Hallo minna~ maaf yang sedalam-dalamnya baru bisa publish lagi ff ini T.T tugas kuliah numpuk hahaha
Daripada banyak bacot, mending langsung baca aja ya minna :)
Happy Reading ^^
The Easy Way
Chapter 2
Fanfiction wrote by Uchiha Nisa Chan
Dislaimer : Naruto owns Masashi Kishimoto
WARNING : OOC, AU, Typo bertebaran, EYD gak jelas, dan kesalahan lainnya
Cuaca pagi menghampiri langit Konoha diiringi sinar matahari yang begitu lembut meminta ruang untuk disinari. Beberapa hewan-hewan kecil telah keluar dari sarang masing-masing, mereka hendak melakukan kegiatan seperti biasanya. Dan sinar matahari itu menembus kaca kamar seorang pria yang masih terlelap tidur. Rambut jabriknya sangat berantakan, suara-suara burung yang berkicau di luar membangunkan pria muda tersebut ditambah lagi sinar matahari yang seakan menyilaukan mata memaksa Uzumaki muda itu untuk beranjak dari alam mimpinya. Acara makan malam semalam membuatnya sangat lelah, yang membuat ia tertidur larut malam. Naruto menyibakkan selimut yang membungkusi tubuhnya, namun tidak beberapa lama ditariknya kembali selimut itu. Hawa dingin diluar sana memintanya untuk memanjakan tubuhnya sebentar.
"Lima menit saja" batinnya
"Hem, itu terlalu cepat sepuluh menit deh" dan ia pun kembali tertidur.
"Narutooo…" suara yang begitu kencang mengagetkan Naruto.
Seseorang berusaha memutar knop pintu kamar Naruto, namun tidak bisa karena Naruto mengunci kamarnya. Bunyi ketukan pintu terdengar.
"Naruto, Naruto. Hei bangun kau ini. Ini sudah siang baka ! mau sampai jam berapa kau bergelung di kasurmu itu !" suara nyonya Uzumaki berteriak teriak di luar kamar Naruto.
"Haa, ya ampun cerewet sekali" ia akhirnya membuka paksa selimut tersebut. Dengan langkah gontai Naruto menghampiri pintu kamar. Cklek !
"Naruto ! cepat bangun, kau harus pergi bersama Hinata hari ini" ujar Kushina geram melihat putranya ini yang tak memiliki perubahan sama sekali meski telah lama hidup sendiri di Amerika.
"Memangnya kenapa ? kenapa aku harus pergi bersama Hinata kaa-san ?" ujar Naruto sambil menguap lebar. Membuat yang ditanya semakin geram. Ibunya langsung menjewer telinga Naruto meski Naruto itu sendiri bukan anak kecil lagi, tapi tetap saja ibunya masih suka memperlakukannya seperti putra kecilnya dulu.
"Aduh aduh sakit kaa-san, ya ampun" kata Naruto sambil memegangi telinganya
Kali ini ibunya harus benar-benar sabar menghadapi Naruto yang Bengal minta ampun
"Naruto, satu minggu lagi kau akan menikah dengan Hinata, dan kau akan hidup berdua saja dengannya tanpa kaa-san dan tou-san mu. Jadi kau harus menghilangkan kebiasaan burukmu yang suka bangun siang, kau akan menjadi kepala keluarga Naruto ! bersikaplah dewasa sedikit ! dan satu hal lagi mengapa kau harus pergi bersamanya hari ini, tentu saja itu diperlukan bagi kalian sebelum acara pernikahan. Kalian kan sudah lama tidak bertemu ?"
"I iya baik kaa-san" ujar Naruto patuh
"Oh ya, kau harus memperlakukan Hinata dengan baik jangan sampai kau menyakitinya. Kau mengerti Naruto ?"
Naruto menganggukan kepalanya. Tanda bahwa ia paham.
"Bagus, sekarang mandilah, sarapan, dan jemput calon istrimu" kata Kushina tersenyum
Naruto bergegas mandi, ia tidak mau ibunya yang cerewet itu mengomelinya lagi seperti tadi. Hal itu membuat telinganya terasa panas. Setelah mandi ia langsung turun ke bawah dan ikut sarapan bersama kaa-san dan tou-sannya. Hari ini, Naruto terlihat sangat keren meski sebenarnya tadi ia asal saja memilih baju. Ia memakai kaos berlengan pendek warna biru persis sama dengan warna matanya. Setelah beres semua, ia menuju ke rumah Hinata. Mau tidak mau ia tetap harus ke sana walau sebenarnya Naruto sangat malas pergi bersama Hinata karena ia sudah tau bakal seperti apa kencan mereka hari ini. Eh ? kencan ? tidak ini bukan kencan, ini hanya jalan biasa tidak ada yang spesial sama sekali. Mobil hitam milik Naruto meluncur santai ke kediaman Hyuga
"Eh? Na naruto-kun? kenapa datang tiba-tiba?" ujar gadis Hyuga itu keheranan
"Ku pikir kau sudah tau bahwa aku akan ke sini. Kau tidak diberi tau Neji-san atau tou-san ya?" Tanya Naruto balik yang ikut kebingungan. Hinata hanya menggeleng, ia tidak tahu apa-apa. Tetapi ia senang karena Naruto mau mengajaknya pergi hari ini
"kaa-san bagaimana sih ? ku pikir ia meminta ku untuk pergi denganmu hari ini telah disampaikannya juga kepadamu Hinata" Naruto bertanya-tanya sendiri.
"Ah, hahaha sudahlah tidak usah dipermasalahkan yang seperti itu. Hehehe"
Tiba-tiba saja, dada Hinata terasa sangat sakit. Ia kecewa ternyata Naruto mengajaknya pergi hari ini bukan atas kemauannya sendiri.
"Hinata? Kenapa kau diam saja? Sudah cepat ganti pakaianmu" perintah Naruto
"I iya baik Naruto-kun"
Hinata bergegas menuju kamarnya, sebelum itu ia meminta Shizune untuk membuatkan minuman buat Naruto.
Mereka berdua telah berada di dalam mobil Naruto. Namun mereka bingung mau pergi ke mana (?). Naruto menoleh sekilas ke arah Hinata. Gadis itu sepertinya dari tadi hanya diam dan menunduk saja kerjaannya, sehingga membuat Naruto bingung.
"Ada apa sih dengan Hinata? Sebenarnya gadis macam apa sih dia ini, kenapa begitu pendiam?" batin Naruto dalam hati
"Hinata kenapa kau diam sekali ?"
"Eh ? ti tidak Naruto-kun. A aku kan memang dari dulu pendiam, apa Naruto-kun lupa?"
"Apa ada masalah?"
Hinata hanya menggeleng. Hal ini justru membuat Naruto tambah frustasi, ia menarik pelan rambut jabriknya. Ia berpikir bagaimana mungkin ia bisa hidup dengan Hinata yang begitu pendiam, sedangkan dirinya sendiri sangat periang. Ia bisa mati kebosanan kalau begini. Baru hari ini saja, ia sudah bosan bagaimana kalau sudah menikah nanti. Tapi kalau dipikir-pikir, dulu Hinata dan Naruto cukup dekat. Meskipun Hinata itu memang pendiam, tapi Naruto tetap nyaman berteman dengannya dan ia tidak merasa bosan sama sekali. Sampai ia tahu segalanya, semuanya terasa berubah. Entah mengapa ia begitu muak dengan Hinata sejak saat itu. Dan sejak saat itulah hubungan mereka berdua sedikit merenggang bahkan dapat dikatakan mereka seperti orang yang tidak pernah saling kenal.
"Kita mau kemana Naruto-kun?" akhirnya gadis itu membuka suaranya juga
"Aku tidak tahu Hinata, menurutmu kita harus kemana?" Tanya Naruto sambil tetap fokus pada jalanan. Hinata tampak berpikir
"Ah, bagaimana kalau kita ke sekolah saja?" Tanya Naruto bersemangat
"Eh? Ke ke sekolah? Mau ngapain Naruto-kun?" Tanya Hinata bingung
"Yah tidak apa-apa, aku hanya merindukan sekolah kita. Sudah lama sekali aku tidak ke sana. Kau tahu? Masa-masa remaja yang paling aku sukai itu saat masih SMA. Ahahaha"
"Ta tapi Naruto-kun, anak-anak kan masih sekolah jam segini. Nanti kita mengganggu mereka"
"Ah tidak akan. Kau tenang saja Hinata. Lagipula kita akan berada di halaman sekolah kan? Kita tidak masuk ke kelasnya, jadi tidak akan menggangu"
Hinata bukannya tidak mau ke sekolah, hanya saja pergi ke sana bersama seorang Naruto akan membuatnya ingat memori-memori saat SMA dulu terutama tentang Naruto. Dan yang terpenting kejadian waktu itu yang membuatnya harus memendam luka yang begitu lama. Apa Naruto ini tidak sadar bahwa dialah yang menorehkan luka itu? Dia sengaja ingin membuat Hinata terluka lagi atau dia memang benar-benar tidak mengerti perasaan Hinata? Oh Kamishama, tolonglah aku. Batin Hinata dalam hati.
Sesampai di sana, mereka berdua turun. Saat ini mereka berada di halaman sekolah yang terdapat lapangan basket dan lapangan bola vollinya. Naruto terlihat sangat senang bisa melihat sekolahnya lagi. Tiba-tiba ada seorang pria bermasker berjalan mendekat ke arah mereka. Naruto yang menyadarinya langsung berteriak kegirangan seperti anak kecil
"Kakashi sensei !" teriak Naruto
"Naruto? Sedang apa kau dan Hinata di sini?"
"Sensei" Hinata memberi hormat kepada pria bermasker tadi. Kakashi tersenyum dibalik maskernya melihat Hinata yang semakin anggun dan masih sopan sama seperti ia masih menjadi wali kelas mereka. Ya, Kakashi adalah guru Naruto dan Hinata saat SMA dulu. Dan wali kelas mereka saat mereka duduk di tahun kedua di SMA Konohagakure
"Sensei, aku merindukanmu. Aku dan Hinata hanya ingin melihat-lihat sekolah kami yang dulu. Hehe"
"Hem, begitukah?" sedikit lama Kakashi memperhatikan dua murid yang pernah di didiknya itu. Ia tersenyum melihat Hinata telah tumbuh dewasa, muridnya dulu yang begitu pemalu dan cerdas. Sementara Hinata sibuk dengan urusannya sendiri memperhatikan keadaan sekeliling disana, Kakashi menghampiri Naruto.
"Naruto"
"Iya sensei?"
"Kau akan menikah dengan Hinata kan? Jagalah gadis manis itu Naruto, jangan sampai kau menyakitinya. Jika kau menyakitinya, sama saja kau juga menyakiti aku" ujar Kakashi
"Maksud sensei apa?"
"Hinata itu, murid kesayanganku selain Sasuke. Dia gadis yang cerdas. Meskipun tadi aku bilang bahwa Hinata dan Sasuke adalah murid kesayanganku, bukan berarti kau dan teman-temanmu yang lain bukan murid kesayangan ku juga. Sensei sayang pada kalian semua. Melihat hanya kau dan Hinata yang akan menjadi sepasang suami istri, sudah sepantasnya aku memintamu untuk menjaga gadis Hyuga itu. Dia terlalu baik untuk disakiti Naruto. Janganlah karena keegoisanmu akan membuatmu menyesal suatu hari nanti. Ini demi dirimu" Kakashi menepuk pelan pundak Naruto dan ia berjalan menjauh. Tetapi kemudian ia kembali menghampiri Naruto.
"Lihatlah, tidak kusangka dirimu yang jelek ini bisa mendapatkannya. Sangat jauh berbeda dengan dirimu Naruto, lihatlah ia begitu cantik dengan kaos ketat yang membungkus tubuhnya yang indah dan sepan jeans ketat pula. Sangat menunjukkan lekuk-lekuk tubuhnya. Hahaha muridku Naruto yang jelek dan nakal ini ditambah lagi dengan otaknya yang dibawah standar akhirnya menikah dengan murid wanitaku yang bernama Hinata? Seperti yang kita tahu, Hinata itu sang juara umum selain Sasuke dan Shikamaru. Hahahhhaha"
"EUH ! DIAM KAU DASAR GURU MESUM !"
"Maafkan kami nyonya Tsunade" ujar Hinata
"Ya, baiklah aku maafkan. Naruto, jika saja bukan karena Hinata mungkin sulit bagiku untuk memaafkanmu" Naruto hanya diam saja, ia tidak berani mengatakan apapun lagi.
Hinata dan Naruto dalam perjalanan pulang. Mereka saling diam di dalam mobil tersebut, sama seperti saat malam pertama saat makan malam waktu itu. Naruto melirik Hinata sekilas, namun Hinata hanya diam saja ia terlihat fokus melihat jalanan yang ada di depannya
"Hinata, kenapa tadi kau yang meminta maaf? Kau kan tidak melakukan kesalahan apapun. Inikan salahku, kenapa..."
"Tidak apa-apa, ini semua aku lakukan karena aku menyayangi Naruto-kun"
Naruto tampak terkejut atas perkataan gadis anggun disampingnya ini. Ia hendak mengeluarkan suara tapi langsung dipotong oleh Hinata.
"Kau tahu kan Naruto-kun bahwa aku sudah lama menyukaimu dan sampai sekarang rasa itu pun masih ada. Aku tak tahu bagaimana mengusir rasa sukaku padamu. Meskipun kita telah lama berpisah, tapi entah mengapa perasaan itu masih betah hinggap di hatiku dan aku sangat tersiksa akan hal ini. Merindukanmu tiap malam, memimpikanmu agar bisa bertemu di alam nyata. Dan semua itu terjawab sudah. Aku sangat bahagia ketika tahu bahwa pria yang akan dijodohkan dengan ku itu adalah kau. Apa kau tahu bahwa cita-cita ku dari dulu adalah ingin menjadi istrimu suatu hari nanti. Bisa menyambutmu ketika kau pulang kerja, menyiapkan sarapan untukmu, makan malam, menyiapkan pakaian yang akan kau kenakan dan semuanya. Dan ternyata cita-cita ku itu akhirnya kesampaian, meskipun sekarang belum tapi itu akan segera terjadi. Maafkan aku jika ini terkesan egois" tak terasa Hinata mengeluarkan cairan bening di matanya. Segera ia menghapusnya, ia tidak mau terlihat cengeng di depan Naruto. Mendengar ucapan Hinata tadi membuat Naruto diam seribu bahasa, ia tidak tahu harus bicara apa. Diliriknya Hinata, gadis Hyuga itu tengah menangis meski begitu ia berusaha agar tidak menangis. Gadis itu menggigit bibirnya agar suara isakannya tak terdengar. Ingin rasanya Naruto memeluk Hinata tapi ia tidak berani untuk melakukannya. Alhasil sepanjang perjalanan pulang, mereka tetap diam hingga sampai di rumah Hinata.
"Terima kasih untuk hari ini Naruto-kun" Hinata beranjak keluar dari mobil. Namun Naruto menahannya.
"Ya, ada apa Naruto-kun?" Naruto hendak mengatakan sesuatu, namun yang keluar dari mulutnya hanyalah kalimat "ya sama-sama" Mereka berdua saling tersenyum dan Hinata pun sekarang telah benar-benar meninggalkan Naruto sendirian di mobilnya. Sebenarnya untuk menjaga kesopanan, Hinata ingin mengajak Naruto masuk dulu ke dalam rumahnya secara Naruto adalah calon suaminya. Namun ia membatalkan niat itu. Ia masih belum siap untuk menghadapi Naruto lebih lama lagi akibat ucapannya tadi.
Hinata menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya begitu keras. Ia tidak tahu bagaimana bisa ia bicara seperti itu pada Naruto tadi.
"Ayolah Hinata tenang kan dirimu. Kau harus tetap melangkah, jangan menyerah dan cengeng seperti ini" ujar Hinata menyemangati dirinya. Ia berdiri di depan cermin memandangi wajahnya. Di mata lavender itu tersimpan kesedihan. Sedih? Tentu saja ia sedih. Mencintai tanpa dicintai, mengagumi tanpa dikagumi. Cukup lama ia memandangi pantulan wajahnya di cermin. Namun kemudian ia tersenyum.
"Iya Naruto-kun saat ini kau memang tidak menyukaiku, tapi akulah yang akan menjadi istrimu kelak. Mau atau tidak mau, suka atau tidak suka kau akan selalu berurusan denganku. Dan saat itulah akan aku gunakan waktu itu untuk menarik perhatianmu. Ya aku akan membuatmu jatuh cinta kepadaku, akan ku buat kau membalas perasaanku. Meski sulit, tapi aku akan berusaha. Cukup banyak kan kisah orang-orang yang dijodohkan namun pada akhirnya dapat saling mencintai? Ya Hinata, harapan itu masih ada" Ujarnya tersenyum.
Sementara di kediaman Naruto, pria berambut jabrik itu sibuk memikirkan kata-kata Hinata tadi. Ia tidak menyangka bahwa Hinata yang ia kenal pemalu itu berani mengucapkan kata-kata seperti itu tadi. Ditambah lagi ternyata Hinata masih menyukainya. Bagi Naruto, jika Hinata masih menyukainya akan mempersulit baginya untuk membangun rumah tangga dengan Hinata. Hinata mencintainya sedangkan ia sendiri tidak mencintai Hinata sama sekali. Jika saja Hinata tidak menyukainya, Naruto tidak akan kerepotan untuk menjaga perasaan Hinata. Ditambah lagi ucapan Kakashi sensei tadi yang berbicara tentang Hinata. Mengingat apa yang dikatakan guru mesum tadi tentang Hinata, membuat Naruto membayangkan sosok Hinata. Kalau dipikir-pikir, ucapan Kakashi sensei tadi ada benarnya. Hinata yang sekarang jauh lebih cantik dan anggun dibandingkan beberapa tahun silam. Rambut panjangnya yang indah tergerai lurus dan rapi menambah kesan kecantikan di wajahnya. Tubuhnya juga sangat indah, apalagi tadi Hinata memakai kaos ketat jadi sangat memperlihatkan lekuk-lekuk tubuhnya. Membayangkan Hinata yang seperti itu mengeluarkan aura mesum dari Naruto. Hei dia pria normal kan? meski ia tidak mencintai Hinata tetapi jika melihat ada wanita yang seperti itu tentu hasratnya sebagai pria akan muncul.
"Apa apaan aku ini? Kenapa membayangkan Hinata seperti itu? Dasar baka !" Umpatnya. Ia kemudian membuang jauh-jauh pikiran kotor tersebut. Tetapi ucapan Tsunade tadi kembali terngiang di telinganya. "Kau ini Naruto masih saja sama seperti waktu kau sekolah di sini, suka membuat onar. Lihat apa yang kau lakukan tadi, suaramu yang kencang itu membuat konsentrasi belajar murid-murid di sini terganggu. Aku heran kenapa tuan Hiashi mau menyerahkan putrinya kepada orang sepertimu" "kenapa tuan Hiashi mau menyerahkan putrinya kepada orang sepertimu" kalimat itu terus terngiang di telinga Naruto.
"Haa menyebalkan" Naruto bangkit dari sofa dan berjalan ke arah cermin. Ia melihat sejenak wajahnya.
"Ya ampun ternyata aku ini memang keren ya ahahaha" Naruto tertawa sendiri kelakuannya sangat narsis.
"Hem Kakashi sensei itu bilang aku jelek? Enak saja, buktinya banyak wanita-wanita cantik yang menyukai" ujarnya bangga. Namun setelah itu, Naruto menjadi merasa bersalah kepada Hinata. Hinata yang meminta maaf kepada nyonya Tsunade, padahal yang berteriak itu kan dia.
"Ini semua gara-gara Kakashi sensei, akibatnya aku mengucapkan kata-kata itu kan"
Seminggu telah berlalu, hari ini adalah hari pernikahan antara Naruto Uzumaki dan Hinata Hyuga. Banyak sekali tamu-tamu yang diundang. Dimulai dari rekan-rekan Hiashi, rekan-rekan tuan Minato dan nyonya Kushina, teman-teman Hinata dan Naruto serta hampir seluruh penduduk desa Konohagakure. Hinata sangat cantik memakai gaun pengantin. Rambutnya yang panjang disanggul sehingga membuat dirinya semakin cantik. Sedangkan Naruto juga tak kalah keren, ia memakai jas hitam layaknya pengantin pria. Para tamu undangan yang melihat mereka berdecak kagum dan iri. Mereka tampak pasangan yang serasi. Tampan dan cantik, ya begitulah penilaian mereka terhadap Naruto dan Hinata. Di penghujung acara, saat para tamu memberikan selamat atas pernikahan kepada mereka berdua, wali kelas mereka Kakashi sensei pun ikut bergabung. Tak disangka saat Kakashi memberikan selamat pada mereka berdua, Hinata menangis. Ia begitu terharu atas simpati wali kelasnya itu.
Kakashi membisikkan sesuatu ke telinga Hinata. Ia berkata bahwa "Hinata selamat atas pernikahanmu. Sensei sangat gembira kau akhirnya menikah juga dengan pria yang dari dulu kau cintai. Semoga kau bahagia, murid kecilku yang dulu sekarang telah dewasa dan hapuslah kesedihanmu buatlah dia jatuh cinta kepadamu." Hinata begitu terharu senseinya itu bisa mengucapkan kata-kata seperti itu. Ia mengenang kejadian masa lalu yang membuat dirinya dan Naruto seperti ini.
FLASHBACK
Dulu Naruto dan Hinata adalah teman dekat. Naruto duduk di belakang Hinata. Hinata sangat menyukai Naruto. Baginya, Naruto mampu membuatnya tertawa dengan segala kekonyolannya meski terkadang kekonyolannya itu justru membuat orang lain sedikit kesal pada Naruto, namun Hinata begitu menyukainya. Sampai rasa itu semakin besar dan kekaguman berubah menjadi cinta. Hinata duduk sebangku dengan Sakura. Ia sering menceritakan tentang Naruto pada Sakura. Namun cerita itu lewat tulisan saat mereka merasa bosan dengan berbagai mata pelajaran di sekolah. Sakura tidak pernah membocorkan rahasia itu kepada siapa pun. Yang tahu bahwa Hinata menyukai Naruto hanyalah Hinata sendiri dan Sakura. Hinata tidak berharap untuk memiliki Naruto, ia hanya ingin selalu bersama Naruto seperti ini. Tetapi sayangnya akibat ulah mereka berdua yang sering tidak memperhatikan pelajaran dan malah menulis sesuatu di buku yang kemudian ditukar, membuat Naruto penasaran.
Sampai suatu ketika saat pelajaran guru Anko, Naruto kembali membuat kekonyolan yang justru membuat Hinata semakin menyukainya. Dan terjadilah surat menyurat antara Hinata dan Sakura. Naruto yang melihat itu sudah tidak tahan lagi, ia meminta Hinata untuk memberi tahunya. Karena Naruto yang ingin tahu, Sakura tersenyum dan berkata "Tidak boleh, ini urusan wanita". Naruto yang mendengar ucapan Sakura pun tidak puas, ia kembali mendesak Hinata untuk memberitahunya. Tetapi Hinata menolak, ia tidak ingin Naruto tahu. Akibat Hinata yang tidak mau memberitahunya, Naruto memasang ekspresi wajah yang lucu sehingga membuat Hinata tidak tahan untuk menggodanya.
"Kau benar-benar ingin tahu Naruto ? kalau begitu ambilah buku ini kau bisa baca sendiri. Hihihi" ujar Hinata menggoda Naruto.
Naruto pun bereaksi ingin mengambil buku tersebut dari tangan Hinata, namun tidak berhasil karena Hinata hanya menggodanya saja. Dan ketika semua itu berlangsung, tiba-tiba ada Temari yang datang ke kelas mereka. Ia ingin meminjam buku catatan Hinata. Karena dikagetkan oleh Sasuke, Hinata jadi langsung berlari ke luar kelas menghampiri Temari dan membawa buku catatan yang akan dipinjam oleh Temari. Dan buku yang dijadikan surat-menyurat oleh Hinata dan Sakura tertinggal di meja Hinata. Namun sayang, Sakura pun tidak menyadarinya. Melihat buku itu tergeletak begitu saja di meja Hinata, Naruto pun mengambilnya dan ia membaca satu persatu isi buku tersebut. Sehingga Naruto tahu bahwa selama ini Hinata menyukainya.
Ketika Hinata kembali ke kelasnya dan duduk di bangkunya, Sasuke menggodanya dan mengucapkan kalimat "Dia selalu membuat ku tertawa dengan segala kekonyolannya"mendengar kalimat tersebut, Hinata dan Sakura sama-sama terkejut. Dan ketika ia mencari buku tersebut, buku itu ternyata telah berada di meja Naruto dengan posisi terbuka. Sasuke dan Naruto membacanya bersama-sama. Hinata langsung mengambil buku itu, tetapi saat itu Naruto sedang tidak ada di bangkunya. Ternyata ia sibuk bermain dan bernyanyi-nyanyi dengan rombongan Shikamaru, Chouji, dan Lee di belakang. Sejak saat itu, Naruto menjaga jarak dengan Hinata. Ia menjauhi Hinata. Bahkan ia sampai pindah tempat duduk dengan Shikamaru. Jadi semenjak itu, orang yang duduk di belakang Hinata adalah Shikamaru sedangkan Naruto pindah ke belakang duduk dengan Lee.
Hinata sangat malu dan terpukul atas sikap Naruto yang sudah tidak menganggap keberadaannya lagi. Sakura yang merasa bersalah pun meminta maaf pada Hinata karena tidak bisa menjaga buku itu sehingga sampai jatuh ke tangan orang lain apalagi orang itu adalah Naruto sendiri. Namun Hinata sama sekali tidak menyalahkan Sakura, baginya ini bukan salah Sakura tapi salah dirinya yang lengah dalam menjaga buku itu. Lagipula itu adalah hal bodoh menulis isi hatinya di buku itu apalagi ia sempat menggoda Naruto yang membuat pria yang ia cintai itu semakin penasaran.
Sebenarnya Hinata ingin bertanya pada Naruto dan menyelesaikan masalah ini, namun ia terlalu takut. Ia takut jika nanti Naruto semakin membencinya yang membuat dirinya semakin terluka. Hinata sangat ingin berteman lagi dengan Naruto seperti dulu, maka ia berusaha kejadian waktu itu tidak pernah ada. Ia mencoba menyapa Naruto, namun Naruto hanya menjawab "ya" atau "tidak". Naruto berubah menjadi sangat dingin di depan Hinata, kata-kata yang ia ucapkan sangat singkat. Melihat reaksi Naruto yang seperti itu, Hinata pun putus asa, ia tidak berani lagi menyapa Naruto. Jadilah semenjak itu mereka berdua seperti orang yang tidak pernah saling kenal sampai perjodohan itu yang mempertemukan mereka kembali. Bahkan setelah Naruto tahu, ia berpacaran dengan Karin yang membuat Hinata semakin terluka. Naruto sekarang benar-benar menjauhinya. Hinata sangat merindukan tawa Naruto, senyumannya yang hangat dan tentu saja perlakuan baiknya pada Hinata. Sebenarnya Naruto itu sangat baik pada Hinata, ia benar-benar dapat bersikap hangat jika berhadapan dengan Hinata. Bahkan Naruto lebih baik dan lebih perhatian pada Hinata daripada dengan Sakura, padahal mereka sama-sama teman dekat.
Kejanggalan inilah yang membuat Kakashi sensei curiga atas sikap mereka berdua. Akhirnya Kakashi bertanya pada Sakura. Namun gadis itu tidak berani mengatakan yang sebenarnya, ia takut membuat Hinata semakin sedih.
"Ma maaf sensei, aku tidak bisa memberitahu sensei" ujar Sakura waktu itu
"Sakura, kau adalah teman dekat Hinata. Sensei hanya ingin tahu apa yang terjadi antara Naruto dan Hinata. Mereka seperti dalam hubungan yang tidak baik. Siapa tahu aku bisa membuat mereka baikan lagi"Namun Sakura masih tidak menjawab. Dan kebetulan saat itu, Sasuke lewat. Kakashi pun memanggilnya
"Oh, masalah itu. Sudahlah sensei, sensei tidak akan bisa membuat mereka baikan lagi. Si Dobe itu orang yang keras kepala lagipula masalah kali ini berbeda. Tidak bisa diselesaikan begitu saja"kata Sasuke
"Apa yang terjadi Sasuke ?"
"Haa, baiklah jika sensei memang ingin tahu. Hinata menyukai Dobe dan Dobe mengetahuinya. Sehingga ia menjaga jarak dengan Hinata"
Mendengar penjelasan Sasuke, Kakashi tidak bisa membantu apa-apa. Ia tidak bisa ikut campur permasalahan antara dua muridnya itu. Apalagi ini masalah cinta. Tetapi dari sikap Kakashi yang secara tidak langsung memberikan semangat pada Hinata, Hinata akhirnya tahu bahwa senseinya itu mengetahui masalah antara dirinya dengan Naruto. Untunglah di kelas itu yang tahu masalah ini hanya Hinata, Naruto, Sakura, Sasuke, dan Shikamaru. Si Uchiha itu bukanlah orang yang mau membocorkan rahasia temannya. Ia menutup mulut, lagipula ia juga tidak mau membuat Hinat semakin malu atas sikap Naruto. Shikamaru yang diminta Naruto untuk bertukar tempat duduk, menanyakan alasannya dan ia pun juga tutup mulut sama seperti Sasuke.
END FLASHBACK
Hinata menangis mengenang semua itu. Ia memegang dadanya yang begitu terasa sakit. Ingin rasanya ia memukul-mukul dada bidang Naruto. Betapa ia ingin meluapkan semua itu, kekecewaanya pada pria tersebut. Dan sekarang ia berada di samping pria tersebut dalam rangka pernikahannya. Perasaannya bercampur aduk. Sedih, kesal, bahagia, terluka semuanya bersatu. Melihat Hinata yang menangis, Naruto menjadi salah tingkah. Bagaimana tidak semua orang memandangi mereka berdua. Menyadari itu, Hinata berusaha menghapus air matanya dan kembali tersenyum.
"Hinata kau kenapa?" Tanya Naruto
"Tidak apa-apa Naruto-kun, aku hanya terharu" jawab Hinata berbohong.
Namun para tamu undangan menganggap air mata Hinata adalah air mata kebahagiaan. Bahagia akhirnya sekarang ia juga menjadi bagian dari keluarga Uzumaki. Dan Namanya bukan lagi 'Hinata Hyuga' tapi 'Hinata Uzumaki' Mereka ikut bahagia melihat sepasang kekasih tersebut
TBC...
Okay, disini saya mau balas review dari para readers dulu ya ^^
Nameyoonhae
R: Author,mohon chap selanjutx d cptin yah,,,n moga konflikx mkin seru
A : iya, ini udah update ya ^^ dan maaf kalau konfliknya belum seru :)
UzuHi. Toki
R: Update?!
A : iya ini udah update :)
ShinRanXNaruHina
R : Update ge donk minna, law bsa jgn pendek x chap nya xD
A : iya ini udah update :) yang kemarin emang disengaja pendek soalnya mau liat reaksi readers dulu suka atau enggak sama fic ini ^^
Guest
R : Klanjutannya sgera ya... :D
A : yosh ini udah update :D
Paris violette
R : Eyd nya harus diperbaiki ya tapi ini bgs!
Update yaw
A : iya maaf ya, kalau EYD nya masih kacau balau :( arigatou udah kasih masukkan ^^ ini udah update minna
flowers
R : wah... crita.y bagus...
update terus ya... ok _
A : makasih pujiannya ^^. oke ini update :D
Sampai jumpa di chap selanjutnya minna ^^ *lambai-lambai tangan*
