The Easy Way
Chapter 8
Fanfiction wrote by Uchiha Nisa Chan
Dislaimer : Naruto owns Masashi Kishimoto
WARNING : OOC, AU, Typo bertebaran, EYD gak jelas, dan kesalahan lainnya
Sinar matahari kembali memancarkan sinarnya ke tanah Konoha. Menyinar lurus menembus berbagai rumah penduduk, termasuk ke rumah Naruto yang juga masuk menembus kamarnya melewati jendela besar itu. Sinar yang berwarna sepadan dengan rambut jabriknya sukses membangunkannya dari tidur panjang malam tadi. Memaksa sang empunya menampakkan mata sapphire yang begitu menyejukkan mata bagi siapa saja yang memandangnya.
Naruto pun membuka matanya lalu meraih jam kecil yang berada di samping kasurnya. "09.00" begitulah angka yang terpampang di jam kecil tersebut. Mata indah Naruto membulat sempurna. Tak lama kemudian ia mendesah "ya ampun" ujarnya. Ya, Naruto kesiangan pagi ini. Tentu saja ia kesiangan karena tidak ada Hinata yang biasa membangunkannya. Namun untung saja ini adalah hari Minggu, jadi ia tidak perlu terburu-buru untuk pergi ke kantornya.
Meski kesiangan, ia tidak terlalu begitu memikirkannya. Masa bodoh batinnya. Dulu dia juga sering bangun kesiangan sehingga setiap pagi telinganya akan panas lantaran mendengar teriakan kaa-sannya, Kushina yang membangunkannya sambil teriak-teriak.
Mendapati kenyataan bahwa hari ini adalah hari Minggu, membuat Naruto tersenyum bahagia. Hari ini ia akan mendapatkan istrinya kembali. Karena hari ini ia akan menjemput Hinata dari rumah klan Hyuga. Naruto sudah tidak sabar untuk bertemu, berbicara, dan melihat Hinata. Karena sejak malam itu, ketika Karin mengunjunginya Hinata tidak pernah lagi menelponnya, dan ia tentu saja gengsi untuk menelpon Hinata duluan.
Mobil hitam milik Naruto telah terparkir di halaman kediaman keluarga Hyuga. Ia disambut pertama kali oleh Shizune, salah seorang maid disana yang sedang mengatur tanaman di halaman rumah tersebut. Shizune pun membungkuk hormat yang dibalas senyuman menawan oleh Naruto.
"Nona Hinata sedang pergi keluar bersama nona Hanabi, tuan.." Ujar Shizune memberi tahu
"Benarkah?" Sebelas alis Naruto terangkat, namun segera ia melangkah masuk untuk memastikan.
"Naruto?!" Tenten setengah berteriak ketika melihat Naruto. Hal itu pun membuat Hiashi dan Neji menoleh bersamaan. Naruto pun mendekat dan memberi hormat kepada mertuanya serta kakak iparnya tersebut. Hiashi tersenyum menanggapi Naruto. Namun tidak dengan Neji, ia memasang tampang datar seperti biasanya.
"Istrimu sedang pergi Naruto" kata Hiashi begitu Naruto telah duduk di dekat mereka
"Hm, ya aku tahu. Shizune-san telah memberitahuku tadi... Memangnya mereka pergi kemana tou-san?"
"Mungkin menemani Hanabi membeli sesuatu atau hanya jalan-jalan sebentar. Kau sudah memberitahunya kalau kau akan datang hari ini?"
"Belum" Naruto memasang tampang polos.
"Seandainya kau memberitahunya, mungkin dia tidak akan pergi melainkan akan menunggumu disini sampai kau datang"
"Tidak apa-apa tou-san, mereka kan juga perginya cuma sebentar. Lagipula, sebelum Hinata kemari, kami telah membuat perjanjian kapan aku akan menjemputnya"
"Naruto-nii...!" Tiba-tiba saja ada suara gadis kecil menggema di ruangan tersebut. Membuat mereka semua menoleh. Gadis kecil tersebut pun berlari ke arah Naruto.
"Hanabi-chan, kau merindukanku ya?" Balas Naruto yang langsung memeluk adik kecil Hinata.
Pandangan mata mereka bertemu, sesaat mereka diam. Namun kemudian Hinata berlalu meninggalkan mereka semua tanpa menyapa Naruto terlebih dahulu atau pun sama anggota keluarganya yang lain. Tentu saja itu membuat mereka semua bingung, kecuali Naruto. Ia paham bahwa istrinya tersebut masih marah padanya.
"Hanabi... Nii-san pergi ke tempat nee-chanmu dulu ya. Nanti kita main lagi. Oke?" Hanabi pun mengangguk.
Naruto menuju kamar Hinata. Ternyata benar, gadis tersebut sedang berada disana.
"Kau kenapa?" Tanya Naruto begitu berada di hadapan Hinata
"Kenapa Naruto-kun tidak bilang-bilang kalau mau kesini?"
"Bukankah hari ini memang saatnya aku menjemputmu untuk kembali ke rumah kita?"
"Aku tidak mau"
"Jangan membuatku emosi Hime"
"Kubilang tidak mau, aku tidak mau pulang sama Naruto-kun. Aku masih mau disini"
"Kenapa memangnya kau tidak mau kembali denganku?"
"Sekarang aku yang mau tanya, kenapa Naruto-kun menjemputku? Bukankah Naruto-kun akan senang jika aku tidak ada biar bisa mengajak Karin ke rumah sampai larut malam?"
"Bahas itu lagi" suara Naruto terkesan malas untuk membahasnya.
"Tapi benar kan? Iya kan?" Naruto tahu Hinata terluka karena terlihat jelas dari mata rembulannya yang menatapnya sedih
"Aku tidak begitu Hime" Hinata tahu kalau Naruto berbohong padanya. Tapi Hinata tidak mengerti hal sesungguhnya yang dipikirkan oleh Naruto. Mata sapphire itu terlihat datar, tanpa ekspresi yang mengisyaratkan apa-apa.
"Lalu kemarin..."
"Ayo pulang" Naruto memotong ucapan Hinata yang belum selesai ia ucapkan.
"Tidak...mau"
"Jadi apa yang kau mau?" Tanya Naruto lagi
"Masih ingin tinggal disini beberapa hari lagi"
"Kurang dari satu minggu?" Hinata mengangguk. Naruto menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya ke luar dan kembali menatap wanita dihadapannya.
"Baiklah jika itu memang yang kau mau. Tinggal lah disini beberapa hari lagi Hime.."
Naruto pun berjalan melewatinya dan keluar dari kamar tersebut.
"Naruto-kun mau kemana?" Tanya Hinata bingung.
"Tentu saja pulang ke rumah kita" lagi-lagi tatapan Naruto begitu datar, tanpa ekspresi. Hinata bingung. Seharusnya suaminya tersebut menampakkan ekspresi marah padanya atau menampakkan ekspresi bahagia karena ia menolak pulang bersamanya. Tapi ini tidak. Entah apa yang dipikirkan oleh pria berambut kuning tersebut.
"Dasar tidak peka..." Kata Hinata begitu mendengar suara mobil suaminya yang menjauh dari kediaman ayahnya, Hiashi. Tanpa disadari, air mata Hinata mengalir di permukaan pipinya. Melihat nee-channya menangis, Hanabi pun mendekat. Meski ia masih kecil, belum mengerti banyak tentang hubungan orang dewasa, namun ia paham bahwa nee-channya tersebut habis bertengkar dengan Naruto.
"Nee-chan kenapa menangis?"
"Naruto-kun tidak peka... Aku menolak pulang bersamanya kan agar ia lebih berusaha membujukku. Tapi dia malah meninggalkanku dan pulang ke rumah sendirian... Jahat sekali... Hiks hiks"
"Kenapa nee-chan tidak bilang saja sama Naruto-nii kalau nee-chan mau Naruto-nii lebih berusaha lagi?"
"Tidak semudah itu Hanabi-chan... Sudahlah, kau masih terlalu kecil untuk mengerti ini. Lagipula, nii-sanmu yang satu itu kan memang tidak pernah mencintaiku..."
Hanabi pun memeluk Hinata yang sedang menangis. Seolah-olah merasakan juga apa yang dirasakan oleh kakaknya tersebut.
Naruto memencet bel tersebut berulang kali. Namun sang empunya rumah tak kunjung membukakan pintu. "Apa Karin-chan sedang pergi ya?" Naruto bertanya sendiri pada dirinya. Ia lalu menelpon Karin.
"Ada apa Naruto-kun? Kau mencariku?" Tanya Karin begitu mereka berdua sudah berada di dalam rumahnya.
"Ya. Aku membutuhkanmu Karin-chan.."
"Untuk?"
"Menggantikanku untuk sementara waktu" dahi Karin berkerut, tanda ia tidak mengerti.
"Aku ingin kau menggantikan aku di kantor. Mengerjakan tugas-tugasku dan menjalani rutinitasku di kantor seperti biasanya. Tenang saja, ini tidak lama kok hanya beberapa hari. Aku jamin, kurang dari satu minggu aku pulang"
"Memangnya Naruto-kun mau kemana?"
"Tinggal di rumah orang tua Hinata"
"Itu kan bisa dilakukan kapan-kapan Naruto-kun. Saat libur misalnya"
"Aku tahu itu, tapi Hinata tidak mau. Ia menolak saat aku ajak pulang ke rumah kami. Ia ingin tinggal disana beberapa hari lagi. Aku tidak bisa ditinggalnya lagi, maka aku putuskan untuk menemaninya juga disana. Aku minta tolong padamu, karena hanya kau yang bisa aku percaya menggantikan aku. Hanya kau yang paling mengerti tentang pekerjaanku. Aku yakin, kau pasti bisa mengerjakan tugas-tugasku seperti aku mengerjakannya dan menyelesaikannya karena kau sekretarisku yang hebat"
"Jadi sekarang kau rela meninggalkan pekerjaanmu demi dia?"
"Dia istriku Karin-chan. Hinata lebih berharga dari pekerjaan"
"..." Karin hanya terdiam melihat Naruto.
"Aku sudah menjelaskan di kertas ini tentang detailnya. Jadi kau tidak terlalu pusing. Tinggal kau selesaikan saja" Naruto menyerahkan setumpuk dokumen kepadanya.
"Bagaimana kalau aku menolaknya?"
"'Kau harus membantuku Karin-chan"
"..."
"Sampai jumpa"
Naruto segera masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan tempat tersebut. Mobil itu melaju kencang membuat daun-daun yang berguguran di sekitar sana tertiup angin.
"Kau menyukainya Naruto-kun. Kau mencintai Hinata, bukan lagi aku..." Cairan bening menetes dari matanya sembari menatap kepergian pria tersebut dengan mobil hitamnya.
Naruto memasukkan pakaian-pakaiannya ke dalam tas, begitu juga dengan beberapa baju Hinata sebagai tambahan. Ia pun menresleting tas yang sudah penuh dengan pakaian tersebut. Naruto pun membawa tas tersebut, mematikan lampu kamarnya dan menuruni tangga. Sekarang ia telah berada di dalam mobil hitamnya lagi. Dilihat dari luar, rumahnya tersebut begitu gelap karena ia telah mematikan seluruh lampu di rumah itu. Ia telah siap untuk kembali menemui istrinya.
Hanabi terbangun dari tidurnya. Perutnya terasa lapar dan haus sehingga memaksanya untuk ke dapur mencari makanan. Ia sering terbangun tengah malam karena merasa lapar meski ia sudah makan malam bersama keluarganya. Dengan wajah yang masih mengantuk, ia keluar dari kamarnya dan berjalan santai menuju dapur. Saat menuju dapur, tiba-tiba saja matanya melihat pemandangan yang tidak biasa. Ia melihat Naruto sedang mencium kakak perempuannya, Hinata yang sedang tertidur di sudut ruangan rumah itu, tidak jauh dari kamar Hinata. Naruto mendekap erat tubuh Hinata dan mencium bibirnya. Meski begitu, Hinata sama sekali tidak terbangun. Mata amethystnya masih saja terpejam. Hanabi ingin teriak, namun Naruto segera menyuruhnya diam. Untung saja Naruto segera menyadari keberadaan Hanabi sebelum gadis kecil tersebut teriak. Bisa gawat kan kalau ia teriak malam-malam begini. Bisa-bisa ia dihajar habis-habisan oleh mertua dan kakak iparnya karena telah melakukan hal semacam itu di depan seorang anak kecil.
Setelah melepas ciumannya karena Hanabi ingin berteriak, ia meminta Hanabi menunggunya disana selagi ia menggendong Hinata kembali ke kamar mereka.
"Hanabi-chan.. Maaf soal tadi ya hehe"
"Kenapa tidak nii-san lakukan saja di dalam kamar?" Tanya Hanabi
"Begitu aku sampai kesini, aku tidak menemukannya di kamar. Ternyata ia tertidur di sofa di ruangan itu. Jadinya..."
"Nii-san mesum!" Kata Hanabi cemberut.
"Iya iya aku minta maaf Hanabi, lagipula kau kenapa malam-malam begini keluyuran di dalam rumah?"
"Aku lapar nii-san, nii-san mau?" Hanabi menawarkan roti yang sedang dimakannya.
"Arigatou.." Naruto menerima sepotong roti yang sama seperti yang dimakan oleh Hanabi. Mereka berdua pun sama-sama diam, menikmati roti tersebut.
"Nii-san tidak suka sama nee-chan ya?" Tanya Hanabi begitu roti di mulutnya habis.
"Kenapa kau bertanya seperti itu? Nee-chanmu mengatakan sesuatu padamu?"
"Nee-chan bilang kalau nii-san tidak peka" Naruto mengernyit heran, tidak mengerti apa yang dikatakan oleh anak kecil disampingnya ini.
"Tadi nee-chan menangis saat nii-san tinggal pergi. Katanya ia ingin agar nii-san membujuknya lagi untuk pulang bersama, lebih berusaha lagi maksudnya bukan pergi seperti tadi"
"..." Naruto hanya diam.
"Nii-san janji ya jangan buat nee-chan menangis lagi..."
Naruto tersenyum mendengar permintaan Hanabi, ia lalu memeluk erat adik iparnya tersebut dan mengelus-elus rambutnya serta mencium puncak kepalanya. Tentu saja Naruto menyayangi Hanabi, karena ia adalah adik dari istrinya.
"Sekarang kau kembali ke kamarmu ya. Jika ayahmu tahu aku membiarkanmu tidak tidur semalaman, aku bisa dimarahinya"
"Iya nii-san. Tapi antar aku ke kamar ya"
"Dengan senang hati tuan putri" kata Naruto tersenyum.
Hanabi pun menaik ke atas kasur dan berbaring disana. Naruto lalu menarik selimut dan menutupi tubuh Hanabi.
"Tidur yang nyenyak ya. Konbanwa.." Naruto mencium kening Hanabi
"Arigatou Naruto-nii..." Ujar Hanabi sebelum Naruto keluar dari kamarnya.
Hinata merasakan ada sesuatu yang menghalangi kepalanya sehingga ia tidak bisa bergerak banyak. Kedua tangannya pun terasa begitu sempit tertutup oleh sesuatu. Ia pun perlahan membuka matanya. Sesuatu yang menonjol kecil menjadi pemandangan pertamanya di pagi itu ketika ia membuka mata. Hinata merasa tonjolan itu mirip jakun. Ia pun berusaha menggerakkan badannya, namun tangannya sulit bergerak. Ia juga merasa ada sesuatu yang menimpa tubuhnya. Diliriknya ke bawah, ternyata tangannya terhalang oleh sesuatu berwarna tan, seperti kulit Naruto. Hinata berusaha bergerak, tapi ada tangan yang melingkari pinggulnya membuatnya sedikit kesulitan. Tetapi kemudian ketika ia berusaha bergerak, Hinata juga merasakan ada yang menindih kakinya. Matanya pun melihat apa yang sebenarnya terjadi. Ternyata ada kaki selain dari kakinya yang berada di atas miliknya, kaki yang lebih besar dari miliknya. Hinata berusaha berkonsentrasi. Jakun, sesuatu yang berwarna tan tadi seperti dada seseorang, tangan, dan kaki...
"Uwaaaaaa" Hinata berteriak sekencang-kencangnya pagi itu. Ia langsung meloncat turun dari kasur. Entah kekuatan dari mana sehingga ia bisa lepas padahal ia tadi kesulitan untuk bergerak.
"Wow wow wow. Hime? Kau mengagetkan aku" kata Naruto begitu ia tersadar
"Na naruto-kun? Ke kenapa bisa ada disini?" Tanya Hinata gugup
"Aku kemari malam tadi" kata Naruto. Matanya seperti ingin terpejam kembali
"Kok bisa? Kantor bagaimana?" Hinata masih bingung akan semua ini
"Nanti saja aku jelaskan Hime, aku masih ingin tidur..."
"Tapi... Aku tidak menger... Uwaaaa kenapa Naruto-kun tidak pakai baju?!" Hinata segera menutup matanya dengan kedua telapak tangannya
"Celanaku masih kupakai..."
Tenten dan Neji hanya bisa spechless mendengar keributan yang diciptakan oleh pasangan tersebut. Begitu juga dengan Hiashi, hari pertama mereka menginap di rumahnya namun telah terjadi keributan di pagi hari seperti ini. Ia pun hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah putri dan menantunya tersebut.
Setelah berulang kali membujuk Naruto untuk bangun dari tidurnya, akhirnya pria berambut kuning jabrik tersebut menyerah juga. Jadi sekarang Hinata bisa merapikan kamarnya yang sedikit berantakan.
"Hime...! Tolong ambilkan handukku, aku lupa membawanya" teriak Naruto dari kamar mandi
"Euh, dasar Naruto-kun" gerutu Hinata. Ia pun memberikannya pada Naruto
"Hime, pakaianku ada di dalam tas itu ya" katanya lagi dibalik kamar mandi. Hinata pun paham apa maksud suaminya tersebut. Ia mencarikan pakaian yang cocok untuk dikenakan oleh Naruto pagi itu.
"Na naruto-kun kau membawa punyaku juga ya?"
"Ya. Kupikir siapa tahu kau membutuhkannya"
Pipi Hinata bersemu merah. Ia malu karena Naruto juga membawakan beberapa pakaian dalamnya. Tapi, yasudah mau diapakan lagi toh Naruto memang suaminya tidak seharusnya lagi ia malu pada suaminya sendiri.
Setelah Hinata yang sibuk menanyakan ini itu, kenapa Naruto bisa ada disini bersamanya, apa yang Naruto lakukan, bagaimana dengan urusan kantor, kapan Naruto tiba. Dan Naruto pun dengan sabar menjawab pertanyaan tersebut satu per satu. Untung saja Hinata tidak menanyakan kenapa ia bisa ada di kamar. Sepertinya ia tidak ingat kalau malam tadi ia tertidur di sofa sehingga Naruto masih bisa menutupi apa yang ia lakukan padanya malam tadi.
Pagi ini, Naruto dan Hinata bisa kembali sarapan bersama meski bukan di rumah mereka dan hanya berdua. Jika tempo hari mereka sarapan bersama orang tua Naruto, kali ini saatnya bersama keluarga Hinata. Bersama ayah Hinata dan kakaknya serta adiknya, Hanabi.
"Hinata bagaimana? Adakah perkembangan dari pemeriksaanmu?" Tanya Hiashi tiba-tiba. Membuat mereka yang duduk di meja makan memandangnya.
"Eh? Ma maksud tou-san apa?"
"Tentang kau yang tak kunjung hamil, kau sudah memeriksakan dirimu ke dokter kandungan kan?"
Hinata dan Naruto pun tersedak makanan yang mereka makan hampir bersamaan lantaran mendengarkan kalimat barusan. Mereka pun saling pandang. Hiashi jadi bingung melihat kejadian barusan, ia melirik ke arah Hinata dan Naruto secara bergantian. Sedangkan Neji dan Tenten yang sudah paham masalahnya hanya bisa terdiam kaku, ikut merasakan ketegangan yang dirasakan oleh Hinata dan Naruto.
"Naruto, kau menemani istrimu melakukan pemeriksaan kan? Orang tuamu sudah membicarakannya dengan Hinata, tadi barusan mereka menlponku karena kalian berdua ada disini"
"Iya tou-san, aku dan Naruto-kun telah pergi kesana. Tapi kata dokternya tidak ada kelainan apa pun. Mungkin belum saatnya saja aku mengandung. Katanya begitu" ujar Hinata berusaha menetralisir sebelum Naruto yang menjawab.
"Ya kalau memang begitu tidak apa-apa. Ayah tidak ingin terlalu mendesakmu asalkan kalian berdua telah pergi ke dokter kandungan"
"Gomen tou-san, aku paham maksud tou-san. Kalian semua menginginkan kami punya anak. Tapi... Sampai sekarang aku belum bisa membuat Hinata hamil..."
"Mengandung itu tidak semudah yang kita bayangkan, semuanya pasti mengalami kendala. Jadi, kalian berdua jangan bersedih"
"Gomen tou-san..." Lirih Hinata.
Tanpa disadari oleh Hinata, Naruto terus memperhatikannya. Naruto ingin melihat wajah Hinata ketika membahas masalah ini. 'Jadi ini yang kemarin dikatakan oleh kaa-san padanya' kata Naruto dalam hati. Sementara Tenten dan Neji paham kenapa mereka tidak bisa punya anak. Tentu saja karena cinta yang tak terbalas membuat semuanya terhambat.
Naruto berdiam diri tenggelam dalam pikirannya sendiri. Tidak dipungkiri, semakin tua usia pernikahan mereka masalah yang muncul pun semakin bertambah. Jika dulu ia hanya perlu menjaga perasaan Hinata dan menahan dirinya dari rasa sakit hati karena terpaksa menikah dengan orang yang tidak dicintainya, maka kini ia pun dituntut untuk menghasilkan keturunan. Keluarga besar mereka telah mempermasalahkannya. Dan ketika masalah ini tidak bisa mereka atasi, kedua orang tua mereka pun pasti cepat atau lambat akan mencium ada yang tidak beres dalam rumah tangga mereka. Dan muncullah masalah lagi, bagaimana ia bisa menjelaskan ini semua.
Naruto merasa tertekan, tentu saja ia merasa serba salah. Tapi apa daya, semua ini sebenarnya bukan sepenuhnya salahnya. Bukankah sudah dari awal ia menolak perjodohan ini? Tetapi permintaan kedua orang tuanya lah yang membuatnya melakukannya. Waktu itu, sungguh Naruto tidak ingin membuat mereka kecewa dan marah padanya. Kalau dipikir-pikir, yang mengalami kesedihan dan terluka disini bukan hanya Hinata tapi dirinya juga ikut merasakan hal yang demikian.
Sebenarnya, Naruto bisa saja membuat Hinata mengandung. Ia mau melakukan hubungan suami istri dengannya demi mewujudkan keinginan kedua orang tuanya. Tapi penolakan Hinata pada malam pertama mereka membuat Naruto berpikir ulang. Lagipula, ia juga ingin melakukannya dengan wanita yang ia cintai, sementara ini bagaimana bisa ia melakukannya sedangkan ia sendiri masih meragukan cintanya pada Hinata. Karena Naruto belum benar-benar yakin tentang perasaannya yang sesungguhnya.
Hinata termenung sendirian di kamarnya. Akhirnya Naruto tahu masalah yang ia hadapi. Entah apa yang ada dipikiran Naruto saat ini, ia pun menjadi gelisah.
"Hinata-chan, kau baik-baik saja?" Tanya Tenten yang tiba-tiba saja telah berada di kamarnya
"Aku munafik jika berkata aku baik-baik saja. Tentu saja aku sedang tidak baik-baik Tenten-chan.."
Tenten pun menjadi iba, ia lalu mendekat dan memeluk adik iparnya tersebut. Seolah-olah merasakan juga apa yang sedang dirasakannya.
"Kalimat 'bicara emang mudah tapi melakukannya susah' sudah tidak asing lagi di telinga kita. Tapi tidak ada hal lain yang bisa aku bantu saat ini selain berbicara denganmu. Hinata-chan.. Aku mengerti keadaanmu. Tapi mulai saat ini kau harus benar-benar memikirkan masa depan rumah tanggamu. Jika kau masih mau berharap dan memberikan Naruto kesempatan, maka lakukanlah. Berikan yang terbaik pada suamimu sehingga pada akhirnya ia akan luluh dan balik mencintaimu. Tapi jika kau memang sudah merasa lelah, kurasa kau harus berkata jujur pada ayahmu dan orang tua Naruto. Dan... Mungkin kau akan mendapatkan yang lebih baik dari ini"
"Tenten-chan..."
"Aku tahu ini sulit, tapi cobalah untuk berusaha terlebih dahulu" ia tersenyum pada Hinata.
"Arigatou Tenten-chan.. Jujur saja, aku belum siap jika harus melepas Naruto. Aku takut nanti ia akan benar-benar pergi dari hidupku untuk selama-lamanya"
"Kalau begitu, berusahalah. Kau gadis yang mengagumkan Hinata. Semua ini hanya masalah waktu, ini proses.."
"Arigatou.." Kini Hinata yang memeluk kakak iparnya tersebut. Menangis dalam pelukan Tenten.
Sikap Naruto biasa-biasa saja, seperti biasanya. Seolah-olah tidak ada apa-apa. Namun Hinata tahu, Naruto pasti sedang memikirkannya juga. Sikap acuhnya ini ia tunjukkan karena ia juga tidak tahu harus bagaimana. Mereka berdua sama-sama sedang bingung akan masalah yang sama sekarang. Tapi sama-sama tidak terlalu memusingkannya di hadapan satu sama lain.
"Hime.. Kurasa besok kita harus sudah kembali ke rumah. Sudah saatnya kita untuk pulang" kata Naruto suatu hari, yaitu beberapa hari setelah sarapan bersama pagi itu.
"Emm, ya baiklah Naruto-kun"
"Kau tidak keberatan kan?" Tanya Naruto
"Tidak Naruto-kun"
"Kau tahu kenapa aku mengajakmu pulang dengan segera?" Hinata menggelengkan kepalanya.
"Lusa ada launching produk baru. Entah kenapa kali ini tou-san ingin kau mendampingiku untuk melakukan pelaunchingan tersebut. Ia bilang.. Saat produk kita laku terjual di pasaran dengan grafik yang tinggi atau saat akan mengeluarkan produk baru, seorang direktur atau manajernya harus didampingi oleh sang istri karena dialah sumber kekuatan dari sang manajer..."
"Apa aku sumber kekuatanmu?" Tanya Hinata.
Naruto tersenyum lalu menjawab "pikirkan saja sendiri" ia lalu pergi beranjak ke tempat Neji dan Hiashi yang sedang duduk bersama.
"Ya ampun Naruto-kun! Ini rumah atau kapal pecah?! Kau apakan rumah ini? Kenapa bisa sampai seberantakan ini?" Hinata marah-marah ketika mereka sudah pulang. Ia kaget melihat rumahnya yang sangat berantakan.
"Kau jelek jika sedang marah Hime" celetuk Naruto yang sedang duduk di sofa. Memperhatikan istrinya yang sedang bersih-bersih.
"Biarin! Aku kan memang jelek" wajah Hinata semakin masam mendengar kalimat barusan.
"Siapa yang bilang?"
"Naruto-kun!" Jawab Hinata lagi. Wajahnya masih sama seperti tadi.
"Aku tidak bilang begitu ah" kata Naruto lagi, ia masih santai duduk-duduk di sofa memperhatikan istrinya yang tengah mengepel lantai. Keringat bercucuran di sekujur tubuhnya.
"Iya! Naruto yang bilang itulah mengapa Naruto-kun tidak pernah mencintaiku karena aku jelek!" Wajah Hinata semakin cemberut.
Naruto terkekeh mendengar kalimat yang diucapkan istrinya barusan.
"Jadi menurutmu karena itu? Aku tidak mengatakan kau jelek Hime, kau sendiri loh yang bilang" cibir Naruto
"Tadi barusan Naruto-kun bilang aku jelek"
"Kubilang kan jika kau sedang marah.."
"Tapi sama saja, aku jelek tidak secantik Karin. Jadi aku tidak pernah dicintai oleh Naruto-kun" Hinata masih ngomel-ngomel seperti tadi. Seolah-olah sedang ngambek.
Naruto mengangkat sebelah alisnya.
"Jadi kau pikir aku mencintai wanita dari rupanya saja?"
"Tidak tahu!"
"Kok tidak tahu?"
"Sudah ah, Naruto-kun jahat! malah membully dan mentertawakan aku. Padahal baru saja aku bilang bahwa cintaku ditolak oleh pria yang aku cintai"
Naruto rasanya ingin sekali tertawa terbahak-bahak mendengar pendapat Hinata. Namun ia tidak melakukannya, yang ada nanti Hinata akan semakin ngambek jadi ia hanya tertawa sedikit.
"Jadi siang ini aku telah membuat seorang nona Namikaze marah? Lalu apa yang harus aku lakukan nona agar kau tidak marah lagi padaku?" Tanya Naruto mengulum senyum.
"Hei nona, aku bicara padamu" Naruto mencuil Hinata. Kali ini ia telah berdiri di sampingnya.
"Aku bantu ya" Namun Hinata masih diam meski Naruto telah ikut bersih-bersih.
Entah kenapa kali ini Naruto sangat jahil. Tak jarang ia menggoda Hinata dan membuat gadis itu kesal karena ulahnya. Alhasil pekerjaan mereka menjadi tambah lama sedangkan Naruto tak henti-hentinya tertawa melihat Hinata. Tapi lama kelamaan Hinata nyerah juga, jadi ia ikut permainan Naruto dan tertawa juga bersamanya.
NARUTO POV
Rasanya sudah lama sekali kami tidak begini. Ada rasa bahagia dan puas ketika bisa melihat Hinata tertawa bersamaku seperti saat ini. Aku ingin sekali bisa terus seperti ini seperti waktu hubungan kami baik-baik saja, sebelum aku menghindar dan bersikap dingin padanya. Sebenarnya aku yang salah disini, bukan Hinata. Karena akulah yang menjaga jarak diantara kami, aku juga yang menghapus suasana seperti saat ini. Aku sangat suka bisa melihat Hinata tertawa seperti ini karena ulahku. Aku sangat merindukan tawa Hinata karena aku tahu beberapa tahun terakhir ini aku pasti sudah banyak membuatnya mengeluarkan air mata kesedihan baginya. Aku tidak habis pikir kenapa kemarin aku bisa melakukan itu padanya. Ternyata aku pria yang jahat untuk wanita sebaik dia..."
END NARUTO POV
Suasana Namikaze Corp tidak biasanya. Begitu banyak orang-orang yang berdatangan ke sana hanya untuk melihat peluncuran produk baru mereka. Naruto dan Hinata pun tentu menjadi sorotan utama diantara mereka semua. Namun, di tengah-tengah mereka tentu ada Karin, yang memang wajar saja mengingat dia adalah sekretaris Naruto sendiri. Karena perusahaan ini termasuk perusahaan tersohor di Konoha, jadi tentu saja beberapa orang dari perusahaan lain juga ikut menyaksikan acara tersebut, termasuk Sasuke dan Kiba.
"Eh? Kiba-kun? Kau datang juga?" seru Hinata begitu melihat Kiba.
"Ya" jawab Kiba. Seperti biasa, ia selalu tersenyum saat berbicara dengan Hinata. Ya, tentu saja karena dia sangat menyukai Hinata.
Naruto dan Sasuke langsung melihat ke arah pria tersebut begitu mendengar namanya yang baru saja keluar dari mulut Hinata. Ada sorot mata tidak suka dari kedua bola mata sapphire itu. Hinata pun sadar, bahwa suaminya tersebut tengah menatap mereka berdua dengan pandangan tidak suka karena hal itu benar-benar ditunjukan oleh Naruto. Hinata jadi terdiam menatap Naruto, mungkinkah suaminya tersebut cemburu? Itulah yang dipikirkan oleh Hinata semenjak itu.
Hinata berjalan menjauh dari kerumunan. Sepertinya ia mau ke toilet atau memang sengaja untuk pergi beberapa saat, menikmati suasana disana. Ketika ia berjalan, ia berpapasan dengan Karin. Mereka pun saling berpandangan. Hinata tidak tahu harus bagaimana menghadapi Karin, ia pun tersenyum padanya. Tapi senyuman itu tidak dibalas oleh Karin, ia lalu mengatakan bahwa ia ingin bicara dengan Hinata. Hinata pun mengiyakan.
"Bagaimana rasanya? Apa kau puas?" tanya Karin
"Maksudmu? A aku tidak mengerti"
"Kau pura-pura tidak mengerti ya? Atau memang harus diperjelas agar kau lebih paham?"
Hinata bingung dengan Karin. Ia hanya diam menanggapi ucapannya sampai ia kembali bicara.
"Kau boleh mendapatkan Naruto tapi tidak untuk hatinya. Apa kau merasa bangga karena sekarang kau telah menikah dengannya? Kau bangga hem?"
"Kenapa tidak? Dia suamiku. Hatinya sangat pantas untuk kudapatkan. Aku tidak bangga karena telah menikah dengannya, tapi aku bangga karena aku bisa menjadi istri yang baik untuknya"
"Hah? Istri yang baik? Kau pikir dia bahagia bersamamu? Coba kau pikirkan raganya memang ada padamu, tapi tidak hati dan pikirannya. Ia selalu bersamaku dan selalu memikirkanku…."
"Karin cukup…"
"Dia terpaksa menikah denganmu dan ia sama sekali tidak merasa bahagia. Apa ini yang kau sebut 'istri yang baik'?"
"Karin cukup" Berulang kali Hinata meminta Karin untuk menghentikan ucapannya, tapi Karin malah melanjutkannya seolah tidak puas jika belum melihat Hinata menangis dan terluka seperti yang ia rasakan.
"Kau memang yang berhasil menikah dengannya tapi perlu kau ketahui bahwa akulah wanita yang dicintai oleh Naruto-kun! Aku wanita pertama yang ia lamar, namun sayang sekali kemarin aku pergi meninggalkannya. Dia melamarku, kau tahu? Jauh sebelum kalian bertemu kembali. Dia menginginkan aku yang menjadi istrinya bukan kau Hinata!"
"A apa kau bilang…?"
BRUK! Hinata terjatuh ke lantai. Ia pingsan habis mendengar kalimat yang keluar dari mulut Karin. Karin yang melihat Hinata pingsan pun diam, bingung dan panik. Seseorang lewat di depan mereka berdua. Ia sama terkejutnya dengan Karin melihat Hinata terbaring di lantai.
TBC…
Hueeee selesai *goyang salto, lanjut joget Caesar* *plakk :v
Huaaa maaf ya lagi-lagi telat update T.T satu bulan dianggurin fic ini, padahal lagi libur ya, tapi masih aja lama update.
Tapi kan Nisa juga mau santai dan istirahat dulu T.T *alasan lagi*
Disini Hiashi dan Neji nya OOC BANGET YAA! Hahaha gak apa-apa kan readers? Emang sengaja kok, habis Nisa gak tahu lagi fic ini mesti diapain maaf ya kalau ceritanya ngebosenin, maklum Nisa newbie loh *peluk bantal*
Makasih ya buat para readers yang setia nungguin fic ini, sumpah review dari kalian adalah alasan terbesar bagi Nisa untuk terus update fic ini. Tenang aja, fic ini gak bakal discontinue kok asal selalu ada yang review dan rame *plakk :v *kode biar rame review* hehehe :D
Seperi biasa ini balasan reviews :
Beetha :
Akhirnya update jga, hahahaha XD #plak
lanjut author, semangat, walaupun lama akan ku tunggu :D
Author :
Aww! Makasih
NaruHina-Lover :
fic ini emang bikin sedih.
ini nanti end nya naruhina kn?
update kilat ya.
semangat author-san.
Author :
Hehehe
Nisa gak bisa kasih tau ya, end nya gimana. Pairingnya siapa hehe =))
Nee, arigatou ^^
Manguni :
Tetap bagus*bahasanya enak*
apa akan dibuat konflik berat'?
Atau yg ringan2"?
Tentang acara pembuatan generasi penerus.."kapan?.
Atau buat saja naruto lepas kendali.!.utk mempercepat penambahan 2 menambah konflik.
Author :
Makasih )
Waw! Hahahah nanti jadi Rated M dong =))
Nanti, Nisa pikir-pikir lagi ya
Selalu gak bisa janji kalau mesti update kilat T.T
prince namikaze :
update scepatxa thor... jgn ngilang ajj... bkin mti pnasaran...
Author :
Maaf ya
Ayzhar :
Huaa.. Gomen'ne chap.6 :'( soalnya baru buka ff :( ..
NaruHina nya disini kok jadi saling marahan yak?
Kapan baikan sih? Karin juga disini jadi serasa PHO, kamu sama kiba aja ya.. Jangan sama Naruto ya.. :D #ntar aku bejek-bejek..
Umm.. Senpai, kapan hinata punya anak? #aku jadi gemes, kalo dia punya anak.. :D
Apdate kilat senpai ;)
*eh senpai punya fb? Apa namanya? bagi dong fbnya- bolehkan aku berteman? :D
Author :
Iya gak apa-apa, salah author juga kok yang kelamaan update, jadi wajar aja kalau Ayzhar-chan gitu ..
Kapan ya? Kalau dibuat sekarang nanti rated M. Nisa gak mau bikin fic rated M
Anisa Dwi Oktariani nama FB. Search aja, pasti ketemu. Boleh kok, mau banget berteman sama readers )
Durara :
whoaa keren! udah panjang :33 pertahankan ya nisa-chan )9
Author :
Makasih ) eh? 'Udah panjang?' berarti selama ini kependekan ya? -_-
Elisialorento :
Yay, update juga akhirnya _
Tolong next chapter di uldate kilat, ya, nanti dikirain discontinue lagi
Author :
Iyaa, author usahain ya )
Amuto :
kasian bgt hinata udh cerai aja sama naruto sama kiba aja tuh yang jelas2 sayang
Author :
Tapi Kiba kan belum nyatain perasaannya loh hehehe =))
SHERINARU :
Bikin Hinatanya Meledak,marah sm dingin dong buat beberapa waktu biar Naruto ngerasain gmn rasanya digituin please ya.. Uchiha-chan.. !
Aku mau bgt Hinatanya marah smbil nampar and bls dendam ke Naruto okkk... Bs gak?
Maaf ya kalau bnyk mnta.. Soalnya ini ff bgs bgt..
Author :
Nanti ya requestnya, Nisa tamping dulu
Iya gak apa-apa, bagus dong malah =)) bagus ya? Aduh makasih ^^ bagusnya pakek banget lagi :3
Msconan :
akhirnyaa,,sengeng banget pas liat fic ini mencuat lagi kepermukaan..hha :v
wah,, makon rame XD
update kilat yaa..fufu
Author :
Hkhhkhkhk :v
Diusahain yaa =))
naruto no baka :
lanjutin dong min...jadi penasaran sama klanjutan ceritanya ;)
Author :
Hehehe iya, ini udah dilanjutin maaf ya nunggu lama
Namerin asakaze :
Tor lnjut jngan lma" tar q bsa tuambah pnsaran end jngan bkin q g bsa tdr krna pnsaran!
Author :
Ya ampun maaf ya jangan marah dong :""( *hiks*
Sampai jumpa di chapter 9 minna-chan ^^
Jangan lupa review ya..
Ingat, review kalian adalah motivasi terbesar Nisa untuk terus update :D
Maaf ya kalau ceritanya jelek T.T harap maklum
Bye bye~
*kecup basah para readers* *plakk* :v
