Helloh readers yang kece abis =D karena ini chapter genap, maka Pemirsah pemirsah dirumah akan bertemu dengan saya, Rima si unyu-unyu dan kece abiss #Kicked
Ehm, tanpa banyak basa-basi lagi, ini dia. JE T'AIME CHAPTER 4 :D
.
.
Naruto © Masashi Kishimoto
and a story byKuroi aka Aqilla-san and AsaManis TomatCeri
.
.
Je T'aime
.
.
Chapter IV : Fight
Hinata mengerjapkan matanya berkali-kali. Seingatnya, ia sedang berada di bangku taman ketika secara tiba-tiba kegelapan menguasai dirinya. Kepalanya menoleh kekanan dan kekiri. Beberapa saat kemudian barulah ia menyadari bahwa saat ini ia ada di kamarnya.
"Hinata-chan? Kau sudah sadar?" Hinata sontak terkejut. Sedang apa Naruto di kamarnya?
"A-apa yang kau lakukan disini?" Ucap Hinata terbata-bata.
"Ceritanya panjang Hinata. Intinya aku yang membawamu ketika kau secara tiba-tiba pingsan di bangku taman." Ucap Naruto sambil tersenyum lembut.
Hinata mengangguk mengerti. Hening menyeliuti keadaan disekitar mereka. Hinata—yang pada dasarnya mengalami shock berat—enggan untuk memulai percakapan. Sementara itu, Naruto sedang menggaruk belakang kepalanya guna menghilangkan rasa canggung yang mendatanginya.
"Anoo, Hinata?" Hinata langsung menatap Naruto, "Aku permisi sebentar. Aku ingin memberitahu Hiashi-sama bahwa kau sudah sadar." Hinata hanya menganggukkan kepalanya.
Blam
Suara pintu yang tertutup mengawali suasana hening di kamar Hinata. Gadis berambut Violet itu mendesah pelan. Memori tentang Sasuke membanjiri pikiran Hinata. Gadis itu mulai terisak pelan. Tetapi lama kelamaan Isakan itu berubah menjadi tangisan.
Tok tok tok
Ceklek
"Nee-chan? Apa Nee-chan menangis?" Hanabi—adik hinata—masuk ke dalam kamar Hinata. Alangkah terkejutnya ia ketika melihat keadaan Hinata yang kacau.
"NEE-CHAN!" Jeritnya, "Ada apa denganmu?" Teriak Hanabi sambil memeluk Hinata.
Hinta tersenyum miris, "Tenang. Nee-chan baik-baik saja. Jangan khawatir." Ucap Hinata sambil memeluk Hanabi.
'Kami-sama. Berilah aku kekuatan'
"Oi Naruto. Kau kenapa sih? Hari ini sudah 10 kali kau menghela nafas. Ada apa?" Ucap Uzumaki Karin yang notabene sepupu Naruto. Naruto menoleh lesu ke arah Karin sambil memamerkan cengirannya—yang malah tampak seperti ringisan di mata Karin.
"Ahahaha, aku tidak apa-apa, Karin. Jangan khawatirkan aku." Ucap Naruto sambil tertawa getir. Karin menaikkan sebelah alisnya.
"Hei Naruto. Aku telah bersamamu lebih dari separuh hidupku, Naruto. Jangan kira aku tak tahu kalau kau menyembunyikan sesuaru padaku!" Ucap Karin jengkel.
"…"
Karin menghela nafasnya pelan—frustasi dengan sikap sepupu tersayangnya itu, "Baiklah. Aku mengerti kau sedang tak ingin membicarakannya. Tapi aku akan selalu ada setiap kau membutuhkanku." Ucapnya sambil tersenyum manis.
Naruto menoleh sekilas, lalu pemuda berumur 19 tahun itu tersenyum tipis, "Arigatou."
Karin pun tersenyum miris. Bagaimanapun juga, Naruto telah dianggap sebagai adik oleh Karin. Ia tak sampai hati jika melihat sepupunya tampak seperti orang frustasi. Menghela nafas, akhirnya Karin memutuskan untuk pulang—mengingat ia tak ada lagi kegiatan di kampus.
"Baiklah Naruto. Aku pulang dulu. Jaa-ne." Ucap Karin seraya melangkahkan kakinya meninggalkan Naruto.
"Karin!" Seru Naruto. Karin pun langsung berbalik menghadap Naruto. "Jika Kau sangat mencintai seseorang, tetapi orang tersebut mencintai orang lain. Apa yang akan kau lakukan?" Ucap Naruto lirih.
Karin tampak terkejut. Tetapi beberapa detik kemudian ia tersenyum sedih—tampaknya ia mulai mengerti apa yang sedang dialami oleh Naruto.
"Well.." Karin meringis pelan—bingung apa yang akan dijawabnya, "Mungkin aku akan melepasnya.
Naruto memejamkan matanya
"Maumu apa sih?! Kau selalu bilang kalau aku harus selalu menelfonmu. Nyatanya setelah aku menelfonmu, kau selalu memarahiku seperti orang gila!" Teriak Sakura dengan garang. Saat ini ia sedang menelfon Sasuke yang notabene pacar barunya itu. Ia masih ingat sekitar 3 hari yang lalu Sasuke berkata apapun yang terjadi, dan sesibuk apapun mereka, ia dan Sasuke HARUS selalu menghubungi satu sama lain. Tapi, karena urusan kuliahnya terlalu banyak, Sakura tak ingat akan hal itu. Dan tentu saja itu membuat Sasuke naik darah.
".." Tak ada jawaban dari sasuke.
Sakura menghela nafas gusar, "Demi Tuhan Sasuke! kau seharusnya memaklumi keadaanku. Tugas-tugas yang diberikan oleh Kakashi-sensei tak bisa kutinggalkan begitu saja!" Teriaknya.
"Aku tak peduli Sakura. Toh, nyatanya selama ini sesibuk apapun dirimu, kau selalu menyempatkan waktu untuk menelfon Naruto. Bahkan kau tak peduli denganku." Ucap suara diseberang sana.
"Tap—"
'Sudahlah, aku lelah Saku. Aku ingin tidur.'
PIP
Telpon diputuskan secara sepihak. Sakura hanya membatu di tepi Kasurnya.
Perkataan Sasuke tadi sukses menohok hatinya. Ya, ia tahu. Sesibuk apapun dia, selelah apapun dia. Ia selalu menyempatkan untuk menelfon Naruto. Yah, walaupun itu tidak wajar mengingat ia tak ada hubungan apapun dengan Naruto.
'Tapi itu wajar! Aku kan mencintai Naruto!' Pikirnya.
Dirinya terpekur ditengah keheningan mala mini. Matanya mulai berkaca-kaca. Ia meringkuk pelan diatas ranjang empuknya itu.
Ia tahu ia salah. Menjadikan Sasuke sebagai pelampiasannya itu adalah suatu hal yang sulit dimaafkan. Dan secara tidak langsung, ia juga menyakiti Hinata dan Naruto.
Tubuh Sakura menegang. Hinata? Ah, rasanya sudah lama sekali ia melihat gadis itu.
Seketika persaan menyesal menghantui Sakura. Bulir-bulir air mata mulai membasahi pipinya. Dengan nanar, ia menatap langit yang bertaburan bintang dari jendela.
'Bintang, apa yang telah kulakukan?'
"SASUKEEEEEEE! AYO CEPAT!" Teriak Itachi dari luar kamar Sasuke. Sasuke hanya mendengus pelan.
Klek
Pintu pun terbuka. Menampilkan Sasuke dengan pakaian santainya. Itachi menganga. Bahkan hanya dengan pakaian casual pun adiknya bisa setampan ini. Gen Uchiha ternyata sangat mengerikan.
"Wow, aku tak tahu kalau adik kecilku yang dulu sering menonton Sumo bisa setampan ini."
Sasuke mendelik. Kemudian ia menggeram pelan, "Urusai."
Itachi terkekeh, dengan gemas diacaknya rambut a la Chicken Butt milik Sasuke, yang langsut mendapat death glare andalan Sasuke.
"Baik, sekarang. Ayo, Konan dan yang lainnya pasti telah menunggu kita Sasu."
Dengan langkah gontai ia mengikuti langkah kakaknya yang berlari kecil kea rah mobil barunya. Sasuke hanya mendengus. Lalu dengan segera ia memasuki mobil kesayangan kakaknya itu.
'Kalau bukan karena aku kalah taruhan dengan Itachi saat bermain PS tadi, mana mau aku ikut dengannya ke tempat kelompok anehnya itu.' piker sasuke kesal.
Setelah memastikan bahwa saabuk pengamannya telah terpasang, Itachi mulai menghidupkan mesin. Dengan kecepatan sedang, ia mengendarai mobilnya menuju Konoha Central Park.
Sepanjang jalan, keheningan menghantui Uchiha bersaudara ini. Karena tak tahan dengan keheningan yang mencekam ini, Itachi membuka pembicaraan antara mereka.
"Hei, Sasu. tak keberatan kan, jika aku mengeraskan Volume suara lagu ini. Kebetulan ini lagu Favorit ku." Ucap Itachi
"Hn."
Setelah dirasa Sasuke menyetujui permintaannya, Itachi pun mengeraskan Volume Suara lagu tersebut.
My shattered dreams and broken heart
Are mending on the shelf
I saw you holding hands
Standing close to someone else
Now I sit all alone
Wishing all my feelings was gone
I gave my best to you
Nothing for me to do
But have one last cry
Sasuke terperangah. Lagu ini sukses menohok Hatinya. Seketika bayangan Sakura yang selama ini terlalu baik kepada Naruto memenuhi pikirannya. Bayangan Sakura yang tersenyum lembut kepada Naruto, Tangisan Sakura ketika mendapati Naruto terjatuh dari pohon, dan sorot mata Sakura yang selalu ceria ketika melihat Naruto. Jangan-jangan, Sakura menyukai Naruto?
One last cry
Before I leave it all behind
I gotta put you out of my mind this time
Stop living a lie
I guess I'm down to my last cry
Cry...
Tapi kemudian ia menggelengkan kepalanya. Tak mungkin. Itu tak mungkin. Sakura mencintainya, dan ia yakin akan hal itu. Kemudian, Sasuke tersenyum tipis, tanpa mengetahui bahwa itachi memandangnya dengan heran.
HInata merapikan dress lavender selututnya. Lalu ia melihat pantulan dirinya dicermin kamarnya.
Kacau.
Hanya kata itulah yang mampu menggambarkan keadaan dirinya sekarang. Lihatlah kantung matanya yang berwarna hitam itu. ditambah dengan kulitnya yang semakin memucat itu, semua orang pasti tau kalau gadis itu sedang mengalami masalah yang amat sangat berat.
Akhirnya, Hinata pun memutuskan untuk memberi sedikit make up untuk menyamarkan keadaannya yang terpampang nyata di wajahnya.
Setelah dirasa cukup, Hinata pun menutup kotak make up-nya dan memakai bando berwarna putih bersih.
TING TONG
Hinata pun terkejut. Ini aneh. Tak biasanya orang mengunjungi mansion Hyuuga. Apalagi pada siang hari.
Hinata pun berlari kecil kea rah pintu utama dirumahnya itu. dengan pelan, Gadis berambut lavender itu pun membuka pintu tersebut.
Terlihatlah seorang pemuda berambut kuning dengan berdiri tegap didepan pintu sambil memamerkan cengirannya.
'Oh ternyata Naruto' Hinata kemudian ingat kalau Naruto yang selalu menjemputnya ketika akan berangkat ke kampus.
"Hai, Hina—" Perkataan Naruto terhenti ketika melihat penampilan Hinata yang terlihat seperti malaikat dimatanya. Walaupun matanya terlihat sembab, hal itu tak mengurangi keanggunan Hinata.
Hinata menatap Naruto bingung. Pemuda itu tiba-tiba membeku didepannya.
'Ada apa dengannya?'
"N-Naruto-kun? A-ada apa?" Ucap Hinata terbata-bata.
Tetap tak ada sambutan dari Naruto. Hal itu membuat Hinata mati kutu.
Dengan modal nekat, Hinata yang biasanya tidak pernah berbicara panjang lebar itu pun memanggil Naruto lagi.
"N-naruto -kun? A-ada ap—"
"Eh, H-hinata -chan. Gomeeen. Aku tadi melamun." Ucap Naruto sambil memamerkan Cengirannya.
Hinata hanya terdiam, kemudian ia tersenyum lemah. Naruto yang melihat keadaan Hinata pun tersenyum miris.
"Ne, Hinata. Kalau kau belum siap untuk ke kampus kau—"
"N-Naruto-kun. Kau tahu k-kalau aku tak b-bisa meninggalkan k-kuliahku begitu saja, kan?" Ucap Hinata pelan. Naruto hanya menghembuskan nafasnya pelan.
"L-lagipula, kau tahu. Cepat a-atau lambat aku p-pasti akan bertemu dengannya."Naruto memijit keningnya.
"Haaah. Wakata… wakata…" Ucap Naruto pada akhirnya.
Perjalanan dari mansion hyuuga ke Universitas Tokyo hanya memakan waktu 10 menit kalau dengan berjalan kaki. Maka dari itulah Hinata dan Naruto memutuskan untuk berjalan kaki saja.
Sesampainya di Universitas Tokyo. Mereka berdua menuju ke tempat Naruto, HInata, Sasuke, Dan Sakura biasa menunggu.
Sesampainya disana, ternyata hanya ada Sasuke yang sedang menyeruput cola-nya dengan kalem. Kemudian ia melirik Naruto dan Hinata yang dikiranya telah mengalami kemajuan pesat perihal hubungan mereka.
'Bagus Dobe.'
Naruto melirik Hinata yang sedang menggigit bibir bawahnya. Naruto tahu kalau gadis itu sedang menahan tangisnya
I'd give you anything,
Everything,
Naruto menghela nafas berat. Denga n canggung, ia pun menyapa Sasuke.
"Hai Sas—"
"S-Sasuke-kun? Apa kabar?"
To have you be mine.
I'd give the stars above,
And all my love,
How can you be so blind?
Baik Sasuke maupun Naruto terkejut dengan sapaan Hinata yang terkesan terburu-buru dan dipaksakan itu. Namun pada akhirnya Sasuke memilih menjawab pertanyaan Hinata tadi.
"…Baik."
Naruto hanya memejamkan matanya pelan. Sekelibat ingatan tentang perkataan Karin memenuhi memorinya.
'Mungkin aku akan melepasnya.'
Tapi, Naruto belum sanggup melepas Hinata. Ia sama sekali belum sanggup. Apalagi status Sasuke masih berpacaran dengan sakura.
'Hinata-chan. Mengapa kau tak pernah memperhatikanku?'
So blind?
I'm going out of my mind,
All the time,
For you,
Yes it's true.
"Hei, Hinata."
Naruto menoleh kepada Hinata. Ia sangat mengkhawatirkan gadis Indigo itu. tapi tampaknya gadis itu malah merasa senang karena telah disapa oleh Sasuke.
"Selamat, ya? Akhirnya kau berpacaran dengan dobe."
If you only knew,
That I'm crazy for you,
Then you'd understand.
Hinata merasa seolah-olah tubuhnya telah dihantam keras oleh sesuatu. Sebisa mungkin ia menahan tangisnya.
Naruto hanya tersenyum kikuk—tak tahu bagaimana cara menanggapi Sasuke.
If I only knew,
What you're goin' through,
Then I'd understand.
"Dan satu lagi Hinata. Kurasa ka—"
"NARUTOOOO! Kemana saja kau?" Teriak Sakura dari kejauhan. Sepertinya ia tidak melihat pandangan sinis dari Sasuke dan sorot mata sedih dari Hinata.
Denga nafas terengah-engah, Sakura pun berlari kea rah Naruto dan langsung memeluknya.
"Oh, Naruto, aku rindu sekali padamu! Kemana sa—"
"Cukup." Perkataan Sakura terhenti ketika Sasuke dengan paksa menarik Sakura dari pelukan Naruto.
"Hei, Sasuke-kun! Apa masalahmu." Teriak Sakura kesal. Sasuke hanya memandang Sakura dingin.
"…"
Hinata mengerti, ia sangat mengerti bahwa Sasuke sangat mencintai Sakura. Tapi, apa memang gadis sepertinya tidak boleh mendapat kebahagiaan?
Hinata Takut, takut jika ia akan kehilangan Sasuke jika tak melakukan sesuatu.
Tapi ia merasa bahwa ia tak akan mendapat hasil apapun. Seberapa keras ia mencoba, ia tak akan bisa membuat Sasuke berpaling padanya . hal itu hanya karena satu hal, yaitu…
Cinta..
"S-sasuke-kun. Kuharap k-kau bahagia b-bersama Sakura." Sambil menahan tangisannya. Hinata pun berlari menjauhi ketiga orang sahabatnya itu.
"CUKUP!" Raung Naruto pada akhirnya, yang membuat Sasuke dan Sakura menatapnya heran.
"N-Naruto? Kau kena—"
"Pergi dari sini Sakura." Geram Naruto.
Sakura terkejut, sebisa mungkin ia menahan tangisnya.
"Dobe! Ap—"
"SEKARANG JUGA!" Teriak Naruto penuh emosi.
Emerald dan Onyx terbelalak. Sasuke terkejut dengan reaksi naruto yang tiba-tiba menjadi aneh itu.
Sakura mati-matian untuk tidak mengisak dihadapan Sasuke—terutama naruto. Lalu, dengan gemetar, Sakura berlari meninggalkan Sasuke dan Naruto.
"Apa maksudmu membentak kekasihku?" Ucap Sasuke dingin. Tapi sayangnya, hal itu tidak meruntuhkan kemarahan Naruto.
"Dan apa pula maksudmu membuat Hinata seperti itu, Hah?!" Raung naruto dengan nafas memburu.
Sasuke bingung, ia sama sekali tak mengerti apa yang dibicarakan Naruto.
"Kau ini bicara apa?" Ucapnya dingin.
Naruto terbelalak. Jadi, selama ini ia tak tahu kalau Hinata menyukainya?
"Brengsek. Jadi selama ini kau tak tahu apa yang Hinata rasakan padamu?" Raung naruto sambil menarik kerah baju Sasuke.
Keduanya bertatapan sengit. Sasuke yang tak terima disebut brengsek mendorong bahu Naruto sehingga anak tunggal Uzumaki itu terjerembab kebelakang.
"Aku tak tahu. Lalu kau mau apa?" Ucap Sasuke sengit. Naruto pun menatap Sasuke sengit.
"Heh, aku tak menyangka mahasiswa terbaik Universitas Tokyo tak dapat mencerna apa yang dirasakan HInata." Ucap Naruto meremehkan Sasuke.
Sasuke menarik kasar kerah baju Naruto. Emosinya sedang berada di puncaknya saat ini.
"JELASKAN PADAKU APA YANG SEDANG TERJADI UZUMAKI NARUTO!" Teriak Sasuke kasar. Untung saja tak ada siapapun didekat mereka.
"Hinata mencintaimu, BODOH." TEriak Naruto kasar,"Dan kau, Dengan Teganya tak memperdulikannya. Kau menyakitinya, BRENGSEK!"
BUAGH
Satu pukulan dari Naruto sukses menghantam rahang Sasuke. Diusapnya darah yang
'Hinata, aku bersumpah untuk selalu melindungimu.'
"Sai-kun! Sudah berapa kali kubilang! Berhentilah melukisku! Kau membuatku malu." Ucap Ino sambil bersemu. Sai hanya berkata polos.
"Memangnya kenapa? Aku hanya melukis bidadari cantik yang ada didepanku ini."
Sedetik kemudian, Ino pun merutuk kepolosan Sai.
Ino menghela nafas. Saat ini ia dan Sai sedang berada di koridor Universitas Tokyo. Pandangannya beredar ke segala arah.
Merasa tak mendapatkan tontonanyang menarik, ia pun kembali memeriksa kuku-kukunya yang baru saja dipoles dengan Kuteks berwarna pink cerah itu.
"Err, Ino-chan. Itu Sasuke dan Naruto, kan? Aku tak menyangka akan mendapati Naruto sedang menindih Sasuke ditempat sesepi ini." Ucap Sai polos.
Inomengedarkan pandangannya mencari sosok Sasuke dan Naruto yang dilihat Sai tadi. Ia membelalakkan matanya? Apa? Naruto dan Sasuke bertindihan di tempat sesepi ini? Jangan katakana kalau mereka Gay!
"Apa mereka Gay?" Ucap Sai tiba-tiba
Ino bergidik ngeri. Bahkan Sai pun berpikir sama denganya. Sempat terpikir olehnya untuk berlari secepat mungkin dari tempat itu.
Tapi, sesuatu dalam dirinya menahannya untuk melakukan hal itu. Ino memandang sasuke dan Naruto dengan seksama. Sesaat kemudian menjerit panik.
"Sai. Mereka tidak Gay! Mereka sedang berkelahi!" Jeritnya.
Sai pun terkejut. Dengan cepat ia mendorong Ino menjauh dari sana.
"Ino-chan! Cepat pergi! Akan kutangani Mereka. Kau cari Sakura dan Hinata. SEKARANG!" Teriak Sai sambil berlari kearah Naruto dan Sasuke.
Ino panik. Ingin rasanya ia menjerit meminta tolong kepada siapa saja. Tetapi ia ingat dengan perkataan Sai yang menyuruhnya untuk mencari Sakura dan Hinata. Dengan langkah yang terkesan terburu-buru, Ino pun berlari meninggalkan tempat itu dan secepat mungkin mencari Sakura dan Hinata.
Pada saat yang sama, Sai pun berlari sekuat tenaga kearah Naruto dan Sasuke. Dengan sekali dorong, Sai memisahkan mereka berdua.
"Apa yang kau lakukan, kulit pucat?" Ucap Sasuke dingin. Naruto hanya memandang Sai geram.
"Memisahkan kalian berdua, kalian piker apa lagi?" Ucap Sai polos. Bahkan dalam keadaan genting begini pun Sai tetap polos, "Sekedar informasi. Namaku bukan kulit pucat, tapi Sai. Shimura Sai." Bahkan ia sempat memperkenalkan namanya.
"Dengar, aku tak peduli siapa namamu. Tapi yang jelas, tinggalkan kami atau kutendang bokongmu dari sini." Ucap Naruto galak, "karena aku ingin menghajar ayam brengsek ini." Ucap Naruto sambil melirik tajam Sasuke.
Merasa direndahkan, dengan kecepatan kilat Sasuke pun memukul Naruto habis-habisan di seluruh wajahnya.
"BRENGSEK KAU!" Raung Sasuke.
Naruto pun mencoba sekuat tenaga untuk meloloskan dirinya dari kuncian Sasuke. Naruto mencoba mendorong tubuh Sasuke dengan tangannya.
Tetapi Sasuke langsung menhindar. Hal inimembuat Naruto terlepas dari kuncian Sasuke.
"Hah…Hah…"
Naruto dan Sasuke sama-sama terengah-engah. Peluh bercucuran di seluruh tubuh mereka. Tapi seperti yang kita tahu, semua tak sampai disini saja. Dalam waktu yang bersamaan, Sasuke dan Naruto sama-sama melayangkan tinjunya.
"Apa kalian takmemikirkan perasaan Haruno-san dan Hyuuga-san jika mereka tahu kalian berkelahi seperti ini?" Masih dengan senyum polos-nya, Sai berkata dengan tenang kepada Naruto dan Sasuke.
Seketika Sasuke dan Naruto menghentikan tinjunya tepat didepan wajah lawan masing-masing. Mereka tetap dalam posisi itu selama beberapa menit.
Perlahan-lahan Sasuke dan Naruto menurunkan kepalan tangan mereka. Secara bersamaan mereka pun jatuh terduduk di rerumputan yang masih segar itu.
"Aku yakin mereka pasti kecewa." Ucap Sai polos, "Kalian tahu? Jangan pernah membuat seorang wanita kecewa." Ucap Sai sambil memamerkan senyum palsunya.
"Tsk! Dengar Shimura. Jangan pernah kau mengatakan tentang perkelahian kepada Hinata—terutama Sakura. Jika tidak.." perkataan Sasuke yang menggantung membuat Sai penasaran. Dengan modal nekat, Sai pun memberanikan diri untuk bertanya kepada Sasuke.
"Jika tidak?"
"Aku tak akan segan-segan membunuhmu, Shimura." Ucap Sasuke dingin.
"Hmm, begitu ya? Baiklah." Ucap Sai sambil tersenyum palsu.
"Dan oh, iya. Uzumaki…" perkataan Sasuke langsung membuat Naruto memandang remeh Sasuke, "Ini semua belum selesai."
Ucap Sasuke sambil meninggalkan Sai dengan senyum palsunya dan Naruto dengan seringai meremehkannya.
"SAKURA! HINATA! Hentikan!" Jerit Ino. Saat ini ia berada di cefetaria, bersama dengan Sakura dan Hinata.
Ketika Sai memintanya untuk menemukan Sakura dan Hinata, insting Ino langsung mengatakan bahwa kedua wanita itu sedang berada di cafeteria
Tapi sialnya, ketika ia sampai di cafeteria, ia langsung terkejut ketika melihat Sakura yang sedang menjambak rambut Hinata dan Hinata yang memaki Sakura sambil mengangis.
Masih segar dalam ingatan Ino ketika ia berusaha keras memisahkan Sakura dari Hinata. Dan karena itu pula sekarang ia mendapatkan tiga goresan hasil cakaran Sakura tadi di tangan kanannya.
"Jauhi kami Yamanaka." Ucap Hinata dingin.
Ino tertegun. Ia sama sekali tak menyangka jika seorang Hinata Hyuuga yang terkenal akan kepolosan dan kelemah-lembutannya itu bisa berkata dingin.
"Aku tak bisa menjauhi kalian. Bagaimanapun juga, walaupun kita tak terlalu akrab, aku masih peduli dengan kalian." Ucap Ino miris.
"…"
"…"
Untuk beberapa saat tak ada yang berani membuka pembicaraan. Suasana hening menyelimuti mereka.
"Baiklah. Untuk kali ini saja." Ucap Sakura dingin seraya melepaskan cengraman tangannya dari Hinata. "Tapi tolong, jangan beri tahu ini kepada Sasuke—terutama Naruto." Lirih Sakura seraya meninggalkan Ino dan Hinata.
Drrttt drrttt
Bersamaan dengan itu, ponsel yang berada di genggaman Ino bergetar.
Sai calling
Dengan terburu-buru, ditekannya tombol answer.
"Moshi-moshi. Sai! Ka—"
'Ino, dengarkan aku baik-baik! Jangan pernah beri tahu Haruno-san dan Hyuuga-san tentang Sasuke dan Naruto.'
TUUUT TUUUUT
Bersamaan dengan itu, Ino mentapat Hinata dengan pandangan yang sulit diartikan.
Hinata yang pada dasarnya menderita luka disana-sini memutuskan untuk meninggalkan Ino tanpa berkata apapun
"S-serius Naruto-kun. A-aku baik-baik saja. K-kau tak perlu menjagaku setiap saat seperti ini. Lagi pula aku hanya ke taman kok. Tidak kemana-mana." Ucap HInata lembut, "J-justru kau yang seharusnya beristirahat Naruto. L-lihatlah semua lukamu itu. A-aku tak perlu dijaga lagi, N-naruto-kun." Lanjutnya pelan.
Masih segar dalam ingatan HInata ketika Naruto pingsan dihadapannya dengan keadaan babak belur. Hinata yang pada dasarnya baru saja Berkelahi dengan Sakura tentu tak bisa membawa Naruto ke mansion-nya. Akhirnya ia memutuskan untuk memerintahkan para Bodyguard-nya untuk membawa Naruto kembali ke rumahnya, sementara ia pulang ke mansion Hyuuga untuk membersihkan luka-nya.
Dan sekarang, tanpa diduga, Naruto datang ke mansionnya dengan perban dimana-mana, bermaksud untuk meneemani Hinata ke Taman Konoha.
Naruto meringis mendengar perkataan HInata, "Kau boleh berkata begitu. Tapi tubuhmu tidak, Hinata-chan." Ucap Naruto tegas. Hinata terdiam. Kemudian ia menunduk.
"Kau j-juga terlihat tak b-baik." Ucap Hinata pelan, Naruto meringis lagi. "Lagipula, k-kau berkelahi dengan siapa sih?" Sambung Hinata cemas.
Naruto tersenyum,"kau tak perlu tahu, Hinata."
Hening sejenak
"N-naruto, sebenarnya. K-kenapa kau tetap berada disampingku? P-padahal aku sudah menyakitimu." Ucap Hinata getir.
Wusshhh
Angin tiba-tiba berhembus kencang. Menerbangkan helaian rambut Indigo Hinata. Daun-daun yang mengering pun ikut berterbangan disekitar mereka.
Naruto berbalik. Tersenyum lembut kearah Hinata.
"Tentu saja karena aku mencintaimu Hinata-chan."
Detik itu juga, Hinata merasakan sesak didadanya
Karena hanya kau…
Yang melihat kilau cahaya.
Yang berpendar bagai mutiara.
Ketika mutiara itu terpendam dalam Lumpur.
Kau yang pertama menyadari indah cahayanya.
Dan jatuh dalam pesona sang Mutiara.
Tsuzuku
HAHAHAHAHAHA! Klisee BROO, HAHAHAHAHA!#Heh!
Jadi, gimana readers yang kece badai? Maafkan Ane yang ngaret banget update Fict ini. Hontou ni Gomenasaaaiiii! #ojigi
Dan maafkan daku karena tak membalas repiu kalian semua #nangisBombay #Ditendang
oh iya, tentang lirik-lirik yg tercantum, ini saya minta saran dari mbak arlene, serta untuk kata-kata terakhir itu bukan buatan saya, itu dari fanfict pertama yg saya baca (sayangnya lupa judulnya)
Anyway
R
E
V
I
E
W
Please?
Salam
Kuroi Aka Aqilla-san and AsaManis TomatCeri
