Yuhuuu~ Apa kabar minna san? ^^
The Easy Way chapter 3 update ni :)
readers : tumben cepet update?
author : tugas lagi gak terlalu banyak. hhahaha ^^
Sebelumnya, saya mau ngucapin terima kasih ni buat para readers yang udah kasih masukkan maupun semangat lewat review ^^ benar-benar menyentuh hati saya #eaaaa lebay XD
Terima kasih juga buat yang udah follow nih fic, nungguinnya. Dan terima kasih juga buat silent readers, setidaknya udah mau baca fic ini ^_^
Yaudah, banyak banget bacotan nih author -_- mending langsung baca aja yah :D
Happy Reading~
The Easy Way
Chapter 3
Fanfiction wrote by Uchiha Nisa Chan
Dislaimer : Naruto owns Masashi Kishimoto
WARNING : OOC, AU, Typo bertebaran, EYD gak jelas, dan kesalahan lainnya
Acara pernikahan mereka berakhir dengan sukses. Banyak tamu undangan yang mengucapkan selamat pada mereka berdua dan bahkan ada yang mendoakan agar kedua mempelai itu bisa menjadi keluarga yang bahagia dan dilumuri dengan kasih sayang. Karena acara pernikahan tidak dilangsungkan di salah satu rumah mempelai, maka setelah acara selesai Naruto dan Hinata dibawa ke rumah orangtua Hinata, Hiashi sama. Untuk sementara mereka beristirahat disana, selain itu mereka juga bisa berhubungan erat dengan keluarga dari kedua belah pihak serta kerabat dekat. Lebih tepatnya salam perpisahan Naruto dan Hinata kepada keluarga besar mereka. Karena setelah ini mereka akan hidup bersama di rumah mereka sendiri. Status lajang mereka telah lepas yang resmi menjadi pasangan suami istri.
Ini adalah malam pertama Naruto dan Hinata semenjak melepas status lajang mereka dan tinggal bersama. Sesampainya mereka berdua di rumah, kedua manusia berbeda jenis kelamin tersebut masuk ke kamar tidur mereka. Rumah yang mereka tempati saat ini adalah rumah hasil pembelian Naruto sendiri, bahkan Hinata yang tahu bahwa ini hasil penuh Naruto sendiri ingin ikut membantu untuk membeli rumah tersebut. Awalnya Naruto menolak tetapi Hinata bersikeras karena kelak ia akan menempati rumah itu juga. Dan jadilah mereka berdua membelinya. Rumah itu lumayan besar, memiliki dua lantai. Ada tiga kamar tidur di rumah ini. Satu kamar tidur mereka berdua yang terletak di lantai atas. Dan dua lainnya dijadikan sebagai kamar tamu. Yang mana satu dilantai atas bersebelahan dengan kamar Naruto dan Hinata dan yang lainnya di lantai bawah dekat dengan ruang kerja Naruto. Yang membuat cukup luas adalah dapur dan ruang tamu serta halamannya yang dipenuhi dengan bunga-bunga cantik. Jika dilihat dari luar, rumah mereka berdua terlihat sangat hijau.
"Na Naruto-kun"
"Ya?"
"Apa Naruto-kun mau mandi duluan? Atau biar aku yang duluan?" Tanya Hinata tidak bisa menutupi rasa gugupnya. Bagaimana tidak, saat ini mereka hanya berdua di kamar.
"Kau duluan saja Hinata-chan, aku masih ingin beristirahat sejenak" kata Naruto sambil menyandarkan punggungnya di sofa.
"Eh? Chan? Naruto-kun memanggil namaku dengan suffiks 'chan'? Tanya Hinata heran.
"Ya, memangnya kenapa? Tidak boleh hah?" kata Naruto dengan matanya yang tetap terpejam
"Ti tidak. Boleh kok Naruto-kun" tanpa ba-bi-bu lagi Hinata langsung menuju ke kamar mandi.
Hinata telah selesai mandi. Ia keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit tubuhnya. Aroma shampoo dan sabun menyeruak menusuk indra penciuman Naruto. Sehingga mau tidak mau, ia membuka matanya mencari sumber aroma tersebut. Pemandangan pertama yang ia lihat adalah Hinata yang tengah tersenyum menghadapnya.
"Naruto-kun, sekarang giliran Naruto-kun untuk mandi. Aku telah selesai, ayo bersihkan tubuh Naruto-kun. Setelah itu kita baru bisa makan malam" kata Hinata sambil tersenyum ke arah Naruto.
Namun sayang, tidak ada tanggapan apa-apa dari Naruto. Ia sama sekali tidak menggerakkan tubuhnya untuk berdiri ataupun membuka mulutnya untuk menanggapi ucapan Hinata.
"Na Naruto-kun?"
Setelah beberapa saat, Naruto tersadar dari lamunannya
"Eh? I iya Hinata-chan, aku segera mandi" sama seperti Hinata tadi, tanpa ba-bi-bu lagi Naruto langsung bergegas menuju kamar mandi.
Melihat tingkah Naruto yang tidak seperti biasanya, Hinata pun menjadi bingung dan penasaran akan sikap Naruto barusan.
NARUTO POV
Aku masih saja termenung di kamar mandi ini. Tanpa berniat sama sekali untuk membuka bajuku atau menyentuh air di bak. Bayangan Hinata tadi terus terlintas di benakku. Ini adalah malam pertamaku bersama seorang wanita. Dan belum sampai beberapa jam saja, aku telah disodorkan dengan pemandangan seperti itu? Yah, bagaimana tidak menggoda ku. Istriku itu hanya menggunakan handuk saja untuk membungkus tubuhnya. Kulit putihnya yang mulus terekspos mataku. Aku berpikir apakah Hinata sengaja menggoda ku agar aku segera menidurinya? Sehingga setelah itu aku benar-benar menjadi miliknya seutuhnya. Bukankah itu adalah hal yang ia inginkan sejak dulu bukan?
END NARUTO POV
Sementara Naruto mandi, Hinata sibuk menyiapkan makan malam untuk mereka berdua. Tangan mungilnya terampil menata hidangan di atas meja. Namun, selang beberapa saat Hinata menepuk pelan jidatnya yang tidak lebar. Ia lupa menyiapkan baju untuk Naruto malam ini. Sebagai istri, sudah sepantasnya ia melayani suaminya. Hinata pun bergegas berlari ke kamar mereka. Ia langsung membuka lemari pakaian Naruto dan mengambil pakaian yang cocok untuk suaminya tersebut. Dan tak lama kemudian Naruto selesai mandi. Ia keluar dari kamar mandi dengan air yang masih menetes di rambut jabriknya. Melihat Naruto berpenampilan seperti itu membuat pipi Hinata merah seperti tomat. Ia benar-benar gugup melihat Naruto bertelanjang dada menampakkan otot-otot perutnya. Tubuh suaminya ini ternyata sangat atletis. Sama halnya dengan Naruto, ia sangat terkejut melihat Hinata berpakaian sangat seksi. Naruto menjadi sulit bernapas namun ia langsung mengontrol dirinya. Hinata memakai gaun putih pendek yang sangat tipis sehingga bagian dalam Hinata agak sedikit terlihat.
"Na naruto-kun, pakaian untuk Naruto-kun malam ini ada di atas kasur ya" kata Hinata gugup. Hinata pun hendak pergi, namum ditahan Naruto.
"Kau mau kemana?" Tanya Naruto
"Ke dapur Naruto-kun. Kita harus makan malam, memangnya Naruto-kun tidak lapar?" Tanya Hinata sambil tersenyum
"Oh begitu, baiklah aku akan menyusul nanti" jawab Naruto
Sesampainya Hinata di dapur, ia kembali gugup dan menarik pelan gaunnya. Meski tadi Naruto bisa mengontrol dirinya, namun tetap saja ekspresi terkejut Naruto sempat tertangkap olehnya.
"Tuh kan" katanya lirih.
Lagian Ino-chan sih kenapa mesti ikut campur urusan pakaiannya? Selama ini temannya itu tidak pernah terlalu ikut campur urusannya. Namun kali ini ia sangat bersemangat memilihkan gaun untuk Hinata. Mentang-mentang Hinata sudah menikah. Tadi Hinata protes pada Ino melalui telepon perihal gaun seksi ini. Bagaimana tidak? Tidak ada pakaian yang bisa menutupi auratnya. Semua pakaian yang ada di lemarinya ternyata gaun malam yang seksi semua. Tetapi Ino malah membela dirinya dengan mengatakan bahwa ia justru membantu mereka. Hal itu akan memudahkan Naruto untuk membuat anak. Jadi mau tidak mau ia harus memakainya daripada ia telanjang. Dan besok Hinata baru bisa meminta Hanabi untuk membawakan pakaiannya. Selain itu Hinata juga takut kalau Naruto berpikiran ia sengaja memakai gaun seksi tersebut untuk menggodanya padahal tidak sama sekali.
Naruto menuruni tangga rumahnya menuju dapur tempat istrinya berada. Aroma masakkan menerobos masuk ke lubang hidungnya, membuat dirinya semakin lapar. Hinata telah menunggunya di meja makan. Ia tersenyum ke arah Naruto.
"Naruto-kun, ayo kita makan" katanya sambil tersenyum dan menyedok nasi untuk Naruto. Naruto hanya diam, ia menatap istrinya tersebut dengan pandangan datar. Merasa diperhatikan, Hinata mengangkat wajahnya.
"Ada apa Naruto-kun?" Tanya Hinata heran
"Kau begitu ramah" jawab Naruto dingin dan langsung menyedok nasi tanpa menghiraukan nasi yang telah disiapkan oleh Hinata.
Melihat sikap Naruto yang seperti itu, Hinata terdiam beberapa saat. Namun tak lama kemudian ia berkata.
"Aku ramah? Tentu saja aku harus ramah padamu Naruto-kun karena kau adalah suamiku"
Naruto hanya diam, tidak memberi tanggapan. Ia tahu betul bahwa gadis di hadapannya ini sangat mencintainya meski cinta itu bertepuk sebelah tangan. Seperti janji Hinata pada dirinya sendiri sebelum ia menikah, ia akan membuat Naruto membalas perasaannya. Meski ia tidak tahu apakah itu berhasil, namun ia tetap mencoba. Dan cara Hinata untuk mendapatkan perhatian Naruto adalah bersikap ramah padanya, selalu sabar apapun yang akan dilakukan Naruto terhadapnya dan yang paling utama ia harus menjadi istri yang baik meski kedudukannya bukan sebagai istri yang dicintai tapi mencintai. Tidak banyak obrolan yang terjadi di antara mereka. Hinata yang memang pendiam jadi kurang bisa memancing obrolan. Tapi bukan berarti ia tidak bisa. Obrolan yang terjadi ketika mereka makan tadi dimulai dari Hinata, ia berusaha untuk mencairkan suasana. Entah mengapa setelah menikah Naruto menjadi sedikit lebih dingin dan cuek kepada Hinata. Ia hanya menanggapi Hinata dengan perkataan "ya" atau "hem" atau bahkan hanya mengangguk. Seperti 'De Javu' kejadian waktu itu terulang kembali. Saat Naruto tahu segalanya, sikapnya berubah pada Hinata. Hal ini sedikit membuat hati Hinata teriris. Ia menjadi tidak mood untuk makan. Ia hanya mengaduk-aduk nasinya saja.
"Aku sudah selesai Hinata-chan" kata Naruto memecah keheningan.
Hinata pun menoleh. "Na naruto-kun sudah selesai? Aku juga sudah selesai kok" kata Hinata tersenyum
"Hem"
Hinata telah selesai membereskan meja makan dan mencuci piring. Ia melihat Naruto sedang menonton televisi. Ingin rasanya ia duduk disamping Naruto dan menemaninya menonton acara tv kesukaannya. Namun niat itu ia batalkan. Mengingat Naruto yang sepertinya tidak mau berada di dekatnya. Hinata takut jika ia terlalu memaksa, Naruto akan semakin membencinya. Jadi ia langsung ke kamar. Sebenarnya Hinata agak sedikit bimbang, jika ia duduk disana bersama Naruto, takutnya Naruto berpikiran yang macam-macam apalagi melihatnya berpakaian seperti itu. Dan khawatir Naruto akan semakin membencinya karena berusaha menggodanya.
"Ini semua gara-gara Ino-chan" batinnya dalam hati.
Seandainya saja ia memakai pakaian yang sedikit lebih sopan, mungkin Hinata akan lebih berani untuk duduk disana. Selain itu ia juga malu pada Naruto. Betapa tidak, Naruto adalah pria pertama yang melihatnya berpenampilan seperti itu. Jujur saja sebenarnya Hinata agak risih dengan gaunnya tersebut.
Hinata sedang menatap sendu pantulan dirinya di cermin. Ia tidak tahu ia harus bahagia atau sedih atas pernikahannya ini. Kemudian ia menatap gaun yang sedang dipakainya. Astaga ternyata gaun itu sangat seksi. Mengekspos kulit putihnya yang mulus. Hinata kemudian mencari sesuatu yang bisa menutupi tubuhnya seperti jaket atau sweater misalnya. Saat Hinata sedang membongkar-bongkar lemarinya, tiba-tiba Naruto datang.
"Kau sedang apa Hinata?" Tanya Naruto keheranan.
Sontak saja, Hinata yang sedang fokus terkejut mendengar suara tersebut.
"Ah, Na naruto-kun aku sedang tidak…. Emm emm" Hinata bingung mencari-cari alasan.
"Kalau tidak ada yang penting, jangan membuang-buang waktumu seperti itu. Lebih baik kau cepat tidur sekarang" Kata Naruto sambil berjalan menuju kasur mereka.
DEG
Inilah yang membuat Hinata gugup. "WAKTUNYA TIDUR".
"Na naruto-kun duluan saja, aku masih mau duduk disini" kata Hinata
"Sudah ayo ke sini" Naruto menarik tangan Hinata dengan paksa. Akibatnya Hinata terdorong dan terbaring di atas kasur. Lantas Naruto pun menindihnya
"Na naruto-kun mau apa?" Tanya Hinata gugup. Wajahnya sudah merah padam seperti kepiting rebus.
"Aku mau apa?" Tanya Naruto balik.
"Aku mau meminta jatahku" jawab Naruto sambil tersenyum mesum (?)
"Eh? Ja jatah? Jatah apa Naruto-kun?" Tanya Hinata yang mulai cemas.
"Ayo kita melakukan hal yang seharusnya dilakukan oleh sepasang suami istri" jawab Naruto kemudian.
"Apa? Kau bercanda? Jangan menggodaku Naruto-kun" Hinata berusaha memposisikan tubuhnya untuk duduk. Namun lengan Naruto yang kekar dan menahannya membuat dirinya tidak bisa bergerak sama sekali.
"Aku menggodamu? Sebenarnya siapa yang justru sedang berusaha menggoda disini? Bukankah itu kau Hinata-chan?"
"A aku tidak pernah menggoda Na naruto-kun sama sekali"
"Lantas apa motifmu memakai gaun seperti ini hah? Bukankah ini yang kau inginkan?" Tanya Naruto sarkatis.
"I ini bukan kemauanku Naruto-kun. Yang memilihkan gaun ini adalah Ino-chan dan aku tidak tahu sama sekali mengenai hal ini".
"Hem, Ino?"
"I iya"
Naruto menghela nafas sebentar, kemudian ia berkata.
"Baiklah aku tidak peduli dengan siapa yang memilihkan gaun ini untukmu, yang jelas hasratku sebagai lelaki telah muncul"
Hinata hendak mengeluarkan suara, namun Naruto segera memotongnya.
"Kita ini kan pengantin baru, sudah selayaknya dong kita melakukan hal 'itu' pada malam pertama. Iya kan?"
Naruto hendak mencium Hinata, namun Hinata segera mendorong tubuh Naruto sekuat tenaga. Naruto hendak protes.
"Apa apaan kau ini? Kau menolakku hah?"
"Maaf Naruto-kun, tapi malam pertama hanya dilakukan oleh sepasang kekasih yang saling mencintai" kata Hinata.
"Lalu?"
"Kita berdua tidak begitu" kata Hinata kemudian sambil menundukkan wajahnya.
Naruto menghela nafas. Ia tidak menyangka bahwa ia akan ditolak oleh Hinata.
"Jadi aku harus bagaimana? Kau yang sudah membuatku seperti ini. Aku ini pria dewasa, tidak peduli wanita itu cantik atau tidak jika ia berada satu kamar dengannya tetap saja hasrat seorang pria akan muncul"
"…"
"Apa kau tidak tahu bahwa pria itu bisa tidur dengan wanita mana saja meski bukan dengan wanita yang dicintainya? kau harus mengerti pria".
"Aku tahu Naruto-kun, ini memang sulit bagimu. Tapi aku hanya ingin pria pertama yang menyentuhku adalah pria yang mencintaiku dengan tulus"
Naruto membuka mulutnya hendak bersuara, namun kemudian ia batalkan. Sejujurnya ia tidak tahu harus bicara apa.
"Ha aku ngantuk, aku mau tidur" Naruto membaringkan tubuhnya membelakangi Hinata.
"Kau juga cepat tidur, ini sudah malam. Apa kau tidak capek akan pesta pernikahan hari ini?"
Hinata tak bergeming. Ia masih saja duduk di atas kasur seperti tadi. Naruto melirik sebentar, namun kemudian ia memejamkan matanya pura-pura tidur. Selang beberapa menit kemudian,
"Kau tidak mau tidur Hinata-chan?" Tanya Naruto
"Aku tidak akan tidur malam ini" kata Hinata
"Terserah kau saja!" Naruto mulai kesal dengan Hinata
Hampir satu jam berlalu, Naruto yang mulai naik darah segera mengibas selimutnya dengan kasar.
"Sampai kapan kau mau berdiam diri seperti itu hah?" Tanya Naruto geram
"Kalau Naruto-kun mau tidur, tidur saja tidak usah hiraukan aku"
"Sudah ayo cepat tidur, ini sudah lewat tengah malam Hinata" Naruto menarik paksa lengan Hinata.
"Lepaskan aku" Hinata memberontak
"Kau ini kenapa? Lihatlah wajahmu itu kau terlihat begitu lelah" kata Naruto yang hampir frustasi.
"A aku tidak apa-apa"
"Sudahlah ayo cepat tidur, aku tidak mau menjadi suami yang kejam karena membiarkan istrinya tidak tidur semalaman"
"Tapi kau berjanji tidak akan menyentuhku kan?" kata Hinata was-was.
"Ha? Apa? Jadi kau menahan kantukmu dari tadi hanya karena aku akan menyentuhmu?" Tanya Naruto heran
Hinata hanya mengangguk menanggapi pertanyaan Naruto.
"Ya ampun Hinata kau itu istriku, meski aku melakukannya tidak akan ada yang protes dan tidak akan ada yang berpihak padamu. Lagipula jika aku mau memaksamu, mudah saja bagiku untuk melakukannya dari tadi. Tubuhku jauh lebih kuat darimu"
"Jadi kau tidak akan memaksaku kan?"
"Iya tidak akan"
"Janji?"
"Iya iya, aku tidak sebrengsek yang kau kira"
Hinata tersenyum.
"Aku tidak berkata kalau Naruto-kun brengsek kok" katanya sambil tersenyum.
"Na naruto-kun?"
"Apa?"
"Selimutnya untuk aku saja ya, sejujurnya aku merasa tidak nyaman dengan gaun ini"
"Hem, ya terserah kau saja"
Mereka berdua pun tertidur bersamaan.
Saat ini jam dinding di kamar mereka menunjukkan pukul 05.00 a.m. Hinata telah bangun duluan, ia menoleh ke arah Naruto. Dilihatnya suaminya itu tertidur dengan pulas. Wajahnya terlihat begitu damai. Iris biru sapphirenya tak terlihat oleh Hinata. Kulitnya yang berwarna tan dan rambut pirang jabriknya membuat hati Hinata benar-benar merasa damai. Hinata ingin sekali menyentuh wajah pria yang sangat dicintainya itu, mengelusnya dengan lembut. Namun, Hinata takut Naruto akan terbangun akibat ulahnya.
"Hm, aku ini gadis bodoh. Aku tak mengerti mengapa hatiku begitu damai saat melihat wajahmu Naruto-kun. Tidak sadarkah kau akan hal ini? Aku mohon mengertilah perasaanku". Air hangat mengalir dari kedua mata lavender tersebut. Hinata pun kemudian bangun dan meninggalkan Naruto sendirian yang masih terlelap tidur.
Hinata tak henti-hentinya melihat ke arah tangga rumah mereka dengan cemas. Sepertinya suaminya itu belum bangun. Padahal ia harus berangkat kerja. Akhirnya Hinata putuskan untuk membangunkan suaminya tersebut.
"Naruto-kun ayo bangun" kata Hinata sambil mengguncang-guncangkan tubuh Naruto dengan pelan.
Namun pria berambut jabrik tersebut tak kunjung bangun. Naruto memang sulit dibangunkan. Hanya kaa-sannya lah yang paling jago dalam membangunkan Naruto lewat suaranya yang menggema tersebut.
Hinata kembali membangunkan Naruto, namun kali ini ia sedikit lebih kuat mengguncangkan tubuh suaminya tersebut. Sesekali ia menepuk pelan pipi Naruto. Sekarang posisi wajah Hinata sedikit lebih dekat dengan Naruto agar ia bisa mendengar suara Hinata.
Naruto mengerjap-ngerjapkan matanya, ia merasa ada sesuatu yang menggelitik di wajahnya. Maka dibukanyalah kelopak matanya tersebut dan spontan Hinata yang melihat Naruto sudah bangun langsung menjauhkan wajahnya dari Naruto. Pipinya merah padam. Ternyata sesuatu yang menggelitik wajah Naruto tadi adalah rambut Hinata.
"Hinata-chan, kenapa wajahmu merah?"
"Tidak tahu Naruto-kun"
"Apa kau tadi mencoba untuk membangunkan aku?"
"Iya"
"Rambutmu membuatku geli, itulah yang membuatku terbangun tadi"
"Maafkan aku Naruto-kun, aku tidak akan mengulanginya lagi"
Naruto bangun dan langsung menuju kamar mandi. Hinata hanya mampu melihat punggung Naruto dari belakang yang semakin tak terlihat ketika sepenuhnya ia sudah masuk ke kamar mandi.
Karena Hinata telah selesai memasak, maka ia dengan setia menunggu Naruto sampai suaminya tersebut selesai mandi. Ia duduk di meja makan dengan tenang. Tak beberapa lama kemudian, ada suara seseorang di tangga. Hinata pun menoleh dan ternyata itu adalah Naruto. Hinata segera berdiri untuk menyambut suaminya tersebut.
"Naruto-kun sudah selesai?" Tanyanya sambil tersenyum.
"Iya"
"Ayo kita sarapan dulu" ajak Hinata dengan riang.
Tak butuh waktu lama, acara sarapan mereka telah usai. Dan sekarang Naruto bersiap-siap untuk berangkat kerja. Hinata segera menyusul Naruto yang telah mendahului naik tangga menuju kamar mereka. Dengan sigap Hinata segera memasangkan dasi untuk Naruto. Ketika Hinata hendak mengalungkannya ke leher Naruto, Naruto malah menolaknya dengan mengatakan "biar aku saja". Naruto segera menjauh dari Hinata, ia menghampiri cermin di kamar mereka. Setelah Naruto selesai memasangkan dasinya dan berbalik kembali menghadap Hinata, ternyata Hinata masih berdiri disana menunggunya dengan membawa tas koper Naruto. Naruto pun mendekat ke arah Hinata yang tengah tersenyum ke arahnya dan ia pun mengambil tas yang berada di genggaman Hinata.
"Kau tak perlu melakukannya" kata Naruto.
Naruto segera keluar untuk pergi. Hinata pun mengikutinya dari belakang.
"Naruto-kun"
"Ya?"
"Ini" Hinata menyodorkan sekotak bento pada Naruto.
"Ini apa?" Tanya Naruto kebingungan.
"Itu makan siang Naruto-kun, agar Naruto-kun..."
"Tidak perlu"
Hinata terdiam.
"Aku bisa makan di luar, jadi kau tak perlu repot-repot menyiapkannya untukku".
"Tapi..."
"Aku bilang tak perlu Hinata-chan. Aku tidak membutuhkannya" Kata Naruto menatap tajam ke arah Hinata.
Hinata segera tertunduk.
"Baiklah, aku pergi" kata Naruto kemudian.
"I iya. Semangat kerjanya ya Naruto-kun". Kata Hinata sambil tersenyum pada Naruto.
"Hem"
Hinata masih memperhatikan sosok Naruto yang semakin pergi jauh dengan mobilnya. Semakin Naruto jauh, semakin pula Hinata tak mampu menahan kesedihannya. Air mata yang sedari tadi ditahannya agar tidak keluar, kini mengalir dengan deras di pipinya yang mulus. Ia sedih karena ia merasa tidak bisa menjadi istri yang baik bagi Naruto-kun. Bahkan hanya sekedar untuk mengantarnya pergi kerja. Memakaikan dasi, membawakan tas, dan menyiapkan makan siang untuk Naruto semuanya sia-sia. Pria itu menolaknya. Ia benar-benar terluka sekarang atas sikap Naruto.
"Hei teme, kenapa kau ada di ruang kerjaku? Bukankah kau..."
"Apa sih dobe, temanmu pulang ke Konoha bukannya malah disambut"
"Temee, aku merindukanmu" Naruto langsuk memeluk Sasuke.
"Dobe, lepaskan. Apa apaan kau ini"
"Kau ini teme, sama sekali tidak berubah. Huh. Kenapa kau tidak bilang kalau mau pulang?"
"Hn"
"OY TEMEE, AKU BERTANYA!"
"Heh kecilkan volume suaramu itu. Kau berisik sekali Dobe"
"Aku ada cuti beberapa minggu, jadi aku putuskan untuk pulang" kata Sasuke kemudian.
"Oh begitu"
"Maaf aku tidak bisa menghadiri acara pernikahanmu dobe"
"Ahahaha tak apa teme, aku mengerti. Kau masih banyak urusan kan"
"Hn. Bagaimana hubunganmu dengan Hinata?"
"Tak banyak yang berubah, sama seperti dulu"
"Aku benar-benar tidak menyangka kau akan menikah dengannya dobe"
"Entahlah ini semua gara-gara perjodohan ini"
"Mulai sekarang kau harus bisa menerimanya"
"Ya, aku tahu, aku akan berusaha meski sulit"
"Bagaimana malam pertama kalian? Apa Hinata-chan terlihat manis?"
Naruto yang mendengar pertanyaan konyol Sasuke langsung memuntahkan teh yang sedang diminumnya ke baju Sasuke.
"DOBE!" Sasuke menatap tajam ke arah sahabatnya tersebut.
"Huaaa temeee. Sebenarnya apa salahku? Kenapa hidupku begitu malang?" Ujar Naruto sambil memasang wajah sedih.
"Memangnya kenapa?"
"Hinata menolakku saat malam pertama"
"..."
"Huaahhahahaha" Sasuke tertawa mendengar keluhan sahabatnya tersebut.
"Iss teme"
"Seorang Naruto ditolak oleh Hinata?" Tanya Sasuke keheranan.
"Hem. Ia tidak mau disentuh oleh pria yang tidak mencintainya dengan tulus. Ia hanya mau melakukannya apabila kami telah sama-sama saling menyukai".
"..."
"Aku bisa gila kalau begini. Malang benar kan nasibku. Sudah tidak bisa memilih pasangan hidup sendiri, menikah dengan wanita yang tidak dicintai, dan bahkan disaat aku telah menikah, aku tidak bisa melakukan 'itu'. Jadi aku bisa melakukannya kapan? Menunggu sampai aku mencintai Hinata-chan? Atau melakukannya dengan wanita lain? Hah, itu terdengar brengsek. Kalau begini caranya kan sama saja dengan pria yang belum menikah. Sejujurnya aku penasaran dengan 'itu' dan aku tidak akan memiliki keturunan. Lalu apa tujuan ku menikah?" Gerutu Naruto panjang lebar.
Hidung Sasuke berkedut mendengar keluhan Naruto.
"Dasar mesum".
"Heh, seperti kau tidak saja".
"Haha terserah kau saja"
Sasuke menuju ke arah pintu.
"Kau mau kemana teme?"
"Aku mau keluar, tidak baik jika aku terus berada disini. Kau tidak akan bekerja dobe" Ujar Sasuke.
Hari sudah menunjukkan pukul 08.00 a.m. Hinata sedang menanti kepulangan suami tercintanya. Ia duduk di sofa ruang keluarga. Sejujurnya perutnya sudah lapar, namun ia tetap menanti Naruto. Tepat pukul 08.30 a.m ada suara mobil memasuki halaman rumah mereka.
"Itu pasti Naruto-kun"
Hinata segera menuju pintu untuk menyambut Naruto. Senyuman terukir di wajah cantiknya tatkala melihat sang suami telah keluar dari mobil. Wajahnya telihat lelah.
"Selamat datang Naruto-kun" ujar Hinata ramah dengan senyuman yang tak lepas dari wajahnya.
"Hinata-chan" Naruto tersenyum sekilas.
Hinata segera mengambil tas koper Naruto. Namun kali ini Naruto tak menolak seperti pagi tadi. Ia membiarkan istrinya itu melakukan apa yang dia mau. Setelah Naruto mandi dan menyegarkan badannya, Hinata mengajak Naruto untuk makan malam.
"Naruto-kun, ayo kita makan"
"Tapi aku sudah makan Hinata-chan, kau makan saja sendirian" ujar Naruto yang sekarang sibuk dengan laptopnya.
"Ah begitukah?" Ujar Hinata cukup kecewa.
Hinata membereskan meja makan. Rasa lapar di perutnya entah hilang ke mana. Sirna begitu saja.
"Sepertinya pekerjaan Naruto-kun sangat banyak ya" kata Hinata yang terus memperhatikan Naruto. Namun Naruto tidak menanggapinya sama sekali. Saat ini Hinata sedang duduk dan menemani Naruto di ruang kerjanya.
"Naruto-kun apa ingin aku buatkan minuman?" Tanya Hinata menawarkan diri.
"Hem, terserah kau saja"
"Baiklah tunggu sebentar Naruto-kun" Hinata tersenyum.
Beberapa menit kemudian Hinata kembali ke ruang kerja Naruto.
"Ini Naruto-kun, diminum ya"
"Terima kasih"
Hinata masih memperhatikan suaminya tersebut yang masih berkutat dengan laptopnya.
"Naruto-kun, sebaiknya Naruto-kun istirahat sekarang"
"Tidak bisa Hinata-chan, masih banyak yang belum aku selesaikan. Dan semua ini harus sudah selesai untuk meeting besok pagi"
"Aku mengerti Naruto-kun, tapi aku harap jangan terlalu memaksakan diri Naruto-kun seperti itu. Nanti Naruto-kun sakit"
"Hoaaaamm"Hinata menguap.
Naruto melirik sekilas, kemudian berkata
"Kalau kau sudah mengantuk kau tidur saja sana. Tidak usah menungguku"
"Naruto-kun.."
"Aku serius Hinata, aku tidak butuh itu. Dengan adanya kau disini tidak berpengaruh apa-apa bagiku" ujar Naruto dingin.
Hinata hanya bisa terpaku mendengar perkataan suaminya.
"Saat ini aku sedang tidak memiliki seorang sekretaris yang bisa membantu pekerjaanku. Jadi semuanya aku sendiri yang mengerjakan itulah mengapa tugasku begitu banyak".
"Kenapa Naruto-kun tidak mencari sekretaris baru?"
"Aku sudah meminta Shino mencarikannya untukku, namun sejauh ini belum ada yang cocok bagiku dan ia belum memberi kabar apapun lagi. Jika aku telah menemukan sekretaris yang bisa ku andalkan, aku tidak akan sesibuk ini lagi. Dan aku harap besok aku telah menemukan orangnya".
"Aku harap begitu Naruto-kun" ujar Hinata tulus.
"Sekarang kau tidurlah"
"…"
"Lakukan sekarang Hinata, ini perintah" ujar Naruto tegas.
Dengan berat hati, Hinata beranjak meninggalkan Naruto. Sebenarnya ia sangat ingin berada disana menunggu sampai Naruto selesai karena kebersamaan dengan Naruto adalah kebahagiaan tersendiri baginya. Namun apa boleh buat jika Naruto sudah tegas seperti itu.
Hari ini pagi-pagi sekali Naruto sudah berangkat kerja lantaran adanya meeting pagi ini. Dan Hinata sebagai sang istri dengan sabar dan setia melayani suaminya tersebut. Meski sikap Naruto tak jauh berbeda dengan kemarin. Ya, masih dingin. Seolah tidak menganggap bahwa Hinata adalah istrinya. Bahkan ia menganggap bahwa Hinata adalah orang lain yang mengganggu kehidupannya.
Tidak terasa meeting tersebut bisa dilalui oleh Naruto dan rekan kerjanya dengan lancar. Meski ada sedikit hambatan, namun bisa dilewati oleh mereka. Shino memasukki ruang kerja Naruto sebelum telah mengetuknya terlebih dahulu. Ia memberitahu bahwa Naruto telah mendapatkan sekretaris seperti yang diinginkannya. Mendengar kabar baik tersebut, Naruto segera meminta Shino untuk menyuruh sekretaris barunya tersebut menemuinya.
Tidak butuh waktu yang lama, sekarang pintu Naruto telah diketuk oleh seseorang lagi dari luar. Naruto pun memerintahkannya untuk masuk. Namun alangkah terkejutnya Naruto ketika melihat orang yang masuk ke ruangannya tersebut. Ekspresi yang sama juga terlihat dari wajah orang tersebut. Mereka sama-sama bungkam dan saling menatap satu sama lain.
TBC
Okay, saatnya membalas review dari para readers ^^
Guest :
R : Siapa bilang yg cantik itu belum tentu menarik,itukan perasaan mu saja."teriak naruto..
Eh..yg penting happy sambung sitti nurbaya..tetap semangat..LANJUTKAN
A : Hahahaha. Oke akan dilanjutkan :D
Hm :
R : update lg authorsan..
Ceritanya seru xD
A : Seru? Aww terima kasih atas pujiannya ^^
Dewieka :
R : update lagi dongg seru nihh
A : Iya, ini udah update kok ^^
Algojo :
R : Ditunggu chap selanjutnya :)
A : Terima kasih udah mau nunggui fic ini J
Ayuzharinta :
R : chapter kali ini bikin terharu :'( *gk bisa menahan tangisan lebih lama*
cepet-cepet lagi ya buat chapternya :) biar makin terharu
A : *kasih tisu* awas ingusnya meler XD
:
R : lanjutannya jangan lama2 ya? Penasarannnn
A : Akan diusahain untuk update kilat, mohon bersabar ya ^^
Guest :
R : bagusnya,jadi terharu
A : Terima kasih atas pujiannya ^^
NHL :
R : UPDATE KILAT ya author San
A : Diusahain untuk update kilat ^^
Bye bye~ sampai ketemu di chap selanjutnya ^^
*lambai-lambai tangan*
