Harvest Moon by Natsume Inc.

New Game by bananayoghurt


Chapter 2

"Oke, kau bisa bertahan hidup dengan mengurus peternakan ini. Pemiliknya sudah tidak ada, jadi kau boleh tinggal disini.", ucap si walikota.

"Kau serius? Apa yang bisa kulakukan dengan tanah yang kacau ini?"

Memang tanah yang si walikota perlihatkan begitu kacau tak beraturan, terlihat seperti habis terkena angin badai.

"Kau bisa menanam beberapa bibit disini, tapi aku hanya bisa memberikanmu modal 500G dan beberapa alat bertani di peti yang ada di dalam rumah. Oya, dan seekor anjing."

"Ya tidak apa-apa, terima kasih banyak walikota. Ini semua sudah sangat membantu, yaa tolong daoakan aku saja semoga aku bisa menjalani ini semua."

"Sama sama, eeh.."

"Claire, kau bisa memanggilku Claire."

"Oh, ok. Claire, kau mau berkeliling kota? Berkenalan dengan para tetangga?"

"Sepertinya aku akan lakukan itu besok sendiri, aku sangat lelah. Terima kasih atas tawarannya."

"Baiklah, selamat beristirahat. Aku akan pulang sekarang. Oya, ini peta Mineral Town kalau besok kau mau pergi berkeliling sendiri. Sampai jumpa."

"Terima kasih, sampai jumpa."

Walikota pun meninggalkannya sendiri. Claire menyapu pandangannya ke seluruh peternakan yang kini adalah miliknya. Claire masih belum bisa percaya dengan keadaan yang sekarang ia alami. Samar samar wajah Jack, Ibu dan Ayah terbayang. Air matanya tanpa sadar keluar dari mata birunya. Ia takut tak bisa menamatkan game ini dan tak akan bertemu dengan keluarga yang ia cintai lagi.

"Guk Guk!"

Claire tersadar dari lamunanya akibat suara gonggongan dari anak anjing yang telah berada di depannya. Claire menghapus air matanya dan menggendong anak anjing itu.

"Oya, kau kan belum punya nama. Bagaimana kalau kau ku namai Jack seperti nama adik laki lakiku yang bandel. Hahaha."

Menangis tidak ada gunanya, Claire harus berusaha. Dia yakin pasti bisa melalui semua.

Game pun dimulai.

.o0o.

Cahaya sang fajar yang menembus jendela rumah Claire membuatnya merasa silau dan membuka matanya perlahan. Claire beranjak dari kasurnya dan keluar rumahnya untuk menghirup udara pagi dan menyapa Jack.

"Selamat pagi Jack"

Claire mengelus elus anjingnya dan menggendongnya sebentar.

"Oke, hari ini aku mulai dari membersihkan tanah dari batu batu dan kayu kayu itu dulu deh. Mau nanem dimana juga kalo tanahnya penuh."

Claire kembali ke dalam rumah dan bersiap-siap. Ia memasukan peralatan peralatan yang sekiranya dibutuhkan ke dalam ransel besar yang ada disebelah peti. Saat Claire mengangkat ransel yang telah terisi itu, ia terjatuh.

"Auw, tak kusangka akan seberat ini. Hhh, ternyata tidak mudah yaa.. Tidak, aku tidak boleh mengeluh!"

Claire berdiri lagi dan keluar membawa semua peralatan tersebut.

Saat Claire hendak memulai, tiba tiba perutnya berteriak minta diisi. Benar saja, Claire belum sarapan dan tadi malam juga belum makan karena ketiduran. Akhirnya ia menunda pekerjaannya dan lalu membuka peta yang kemarin walikota berikan.

"Eh, ternyata desa ini kecil ya, hanya sebesar komplek perumahanku. Hm, tidak ada rumah makan? Mungkin di inn menjual makanan."

Claire pun berangkat menuju Inn melewati rute yang sesuai dengan peta dari si walikota. Sesampai di Inn, Claire disambut oleh seorang gadis berambut orange kecoklatan panjang dikepang. Wajahnya terlihat ceria sekali.

"Selamat datang! Eh, kau orang baru yang diceritakan walikota ya? Aku Ann, siapa namamu?"

Gadis itu menjulurkan tangannya dan Claire membalas salam dari gadis itu. Disambut dengan ramah membuat Claire merasa senang. Sepertinya ia akan menyukai kota ini. Claire pun tersenyum.

"Aku Claire."

"Senang bertemu denganmu Claire. Kau mau sarapan?"

Claire mengangguk malu. Ternyata dugaan Claire benar, disini memang menjual makanan.

"Baiklah, tunggu sebentar ya Claire, duduk dulu saja. Ayaah! Ada tamu, ia orang baru yang diceritakan oleh walikota kemarin. Tolong buatkan sarapan ya yah!"

Ann berlari meninggalkan Claire dan menuju ke seorang lelaki berbadan agak besar dan berkumis yang sepertinya adalah ayahnya. Claire duduk di salah satu meja yang disediakan Inn tersebut dan melihat ke sekelilingnya.

Dua orang pemuda turun dari lantai dua dan duduk di meja sebelah Claire. Yang satu berambut panjang coklat dikuncir dan yang satunya memakai topi bertuliskan UMA. Merasakan kedatangan mereka, Claire pun melihat kearah mereka berdua. Tak sengaja matanya bertemu dengan salah satu yang berambut panjang dan pemuda itu pun langsung seperti orang salah tingkah namun akhirnya ia pun tersenyum kepada Claire dengan malu malu. Claire pun membalas senyumannya.

'Hihi, lucu sekali. Sepertinya dia orang baik.', pikir Claire.

Pemuda bertopi itu juga melihat ke arah Claire, tapi berbeda dengan pemuda yang satunya, ia hanya melihat Claire dengan tatapan tajam tanpa tersenyum sama sekali. Saat Claire senyum kepadanya, ia malah membuang muka.

'Ish, sombong sekali.'

Tak lama kemudian Ann datang membawa beberapa jenis makanan yang terlihat begitu lezat. Di tangan kanannya ada sepiring telur dadar dan sepiring daging asap kering, di tangan kirinya ia memegang sepiring roti isi dan segelas susu. Tangannya yang penuh dengan makanan membuatnya terlihat seperti pelayan restauran padang. Ann meletakan makanan yang dibawanya ke meja Claire dengan cepat dan rapi. Claire menutup rahangnya yang dari tadi terbuka melihat kehebatan Ann.

"Silakan menikmati Claire.."

"Te.. Terima kasih Ann."

Saat Claire hendak melahap, ia teringat sesuatu.

"Ee, semuanya terlihat lezat sekali. Apa harganya mahal? Maaf, aku tidak punya uang banyak."

Claire mengembalikan sendok yang tadinya akan masuk ke mulutnya ke piring. Lalu ia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal malu sambil senyum senyum cengengesan.

"Haha, tidak apa apa Claire. Untuk yang ini gratis, anggap saja ucapan selamat datang dan perkenalan."

Senyum cengengesannya berubah menjadi senyum gembira. Mukanya terlihat sangat senang seperti orang yang baru saja menang undian. Aa, betapa beruntungnya Claire.

"Serius? Terima kasih banyak Ann. Suatu saat pasti akan aku balas kebaikanmu. Pasti! Aku Janji!"

"Haha, iya sama sama Claire"

Claire mulai menyuap makanannya dan tak lupa berdoa sebelumnya. Walaupun makanan yang dibawakan Ann hanya sepaket menu sarapan biasa, namun tetap saja rasanya begitu lezat. Kini ia melahap makanannya hingga habis. Rasanya ia ingin menangis bahagia.

"Bagaimana?"

Tanya Ann yang sedari tadi duduk semeja dengan Claire menunggu komentar.

"Aah, enak sekali. Kalau begini aku bisa bekerja dengan semangat. Aku pulang dulu ya Ann. Sekali lagi, terima kasih untuk makanannya."

"Iya, sering sering mampir ke sini ya Claire."

Sepasang mata milik salah satu pemuda itu terus melihat ke arah Claire dari awal ia makan hingga pergi meninggalkan Inn. Tapi Claire tidak menyadarinya.

.o0o.

Belum hafal dengan jalan kota ini, Claire berjalan pulang dengan memegang peta dan tidak memperhatikan jalan di depannya. Akibatnya, ia tersandung sesuatu dan terjatuh.

Dengan keadaan muka duluan.

GUBRAK! PETOK PETOK!

'Aduh, sakit sekali!'

Claire memegang wajahnya yang sangat sakit itu, lalu saat ia melihat kebelakang untuk melihat apa yang membuat ia tersandung. Ternyata seekor ayam! Ayam itu terlihat marah dan dengan liarnya menyerang Claire sambil mematuk-matukan paruhnya.

"ADUH ADUH SAKIT! TOLONG, TOLONG!"

Tidak bisa melawan, Claire hanya bisa duduk memejamkan matanya, menunduk, dan tangannya menutupi wajahnya untuk melindungi dari patukan ayamnya. Tidak lama kemudian, tiba tiba saja ayam itu berhenti mematuk. Namun, suara kokokannya tidak berhenti.

"Ah, maafkan aku. Kau tidak apa apa?"

Mendengar suara panik seseorang, Claire perlahan membuka matanya dan ternyata ayam itu sudah dipegang oleh seorang pemuda berkaca mata dengan headband di kepalanya. Terlihat sekali bahwa ayam itu masih ingin menyerang Claire dari gerak geriknya yang tidak bisa diam dan liar. Pemuda itu menjulurkan satu tangannya yang bebas untuk membantu Claire berdiri. Claire meraihnya dan langsung berdiri.

"Sungguh, aku minta maaf! Aku tidak tahu kenapa ayamku ini bisa keluar dari kandangnya. Kau tidak apa apa?"

"Tidak, aku tidak apa-apa. Terima kasih. Lagi pula, ini salahku juga tidak memerhatikan jalan."

"Kau yakin? Ta-tapi hidungmu berdarah.."

Berdarah? Claire memegang hidungnya untuk memastikan, dan benar saja, cukup banyak cairan merah segar yang mengalir dari hidungnya. Well, Claire tidak terlalu kaget mengingat betapa keras wajahnya membentur jalan.

"Biar aku bantu obati. Lebih baik sekarang kita ke rumahku dulu."

"Tidak usah, terima kasih. Aku harus bekerja."

"Kalau begitu biarkan aku membantumu sebagai tanda maaf."

Claire yang sedang memencet hidungnya dan mendongakan kepalanya keatas sedikit melihat wajah pemuda itu. Terlihat sekali rasa penyesalan di wajahnya. Claire berpikir, mungkin membiarkan pemuda itu membantu pekerjaannya tidak ada ruginya dan mungkin akan sangat menguntungkan mengingat menyingkirkan batu batu dan kayu kayu besar itu tidak mudah.

"Ah, tidak usah repot-repot. Tapi, kalau kau memaksa.. Baiklah, aku terima pertolonganmu."

Basa basi dikit bolehlah. Claire pun tersenyum kepada pemuda itu.

.:TBC:.


Chapter 2 selesai~

Maaf kalo ternyata belom begitu berasa romancenya. Mungkin di chap berikutnya.

Review dan saran sangat saya nantikan

Terima kasih~

bananayoghurt