The Easy Way

Chapter 5

Fanfiction wrote by Uchiha Nisa Chan

Dislaimer : Naruto owns Masashi Kishimoto

WARNING : OOC, AU, Typo bertebaran, EYD gak jelas, dan kesalahan lainnya

Happy Reading~

NB : Yang gak suka segera tinggalin aja fic ini (^.^)

Hinata memasukki rumahnya, rumah itu masih sepi dan kosong. Suaminya belum pulang ternyata. Ia menghidupkan lampu dan menuju kamar tidur mereka di lantai atas. Membersihkan tubuhnya yang dirasanya cukup tidak nyaman setelah seharian beraktivitas. Selesai mandi, Hinata segera menuju dapur. Ya, waktunya menyiapkan makan malam sebentar lagi suaminya yang dingin tersebut akan pulang. Meski begitu, namun Hinata tetap saja tidak bisa membencinya bahkan hari ke hari rasa sayangnya semakin menjadi-jadi seiring kebersamaannya dengan Naruto. Selang beberapa waktu kemudian masakan Hinata telah tersaji di atas meja makan. Menu utamanya adalah "Okonimiyaki" ditambah makanan tambahan lain seperti takoyaki dan soba. Tidak ada makanan pencuci mulut yang special, yang ada buah-buahan saja.

"Ah Naruto-kun sudah pulang?" Ujar Hinata terkejut dengan kedatangan suaminya yang tiba-tiba

"Aku sudah berulang kali memanggilmu dan memencet bel, kenapa bisa tidak dengar?" Tanya Naruto heran

"Ben…"

"Aromanya sedap sekali, aku segera mandi perutku sudah lapar"

"Ah iya Naruto-kun, cepat kesini ya" kata Hinata tersenyum.

Beberapa menit kemudian Naruto turun dari tangga dan segera duduk di hadapan Hinata yang menyambutnya dengan senyuman.

"Baiklah ini makanan Naruto-kun. Ini okonimiyaki, aku baru mendapatkan resep barunya. Ayo segera dicicipi"

"Baiklah" Naruto pun memakannya sementara Hinata menunggu reaksi suaminya tersebut.

"Bagaimana rasanya Naruto-kun?"

"Ini sangat enak Hime, kau benar-benar pandai memasak" Hinata tersenyum mendengar pujian suaminya.

"Setelah ini, Naruto-kun istirahat ya besok kan libur"

"Iya baiklah" kata Naruto sambil tetap melanjutkan makan malamnya yang menurutnya sangat enak.

Setelah mereka makan malam, Hinata membereskan dapur seperti biasa sementara Naruto sudah menghilang dari dapur. Saat Naruto mau turun tangga untuk kembali ke dapur mau mengambil minum, ia melihat Hinata sedang duduk di anak tangga. Maka ia pun lebih mendekat untuk mengetahui apa yang sedang dilakukannya. Ternyata Hinata sedang mengobati luka di kakinya gara-gara insiden tadi siang. Melihat itu, tentu saja mendatangkan wajah cemas Naruto walau hanya sekilas. Namun ia tidak langsung menghampiri istrinya tersebut yang sedang menahan rasa perih. Cukup lama diperhatikannya sambil berpikir apa yang terjadi pada Hinata. Mengapa ia tidak mengatakan padanya, bahkan ia malah bersikap biasa-biasa saja seolah tidak ada masalah dan masih bisa tersenyum di hadapannya. Maka dari itu, Naruto pun segera menghampiri Hinata.

"Ada apa dengan kakimu?"

"Na naruto-kun" kata Hinata gugup. Ia segera menundukkan wajahnya

"Apa yang terjadi?" Tanya Naruto lagi. Kini posisi Naruto sama dengan Hinata, karena ia pun berjongkok untuk melihat lebih jelas luka yang ada di kaki istrinya tersebut.

"Tidak apa-apa, tadi aku hanya terjatuh Naruto-kun"

"Coba kulihat" Naruto pun membantu mengobati luka Hinata

Hinata memperhatikan wajah suaminya yang sedang mengobati luka di kakinya. Biru sapphire itu lagi-lagi menyejukkan hatinya. Tangan Hinata terulur menyentuh wajah dihadapannya. Merasa ada yang menyentuh pipinya, Naruto mengangkat wajahnya. Mereka pun saling berpandangan cukup lama. Tak dipungkiri jantung Hinata berdetak lebih cepat. 1 menit 2 menit, setelah itu Naruto langsung mengalihkan pandangannya.

"Sudah cukup ku obati, lukamu tidak terlalu parah. Namun lain kali harus hati-hati." Naruto berbalik meninggalkan Hinata

"Naruto-kun…" Merasa dirinya dipanggil, Naruto menghentikan langkahnya namun ia tetap membelakangi Hinata.

"Terima kasih"

Naruto terkejut karena Hinata memeluknya dari belakang. Namun kemudian ia meraih pergelangan tangan Hinata yang melingkar di perutnya dan melepaskannya lalu beranjak pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Hinata menatap punggung pemuda tersebut sampai menghilang di tembok.

"Hinata? Kenapa kau senyum-senyum sendiri?"

"Ah tidak apa-apa" ujar Hinata tersipu malu.

Tentu saja, disaat jam kerja ia malah kembali memikirkan apa yang dilakukan suaminya tersebut malam tadi. Senang? Tentu saja dia senang. Walau sikap Naruto masih sedikit acuh padanya, namun setidaknya Naruto sudah mulai menunjukkan kepeduliannya padanya. Setidaknya sikapnya tidak seperti menganggapnya tidak ada dan orang yang tidak ia kenal seperti dulu. Tidak menyapanya sama sekali.

Hinata berdiri di pinggir jalan menunggu lampu merah menyala. Sebuah mobil berhenti tepat di depan Hinata. Sang pemilik membuka kaca.

"Kiba-kun" ujar Hinata terkejut yang diikuti dengan senyum sumringahnya.

"Mau ikut denganku?" Kiba menawarkan

Hinata pun mengangguk lalu ia masuk ke dalam mobil milik Kiba.

"Kau sudah makan Hinata-chan?"

"Belum, sebenarnya tadi aku mau ke restoran untuk makan siang"

"Kalau begitu kebetulan, aku juga mau makan siang. Apa kau mau makan siang bersamaku?"

"Kau ini apa-apaan sih Kiba-kun. Tentu saja aku mau" Hinata tersenyum.

Di sebuah restoran, Kiba dan Hinata duduk bersama. Mereka mulai memesan makanan. Kiba ternyata tipe orang yang periang, dia juga sangat baik. Mereka berdua saling tersenyum dan tertawa. Melihat Kiba yang periang dan kocak seperti ini, membuat Hinata ingat pada suaminya tersebut. Dulu sebelum Naruto tahu perasaan Hinata, Naruto adalah orang yang kocak yang selalu berhasil membuatnya tertawa. Sebenarnya sampai sekarang pun Naruto masih kocak karena itu memang sifat aslinya namun tidak untuk Hinata. Ketika sedang asik menikmati makanan mereka diiringi dengan obrolan yang terus berlanjut, sepasang mata tengah memperhatikan mereka. Awalnya saat pertama melihat, orang tersebut menujukkan keterkejutannya namun ekspresi tersebut berubah menjadi ketidaksukaan dan berlanjut sampai sekarang.

Pertemuan Hinata dan Kiba tidak berhenti sampai disana. Kiba mengantar Hinata pulang malam ini. Pertemanan mereka sepertinya semakin erat.

"Dari mana saja kau?" sebuah suara keluar saat Hinata sudah menginjakan kaki di dalam rumahnya.

"Naruto-kun?!"

Naruto melirik ke luar jendela memastikan bahwa orang yang mengantar Hinata pulang sudah pergi.

"Tidak biasanya Naruto-kun pulang duluan" ujar Hinata

"Bukankah tadi aku bertanya padamu?"

"Aku tidak dari mana-mana Naruto-kun. Dari kantor aku langsung pulang kok"

"Lalu siapa pria yang bersamamu siang tadi?"

"Eh? Naruto-kun.."

"Aku melihatmu tadi makan siang disana saat aku bersama Sasuke. Sepertinya kau terlihat bahagia sekali" ujar Naruto mengejek

"Oh, namanya Kiba-kun, dia.."

"Kun? Kau memanggilnya dengan suffiks 'kun'? apa sedekat itu hubungan kalian hem?"

"Naruto-kun ini bicara apa? Kami hanyalah teman"

"Kuperingatkan padamu, bahwa kau itu sudah menikah. Jika orang lain melihat kau berduaan dengan pria lain selain aku, apa tanggapan mereka? Pasti mereka berpikiran yang macam-macam"

"Naruto-kun sendiri sering pergi berduaan sama Karin. Kenapa aku tidak boleh hah?" suara Hinata mulai sedikit meninggi

"Aku dan Karin itu rekan kerja. Dia adalah sekretarisku, jadi wajar saja kalau aku sering pergi berdua dengannya. Hubungan kami hanyalah sebatas pimpinan dan bawahannya. Lalu bagaimana denganmu? Apa kalian juga rekan kerja? Kurasa di kantormu tidak ada orang yang bernama Kiba-kun" ujar Naruto menekankan pada kata 'Kiba-kun'.

"Kenapa Naruto-kun jadi marah-marah sih? Sudahlah aku lelah, aku mau istirahat"

"Aku belum selesai bicara!" Naruto menarik pergelangan tangan Hinata

"Lepaskan aku!" Hinata menghentak lengan Naruto sehingga genggaman itu pun terlepas dan Hinata langsung berlari ke kamarnya.

Naruto melamunkan sesuatu di meja kerjanya. Ia masih memikirkan pertengkarannya dengan Hinata kemarin. Rasa kesalnya pun masih belum hilang apalagi Hinata tidak meminta maaf malah membantahnya. Tak dipungkiri ia sangat kesal melihat Hinata bersama pria yang dilihatnya kemarin. Seperti tidak rela istrinya tersebut malah dekat dengan pria lain. Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu ruang kerjanya.

"Masuk" ujar Naruto dari dalam

Seorang gadis cantik masuk ke ruang kerjanya.

"Ini laporan yang kau minta Naruto-kun"

"Arigatou Karin-chan" ujar Naruto tersenyum

"Ada apa denganmu hari ini? Sepertinya kau sedang tidak bersemangat"

Naruto hanya diam saja, ia malah memalingkan wajahnya dan pura-pura memeriksa laporan yang diberikan Karin tadi.

"Apapun masalahmu jangan terlalu dipikirkan. Aku tidak mau kau malah jatuh sakit akibat terlalu banyak pikiran"

Naruto menatap Karin sebentar lalu membuang muka kembali.

"Pulang nanti apa kau mau menemaniku jalan-jalan?"

Naruto terlihat berpikir sejenak.

"Ayolah Naruto-kun" ujar Karin merengek.

"Baiklah"

Sementara di tempat lain, Hinata memikirkan Naruto. Ia merasa bersalah telah bersikap seperti itu pada suaminya tersebut.

"Apa yang aku lakukan? Kenapa aku malah membuatnya menjadi marah? Kalau begini Naruto-kun akan semakin membenciku" batin Hinata. Ia terlihat sangat gelisah sekarang. "Aku harus minta maaf padanya" Hinata pun mengambil handphone miliknya lalu mengirim pesan pada Naruto.

To : Naruto-kun

"Naruto-kun, bisakah malam ini kita makan diluar saja? Ada yang ingin aku bicarakan. Aku tunggu di tempat biasa"

DELIVERED kata tersebut terpampang di layar hp miliknya. "Baiklah tinggal menunggu balasan darinya" ujar Hinata.

Naruto membaca pesan singkat dari Hinata. Ada rasa ingin menemuinya, namun yang terjadi ia malah mengabaikan pesan tersebut. Andai saja Hinata mengirim pesan tersebut dari tadi sebelum Karin mengajaknya pergi, tentu ia menyanggupi permintaan Hinata. Tetapi sayang sekali. Semua itu sudah terlambat. Naruto juga tidak mau mengecewakan Karin jika ia tiba-tiba pulang dan menemui Hinata.

Hinata menunggu Naruto dengan setia, walau sebenarnya ia ragu sebab Naruto tidak membalas pesannya. Tapi ia tetap mau menunggu, ia takut nanti Naruto datang dan melihatnya tidak ada yang akan malah membuat Naruto semakin marah padanya. Berkali-kali Hinata melihat handphone miliknya namun tetap tak ada balasan dari Naruto. Ia mencoba menelepon, tetapi nomor suaminya malah tidak aktif. Hampir dua jam ia menunggu dan sudah dua gelas ia memesan minuman, para pengunjung pun semakin sepi. Perasaannya bercampur aduk sekarang. Marah, kecewa, sedih dan lain-lain. Rasanya ia ingin menangis sekarang, namun ia mencoba bertahan.

"Maaf nona, kami mau tutup" ujar salah seorang pelayan disana.

Hinata hanya bisa tersenyum menanggapinya lalu ia pun beranjak pergi dan meninggalkan restoran tersebut. Sesampainya di rumah Hinata melempar tasnya di sembarang tempat. Ia menyalakan kompor dan langsung memasak omelet karena hanya makanan itu yang bisa disajikan dengan cepat. Ia sangat lapar, berjam-jam ia menunggu Naruto namun pria tersebut tak kunjung datang yang membuatnya tidak makan sehingga membuatnya kelaparan setengah mati. Hinata memakan makanannya dengan lahap, air mata mengalir di pipinya. Menangis? Tentu saja Hinata menangis, ia merasa sangat kesal.

Hinata menutup tubuhnya dengan selimut berusaha melupakan sakit hatinya dengan tidur. Namun semua itu ternyata sia-sia. Ia kembali memikirkan Naruto berharap suaminya tersebut segera pulang. Alhasil ia kembali ke bawah menanti suaminya di ruang keluarga tempat biasa ia menunggu Naruto disana. Hinata duduk sendirian di sofa, sengaja ia tidak menghidupkan lampu entah apa alasannya. Menangis. Ya gadis manis tersebut sekarang sedang menangis sendirian di tengah gelapnya ruangan tersebut. Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu rumahnya. Tamu datang malam-malam begini? Ada urusan apa? Hinata berpikir itu Naruto tetapi mengapa ia tidak langsung masuk saja? Hinata keheranan. Dengan menghapus sisa air matanya, Hinata membukakan pintu.

Cklek! Seorang pria berambut coklat dengan kedua garis vertikal warna merah di kedua belah pipinya tersenyum kaku di hadapan Hinata.

"Gomen Hinata-chan aku mengganggumu malam-malam begini. Aku hanya ingin mengembalikan sapu tangan ini padamu. Itu sapu tanganmu kan? Kupikir itu sangat berguna bagimu mengingat kau selalu membawanya kemana-mana hehehe"

"Arigatou Kiba-kun" lirih Hinata.

"Hinata-chan kau kenapa? Kau menangis ya?" Tanya Kiba

"Ti tidak, sudah pulanglah" Hinata hendak menutup pintu tetapi ditahan Kiba.

"Kau bohong! Terlihat jelas di wajahmu kalau kau habis menangis"

Hinata menjadi semakin pilu. Air matanya kembali mengalir dengan deras bahkan lebih deras dari sebelumnya. Melihat gadis tersebut menangis di hadapannya, Kiba menjadi tidak tega. Ia memeluk tubuh mungil di hadapannya tersebut berusaha memberikan ketenangan.

"Menangislah, jangan tahan air matamu" kata Kiba sambil mengelus-elus rambut Hinata.

Hinata tahu ini gila. Ia menangis di pelukan pria lain. Tapi ia tidak bisa menolak, pelukan Kiba terasa begitu nyaman. Tangan kekarnya terasa hangat di pinggulnya. Terus terang saja, setelah Kiba melepaskan pelukannya Hinata menjadi sedikit lebih tenang. Kiba membersihkan sisa-sisa air mata Hinata dengan jempolnya. Kiba terpesona melihat wajah cantik di hadapannya. Putih mulus dan mata yang indah. Jantungnya berdebar dengan cepat.

"Dimana suamimu? Kenapa dia tidak kelihatan dari tadi?" Tanya Kiba

"…." Hinata menggigit bibir bawahnya.

"Aku tahu kau habis bertengkar dengan suamimu" Kiba menghentikan ucapannya sebentar. Kemudian melanjutkan.

"Jika suatu hari nanti ada sesuatu yang ingin kau bagikan padaku, katakan saja dan segera hubungi aku. Aku siap menjadi pundak bagimu"

"Kiba-kun kau tidak perlu…"

"Aku tidak memaksamu untuk mengatakannya malam ini. Yang jelas aku tidak akan tinggal diam jika kau disakitinya lagi"

Hinata memain-mainkan jemarinya menanggapi ucapan Kiba. Ia tidak tahu harus mengatakan apa.

"Sudah malam Hinata-chan, masuklah dan tidurlah. Aku harus pulang sekarang" Kiba berbalik meninggalkan Hinata.

"A arigatou" lirih Hinata.

Sudah jam 11 malam, Naruto tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Apa dia menghindar dari Hinata? Tapi kenapa?

SREK! KLIK!

Ruangan itu yang tadinya gelap sekarang menjadi terang benderang. Hinata mengerjapkan matanya, sesosok tubuh tinggi tegap bermata biru berdiri tak jauh dari tempat duduknya.

"Naruto-kun..!"

"Apa yang kau lakukan disini? Kenapa kau belum tidur?"

"Kau kemana saja? Kenapa kau tak membalas pesanku?" Tanya Hinata hampir menangis.

"Gomen, tadi aku tidak bisa datang ada urusan"

"Kenapa? Kalau memang tidak bisa datang kenapa kau tidak membalas pesanku atau mengangkat teleponku Naruto-kun? Aku sudah menunggumu berjam-jam disana, kau tahu tidak hah? Semua orang sudah pulang tapi aku masih disana menunggumu" Tangis Hinata pecah.

"Yang memintamu untuk menungguku siapa? Aku tak kunjung datang, harusnya kau segera pulang. Kau ini bodoh sekali"

"Bodoh? Kau bilang aku bodoh? Sebenarnya siapa yang bodoh disini? Kau atau aku? Sudah jelas-jelas kau menyukai Karin lalu kenapa tidak kau nikahi dari dulu sebelum kau menikahi aku agar perjodohan ini tidak terjadi!"

Hinata pergi meninggalkan Naruto. Ia hendak ke kamar. Di tengah-tengah tangga ia berhenti dan berbalik menghadap Naruto.

"Satu lagi. Kau tahu? Kau adalah orang paling jahat yang pernah aku kenal. Tidak memikirkan perasaan orang lain!" Setelah mengatakan hal tersebut, Hinata setengah berlari menuju kamarnya.

Naruto menyusul Hinata. Ia terdiam sebentar melihat Hinata menghapus air matanya gara-gara kemunculannya. Naruto pun mendekat dan duduk di sebelah Hinata tepatnya mereka berdua di atas kasur sekarang.

"Maafkan aku"

"…."

"Hime aku bicara padamu!" ujar Naruto

"Kau pikir dengan meminta maaf semuanya selesai?"

"Lalu aku harus apa?"

"Aku mau pergi dengan Naruto-kun berdua saja"

"Baiklah. Tapi kita mau kemana?"

"Kemana saja" ujar Hinata mulai tersenyum malu

"Baiklah besok kita akan pergi ke tempat yang kau mau, sekarang lebih baik kita tidur dulu" kata Naruto sambil menyelimuti Hinata

"Arigatou Naruto-kun" Setelah itu mereka berdua tertidur lelap

"Kau sudah selesai Hime?" Tanya Naruto dari luar

"Sudah sudah" Hinata keluar dari kamar dengan pakaian yang telah rapi. Ya mereka akan pergi hari ini sesuai janji Naruto kemarin malam. Apa ini kencan?

NARUTO POV

Meski sambil mengendarai mobil, namun Hinata yang berada disampingku masih bisa ditangkap oleh indra penglihatanku. Ia begitu tampak senang. Sesekali aku sengaja menoleh padanya untuk memastikan bahwa ia benar-benar tersenyum. Astaga sebahagia inikah dia hanya karena berjalan berdua denganku?

"Naruto-kun?" tanyanya bengong menatap ke arahku

"Ya?"

"Kita mau kemana?"

"Seharusnya aku yang bertanya begitu Hime"

"Emm, baiklah bagaimana kalau kita ke taman bermain?"

"Boleh juga" balasku

"Benarkah?" tanyanya dengan bola matanya yang membesar

Tak kupungkiri eskpresinya tadi benar-benar lucu membuatku rasanya ingin tertawa namun kutahan. Akhirnya pertanyaannya tadi kubalas dengan anggukan.

"Naruto-kun aku ingin kembang gula itu" katanya menunjuk gula-gula yang bergantungan. Ia menarik jaketku untuk ikut dengannya. Jujur saja, aku kembali menemukan dirinya yang sempat hilang. Ini untuk pertama kalinya ia tertawa lepas di hadapanku setelah kejadian ketika SMA dulu. Entah mengapa aku merasa bahwa hari ini ia sedikit manja dan berani padaku. Apa mungkin karena ia merasa bahwa dirinya telah dimiliki olehku. Bukankah selama ini ia begitu pemalu? Terutama di hadapanku.

END NARUTO POV

"Emm, ini enak sekali Naruto-kun. Kau tidak ingin mencobanya?" Tanya Hinata

"Tidak" Naruto tersenyum sekilas

"Kau ingin naik roller coaster?" Tanya Naruto

"Tidak, aku ingin bianglala" ujar Hinata

"Baiklah. Ayo!" Naruto mengajak Hinata ke tempat bianglala. Mereka mengantri membeli tiket.

Hinata dan Naruto sudah naik bianglala. Mereka duduk berhadapan. Bianglalanya pun sudah mulai berputar. Hinata melihat pemandangan luar, senyuman terukir di wajahnya. Indah sekali, pikir Hinata. Tiba-tiba bianglala berhenti mendadak, berhentinya gak nyante (?) akibatnya Hinata hampir jatuh kalau saja Naruto tidak segera memeluknya. Gara-gara kejadian tersebut, pipi Hinata menjadi merah bak buah tomat. Ternyata berhentinya bianglala karena acara putar memutar telah selesai. Mereka berdua pun keluar. Hinata yang masih malu gara-gara kejadian tadi hanya menunduk saja. Ia tidak berani menampakkan wajahnya yang merah pada Naruto.

"Hime kau mau naik apa lagi?" Tanya Naruto

"Kita pulang saja Naruto-kun, sepertinya aku sudah lelah"

"Hm? Hanya segitu? Baiklah kalau itu yang kau mau"

Bukannya Hinata tidak mau ataupun lelah, dia hanya belum bisa mengontrol dirinya di hadapan Naruto. Jantungnya berdebar sangat kencang saat ini gara-gara tadi Naruto memeluknya. Hinata takut nanti akan ada lagi kejadian seperti ini dan ia takut bakal pingsan sehingga merepotkan Naruto.

"Naruto-kun?" seorang gadis cantik berjalan mendekat ke arah mereka berdua.

"Karin-chan? Ngapain kau ada disini?" ujar Naruto tersenyum mendekat ke arah Karin.

"Aku hanya jalan-jalan sebentar. Siapa yang bersama denganmu Naruto-kun?"

"Eemm dia…."

"Eh? Bukankah dia Hinata? Kenapa kau bisa bersamanya?" Tanya Karin heran

Pertanyaan Karin sukses membuat hati Hinata terasa seperti ditimpa beban yang berat. "Kenapa kau bisa bersamanya?" pertanyaan itu terulang di memori Hinata. Berarti selama ini Naruto tidak mengatakan kepada Karin bahwa ia sudah menikah dengannya. Tidak mengatakan bahwa ia sudah beristri! Seperti… tidak dianggap. Seperti tidak diakui posisinya. Begitulah pikiran Hinata sekarang.

"Jawab aku Naruto-kun. Kenapa dia bersamamu? Bukankah kau sangat membencinya?"

Baru saja Naruto hendak memperkenalkan Hinata pada Karin, Hinata telah menghilang duluan. Ia berlari menjauh meninggalkan mereka berdua.

"Hinata? Hinata?! Kemana dia?" Pikir Naruto. Ia hendak menyusul Hinata guna mencarinya namun ditahan Karin.

"Jawab aku Naruto-kun" Naruto menatap dalam mata Karin. Lalu ia menghela nafas. "Dia istriku"

"Permisi aku harus mencarinya" ujar Naruto berlalu meninggalkan Karin dengan wajahnya yang bengong sekaligus terkejut.

Naruto masih sibuk mencari Hinata. Setelah hampir mengelilingi taman bermain tersebut, ia memutuskan untuk kembali ke mobil. Mungkin saja Hinata sudah tidak berada disini lagi tapi yang jelas tidak mungkin ia sudah jauh dari sini. Jadi Naruto memutuskan untuk mencarinya di sekitaran daerah dekat taman bermain tersebut.

Matanya masih sibuk menyusuri jalanan mencari sosok yang dicarinya. Sesosok wanita berambut indigo tertangkap mata sapphirenya. Ia menghentikan mobilnya. Wanita tersebut sedang duduk di salah satu bangku di pinggir jalan. Wajahnya tak terlihat karena ia sedang menunduk.

"Hime kenapa kau menghilang tadi?" Tanya Naruto yang tiba-tiba sudah berada di samping wanita tadi.

"Hiks hiks, kenapa kau ada disini Naruto-kun? Pergilah"

"Kau menangis?" Naruto mengangkat wajah Hinata dan mengibas sebagian rambut yang menutupi wajahnya.

"Kau marah?"

"Terserah kau saja Naruto-kun"

"Kalau begitu ayo pulang" Naruto menarik tangan Hinata

"Tidak mau" tolak Hinata

"Bukankah tadi kau bilang terserah padaku? Lalu kenapa menolak?" Tanya Naruto

Hinata menghentikan tangisannya dan menatap Naruto.

"Kau ini benar-benar tidak peka ya Naruto-kun? Kau tidak tahu bahwa aku sedang marah padamu?!"

"Kau cemburu? Hime itu tadi kan pertemuan yang tidak disengaja"

"Bukan karena itu. Tapi mengapa kau tidak mengatakan kepadanya bahwa kau sudah menikah hah?! Pantas saja dia seenaknya saja sama suami orang, minta temani kesana minta temani kesitu. Jujur saja, aku… merasa seperti tak dianggap olehmu"

"Bukan begitu maksudku. Tapi apakah hal itu begitu penting?"

"Tentu saja penting! Huhu kau jahat Naruto-kun" Hinata kembali menangis

Naruto tertegun melihat Hinata yang sedang menangis.

"Betapa mudah bagiku membuatnya tersenyum dan menangis dalam selang waktu yang begitu cepat" gumam Naruto.

TBC

Okee saatnya membalas review dari para readers yang kece (^.^)

Soputan : So pas memang hinata berhubungan dgn kiba,bisa melihat hati naruto sampai dimana,,

Author : Hehehehe :D

Kyoanggita : Wah,kok hurt ya?Ga p2 deh.Lanjutin ya,q penasaran 2n naruto cemburu mlht kdkatn kiba dgn hinata. :3

Author : ._. Penasaran ya? ;;) *kedip mata*

Nitya-chan : Kawaiii... Chap selanjutnya ditunggu ya

Author : Nih udah dating (^.^) *lempar*

Manguni : Aduh kasihan hinata,,buatlah naruto cemburu

Author : Tuh udah ada Narutonya yang cemburu :D walaupun belum cetar hehe

Dewieka : waduh2 naruto cemburu tuh 0-0

Author : Perasaan di chapter 4 belum ada Narutonya yang cemburu (?)

vhicii : tolong donkk buat naruto cemburuuuuuuu plissss...Cpet apdet yaa

Author : Di chapter ini udah ada kan? ;;) maaf telat update (-_-)/

aeni hibik : Wah makin seru aj nih...hhheee. ditunggu klnjutannya ya dan semangat author... :-)

Author : Makasih (^.^)

Mysterio : Sip dah

lanjut ok!

trus feel nya tambah biar para reader makin seneng baca ini.

ok lanjut dan keep moving forward

TTD. Mysterio (Masked Man Like Stereo)

Author : Nisa usahain ya feelnya :D Gomen ne!

Guest : Neeeeeext

Author : Okeeee :D

Ayzhar : acie yang diperhatiin naruto sama ketemu seseorang :D .. Apa nanti kiba jadi suka sama hinata ?Apdate kilat ya author :D *Tring tringg .. Gedebuk .. :)

Author : Bakalan suka gak ya? #plakk gomen gak update kilat T.T

: FanFic nya bagus :D update kilat ya author-sama :D
Bikin Naruto cemburu ya :D
Biar si Naruto itu tau bagaimana Yang di rasakan Hinata saat Hinata lihat Naruto sama Karin jalan ber :p

Ganbatte

Author : Request kamu udah dibuat tuh say :3

Hehehe makasih ya

Guest : Lanjutkan

Author : Siap komandan ._.

DindaHyuga : Udah lama gak ketemu Nisa-chan aku jadi kangen!

Author : Maaf ya maaf lain kali Nisa usahain update cepet

Guest : lanjut sop tapi naruto kok kurang tegas sama si karin.

Author : sop buah atau sop ayam (?) ._. #plakkk

Nisa juga gak tau kenapa Naruto kurang tegas .-. *author kok gak tau* *mikir keras*

Hina chan : Please next

Author : Okeee :D

yoona forever : Hai,,, aku mau kasih saran kalo bisa buat kiba menjadi org 3 bagi,, hinata sama naruto.. Supaya makin seru... Lagian hinata disini kayaknya gak ada perlawanan gitu... Dan disini naruto kayaknya cinta bertepuk sebelah tangan.. Jadi mungkin sekali2 buat naruto cemburu... Oke itu aja sih saranku cepat update nya yah... Udh gak sabar nengok kelanjutan ceritanya

Author : Terima kasih sarannya ya Okee sarannya Nisa tampung dulu ya :D Lagi lagi Nisa harus minta maaf atas keterlambatan update ficnya *bungkuk 360 derajat (?)*

Yoss sudah selesai! (^.^) reviews yang login Nisa balas via PM ya :D

Okee sampai ketemu di chap selanjutnya (^.^) PaiPai *lambai lambai tangan*

RnR