The Easy Way

Chapter 7

Fanfiction wrote by Uchiha Nisa Chan

Dislaimer : Naruto owns Masashi Kishimoto

WARNING : OOC, AU, Typo bertebaran, EYD gak jelas, dan kesalahan lainnya


Naruto menyibakkan tirai yang menutupi jendela kamarnya. Lalu membuka benda berkaca tersebut, membiarkan angin pagi menyapu wajahnya. Diliriknya Hinata yang masih tertidur pulas di kasurnya. Sepertinya ia kelelahan sebab tidak biasanya Hinata bangun lebih lambat dari dirinya jika tidak sedang sakit atau kelelahan seperti ini. Naruto kemudian mendekat dan berdiri di pinggir kasur, memperhatikan wajah tersebut beberapa saat lalu mengeluarkan lengan kanannya dari saku celana yang ia kenakan. Tangannya terulur untuk menyentuh wajah tersebut, sejenak ia tampak ragu-ragu. Ditariknya kembali tangan tersebut lalu diulurkannya lagi. Begitu seterusnya sampai ia merasa bosan. Lalu dengan gerakan yang cukup cepat, Naruto meletakkan bibirnya di bibir Hinata. Merasakan benda lembut tersebut bergesekan dengan miliknya. Dihisapnya sebentar, takut Hinata akan bangun akibat ulahnya. Setelah dirasanya cukup, ia kemudian melepaskan ciumannya perlahan lahan sambil tetap memperhatikan wajah di hadapannya. Naruto mengakui bahwa Hinata cantik, ya sangat cantik apalagi jika dilihat dari jarak sedekat ini.

Setelah kembali konsentrasi dan memikirkan apa yang baru saja ia lakukan, Naruto beranjak pergi meninggalkan kamar tersebut sebelum ia kembali melayangkan pandangannya pada Hinata dan menyelimutinya.


Hampir satu jam Naruto berkutat dengan masakannya. Jika selama ini Hinata yang selalu bangun pagi dan menyiapkan sarapan untuknya, kali ini ia ingin mencoba menghidangkan sarapan buat Hinata. Dilayangkannya kembali mata sapphirenya ke anak tangga, memastikan apakah Hinata sudah bangun atau belum. Namun, wanita yang ditunggu tunggunya tersebut tak kunjung muncul. Ingin rasanya ia membangunkannya, namun Naruto tak tega karena Hinata tertidur dengan sangat nyenyak. Ia tahu bahwa Hinata kelelahan sehabis perjalanan pulang dari rumah orang tua Naruto.

"Naruto-kun sedang apa?" kata suara yang tiba tiba muncul dari belakang Naruto. Ia cukup kaget melihat Hinata yang tiba-tiba saja telah berdiri di belakangnya dengan penampilan yang lumayan berantakan. Sepertinya ia benar benar baru bangun dari alam mimpinya.

"Sedang masak" Jawab Naruto seadanya. Hinata melongo mendengar jawaban Naruto, ia lalu melihat apa yang sedang dimasak oleh suaminya tersebut.

"Ohh.. masak Takoyaki ya. Memangnya Naruto-kun bisa? Nanti rasanya gak enak loh, sudah biar aku saja yang meneruskan" kata Hinata

"Tidak usah, biar aku saja. Kau meragukan kemampuan masak ku ya? Lihat saja nanti bagaimana rasanya" Meski dia sendiri tidak yakin kalau Takoyaki ini layak dimakan.

Hinata kembali melongo melihat ulah suaminya.

"Sudah pergi sana, kau mandilah dulu sementara aku menyelesaikan masakan ini" Naruto mendorong dorong pelan tubuh Hinata untuk menjauh darinya.

Sementara Hinata mandi, Naruto tersenyum sendiri melihat takoyaki bikinannya. Tidak gosong maupun kementahan. Meski tidak diketahui bagaimana rasanya, tapi baunya saja telah berhasil membuat perutnya yang lapar semakin lapar.

"Uwaaa ternyata masakan Naruto-kun lumayan juga ya" Kata Hinata sambil menyuap sepotong takoyaki ke dalam mulutnya. Naruto tersenyum senang mendengar pujian Hinata.

"Tapi masakan Kiba-kun jauh lebih enak, dia bisa memasak berbagai macam masakan Jepang maupun Korea. Waktu itu ia pernah memberikannya padaku. Lain kali Naruto-kun harus mencobanya ya" kata Hinata tersenyum senang.

"Kalau begitu jangan dimakan lagi" Naruto meletakkan sumpit yang dipegangnya ke atas meja lalu menarik piring takoyaki Hinata dan membuang takoyaki itu begitu saja.

"Ke kenapa dibuang?" kata Hinata tidak terima makanannya diambil. Namun terlambat, takoyaki tersebut telah dibuang ke tong sampah oleh Naruto. Ia mengabaikan racauan Hinata dan pergi meninggalkannya begitu saja.

Hinata bengong melihat Naruto yang tiba-tiba berubah sikap. "Aku kan masih lapar" gumamnya sambil menggenggam sumpit di tangannya.


Hinata berdiri di dalam gerbong kereta yang sedang melaju. Kereta itu cukup padat, karena hampir semua masyarakat Konoha keluar untuk beristirahat dari aktivitasnya. Tentu saja, karena sekarang sedang jam jam sibuk. Ia memperhatikan bangunan-bangunan di balik kaca kereta, melewati sekolahnya dulu tempat semua kenangannya bersama Naruto tersimpan bersama di balik gedung tersebut. Hinata tersenyum saat melewati bangunan tersebut. Ia lalu mengetik pesan "15 menit lagi aku segera sampai" di layar handphonenya, kemudian ia kembali memperhatikan sekelilingnya.

Mata lavender Hinata menelusuri sekelilingnya, mencari cari sosok tersebut. Ia kemudian tersenyum melihat pria tersebut telah duduk di salah satu meja yang menghadap ke arah jendela, membelakanginya.

"Maaf, apa kau telah lama menunggu?" Kalimat awal Hinata meluncur begitu saja.

Pria tersebut pun menoleh dan tersenyum senang.

"Lama tidak bertemu Hinata-chan"

"Yaa, begitulah Kiba-kun. Kau tentu tahu aku kemarin kemana. Sudah memesan?"

"Belum" Kiba segera memanggil pelayan.

"Jadi, apa aku mengganggu harimu?" Tanya Kiba

"Emm, sedikit"

"Waw. Itu jawaban yang sangat jujur"

"Bukankah jujur itu baik?" Canda Hinata.


Sasuke berjalan memasuki salah satu cafe setelah memarkirkan mobilnya. Ia berjalan santai seperti biasa dengan kedua tangan dimasukannya ke dalam saku celana. Mata onyx miliknya menelusuri ruangan tersebut mencari cari tempat yang masih kosong agar dapat ia duduki. Onyx sekelam malam tersebut melihat sosok yang dikenalinya duduk di salah satu bangku di sudut ruangan dengan seorang pria yang tidak ia kenal. Yang diyakininya bukan sahabatnya. Maka Sasuke pun mendekat.

"Sasuke?"

"Hn"

Hinata menjadi salah tingkah melihat kemunculan sahabat suaminya tersebut yang tiba-tiba.

"Siapa dia?" Tanya Kiba

"Emm, Kiba-kun ini Sasuke-kun. Sasuke-kun, ini Kiba-kun" Mereka pun bersalaman.

"Boleh aku duduk bersama kalian?" Tanya Sasuke

"Tentu" jawab Hinata.

"Sasuke-kun, ada janji ketemu sama orang ya?"

"Ya, aku menunggu suamimu. Dia lama sekali"

"Eh? Na Naruto-kun mau kesini?"

"Ya"

"Kok bisa" kata Hinata pelan

"Apanya?" Sasuke menoleh menghadap Hinata.

"Kenapa janjian ketemu di cafe bukan di kantor"

"Ini kan jam makan siang,buat apa ketemuan di kantor?" Tanya Sasuke heran

"Tapi kenapa gak barengan perginya?" Tanya Hinata lagi

"Kau pikir kami sekantor"

"Oh iya, enggak sekantor" Hinata tersenyum malu lantaran kelupaannya.

"Hinata-chan" suara lain membuka suara.

"Ya Kiba-kun?" pria tersebut tersenyum melihat tingkah Hinata.

"Aku duluan ya"

"Emm, tidak apa-apa?"

Kiba terkekeh.

"Tentu saja. Terima kasih sudah meluangkan waktu. Sampai jumpa lagi"

Ia pun berdiri dari kursi dan tersenyum kepada Hinata maupun Sasuke. Namun Sasuke hanya memasang wajah datar, tanpa ekspresi.


"Teme… Maaf aku terlambat" Sesal Naruto yang kemudian langsung duduk di depan Sasuke.

"Eh? Hinata-chan kenapa bisa ada disini?" teriak Naruto

"Dobe kau ini berisik sekali, kecilkan volume suaramu" desis Sasuke

"Jangan-jangan" Kedua bola mata Naruto menyipit melihat Hinata

"Kau tidak perlu cemburu, aku dan Hinata tidak sengaja bertemu"

"Cih!" Naruto memalingkan wajahnya dari dua orang di hadapannya.

"Dobe" desis Sasuke. Matanya tajam melihat ke arah sahabatnya tersebut seolah-olah mau memakannya hidup-hidup.


"Naruto-kun kenapa?" air mata Hinata jatuh begitu saja sesampainya mereka di rumah.

"Tak apa"

"Yang dikatakan Sasuke-kun benar, kami tidak sengaja ketemu"

"Aku tidak peduli masalah itu"

"Lalu kenapa Naruto-kun bersikap seperti ini? marah padaku ya?"

"…"

"Naruto-kun?!"

Sebelah tangan Hinata mencengkram kuat kemeja Naruto. Menatap pemuda di hadapannya dengan air mata yang terus merembes keluar. Naruto mendesah melihat tatapan Hinata. Dilepasnya tangan Hinata yang mencengkram bajunya dan kini gantian dia yang mencengkram kedua pergelangan tangan Hinata. Mata sapphire itu tidak seperti biasanya, melainkan tampak mengerikan di mata Hinata.

"Kau pikir sendiri kenapa aku marah padamu"

Setelah itu Naruto pergi meninggalkan Hinata dan menuju kamarnya membiarkan Hinata menangis di ruang tamu sendirian.


"Aku masih tidak tahu mengapa ia marah padaku" ujar Hinata pada Tenten suatu hari.

"Kau tidak bertanya lagi padanya?"

Hinata menggeleng.

"Bagaimana aku bisa bertanya, setiap aku membahas masalah itu, mendadak wajahnya menjadi tegang dan kemudian ia mengalihkan pembicaraan"

"Sebenarnya... Ini pertanda bagus untukmu Hinata-chan"

"Maksudnya?"

"Kau tidak sadar bahwa Narutomu cemburu?" Senyum jahil Tenten muncul.

"Entahlah, aku sama sekali tidak yakin"

Sebenarnya ada banyak yang aku pikirkan tentang rumah tangga kami batin Hinata dalam hati. Sementara di tempat lain perbincangan dua sahabat agak sedikit berbeda.

"Dobe, kau cemburu padaku sahabatmu sendiri? Oh ayolah Dobe, aku tidak akan mungkin mengambil Hinata darimu"

"Mana mungkin Teme, jangan salah paham. Aku bukannya marah padamu"

"Lalu pada Hinata? Kalau iya itu sama saja. Intinya kau cemburu karena melihat kami berdua kemarin"

"Teme, kemarin saat aku masuk ke cafe tersebut, aku melihat pria itu lagi. Pria yang akhir-akhir ini sering pergi bersama Hinata. Kami berpapasan tepat di pintu masuk"

"Maksudmu Kiba?"

"Darimana kau bisa tahu?"

"Kemarin saat aku tiba di sana, aku melihatnya duduk bersama dengan Hinata. Lalu aku pun ikut duduk dan tidak lama kemudian, dia pulang"

"Sudah kuduga" desis Naruto.

"Kau cemburu eh?" Sebelah alis Sasuke terangkat.

"Aku? Cemburu padanya? Cih mana mungkin Teme"

Sasuke tertawa mendengar ucapan Naruto.

"Benar? Tapi kemarin aku melihat pria itu ingin mencium istrimu. Maka dari itu pun aku mendekat, agar dia tidak jadi mencium Hinata"

"Ha? Serius Teme?" Ujar Naruto panik. Wajahnya tegang.

"Hahahaha jangan setegang itu dong, aku bercanda" kekeh Sasuke

"OY TEME"

"Hahaha jadi sekarang kau masih mau menyangkal bahwa ada perubahan pada perasaanmu?"

"Apanya Teme? Aku tidak mengerti"

"Wajahmu tegang dan panik saat aku mengatakan hal tentang ciuman tadi. Itu artinya kau cemburu. Kalau kau cemburu, itu artinya sayang, paham?"

"Kau jangan mengada ada Teme, mana mungkin aku begitu. Aku tidak mencintai Hinata Teme. Tak akan pernah"

"Hm kau yakin? Lalu kenapa wajahmu tegang?"

"Siapa yang begitu? Aku baik-baik saja hahaha"

Sasuke memutar bola matanya bosan.

"Okee. Kalau begitu kenapa kau marah pada Hinata hm?"

"Aku bukannya marah Teme, aku hanya merasa kesal. Masa dia seenaknya saja ketemuan sama pria lain di belakangku"

"Itu sama saja baka. Intinya kau tidak suka melihat Hinata bersama pria lain, kau cemburu Dobe"

"Tidak, aku baik-baik saja jika melihat Hinata bersama pria lain. Tak masalah bagiku. Bahkan aku tidak peduli dia mau melakukan apapun sama pria lain"

"Apapun? Sungguh?"

"Ya"

"Kalau begitu, aku boleh mencoba untuk mencium Hinata dong. Tiba-tiba aku merasa penasaran bagaimana rasanya bibir Hinata"

"Heh Teme ! Awas kalau kau berani melakukannya. Aku berjanji akan menghajarmu habis-habisan"

"Katanya tadi kau tidak peduli pada Hinata..."

"..."

Naruto merasa dirinya termakan ucapannya sendiri. "Sial, aku dijebak oleh Sasuke" batinnya dalam hati.

"Berhentilah untuk berpura-pura Dobe. Jangan sok bahwa kau tidak menyukainya padahal kau mencintainya. Berhentilah untuk akting seolah-olah kau tidak peduli. Jangan siksa dirimu. Sebenarnya apa yang kau inginkan? Padahal kau tahu bahwa Hinata sangat mencintaimu dan kau pun mulai menyukainya. Apa kau tidak ingin membangun rumah tangga yang bahagia?"

Naruto tidak bisa memutar otaknya untuk membantah ucapan Sasuke. Tidak biasanya Sasuke berbicara sebanyak ini. Biasanya kata-kata yang keluar dari mulutnya hanya sebaris dua baris, namun kali ini tidak.


Hinata memperhatikan dua orang anak kecil sedang asik bermain. Mereka tampak begitu bahagia, sedang tidak jauh dari sana dua orang dewasa pun juga berada tidak jauh dari dua bocah kecil tersebut, sepertinya orang tua dari anak-anak tersebut.

"Ada apa?" Tanya Kiba yang heran melihat setetes air mata jatuh dari kedua pelupuk matanya. Hinata diam tidak menjawab.

"Bertengkar lagi dengan suamimu?"

"Entahlah, aku benar-benar merasa lelah sekarang" Air mata tersebut semakin jatuh jauh ke bawah menyusuri pipinya.

"Apa yang bisa aku lakukan untukmu Hinata-chan?"

"Hanya selalu menjadi temanku, itu saja lebih dari cukup. Terima kasih Kiba-kun"

"Aku masih heran kenapa kau mau dengan orang seperti dia, apa kau tidak mau membuka hatimu untuk pria lain?"

"Hatiku sudah terpaut dengannya, aku sangat menyayanginya Kiba-kun sampai rasanya aku ingin mati"

Tanpa disadari Hinata, sebenarnya hati Kiba sangat terluka mendengar pernyataannya. Sementara pikiran Hinata berkecamuk, melihat dua anak kecil tadi membuatnya kembali memikirkan perbincangannya dengan orang tua Naruto tempo hari, belum lagi masalahnya dengan Naruto yang kemarin belum selesai. Pria tersebut masih saja mengacuhkannya. Inilah yang kurang disukai Hinata dari Naruto. Tabiat Naruto yang apabila marah akan mendiamkan orang yang membuatnya kesal tanpa sebab. Bagi Hinata, dimarahi Naruto ataupun dibentaknya itu jauh lebih baik dibandingkan didiamkan seperti ini. Sepulang ke rumah nanti, dia akan bicara dengan Naruto bagaimana pun caranya karena dia telah membuat keputusan.


Hinata membuka pintu tatkala bel rumahnya berbunyi.

"Naruto-kun" Hinata mencoba manja untuk menarik perhatian Naruto. Ia memeluk tubuh Naruto, namun segera Naruto tepis. Ia berjalan santai melewati Hinata tanpa berkata apa-apa.

Usaha Hinata tidak berhenti sampai disana, ketika di kamar ia membantu Naruto membuka pakaiannya dan juga dasinya.

"Naruto-kun bagaimana harimu di kantor hari ini? Apa menyenangkan?"

"…"

"Naruto-kun, sampai kapan kau akan marah padaku?" air mata Hinata telah siap untuk keluar

"Sampai kau sadar kesalahanmu dan tidak mengulanginya lagi"

"Bagiamana aku bisa tahu jika kau tidak memberitahuku"

"Maka dari itu aku memintamu untuk menyadarinya sendiri" mata mengerikan tersebut kembali muncul. Hinata tak paham, semarah inikah Naruto padanya?

"Naru…"

"Sudah cukup aku tidak mau membahasanya"

Hinata terduduk di lantai begitu saja. Ia kembali menangis. Tangisannya cukup kuat dan tersedu-sedu.

"Aku benar-benar tidak tahu Naruto-kun. Beberapa hari belakangan ini aku memikirkannya, namun aku tetap tidak tahu. Maafkan aku Naruto-kun jika aku salah"

"…"

"Aku mohon…"

Masih tidak ada jawaban dari Naruto. Akhirnya Hinata pun mendekat ke arah Naruto yang sedang tiduran. Ia duduk di tepi kasur.

"Naru... Aku ingin pulang"

"Aku tidak menegerti" jawab Naruto

"Aku ingin pulang ke rumah tou-san.."

"Apa yang kau bicarakan Hime? Kau ingin membiarkan aku sendirian?" Kini posisi Naruto menghadap ke arah Hinata

"Aku rindu pada tou-san, hanabi, dan nii-san" kata Hinata sambil tetap menangis.

"Yasudah, minggu depan saja kita kesana"

"Tapi aku ingin sekarang Naruto-kun. Besok aku mau kesana..."

"Tapi kalau sekarang aku tidak bisa Hime, tentu saja aku bisanya di hari libur"

"Aku kan tidak meminta Naruto-kun untuk ikut..."

"Jadi kau ingin pergi sendirian dan meninggalkanku selama 1 minggu?"

Hinata menjawab dengan anggukan.

"Tidak boleh" jawaban Naruto terdengar ketus di telinga Hinata.

"Tolong jangan egois Naruto-kun"

"Kau yang egois Hime, aku memintamu untuk minggu depan bukan sekarang. Tapi kau ngotot ingin besok sudah pergi ke sana dan meninggalkanku sendirian"

"Memangnya enak dicuekin seperti ini? Kau marah tanpa sebab, keadaan yang seperti ini membuatku semakin memikirkan ucapan kaa-san waktu itu"

"..."

"Aku hanya ingin pulang ke rumah sebentar saja, ingin merasakan udara sejuk dulu tanpa memikirkan apapun..."

"Apa yang dikatakan kaa-san waktu itu?"

"Aku tidak bisa memberitahumu Naruto-kun"

"Aku suamimu Hime"

"Aku sedang tidak ingin berdebat"

"Hah yasudah besok kuantar kau ke rumah tou-san"


"Hari minggu aku jemput, jangan lupa cuma 1 minggu ku izinkan untuk tinggal disini"

"Iya"

Naruto tersenyum ke arah Hiashi, lalu menunduk hormat sebelum akhirnya ia memacu mobilnya meninggalkan tempat itu.


Naruto berjalan gontai memasuki rumahnya. Rumah itu sepi, dengan latar gelap yang menemaninya. Tak ada cahaya, tak ada sapaan dari Hinata tatkala menyambutnya sepulang kerja, tidak ada pula aroma masakan yang menusuk hidungnya seperti biasanya.

Baru lima hari Hinata pergi namun bagi Naruto sudah sangat lama. Ternyata ia tidak terbiasa tanpa Hinata di sisinya. Baru ia sadari, bahwa ia juga membutuhkan Hinata sama seperti Hinata membutuhkannya.

Baru kali ini Naruto merasa sangat merindukan Hinata. Tidak ada lagi Hinata yang membukakan pakaiannya sepulang kerja, menyiapkan air hangat untuknya, tidak ada lagi Hinata yang duduk menunggunya di atas kasur selagi ia mandi ataupun menunggunya pulang kerja di sofa ruang tamu. Ia benar benar merindukan Hinata. Semua tentangnya. Senyumannya, suaranya, gerak geriknya dan yang paling ia rindukan saat ia memanggil Naruto dengan "Naruto-kun" sambil tersenyum hangat.

Benar yang dikatakan Kakashi-sensei waktu itu, saat detik-detik menjelang pernikahannya bahwa "kau akan merasa kehilangan saat ia telah tiada" Kali ini Naruto merasa kehilangan Hinata. Naruto termenung sendirian di kamar tidur mereka. Rasanya sangat hampa dan sepi. "Tenang Naruto, dua hari lagi ia akan kembali padamu" ujarnya menyemangati dirinya sendiri.

Dengan langkah berat, Naruto menuju kamar mandi, membersihkan dirinya dan menyegarkan pikiran. Bunyi bel berbunyi saat ia menuruni tangga menuju lantai dasar. Keningnya mengernyit mendengar suara tersebut. "Siapa yang bertamu malam-malam gini" batinnya. Dengan rasa penasaran, ia membukakan pintu tersebut.

Seorang wanita yang seumuran dengan istrinya berdiri santai di hadapannya. Sesaat ia melongo melihat gadis tersebut sebelum akhirnya ia membuka suara.

"Karin-chan? Ada apa?"

"Naruto-kun, aku hanya mau mengantar ini padamu"

Naruto memperhatikan kantong plastik yang ada di tangan Karin.

"Tenang saja, aku sedang tidak berusaha mengambil kesempatan kok. Aku hanya merasa peduli padamu sebagai teman sekaligus bosku dan... juga sebagai pria yang aku cintai"

"Masuklah" Karin pun masuk mengikuti Naruto

"Tunggu disini sebentar, aku akan mengambilkan minum untukmu"

Selama Naruto ke belakang, Karin duduk manis menunggunya sambil memperhatikan rumah tersebut meski ini bukan pertama kali baginya.

"Drett drett" handphone Naruto diatas meja bergetar. Karena Naruto sepertinya akan lama, maka Karin mengangkat telepon tersebut apalagi setelah ia melihat siapa yang menelepon.

"Moshi-moshi" Hinata mengernyitkan dahinya mendengar suara tersebut

"Karin? Naruto-kun ada?"

"Hem, Naruto-kun sedang di dapur menyiapkan minum untukku. Ada yang ingin disampaikan?"

"Tidak ada"

"Emm, baik… tut tut tut" sambungan telepon terputus. Hinata telah menutup teleponnya.

"Ada apa Naruto-kun? Kau seperti tidak bersemangat sama sekali" kata Karin cemas melihat pria dihadapannya dengan wajah lelah seperti banyak beban pikiran.

"Tidak apa-apa, mungkin aku hanya belum terbiasa tanpa Hinata"

"Kau merindukannya?"

Naruto menatap Karin sebentar, lalu ia menghela nafas dan kemudian mengiyakan.

"Tadi Hinata meneleponmu" kata Karin akhirnya. Meski awalnya ia tidak mau mengatakan ini.

"Lalu kau angkat telepon darinya?"

Karin mengangguk yang disusul dengan helaan nafas Naruto. Ia lalu mengambil handphonenya dan memencet nomor Hinata. Naruto pun berjalan menjauh dari Karin, menunggu nada dering tersebut tersambung.

"Hime, kau tadi meneleponku? Ada apa? Apa ada yang ingin kau sampaikan?" kata Naruto saat telepon tersebut diangkat.

"Tidak jadi, kupikir kau sedang sibuk dengan sekretarismu jadi lupakan saja"

"Hime! Tunggu tunggu tunggu" kata Naruto takut Hinata segera mematikan teleponnya.

"Tadi itu bukan apa-apa, aku dan Karin tidak melakukan apapun. Percayalah"

"Oh ya, baiklah tentu saja aku percaya. Karena hanya kau dan sekretarismu yang menyelesaikan pekerjaan kantor dimana saja dan sampai selarut ini"

"Dengarkan aku!"

"Lanjutkan pekerjaanmu Naruto. Konbanwa"

"Hime…" Naruto menghela nafas saat sambungan telepon tersebut terputus. Hinata memutuskan sambungan telepon secara sepihak. Ia kembali duduk di sofa depan Karin

"Pulanglah"

"Kau mengusirku?"

"Aku tidak tahu harus menjawab ya atau tidak. Aku hanya tidak mau kau pulang selarut ini dari rumah seorang pria"

"Baiklah, sampai jumpa besok Naruto-kun" Karin telah berdiri dari sofa.

"…"

"Karin-chan!"

Karin menoleh mendengar namanya dipanggil. Ia telah berdiri di depan pintu sekarang.

"Kau bawa mobil pribadi kan?" Tanya Naruto

"Ya. Kenapa?"

"Tidak apa-apa, berarti aku tidak perlu mengantarmu pulang"

"…"

"Hati-hati di jalan. Langsung pulang ke rumah ya, ini sudah larut Karin-chan"

"Ya"

"Kalau sudah sampai hubungi aku dan terima kasih telah membawakan aku makan malam"

"Sama-sama Naruto-kun" kata Karin tersenyum.


Karin melempar tasnya ke jok mobil, lalu memacu mobilnya dari rumah tersebut. Disana Naruto masih berdiri di ambang pintu menunggunya sampai benar-benar menghilang. Baru beberapa meter dari rumah Naruto, Karin mengerem mobilnya di pinggir jalan. Matanya berkaca-kaca lalu mengeluarkan tetesan-tetesan air bening. Hatinya sangat sakit, ia telah kehilangan orang yang dicintainya. Ini yang kedua kalinya Naruto lebih memilih Hinata dibanding dirinya. Yang pertama saat mereka bertiga bertemu tidak sengaja di taman bermain. Hinata yang berlari begitu saja membuat Naruto cemas lalu meninggalkannya sendirian di taman tersebut dengan wajah bingung. Pernyataan Naruto tempo hari di ruangannya sehari setelah kejadian di taman bermain berlangsung, dan tadi pria tersebut mengakui bahwa ia merindukan istrinya, Hinata. Apa ini berarti bahwa Naruto telah menyukai Hinata dan menyayanginya sama seperti Hinata menyayangi Naruto? Karin benci Hinata, ia sangat membenci Hinata. Karena Hinatalah yang telah merusak hubungannya dengan Naruto sekaligus menghancurkan hidupnya. Karin kembali teringat percakapan Naruto dengan Sai waktu mereka masih SMA.

FLASHBACK

Saat itu, Karin habis dari ruang kepala sekolah, saat ia lewat ia melihat Naruto dan Sai berdiri membicarakan sesuatu, maka ia pun berhenti sebentar ingin menyimak percakapan dua orang siswa tersebut.

"Naruto kau tidak main-main kan dengan Karin?"

"Kenapa memangnya?"

"Aku hanya heran, menurutku.. selama ini kalian belum terlalu dekat. Baru akhir-akhir ini aku melihat kalian akrab dan tidak lama setelah itu terdengar kabar bahwa kalian jadian"

Naruto terkekeh ia lalu menjawab pertanyaan temannya tersebut.

"Tentu saja aku tidak serius dengannya. Motifku memacarinya hanya ingin membuat Hinata cemburu"

"Sebenci itukah kau dengan gadis Hyuga tersebut?"

"Aku tidak membencinya, mana bisa aku membencinya. Dia temanku. Aku hanya menjaga jarak darinya. Semua ini kulakukan agar ia membenciku karena aku merasa bersalah tidak bisa membalas perasaannya. Hanya ini yang bisa aku lakukan agar ia tidak mengharapkan apa-apa lagi untukku. Aku bukan pria yang pantas untuk gadis Hyuga seperti dia"

Setelah itu Karin langsung berlari meninggalkan mereka berdua. Ia menangis sambil berlari. Sejak hari itu, Karin menjauh dari Naruto. Tidak membalas SMSnya, tidak mengangkat teleponnya dan selalu menghindar saat bertemu Naruto. Di kelas pun ia diam saja, meski ia tahu Naruto terus memperhatikannya. Tapi pada suatu hari, Naruto berhasil membuat Karin tidak kabur lagi. Ia menyeret Karin ke ruang UKS untuk bicara berdua saja.

"Jelaskan padaku apa yang sebenarnya terjadi? Akhir-akhir ini kau selalu menghindar dariku" Tanya Naruto to the point. Ia sudah tidak tahan lagi.

"Aku hanya melakukan hal yang sama kau lakukan pada Hinata. Namun ini untuk melindungi diriku dari sakit hati, berbeda dengan motifmu padanya"

"Maksudmu?" Tanya Naruto tidak mengerti

"Kau menjadikan aku pelampiasan kan? Jahat sekali" tangis Karin pecah untuk pertama kalinya di hadapan Naruto

"Karin-chan, aku sama sekali tidak mengerti apa yang kau bicarakan"

"Aku mendengar semua percakapanmu dengan Sai tentang keseriusanmu padaku waktu itu. Sekarang sudah jelas kan?"

Untuk beberapa saat, Naruto terkejut mendengar ucapan Karin. Namun kemudian ia tesenyum.

"Kalau kau memang mendengarnya lalu kenapa menangis?"

"Maksudmu?"

"Sudah kuduga, pasti kau langsung berlari begitu aku mengatakan tentang motifku menjauhi Hinata. Sebenarnya percakapan kami tidak sampai disana Karin-chan, percakapan kami masih berlanjut, ada sambungannya"

"…" Karin masih menatap Naruto dengan tatapan bertanya

"Dengar…" Naruto memegang erat pundak Karin dan menatapnya dengan serius

"Awalnya memang begitulah yang terjadi. Namun seiring aku mencoba menjalin hubungan denganmu dan kau yang selalu berada disisiku, aku menemukan kenyamanan pada dirimu. Dan tujuan ku bukan lagi seperti tujuan awal. Kau mengerti maksudku kan?"

"Benarkah?" Tanya Karin tidak percaya

"Hem? Coba kau pikirkan apa yang terjadi padaku belakangan ini, mengapa aku tak henti-hentinya menghubungimu dan berusaha mendekatimu. Aku hampir frustasi akibat ulahmu yang menjauhiku tanpa sebab. Bermalam-malam aku memikirkan apa salahku. Kurasa kau pasti tahu jawabannya"

"Kau tidak bohong kan?"

"Tidak, tentu saja tidak. Maaf yang telah membuatmu salah paham dan menangis. Maaf, maafkan aku Karin-chan" Naruto menghapus sisa-sisa air mata yang masih membasahi pipi Karin

"Tidak apa-apa, aku lega mendengarnya. Terima kasih Naruto-kun"

"Makanya, lain kali kalau sedang menguping pembicaraan orang dengarkan sampai habis ya jangan setengah-setengah. Jadinya begini kan, bikin repot saja" goda Naruto

Karin menggembungkan pipinya mendengar celoteh Naruto, ia memukul-mukul pelan dada bidang Naruto dan juga lengannya. Hal itu membuat Naruto gemas dan menahan kedua tangan Karin. Mereka saling berpandangan cukup lama, lalu secara perlahan Naruto menempelkan bibirnya ke bibir Karin. Mereka berciuman di ruang UKS yang kebetulan saat itu hanya mereka saja yang ada d ruangan tersebut.

Di saat yang bersamaan, Hinata juga pergi ke ruang UKS untuk mengambil obat buat Sasuke. Waktu itu Sasuke jatuh saat bermain basket dan Sakura yang panik sibuk mengurusinya, sehingga Hinatalah yang mengambil obat tersebut dari ruang UKS. Awalnya, Hinata menyangka bahwa Naruto memacari Karin untuk membuatnya cemburu dan sakit hati, namun setelah ia melihat Naruto dan Karin berciuman di tempat tersembunyi, hal itu mematahkan anggapan Hinata. Hinata benar-benar yakin bahwa Naruto mencintai Karin sepenuh hati.

END FLASHBACK

Sementara itu, Naruto masih terduduk lesu di sofanya. Hime aku mohon jangan marah padaku… resahnya. Jangan terluka, jangan cemburu, ya ampun.. Ia mengusap tangannya ke wajah. Haa.. Karin-chan kenapa juga harus kau angkat… keluhnya sekali lagi.


TBC…

Balasan reviews ^^


i love naruhina

wah

malam2 ktmu fic bagus

crtany keren senpai

klo bisa buad narutony nyesel krna uda sia2in n nyakitin hinata

ohya, orng ke 3'na kok pake karin? pdhl lbh cocok klo pake shion

hehehe

apdet kilad ya senpai

penasaran ma lanjutanny

ganbatte ne senpai

Author

Hehee keren ya? Makasih ^^

Emm, waktu itu author gak kepikiran sama Shion ==" *plakk


Soputan

Sip,walau konflik utamanya blm terasa,ini aja..

Lanjutkan

Author

Hehehe sabar bro :p


Guest

Lanjutkan

Author

Okeee


Manguni

Bagus...,...,...

Kenapa gak dibuat naruto lagi cemburu,,lebih seru..

..lanjutkan...

Author

Kayaknya udah author buat deh di chap-chap sebelumnya ^^


meong chan

baguuuusss, cepet lanjutin yaa min, penasaran nii ma ceritanya xD

Author

Diusahakan ya ^^


Durara

uchiha-san, gini lho um gimana yaa

pertama cuma mau bilang cerita author itu bagus banget, jadi update kilat ya..

kedua, itu lho kok Hinatanya OOC banget ya? trus gampang emosian gitu :3

ketiga, penulisannya kurang tepat, alurnya kecepetan, trus kayak satu scene pindah ke scene lain gaada jarak/pembedanya, langsung aja latarnya berubah

bisa aja kan scen 1 ke 2 dikasih tanda "" aja paling nggak, gitu lho ;3

segitu aja, maaf banyak bacot ya author /\)

salam kenal

Author

Pertama makasih ya, diusahan untuk update kilatnya..

Kedua, kan udah dikasih warning OOC hehe :D

Ketiga, makasih atas koreksinya. Untuk chap selanjutnya akan author usahan lebih baik lagi ya ^^ tapi kalau yang "penulisannya kurang tepat" itu, jujur kurang ngerti ._.

Iya gak apa-apa, malahan terima kasih banyak ya durara-san atas masukannya :3


Nyuga totong

.lanjut

Author

Okee


Guest

Lanjutkan

Author

Okee


Huee T.T dasar baka naru, baka! baka! baka!

bruagh...!#nonjok naru mental 7x

buat hinata yg sbar ya fighting..

lanjut sempai ;)

Author

Hahahaha

Okee :D


elisialorento

Huah... Akhirnya update jg... Sy kira udah discontinue... XD

Lanjut chapter berikutnya, Ganbatte... Skalian klu bs update kilat ya

Author

Huaaa..

Maaf ya, maaaff banget.

Author terlalu lama updatenya T.T

Selalu diusahakan untuk update cepat, namun ini tergantung waktu luang author dan juga ide yang muncul…


Kyoanggita

Akhrnya bca juga stlh menantkan.a.

Nee,author-san kpn naruto sdar menyukai hnata?

#smga happyending :D

Author

Gomen, gomen atas keterlambatannya *bungkuk bungkuk*

Kapan ya? :p


elisialorento

Ini fanfic udah tidak di lanjut lagi? Lama sekali updatenya T_T

Author

T_T

Lanjut kok lanjut, tenang aja

Author janji, fic ini gak bakal discontinue

Cuma emang lama updatenya T.T

Sabar aja ya, menghadapi author macam saya u_u

Sampai ketemu di next chap ^^


RnR