Whats up, minna. Di chapter ganjil, berarti kalian bertemu dengan Mey si AsaManis TomatCeri yang keceh asam tapi manis~ #dordor

Jadi maaf ya, kalo tiap nunggu chapter ganjilnya itu lama, karena kebiasaan aku itu ngaret kalo apdet fic. Aku itu rekan collab Rima yang nyusahin. Huwawawa... maaf... *cakar tembok*

Dan minah-minah keceh #alay, langsung saja baca chap ganjil persembahan Mey author rada gila namun tetep kyut *kick*

Happy reading~^^

.

.

Naruto © Masashi Kishimoto

and a story by Aqilla-san and AsaManis TomatCeri

.

.

Je T'aime

.

.

Chapter 3: Jelous

"Halo?"

Suara lemah lembut terdengar dari seberang sana. Nona Haruno yang sedang menelepon itu menggigir bibir bawahnya pelan. Ia ragu untuk mengatakannya, tapi ia ingin lawan bicara di teleponnya ini mendengarnya langsung dari Sakura malam ini juga.

"Hinata," Sakura berucap sambil duduk meringkuk bersandar di samping ranjangnya. Ia menunduk, namun ia menguatkan hatinya.

"Ada apa, Sakura?" tanya Hinata dari seberang telepon.

"Maafkan aku, Hinata...

Inilah kalimat yang akhirnya hanya akan menjadi bumerang persahabatan mereka. Juga cinta mereka...

...aku sudah menjadi kekasih Sasuke sekarang."

:: Je T'aime ::

Pagi hadir lagi, membuat seluruh orang-orang di kota harus segera kembali pada aktifitasnya masing-masing. Jika boleh, rasanya ingin sekali seorang Haruno Sakura tidak pergi ke kampus untuk hari ini, dan untuk selamanya. Tapi itu tidak mungkin. Akhirnya dengan langkah gontai ia memasuki gerbang kampus, menuju salah satu kelas.

Saat berjalan, tak sengaja matanya tiba-tiba menangkap sosok yang sudah tak asing baginya sedang berjalan berlawanan arah dengannya. Gadis masnis yang sedang memeluk buku-buku tebal. Dan gadis itupun menatap Sakura. Mereka bertatap-tatapan. Berhenti berjalan.

Tapi sedetik kemudian gadis itu menunduk, dan melanjutkan berjalan melewati Sakura yang masih membeku. Insiden ini terjadi bukan hanya sekali, entah sudah berapa kali...

"Kau menghindariku lagi, Hinata..." gumam Sakura tersenyum kecut dengan wajah yang tertunduk.

Itu wajar, sudah tiga hari sejak Sakura jadian dengan Sasuke—lebih tepatnya sejak ia memberitahukannya pada Hinata—ia jadi tak pernah berbicara lagi dengan Hinata. Memang sudah tiga hari pula Naruto tidak terlihat di kampus tanpa memberi kabar, dan Sasuke mengambil jam malam, jadi mereka belum berkumpul lagi. Tapi tetap terasa lain jika begini, kan.

Itulah yang membuat Sakura malas ke kampus. Tapi Sasuke semalam meneleponnya, dia bilang akan berkumpul di kantin seperti biasa nanti siang. Semoga nanti setelah berkumpul seperti biasa, Hinata akan seperti biasa lagi. Semoga Hinata nantinya mengerti...

Dan setelah Sakura lanjut berjalan, sosok lelaki pirang muncul dari persembunyiannya. Menatap punggung Sakura yang semakin jauh. "Sakura dan Hinata... Hubungan mereka sedang tidak baik, ya?" tanya Naruto entah pada siapa.

:: Je T'aime ::

Jam kuliah selesai. Seperti biasa, Sakura datang ke kantin, dan sudah ada Sasuke. Sasuke saja, seperti biasa. Ia yakin saat ini Naruto sedang menunggu jam kuliah Hinata selesai. Sudahlah, kini ia bisa meringankan rasa sakitnya terhadap Naruto karena ada Sasuke. Kejam? Memang, tapi... ini hanya satu-satunya jalan menghilangkan rasa sakit Sakura.

Sasuke tersenyum, dan berlanjut dengan Sakura yang mulai duduk di bangku yang berhadapan dengan Sasuke. Lelaki tampan itu memberikan minuman kaleng pada Sakura, "Ini,"

"Terima kasih." Sakura tersenyum dan mengambilnya dan membuka minuman kaleng itu. Belum meminumnya, ia justru tersenyum lebar pada Sasuke, "Sasuke, hari ini berarti Naruto datang, kan?"

"Hah?" Sasuke memang tak salah dengar. Tapi... rasanya ada yang ganjil. Entahlah. Sakura itu, walau sudah resmi menjadi kekasih Sasuke, tapi masih suka membicarakan tentang Naruto. Ini bukan yang pertama. Selama beberapa hari mereka telepon-teleponan, sms, atau bertemu, topik pebicaraannya selalu Naruto. Sampai panas telinga Sasuke mendengarnya.

"Ya..., habis Naruto tidak memberi kabar beberapa hari."

"Dia sibuk." jawab Sasuke sekenanya.

Sakura ber'oh'ria. Ia meminum kola kemasan kaleng yang diberikan Sasuke itu, setelah itu kembali hening. Gadis berambut merah jambu itu melihat alroji di pergelangan tangannya kemudian kembali menatap Sasuke yang sedang asyik memainkan minuman kaleng miliknya, "Naruto lama sekali. Anak itu... selalu menunggu Hinata selesai, ya."

Sasuke menatap tajam Sakura, "Memang kenapa? Kau cemburu?"

"A-apa? Kau itu gila, mana mungkin—"

"Atau kau sudah tidak bisa menahan rindu? Biar aku telepon dia untuk segera datang sekarang." ucap Sasuke makin terlihat sinis. Baik, ini sudah cukup. Sasuke merasa kesal dengan Sakura yang bahkan menanyakan kabar Sasuke yang di depan matanya saja tidak!

"Sasuke, kau itu kenapa? Aku kekasihmu!" kata Sakura sedikit keras. Beruntung kantin sepi di jam-jam seperti ini, hanya ada beberapa orang namun tak melihat. Sasuke mengernyit, "Kekasih yang selalu menyebutkan nama Naruto, Naruto, tanpa memperdulikan aku yang di depan matamu!" semprot Sasuke sukses membuat jantung Sakura nyeri.

Bukan karena kata-kata Sasuke kejam, tapi lebih tepatnya karena kata-kata Sasuke tepat sasaran, menancap di jantungnya hingga beberapa saat membuatnya sulit bernafas. Apa Sasuke menyadari jika Sakura menyukai Naruto? Tidak, tidak mungkin...

Lama Sakura terdiam karena tatapan Sasuke, akhirnya Sakura menunduk dan bangun dari duduknya, "Aku mau pulang!"

"Jangan bertingkah manja!" Sasuke ikut berdiri dan menahan tangan Sakura.

"Aku memang seperti ini. Selalu melarikan diri saat aku merasa kesal! Lalu kau mau apa?!"

Lagi. Mereka saling menatap tajam. Walau seperti itu, Sasuke bisa merasa iris hijau permata milik Sakura itu sudah berkaca-kaca. Baik, mungkin Sasuke berlebihan. Akhirnya ia memejamkan mata dan menghela nafas, "Aku minta maaf."

Apa mungkin seterusnya selalu seperti ini? Sasuke tak mungkin bisa terus selalu bersabar seperti sekarang ini. Lalu bagaimana jika nanti nama 'dia' lagi yang selalu disebut dengan senyum manis Sakura?

.

.

.

Beberapa menit berlalu. Akhirnya Naruto dan Hinata datang, namun ternyata pertemuan kali ini lain. Lihat, Sasuke dan Sakura duduk berdiam, aura mereka tak menyenangkan. Sama dengan halnya Hinata yang ogah-ogahan dan Naruto yang penasaran dengan apa yang terjadi.

Hinata duduk, sementara Naruto membeli minuman sebentar. Lama mereka bertiga berdiam, hingga Naruto kembali dan membawakan minum untuk Hinata juga, kemudian duduk di samping Sasuke seperti biasa mereka berkumpul.

Naruto menatap semua sahabatnya bergantian, "Kalian ini kenapa, eh?"

Suara Naruto yang berucap seperti itu sukses membuat ketiga lawan bicaranya itu menengok ke arah Naruto bersamaan. Sakura mendengus dan melirik Hinata yang menunduk, "Hanya ada satu orang yang membuatku suntuk."

"..." Hinata diam. Ia mengerti jika dirinyalah yang dimaksud Sakura. Sementara Sasuke masih diam memejamkan matanya tak memperdulikan Sakura. Karena ia merasa dirinya adalah orang yang dimaksud Sakura. Karena baru saja ia bertengkar kecil dengan kekasih barunya itu.

Naruto menatap bergantian Sakura dan Hinata, kemudian mengernyit, "Hinata, Sakura, ada apa dengan kalian?" tanya Naruto. Kali ini Naruto bicara dengan nada yang tegas.

Hinata mengangkat kepalanya, dan menatap Naruto sama seperti halnya Sakura. Dan Sasuke pun kini ikut memperhatikan Naruto, tidak mengerti dengan apa yang baru saja diucapkan sahabat pirangnya itu.

"Aku yakin, hubungan kalian sedang memburuk akhir-akhir ini. Karena tadi pagi tidak sengaja aku melihat—"

"Ya, seperti yang kau lihat," Sakura memotong ucapan Naruto, "semua berubah. Dia yang menghindariku sejak aku dan Sa—"

"Sakura!" Kali ini suara Hinata yang memotong percakapan Sakura. Ia menatap Sakura seperti ingin menangis. Bagaimana bisa, sahabatnya yang begitu baik padanya itu kini bisa berbicara yang menurut Hinata sendiri itu sangat kejam.

Lelaki berambut emo di sana diam, masih tak mengerti. Bahkan otak jeniusnya tidak mampu mencerna kalimat Sakura yang belum sempurna tadi. Sementara Naruto, berdiam dengan mata yang membulat. Walau ia tak jenius seperti Sasuke, tapi kejadian-kejadian selama ini tiba-tiba membuatnya mengerti.

Perlahan, otaknya berjalan mengingat kejadian selama ini. Mengapa wajah Hinata selalu sedih saat melihat Sasuke perhatian pada Sakura, mengapa Hinata selalu menolak ajakan Naruto, mengapa selama ini Hinata selalu bersemu merah saat berbicara dengan Sasuke. Jadi karena memang selama ini Hinata cemburu... Selama ini... Hinata menyukai Sasuke...

Greeek. Hinata memundurkan bangkunya dan segera berdiri, kemudian pergi begitu saja. Baru beberapa langkah Hinata berjalan cepat, Naruto langsung ikut berdiri, "Hinata!"

Naruto menengok sebentar ke arah kedua sahabatnya, "Maaf, aku harus pergi." ucap Naruto dan kemudian ikut pergi untuk menyusul Hinata yang semakin jauh.

:: Je T'aime ::

"Hinata, tunggu!" Naruto akhirnya berhasil menarik lengan Hinata dari belakang. Kini mereka sudah ada di taman kampus yang sudah sepi. Akhirnya gadis manis itu menyerah, memilih untuk berdiam dan membiarkan tangan kekar Naruto memutarkan tubuhnya agar berhadapan dengannya.

Wajahnya masih tertunduk, membuat Naruto tak bisa melihat wajah manis gadis itu dengan jelas. "Hinata..."

Suasana begitu mendukung Hinata untuk mengeluarkan air matanya. Lihat saja, di sini sepi, di samping pohon rindang dan hembusan angin, ditambah kelembutan Naruto yang membuatnya semakin ingin mengadu. Dan akhirnya air matanya pun tumpah, dan itu disadari oleh lelaki berkulit tan di depannya itu.

Tapi Naruto berusaha untuk tetap tenang, ia sudah tahu apa penyebab Hinata menangis. Tangan lelaki itu perlahan mengangkat dagu Hinata, membuat wajahnya terangkat. Dan terlihat sudah pipi mulusnya yang sudah membuat aliran sungai kecil. Iris biru samudera Naruto menatap iris lavender Hinata begitu lembut, "Hinata..., kau menyukai Sasuke?"

"Hiks..."

Sudah tak tertahankan, untuk menahan isak tangisnya keluar. Ia cemburu, ia kesal sekaligus sedih. Dan Naruto dapat merasakannya. Sehingga di tengah bertiupnya angin yang lembut, Naruto memeluk Hinata.

"Semua sudah terlambat... Sasuke tak pernah peka dengan perasaanku..." ucap Hinata terisak-isak, mengadu semuanya pada Naruto. Meski Naruto sendiri sakit, mengetahui kebenarannya. Bahwa cintanya selama ini memang bertepuk sebelah tangan...

:: Je T'aime ::

Hari berganti dengan sangat cepat. Beruntung hari ini Sakura tak ada jam kuliah, jadi ia bisa bersantai di rumah. Ah, tidak. Mungkin lebih tepatnya melamun di kamar. Ia masih memikirkan kejadian-kejadian selama seminggu ini. Dalam waktu yang sangat singkat, semua berubah.

Gadis dengan warna rambut mencolok itu masih duduk meringkuk bersandar di ranjang sejak sejam lalu. Tapi beberapa menit kemudian, ia merasakan ponselnya bergetar. Ia melihat di layar, dan ternyata Sasuke meneleponnya.

Lama Sakura berdiam, dan akhirnya ia memilih untuk menekan tombol merah, menolak panggilan, kemudian menaruh mematikan ponselnya dan kembali meletakkannya di sebelahnya. Dan ia kembali duduk meringkuk, kini ia tenggelamkan wajah cantik itu di lipatan tangannya.

Sebenarnya Sakura merasa sangat egois berpacaran dengan Sasuke. Tapi... ia memang tidak mencintai Sasuke...

.

.

.

Di posisi Sasuke saat ini. Ia melihat layar ponselnya dengan tampang suram. Bagaimana bisa kekasihnya itu menolak panggilan darinya, kemudian mematikan ponselnya. Segera saja ia masukkan kembali ponselnya ke dalam saku, kemudian bangun dari duduknya. Karena sekarang ia memang sedang di kantin.

Baru saja ia melangkah, bola matanya menangkap sosok lelaki rambut pirang yang tengah berjalan melewati kantin. Segera saja ia percepat langkahnya.

"Naruto," panggil Sasuke membuat Naruto menengok. Tapi hanya sesaat.

Tidak seperti biasanya, Naruto yang selalu ingin berbarengan dengan Sasuke, kali ini justru ia malah mengabaikan Sasuke dan lanjut berjalan. Bahkan wajahnya berubah... menjadi sinis. Sasuke yang melihat itu hanya bisa diam tidak mengerti, dan hanya bisa memandang kepergian sahabat pirangnya yang tiba-tiba bersikap aneh begitu.

.

.

.

Sementara di posisi Naruto yang kini sudah jauh dari kantin. Ia memejamkan matanya sesaat, sebelum akhirnya ia menghela nafas dan mengepalkan tangannya kuat-kuat. Entah mengapa sejak insiden ia tahu Hinata menyukai Sasuke, ia menjadi kesal. Bukan kesal karena Hinata tak membalas cintanya, tapi ia kesal karena Sasuke yang tidak peka, dan malah membuat Hinata makin bersedih dengan status barunya dengan Sakura.

Bahkan yang membuat Naruto kesal saat ia tahu... Hinata kurang menjaga kesehatannya akhir-akhir ini. Ia tidak bodoh, ia tahu Hinata seperti itu karena ia lebih dulu tahu tentang hubungan Sasuke dan Sakura sebelum Naruto tahu.

Bagaimana Naruto tahu? Tentu saja tahu dari wajah pucatnya Hinata yang saat ini tengah ditatapnya dari jauh. Walau dari kejauhan, Naruto bisa melihat wajah anggun Hinata yang tampak lelah. Gadis itu tengah membaca buku—entah apa itu—sambil duduk manis di bangku taman sendirian.

Uzumaki itu inisiatif berjalan ke arah Hinata. Dan setelah sampai di depan gadis itu, sukses gadis iris lavender itu mendongakkan kepalanya melihat siapa yang menutupi sinar matahari yang menerangi bukunya. "Naruto?"

Lelaki pirang itu duduk di samping Hinata, membuat Hinata menutup buku yang dibacanya karena ia yakin setelah ini Naruto akan mengajaknya mengobrol. Dan benar, mulut Naruto sudah terbuka hendak mengatakan sesuatu.

"Wajahmu pucat sekali, Hinata." kata Naruto sambil menatap Hinata khawatir. Tapi Hinata justru tersenyum seakan dirinya baik-baik saja, "Benarkah? Kurasa karena aku kurang tidur akhir-akhir ini."

Naruto tetap menatap Hinata. Hatinya sangat nyeri melihat Hinata seperti ini. Dia memang sakit cintanya bertepuk sebelah tangan, tapi ia lebih sakit lagi melihat orang yang dicintainya menderita. Naruto pun memegang tangan Hinata yang terpangku di atas buku, "Walau kau sibuk, jagalah kesehatanmu." ucap Naruto begitu lembut. Sebenarnya Naruto tahu Hinata seperti ini karena Sasuke, tapi biarlah. Ia justru malah tak bisa menghibur Hinata jika membicarakannya sekarang.

"Iya...," Hinata menunduk, "terima kasih, Naruto."

Beberapa saat mereka diam. Masih dalam posisi Naruto menggenggam tangan Hinata sambil menatap wajahnya yang masih menunduk. Hingga beberapa menit berlalu, Naruto tersadar dan melepas genggamannya.

"A-aaa... Hinata, aku haus. Kau juga pasti haus. Aku beli minuman dulu, ya."

Hinata mengangkat wajahnya dan melihat Naruto sudah berdiri. Hinata sudah tahu, walau menolak, Naruto akan tetap membelikannya minum. Akhirnya Hinata hanya mengangguk, karena ia memang haus. Dan Naruto pun langsung berjalan ke arah kantin.

.

.

.

Sekitar lima menit kemudian, Naruto sudah membeli dua minuman kaleng dan kembali ke taman. Namun tiba-tiba saja ia melihat bangku yang diduduki Hinata ramai orang. Seketika kekhawatirannya menggunung, membuat Naruto mempercepat langkahya dan mendekati bangku itu.

Dan betapa terkejutnya Naruto melihat beberapa orang mencoba mengangkat Hinata yang... pingsan.

"HINATA!"

Kedua minuman kaleng yang dipegangnya ia buang begitu saja. Orang-orang yang mengelilingi Hinata itu menengok ke arah Naruto. Lelaki pirang itu segera mendekat dan berjongkok, "Biar aku yang membawanya!"

Orang-orang di sekitar perlahan bubar, dan Naruto langsung mengangkat Hinata, hendak membawanya ke kediaman Hyuuga menggunakan taxi.

:: Je T'aime ::

"Kenapa sejak pagi tidak mengangkat teleponku?!" ketus Sasuke dari seberang telepon yang tersambung dengan Sakura. Ya, akhirnya Sakura mau mengaktifkan kembali ponselnya dan mengangkat telepon Sasuke.

Gadis yang duduk di samping jendela kamarnya itu hanya menghela nafas sambil memijat pelipisnya, "Ponselnya aku silent..." jawab Sakura berbohong.

"Tapi kenapa setelah itu ponselmu tidak aktif?!"

"Kalau kau meneleponku hanya untuk memarahiku lebih baik tidak usah menelepon!"

"Aku bertanya, bukan memarahimu!"

Ini sudah malam, angin pun bertiup begitu suram. Seperti pertengkaran Sakura dan Sasuke. Yang terjadi karena keegoisan. Mungkin ini tak akan berakhir, dan akan terus berlanjut. Sampai kapan? Sampai Sakura bisa melupakan rasa cintanya pada Naruto. Dan belajar mencintai Sasuke yang tulus...

.

.

.

"Hinata tidak mau makan sejak beberapa hari. Ia hanya memakan camilan..." ucap Hiashi—ayah Hinata—sambil menatap sedih putrinya yang terbaring lemah di ranjang empuk gadis itu.

Naruto yang menjadi lawan bicaranya ikut menatap Hinata. Sudah beberapa jam berlalu, Naruto rela bolos jam kuliahnya untuk terus menemani Hinata yang belum sadarkan diri. Kini ia duduk di bangku pinggir ranjang, sementara sang ayah duduk di pinggir ranjang putri kesayangannya itu.

"Panggil aku jika Hinata sadar, nak." Hiashi berdiri dan tersenyum tipis pada Naruto. Lelaki itu hanya menganggung memberikan jawaban pada Hiashi. Dan kemudian Hiashi pun keluar dari kamar Hinata.

Setelah suara pintu tertutup. Naruto kembali menatap Hinata, dan kini tangannya menggenggam tangan Hinata yang dingin. Tiba-tiba bibir Hinata bergerak, membuat Naruto langsung membulatkan matanya, "Hinata?"

"...ke..."

Mata Naruto makin membulat mencoba memperjelas pendengarannya.

"Sasuke..."

Bahkan Hinata mengigau, menyebut namanya... Mungkin ada rasa muak dalam hati Naruto, tapi Naruto hanya bisa bersabar...

Ini bukan hanya masalah persahabatan. Tapi juga cinta yang membuat kisah kehidupan mereka menjadi rumit...

.

.

Tsuzuku...

.

.

Jeng jeeeng. Bagaimana chapter 3? Ohohoho~ Apapun pendapat kalian, aku sangat berharap dapat memuaskan pembaca. Semoga ceritanya tetep nyambung ya, karena aku buat chapter ini peuh cinta #eaaa Maaf ya, tiap chapter ganjil ngaret. Ini juga aku ngetik-ngetik nyolong waktu di kantor. XD

Baiklah, segitu dulu cuap-cuap Mey. Sampai bertemu di chapter-chapter selanjutnya~ Jangan lupa review, ya. :D

NB by Rima : CBTT ditunda duluu yaa :D Tapi ga bakal Discontinued kok :)

Sign,
Mey dan Rima