Chapter 3 - END
"WAITING FOR LITTLE PARK"
(SEQUEL OF THIS FAITHFUL LOVE)
Author : Choi Chanhyun
.
Cast :
Park Chanyeol as Park Chanyeol / Dobi
Byun Baekhyun as Byun baekhyun / Bacon
And Another Cast
.
Pairing : Chanbaek / Baekyeol
.
Disclaimer : Chanbaek belongs to themselves.
.
Copyright : ©Choi Chanhyun
.
Warning : Yaoi, M-Preg
FF ini merupakan sequel dari FF sebelumnya yang berjudul "This Faithful Love". FF pernah diposting di facebook. Bagi yang sudah baca bisa baca lagi. Yang belum baca, wajib baca! ^^
.
Don't forget RnR, okay?!
.
Happy reading chingudeul! ^^
.
.
.
Previous chapter :
Chanyeol segera menatap Kris. Benar, ada raut keraguan dan kesedihan disana. Sungguh, Chanyeol benar-benar takut saat ini. Ia tidak siap untuk menghadapi kenyataan yang lebih buruk.
"Katakan Kris, apa yang sebenarnya terjadi pada istri dan anakku?" kini giliran Chanyeol yang mengintrogasi Kris.
"Sebenarnya…"
.
.
Chapter 2
Kris tampak ragu mengatakannya. Ia takut Chanyeol akan marah dan frustasi setelahnya. Tapi meski bagaimanapun, ia tahu ia harus mengatakanya.
"Kris!" teriak Chanyeol tak sabar.
Chanyeol menarik kerah kemeja dokter milik Kris dengan tangan kirinya. Hanya itu yang bisa ia lakukan untuk mengelak dari rasa takutnya yang membuncah. Semua tahu, ia terlalu takut. Ia takut tak akan bisa bernafas dengan tenang setelah ini.
"Mianhae yeol. Tapi Baekhyun kehilangan banyak darah. Ia tak akan sadar dalam waktu dekat. Meski ia kuat, namun pada kenyataannya ia tak memiliki cukup darah dalam persalinan ini. Kita tak bisa menyangkal bahwa dirinya tetap seorang namja yeol." ucap Kris sambil menunduk menyesal.
DEG!
Jantung Chanyeol serasa ingin berhenti kala itu juga. Ia tak percaya, istrinya yang biasanya terlihat kuat, sekarang justru mengalami hal ini. Tunggu, jika Baekhyun seperti itu, bagaimana dengan bayinya?
"Dan bayimu, ia terlalu lemah. Kau tahu sendiri, selama ini ia berada di kandungan seorang namja, bukan yeoja. Perbedaan itu yang membuatnya tak memiliki asupan energi yang cukup. Dan untuk sementara, ia akan berada di inkubator sampai ia siap untuk merasakan dinginnya dunia." lanjut Kris yang sebenarnya tak tega mengatakan ini semua.
DEG!
Chanyeol merasa masa hidupnya berkurang saat itu juga. Sungguh, ini beban yang terlalu berat. Ia tak bisa berkata atau melakukan apapun. Ia hanya bisa terduduk lemah di lantai rumah sakit. Ia menangis. Biarlah orang akan berkata apa tentang dirinya yang lemah. Namun ini benar-benar sulit untuk Chanyeol terima.
Sungmin eomma mendekap putranya erat. Ia pun ikut menangis. Ikut merasakan apa yang tengah dialami putranya. Sedangkan Chanyeol memeluk eommanya makin erat dan menangis disana. Memeluk yeoja itu seolah ia kembali pada masa kecilnya.
"Apa yang harus kulakukan eomma?" ucapnya di sela tangisannya.
"Tetaplah berada disisi mereka. Mereka pasti baik-baik saja Yeollie. Eomma yakin!" ucap Sungmin eomma lirih yang juga masih terisak.
"Percayalah, mereka akan baik-baik saja, yeol." ucap Kris kemudian sekedar untuk meyakinkan temannya itu.
.
.
Beberapa hari setelahnya Chanyeol lewati penuh dengan kesepian. Tak ada tawa istrinya ataupun tangisan putra kecilnya. Jujur saja, Chanyeol merasa terpuruk saat ini. Tanpa baekhyun disampingnya. Yah, meski sebenarnya ia setiap hari berada disamping istrinya. Tapi ayolah, namja manis itu sedang koma! Itu berbeda. Tetap saja ada yang kosong disana.
Empat hari setelah persalinan Baekhyun, Chanyeol menyempatkan diri mengunjungi inkubator putranya. Entah sudah berapa kali ia menengok little parknya itu. Tak ada rasa bosan sedikit pun baginya untuk melihat malaikatnya.
"Kau namja yang kuat, sayang. Cepatlah keluar dari sini. Dan beri eommamu kekuatan." lirih Chanyeol yang tampak sedih.
Kemudian ia menatap putranya dari balik kaca inkubator dan mengusap kaca itu perlahan seorah ia bisa merasakan kulit mulus putranya. Ia tak kuasa menahan sedihnya. Namun ia tahu, ia harus menjadi namja yang tegar untuk istri dan putranya. Ia menepis air mata itu, kemudian pergi menuju ruangan dimana Baekhyun dirawat.
Seorang malaikat milik Chanyeol yang lain tengah tertidur sejak empat hari yang lalu. Ia menatapnya intens. Tak jarang pula Chanyeol mengusap surai lembut Baekhyun. Tidak munafik, ia tetap membayangkan Baekhyun akan bangun hanya dengan ia menyentuhnya. Yah, meskipun itu mustahil.
"Kapan kau akan bangun, sayang?" ucap Chanyeol sambil mengecup punggung tangan kiri Baekhyun berkali-kali.
Kini ia duduk di samping kiri istrinya. Memandang tanpa lelah Baekhyun yang kini tampak lemah. Ia ingat sesuatu. Kris - yang kini menjadi dokter yang khusus merawat Baekhyun - pernah meminta Chanyeol untuk tetap berdoa. Begitupun saat ini, ia pun berdoa dalam hatinya. Tak kurang sedetik pun Chanyeol selalu berdoa untuk istri dan anaknya setiap harinya. Namun entahlah, sepertinya Tuhan belum juga menjawab doanya.
"Kau tahu, Baek. Anak kita sangat tampan. Sama sepertiku." ucap Chanyeol mencoba bercanda untuk menghibur istrinya dan dirinya sendiri. Tanpa disadarinya, ada sesuatu yang berubah disana.
Dan tiba-tiba…
Titt…
ECG itu berbunyi. Chanyeol segera berbalik menatap monitor kotak yang kini tengah berada di samping tempat tidur istrinya itu. Hei, angkanya berubah. Angkanya naik! Ini benar-benar suatu keajaiban bagi Chanyeol. Ia yakin sekali Baekhyun mendengar apa yang baru saja ia katakan. Ah, apa yang baru saja dikatakannya? Ia ingat! Ini semua tentang putra mereka. Si kecil Park. Baiklah, biar ia mencobanya lagi. 'Semoga saja ini berhasil.' batin Chanyeol.
"Iya, Baek. Dia tampan sepertiku. Hanya saja ia memiliki mata yang sama denganmu." ucap Chanyeol kemudian. Setelahnya ia mengalihkan pandangannya pada ECG itu lagi. Dan…
Titt…
ECG itu kembali berbunyi. Kini terlihat dengan jelas oleh Chanyeol angka yang semakin lama semakin meningkat itu. Sungguh, ia tak akan menyiakan kesempatan ini. Apakah ini jawaban dari Tuhan?
"Aku sedang berpikir, kita akan menamainya siapa?" ujar Chanyeol makin semangat. Ia berlarih menatap ECG lagi. Dan…
Titt…
"Emm… Park Woobin? Park Jaeyong? Park Youngmin?" ucap Chanyeol lagi.
Titt…
"Bagaimana kalau Park Kwangmi? Emm… Park Boram? Park Yongji? Park siapa lagi ya?" tanya Chanyeol tak mau berhenti.
Titt… Titt…
"Park Hyunjae?"
Titt… Titt… Titt…
"Emm… bagaimana Baek? Mana yang kau suka?"
Sedetik kemudian keajaiban yang seutuhnya benar-benar datang. Tiba-tiba saja Baekhyun menggerakkan jarinya. Chanyeol menatap lekat-lekat namja yang tengah terbaring lemah itu. Ia tak mau mengalihkan pandangannya sedikitpun. Ia melihat dengan jelas Baekhyun mulai membuka matanya pelan-pelan. Mencoba beradaptasi pada sinar matahari yang selalu menyilaukan baginya. See? Tuhan memang menjawab doa Chanyeol selama ini.
Baekhyun terlihat mengatur napasnya pelan sekali. Ia menatap suaminya yang kini tengah menangis bahagia dan memandangnya dengan tatapan penuh arti.
"Park Hyunjae. Nama yang indah." lirih Baekhyun masih dengan suaranya yang lemah.
'Terima kasih, Tuhan.' batin Chanyeol. Ia pun tak dapat menahan tangis bahagianya.
.
.
"Sudah kukatakan. Baekhyun akan baik-baik saja." ucap Kris setelah memeriksa Baekhyun.
Baekhyun hanya tersenyum samar. Tubuhnya masih sangat lemah. Sedangkan Chanyeol tak hentinya mengusap hazel brunette istrinya.
Kris segera merapikan alat periksanya dan segera berpamitan pada sepasang suami-istri itu.
"Istirahatlah, Baek." ucapnya sambil berlalu dari hadapan keduanya.
"Gomapta Kris." ucap Chanyeol yang hanya dibalas dengan tepukan di bahunya oleh Kris.
Jangan lupakan kenyataan bahwa baekhyun sudah tahu mengenai bayinya yang kini harus berada di inkubator. Dan syukurlah, ia tak begitu syok dengan hal itu. Ia mengerti betul apa yang akan terjadi pada bayinya jika ia saja sampai mengalami koma seperti ini. Ini suatu hal yang membuat Chanyeol lega tentu saja.
"Aku ingin melihat anak kita, Yeol." pinta Baekhyun masih dalam keadaan lemah.
"Emm, tapi tidak sekarang sayang. Kau baru saja sadar. Kita akan mengunjunginya besok pagi. Otte?" tanya Chanyeol.
Baekhyun mendesah pelan. Ia sedikit kecewa ketika suaminya sendiri mencegahnya untuk bertemu dengan darah dagingnya sendiri. Chanyeol sendiri tahu, pasti istrinya sangat merindukan anak mereka. Sejak ia melahirkan putranya, belum pernah ia sekali pun melihat seseorang yang selama ini berada dalam perutnya itu. Namun percayalah, sebesar apapun keinginan Baekhyun, dirinya masih perlu istirahat! Dan Chanyeol tak mau menanggung resiko buruk jika ia bertindak gegabah.
"Mengertilah Baek, kau masih lemah. Aku hanya tak ingin sesuatu yang buruk terjadi padamu." ucap Chanyeol mencoba memberi Baekhyun pengertian.
Baekhyun hanya mengangguk pelan. Ia mencoba untuk tidak melawan suaminya.
"Mianhae yeol." ucap baekhyun lirih.
"Aku mengerti. Gwaenchanha." Ucap Chanyeol sambil mengecup kening istrinya.
Keesokan harinya Chanyeol benar-benar menepati janjinya pada Baekhyun. Ia segera menggendong istrinya yang masih lemah itu dari tempat tidur untuk selanjutnya duduk di kursi roda yang sudah Chanyeol sediakan. Senyum mengembang tak pernah lepas dari wajah manis Baekhyun. Jantungnya berdegup kencang menanti saat-saat dimana ia akan bertemu dengan buah hatinya.
Chanyeol segera mendorong kursi roda itu menuju ruang inkubator dimana putra mereka berada. Pancaran sinar bahagia yang tadinya menghiasi mata Baekhyun seolah menghilang begitu saja ketika ia melihat bayinya yang masih lemah. Chanyeol segera membawanya mendekati kaca inkubator. Dan kini Baekhyun benar-benar menangis di kursi roda itu
"Yeollie, dia tampan sekali." ucap Baekhyun.
"Emm, sudah kubilang, dia memang tampan. Dan matanya cantik, sama sepertimu." balas Chanyeol menambahi kalimat istrinya.
Tangisan Baekhyun semakin menjadi ketika ia meletakkan telapak tangannya pada kaca itu. Sungguh, ia tak kuasa menahan rindunya.
"Yeol… Kapan aku bisa menyentuhnya? Hiks… kapan aku bisa menggendongnya?" ucap Baekhyun di tengah isakannya.
Chanyeol sengaka membungkuk dan memeluk istrinya dari belakang. Ia ingin sekali memberikan kekuatan pada istrinya itu.
"Segera chagi. Segera…"
.
.
"Hai sayang, bagaimana harimu?" tanya Tao yang kala itu sedang memberikan makan siang untuk Baekhyun.
Baekhyun tengah sendiri di ruangan rumah sakit itu. Sedangkan Chanyeol sedang kembali ke apartemen mereka untuk mengambil beberapa pakaian miliknya. Mendengar pertanyaan Tao, Baekhyun yang saat itu tengah membaca buku di tempat tidurnya segera menutup bukunya dan tersenyum pada Tao.
"Yah, seperti yang kau lihat." jawab Baekhyun singkat.
Ini sudah hari ketiga sejak Baekhyun sadar dari komanya. Namun ia masih saja belum bisa bertemu secara langsung dengan darah dagingnya. Kaca inkubator itu selalu menghalangi. Menjadi pemisah antara ibu dan anak itu.
"Oh ya Baek, saengil chukkae." ucap Tao tiba-tiba.
Baekhyun tak meresponnya. Tao yang bingung segera menatap namja manis itu. Yap, pandangannya tampak kosong dan bertanya-tanya.
"Hari ini kau ulang tahun kan, Baekkie?" tanya Tao.
"Eh? Benarkah? Memang hari ini tanggal berapa?" kini Baekhyun justru balik bertanya.
Entah sengaja atau tidak, Baekhyun memang benar-benar lupa akan hari ulang tahunnya. Pikirannya terlalu penuh dengan si kecil Park. Ia bahkan sering lupa untuk sejedar makan atau minum.
"Hari ini tanggal 6 Mei, sayang." ujar Tao menjelaskan.
"Ah, maaf Tao. Aku lupa." Jawab Baekhyun sedikit tertawa tanpa dosa.
Kemudian Tao duduk di pinggir tempat tidur Baekhyun dan menggenggam tangan namja itu erat. Ia mengerti apa yang dirasakan Baekhyun saat ini.
"Hemm, jangan buat pikiranmu terlalu lelah. Oke, kau mau kado apa dariku?" tanya Tao kemudian.
Baekhyun tersenyum tulus. Sungguh, ia tak menginginkan apapun kecuali…
"Tak ada yang lebih indah selain aku bisa menggendong anakku, Tao. Bisakah kau memberikan kado yang seperti itu?" tanya Baekhyun berharap.
Tao hanya bisa menghela napasnya. Ia mengerti sekali, sahabatnya itu ingin menggendong darah dagingnya. Tapi sayangnya tidak untuk saat ini. Atau mungkin belum.
"Entahlah Baek, kau tetap berdoa saja ne? Ah, baiklah, aku pergi dulu. Ada pasien baru tadi. Makan yang banyak!" ujar Tao yang kemudian dijawab dengan anggukan oleh Baekhyun.
Selanjutnya Tao segera pergi dari ruangan itu. Membiarkan Baekhyun berkutat pada makan siangnya. Namun sepertinya Tao salah. Baekhyun sama sekali tak menyentuh makanan itu. Pikirannya jauh melayang entah kemana. Ya, ini memang hari ulang tahunnya. Namun tak ada yang spesial. Bahkan suaminya sudah meninggalkan rumah sakit sedari tadi pagi. Ini tidak seperti biasanya. Karena biasanya Chanyeol akan menjadi orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun.
'Ah, mungkin saja Chanyeol sudah mengatakannya sewaktu aku terlelap semalam." batin Baekhyun meyakinkan dirinya sendiri.
Hari itu begitu membosankan bagi Baekhyun. Ia pun akhirnya hanya memasukkan 3 sendok nasi ke dalam mulutnya dan selebihnya ia tak melakukan apapun kecuali membaca buku yang ia yakini ia sudah hafal isi buku itu.
Sungguh, kali ini Baekhyun benar-benar bosan. Ia pun tak habis pikir, mengapa Chanyeol begitu lama meninggalkannya. Biasanya ia hanya butuh waktu setengah jam atau paling lama satu jam untuk kembali mengambil pakaian milik Baekhyun. Tapi hari ini sudah lebih dari 3 jam ia meninggalkan Baekhyun. 'Ada apa ini?' batin Baekhyun mulai khawatir.
Hanya berselang setengah jam setelahnya, seseorang memasuki ruangannya. Baekhyun yakin sekali itu adalah Chanyeol yang sedari tadi dinantinya. Namja itu memang tinggi, namun sejauh yang Baekhyun lihat, dia tak mirip dengan Chanyeol. Dan setelah namja itu berada 5 langkah di depannya, ia yakin sekali, ia harus kecewa karena namja itu bukanlah suaminya.
"Hai Baek…" ucap namja itu.
"Sehun? Mengapa kau yang datang? Mengapa bukan Chanyeol?" ucap Baekhyun memberondong Sehun dengan pertanyaannya karena sudah dirundung rasa khawatir sedari tadi.
Sudah tak bisa dipungkiri lagi, Baekhyun kini benar-benar takut terjadi sesuatu dengan Chanyeol. Chanyeol sudah pergi terlalu lama. Itu tidak seperti biasanya. Dan sekarang, justru yang datang adalah Sehun. Baekhyun tahu, Sehun adalah seseorang yang dipercaya Chanyeol untuk mengambil alih segalanya jika sesuatu terjadi pada suaminy itu. Dan sekarang pertanyaannya adalah, ada apa dengan Chanyeol?
"Sehun-ah, apa sesuatu terjadi pada Chanyeol?" tanya Baekhyun takut.
"Mianhae Baek." ucap Sehun dengan wajahnya yang tertekuk sedih.
"Katakan Sehun-ah, Chanyeol baik-baik saja kan?" tanya Baekhyun tak sabar. Ia mulai menarik kemeja milik Sehun yang berdiri tak jauh darinya. Mata Baekhyun memanas. Ia tahu, sesuatu yang buruk telah terjadi. Dan akhirnya air mata itu lolos begitu saja.
"Sulit untukku mengatakannya, Baek. Mianhae…" ujar Sehun masih dengan wajah sedihnya. Ia pun kini ikut terisak.
"Apa yang terjadi pada Chanyeol, Sehun-ah? ADA APA DENGANNYA?!" teriak Baekhyun disela tangisannya. Ia tak sanggup menahan ini semua. Ia memukul lengan Sehun berkali-kali.
"Mianhae Baekhyun-ah, tapi Chanyeol hanya ingin mengucapkan selamat ulang tahun!" ucap Sehun datar sambil memberikan setangkai mawar putih yang sedari tadi disimpannya di belakang tubuhnya.
Seketika Baekhyun menghentikan isakannya. Ia kemudian menatap Sehun yang tengah menatapnya tersenyum tanpa dosa.
"Kau bilang apa Sehun-ah?"
Tak sempat Sehun menjawab pertanyaan Baekhyun, pintu ruangan itu tiba-tiba saja terbuka. Menampakan dua namja dengan tinggi yang hampir sama yang salah satunya membawa kue ulang tahun berukuran besar lengkap dengan lilin yang menyala diatasnya.
"Saengil chukka hamnida… Saengil chukka hamnida… Saranganeun nae anae, saengil chukka hamnida…" terdengar Chanyeol bernyanyi dengan suara bassnya.
Tepat ketika lagu itu berhenti, Chanyeol sudah berada di depan istri tercintanya. Kemudian ia duduk di pinggir tempat tidur dan tersenyum bahagia seolah tak terjadi apa-apa. Atau sebenarnya memang tak terjadi apa-apa.
"Cepat berdoa kemudian tiup lilinnya." ujar Kris yang tadi datang bersama Chanyeol.
Baekhyun segera menutup matanya yang masih basah akibat bekas tangisannya tadi. Ia hanya berdoa setengah menit kemudian meniup lilin-lilin itu tanpa tersenyum sedikit pun. Ingat, tanpa tersenyum sedikit pun! Ia justru memandang Chanyeol dengan pandangan marahnya.
"Singkirkan kuenya!" bentak Baekhyun kemudian.
"Waeyo chagi? Kau tidak senang?" tanya Chanyeol tanpa dosa.
"Ani… aku hanya ingin memukulmu seperti ini!" ucap Baekhyun yang kemudian disusul dengan pukulan bertubi-tubi yang hinggap pada lengan dan punggung Chanyeol.
"Ya! Mengapa kau marah, Baekki-ah?" tanya Chanyeol disela pukulan-pukulan itu.
"Kau… Kau jahat! Hiks… Kau sama sekali tak memikirkan perasaan istrimu! Hiks… Lelucon bodoh, kau tahu! Hiks, INI LELUCON BODOH! Hiks… Kau tak pernah berubah! Hiks… Aku membencimu! Aku benar-benar membencimu, Park Chanyeol!"
Chanyeol segera memeluk tubuh mungil istrinya. Ia tahu ia salah karena telah memberi lelucon ini pada istrinya yang sekarang masih terlihat lemah itu. Tapi hei, ia hanya ingin mencairkan suasana saja!
Satu hal yang pasti. Hal ini pernah terjadi. Ya, Baekhyun pernah mengalaminya. Baekhyun ingat sekali ketika ia mengira Chanyeol tak dapat bangkit dari tidurnya yang ternyata itu hanyalah lelucon yang sengaja dibuat oleh Chanyeol dan Sehun.
"Mianhae… Aku tak bermaksud membuatmu marah." ucap Chanyeol menyesal.
"Aku khawatir sekali, yeol… Hiks…" ucap Baekhyun masih dalam isakannya.
"Iya… iya… aku tahu. Mianhae ne?" ujar Chanyeol sambil mengusap punggung istrinya.
"Kalian, kau dan Sehun, melakukannya lagi padaku! Kalian sungguh tega! Dan kau Kris, mengapa kau sekarang jadi tertular virus jahil mereka?!" ucap Baekhyun dengan nada jahatnya setelah melepas pelukannya dengan Chanyeol.
"Mianhae Baek. Aku dipaksa suamimu. Lagipula kapan lagi aku bisa mengerjaimu?" ucap Kris sambil tertawa.
Tak lama setelahnya, pintu ruangan itu kembali terbuka. Kini giliran eomma Chanyeol, Sungmin, yang memasuki ruangan itu. Diikuti Tao dan seorang namja cantik berambut chocolate brown yang tak dikenali Baekhyun. Namun ada sesuatu yang berbeda disana, Sungmin eomma. Ya, yeoja paruh baya itu tampak berbeda karena kini ia tengah menggendong seorang bayi. Tiba-tiba dada Baekhyun bergemuruh. Itu ? Mungkinkah dia?
"Siapa dia, eomma?" tanya Baekhyun pada Sungmin eomma yang kini sudah ada di dekatnya.
Sungmin eomma hanya tersenyum bahagia. Sedangkan Tao segera menatap Baekhyun tulus.
"Tentu saja putramu, Baekkie. Bukankah kau bilang kau menginginkan kado seperti ini?" tanya Tao.
Indah. Ini sungguh indah. Baekhyun tak dapat menyembunyikan tangis bahagianya. Sungguh, ini kado terindah yang pernah Baekhyun raih seumur hidupnya. Ia menengadahkan tanganya secara otomatis. Ia ingin segera menggendong namja kecil itu. Namja kecil yang merupakan buah cintanya dengan Chanyeol. Namja kecil yang sangat dirindukannya.
Setelahnya Sungmin eomma segera memberikan little park itu pada Baekhyun. Dengan lembut Baekhyun menggendongnya. Ia terisak bahagia. Ia tersenyum sambil terus menatap putranya. Seolah di dunia ini hanya ada mereka berdua. Sesekali ia membelai wajah putra kecilnya itu.
"Kau sangat tampan, Park Hyunjae…" lirih Baekhyun.
Sesaat kemudian mata itu terbuka. Hyunjae kecil yang sedari tertidur, tiba-tiba saja bangun ketika berada dalam gendongan Baekhyun. Seakan ia mengerti bahwa ada seseorang yang tengah menatapnya. Ah, apakah ini yang dinamakan ikatan batin antara ibu dan anaknya?
"Kau terbangun sayang ? Maafkan eomma ne? Eomma mengganggu tidurmu." ucap Baekhyun kemudian.
Chanyeol yang memandangnya hanya bisa tersenyum bahagia. Ingin sekali ia berteriak untuk menunjukkan betapa bahagianya ia saat ini. Namun tak mungkin. Ia tak mau bertindak bodoh seperti itu.
"Ehem, bisakah kita tidak berlarut-larut seperti ini? Ayolah, ini saat yang membahagiakan!" ucap Sehun menginterupsi. Ia ingin sekali mencairkan suasana haru itu.
Kemudian semua tertawa melihat tingkah Sehun. Namun yang ditertawakan hanya tersenyum bangga karena ia telah berhasil mencairkan suasana kaku itu.
"Baiklah… baiklah… lalu bisakah kau perkenalkan siapa namja itu?" tanya Baekhyun sambil menunjuk si namja cantik tadi dengan matanya.
Sehun segera menarik tangan namja itu untuk berdiri di sebelahnya. Baekhyun dapat melihat dengan jelas, namja itu tersipu malu. Hei, ada apa dengannya?
"Oke, dia Luhan. Xi Luhan." ucap Sehun memperkenalkan namja itu.
"Ne, annyeonghaseyo. Senang bisa bertemu dengan kalian semua." ucap Luhan ramah.
"Cheoddo bangapseumnida, Luhan-ssi." balas Chanyeol tak kalah ramah.
"Terima kasih sudah datang ne? Dan terima kasih juga mau menemaniku dan Tao tadi." ucap Sungmin eomma kemudian.
"Ne, ahjumma. Senang bisa ikut memberikan kejutan untuk Baekhyun-ssi." ujar Luhan sambil tersenyum tulus.
"Ah, gamsahaeyo Luhan-ssi. Keundae, apakah kau ini kekasih Sehun?" tanya Baekhyun kemudian.
"Kau ini pintar sekali, Baek. Dan pengumuman untuk kalian semua, tolong dengarkan, ini yang terpenting! Aku dan Luhan akan menikah dua bulan lagi!" teriak Sehun.
"Mwo?"
.
.
5 Tahun kemudian
"Hani-yaa, kau lutchu tchekaliii…" ucap Hyunjae sambil mencubit pipi yeoja kecil yang baru berumur 3 tahun itu.
"Ya! Ya! Ya! Jangan cubit dia anak nakal! Bagaimana kalau pipinya tidak utuh lagi? Buatnya susah tahu!" ucap Sehun menginterupsi tingkah Hyunjae yang tengah mencubit pipi putrinya berkali-kali.
"Jinjaya ahjucci? Memang bagaimana calanya membuat Hani?" tanya Hyunjae polos.
"Emm… itu…"
"Jangan ajari dia yang aneh-aneh!" ucap Chanyeol yang baru saja datang sambil memukul kepala Sehun dengan majalah yang dibawanya.
"Aish… appo! Iya… iya… aku tahu!" ujar Sehun kesal sambil mengusap kepalanya yang masih sakit.
Malam itu keluarga kecil milik Chanyeol dan Sehun sengaja mengadakan makan malam sederhana di apartemen milik Sehun. Yang disayangkan adalah Kris dan Tao yang tak bisa ikut malam itu karena kini mereka tengah berada di Cina. Tapi hal itu tak mengurungkan niat dua keluarga kecil untuk berkumpul bersama bukan?
Dan makan malam itu memang telah selesai sejak sejam yang lalu. Saat ini para ibu – Baekhyun dan Luhan - sedang sibuk membersihkan meja makan. Sedangkan para ayah dan anak-anaknya sedang berkumpul bersama di ruang tengah.
"Chanyeollie, ayo pulang!" ajak Baekhyun yang kala itu sudah selesai membersihkan meja makan bersama Luhan.
"Aku juga ingin mengajakmu pulang sayang, jika saja dia tidak terlalu asik seperti ini." ucap Chanyeol sambil menunjuk putranya yang sedari tadi tengah mengusap-usap pipi Hani tanpa henti.
"Sepertinya ia suka sekali dengan Hani, Baekkie." ujar Luhan sambil tertawa.
"Boleh saja suka, tapi jangan mencubit terus. Lama-lama pipi anakku akan habis!" ucap Sehun sambil menunduk sedih.
Luhan hanya tertawa melihat tingkah bodoh suaminya itu. Kemudian Baekhyun segera mendekati putranya dan berjongkok di depan dua anak kecil yang sedang duduk di sofa itu.
"Baby Hyun sayang, ayo pulang!" ajak Baekhyun pada putranya.
"Shileo eomma, hyunie macih mau belmain belcama Hani." tolak Hyunjae spontan.
"Ayo sayang, ini sudah malam. Hani juga mau tidur. Besok pagi kita kesini lagi. Otte?" ucap Baekhyun merayunya.
"Jinja eomma?" tanya Hyunjae memastikan.
Baekhyun hanya menjawabnya dengan aggukan dan senyuman manis.
"Keulae eomma, yakcokhae?" tanya Hyunjae sambil menyodorkan jari kelingkingnya ke hadapan eommanya.
"Emm, yaksokhae!" ucap Baekhyun sambil mengaitkan kelingkingnya dengan kelingking putranya.
"Kau juga harus tidur sayang! Ja, kita pulang!" ujar Chanyeol pada Hyunjae sambil mengacak surai lembut putranya. Kemudian ia segera menggendongnya. Sungguh, ia gemas sekali melihat tingkah jagoan kecilnya itu.
"Baiklah, kami pulang dulu Sehunie, Luhanie dan … Oh Hani sayang!" ucap baekhyun sambil mencubit pipi chubby Hani yang sekarang berada di gendongan eommanya.
"Ne, hati-hati di jalan!" ujar Luhan dan Sehun bersamaan.
Selanjutnya keluarga kecil itu segera saja keluar dari apartemen milik Sehun. Hyunjae yang masih berada di gendongan Chanyeol tak hentinya mengoceh tentang bagaimana lucunya seorang Oh Hani. Ah, sepertinya anak ini suka sekali dengan yeoja kecil yang – menurut Baekhyun juga – imut itu!
"Eomma, hyunie ingin cecuatu. Apa eomma mau mengabulkannya?" tanya Hyunjae ketika berada di pangkuan Baekhyun selama perjalanan pulang mereka.
"Kau ingin apa sayang?" tanya Baekhyun pada putra kecilnya.
Hyunjae tampak terdiam sejenak. Sedangkan Chanyeol yang kini sedang fokus menyetir pun sepertinya mengerti arah pembicaraan namja kecil itu.
"Hyunjae ingin adik eomma. Adik yang lutchu cepelti Hani." ucap Hyunjae polos.
Bingo!
Chanyeol bersorak dalam hati ketika tebakannya benar. Sedangkan Baekhyun hanya terkejut mendengar perkataan putra sematawayangnya itu.
"Bagaimana eomma? Eomma mau mengabulkannya kan?" tanya Hyunjae memastikan.
"Tenang saja, Baby Hyunie! Eomma dan appa pasti akan mengabulkannya. Malam ini juga eomma dan appa akan membuatkannya untukmu! Otte? Kau mau berapa banyak, emm?" ucap Chanyeol lengkap dengan senyuman mesumnya.
"Jinja appa? Yeayy! Eomma, appa jjang! Ah, aku mau..."
"PARK CHANYEOL! HENTIKAN TINGKAH MESUMMU!"
.
.
.
END
.
.
Kkeeuutt! It's end pemirsah! Haaahh, legaaa…
Sebelumnya author mau ucapin terima kasih yang sebanyak-banyaknya buat semua chingudeul yang gak pernah lupa RnR, yang baca doang juga gapapa, makasih banyak semuanya!
Author juga mau jawab reviewnya readersnim di chap 1 & 2!
exindira : gomawo, jangan lupa reviewnya yaa? hehe
realyounges529 : maap, updatenya agak telat. laptop lagi gak kompromi nih! hehehe
Nada Lim : done! ^^
younlaycious88 : aku juga nunggu chingu... *eh?
tomatocherry : gomawooo...
DwitaDwita : udah dilanut chingu, makasih reviewnya
mirarose86 : chanbaek kok.. ^^
aiiu d'freaky : baca di facebook ya? makasih ya udah mau baca lagi ^^
kwondami : author ganti nama park baekhyun biar dapet feelnya aja chingu... hehehe, thanks reviewnya ^^
mirarose86 : sudah di update! gomawoo chingu
younlaycious88 : gak ada apa2 kok, baekkie baik2 aja... tetep imut kya biasanya... ^^
realyounges529 : kecepetan yah? mianhae... otak author udah mentok nih... hehehe... gomawo reviewnya
0706 : ehehehe, mian, TBCnya gak pas banget yah? tapi udah di update lagi kok
jameela : done! ^^
Rivecca Wu 2 : maap gak bisa update kilat, lagi ada masalah di latop chingu... hehehe
itsmesehan : gwanchana... malah enak dipanggil chanhyunie aja! hehehe, btw, jeongmal gomawo reviewnya yaaah ^^
.
Last, jangan lupa REVIEWnya! Gomawo yoerobuuunn ^^
