Yuhuuu~ Apa kabar minna san? ^^
Gomen ne, ficnya telat dua bulan. Akhir-akhir ini banyak deadline :^)
Cuman selalu berharap, fic ini gak membosankan. Jujur aja, Nisa takut loh kalau fic ini membosankan dan gak muasin hati para readers T.T
Tapi, Nisa tetep lanjutin fic ini kok walau ngaret. Soalnya pasti ada readers yang tetep mau baca karya jelek Nisa.
Arigatou ne T.T #cium :*
Happy Reading~
The Easy Way
Chapter 4
Fanfiction wrote by Uchiha Nisa Chan
Dislaimer : Naruto owns Masashi Kishimoto
WARNING : OOC, AU, Typo bertebaran, EYD gak jelas, dan kesalahan lainnya
Naruto masih tidak dapat mempercayai apa yang dilihatnya saat ini. Kehadiran sosok yang sangat dirinduinya ini benar-benar mengagetkannya. Sementara orang tersebut masih menatap Naruto dengan ekspresi terkejut. Selang beberapa menit kemudian…
"Naruto-kun" akhirnya kata itu keluar dari mulut kecilnya.
Naruto tidak dapat mempungkiri bahwa ini benar-benar nyata, ia tidak sedang bermimpi. Maka ia langsung berlari memeluk sosok tersebut.
"Karin-chan, aku sangat merindukanmu" kata Naruto memeluk Karin dengan erat.
Karin melepas pelukan Naruto.
"Naruto-kun, ini kantor jangan lakukan disini"
"Kita dulu sering melakukannya di kelas" kata Naruto santai
"Iya tapi kan dulu kita masih pacaran" jawab Karin malu
"Apa harus sekarang aku memintamu untuk menjadi kekasihku lagi agar kau mau ku peluk disini?" ujar Naruto
Tetapi kemudian ia teringat pada Hinata, teringat bahwa ia sekarang telah menikah dan mempunyai istri. Maka setelah itu Naruto mengalihkan pembicaraan
"Apa yang kau lakukan di kantorku Karin-chan? Apa kau mencariku?"
"Aku sekretaris baru tuan muda di kantor ini dan aku diminta untuk ke ruangan ini" kata Karin polos
Naruto tersenyum "Akulah tuan muda yang kau maksud Karin-chan"
"Be benarkah? Berarti mulai sekarang aku akan bekerja denganmu Naruto-kun" kata Karin tersenyum manis pada Naruto membuat Naruto ingin sekali menyentuh wajahnya.
"Aku tidak menyangka bahwa aku akan bertemu lagi denganmu Karin-chan"
Karin hanya tersenyum menanggapi perkataan Naruto
"Aku sangat merindukanmu"
"…"
"Sudah lama sekali aku tidak bertemu denganmu. Pertemuan kita terakhir ketika acara kelulusan sekolah. Dan kau pergi begitu saja tanpa pamit padaku padahal banyak sekali yang ingin aku katakan padamu saat itu"
"Naruto-kun bukan saatnya membicarakan hal ini"
Naruto menatap Karin. Dari tatapan mata Naruto, terlihat bahwa pria itu sedang terluka. Maka Karin menjadi tidak enak hati.
"Naruto-kun bagaimana nanti siang kita makan bersama?"
"Baiklah kalau itu yang kau mau"
Karin tersenyum.
"Baiklah aku siap untuk bekerja. Apa yang harus kulakukan tuan Uzumaki?" Tanya Karin dengan ekspresi lucu berusaha mencairkan suasana yang sempat tidak enak tadi. Melihat wajah Karin seperti itu membuat Naruto tidak tahan untuk tidak tertawa dan ia pun mencubit pipi Karin dengan gemas.
"Aww sakit Naruto-kun, kau selalu saja mencubit pipiku" kata Karin ngambek sambil menggembungkan pipinya membuat wajahnya semakin terlihat lucu. Inilah salah satu dari sekian banyak yang Naruto sukai dari diri Karin.
"Baiklah, lalu aku harus memanggilmu apa? Tuan Uzumaki kah?" Tanya Karin
"Naruto saja, tidak usah pakai tuan-tuan segala dan jangan lupa suffiks 'kun' nya" kata Naruto tersenyum pada Karin.
"Hahaha kau ini" Karin meninju pelan perut Naruto.
"Hei jangan main-main denganku. Ingat, aku adalah bosmu ya" kata Naruto terkekeh
Ohh cukup sudah, mereka tertawa begitu gembira seolah saling melepas rasa rindu satu sama lain. Sementara Hinata masih sedih akibat ulah Naruto belakangan ini yang seolah tidak pernah menganggap bahwa ia adalah istrinya. Sementara Hinata di tempat kerjanya, raut wajahnya tentu saja terlihat murung. Tenten yang duduk bersebrangan dengannya pun menanyakan hal tersebut. Kakak iparnya tersebut khawatir melihat Hinata yang terlihat begitu murung dan gelisah.
"Hinata-chan, ada yang bisa saya bantu?" Tanya Tenten tersenyum
Mendengar seseorang yang menyebutkan namanya, Hinata mendongak untuk melihat siapa orang tersebut.
"Aku tidak apa-apa" kata Hinata tersenyum tulus
"Jangan bohong padaku, aku tahu kau sedang ada masalah. Ingat Hinata, sekarang aku bukan hanya sekedar temanmu tapi sekaligus kakak iparmu juga. Namun baiklah jika kau tak bisa mengatakannya sekarang, tapi jika kau ingin bercerita suatu hari nanti, jangan sungkan" kata Tenten lagi sambil tersenyum
"Te terima kasih Nee-chan"
Hinata pun berusaha kembali ke pekerjaannya, ia tidak ingin hanya karena masalah ini membuatnya melupakan tugasnya sebagai seorang karyawan di kantornya. Tidak lama kemudian, Ino dan Temari masuk ke ruangan mereka. Ya, biasa mereka sesama karyawan disini.
"Eh Hinata-chan, sejak hari pernikahanmu aku jarang berbincang-bincang denganmu. Bagaimana hubunganmu dengan Naruto? Apa malam pertama kalian berjalan lancar? Hihihi" Tanya Ino jahil.
"Apa Naruto memuaskan ketika melakukannya? Hahaha" sambung Temari yang tak mau kalah.
Tentu saja ini membuat Hinata sweetdrop. Ia sama sekali belum pernah melakukannya. Meski usia pernikahan mereka telah 2 bulan lebih, namun sampai sekarang Naruto tidak pernah menyentuhnya. Namun, ditanyai seperti ini membuat ia malu sekaligus sedih juga. Teringat bahwa pada saat malam pertama mereka hampir saja melakukannya.
"Wah wah, berarti sebentar lagi Hinata-chan akan menjadi seorang ibu dong?" ujar Temari bersemangat.
"Tentu" kata Ino lagi
"Hinata-chan, apa kau sudah merasakan tanda-tandanya?" Tanya Ino sumringah
"Eh? Tanda-tanda apa Ino-chan?" Tanya Hinata gugup.
"Itu, tanda-tanda akan mendapat momongan" jawab Ino lagi.
"Be belum Ino-chan" jawab Hinata tertunduk.
"Ahh, belum ya? Hahaha tidak apa-apa jangan khawatir, lagipula kalian kan baru menikah 2 bulan jadi wajar saja jika belum ada tanda-tandanya" kata Temari menenangkan.
"Tapi aku yakin, sebentar lagi Hinata-chan akan merasakannya. Apalagi waktu itu kan gaun Hinata sangat seksi, pasti Naruto beringas melakukannya" Ino terkikik geli.
Mendengar itu semua, membuat Hinata tertunduk lemas. Ia tidak tahu kapan ia bisa merasakan tanda-tanda tersebut. Ingin rasanya ia menangis. Munafik jika ia tidak menginginkan sentuhan Naruto. Waktu itu, Hinata mati-matian menahannya. Sebenarnya ia sangat ingin melakukannya dengan Naruto, menyerahkan dirinya seutuhnya pada suaminya tersebut. Namun ia masih bisa berpikir rasional, ia tidak mau jika Naruto tidak tulus melakukannya tetapi hanya dibakar nafsu saja. Seperti yang diketahui kan, bahwa Naruto tidak mencintai Hinata. Melihat Ino dan Temari yang terus tertawa, membuat Tenten jengkel.
"Kalian berdua berhentilah menggoda Hinata-chan, dia pasti malu baka!" kata Tenten ganas.
Mendapat tatapan deathglare dari Tenten, membuat mereka berdua diam seribu bahasa. Tak berani lagi melanjutkan kegiatan mereka. Dan mereka pun kembali ke ruangan mereka masing-masing. Setelah mereka berdua keluar, Hinata pun ikut keluar. Ia hendak ke toilet. Ia ingin menangis sebab ia tidak bisa menahan air matanya lebih lama lagi. Beginilah cara Hinata meluapkan kesedihannya jika sedang berada di kantor, ia akan pura-pura ingin buang air kecil padahal untuk menangis. Hinata berlari menuju toilet, namun siapa sangka ternyata ada seseorang yang sedang memperhatikannya sekarang.
Jam makan siang tiba, Naruto menatap malas sekotak bento yang disiapkan Hinata pagi tadi. Tentu saja ia tidak berniat memakannya apalagi ia akan pergi makan siang dengan Karin. Mereka berdua memasuki sebuah restoran mewah di kawasan dekat kantor Hinata. Entah sengaja atau tidak, tetapi yang meminta untuk makan siang disini adalah Karin. Namun tentu saja Karin tidak tahu bahwa restoran ini dekat dengan kantor Hinata apalagi Karin pun juga tidak mengetahui bahwa Naruto sudah menikah dengan Hinata. Hinata dan Tenten yang memang suka makan siang disini pun melihat mereka berdua. Tentu saja Hinata sangat terkejut. Hatinya seperti teriris pisau yang tajam sekarang. Kekasih masa lalu suaminya saat ini sedang berada di dekat suaminya, sedang makan siang bersama lagi. Apalagi tadi pagi Hinata telah menyiapkan sekotak bento untuk Naruto.
"Hinata-chan, itu Naruto kan? Sedang bersama siapa dia?" Tanya Tenten polos
"Aku tidak tahu, mungkin rekan kerjanya" jawab Hinata berusaha untuk tetap bersikap tenang.
"Mengapa tak kau hampiri saja dia?" Tanya Tenten lagi
"Aku rasa tidak perlu, Naruto-kun itu tidak suka diganggu"
"Diganggu? Memangnya kau mengganggunya? Kau kan istrinya" kata Tenten lagi
"Eh bukan maksudku, mungkin saja kan saat ini Naruto-kun sedang membicarakan bisnisnya walau sambil makan siang. Aku takut jika aku ke sana hal itu akan mengganggunya"
"Oh begitu, yasudah lanjutkan makan siang kita" kata Tenten sambil menyuap makanannya.
Sejak melihat kedatangan kedua orang tersebut, Hinata menjadi tidak bernafsu makan. Ia hanya mengaduk-aduk nasinya saja dari tadi sambil sesekali melirik kedua orang tersebut.
"Karin, kenapa dia hadir di tengah-tengah kami?" batin Hinata sedih.
Hinata sudah pulang sejak sore tadi. Namun suaminya itu belum menampakkan batang hidungnya sama sekali. Ia hampir selesai memasak, tinggal menambahkan bumbu-bumbu tambahan saja sebagai penyedap. Dan tak beberapa lama kemudian hidangan telah tersaji di atas meja. Sementara menunggu kepulangan suaminya, Hinata duduk di ruang tengah. Duduk sendirian tanpa ada sesuatu yang bisa dikerjakan, membuatnya teringat kejadian tadi siang saat melihat Naruto dan Karin bersama. Ia menutup wajahnya dan menunduk. Bayangan-bayangan masa lalu antara Karin dan Naruto terbesit di ingatan Hinata. Dimana saat mereka sedang bercumbu mesra, berpelukan, semuanya terlintas jelas di benak Hinata. Hinata sangat takut Naruto akan meninggalkannya. Rasa sakit di dadanya pun kembali menyerangnya. Ia masih belum bisa mengontrol dirinya untuk melupakan kejadian tersebut, sampai ia tidak menyadari bahwa suaminya tersebut sudah pulang dan memperhatikannya.
"Kau kenapa?" Tanya Naruto datar.
Suara itu refleks membuat Hinata mengangkat wajahnya.
"Eh? A aku ti tidak apa-apa Naruto-kun. Ah iya kau sudah pulang? Maaf, aku tidak menyadari kepulanganmu Naruto-kun" kata Hinata menyesal.
"Tidak apa-apa" kata Naruto lagi.
Tidak beberapa lama kemudian, Naruto dan Hinata sedang makan malam bersama. Hinata yang masih memikirkan kejadian siang tadi menjadi gelisah. Ia pun bertanya pada Naruto meski awalnya ia sempat ragu, namun ia tidak bisa berdiam diri saja.
"Na naruto-kun, boleh aku bertanya?" Tanya Hinata gugup
"Ada apa?" kata Naruto yang masih sibuk dengan makanannya
"Apa kau bertemu lagi dengan Karin-chan?"
Mendengar pertanyaan Hinata, membuat Naruto kaget.
"Darimana ia tahu? Padahal baru hari ini aku bertemu kembali dengan Karin" batin Naruto.
Naruto pun bengong melihat Hinata. Hinata yang bisa membaca pikiran Naruto pun segera membuka suara kembali.
"Tadi siang aku melihatmu makan siang bersama dengannya"
"Oh itu. Hal yang seperti itu tidak usah terlalu kau pikirkan" kata Naruto sambil berusaha tersenyum.
"Aku tidak bisa. Tentu saja aku tidak bisa untuk berpura-pura mengabaikan masalah ini"
"Sebenarnya apa yang kau masalahkan? Aku dan dia hanya makan siang bersama, tidak lebih"
"Sekarang yang tidak lebih, mungkin saja kan suatu hari nanti hubungan kalian menjadi spesial"
"Ha! Jadi kau cemburu?" Tanya Naruto sarkatis
"Iya, iya Naruto-kun" kata Hinata yang hampir menangis
Naruto menghela nafas sejenak.
"Kau takut aku akan meninggalkanmu?" Tanya Naruto.
Hinata pun mengangguk.
"Kurasa aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Mengingat kaa-san yang begitu menyayangimu dan terkesan terlalu berharap banyak atas perjodohan ini. Jadi kau tidak perlu takut, aku akan selalu berada disisimu"
"Kau berpikir bahwa aku begitu bahagia dengan kau yang selalu berada disisiku?"
"Ya, tentu saja. Memang begitu bukan?"
"Percuma jika kau berada disisiku namun di hatimu tidak ada aku sedikit pun"
"Lalu aku harus bagaimana agar membuatmu bahagia? Asal kau tahu aku tidak menginginkan ini terjadi namun aku juga tidak bisa membohongi perasaanku sendiri"
Hinata meneteskan air mata menghadapi kenyataan yang tengah dideranya. Ia benar-benar sedih seolah-olah ia tidak pantas untuk mendapatkan cinta dan kasih sayang. Hinata menggigit bibir bawahnya.
Sudah pukul 00.00 a.m tepat. Hinata masih saja gelisah di tempat tidurnya. Ia benar-benar tidak bisa memejamkan matanya barang sejenak pun meski sudah berulang kali dicobanya. Ia pun keluar dari kamar dan menuruni tangga lalu menuju halaman belakang rumahnya. Hinata malah membukanya dan berdiam diri disitu sembari memandangi kelamnya langit. Hinata merasa kedinginan, ia mengusap-ngusap pergelangan tangannya namun tak ada niat sedikit pun baginya untuk kembali ke kamar. Tiba-tiba ada seseorang yang memakaikannya jaket, Hinata menoleh ke belakang. Dilihatnya mata biru safir itu tengah menatapnya sayu kentara sekali bahwa mata itu sedang menahan kantuk. Ametheist bertemu dengan biru safir.
"Naruto-kun!" seru Hinata
"Apa yang kau lakukan Hime?" Tanya Naruto
"Aku tidak bisa tidur Naruto-kun"
"Berdiam diri disini bukan solusi untuk membuatmu menjadi ngantuk melainkan justru membuatmu sakit. Ayo masuk, udara disini sangat dingin" Naruto menarik tubuh Hinata ke dalam dan mengajaknya kembali ke kamar tidur mereka. Naruto kemudian membuatkan Hinata segelas teh hangat.
"Minumlah, ini akan membuatmu sedikit lebih hangat" Naruto menyodorkan gelas teh tersebut.
"Te terima kasih Naruto-kun" Hinata menyeruput teh tersebut.
"Kenapa Naruto-kun menyusulku?"
"Aku terbangun, ketika aku bangun aku tidak melihatmu berada disampingku, makanya aku mencarimu"
Hinata membuka mulut kecilnya hendak bertanya lagi perihal mengapa Naruto mencarinya. Namun niat itu dibatalkannya. Ia sudah sangat senang Naruto mengkhawatirkannya. Jarang-jarang kan Naruto bersikap lembut seperti ini padanya, jadi ia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Hinata pun tersenyum kecil dan bersemu merah pertanda bahwa ia sangat bahagia.
Hinata mengitari sebuah pusat perbelanjaan di Konoha, ia sedang mencari tokoh yang menjual isi polaroid. Ia juga berjalan sangat santai sambil melihat-lihat sekeliling disana. Senyuman terukir di wajahnya. Ketika sedang asik jalan-jalan, Hinata tak sengaja melihat orang yang dikenalinya. Ia pun berhenti untuk memastikan siapa orang tersebut.
"Naruto-kun…"
Air mata merembes dari mata kiri Hinata. Ia langsung berlari tanpa mempedulikan ocehan orang lain yang ditabraknya. Hinata tak peduli, saat ini yang ingin ia lakukan hanya ingin pergi dan menghindar dari Naruto dan Karin. Karena berlari yang terlalu kencang ditambah lagi tidak melihat jalanan dan air mata yang mengalir deras dipipinya, Hinata menabrak sebuah gerobak penjual buah. Akibatnya buah-buahan tersebut jatuh semua dan hancur. Hinata juga terjatuh, lututnya terluka mengalir darah segar. Sang pemilik gerobak pun marah-marah pada Hinata dan meminta ganti rugi. Hinata yang terlalu sedih hanya bisa diam mendengar ocehan pemilik gerobak buah tersebut. Ia hanya bisa menangis dan mengeluarkan kata "maaf". Pemilik gerobak buah tersebut meminta ganti rugi karena banyak buahnya yang rusak. Namun uang Hinata tidak cukup untuk menggantinya, memang hari ini ia tidak banyak membawa uang apalagi tadi ia juga telah membeli isi polaroid. Namun pemilik gerobak tersebut tidak mau tahu dan tetap meminta ganti rugi sekarang juga.
"Berapa total ganti ruginya?" kata seorang pria secara tiba-tiba. Sang pemilik mengatakannya dan langsung dibayar oleh pria tersebut. Setelah itu orang-orang yang menyaksikan kejadian tersebut berangsur pergi. Pria itu menghampiri Hinata dan mengambil tas Hinata yang ikut terjatuh dan menuntun Hinata untuk duduk di tempat yang lebih layak dibanding tengah jalan ini.
Hinata terus menangis, ia juga tidak mengerti mengapa air matanya ini tidak mau berhenti juga. Apa karena melihat Karin yang bergelayut manja di pundak Naruto sambil memeluk lehernya atau karena pemilik gerobak buah tadi ia juga bingung.
"Lukamu lumayan parah" kata orang yang menolong Hinata tadi. Ia pun menghisap darah di lutut Hinata. Tentu saja perlakuannya tersebut membuat Hinata kaget, ia hendak menolak namun orang tersebut terlanjur menempelkan mulutnya di lutut Hinata. Setelah bersih, ia pun mengambil sapu tangan yang ada di kantongnya dan mengikatnya di lutut Hinata.
"Sudah selesai!" kata pria tersebut sambil tersenyum pada Hinata
"Te terima kasih"
"Hei kenapa kau masih menangis? Sudah tidak apa-apa. Kau tenang saja ya"
Mendengar ucapan orang tersebut membuat Hinata semakin menangis.
"Kenapa jadi tambah deras?" kata pria tersebut heran
"Kau lebih cantik jika tersenyum, ayo senyum" kata orang tersebut sambil memamerkan senyumannya dengan lebar buat memberi contoh pada Hinata. Hinata pun tersenyum.
"Gerobak buah..."
"Tidak apa-apa, uangnya kan bisa kau ganti lain kali" kata pria tersebut sambil tersenyum.
"Ah iya, terima kasih banyak. Aku tidak tau bagaimana caranya membalas kebaikanmu"
"Tentu saja kau harus membalas kebaikanku" kata orang itu lagi
Hinata menatap lurus orang yang berada di hadapannya ini.
"Kau mau tahu caranya?"
Hinata pun mengangguk.
"Baiklah, kau hanya cukup tersenyum dan jangan nangis lagi ya? Sudah itu saja"
Cukup lama mereka saling menatap satu sama lain, sampai akhirnya pria itu menghapus air mata Hinata yang masih mengalir di pipinya.
"Kau mau pulang? Rumahmu di mana? Ayo aku antar kau pulang"
"Eh? Tidak usah kau sudah banyak membantuku, aku hanya tidak ingin merepotkanmu"
"Tapi aku tidak merasa direpotkan"
"Tidak usah, terima kasih"
"Kau mau pulang sendirian dengan kaki yang seperti itu? Memangnya bisa?"
"Bisa kok" Hinata tersenyum.
"Sudah, ayo ikut aku" pria itu menarik tangan Hinata.
Di perjalanan pulang, di mobil pria tersebut. Ternyata pria tersebut tipikal pria yang humoris dan dia juga sangat baik. Berulang kali Hinata tersenyum bahkan tertawa mendengar leluconnya.
"Ehh, kalau boleh tahu kenapa kau tadi menangis? Apa kau ada masalah?" Tanya pria tersebut hati-hati.
Namun Hinata hanya diam. Mendapat respon yang seperti itu, tentu saja ia mengerti bahwa gadis disampingnya ini tidak bisa menceritakan masalahnya begitu saja apalagi dengan orang yang baru ia kenal. Maka ia pun mengalihkan pembicaraan.
"Daritadi kita hanya mengobrol tapi belum kenalan, ehheehe. Baiklah siapa namamu nona?"
"Hyuga Hinata. Kau sendiri?"
"Inuzuka Kiba"
"Oh" Keduanya pun saling tersenyum.
"Jadi ini rumahmu ya? Besar sekali. Orang tuamu seoarang pengusaha?" Tanya Kiba
"Tidak, ayahku seorang dokter. Lagipula ini bukan rumah orangtuaku"
"Jadi rumah siapa?"
"Suamiku yang membelinya" jawab Hinata
"Kau sudah menikah?" Kiba terkejut
"Ya begitulah"
"Mendengar bahwa kau sudah menikah, terus terang saja aku sangat terkejut. Ngomong-ngomong apa suamimu tidak marah melihat kau diantar oleh seorang pria?" Tanya Kiba sambil melirik ke dalam rumah Hinata.
"Tidak, tenang saja. Dia tidak akan marah kok"
"Oh begitu, baiklah" kata Kiba sambil terkekeh
"Oh ya, sekali lagi terima kasih Kiba-kun telah banyak membantuku"
"Iya tidak apa-apa. Sekarang masuklah ke rumahmu, aku akan melihatmu dari sini"
"Tidak perlu sampai segitunya kok"
"Hei, aku harus memastikan bahwa aku mengantarmu sampai ke rumah dengan keadaan yang selamat. Hehe"
Hinata tersenyum.
"Baiklah aku masuk dulu ya Kiba-kun, da da" kata Hinata sambil melambaikan tangannya.
Lambaian tangan Hinata hanya dibalas senyuman dari Kiba. Namun senyuman tersebut adalah senyuman tulus yang penuh persahabatan.
TBC
Akhirnya kelar juga #lapkeringat #fiuh
Chapter 4 sampai disini dula ya minna, jujur Nisa kehabisan inspirasi loh. Gak tau mau diapakan lagi alur ceritanya ini -,-
Okeee saatnya membalas review :^)
Guest :
R : Lanjut lanjut lanjut lanjut lanjut,,,penasaran nih,, update kilat donk,,
:D :D :D
A : Iya tetep dilanjutin maaf telat 2 bulan gak bisa update kilat Gomen
Guest :
R : () () ayo lanjut,,penasaran nih,,ayam yg penasaran aja bisa mati lho,,,
*eh
A : O_o ?
Algojo :
R : Penasaran, sapa th skertaris s Naru?! '-'
A : Liat aja di chapter 4 ^^
Ayzhar :
R : heu sedih :') , author jahat sampai-sampai air mata keluar *lebay* supaya author ku maafkan , aku minta jatah chapter-chapter berikutnya :)) mana author yang baik hati?
A : Disini ^^ *acungin jempol*
Soputan :
R : Malam pengantin yang gagal..seru,asik,.moga ada persoalan cinta..biar sedikit..ada gangguan cinta,..tentang hasrat naruto..?..apa bisa tersalur..hehehe...lanjutkan,cepat ya..! Ini perintah..
soputan..
A : Kalau harus ada hasrat berarti harus diganti rated M dong hehehe
Nitya-chan :
R : ditunggu Chap selanjutnya author
A : Terima kasih
mey-chan :
R : duhh, kasian eh hinatanya. :(
A : Iya, hiks T.T
Fany HiRu :
R : Lanjut... Di tunggu ya chapter s'lnjutnya
A : Okeee (y) arigatou ne
Guest :
R : mmmmmmmmmmmpppppppppppppppp kerenn (terkesan)
A : Arigatou ^^
