banyak orang yang menanti dirinya. Orang-orang yang teramat disayanginya. Dan ia tidak boleh berakhir di sini.
.
.
Kangin membuka kedua matanya ketika di rasa separuh staminanya telah kembali terkumpul sempurna. Pening dan perih. Hanya itu yang terasa olehnya saat ini.
Angin berhembus kencang menerbangkan helai-helai rambut basahnya yang bercampur bau anyir. Tetapi fisiknya kuat. Setidaknya ia belum mati rasa.
"Kami tidak akan membunuhmu, Kim Youngwoon!" seseorang mendesis tepat di telinga kirinya yang berdengung.
"Kau menjemput nerakamu sendirian. Dan kami memberikannya sesuka hati," suara itu nampak mencemooh. "Kami sudah berbaik hati untuk bernegosiasi, tetapi kau sendiri yang memilih untuk berkorban.."
"Kau..." dengan sisa kekuatan yang ia punya, Kangin beranjak dengan tertatih. Lututnya goyah bukan main, tetapi ia harus bisa bertumpu pada kedua kakinya. Setidaknya ia ingin memberikan satu pukulan sekali lagi di wajah menyebalkan namja berambut lidi tersebut.
"Kau memang maskot asrama Ocean, Kangin-ssi!" seorang namja lain yang berada di kejauhan menyahut disertai dengan tawa mengejek.
"Dan kalian semua tidak ada bedanya dengan sampah!" desis Kangin berang.
"Parasit yang hanya akan membuat aib untuk sekolah terpandang sekelas SM International!"
Namja berambut duri di hadapan Kangin itu nampak tidak suka dengan ucapannya. Kangin bisa melihat otot rahangnya yang mengeras.
"Kami hanya minta satu hal," namja itu berujar santai.
"Jauhkan Lee Donghae dari Lee Hyukjae, Cho Kyuhyun dari Lee Sungmin dan Choi Siwon dari Kim Kibum jika kau tidak ingin melihat kami berbuat yang lebih beresiko dari ini."
Kini gantian rahang Kangin yang mengeras begitupun telapak tangannya yang mengepal erat.
"Bermimpilah seumur hidupmu, brengsek!"
Kangin sudah akan menghajar habis wajah memuakkan di depannya tersebut namun dalam sekejap tiga orang namja lain sertamerta langsung mengunci tubuhnya.
"Lepas!" Kangin mencoba melawan. "Panggil ketuamu sekarang juga! Aku bersumpah akan menghajarnya dengan tanganku sendiri! Kim Jungmo! Keluar kau, brengsek!" Kangin kalap. Ia meronta membabi buta sekuat yang ia mampu.
Orang-orang yang mengepungnya sekarang berjumlah lebih dari lima orang dan ia jelas tidak mampu menghadapi mereka semua sendiran, yang ia pikirkan sekarang hanya satu, lepas dari semua ini dan pergi.
Mengalah untuk memberikan yang lebih menyakitkan daripada perlakuan mereka terhadapnya hari ini. Kangin berjanji pada dirinya sendiri, ia akan melindungi asrama Ocean, melindungi teman-temannya beserta orang yang mereka cintai, tidak peduli seterjal apapun itu nantinya.
"Aku akan mengingat hari ini baik-baik!" ucapan terakhir Kangin sebelum sebuah pukulan kembali melayang tepat pada perut atasnya dan mereka semua pergi meninggalkannya dalam keadaan yang sangat menyedihkan.
Kangin bersimpuh pasrah. Perutnya berdenyut ngilu dan rasanya ingin muntah. Ia sudah akan beranjak untuk kembali ke asrama, namun tubuhnya seketika goyah dan ia pun jatuh tersungkur ke tanah.
Kangin membalik tubuh. Langit mendung menggumpal tepat di depan matanya.
Gedung asrama Ocean berada kurang lebih dua kilometer dari tempatnya sekarang terkapar, entah ia kuat atau tidak untuk kembali. Mungkin ia akan menunggu hujan datang sekalian. Ia ingin mendinginkan segalanya. Pikirannya..
.
.
~oOo~
.
.
-Asrama Ocean, 03:00 pm-
Yesung mengamati tiap detail dari sudut kamar asramanya. Ruangan itu tidak berubah sejak enam bulan yang lalu. Masih dengan sprei yang sama, tatanan yang sama dan aroma yang sama, namun bedanya, kondisinya jauh lebih rapi dan lebih sejuk. Ia tidak kaget mengingat fasilitas asrama yang sangat komplit di Ocean, termasuk jasa kebersihan.
Perlahan namja berambut legam itu melangkah mendekati meja belajarnya. Ia mengambil seperangkat laptopnya dan buku-bukunya untuk kembali menatanya di sana. Sekilas namja itu melirik ke arah jam beker mini berbentuk kepala anjing yang dulu sering menemaninya belajar hingga larut malam. Jarumnya menunjuk tepat pukul 3 sore. Lalu kemudian pandangannnya beralih pada salah satu sudut mejanya. Ada sebuah pigura foto yang terpajang di sana. Dua orang namja dengan empat ekspresi berbeda dalam empat kolase foto menghiasi pigura tersebut. Ia ingat benar kapan gambar-gambar itu diambil. Tepat di hari ulang tahun Donghae sekaligus di usia ke tiga bulan masa pacarannya dengan namja manis itu. Mengingat itu semua, membuat Yesung tersenyum tanpa sadar. Perlahan timbul kesejukan di hatinya. Ia merindukan Donghae.
.
.
Pukul empat sore. Dan di sinilah ia berada. Di balkon lantai dua asramanya. Dengan segelas susu putih hangat dan pakaian santainya. Yesung menatap senja di kejauhan.
"Yesung hyung.." suara lembut menyapa namanya.
Yesung reflek menoleh. Tepat di ambang pintu balkon, berdiri seorang namja yang tidak lebih tinggi darinya sedang menatapnya dengan pandangan nyaris tak terbaca. Namja itu melangkah pelan mendekatinya, terlihat sedikit ragu pada tiap langkahnya.
Dan saat namja itu kini sudah berdiri tepat di hadapannya, Yesung malah diam. Hatinya berkecamuk, rasanya ingin meledak saat itu juga. Wajah yang ada di depannya itu adalah malaikatnya, seseorang yang selalu mengisi hari-harinya selama hampir dua tahun ini. Sepasang tangan Yesung kelu mendadak, ingin sekali merengkuh sosok di hadapannya itu dalam satu pelukan rindu, namun sisi hatinya yang lain mencegah, ia terlalu berdosa pada malaikatnya tersebut, tidak seharusnya ia menyentuhnya.
"Apa kabar?" namja itu bertanya dengan seulas senyum manisnya. Senyum yang paling disukai oleh Yesung.
Lagi-lagi Yesung tetap diam. Kenapa sejak pagi tadi ia seperti sedang mati rasa?
Melihat Yesung yang hanya diam, senyum itu perlahan menghilang. Sesungguhnya hatinya pun sedang bergejolak, ia takut jika Yesung benar-benar telah melupakannya. Ia terlalu takut jika Yesungnya telah berubah.
"Aku.. aku sama sekali tidak menyangka kita akan bertemu lagi secepat ini," ia mencoba membangun pembicaraan. "Kau kenapa tidak mengabariku apa-apa soal kepulanganmu?"
'Aku juga tidak menyangka akan kembali secepat ini, Donghae-ah..' Yesung hanya bisa membatin.
"Kau sudah melupakanku, eoh?" Donghae menatap langsung ke kedua bola mata Yesung. Bola mata sehitam langit malam yang selalu bisa menarik dunianya.
Donghae sudah berkaca-kaca sekarang. Yesung yang bergeming entah kenapa membuat dadanya terasa begitu sesak. Donghae tahu dia memang pria yang sensitif sejak kecil. Sedikit saja hatinya tergores, maka ia akan menangis.
"Kau sudah tidak mencintaiku, hyung.." isaknya. "Kau sudah tidak lagi menganggapku."
Grep!
Sepasang mata Donghae reflek membeliak begitu ia merasa tubuhnya kini terkungkung oleh sepasang lengan yang mendekapnya begitu erat.
"Kau ini bicara apa?" bisik Yesung di dekat telinga kanannya.
"Kau tahu, aku bahkan hampir lupa bernafas saat bisa melihatmu lagi,"
Donghae benar-benar menangis saat ini. Kedua tangannya balas merangkak meraih punggung Yesung. Perasaan rindu keduanya melebur. Mereka pun berpelukan erat.
"Jeongmal bogoshippeoyo.."
.
.
Di balik jendela kamarnya yang langsung berhadapan dengan balkon, Kyuhyun menatap dua orang namja yang kini sedang berpelukan itu dengan tatapan nanar.
Dengan kasar ia menarik gorden biru mudanya guna menutupi pemandangan yang berikutnya mungkin akan terjadi lebih. Ia berbalik tubuh dan berkacak pinggang memandangi teman berambut coklatnya yang sekarang sedang tengkurap dan membenamkan seluruh wajahnya ke bantal.
"Ini yang kau inginkan, hyung?" tanyanya sarkastis. "Kau ini bodoh atau apa sih?"
"Aku memang bodoh, Kyu!" suara Eunhyuk hanya berupa dengungan karena teredam bantal.
"Kau itu sok jadi malaikat untuk Donghae!" sembur Kyuhyun semakin kejam. "Sekarang lihat kan? Siapa yang terluka pada akhirnya?"
Tidak ada jawaban dari Eunhyuk. Yang ada ia malah semakin merapatkan selimut Kyuhyun dan menutupi seluruh tubuhnya.
"Kalau kau terus begitu, kau akan semakin tidak ada artinya di mata Donghae."
.
.
~oOo~
.
.
-SM International, 04:15 pm-
"OMONA Kangin-ah!" suara pekikan Leeteuk menggema memecah keheningan lobby di lantai satu.
Jam pulang sudah berdering lewat enam puluh menit lamanya, namun teman sekelas sekaligus kekasihnya itu masih belum juga terlihat. Terakhir kali Kangin mengirim pesan kepadanya yaitu seusai jam istirahat untuk izin tidak masuk kelas karena ada masalah yang berhubungan dengan kegiatan ekstra kulikulernya. Awalnya Leeteuk sama sekali tidak berprasangka buruk, hingga perasaan cemasnya berubah menjadi negatif ketika nomer ponsel Kangin memberi tanda bahwa ia sedang berada di luar jangkauan.
Namja dengan tingkat kewibawaan tinggi itu memutuskan untuk menunggu Kangin di lantai bawah. Dan bersiap untuk segera mengomelinya jika terbukti bahwa Kangin ternyata berbohong.
Namun segala niatnya tersebut menjadi buyar seketika begitu sepasang matanya menangkap sosok namja yang paling ia cintai itu sedang berjalan terhuyung-huyung ke arahnya.
Kangin dengan sisa kekuatan yang ada pada dirinya, akhirnya bisa menghela nafas lega karena ia berhasil untuk kembali lagi ke gedung sekolah, meski ia harus menahan nyeri yang teramat sangat pada perut atasnya ditambah pelipisnya yang tidak henti meneteskan darah segar.
Leeteuk yang menyadari bahwa kondisi Kangin tidaklah normal, langsung menghambur menghampiri Kangin dengan wajah pucat pasi saking cemasnya.
"Wae? Apa yang terjadi denganmu, Kangin-ah?" ia memapah Kangin dengan seluruh tubuh yang gemetar.
"Tidak apa-apa, Teukkie.. gwenchana.."
"Gwenchana apanya hah? Kau ini sudah seperti pulang dari perang, tahu!" Leeteuk sedikit kesusahan untuk menyangga berat tubuh Kangin.
Sesampainya mereka di ruang kesehatan yang sudah sepi, Leeteuk segera menidurkan Kangin di ranjang terdekat dan buru-buru ia menyiapkan antiseptik, air untuk mengompres dan baju ganti untuk Kangin. Dari tempat berbaringnya Kangin bisa melihat kekhawatiran Leeteuk yang meletup-letup pada dirinya.
Setelah semua peralatan p3k telah berhasil di temukan oleh Leeteuk, tanpa buang waktu ia langsung membuka blazer sekaligus kemeja Kangin yang sudah jauh dari kata bersih. Dengan telaten namja manis itu mengompres perlahan-lahan luka di sekujur tubuh Kangin. Membersihkannya dengan antiseptik dan menutup luka-luka kecilnya dengan plester.
"Kau bertengkar lagi, eoh?" tangan halusnya membelai lembut ujung bibir Kangin yang sedikit sobek dan menyeka darah yang menetes di sana. Kangin bisa melihat ada lapisan tipis yang membingkai bola mata Leeteuk saat ini.
"Orang itu memang cari mati!" Kangin, namja bertubuh besar itu hanya mampu membalas tatapan sendu dari malaikatnya dengan tatapan yang sangat kontras, kemarahan. Buku-buku jarinya yang berdarah terkepal keras menahan sisa-sisa emosinya.
Nyut~
"Appo!" Kangin memekik pelan, Leeteuk dengan sengaja menekan keras luka memarnya. "Pelan sedikit, hyung.."
Namun Leeteuk seperti sedang menulikan sepasang telinganya. Dengan kejinya ia masih senantiasa menekan luka-luka Kangin menggunakan handuk basahnya, membuat Kangin terpaksa meringis sembari mencengkram selimut di bawahnya.
Tetapi detik berikutnya, usapan-usapan kasar itu melembut. Melambat lebih tepatnya. Leeteuk menunduk dalam sambil membereskan kotak p3k yang tadi sudah ia acak-acak. Kangin memperhatikan semua dalam diam. Perlahan ia meraih telapak tangan Leeteuk yang bergetar. Menyatukan kelima jari-jari mereka.
"Mianhae.." bisiknya lemah.
"Kumohon jangan seperti ini lagi.." Leeteuk mendongak. Saat itulah Kangin sadar jika kekasihnya kini telah berderai air mata. "Kau bisa dikeluarkan dari asrama, Kangin-ah.."
Kangin tersenyum pahit, telunjuknya terangkat untuk menghapus air mata yang turun di pipi Leeteuk.
"Kau percaya padaku kan, hyung?"
Sebaliknya, Leeteuk justru menggeleng pelan. "Bagaimana bisa aku mempercayai orang yang sudah membohongiku dan malah membahayakan dirinya sendiri?"
"Teukkie..." Kangin merajuk. Tetapi alih-alih luluh, Leeteuk malah pergi duluan dan meninggalkannya sendirian.
Kangin sudah akan berencana untuk pura-pura ngambek seharian, tetapi selang beberapa saat, kepala Leeteuk tiba-tiba menyembul dari balik pintu.
"Aku tahu kau kuat, Kangin-ah. Jangan manja dan cepat pulang."
Seulas senyum pun merekah di wajah Kangin. Malaikatnya memang yang terbaik. ^^
.
.
~oOo~
.
.
Keesokan harinya..
Dibalik barisan rak yang berjajar rapi nan menjulang di sepanjang ruangan, terdapat satu meja panjang dan beberapa kursi yang mengitarinya. Di jam-jam istirahat seperti ini lazimnya meja tersebut sudah ramai dengan tumpukan buku dan siswa siswi yang sibuk mengerjakan tugas ataupun sekedar membaca. Namun siang ini entah mengapa meja panjang tersebut kosong melompong. Hanya ada satu siswa yang duduk di ujung, dengan dua tumpuk buku thesis yang entah apa judulnya dan satu kamus kanji yang terbuka lebar di hadapannya.
Lee Sungmin sejujurnya hanya iseng mengambil buku secara acak. Tujuan utamanya ke perpustakaan siang ini bukan untuk membaca ataupun belajar, terbukti dengan handphone yang selalu berada digenggamannya. Yang setiap 30 detik sekali bergetar tanda adanya notifikasi pesan masuk.
Seperti saat ini, ketika benda berlayar flat itu kembali bergetar di hadapannya, dengan kilat ia membaca pesannnya. Terkadang ia terkikik sendiri, kadang bibir mungilnya mengerucut lucu, dan tak jarang juga senyum manisnya mengembang lebar. Sejuta ekspresi di wajah Lee Sungmin tak ayal karena si pengirim pesan yang tidak lain tidak bukan adalah kekasihnya sendiri.
Cho Pabo: aku tidak ingin makan jika kau tidak menyuapiku~ T_T
Me: buka mulutmu, aku akan menyuapimu secara virtual.. :p
Cho Pabo: yaa~ u_u jika aku sakit berarti itu semua salahmu, lee sungmin. kau senang kalau kekasihmu yang tampan ini terbujur lemah? :(
Me: aku percaya kekasihku yang tampan ini orang yang kuat dan tidak akan kalah oleh penyakit.. ^^
Cho Pabo: aku bisa kalah, sayang~
Me: karena?
Cho Pabo: karena cintamu yang terlalu kuat menginfeksi sel tubuhku.. ;w;
Me: -_- jangan membuatku ilfeel, cho kyuhyun!
Cho Pabo: ming, aku ingin mengatakan sesuatu..
Me: bahwa kau sebenarnya batman?
Cho Pabo: -_-" aniyaa~
Me: lalu? superman?
Cho Pabo: aku tidak memakai celana dalam, min…
Cho Pabo: maksudku, aku tidak memakai celana dalam di luar -_-v
Me: kalau begitu spiderman.. XD
...
Lima menit sang kekasih tidak juga membalas pesannya, Sungmin mengira Kyuhyun pasti sedang ngambek atau mungkin handphonenya low bat. Ia pun memutuskan untuk segera membereskan buku-bukunya dan bersiap untuk kembali ke kelas saja. Tetapi tepat sebelum tubuh berisinya beranjak dari bangkunya, seseorang tiba-tiba merangkul lehernya dari belakang dan berbisik tepat ditelinganya,
"I'm not superman, baby.. I'm your man.."
Chuu~
Cho Kyuhyun mencium sekilas pipi Sungmin yang baginya adalah benda terhalus dan terempuk yang pernah ia temui di dunia.
Bisa Kyuhyun rasakan benda itu menghangat dalam kecupannya. Kyuhyun tersenyum kecil. Sungmin memang sangat manis jika sedang salah tingkah.
"Ya~! Kau mengagetkanku, Kyu~" rajuknya sambil mengelus lembut lengan Kyuhyun yang melingkar di lehernya.
Namja yang lebih tinggi terkekeh pelan sembari mengeratkan pelukannya. Aroma soft parfum Sungmin menguar menyapa indera penciumannya. Membuat Kyuhyun semakin betah berlama-lama untuk bertahan dalam posisi tersebut.
"Kau sudah makan belum?"
Sungmin mengangguk. "Kau?"
Kyuhyun ganti menggeleng. "Kau curang.. Makan tanpa menungguku."
"Salah siapa tadi kau justru menghilang entah kemana saat aku mencari ke kelasmu," bibir Sungmin merengut imut.
Kyuhyun sekilas terpaku. Jantungnya seketika berdebar lebih kencang saat melihat Sungmin tidak sengaja melakukan aegyo padanya. Sejenak keduanya sama-sama terdiam. Kyuhyun membiarkan Sungmin menyadari detak jantungnya yang bergemuruh tepat di belakang tubuhnya. Tidak ada seseorang pun yang bisa membuat Kyuhyun seperti itu selain Sungmin. Sungmin lah orang pertama yang membuatnya mengerti bahwa cinta itu bukan hanya sekedar ada di negeri fanfiksi.
Dengan perlahan Kyuhyun mengelus pipi Sungmin dan tersenyum, "Mianhae.."
Dan Sungmin jugalah orang pertama yang membuat Kyuhyun tidak lagi segan untuk mengucapkan kata maaf, sekecil apapun kesalahannya.
"Tidak apa-apa, Kyu," Sungmin balas tersenyum. "Sekarang aku akan menemanimu makan, bagaimana?"
"Tetapi aku ingin mengatakan sesuatu terlebih dahulu," ucap Kyuhyun sengaja dibuat semisterius mungkin.
"Bahwa kau sebenarnya spider−"
"Ppsstt.." Kyuhyun cepat-cepat menyentuhkan telunjuknya di bibir Sungmin. "Jangan buat aku menciummu, Min."
Sungmin nyengir, "Baiklah, apa yang ingin kau katakan, tuan cerewet?" Sesekali ia memainkan telunjuk Kyuhyun yang tadi menyentuh bibirnya.
"Minggu depan aku akan maju ke olimpiade athletic," namja berambut hitam itu memandang kekasihnya penuh arti. "Kau harus datang, oke?"
Satu helaan panjang berhembus dari hidung bangir Sungmin. Ia diam sebentar lalu melepaskan diri dari pelukan Kyuhyun. Namja manis itu berbalik, menghadap Kyuhyun sepenuhnya. Sepintas ia melirik ke pergelangan tangannya. Sebuah gelang bersimpul warna biru yang melingkar anggun di sana perlahan dilepasnya.
Ia lalu memakaikannya ke pergelangan Kyuhyun sambil berbisik, "Aku tidak punya apa-apa untuk memberimu semangat. Ini gelang pemberian eomma saat aku hendak ke Korea, kata eomma agar aku selalu ingat padanya. Sekarang aku melakukan hal yang sama. Gelang ini hanya simbol, karena sesungguhnya hatikulah yang sedang aku titipkan padamu. Semoga kau selalu ingat denganku, di saat kau sedih maupun senang. Maaf kalau tidak bagus."
Kyuhyun kali ini benar-benar tercenung hebat. Ia ingin mengatakan sesuatu tetapi mulutnya hanya mampu membuka menutup tanpa suara. Kesadarannya seratus persen pulih saat Sungmin tahu-tahu mengalungkan tangannya ke lehernya.
"Fighting, Kyu! Aku yakin kau pasti bisa!"
Dan detik itu juga Kyuhyun pun langsung mendekap erat Sungmin. Entah kenapa ia merasa matanya berkaca-kaca. Tidak ada satu orang pun yang mampu membuatnya selumpuh sekaligus sekuat ini. Dalam hati Kyuhyun berjanji, jika Tuhan mengizinkannya untuk berbagi hidup, maka dengan Sungmin lah ia akan melabuhkan segalanya.
"Gomawo, Lee Sungmin.. Jeongmal gomawoyo.."
.
.
.
Di salah satu sudut rak yang melindungi tubuhnya, Kim Jungmo sedang berusaha keras menata ulang hatinya meski ia tahu semua tidak akan bisa kembali seperti sedia kala.
Dengan melawan segala pergolakan di batinnya, Kim Jungmo mencoba untuk tidak akan pernah menaruh Lee Sungmin pada blacklist-nya.
Ia menyayangi Sungmin sejak pertama kali ia melihat namja itu. Jauh sebelum Kyuhyun mengenal Sungmin. Dan perasaan itu masih selalu mendominasi bahkan saat ia tahu jika Sungmin telah menambatkan hatinya untuk orang lain.
Namun hari ini. Semua pertahanannya seolah sedang di porak porandakan. Kata-kata Tiffany beberapa hari yang lalu terus berdengung di otaknya,
'Kau harus menghancurkan 'pion'nya terlebih dahulu..'
Dan kenyataan jika Sungmin adalah satu-satunya pilar pertahanan Kyuhyun membuat hatinya bagai dililit kawat berduri.
Jungmo menunduk lemah. Andai ia bisa memilih..
.
.
~oOo~
.
.
To Be Continue
.
.
.
Apa ini? O.o Sibumnya mana? Hanchulnya segitu doank? Yehae apa banget sih.., Eunhyuk mengenaskan banget masa~, Kyuminnya kuraaaannnggg~~~
Ayo ngaku, pasti conclusion kalian ga jauh2 dari itu kaann? Hayo ngaku hayoo~~ kkkkk…
Anyway, Annyeong good bye yorobuunn~ kkkk..
Seperti biasanya, ff purbakala ini selalu update super lemot.. 3
Gimana teman-teman? Makin gaje ya kisahnya? -_- semoga kalian tidak ilfeel dan malah makin sayang sama saya ya.. :3
Banyak hal yang terjadi di penghujung tahun 2013 hingga awal 2014, isn't it?
Mulai dari Hanchul 'ninja' moment sampai berita duka dari keluarga leader~
Di tambah lagi berita yang iyuhh bingit karena si icheol pabo ikut We Got Married..
Kalau boleh jujur, semua itu bener2 bikin mood kaya' jet coaster.. -_-v
Tetapi tahukah anda, saat saya membaca tiap curcolan review dari kalian, rasanya jiwa dan hati saya kembali bergelora/? Hahahaha xD
Kalau begitu, yuk mari kita kembali bercuap2 ria~
.
.
L'Affect (wkwkw~ Siwon di sini ceritanya plin plan, ganteng2 tapi php.. xD iyanih ukenya Han seksoy bohay gitu malah ditolak.. -_-) , Meonk and Deog (holaa~ salam kenal~ mari bergabung di ff ajaib nan ruwet ini.. kkk~ makasi ya sudah membaca~ ^^) , hani107 (hanchulnya woles ya say~ :) lagi demen nih ngerjain hanchul :p) , Tenshi 39 (kangteuk bukan rumah hantu, jadi engga mengerikan kok :P) , DwitaDwita (haiii~~ kita bertemu lagi~ ^^ senengnya ada yg nungguin.. aku jadi maluuu.. /ngumpet di selangkangan hangeng/ *eh anw, makasii muah) , shfly9 – Kim (anda membaca saya pun senang :D) , Elfishy (persaingan harga diri….. /hening/ ituh si yesong :p) , lee ikan (oke bos ikan(?) Siap~) , NaizhuAmakusa (kkk.. ayuks2 ingatannya dipulihkan kembali.. :3) , Kim HeeRa Elforever (oke, heera mulai berkhotbah~ kkkk.. :p yep, ini cinta segi banyak~ cuma hanchul yg seginya zigzag(?) :p eum, kalau kyumin sibum~ kayanya bakal complicated di sibumnya deh :p trus haehyuk yewook, kita tunggu saja tanggal mainnya! Hahahaha.. ) , psykkh (iya, aku ga suka yg tergesa2, suka yg slow but deep aja.. :p iyah kakaaaakk.. makasii~) , reaRelf (han itu cabe2an, nolak tapi doyan xD) , sitara1083 (iyaa gimana donk, waktunya beneran terbatas.. T_T kkkk, heenim labil bgt di sini.. unyu2 tapi pingin nabok.. :p) , UyunElfRyeowook (hai annyeong~~~ selamat datang, silahkan baca kembali~ :D) , ini siapa coba (ini siapa coba? -_- malesin deh.. jangan2 seseorang yg selalu ngaku ganteng dan sholeh itu ya? /kalau salah jangan dikawinin T_T/ ngakuuu!) , Bryan Andrew Cho (kata chullie: gueh juga suka gaya lo masbroohh :P) , YunieNie (iya kakaakk~ ini sudah lanjuut muah~) , gengpetals (karena hankyung ingin dimengerti-_- mereka ada dihatiku~ :3) , Hitsuru (makasi loh cintaahh~ hangeng cemburunya sama gunhee(?)) , Blue (gantian hankyung ngejar2 heechul gitu ya.. trus chul nari2, han nya nyanyi kuch2 hotahai :p) , MrsEvilGameGyu (setiap chap momentnya semacam drabble gitu.. nanggung sih, tapi selalu diusahakan yg terbaik.. ehe~ gomawo dear) , lee yeon rin (annyeoonng~ kkk.. ga curiga nih kalau saya sebenernya mas2?-_-v kkk.. iya, jadi ini chaptered pertamaku sekaligus ff gado2 tergaje yg pernah nangkring di ffn.. :p makasi ya sudah berbagi pendapatnya.. pegangan meja chingu supaya engga bingung-_-")
.
.
Untuk waktu luang, dukungan, kritik, saran, cinta, kebersamaan, kesetiaan, kesabaran dan perhatiannya, I'd like to say:
Thank You SOOOOO MUCH! /civok satu2/
.
.
See you ASAP in next The Dormitory 10th Chapter~
