Chapter 2
"WAITING FOR LITTLE PARK"
(SEQUEL OF THIS FAITHFUL LOVE)
Author : Choi Chanhyun
.
Cast :
Park Chanyeol as Park Chanyeol / Dobi
Byun Baekhyun as Byun baekhyun / Bacon
And Another Cast
.
Pairing : Chanbaek / Baekyeol
.
Disclaimer : Chanbaek belongs to themselves.
.
Copyright : ©Choi Chanhyun
.
Warning : Yaoi, M-Preg
FF ini merupakan sequel dari FF sebelumnya yang berjudul "This Faithful Love". FF pernah diposting di facebook. Bagi yang sudah baca bisa baca lagi. Yang belum baca, wajib baca! ^^
.
Don't forget RnR, okay?!
.
Happy reading chingudeul! ^^
.
.
.
Previous chapter :
"Jadi, bagaimana dokter? Apa yang terjadi pada istriku dan kandungannya?" tanya Chanyeol kepada sang dokter yang baru saja melepas masker dokternya itu.
Sungguh, ini kebetulan atau apa, baik Chanyeol dan Baekhyun langsung berteriak bersamaan karena terkejut.
"KRIS?!"
.
.
Chapter 2
"Jadi dari tadi kau bersamanya, Baekkie ah?" tanya Chanyeol berapi-api.
"Hei, aku juga tak tahu kalau itu Kris." jawab Baekhyun sambil berbisik.
Kini Chanyeol dan Baekhyun tampak bodoh. Bagaimana tidak, mereka membicarakan seseorang yang jelas ada di depan mereka dan itu tidak lebih dari satu meter! Sedangkan orang yang tengah mereka bicarakan hanya tersenyum penuh arti. Enggan menanggapi pembicaraan bodoh dua orang yang sudah dikenalnya sejak dulu itu.
"Ehem, apakah aku mengganggu kalian?" tanya namja itu kemudian.
Chanyeol dan Baekhyun menghentikan pembicaraan mereka sejenak. Mereka menatap Kris dengan tak percaya. Ini aneh. Yap, sama saja dengan mereka. Kris dulu adalah mahasiswa filsafat, dan bagaimana bisa sekarang menjadi dokter?
"Ani… Kau akan sangat mengganggu jika tak memelukku terlebih dahulu." ujar Chanyeol sambil berdiri dan memeluk namja yang tingginya hamper sama dengannya itu.
"Oraenmaniya nae chingu…" ucap Kris sambil memeluk Chanyeol.
Kemudian ia beralih memandang Baekhyun dan segera melepas pelukannya dengan Chanyeol. Ia melangkah mendekati namja manis itu dan langsung melakukan hal yang sama.
"Hemm, kau tidak berubah, Baekhyun-ah. Hanya saja perutmu kini semakin membesar." canda Kris dalam pelukannya.
"Kau ini bicara apa?! Tentu saja karena aku sedang hamil! Oraenmaniya Kris…" ucap Baekhyun.
"Ehem… Kris!" Chanyeol berdeham sengaja menginterupsi sesuatu yang sedang mengganggu pandangannya itu.
"Arra… arra… Chanyeol-ah. Ternyata kau masih saja jadi namja pencemburu sampai sekarang." ucap Kris sambil melepas pelukannya dengan Baekhyun.
Chanyeol hanya bisa nyengir kuda saat itu. Jelas saja ia cemburu. Masih melekat kuat diingatannya bahwa Kris adalah namja yang paling dekat dengan Baekhyun dulu. Tentu saja paling dekat setelah dirinya.
"Dan aku harap kau tak membawanya ke atap rumah sakit. Mengingat sekarang tak mungkin kalian berduaan di atap gedung kuliah karena kita telah lama meninggalkannya." ujar Chanyeol sarkastik.
"Kau bercanda, Park Chanyeol. Mana mungkin aku mau mengencani istri orang!" balas Kris.
Chanyeol, Kris dan bahkan Baekhyun sedikit tertawa. Ini moment bersejarah dimana tiga orang itu bertemu kembali setelah berpisah selama dua tahun. Yap, saat ini Chanyeol memang cemburu, tapi mana mungkin dia akan bertindak kekanakan seperti dulu?
"Duduklah, kalian ingin minum sesuatu?" tawar Kris sambil mengajak keduanya untuk duduk di sofa empuk yang ada di sebelah meja dokter milik Kris.
"Ah, sepertinya kopi hangat cukup untuk menemani mengobrol. Tapi tentu saja tidak untuk istriku." ucap Chanyeol.
Baekhyun yang terkejut dengan sengaja menyenggol lengan Chanyeol.
"Yeol! Jangan merepotkan!" ujar Baekhyun mencegah.
"Wae? Lagipula Kris yang menawari kita kan?" tanya Chanyeol.
"Tapi kan…"
"Sudah… sudah… Memang sudah seharusnya aku menyambut kalian. Yeobo, bisakah kau buatkan dua cangkir kopi dan segelas jus jeruk untuk kami?" pinta Kris pada perawat yang bermata panda – menurut Chanyeol – tadi.
Eh? Yeobo?
"Kris, itu…" tanya Baekhyun setengah kesulitan untuk mengutarakannya.
"Ne. Dia istriku sekaligus assisten pribadiku. Cantik bukan?" ucap Kris membanggakan istrinya.
"Ne annyeonghaseyo. Tao imnida." ucap perawat itu memperkenalkan diri.
"Ne, bangapseumnida Tao-ssi. Aku Baekhyun dan ini suamiku, Chanyeol." ucap Baekhyun sambil menepuk paha suaminya.
"Annyeonghaseyo, Chanyeol imnida. Bangapseumnida Tao-ssi." kini giliran Chanyeol yang memperkenalkan diri.
"Ne, cheoddo bangapseumnida. Ah, maaf, aku akan mempersiapkan minuman dulu untuk kalian. Aku permisi ne?" ujar Tao dan langsung keluar dari ruangan itu.
"Wah, bagaimana bisa kau tidak mengundang kami di hari pernikahanmu? Kau ini tetap saja seperti ini, Kris! Semuanya kau sembunyikan!" hardik Chanyeol pada Kris setelah Tao benar-benar keluat dari ruangan itu.
"Ani… Bukan begitu. Hanya saja kami ini menikah di China. Saat itu semua keluargaku sepakat untuk tidak membuat pesta besar-besaran. Hanya keluarga saja yang diundang. Mianhae…" ujar Kris menjelaskan.
"Aah, geuroguna… Lalu apakah kau sudah mempunyai momongan?" tanya Baekhyun penuh selidik.
Sedangkan Kris hanya tertawa melihat tingkah Baekhyun yang begitu bersemangat ketika membicarakan hal-hal yang menyangkut dengan 'anak'.
"Bagaimana aku bisa mempunyai anak jika aku dan Tao baru menikah sebulan yang lalu?" jelas Kris lagi.
"Ah, jinja? Lalu bagaimana bisa kau jadi seorang dokter sekarang?" tanya Chanyeol.
"Ini permintaan ayahku. Dia ingin aku mengurus cabang rumah sakitnya yang ada di Seoul. Jadi dengan terpaksa aku mati-matian belajar kedokteran selama dua tahun." jawab Kris.
"Oh, begitu… ah, keundae… Bagaimana dengan keadaan Baekhyun? Apakah dia dan kandungannya baik-baik saja?" tanya Chanyeol kemudian.
Kini Baekhyun ikut-ikutan mendekatkan tubuhnya ke sisi Chanyeol untuk mengetahui hasil pemeriksaan tadi. Jujur saja, Baekhyun takut akan terjadi sesuatu yang buruk pada kandungannya.
"Tentu saja, istri dan bayimu baik-baik saja, Chanyeol-ah. Tadi itu hanya kontraksi kecil. Seorang ibu muda sering mengalami hal itu. Kau tenang saja. Tak ada sesuatu yang buruk." ucap Kris kembali menjelaskan.
"Ah jinja? Syukurlah. Gomawo, Kris." ucap Chanyeol tulus dengan senyumnya.
"Emm… cheonma…"
.
.
Sejak saat itu Chanyeol dan Baekhyun terbiasa memeriksakan kandungan ke rumah sakit milik keluarga Kris. Bukan apa-apa, hanya saja Baekhyun merasa nyaman jika harus memeriksakan kandungannya disana. Tao yang selalu mendampinginya ketika diperiksa, mengerti betul apa yang Baekhyun rasakan. Bahkan suatu hari pada saat kandungannya memasuki bulan ke delapan, Baekhyun sempat menemani Tao di rumah sakit. Sekedar untuk membaca beberapa buku mengenai hal-hal yang berbau kehamilan.
"Sepertinya aku akan segera memiliki keponakan." ujar Tao ketika Baekhyun membaca sebuah buku berjudul '3 simple steps to be a good mother'.
Baekhyun segera tersenyum menatap sahabat barunya itu.
"Ne. Tapi aku terlalu takut Tao-yaa…" ujar Baekhyun sedikit menunduk.
Tao segera mendekati Baekhyun dan duduk di sampingnya. Ia merangkul namja mungil itu dan mengusap lengannya pelan.
"Wae?" tanya perawat bermata panda itu.
"Kau tahu, aku berbeda." ucap Baekhyun lirih.
"Mwo? Kau namja dan ibu-ibu yang hamil itu yeoja?" tanya Tao sarkastik.
Baekhyun hanya bisa menjawab dengan anggukannya. Ia sadar, ini akan sulit baginya. Bukan hanya masalah persalinan. Tapi juga soal ia akan diakui sebagai ibu atau tidak.
"Kau jahat Baekkie." ucap Tao tiba-tiba.
"Wae? Apa yang salah denganku?" tanya Baekhyun.
"Mengapa kau seolah tidak bahagia menyambut putra pertamamu? Padahal Tuhan sudah berbaik hati dengan memberimu keajaiban seperti ini." ujar Tao.
"Aku pasti sudah gila jika aku bilang aku tidak bahagia Tao. Hanya saja aku takut nantinya aku tidak akan diakui." ucap Baekhyun.
Tao tampak mengernyit heran. Ia tak habis pikir, mengapa sahabatnya yang baru saja dikenalnya selama lima bulan itu malah merasa pesimis dengan apa yang akan dihadapinya nanti.
"Siapa yang kau maksud? Jika maksudmu orang lain tak akan mengakuimu sebagai seorang ibu, maka seharusnya kau tidak usah menikah dengan Chanyeol sedari dulu. Bukankah dari dulu kalian memang tak peduli dengan apa yang nantinya akan orang katakan tentang kalian? Seharusnya hal itu masih menjadi prinsip kalian sampai sekarang." ujar Tao memberinya pengertian.
Baekhyun tercengang sejenak dengan penjelasan Tao. Ia tak menyangka Tao akan berkata seperti itu.
"Namun jika yang kau maksud adalah anakmu nanti yang tidak mengakuimu sebagai ibu. Bisa kuyakini itu tak akan terjadi. Kau tahu Baek, seorang ibu pasti memiliki kontak batin dengan anaknya. Kalian akan selalu terikat. Dan mau bagaimana pun, kau tetaplah ibunya." lanjut Tao kemudian.
Baekhyun segera memeluk sahabatnya itu. Tao benar, ia tak seharusnya berpikiran buruk. Bukankah itu juga akan berpengaruh terhadap kandungannya. Ia harus berterimakasih pada Tao yang tiba-tiba berubah menjadi motivator ulung baginya.
"Gomawo Tao-yaa. Kau akan membantuku menghadapi ini semua kan?" tanya Baekhyun berharap.
"Selalu. Tentu saja selain suamimu sendiri dan Kris." jawab Tao lengkap dengan senyum manisnya.
Tak lama setelahnya seseorang telah memasuki ruangan Kris. Yap, tempat dimana Baekhyun dan Tao sedari tadi mengobrol. Seseorang yang memiliki tinggi – yang menurut Baekhyun – diluar batas, segera masuk ke dalam ruangan itu diikuti seorang namja lainnya yang tingginya hampir sama.
"Baekkie, suamimu menjemput!" ucap Kris pada Baekhyun.
Baekhyun bangkit dari duduknya, segera melangkah mendekati Chanyeol dan memeluk namja itu erat. Sejenak. Ya, hanya sebentar. Hanya untuk menenangkan dirinya sendiri.
"Wae? Kau merindukanku eoh?" tanya Chanyeol sambil mengusap punggung Baekhyun.
"Hei, hei, jangan mengumbar kemesraan disini. Kemari Tao-ya, kita buktikan bahwa kita bisa lebih mesra dari pada mereka!" ujar Kris sambil merentangkan lengan panjangnya untuk Tao.
Tao hanya malu-malu menuruti perkataan suaminya itu. Ia berjalan mendekat dan hanya memeluk suaminya singkat.
"Isshh, kau ini apa-apaan?!" ujar Chanyeol sambil memukul lengan Kris pelan.
"Tao-yaa. Besok aku akan kembali lagi ne? Aku masih butuh banyak saran darimu." ucap Baekhyun sambil memegang erat tangan Tao.
Tao hanya mengangguk menyetujui apa yang baru saja dikatakan Baekhyun.
"Jaga juga kandunganmu, Baekkie. Jangan terlalu lelah." ujar Tao menyarankan.
"Emm… Baiklah, kami pulang dulu ne?" ucap Baekhyun berpamitan pada pasangan dokter-perawat itu.
"Ne. Hati-hati di jalan." ucap Kris dan Tao bersamaan.
Selama perjalanan menuju apartemen mereka, Baekhyun hanya terdiam. Tak ada sepenggal suara pun keluar dari bibir tipis Baekhyun. Sedangkan Chanyeol yang tengah menyetir mobilnya dibuat bingung dengan tingkah istri tercintanya itu. Jujur saja, ia mulai khawatir telah terjadi sesuatu pada Baekhyun.
"Chagi, ada apa denganmu? Mengapa kau diam saja ?" tanya Chanyeol pada akhirnya.
"Ah, ne? Ani… aku baik-baik saja." dusta Baekhyun.
"Jangan bohong. Aku tak mau istriku membohongiku." ucap Chanyeol sedikit kesal.
Baekhyun hanya bisa menghela napasnya tanda bahwa dirinya menyesal. Ia tahu betul tak akan pernah bisa berbohong pada suaminya. Ia ingin menceritakannya. Tapi ia terlalu takut hal ini justru malah akan membuat Chanyeol berpikiran buruk terhadapnya.
"Emm yeollie, bisakah kita ke taman kota sebentar? Aku ingin jalan-jalan disana." pinta Baekhyun pada suaminya.
"Baiklah, jika itu maumu." ucap Chanyeol dan segera melesatkan mobilnya menuju taman kota yang hanya berjarak satu kilo meter dari tempat mereka berada sekarang.
Chanyeol memarkirkan mobilnya segera di depan salah satu toko yang berada di dekat taman kota. Kemudian ia membawa istrinya itu berjalan-jalan sebentar di sekitar taman yang tengah ramai pengunjung itu. Meski hari sudah mulai gelap, itu tak akan mengendurkan semangat namja bertubuh tinggi itu untuk menuruti permintaan istrinya.
"Baiklah. Apakah kau sekarang mau menceritakan apa yang sedang mengganggu pikiranmu?" tanya Chanyeol pada Baekhyun setelah mereka memutuskan untuk duduk di salah satu bangku panjang di tengah taman kota.
"Aku takut yeol…" lirih Baekhyun jujur.
Chanyeol mengerti. Sangat mengerti apa yang dirasakan dan apa yang ditakutkan Baekhyun saat ini. Seketika ia memeluk istrinya. Yah, walaupun sedikit terganggu dengan perut istrinya yang kini membesar, tapi hal itu tak mengerutkan niatnya untuk memeluk Baekhyun lebih erat.
"Aku mengerti. Tapi kumohon Baek, jangan lakukan apapun yang bisa membahayakan dirimu ataupun bayi kita. Aku lebih baik mati jika sampai terjadi sesuatu yang buruk pada kalian berdua." ucap Chanyeol.
Baekhyun memukul bahu suaminya karena kesal. Kemudian ia mulai menangis dalam pelukan hangat itu.
"Bodoh! Apa kau pikir aku sudah gila sampai aku tega melakukan hal itu?" ucapnya di tengah isakannya.
Tak lama setelah itu Chanyeol melepas pelukan itu pelan. Ia menghapus air mata Baekhyun dengan kedua tangannya.
"Dengar, aku pernah sekali kehilanganmu. Aku akan mengutuk diriku sendiri jika hal itu akan menjadi lebih buruk dan terjadi untuk kedua kalinya." ucap Chanyeol sambil memandang jauh ke dalam mata Baekhyun.
Baekhyun hanya mengangguk. Masih mencoba menahan tangisnya.
"Berjanjilah untuk tetap berada di sampingku, berjanjilah untuk tetap mencintaiku dan seseorang yang saat ini masih berada dalam perutmu." ucap Chanyeol.
"Emm… Kuatkan aku yeol…" pinta Baekhyun lirih.
Chanyeol kembali memeluk istrinya yang kini terisak itu. Sesekali ia mengecup puncak kepala Baekhyun sekedar memberinya kekuatan dalam bentuk kasih sayang.
"Pasti chagi. Semua akan baik-baik saja." ucap Chanyeol.
.
.
Pagi itu eomma Chanyeol mengunjungi apartemen keduanya. Beliau sendiri yang berinisiatif untuk mengunjungi menantunya yang tengah hamil tua itu. Atau mungin sekedar menemani Baekhyun yang tengah cuti dan harus tinggal di apartemen sendirian karena suaminya sedang bekerja.
"Eomma, apakah dulu ketika eomma mengandung Chanyeol, eomma juga sepertiku?" tanya Baekhyun basa-basi ketika mereka berdua sedang sibuk memasak di dapur.
"Ne, bahkan lebih parah lagi. Chanyeol sudah sangat aktif bahkan sejak ia berada di kandunganku." ujar Nyonya Park yang bernama Sungmin itu sambil tertawa.
"Benarkah? Aku juga merasa anakku sangat aktif eomma. Sering sekali ia menendang." Ucap Baekhyun kemudian.
"Jinja? Hah, sudah pasti itu anak Chanyeol. Sifatnya menurun dari appanya." ucap Sungmin eomma.
Baekhyun hanya tersenyum menanggapi ibu mertuanya itu. Tak lama kemudian Sungmin eomma segera mendekati perut besar Baekhyun dan mengusapnya pelan.
"Hei, cucuku, berjanjilah kau tak akan senakal appamu ne? Berjanjilah akan patuh pada Baekkie eomma dan Channie appa! Arrasseo?" ucap Sungmin eomma pada gundukan perut itu.
Namun tiba-tiba…
"Akh… Eomma! Sakit!" ucap Baekhyun sambil memegangi perutnya.
"Baekkie… Gwaenchanha?" tanya Sungmin eomma ragu. Ia mengerti betul apa yang sedang terjadi pada menantunya. Ia yakin, namja manis itu tak baik-baik saja.
"Ani eomma… ini sakit sekali…" lirih baekhyun masih kesakitan.
Sungguh, Baekhyun merasakan sakit yang luar biasa hingga ia tak mampu berdiri tegak.
…
Sementara itu di dalam sebuah gedung perusahaan berlabel internasional, Chanyeol sedang sibuk dengan beberapa proposal tender baru yang menumpuk di meja kerjanya. Mungkin jika ia mau mengeluh, ia mau berteriak sekarang juga. Tapi mana mungkin, sebagai CEO professional, ia harus bisa menyelesaikan segala hal secara professional pula.
Dddrrtt… ddrrtt…
Smartphone yang ada di samping kanannya bergetar. Ia nyaris tak menyadari jika saja tangan kanannya tak sengaja menyentuh benda persegi itu.
"Eh? Eomma?" tanyanya heran. Tak biasanya Sungmin eomma menelfonnya saat ia bekerja. Ia tahu eommanya sedang bersama istrinya di apartemen miliknya. Dan tiba-tiba saja perasaan khawatir menyeruak dalam dadanya. Pastilah ada sesuatu di balik ini semua.
"Yeob…"
"Chanyeol-ah, cepat kemari! Istrimu…"
"Ne eomma. Aku segera pulang!"
Kalimat mereka semua terputus. Chanyeol mengerti betul sesuatu telah terjadi pada istrinya. Iya sengaja tak memberi kesempatan pada eommanya untuk memberitahu keadaan Baekhyun. Kau tahu, ia terlalu khawatir.
Segera saja ia meninggalkan bertumpuk proposal itu dan segera berlari keluar dari ruangannya. Ia sempat menemui Sehun, sahabat sekaligus partner kerjanya.
"Sehun-ah, aku pergi dulu. Sesuatu terjadi pada Baekhyun." pamit Chanyeol terburu-buru.
Sehun hanya mengangguk mengerti.
"Ne, hati-hati. Jaga dirimu dan keluargamu." ucap sehun.
"Ne. Sampai nanti."
Setelahnya Chanyeol segera turun ke basement, memasuki mobilnya dan segera melaju ke apartemen tempat dimana Baekhyun berada.
Hanya butuh lima belas menit – dengan kecepatan penuh tentu saja – untuk sampai di apartemennya. Ia segera menggendong Baekhyun yang saat itu terlihat begitu lemah dan kesakitan. Chanyeol membawanya keluar dari apartemen di temani eommanya yang setia di belakangnya. Dan selanjutnya ia melajukan mobilnya menuju rumah sakit dimana selama ini Baekhyun terbiasa memeriksakan kandungannya disana. Ya, rumah sakit milik keluarga Kris.
"Tenanglah. Baekhyun dan bayimu akan baik-baik saja. Percayalah padaku." ucap Kris yang saat itu tengah bersiap melakukan operasi.
"Ne. Kumohon, jangan sampai sesuatu yang buruk terjadi pada keduanya." ucap Chanyeol lemah.
"Aku akan berusaha. Tetaplah berdoa, yeol." ucap Kris sambil menepuk bahu Chanyeol kemudian segera masuk ruang operasi ditemani Tao dan beberapa perawat lainnya.
Chanyeol tampak tak tenang. Sedangkan Sungmin eomma hanya bisa duduk dan memandang putranya itu khawatir. Chanyeol hanya mondar-mandir tak jelas di depan pintu ruang operasi. Kentara sekali pikirannya begitu kalut saat itu.
"Duduklah nak." ucap Sungmin eomma.
Chanyeol segera menuruti perintah ibunya. Ia duduk disamping yeoja paruh baya itu seraya menundukan kepala dan mengatur napasnya. Sungmin eomma segera meraih tangan putranya untuk memberinya kekuatan.
"Tenang saja. Eomma juga pernah seperti Baekhyun. Dan eomma yakin, Baekhyun pasti bisa melewatinya." ucap Sungmin eomma.
"Ne eomma." lirih Chanyeol.
Cukup lama Chanyeol harus bersabar dengan perasaan tak karuan itu. Berkali-kali ia mendekat pada pintu ruang operasi. Berharap pintu itu segera dibuka dari dalam. Namun pintu itu tetap saja diam. Tak sekali pun menandakan bahwa operasi yang tengah dilakukan di dalamnya sudah selesai.
Setelah satu jam, pintu operasi itu terbuka. Menampakan Kris yang tampak lelah dan menghela napasnya. Chanyeol segera saja mendekati namja itu.
"Bagaimana?" tanyanya tak sabaran.
"Semuanya lancar." ucap kris lemah.
"Jinja? Ah, gomawo kris! Gomawo!" ucap Chanyeol senang sambil memeluk tubuh namja yang tingginya hampir sama dengannya itu.
Namun disisi lain, Sungmin eomma menangkap sesuatu yang janggal pada raut wajah Kris. Ia sadar, ada yang aneh dengan apa yang baru saja Kris katakan. Operasinya memang lancar. Namun masih tidak mentutup kemungkinan bahwa telah terjadi sesuatu pada Baekhyun dan anaknya, bukan?
"Sebenarnya apa yang terjadi Kris-ssi?" tanya Sungmin eomma sambil menahan tangisnya.
Chanyeol segera melepas pelukan itu dan berbalik menatap ibunya. Jelas ia tak mengerti mengapa ibunya bertanya seperti itu.
"Eomma?"
"Mengapa kau hanya mengatakan bahwa operasinya lancar? Mengapa kau tak mengatakan bahwa menantu dan cucuku baik-baik saja? Ada apa sebenarnya, Kris-ssi?" tanya Sungmin eomma mengintrogasi. Beliau kini tak dapat menahan tangisnya.
Chanyeol segera menatap Kris. Benar, ada raut keraguan dan kesedihan disana. Sungguh, Chanyeol benar-benar takut saat ini. Ia tidak siap untuk menghadapi kenyataan yang lebih buruk.
"Katakan Kris, apa yang sebenarnya terjadi pada istri dan anakku?" kini giliran Chanyeol yang mengintrogasi Kris.
"Sebenarnya…"
.
.
.
TBC
.
.
Chapter 2 posted! Otte chingudeul?Next? Next? Next?
Silakan tinggalkan jejak dalam bentuk REVIEW! hehehehe...
Gomawoyo yeorobun! ^^
