Harvest Moon by Natsume Inc.
New Game by bananayoghurt
Hari telah senja, pekerjaan hari ini pun selesai. Claire sangat berterima kasih kepada Rick yang sudah membantunya membersihkan pekarangan. Ya, Rick-lah nama pemuda yang tadi tidak sengaja dipertemukan oleh seekor ayam. Rick adalah anak pemilik peternakan ayam Chicken Lil's. Ia adalah anak pertama dari dua bersaudara. Ia memiliki adik perempuan bernapa Popuri. Claire tadi sempat berbincang-bincang dengan Rick selama mereka bekerja. Claire berkesimpulan kalau Rick itu adalah orang yang baik dan bertanggung jawab. Apa lagi, tadi Rick mentraktirnya makan siang. Tapi, Rick bukanlah tipe yang Claire suka. Sebenarnya kalau melihat situasi sih, harusnya Claire tidak usah pilih-pilih agar bisa cepat menyelesaikan gamenya. Tapi, tetap saja..
"Aah, lelahnyaa," Claire membanting tubuhnya ke kasur dan mergangkan tubuhnya sebentrar.
"Hmm.. Hari ini aku sudah bertemu tiga laki-laki yang kelihatannya umurnya pantas untuk menikah denganku. Tapi tetap saja, kayaknya ga ada yang pas," ucap Claire.
"Ternyata tidak semudah yang kukira.." tanpa sadar Claire tertidur.
.o0o.
Pagi ini, rencananya Claire akan memulai menanam sesuatu di pekarangannya. Ia tidak boleh bermalas-malasan atau ia akan mati kelaparan karena tidak punya pendapatan, sedangkan uang yang diberikan mayor tidaklah banyak.
Claire mengangkat cangkulnya keluar rumah, dan mulai bekerja. Baru saja ia menancapkan cangkulnya ke tanah, cangkulnya tersangkut dan menancap tak mau keluar. Claire menariknya sekuat tenaga dan akhirnya tercabut. Tapi, hanya gaganganya.
"Ah, sial! Bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan!"
Claire kembali ke rumahnya dan mengambil peta, mencari toko yang sekiranya dapat membantu.
"Blacksmith!"
Claire membawa cangkulnya dan langsung pergi. Sesampainya di blacksmith, ternyata tanda yang menggantung di balik jendela masih menunjukan kata "Tutup". Di situ tertera kalau Blacksmith buka jam 9.00 sedangkan sekarang masih jam 8.30. Akhirnya Claire memutuskan untuk duduk menunggu di depan pintu. Baru lima menit, Claire tertidur karena bosan menunggu.
"Hei, sedang apa kau di sini?"
Claire tersentak bangun dan mendongak melihat siapa yang mengagetkannya. Ternyata si pemuda bertopi kemarin. Claire pun langsung berdiri.
"Ah, maaf. Aku hanya sedang menunggu toko ini buka. Aku ingin mem.."
"Minggir!"
Belum sempat Claire menyelesaikan kalimatnya, pemuda itu mendorongnya dan masuk ke dalam toko.
"Ish, kenapa sih tuh orang? Memangnya aku salah apa?"
Claire mengikuti pemuda itu masuk ke dalam karena ia melihat tanda "Tutup" telah dibalik menjadi "Buka". Di dalam, seorang kakek-kakek menyambutnya.
"Selamat datang, ada yang bisa kami bantu?"
"Eh, iya. Saya Claire, petani baru disini. Saya ingin minta tolong. Apakah cangkul saya bisa diperbaiki?"
Claire menyerahkan Cangkulnya yang sudah menjadi dua bagian kepada kakek itu. Kakek itu memeriksanya sebentar.
"Oh, ini masalah kecil. Lima menit juga selesai, kau tunggu saja ya,"
"Terima kasih!"
Claire duduk di salah satu kursi yang disediakan disana. Ia melihat seisi toko dan pandangannya berhenti di pemuda bertopi tadi. Ia sedang bekerja. Claire terus memandanginya sambil mengingat-ngingat apakah ia pernah melakukan kesalahan sehingga si topi terlihat begitu membencinya. Merasa dipandangi, si topi melihat ke arah Claire dan mata mereka bertemu. Baru saja Claire ingin mencoba tersenyum kepadanya, tapi ia langsung membuang mukanya dan kembali bekerja. Tidak ingin kecanggungan antara mereka berlanjut. Claire pun berdiri dan mendekatinya.
"Maaf, disini aku tidak ingin bikin musuh. Kalau aku punya salah, kau bisa langsung katakan kepadaku, dan aku akan minta maaf. Oya, sebelumnya lebih baik kita saling kenal dulu. Aku Claire, kamu?"
Claire menjulurkan tangannya. Terlihat wajah si topi memerah dan ia langsung membuang mukanya tanpa merespon juluran tangan Claire.
"G-Gray,"
Claire menarik tangannya kembali, sesaat ia akan melanjutkan pembicaraanya dengan Gray, kakek-kakek itu sudah memanggilnya karena cangkulnya sudah selesai di perbaiki. Claire mengambil cangkulnya, berterima kasih, dan meninggalkan toko.
'Apa ia beegitu kesal samapa-sampai mukanya jadi merah begitu? Ah, sudahlah, aku tidak peduli. Lebih baik pikirkan pekerjaan saja.'
.o0o.
Sudah sebulan Claire berada di Mineral Town, penghasilan Claire cukup baik karena apa yang ia tanam disini tidak memerlukan waktu berbulan-bulan untuk tumbuh dan dipanen. Ia sudah kenal dengan semua orang disini dan juga sudah mulai hafal denah Mineral Town sehingga ia sudah tidak memerlukan peta untuk pergi kemana-mana.
Claire merasa akhir-akhir ini rasanya cuaca semakin panas, ia melihat kalender ternyata hari ini sudah memasuki musim panas. Pantas saja. Rasanya malas sekali bekerja panas-panasan. Tapi tidak mungkin juga kalau ia tidak bekerja.
Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu rumah Claire
'Siapa ya pagi pagi-gini datang? Apa mungkin mayor ya?'
Menghilangkan rasa penasarannya, langsung saja Claire membukakan pintu. Begitu ia membukakan pintu, Claire seketika langsung mematung. Mukanya memerah dan jantungnya berdegup dengan kencang. Kenapa? Ternyata di depannya ada seorang pemuda tampan, gagah, tinggi, dan kulitnya yang kecoklatan begitu berkilauan dimata Claire, ditambah dengan bandana ungu yang ada di kepalanya membuatnya terlihat sangat jantan. Bukan mayor sama sekali. Yah, sekiranya begitulah pemuda itu di mata Claire.
"Hai, aku Kai. Ku dengar ada penghuni baru di sini. Jadi aku ingin sekedar menyapa. Aku juga ingin memberi tahu, selama disini, aku mengelola Seaside Lodge yang ada di dekat pantai. Kau tau kan? Sering-seringlah mampir kesana, untukmu aku akan berikan harga khusus. Oya, namamu siapa?"
Panjang lebar Kai berbicara, tapi tidak satu kata pun yang didengar oleh Claire. Claire tenggelam dalam lamunannya dan pandangannya tidak lepas sama sekali dari Kai.
"Eeh, haloo.. Namamu siapa?"
"Eh, ma-maaf! A-aku Claire,".
"Oke, Claire ya? Salam kenal ya," ucap Kai. "Emm, aku hanya ingin menyapa kok. Aku tidak ingin mengganggumu. Jangan lupa ya, mampir ke Seaside Lodge! "
Kai pun pergi meninggalkan Claire yang tiba-tiba saja terduduk lemas.
'Ya tuhan, tampan sekali,' pikir Claire, 'Mungkin sekaranglah saat yang tepat untuk memikirkan pernikahan.'
.:TBC:.
Chapter 3 selesai~
Review sangat saya nantikan
Terima kasih~
bananayoghurt
