The Easy Way
Chapter 6
Fanfiction wrote by Uchiha Nisa Chan
Dislaimer : Naruto owns Masashi Kishimoto
WARNING : OOC, AU, Typo bertebaran, EYD gak jelas, dan kesalahan lainnya
Hueeee udah 3 bulan ya ternyata ff ini gak update T.T
Author baru menyadarinya setelah login dan lihat tanggal terakhir update.
Maaf, maaf banget ya atas keterlambatannya. Gak bisa update cepet.
Sebenarnya saya juga gak mau begini, namun apa boleh buat kegiatan di dunia nyata lebih banyak menyita waktu saya
Maaf ya sekali lagi maaf untuk semua readers..
Yaudah langsung baca aja ya…
Happy Reading ^^
Cuaca cerah menghampiri langit Konoha hari ini, membujuk masyarakatnya untuk tidak bermalas malasan dan tetap menjalankan rutinitas seperti biasanya. Pekerjaan Naruto hari ini pun sangat padat. Membuat dirinya sangat lelah akibat dari pagi hingga siang seperti ini ia terus bolak balik kantor dan keluar menyusuri Konoha demi pekerjaan kantornya. Ya bertemu dengan para clientnya. Karin, si sekretaris pun setia menemani Naruto. Meski ia juga sedikit kewalahan. Sebenarnya dari tadi Karin menunggu waktu untuk berbicara berdua dengan Naruto. Dan inilah saatnya ketika mereka telah kembali ke kantor dan Naruto hendak mengganti baju lain.
"Naruto-kun aku ingin bicara" kata Karin tegas
"Bicara? Bicara apa? Yasudah katakan saja" kata Naruto sambil melepas dasinya.
"Bisakah kau hentikan dulu aktivitasmu? Dan fokuslah terhadapku. Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan"
Naruto terdiam dan menatap Karin.
"Sepenting apakah topik yang akan kau bahas? Kau berada di runganku sekarang Karin dan kau ada di depanku. Tentu saja aku tetap bisa mendengar apa yang kau tanyakan" kata Naruto dengan tatapan bingung
"Kau bertanya apakah ini penting? Ya, hal yang akan aku tanyakan ini sangat penting lebih dari apapun" ujar Karin.
Naruto pun berhenti sejenak dari aktivitasnya tadi dan memandang Karin. Setelah dirasanya bahwa Naruto memperhatikannya, ia pun melanjutkan.
"Apa kau menyukai Hinata?" Tanya Karin harap harap cemas.
Naruto terdiam sejenak dan sedikit terkejut atas pertanyaan Karin. Walaupun ia sudah menyangka bahwa hal ini akan dibahas oleh Karin akibat kejadian kemarin.
"Kau tidak bisa menjawab?" Tanya Karin lagi.
"Untuk apa kau tanyakan ini?" Tanya Naruto balik.
"Karena aku ingin bertanya" kata Karin.
Naruto memutar bola matanya menanggapi ucapan Karin. Ia beranjak duduk di sofa.
"Masalah aku menyukainya atau tidak, itu bukanlah hal yang penting. Apa pedulimu? Aku sudah menikah dengannya jadi tidak ada gunanya lagi."
"Naruto-kun aku hanya ingin tahu tentang perasaanmu. Itu saja. Apa tidak boleh?" kata Karin kecewa.
Naruto menghela nafas sejenak.
"Aku juga tidak mengerti sebenarnya hatiku untuk siapa. Terus terang saja, aku masih menganggapnya gadis biasa tidak ada yang spesial bagiku. Namun dia tetaplah istriku. Mungkin… perasaanku padanya terlihat datar, tidak suka ataupun benci".
Karin sedikit lega akan jawaban Naruto. Lalu ia bertanya lagi.
"Bagaimana denganku?"
"Maksudmu?" Tanya Naruto heran.
"Tentang perasaanku padamu, bagaimana?" kata Karin memperjelas.
"Haruskah aku menjawab pertanyaan yang kau sendiri telah mengetahui jawabannya?"
"Kupikir, kau… akan menjadi milikku Naruto-kun.." kata Karin lirih.
"Bukankah kau sendiri yang pergi meninggalkan aku? Kau pergi begitu saja tanpa kabar. Sekarang siapa yang harus disalahkan?"
"Saat itu bukan maksudku untuk menolak lamaranmu hanya saja… waktu itu aku belum siap. Aku masih ingin mengejar impianku, waktu itu aku masih ingin bebas dan menikmati masa lajangku"
"Oke, kalau memang itu alasanmu. Tapi setidaknya kau bisa memberikan jawaban ya atau tidak. Waktu itu kan aku hanya melamarmu bukan berarti aku memintamu segera untuk menikah denganku. Aku bisa menunggumu waktu itu Karin-chan"
Karin mulai menangis mendengar pernyataan Naruto.
"Lalu apa sekarang perasaanmu masih sama seperti dulu?"
"Aku… tidak tahu. Kurasa kau bisa sendiri menjawabnya". Kata Naruto
"Ya, kuakui aku memang bodoh waktu itu. Tapi kenapa secepat itu kau menikah? Dengan Hinata pula" ujar Karin yang masih berlinang air mata.
"Aku tidak punya pilihan, aku didesak oleh kaa-san untuk segera menikah. Menikah dengan Hinata adalah pesan dari kedua kakek kami. Tapi dengan syarat kami berdua sama-sama belum memiliki pasangan untuk dinikahi. Waktu itu sudah cukup sering aku menunda pertemuan dengan keluarga Hyuga tersebut. Karena mengapa? Karena aku masih berharap kau akan kembali dan berkata pada kaa-san serta tou-san bahwa "ini calon istriku" tapi ternyata kau tak kunjung datang atau membalas e-mailku. Alhasil aku harus menerima perjodohan tersebut"
"Naruto-kun…"
"Salahmu sendiri telah menolakku" Naruto beranjak dari sofa yang ia duduki.
"Bisa kau keluar sebentar Karin-chan? Aku ingin mengganti bajuku" kata Naruto pada Karin yang masih mematung berdiri dengan linangan air mata.
Hinata tersenyum bangga melihat hasil masakannya. 15 menit lagi ia akan menuju kantor Naruto untuk mengantar makan siangnya. Ini untuk pertama kalinya Hinata melakukan hal ini. Biasanya sebelum Naruto pergi, ia telah menyiapkannya terlebih dahulu meski semua itu sia-sia, Naruto tidak mau membawanya. Untuk kali ini, Hinata tidak peduli Naruto mau memakan masakannya atau tidak. Yang jelas, ia hanya mau mengantar makanan itu untuk suaminya. Berkunjung sekali kali ke kantor suami sendiri boleh kan. Kantor itu milik suaminya, ia yang mendirikannya sekaligus mengembangkannya sehingga menjadi perusahaan besar seperti sekarang berarti itu miliknya juga.
Hinata memakai pakaian santai namun tetap enak dipandang. Celana twiscone warna merah dengan polkadot polkadot putih serta baju spandex hitam membungkus tubuhnya siang ini. Ia berjalan santai memasuki kantor tersebut. Semua orang yang melihatnya tersenyum dan memberi hormat yang dibalas Hinata dengan senyuman juga.
Hinata heran melihat meja sekretaris suaminya kosong. Kemana Karin? Kenapa ia tidak ada disana? Apa suaminya sedang ada urusan di luar? Gumamnya dalam hati. Namun ia tetap melangkah masuk ke ruangan Naruto. Ketika berdiri di depan pintu, Hinata melihat Karin berdiri membelakanginya dan suaminya yang sedang berbicara lalu beranjak dari sofa yang ia duduki. Karin berbalik arah hendak keluar.
"Hinata-chan…" ujar Karin.
Naruto melongo ke luar dan terdiam melihat Hinata. Hinata pun sama diam melihat Karin dengan air mata yang membasahi pipinya. Ia masih mematung sampai Karin melewatinya dan keluar dari ruangan tersebut. Sementara Hinata masih berdiri tegak di depan pintu menatap ke arah Naruto.
"Masuklah" ujar Naruto.
Setelah Hinata masuk, Naruto menutup pintu ruangannya dan mempersilahkan Hinata duduk.
"Duduklah dulu, aku akan ganti baju sebentar" ujar Naruto berlalu menuju ruang ganti.
Tidak lama kemudian Naruto kembali dan duduk di sofa depan Hinata.
"Kau membawa apa? Coba kulihat baunya wangi sekali"
"Naruto-kun kenapa Karin-chan menangis?" Tanya Hinata.
"Itu bukan urusanmu, kau tidak perlu tahu" kata Naruto menghindar.
"Begitu ya? Jadi ini bukan urusanku? Baiklah.." lirih Hinata.
"Dia menangis hanya karena masalah kantor kok"
"Baiklah Naruto-kun, aku pulang. Maaf telah mengganggu waktumu. Ini aku bawakan makan siang untukmu" ujar Hinata tersenyum.
Ia pun keluar dari ruangan tersebut meninggalkan Naruto yang masih terpaku di tempat duduknya. Hinata tidak benar benar pulang setelah itu. Ia hanya bersembunyi sebentar dan kemudian melihat Naruto keluar dari ruangannya. Hinata pun mengikuti langkah suaminya. Ternyata benar dugaan Hinata, Naruto mencari Karin. Suaminya tersebut pun memeluk gadis yang ditemukannya tengah menangis di salah satu pojok bagian kantor tersebut yang jarang dilewati karyawan. Samar samar ia bisa mendengar percakapan antara dua orang tersebut.
"Maaf, maafkan aku. Aku tidak bermaksud untuk menyakitimu" kata Naruto sambil memeluk Karin erat, seolah olah ingin meredakan tangisan wanita di dekapannya.
Tanpa disadari, air mata Hinata pun merembes keluar dengan sendirinya tanpa dapat ia cegah. Ia masih terpaku menyaksikan dua orang tersebut berpelukan mesra. Ternyata benar dugaan Hinata, Naruto masih mencintai Karin sama seperti dulu.
"Oh Kami-sama apa yang harus aku lakukan?" batin Hinata pedih.
"Sudah banyak air yang keluar dari kedua bola mataku akan sikapmu"
"Sudah beribu ribu luka yang kau torehkan"
"Kau tahu? Luka ini begitu perih, sakit, benar benar sakit"
"Aku tidak bisa membayangkan seperti apa rupa hatiku saat ini"
"Pasti sudah banyak dipenuhi dengan luka luka yang menganga lebar"
"Dan semua ini karenamu. Tapi tak pernah sekalipun kau memelukku seperti kau memeluknya ketika ia menangis"
Hinata memoleskan lipgloss bening ke bibirnya. Itu saja menurutnya sudah cukup, hanya untuk agar bibirnya tidak pucat saja. Rambutnya yang tergerai ia kuncir tinggi ke atas memperlihatkan leher jenjangnya yang putih mulus. Dengan memakai dress putih selutut membuatnya tampak semakin cantik. Semua mata normal baik pria atau wanita pasti akan berdecak kagum. Ya, memang pada dasarnya gadis Hyuga tersebut cantik. Terdengar bunyi telepon di lantai bawah, Hinata pun turun untuk mengangkatnya.
"Konbanwa, ini kediaman tuan Namikaze. Dengan siapa ini?" Ujar Hinata sopan.
Terdengar suara tawa di seberang telepon, membentuk empat siku di kening Hinata.
"Kau formal sekali Hinata sayang. Ini kaa-san"
"Oh kaa-san" kata Hinata kikuk.
"Naruto sudah pulang belum Hime?"
"Belum kaa-san. Mungkin sebentar lagi. Ada yang ingin disampaikan?" Tanya Hinata.
"Hem anak itu selalu saja. Tidak apa apa, kaa-san tadi meneleponnya namun tidak diangkat olehnya. Makanya kaa-san telepon kesini"
"Oh begitu. Mungkin Naruto-kun sedang sibuk waktu kaa-san telepon"
"Ya bisa jadi" ujar kaa-san.
"Sepertinya ada hal yang penting. Apa perlu aku sampaikan pada Naruto-kun kaa-san? Tanya Hinata lagi.
"Tidak perlu, kaa-san akan bicara padamu saja. Begini, kaa-san hanya ingin bertanya kapan kalian ke sini? Sudah lama sekali, semenjak hari pernikahan kalian tidak pernah lagi kemari mengunjungi kami. Kaa-san kecewa huhu"
"I iya kaa-san, nanti aku dan Naruto-kun akan main kesana kok. Tenang saja kaa-san, akan aku bicarakan dulu pada Naruto-kun" kata Hinata.
"Iya, jangan lama lama ya. Kaa-san kangen sama kalian berdua" kata kaa-san. Nada suaranya terdengar begitu lembut di telinga Hinata.
"Baik kaa-san, mungkin sebentar lagi Naruto-kun pulang akan aku sampaikan padanya. Apa ada lagi kaa-san?" Tanya Hinata
"Tidak, itu saja kok. Tolong sampaikan ya Hinata"
"Iya baik kaa-san"
Setelah sambungan terputus, Hinata meletakkan kembali gagang telepon tersebut ke tempatnya.
Suara air dari kamar mandi terdengar jelas di telinga Hinata. Sembari suaminya tersebut selesai mandi, ia mencari pakaian yang cocok untuk dikenakan oleh suaminya tersebut. Selang beberapa menit kemudian, Naruto telah selesai mandi. Pria tersebut keluar dengan tetesan tetesan air dari ujung rambut jabriknya. Muka Hinata memerah melihat Naruto yang berdiri santai di depannya tanpa busana atas. Memamerkan dada bidangnya. Ia masih belum terbiasa akan hal ini meski telah lama menikah.
"Ini bajunya Naruto-kun" kata Hinata menunduk malu sambil menyodorkan baju yang telah ia pilih.
"Arigatou"
Hinata pun duduk di tepi ranjang tidak berani menatap langsung suaminya yang masih sibuk memakai baju. Sesekali ia mencuri pandang ke arah Naruto dan tiba tiba terbesit pikiran kapan ia bisa merasakan dada bidang tersebut memeluknya erat. Jujur saja, setiap kali melihat Naruto tidak memakai busana atas ia ingin sekali dipeluk olehnya. Hinata jadi senyum senyum sendiri membayangkan hal tersebut.
"Kenapa kau tersenyum begitu?"
Hinata langsung gelagapan akan pertanyaan Naruto, ia pun langsung mengalihkan pembicaraan.
"Naruto-kun tadi kaa-san menelepon"
"Benarkah? Tadi dia juga menelponku, namun tak ku angkat karena ada urusan. Kaa-san bilang apa?" Naruto menoleh ke arah Hinata.
"Dia bertanya kenapa kita tidak pernah ke sana lagi. Kurasa kaa-san merindukanmu Naruto-kun, coba kau telepon dia" Hinata menyodorkan handphone ke Naruto.
NARUTO POV
Ia memintaku untuk menelepon kaa-san dengan senyuman yang menurutku... Manis. Untuk beberapa saat, aku tertegun. Pancaran ketulusan dari matanya tak pernah hilang. Aku tahu dia terluka saat ini. Tadi saat aku memeluk Karin, mata sapphireku tak sengaja menangkap sosoknya yang ternyata juga sedang menangis. Mungkin dia cemburu karena aku bersikap demikian pada Karin. Betapa brengseknya aku. Hime, aku tak pantas dicintai olehmu.
"Naruto-kun?" Katanya mengibas tangan mungilnya di depan mukaku. Aku pun langsung sadar dari lamunanku. Ku ambil handphone yang disodorkannya kepadaku. Sebelum aku beranjak untuk menelepon kaa-san, sebenarnya aku ingin membalas senyumannya, namun yang terjadi aku malah langsung mengambil handphone tersebut begitu saja tanpa sepatah kata pun dengan ekspresi datar.
END NARUTO POV
Setelah mengambil handphone tersebut, Naruto agak sedikit menjauh dari Hinata. Lalu menelepon kaa-san. Percuma saja ia sedikit menjauh, toh Hinata masih bisa mendengarnya. Sesekali Naruto-kun melirik ke arahnya lalu kembali menelepon. Sepertinya ia sedang dimarahi oleh kaa-san.
Akhir pekan telah tiba. Hinata ingin sekali memanfaatkan waktu libur ini untuk pergi dengan Naruto, namun sayang sekali pria tersebut tidak mau. Alasannya ia capek dan butuh istirahat walau hanya satu hari. Akhirnya mereka berdua berdiam di rumah sekarang. Tidak begitu banyak kegiatan yang mereka lakukan dan interaksi diantara mereka pun sedikit. Meski Hinata telah berulang kali untuk mendekati Naruto, namun pria tersebut masih saja tidak begitu menghiraukannya.
"Siapa ya yang datang di hari minggu seperti ini?" Gumam Hinata lantaran suara bel berbunyi.
Ia pun beranjak meninggalkan Naruto yang sedang asik menonton televise dan membuka pintu. Hinata sedikit terkejut melihat tamu yang memencet bel rumah mereka.
"Selamat siang Hinata-chan, dimana Naruto-kun?" Kata Karin tanpa basa basi.
"Ada perlu apa kau kemari?" Tanya Hinata.
"Tidak ada, aku hanya ingin bertemu suamimu" ujar Karin santai.
"Siapa Hime?" Tanya Naruto yang penasaran akibat istrinya tersebut tak kunjung kembali. Ia muncul dari belakang Hinata.
Awalnya Naruto sedikit terkejut melihat kehadiran Karin, namun ia langsung tersenyum padanya.
"Naruto-kun" ujar Karin membalas senyuman Naruto.
"Masuklah" Naruto mempersilahkan Karin masuk.
"Mau minum apa?" Tanya Naruto setelah Karin duduk di sofa ruang tamu.
"Terserah apa yang mau kau buat Naruto-kun" kata Karin bercanda.
"Haha baiklah"
Naruto menoleh sekilas pada Hinata, terdiam, saling pandang satu sama lain. Lalu ia pergi ke dapur untuk membuatkan Karin minuman. Hinata menyusulnya dari belakang.
"Naruto-kun…"
Naruto pura pura tidak mendengarnya, ia menghiraukan panggilan Hinata. Dan pergi begitu saja setelah selesai membuat minuman untuk Karin.
"Terima kasih Naruto-kun" ujar Karin menyeruput jus orange yang dibuatkan Naruto.
"Kau butuh bantuanku?" kata Naruto memulai obrolan.
"Ya. Sebenarnya bukan hal yang begitu penting sih, hanya saja aku butuh teman untuk jalan jalan"
"Jadi kau mengajakku?"
"Bisa jadi" kata Karin tertawa yang kemudian Naruto pun juga ikut tertawa bersamanya.
"Baiklah, tunggu sebentar" kata Naruto. Ia pun menuju kamarnya.
"Naruto-kun, kau mau kemana?" Tanya Hinata.
"Hanya ingin menemani Karin untuk jalan-jalan, kasihan dia telah jauh-jauh datang kemari"
"Kau bilang ingin istirahat. Tadi saat aku…"
"Jangan khawatir, aku akan pulang cepat dan tidak akan terjadi apa-apa pada kami berdua"
"Tapi…"
"Hime, aku mohon mengertilah"
"…"
"Aku mohon jangan pergi" kata Hinata memelas sambil menahan lengan Naruto agar tidak pergi.
"Aku akan segera kembali" kata Naruto tersenyum pada Hinata. Lalu ia menghilang dari pandangan Hinata, pergi berdua dengan Karin. Entah kemana.
Hinata merasa bosan sendirian di rumah. Ditambah dengan kejadian yang seperti tadi membuatnya berpikir yang macam-macam tentang Naruto dan Karin. Tiba-tiba ia ingat dengan Kiba. Lalu Hinata pun menghubunginya.
Sementara itu Naruto dan Karin pun bersenang senang. Dari raut wajah mereka berdua terlihat jelas bahwa mereka bahagia sekarang. Mereka seperti pasangan kekasih, dan jalan-jalan mereka kali ini seperti orang kencan meski tidak ada adegan-adegan romantis.
Ketika Hinata telah sampai di restoran, ternyata Kiba telah ada disana sesuai kesepakatan mereka untuk bertemu disini. Pria ini benar-benar baik, pikir Hinata.
"Kiba-kun sudah lama menunggu?" Tanya Hinata.
"Tidak juga, ayo mari duduk Hinata-chan" kata Kiba memberikan kursi padanya.
"Arigatou Kiba-kun" ujar Hinata tersenyum.
Setelah memesan pesanan mereka, suasana agak menegang. Tak ada obrolan diantara mereka. Hinata sibuk mengaduk aduk minumannya tanpa sedikit pun ia minum.
"Ada yang ingin kau bagikan padaku?" Tanya Kiba hati-hati. Takut sekali jika sampai melukai perasaan gadis di hadapannya ini.
Hinata bukanlah orang yang mau dengan mudahnya menceritakan sesuatu hal pada orang lain. Ia cenderung menyimpannya sendirian. Dulu, waktu SMA satu-satunya orang yang ia percaya hanya Sakura selain Neji. Namun, kali ini untuk Kiba sepertinya akan menjadi pengecualian buatnya. Ia pun menceritakan bahwa tadi Karin ke rumahnya dan mengajak suaminya pergi hingga ia ditinggal sendirian. Bahkan Hinata juga bercerita tentang ia dan Naruto dari awal sampai akhir, semuanya. Tak ada yang terlewatkan. Dimulai dari ia yang menyukai Naruto diam-diam sejak SMA, lalu ketawan lantaran curhatannya dengan Sakura lewat buku tulis. Naruto yang menjauh, hingga pertemuan mereka kembali sampai tentang perjodohan dan pernikahan mereka. Serta sikap-sikap Naruto padanya selama membangun rumah tangga.
Semua itu ia ceritakan dengan linangan air mata, meski di sela-sela cerita ia berusaha mengukir senyuman. Kiba tertegun mendengar semua itu, tidak menyangka bahwa kenyataannya serumit ini. Untuk beberapa saat, setelah Hinata menceritakan hal tersebut, ia membiarkan gadis tersebut menangis sepuasnya. Semua ini ia lakukan, karena ia tahu lewat tangisan inilah Hinata bisa meluapkan perasaannya selama ini. Ketika tangisan Hinata telah sedikit reda, Kiba pun menghiburnya. Meski sangat susah untuk membuat senyuman di wajah Hinata, namun ia tidak menyerah. Hingga akhirnya senyuman itu pun ia dapatkan walaupun senyuman yang sangat sekilas dan terkesan dipaksakan. Tapi setidaknya ia telah berusaha.
Naruto sibuk mondar-mandir menunggu Hinata. Ia mulai bosan akibat terlalu lama menunggu.
"Hime cepat sedikit" keluh Naruto
"Iya, sebentar..."
Dengan tergopoh-gopoh Hinata membawa tas yang ukurannya cukup besar.
"Kau bawa apa saja Hime?" Tanya Naruto heran.
"Tentu saja pakaian Naruto-kun"
"Kenapa menggunakan tas sebesar itu? Kita kan hanya beberapa hari di rumah kaa-san"
"I iya…" kata Hinata yang juga ikut bingung.
Naruto berpikir sejenak, lalu dia berkata "Ya sudah, kita pergi sekarang" ujarnya yang mulai menuruni tangga.
Hinata pun mengikutinya dengan membawa tas yang menurutnya cukup berat. Menyadari hal tersebut, Naruto berbalik arah dan mengambil tas tersebut dari genggaman Hinata.
"Eh, tidak usah biar aku saja Naruto-kun"
"Sudah biar aku saja, aku ini pria" ujar Naruto.
Hinata tersenyum mendengar ucapan Naruto. Namun sayang, Naruto tidak melihat senyuman tersebut.
Hinata sibuk memotong bawang, memasak makan malam mereka.
"Baunya sedap sekali sayang"
"Ah, kaa-san" ujar Hinata tersipu malu.
Ibunda Naruto tersebut memperhatikan Hinata beberapa saat, lalu ia berkomentar.
"Kau sangat cantik Hinata, pasti cucuku nanti juga akan cantik sepertimu"
PRAK! Hinata menjatuhkan pisau yang dipegangnya.
"Kau tidak apa-apa sayang?" Kata kaa-san khawatir
"I iya tidak apa-apa kaa-san..."
"Kenapa? Apa ada yang salah dengan ucapan kaa-san? Tanya kaa-sannya cemas
"'Kaa-san, aku..."
"Kenapa kalian lama sekali? Aku dan tou-san sudah lapar ni" kata Naruto yang tiba-tiba saja sudah muncul membuat dua wanita tersebut kaget.
"Kau ini Naruto mengagetkan saja" ujar kaa-sannya kesal.
"Ya ampun ganas sekali"
Naruto pun pergi meninggalkan mereka berdua membuat kaa-sannya semakin kesal.
"Senang sekali rasanya kita bisa berkumpul seperti ini. Dan sekarang aku telah mempunyai seorang anak gadis, masakannya enak lagi" ujar Tou-san sambil menikmati makan malamnya. Ia terlihat bahagia dikunjungi oleh Naruto dan Hinata.
"Bagaimana kehidupanmu setelah berumah tangga Hinata? Apa ada masalah selama hidup bersama Naruto?" Tanya Tou-san lagi.
Semua mata tertuju pada Hinata. Menunggu jawaban yang keluar dari mulutnya.
"Hime, hime…" Naruto menyikut lengan istrinya.
Yang disikut pun tersadar dari lamunannya dengan tatapan bingung seolah-olah bertanya "ada apa".
"Kenapa melamun Hinata-chan? tou-san bertanya padamu tuh" kata kaa-san lembut.
"Ah benarkah? Gomen, tou-san. Aku… tidak mendengarkanmu" kata Hinata malu.
"Tidak apa-apa, tou-san mengerti. Mungkin kau lelah lantaran menempuh perjalanan yang cukup panjang untuk bisa sampai kesini" tou-san tersenyum pada Hinata.
"Naruto.. ajak istrimu untuk istirahat setelah makan malam ini"
"Baik tou-san"
Hinata duduk di pinggir kasur, wajahnya terlihat begitu sedih. Pintu sedikit berdecit, Naruto masuk lalu menutupnya kembali.
"Kau kenapa Hime?" ia mendekat ke arah Hinata.
Naruto mencoba melihat wajah Hinata, namun gadis itu malah semakin menundukkan wajahnya seolah tidak ingin Naruto sampai melihatnya. Naruto semakin bingung melihat Hinata, ia lalu memaksa Hinata untuk menatapnya. Menarik tubuh tersebut untuk menghadapnya. Mau tidak mau, Hinata pun memberanikan diri untuk menatap langsung wajah di hadapannya. Saat Naruto melihat mata lavender itu, ia merasakan bahwa mata tersebut penuh dengan kesedihan. Ia pun tertegun. Ada apa lagi? Pikirnya. Apa kali ini ia telah menyakiti Hinata lagi. Setaunya, terakhir ia membuat Hinata menangis saat ia memeluk Karin. Setelah itu, Hinata kembali bersikap biasa seperti sebelum – sebelumnya sampai mereka tiba di rumah orangtua Naruto hingga saat ini.
Entah mengapa, kali ini hatinya terasa sakit melihat mata lavender tersebut penuh dengan kesedihan. Gadis itu tampak begitu rapuh. Akhirnya Naruto sadar, ia belum sepenuhnya memahami dirinya sendiri. Terkadang ia sengaja melukai perasaan Hinata, ia selalu bersikap biasa seolah tidak pernah terjadi apa-apa saat melihat Hinata kembali mengeluarkan Hinata, terkadang ia merasa bersalah dan menyesal telah melakukannya meski keesokannya ia ulangi lagi hal yang serupa. Entah apa alasannya. Dan kali ini, ia kembali melihat mata tersebut menyimpan kesedihan tanpa tahu penyebabnya. Perasaannya campur aduk. Prihatin, sedih, dan marah. Rasanya ia begitu kesal terhadap seseorang yang telah membuat Hinata sedih begini. Rasanya ia ingin menghajar jahanam yang telah berani mengambil senyuman dari wajahnya padahal ia telah bersusah payah mengembalikan senyuman tersebut setelah kembali ia membuatnya menangis. Namun Naruto tak tahu bahwa dialah si brengsek itu.
"Naruto-kun… Maaf, maafkan aku" lirih Hinata. Air di pelupuk matanya sudah tidak bisa ditahan lagi sehingga turun mengalir di pipinya dengan begitu mudah.
"Untuk?"
Terdengar ketukan dari arah luar. Membuat Hinata tidak jadi mengeluarkan suaranya.
"Siapa?" Naruto angkat bicara, merasa terganggu karena ia sedang berbicara serius dengan Hinata.
"kaa-san"
Hinata segera menghapus air matanya dan Naruto beranjak membukakan pintu. Seorang wanita paruh baya tersenyum kaku melihat putranya yang membukakan pintu. Dan wajah Naruto agak sedikit sebal, membuatnya menyadari bahwa ia telah mengganggu aktivitas mereka berdua.
"kaa-san ada apa?" Hinata meyembul dari belakang Naruto.
"Boleh kaa-san bicara padamu berdua saja?" Naruto dan Hinata saling pandang. Setelah mendapat kedipan dari Hinata, Naruto pun mengerti dan ia keluar dari kamar tersebut membiarkan ibu dan istrinya berbicara empat mata".
"Hinata-chan.." ujar kaa-san membuka obrolan.
"Iya ada apa kaa-san?" ia tersenyum.
"Maaf soal ucapan kaa-san di dapur tadi, bukan maksud kaa-san untuk mendesakmu".
"I iya tidak apa-apa kaa-san, justru aku yang ingin minta maaf. Kok jadi kaa-san yang merasa bersalah sih?" Tanya Hinata tak enak.
"Habisnya sejak kaa-san bicara tentang 'cucu' ekspresi wajahmu langsung berubah dan menjadi murung seperti ini padahal sebelumnya kau terlihat biasa-biasa saja"
Hinata tidak tahu harus menjawab apa. Dia mati kutu. Sebenarnya dialah yang merasa paling bersalah disini.
"kaa-san bicara apa? Aku yang seharusnya meminta maaf karena belum bisa memberikan cucu untuk kaa-san dan tou-san"
"Sekarang kan belum, ada waktunya. Sebentar lagi kau pasti akan mengandung. Tenang saja, kaa-san dan tou-sanmu selalu setia menunggu kelahirannya kok. Lagipula kaa-san tadi kan tidak langsung mendesakmu untuk segera memilikinya". Wanita tersebut tersenyum.
Hinata diam, ia hanya mampu tersenyum menanggapi ucapan wanita yang sekarang juga menjadi orangtuanya.
"Jangan menyerah, teruslah berusaha melakukannya bersama-sama Naruto ya" Goda kaa-san yang malah membuat pipi Hinata bersemu merah dan salah tingkah. Padahal di balik salah tingkah tersebut, Hinata malah semakin menjadi sedih memikirkan hal tersebut namun ia tidak menyadarinya.
Tidak beberapa lama setelah kaa-san meninggalkan Hinata di kamar, Naruto segera masuk dan mengajukan pertanyaan tanpa basa-basi.
"kaa-san bicara apa?"
"Aku tidak bisa mengatakannya, ini urusan kami berdua"
"Heh!" mata Naruto melotot mendengar apa yang barusan didengarnya.
"kaa-san tadi memintamu untuk keluar kan? Itu artinya, ia tidak ingin kau tahu apa yang kami bicarakan"
Naruto masih saja memperhatikan Hinata dengan pandangan matanya yang sama sekali tidak berubah. Seolah-olah menuntut lebih atas penjelasan yang harus ia dengar.
"A aku lelah. Aku ingin tidur. Selamat malam Naruto-kun" ia menghindar tatapan Naruto dan segera membaringkan tubuhnya di kasur serta menutupi tubuhnya dengan selimut. Takut nanti Naruto bertanya lagi.
Hinata berjalan menyusuri rumah Naruto sejak kecil. Ia belum pernah benar-benar menjelajahi rumah tersebut. Menyusuri berbagai sudut dari rumah tersebut. Tidak lama kemudian, ia melihat ayah Naruto sedang duduk menyesap minuman yang sepertinya teh atau kopi. Di tangannya sebuah koran yang sibuk ia baca. Hinata pun mendekat. Menyadari ada yang datang, pria paruh baya tersebut mengangkat wajahnya melihat siapa yang datang. Ia tersenyum melihat Hinata berdiri tidak jauh darinya tersenyum kaku melihatnya juga. Ia menepuk kursi mempersilahkan Hinata untuk duduk bersamanya.
"tou-san… maaf atas kejadian malam tadi" Kata Hinata setelah ia duduk.
"Tidak apa-apa, jangan terlalu diambil pusing. tou-san tidak apa-apa kok"
Melihat ayah Naruto, ia menjadi rindu pada ayahnya sendiri. Sudah cukup lama ia tidak melihat wajah ayahnya secara langsung.
"Karena semalam kau belum menjawab pertanyaanku, sekarang apa boleh aku bertanya lagi?"
"Ah, I iya tou-san. Tanya apa?"
Pria tersebut mengangkat kedua alisnya. Berpendapat bahwa menantunya ini malam tadi ternyata benar-benar tidak mendengarkannya. Ia pun mengulangi pertanyaan yang sama dengan malam tadi.
"Naruto-kun orangnya baik kok. Dia memperlakukanku dengan sangat baik. Tidak ada masalah yang berarti terjadi diantara kami. Kalaupun bertengkar, hanya pertengkaran kecil saja hanya masalah-masalah sepele" ujar Hinata.
"Aku senang mendengarnya, kupikir dia akan melukai perasaanmu. Ternyata tidak ya? Syukurlah, akhirnya ia bisa menjadi pria yang dewasa" kata tou-san senang.
"Iya Naruto-kun sangat perhatian padaku dan juga menyayangiku" Hinata kembali berbohong.
"Keluarga yang bahagia. Tapi akan lebih bahagia lagi jika dikaruniai anak. Hahaha"
"A anak?"
"Ya. Kalian berdua belum memberikan saya cucu" pria paruh baya tersebut masih tersenyum memandang Hinata.
"Iya, mungkin nanti tou-san. Sabar ya" kata Hinata tertawa.
Cukup lama waktu yang dihabiskan mereka untuk mengobrol. Ayah Naruto telah pergi karena ada urusan. Sedangkan Hinata masih terduduk disana sendirian. Ia kembali memikirkan percakapannya dengan ayah Naruto tadi. Ternyata baik kaa-san maupun tou-san menginginkannya untuk segera memiliki anak. Inilah yang membuatnya ingin menangis. Bagiamana bisa ia memiliki seorang anak dari rahimnya. Ia sendiri belum pernah disentuh oleh Naruto. Bagaimana mungkin ia bisa memiliki anak dari Naruto, memberikan pria tersebut seorang anak, padahal pria itu sendiri sama sekali tidak mencintainya bahkan tidak sama sekali menyentuhnya.
Memikirkan hal ini membuatnya merindukan Neji dan Hanabi. Ia ingin sekali segera pulang dan menceritakan semua bebannya pada kakak sepupu dan adiknya tersebut. Ia tidak sanggup menyimpan semua ini sendirian. Kedua telapak tangannya menutupi wajahnya. Hinata menangis.
TBC…
Okee saatnya membalas reviews dari para readers yang kece \(^.^)/
Ayzhar : Welehweleh ceritanya semakin seru ... :)
Tumben sikap Naruto yang sekarang gak begitu jutek ya sama hinata ? :D
Apa nanti karin benci pada Hinata, senpai ?
Uhmm... Jika ayu boleh kasih saran semoga chappie selanjutnya ada konflik yang mengharukan, dengan begitu ceritanya bisa tersentuh :'D
Apdate kilat author ;)
Author : Makasih ^^ maaf ya atas keterlambatannya.. :D
Bvocal : ff ny awesome...
Next
Author : Arigatou :D
ShinRanXNaruHina : huaahh hinata kok pasrah pasrah aja ya?tpi aq lmyn senang krn kiba yg dkt sma hinata,Bkn Sasuke Teme cos gue ga suka di NaruHina jika org ke tiga nya Sasuke pantat ayam #Perasaan ku ya,kyk nya ada aura ga enak dari Sasuke Fc.. tpi gue stju jga dgn kata" naruto,kok di sne hinata mdh senyum dan mudah nangis?
Author : Terima kasih udah mampir ke fic ini ya
Guest : hapus aja kibany, gimana carany trserah author. kalau kibany masih ada, psti bkal kjadian konflik pasaran. Author taulah maksudny ap, cuma saran thor. hidup NaruHina!
Author : Yep! Makasih sarannya ya masalah Kiba, author udah mikirinnya dari dulu udah lama banget. Tunggu aja chap selanjutnya :D
Soputan : Eh...kapan mereka buat anak,..rame kalau ketambahan penduduk..ehem
Author : *pasang muka mesum*
Sinuza : Baru pertama kali bca, . .ok bnget ceritanya, . .tolong buat chapter selanjutnya cepat ya
Author : Makasih banyak ya udah seneng sama ceritanya. Maaf, updatenya lama
Aeni Hibiki : Wah chap 5 nya seru.. :-)Ditunggu chap 6 nya ya author, klu bsa update nya kilat...hhheeee
semangat author... :-)
Author : Arigatou Maaf banget lama update, jangan bosan sama ceritanya ya Yaa, saya akan selalu semangat. Arigatou Aeni-chan ^^
Kyoanggita : Kyaa chp ini q suka. Hinata jdi smakin berani. Ganbatte hinata! :-D
Author : Yak! Ganbatte Hinata-chan \m/
Elisialorento : Lanjut chapter 8... _
Author : Chapter 8 masih lama ._. *plakk. Cahpter 6 mungkin hehe
Elisialorento : Kenapa tdk lanjut lagi? Udah discontinue ya? Padahal ceritanya bagus.. Penuh dgn konflik :-(
Author : Gak discontinue kok, author aja yang telat update. Gomen ne…
Darren : Lanjutannya buruan ya... :3
Author : Gak bisa janji T.T
Guest : ayo dong cepat update kelanjutannya keren banget ceritanya
Author : Maaf, maaf banget gak bisa update cepat T.T terima kasih banyak udah anggap fic ini keren
Hina chan : Please next, bgmna nanti hbgn naruhina stelah ini ?
Author : Pasti ini udah nunggu lama, maaf ya *membungkuk*
Pu394 : update! update! yei akhirnya lanjut juga... stres mikirin kelakuan nya naruto! rasa nya pengen balas naruto terbakar api cemburu! ! hwohohoho..cepet update lagi ya...pingin tau kelanjutannya lagi nih...smangat ya!
Author : Okeee Pu-chan :D *pasang semangat 45*
Thepeace : mna nih lanjutanyaaaaa...kog lama beNer...,
Author : Iya, emang lama. Maaf ya u_u
Kieamea : dasar si kiba dan si karin itu mau ngerusak rumah tangga naruhina saja maka dari itu saya tidak menyukai kiba dan karin.
Author : hahaha mereka disana emang buat ngerusak rumah tangga NaruHina :D
Guest : update thoooooooooooooor...q menunggu,
Author : Maaaaafffffff….. T.T :"(
Sam : Mna bro lanjutanya
Author : Ini nih. *nyodorin chapter 6*
Sampai jumpa di next chapter Minna-san ^^
*lambai-lambai tangan*
