Hai-hai :D

Kak Mey dan aku datang lagi #Blink

Hohohoho, Terima kasih yang udah repiu :d sini kupeluk satu-satu #Diienjek.

Yosh, sebelumnya aku mau bilang kalo Chapter genap itu aku yang bikin :D, sedangkan Chapter ganjil kak mey yang bikin :D

Jadi mohon maaf kalo Chapter genapnya kurang memuaskan :D

Yep, tanpa banyak cincong lagi, let's Begin :D

.

.

Naruto © Masashi Kishimoto

and a story by Uchiha Kz and AsaManis TomatCeri

.

.

Je T'aime

.

.

Chapter II : Broken heart

Hari ini aku harus menahan sakit lagi melihat Hinata yang dijemput oleh Naruto. Naruto memandang Hinata dengan penuh kelembutan. Hey, yang di sini menyukai Naruto itu aku, bukan Hinata! Jadi yang harusnya dipandang Naruto itu aku, Bukan Hinata! Kutegaskan sekali lagi, bukan Hinata!

Bagaimana aku bisa tahu bahwa Naruto tadi menjemput Hinata? Wajar saja, rumah Hinata dekat dengan rumahku. Tentu saja aku bisa melihat adegan pegangan tangan antara Naruto dan Hinata.

Sekarang aku berada di dalam mobil Sport Sasuke. Ya, memang dari dulu sampai sekarang Sasuke selalu mengantar-jemputku. Terkadang aku berpikir, mengapa ia selalu baik denganku?

"Tak baik melamun pagi-pagi." ucap Sasuke tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan.

"Hei, terserahku." ucapku kesal.

"Hn, aku hanya memberi tahumu. Tidak lucu 'kan, jika orang melihat kau kesurupan di mobilku?" ucapnya kalem.

"Huh, kau menyebalkan." ucapku sambil menggembungkan pipiku.

Suasana kembali hening. Jujur, aku sebenarnya tak tahan dengan keheningan ini. Aku pun mencoba membuka pembicaraan.

"Hei, Sasuke. Apakah kau menyukai Hinata?" tanyaku basa-basi.

CIIIITTT

Mobil Sasuke berhenti mendadak. Hampir saja kepalaku terbentur dengan Dasbor mobil Sasuke.

"Hei, Kau gila? Kau mau kepalaku terbentur, hah?!" teriakku jengkel.

"Hn, Urusai." ucap Sasuke dingin.

Aku tak berani bicara lagi, karena aku tahu Sasuke sedang marah. Aku pun menundukkan kepalaku. Mataku terasa panas. Dari dulu aku memang tak tahan jika dimarahi oleh Sasuke.

Aku mendengar Sasuke menghela nafas berat. Sesaat kemudian ia memegang daguku sambil berkata dengan nada yang lembut. "Maafkan aku."

Mobil Sport Sasuke berhenti di parkiran yang memang disediakan di Universitas Tokyo. Terdengar teriakan para fans Sasuke yang tidak bisa dibilang sedikit itu. Dari jauh terlihat Naruto dan Hinata yang sedang berbincang-bincang.

"N-Naruto-kun. Apakah kau menyukai S-Sakura-chan...?" tanya Hinata ragu-ragu. Tampaknya gadis berambut Indigo itu berharap agar cinta sahabatnya terbalaskan.

"Hm... Ya, aku sangat menyukai Sakura-chan. Ia sudah kuanggap sebagai adikku sendiri. Aku sangat menyukainya." jawab Naruto sambil memamerkan cengiran lima jarinya itu.

"Souka. Apakah... Naruto-kun mencintainya?" tanya Hinata lagi.

"A-apa? Tidak, Hinata-chan. Aku sudah mempunyai orang yang kusuka." ucapnya sambil membuka kaleng sodanya.

"E-eh? Siapa?" tanya Hinata dengan nada kecewa. Gadis itu terlihat sedih ketika ia tau bahwa cinta sahabatnya bertepuk sebelah tangan.

"Suatu saat kau akan tahu, Hinata-chan." ucap Naruto. "Daripada kita membahas itu, lebih baik kita menuju ke tempat kita biasa berkumpul saja. Ayo!" ajak Naruto sambil menggandeng tangan Hinata. Sedangkan Hinata sendiri berdoa dalam hatinya agar Naruto melepaskan gandengannya. Karena ia tak mau Sakura melihatnya dan Naruto bergandengan seperti itu.

Aku pun melangkahkan kakiku ke tempat dimana kami—aku, Naruto, Sasuke, dan Hinata—sering berkumpul.

Tetapi mungkin itu adalah pilihan yang salah. Setelah aku sampai disana, tampak naruto yang sedang berlari-lari kecil sambil menggandeng tangan Hinata.

Tuhan, apakah memang Naruto tak mencintaiku?

"Hai, Sakura-chan." sapanya sambil memamerkan cengirannya. Jangan, jangan tunjukan cengiran itu. Karena itu membuatku terbuai lebih dalam dengan cintamu, Naruto.

"Hai Naruto." Sebisa mungkin kutunjukan senyum manisku. Hinata menatapku dengan takut-takut.

"Yo, Teme. Bisa aku bicara sembentar?" ucap Naruto. Aku tak tahu apa yang akan mereka bicarakan. Tapi mungkin ini persoalan serius.

"Sakura-chan, aku pinjam Teme sebentar ya~" ucap Naruto.

"Hei, aku bukan ibunya, untuk apa kau meminta izinku?!" ucapku pura-pura marah. Hinata terkikik kecil, tetapi langsung ditahannya.

Sedangkan Sasuke? Kedua tangannya mengepal. Suasana di sekitar Sasuke terasa dingin. Tapi, toh tak masalah bagiku.

"Ya sudah, aku pergi dulu. Jaa~, Sakura-chan." ucap Naruto sambil menyeret Sasuke.

Sekarang tinggal aku dan Hinata. Entah mengapa aku merasa suasana di sekitar kami terasa mencekam.

"Jadi..." aku membuka pembicaraan. "Kau tak menolak Naruto lagi saat ia menjemputmu, Hm?" tanyaku dengan nada sinis.

"Aku sudah menolak. T-tapi..., seperti biasa, ia memaksa...," Gadis Indigo itu menarik nafas "dan kau juga tak menolak Sasuke, kan? Kurasa kita impas." lanjutya dengan nada dingin. Hey, aku tak tahu bahwa Hinat bisa berkata dengan nada dingin.

"Well, aku sudah menolak. Tapi kau tahu Sasuke. Dia tetap menyeretku."

"..."

"..."

Suasana menjadi hening. Aku pun melirik Hinata. Gadis itu terlihat berpikir keras. Lalu sesaat kemudian, ia menghela nafas, "B...baiklah, Sakura-chan. Kurasa kita terlalu bertingkah kekanakan. Anggap saja ini tak pernah terjadi." ucap Hinata sambil pergi meninggalkanku.

Well, mengatakannya memang mudah, Hinata. Tapi melakukannya tak semudah yang kau kira. Hatiku di sini telah terlanjut terluka sangat dalam. Mungkin kita memang tak cocok menjadi teman. Ne, Hinata?

:: Je T'aime ::

Terlihat dari jauh dua orang pemuda sedang berjalan menuju pohon sakura yang berada di belakang Universitas di mana mereka bersekolah. Yang satu berambut Emo dan yang satu lagi berambut Spike. Mereka berjalan beriringan.

Naruto dan Sasuke—nama kedua pemuda tadi—duduk di bawah pohon sakura tersebut. Tanpa berkata apa-apa, Sasuke menyodorkan minuman kaleng yang ia ambil dari tasnya.

"Thanks, Teme." ucap Naruto. Laki-laki berambut kuning cerah itu meneguk isi minuman kaleng tersebut—tentu saja setelah membukanya. Suasana menjadi hening. Kedua pemuda itu memejamkan mata mereka—entah apa yang mereka pikirkan.

"Kudengar kau makin dekat dengan Sakura-chan." ucap Naruto.

"Kau juga makin dekat dengan Hinata." ucap Sasuke kalem.

"Hahaha, kau boleh berkata begitu. Tapi kurasa Hinata menjauhiku. Dia selalu menolak ketika kuantar atau kujemput." ucap Naruto sambil menghela nafas berat.

"Hn, mungkin ia hanya bosan melihat mukamu yang bodoh itu, Dobe." ucap Sasuke cuek. Naruto memutar bola matanya. Lalu ia kembali meneguk minuman kaleng yang Sasuke berikan tadi. Pemuda itu tampaknya sedang berpikir.

"Menurutmu, apa yang harus kulakukan?" ucap Naruto. "Aku semakin mencintai dan menyayanginya." sambungnya dengan nada lirih.

Sasuke terdiam. Pemuda itu tampak berpikir nasehat apa yang cocok ia berikan kepada sahabatnya yang tengah Kasmaran itu.

"Kurasa kau harus coba untuk mengungkapkan perasaanmu." ucap sasuke pada akhirnya.

Naruto langsung membulatkan matanya. Pipinya bersemu. Pemuda itu menggaruk pelan pipinya yang tidak gatal itu. "Kau gila, Teme! Mana mungkin aku bisa mengatakan perasaanku." ucap naruto gugup.

Sasuke menghela nafas. Kemudian, Pemuda berambut emo itu berkata kepada Naruto, "Well, mungkin itu memang ide gila," Sasuke menenggak habis minuman kalengnya "tapi apa salahnya mencoba?" Kemudian, bungsu Uchiha itu meninggalkan Naruto yang sedang duduk termenung.

:: Je T'aime ::

Semenjak perkataan Sasuke tadi, Naruto sama sekali tak bisa memperthatikan sedikit pun materi yang dibahas oleh Asuma Sarutobi—Dosen yang mengajar sekarang. Naruto terus melamun sambil menengok ke luar dari jendela yang ada di sampingnya.

Pikirannya melayang kepada perkataan Sasuke tadi. Batinnya berpikir, mungkinkah mengungkapkan perasaannya adalah tindakan yang benar?

"Uzumaki naruto. Bisakah kau memperhatikan pernjelasanku?" Teguran Asuma Sarutobi membuyarkan lamunan Naruto.

"H...Hai', sensei. Sumimasen." ucap naruto dengan lemas. Sesaat kemudian, terdengar suara berat Asuma Sarutobi yang menggelegar di kelas Naruto.

:: Je T'aime ::

"Tadaima." ucap Naruto dengan nada lesu.

"Okaerinasai, Naru-chan." Ucap Kushina Uzumaki—ibu Naruto. "Tumben kau tidak ceria, sayang." ucap Kushina dengan nada lembut.

"Ah, aku hanya kelelahan, bu." jawab Naruto seraya tersenyum. Kushina menggelengkan kepalanya melihat anaknya yang biasanya semangat menjadi lesu seperti itu. "Mungkin ia sedang ada masalah." ucap Kushina.

Aku merebahkan tubuhku di atas ranjang King Size-ku. Tubuhku terasa lelah, kepalaku berdenyut-denyut semenjak perkataan Sasuke tadi.

"Kurasa kau harus coba mengungkapkan cintamu."

Arrgghh, belum melakukannya saja sudah membuatku pusing. Aku mengacak rambutku pelan. Apakah menyatakan perasaanku dengan Hinata adalah hal yang tepat?

Aku tak tahu. Aku hanya berharap Hinata tidak menjauhiku. Aku takut persahabatan kami hancur hanya karena cinta. Haruskah aku mengesampingkan perasaanku demi persahabatan kami? Atau aku harus menyatakan perasaanku walau persahabatan kami taruhannya?

Aku bingung!

"Kau terlihat banyak pikiran, Naruto." Aku pun menoleh ke orang yang tiba-tiba berbicara kepadaku. Ternyata itu ayahku—Namikaze Minato.

"Ayah. Kapan ayah masuk ke kamarku?" tanyaku sambil menyudahi rebahanku.

"Masalah wanita, eh?" ucap ayah sambil meneguk kopinya. Hei, bahkan ia tidak menjawab pertanyaanku.

"Ayah belum menjawab pertanyaanku." ucapku pura-pura merajuk.

"Hahahaha. Iya-iya. Ayah baru saja masuk. Sekarang giliranmu menjawab pertanyaan ayah." ucap ayahku.

"Huh. Iya, ini memang tentang wanita." ucapku. Aku pun mulai menceritakan awal mula aku bertemu Hinata, sampai selesai.

"Souka. Menurut ayah, kau lakukan saja apa yang menurutmu terbaik untuk kau dan dia." ucap ayah. Aku tahu, aku pasti memilih yang terbaik untuk semua. Tetapi, masalahnya apa yang terbaik untuk kami?

"Wakata. Sampai bertemu di taman, Hinata." ucapku mengakhiri percakapan antara aku dan Hinata lewat ponsel.

Hari ini, aku dan Hinata berencana untuk pergi ke mall. Kami memutuskan untuk bertemu di taman. Kami memang tidak pergi bersama. Karena Hinata ada urusan perusahaan. Aku tak habis pikir, mengapa Hiashi ji-san tega membiarkan Hinata melakukan urusan perusahaan sebelia ini.

Aku pun memutuskan untuk memakai baju kemeja berwarna unguku, dipadukan baju kaos berwarna hitam dan celana jeans berwarna hitam. Tak lupa Bandana berwarna merah marun menghiasi rambutku.

Drrtt... Drrtt...

Ponsel yang kuletakkan di ranjangku bergetar. Aku pun melihat siapa yang menghubungiku.

Sasuke is calling...

Sasuke? Tidak biasanya. Kira-kira ada apa ya?

"Moshi-moshi. Ada apa?" ucapku.

" mau ke mana dengan pakaian seperti itu?" ucapnya kalem. Hei, bagaimana dia tau bahwa aku akan pergi?

"Dari mana kau tahu?" tanyaku penasaran.

"Hn, lihat keluar jendela." Aku pun menolehkan kepalaku ke arah jendela. Hei, itu Sasuke. Tapi, sedang apa dia di sini?

"Kenapa kau tak langsung masuk?" teriakku dari kamarku. Sasuke memutuskan sambungan ponselnya dan membalas perkataanku.

"Kulihat kau akan pergi." ucapnya.

Aku pun berlari ke depan pagar rumah kami. Setelah berpamitan dengan ibu, Aku pun menarik lengan Sasuke.

"Aku mau ke taman. Kau harus menemaniku." ucapku tanpa basa-basi. Yah, rencanaku. Aku ingin mendekatkan Sasuke dengan Hinata. Sasuke hanya mengangguk pelan.

Sepanjang perjalanan, aku selalu bercerita tentang Hinata, berharap Sasuke mendengarkan. Tetapi, ia sama sekali tak menanggapi ucapanku.

"Kau mendengaran tidak sih." bentakku. Ia hanya menoleh sekilas ke arahku. "Aku mendengar. Dari tadi kau bercerita tentang Hinata, kan?"

Skak Mat.

Aku tak bisa berkata apa-apa lagi. Hufftt... Aku tak pernah menyangka bahwa ia mendengarkanku.

Tiba-tiba kurasakan sebuah tangan mungil menarik bajuku. Aku pun menolehkan kepalaku ke arah pemilik tangan tersebut. Rupanya hanya seorang anak kecil.

Seorang anak kecil? Oke sedang apa anak sekecil ini—yang dugaanku berumur enam tahun—di jalanan tanpa orang dewasa yang mendampinginya. Dan lagipula, anak ini menangis. Ya ampun! Dimana orangtuanya?

"Hai adik manis. Mengapa kau menangis?" tanyaku lembut. Kulihat Sasuke ikut-ikutan menoleh ke anak kecil itu.

"Hiks… Ibuku… Hiks… aku tersesat. Hikss... Terakhir kali aku dan ibuku sedang ada di taman. Tapi karena aku mengejar seekor kucing, aku tersesat..." ucap adik itu sambil terisak.

"Oh, ya sudah. Kakak antarkan ke sana, ya? Namamu siapa?" tanyaku seraya mengelus rambutnya.

"Konohamaru."

"Konohamaru? Kau adik sepupu Naruto?" ucap Sasuke tiba-tiba.

"I-iya. darimana kakak tahu?" ucap Konohamaru. Aku pun menatap Sasuke dengan raut penasaran.

"Hn, dia sahabatku. Dia sering bercerita kepadaku tentangmu." ucap Sasuke cuek. Aku mengangguk mengerti. "Nah, Kono-chan. Ayo kita ke taman." ajakku ceria. Sasuke hanya mendengus.

Well, mungkin saja Naruto sedang berada di sana. Dan dia akan melihat aku dengan adik kesayangannya. Semoga hari ini adalah hari yang menyenangkan.

Well, semoga.

Hinata berjalan dengan anggun di sepanjang jalanan kota Tokyo. Pikirannya beralih ke percakapannya dengan Sakura tadi pagi.

Sebenarnya, ia merasa bahwa Sakura adalah gadis yang egois. Ingin rasanya ia berkata 'Aku benci padamu yang selalu dekat dengan Sasuke!' atau 'Kau gadis yang egois!'. Tapi apa daya? Ia tak berani melakukan itu.

Hinata berhenti di depan sekolah menengah atas tempat ia, Sakura, Sasuke, Naruto dulu bersekolah. SMU Nishi.

Perlahan ia mendekati pohon sakura yang berdiri kokoh di halaman sekolah—mantan sekolahnya dulu. Ia masih ingat dulu mereka berempat sering bercanda di bawah pohon itu. Diam-diam ia merindukan saat itu.

"Bodoh, kenapa harus merindukannya? Toh, aku masih bisa bercanda seperti dulu dengan mereka kapanpun aku mau..." gumam Hinata.

Tetapi, hati kecilnya berkata lain. Ia merasa bahwa persahabatan mereka merenggang. Terutama ia dan Sakura.

"Hinata? Sedang apa kau di sini?" ucap suara baritone yang sangat dikenalnya. Hinata membalikkan tubuhnya. Alangkah terkejutnya ia melihat Naruto yang sedang memamerkan cengiran khasnya.

"Na-Naruto-kun? Sedang apa kau di sini?" Naruto terkekeh. Masih dengan cengirannya, ia menatap lembut Hinata, "Kau memutar balikkan pertanyaanku. Aku hanya sedang ingin berkunjung ke sekolah kita dulu." jawab Naruto.

Hinata menganggukkan kepalanya.

"A-aku harus pergi." ucap Hinata. Secepat kilat gadis itu melarikan diri dari Naruto.

GREB!

"Kuantar." ucap Naruto sambil menahan tangan Hinata. Hinata hanya bisa diam seribu bahasa. "Ke Taman, kan?" tanya Naruto sambil menggenggam tangan Hinata. Hinata hanya mengangguk pelan. Dalam hati ia bertanya-tanya, dari mana Naruto tahu bahwa ia ingin pergi ke taman?

"IBUUUU!" Konohamaru langsung menjerit ketika ia melihat ibunya.

"Konohamaru. Dari mana saja kau?" teriak ibunya.

"Aku tadi tersesat. Untung kedua kakak yang sedang berkencan ini mau mengantarku—aww, Sakit Sakura-nee." teriak Konohamaru ketika Sakura mencubit pipinya.

"Makanya, jangan asal bicara, Kono-chan. Aku dan Sasuke tidak berkencan." Ekspresi Sasuke langsung berubah.

"Hahahaha, terima kasih, nak. Berkat kalian Konohamaru bisa kembali lagi." Ucap ibu itu

"Hn, ayo. Kita cari Hinata." ucap Sasuke menarik lengan Sakura.

"Sasuke, dengan wanita harus sopan. Apalagi dengan yang lebih tua." omel Sakura.

"Hn."

"Kau membuatku gila, Uchiha Sasuke." ucap Sakura sambil meninggalkan Sasuke sendirian.

Sasuke menatap punggung Sakura dengan tatapan yang sulit diartikan. Tangannya yang sedari tadi dimasukkan ke dalam saku celananya, mulai mengepal. Lalu, bungsu Uchiha itu mulai melangkahkan kakinya meninggalkan taman kota.

Kembali lagi ke Sakura, gadis berambut senada dengan bunga sakura itu mulai menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, berharap ia dapat menemukan sahabat indigonya.

Dan alangkah terkejutnya ia melihat Naruto dan Hinata sedang berduaan. Dan apa itu? Naruto menggenggam tangan Hinata? Sekarang Sakura mulai merasakan bahwa detik itu juga ia ingin menembak kepala Hinata yang dianggapnya telah berkhianat itu.

"Hei, Hinata-chan. Mungkin Sakura-chan tidak datang. Lebih baik kau temani aku ke café saja." ucap Naruto.

Sakura mulai kesal. Ada apa ini? Bukankah yang disukai Hinata itu Sasuke? Dan mengapa Hinata sekarang terlihat seperti berkencan? Apa mungkin Hinata membohonginya? Segala pertanyaan muncul di otak Sakura. Gadis itu terlihat sangat kacau.

Sedangkan Hinata sendiri mulai bingung. Ke mana Sakura? Bukankah mereka ada janji hari ini? Dan sekarang, Naruto mengajaknya ke café.

Akhirnya Hinata memutuskan untuk menyetujui ajakan Naruto.

"B-boleh," Sial, dalam hati gadis itu merutuki penyakitnya yang selalu gagap itu. Dan sekarang, ia berani bertaruh bahwa ia terlihat seperti menyukai Naruto. Padahal, jelas-jelas yang ada di pikirannya sekarang itu Sasuke.

Lalu, Naruto dan Hinata pergi ke café di ujung jalan tanpa mengetahui bahwa sesosok perempuan berambut pink sedang mengikuti mereka dengan tatapan membunuh.

Sasuke mengitari jalanan kota tanpa mengetahui tujuannya. Pikirannya tertuju kepada sakura. Entah mengapa ia merasa bahwa sesuatu yang buruk akan menimpa Sakura. Dan entah sadar atau tidak, sekarang Sasuke telah berada dalam antrian permen kapas yang ada di pinggir jalan.

Tiba saat gilirannya, entah setan apa yang memasuki Sasuke,dia memesan permen kapas yang paling manis. Setelah mendapatkan pesanannya, Sasuke pun melangkahkan kakinya anpa melihat sekeliling.

TIIIN!

"Hei, hati-hati!" teriak seseorang dari dalam mobil sedan yang hampir menabrak Sasuke.

"Hn." Sasuke pun meninggalkan orang itu tanpa berkata apa-apa.

Pemuda berkulit pucat yang tadi hampir menabrak Sasuke membelalakkan matanya. Orang itu, ia sangat mengenal orang itu.

"O-orang itu, Sasuke?"

:: Je T'Aime ::

"Hei, Hinata-chan. Ada yang ingin kubicarakan denganmu." ucap Naruto. Sejenak Hinata meletakkan kembali cappuccino yang dipesannya. "Bicara apa, Naruto?" tanya Hinata sambil menatap Naruto. Telinga Sakura mulai panas. Segara pikiran buruk tentang Hinata mulai bermunculan di otakknya.

"A-aku..." Naruto menggantungkan perkataannya. Hinata mulai gelisah. Sedangkan mata Sakura mulai memerah, "Aku mencintaimu, Hinata. Jadilah pacarku."

JDER!

Sakura merasa dirinya seperti tersambar petir. Air mata mulai turun di kedua pipi mulus Sakura. Hancur sudah, semua harapannya tentang Naruto mulai runtuh. Dengan perasaan yang meluap-luap, Sakura mulai berlari meninggalkan café tersebut.

Kembali ke Naruto dan Hinata, Naruto terlihat tegang. HInata mulai gelisah. Sangat gelisah lebih tepatnya. "Gomen,Naruto. Aku tak bisa. Aku sudah mempunyai orang yang kucintai. Selama ini aku hanya menganggapmu sebagai sahabatku. Tak pernah lebih." ucap Hinata. Perlahan gadis itu meninggalkan Naruto yang mulai tampak murung.

"Hahaha. Ternyata, memang tak mungkin, ya?" gumam Naruto. "Tetapi, ketahuilah, Hinata-chan. Aku selalu mencintaimu." ucap Naruto dengan nada getir.

Sakura terus berlari. Air mata mengalir deras di kedua pipinya. Pikirannya kacau. Ia tak menyangka bahwa Hinata tega berbuat seperti itu kepada dirinya.

Penghianat! Hanya itu yang ada di pikirannya.

BRUK!

Tanpa sengaja, Sakura menabrak seseorang. Baru saja ia ingin memaki orang itu. Orang yang ditabraknya lebih dulu berkata padanya.

"Sakura?" Sakura menatap orang yang baru saja ditabraknya.

Sasuke? Sedang apa dia? Hanya itu yang ada di pikirannya. Sedangkan Sasuke sendiri mulai khawatir. Tetapi, ekspresinya itu cepat-cepat ditutupi dengan ekspresi datarnya.

"Kau, kenapa?" tanya Sasuke sambil mulai mendekap tubuh Sakura. Sakura mulai menjerit histeris. Tangisan pilu itu membuat hati Sasuke sakit.

"Lebih baik kau ikut aku dulu, Saku." ucap Sasuke sambil menggenggam tangan Sakura.

Sakura hanya mengangguk lemah. Diliriknya tangan kanan Sasuke yang menggenggam permen kapas. Sakura heran. Bukankah Sasuke tak suka makanan manis?

Sasuke membawa Sakura ke bangku taman yang berada di dekat café tempat Naruto menembak Hinata. Jika mengingat kejadian tadi rasanya Sakura ingin bunuh diri. Hatinya terlalu sakit.

"Untukmu." ucap Sasuke sambil memberi Sakura permen kapas yang sedari tadi dipegangnya. Setelah berkata 'terima kasih', Sakura mulai memakan permen kapas itu.

"Kau kenapa?" tanya Sasuke seraya berlutut di depan Sakura, dan memegang dagu Sakura.

Tanpa aba-aba, Sakura mulai memeluk Sasuke. Permen kapas yang tadi dimakannya, terlempar entah ke mana. Sasuke yang mendapat serangan mendadak Sakura, terkejut bukan main. Tetapi lambat laun ia mulai mengelus helaian rambut Sakura.

"Aku… Aku tak tahu, Sasuke... Dunia terasa sangat kejam. Mereka pengkhianat!" jerit Sakura dalam dekapan Sasuke.

"Ssshh... Semua akan baik-baik saja, Sakura. Siapa yang pengkhianat?" tanya Sasuke lembut. Hampir saja Sakura menyebutkan nama Hinata. Tetapi niat itu diurungkannya. Mengingat mereka itu bersahabat. Ia tak ingin ada peperangan antara Naruto dan Sasuke.

"Kau tak perlu tahu, Sasuke." ucap Sakura yang mulai tenang. Sasuke hanya menghela nafas berat. Lalu ia mengencangkan pelukannya kepada Sakura. "Mungkin di dunia ini memang ada pengkhianat. Tetapi setidaknya kau masih ada aku." ucap Sasuke lembut, "kau bisa meminjam bahuku kapanpun kau mau." lanjut Sasuke sambil terus mengelus rambut sakura.

Sakura merasa dirinya sedikit lega mendengar penuturan Sasuke. Gadis itu pun mencoba melepaskan pelukan Sasuke. Tetapi Sasuke justru mengencangkan pelukannya.

"Sasu—"

"Sakura, ada yang ingin kukatakan padamu." ucap Sasuke sambil terus mengelus rambut Sakura, "Aku, menyukaimu. Jadilah kekasihku."

Mata Sakura membulat, apa ia tak salah dengar? Gadis itu mulai ragu. Apakah ia harus menolak Sasuke? Tetapi, sesaat kemudian ia tersenyum. Mungkin memang bukan Sasuke yang dicintainya. Tetapi, apa salahnya mencoba? Toh, Sasuke tak akan sadar kalau Sakura tak mencintainya. Hitung-hitung, Sasuke bisa digunakannya untuk membalas dendam dengan Hinata.

Sakura, tidakkah kau ketahui, bahwa ulahmu itu akan berdampak fatal untuk kalian berempat?

Sakura pun menganggukkan kepalanya. Sasuke tersenyum. Senyum yan jarang ia tampakkan. Lalu, adik dari Uchiha Itachi itu mengecup pelan kepala Sakura.

"Arigatou, Sakura."

Sakura menyeringai. Mungkin ini salah. Tetapi setidaknya ia telah membalas Hinata. Dengan menjadikan Sasuke sebagai kekasihnya. Pelampiasannya.

Yah, mungkin indah di awalnya. Tetapi, siapa yang tahu akan kelanjutannya. Mungkin kalian boleh berpikir kalau itu adalah hal yang tepat untuk dilakukan. Tetapi, kalian tak pernah tahu apa yang akan terjadi , kalian belum tahu apa yang akan terjadi, ne?

Tsuzuku…

Cuap-cuap Author.

Puahhh, finally. Akhirnya diupdate juga. Adakah yang rindu dengan cerita kami? #Blink

Yosh, Thanks ya buat yang udah bersedia baca fict kami ini. Kami terharu membaca repiu kalian :D

Sesi jawab pertanyaan :D

Hikari 'ShiChi' ndychan : Emm, Gimanaa yaaa Sasusaku Naruhina ato NaruSaku SasuHina yaaa. Yosh thanks udah baca :D

Skyesphantom : Woaah, terima kasih udah baca kak dan terima kasih juga udah fave :D

Karimahbgz : Yosh, ini udah lanjuut :D Saku sama Sasu? Emm, tunggu aja deh :D Sok misterius

Yoo-chan ; Yups, love rectangle :D iyaa, Sasu emang perhatian sama Saku, ya nggak kak #NyenggolKakMey. Ini next chapternya :D Gomen kalo jelek

AsaManis Tomatceri : Hahaha, gapapa kok repiu hasil kolab sendiri, itung-itung nambahin repiu ;3. Itu kan udah kewajiban aku buat nge-publish fict ini ;D Ayoayo, di fave kak cerita kita ;3

Aika Yuki-chan ; Keren yaa? Makasih udah baca en repiu :D

AcaAzuka Yuri Chan : Ini udah lanjuut fict yang kata kamu seruuu #geplakk. Yep, love rectangle, iyaa cinta siklus air itu #Buagghh. Berapa chapter yaa, kak mey, kasih tau nggaak?#nyenggolKakMey. Arigatou udah repiuu :D

El-yuMiichann : Iyaaa love rectangle :D Makasih buat perkataannya, fict kita emang bagus kok #Dilempar. Yups, dari musim duren ampe musim rambutan (?) Sasu selalu misteriuss :D. Ini chapter selanjutnyaa :D

Hidan Cantik : Hohohoho, terima kasih udah suka ;D Hohoho. Disini Sasu saaangaaat perhatian Sama Saku. Dan yah, Hina suka sama sasu. Padahal kan ada Naru -3- . Tenang aja, Sasu selalu setia sama Saku (Maybe) Yo, makasih udah baca ;D

Putrymaharani : Ini Chapter 2 nya ^^

Me : Iyaiya, Sasu perhatian sama Saku, tp sayangnya pakek sikap dingin –'' Ini udah di Update. Makasih udah nunggu.

Mako-chan : Udah lama ya? Ini kita persembahkan yang baru :3 ini kelanjutannya ^^

Igin : Ini udah di uptdate ^^

TFF Uchiharuno : Tahnkies :D Tau dooong :D

Yosh, last one, Mind to repiu and give some concrits?

Kak mey dan Rima