Yuhu kabar semua? Chapter ganjil, berarti akan ditemani oleh AsaManis TomatCeri~

And…Maaf ya atas keterlambatan fic ini. Ini fic collab ngaret cuma di satu orang, yaitu saya # ini dia, chapter 5. Selamat membaca~ :3

.

.

Naruto © Masashi Kishimoto

and a story byKuroi aka Aqilla-san and AsaManis TomatCeri

.

.

Je T'aime

.

.

Chapter 5: Feeling

"Sakura,"

Yang dipanggil namanya menengok masih sambil mengunyah permen karet dalam dalam kamar, tepatnya di atas ranjang nona Haruno, sosok dua gadis itu tengah pemilik ranjang yang tidur terlentang dan gadis Barbie yang kini menjabat sebagai sahabatnya tengah tengkurap di sampingnya sambil membaca , sejak insiden pertengkaran saat itu, Ino jadi sering main dengan Sakura, dan akhirnya menjadi tak ada Hinata, Ino lah yang selalu di samping Sakura.

"Ada apa?" jawab Sakura kembali menatap langit-langit mulai menutup buku novel yang dibacanya, kemudian menatapnya dari samping, "Kau tidak mau menghubungi Hinata? Sudah berapa minggu… Kau mau terus seperti ini?"

Sakura mendengus pelan, "Sudahlah, jangan bahas senang kan jika aku dan Sasuke jadi seperti ini."

"Kau gila!Jangan berfikiran begitu, dia itu sahabatmu juga!"

"Yang menyukai pacar sahabatnya sendiri?"Sakura menengok, menatap Ino kemudian Ino membalas, "Apa bedanya denganmu yang menyukai Naruto?"Suasana hening kembali. Inilah yang sudah tahu semua yang terjadi antara Sasuke, Sakura, Naruto, dan Hinata.

"Hhh… sudahlah," Sakura berbalik badan dan kembali mengunyah permen karetnya, "jangan bahas ini sekarang, pig."

Dan Ino hanya bisa memutar bola matanya bosan karena sikap benar saja, walau Ino baru beberapa minggu menjadi sahabat Sakura, tapi Ino mengerti situasi untuk saat ini Ino menganggap Sakura memang sedikit menjengkelkan.

oOo

Di lain tempat, sosok pria berkulit pucat di sana terus tersenyum di meja makan yang berhadapan dengan seorang Uzumaki Naruto. Siapa lagi yang mempunyai senyuman aneh selain Sai kenapa kantin kampus jadi membuat Naruto gerah.

"Berhenti memandangku dengan senyuman konyolmu!"

"Rasanya tidak sebelum aku tahu apa yang membuatmu menjadi murung sepanjang hari." jawab Sai menghela nafas, kemudian mengaduk jus jeruk miliknya dengan sendok, "Ayolah, aku tahu apa yang kau sedang tidak mau membahas hal itu sekarang, Sai."

Sai kembali tersenyum mendengar ucapan Naruto. Sama halnya sepeti Ino, Sai sudah tahu apa yang sedang terjadi dalam kekacauan ini. Naruto sudah banyak bicara tentang perasaannya dan juga Sasuke.

oOo

Dam karena itulah, kini Sai dan Ino tengah berdiri di sini. Di depan taman ria untuk merencanakan sesuatu sejak kemarin. Ya, sejak Ino bicara di kamar Sakura, dan Sai bicara di kantin kampus dengan Naruto, malamnya kedua pasangan ini punya rencana untuk mempertemukan terlalu rajin, lebih tepatnya karena Ino benar-benar sayang pada mereka yang sudah dianggap sahabat, dan Sai sebagai kekasihnya tentu saja menuruti Ino.

"Sai, kau benar-benar sudah mengajak Naruto dan Sasuke datang, kan?" tanya Ino memastikan. Masalahnya, sudah satu jam menunggu, keempat orang yang diajak ini belum memperlihatkan batang pasti kesiangan, Sasuke walau cuek tapi untuk sekedar refreshing—yang dikatakan Sai untuk mengajak Sasuke di telepon semalam—pasti datang, Hinata pasti harus berdebat dengan ayahnya yang selalu melarangnya pergi sendiri, dan Sakura pasti datang.

Sai memberikan botol minumnya, "Minum dulu," Sai tersenyum, "aku pastikan Sasuke dan Naruto bagaimana dengan para gadis yang kau ajak?"

"Entahlah… Sakura dan Hinata lama sekali—"

"Inooo!"Suara melengking terdengar, Ino menengok, dan benar saja, asal suaranya dari si merah jambu Haruno, yang sedang berlari ke arahnya dan tersenyum lebar, "Sakura," Sambil melambaikan tangan, "kau lama sekali!"

Dan tibalah Sakura tepat di hadapan mereka."Iya, maaf. Oh iya, kau ajak Sasuke juga, kan?"

"Iya, tapi dia belum pula kau tidak berangkat bersama dengan Sasuke?"Ino mendegus, Sakura diam. Tak lama kemudian, iris hijau permatanya menangkap sosok yang tak asing lagi baginya. Dua orang yang akhir-akhir ini selalu di fikirannya…

"Naruto… Hinata…" Sakura bergumam, membuat Ino menengok ke arah belakang. Ah, kenapa mereka bisa berangkat bersama—

Naruto menarik tangan Hinata untuk cepat sampai di tempat Sai, "Sai!"

"Yo,"

Ino menaikkan alis, "Jadi… bagaimana bisa kalian berdua datang bersamaan?"

"Aku tahu kau juga pasti mengajak Hinata, dan aku tahu Hinata pasti sulit keluar rumah jika tidak ada yang mengizinkannya keluar, makanya aku ke rumah Hinata." jelas Naruto.

…ya, tentu saja. Pasti begitu, kan. Begitulah fikir Sakura. Dan ia tersadar tatkala sebuah tangan menepuk bahunya, "Halo, Sakura. Kita jarang bertemu, ya."Naruto tersenyum, sementara Hinata hanya melirik kemudian menunduk. Bingung apa yang harus ia lakukan.

Sakura sendiri awalnya bingung harus apa, tapi… "Iya, kita jarang bertemu, asyik kan kita hari ini bisa main bersama. Iya kan, Hinata?" Akhirnya ia tersenyum, dan Hinata mengangkat kepalanya kemudian mengangguk sambil tersenyum.

"Baik, sekarang tinggal Sasuke." Ino mencoba mencairkan suasana, begitupun Sai yang kemudian menggandeng Ino, "Aku rasa kita masuk duluan saja, biar nanti aku telepon Sasuke menyusul ke dalam—"

"Tidak perlu, aku sudah di sini."

Dan datanglah sosok yang ditunggu. Kelima orang di sana langsung tertuju pada Uchiha maskulin itu, yang kemudian menatap Sakura. Mata mereka saling bertemu. Dalam hati Sakura mengakui bahwa… ia merindukannya. Merindukan tatapan itu. Rasanya meski sedetik saja harus berpisah Sakura akan merindukannya lagi. Apa? Perasaan apa ini?

Awal ini terasa begitu kaku untuk Hinata dan apalagi Naruto yang belum lama ini bermasalah dengan Naruto yang berfikir dewasa segera menepis perasaan itu, dan Sasuke yang cuek tentu saja lebih baik melupakan hal itu."Sekarang, ayo, kita masuk ke dalam!" seru Ino kemudian.

oOo

Selama menaiki bermacam-macam wahana, masih tidak ada perbincangan antara Sasuke dan Naruto. Dan yang ada…

"Ayo, kita naik wahana Roller Coaster!" seru Ino. Sai ikut bersemangat, tapi terlihat di sana ada dua orang yang… sepertinya ketakutan. Sakura dan Naruto.

Sasuke memejamkan mata menyadari itu, "Apa sedari tadi kita buang-buang uang tiket masuk hanya karena ketakutan satu orang?" tanyanya entah pada , memang benar sejak awal Naruto banyak sekali mengagalkan semuanya menaiki wahana ekstrim karena takut.

…dan ya, yang ada sejak awal mereka malah saling sindir menyindir. Naruto yang merasa disindir itu melirik sinis, "Hei, lihatlah Sakura. Kau tega membiarkannya takut naik wahana ini hanya karena egomu. Makan saja uang tiketmu itu!"

Sasuke dengan tiba-tiba menyambar Naruto dengan tangannya, tapi dengan gerak cepat Sai memegang tangan Sasuke yang mengepal mengenai wajah Naruto. Mereka saling menatap seolah akan membunuh, tapi Sai terus mencengkeram tangan Sasuke hingga akhirnya emosinya terkendali dan melepaskan tangannya dari Sai. Para gadis di sana hanya tercengang kaget.

"Kendalikan emosi kalian, ini tempat umum, dan ini acara kita untuk senang-senang—"

"Sudahlah, Sai, aku muak mendengarmu!" Naruto masih menatap Sasuke yang sudah mengalihkan pandangan seakan acuh tak acuh pada Naruto. Ino kemudian tertawa dipaksakan, "Ahahaha… B-baiklah, teman-teman, bagaimana kalau sekarang kita ke rumah hantu antrian wahana ini ramai." ucap Ino mencairkan hantu?Itu tidak buruk bagi semuanya, maka semua kembali oleh Ino dan Sai, diikuti oleh Naruto dan Hinata, dan Sasuke Sakura di paling belakang.

Sakura melirik Sasuke, dalam hati ada perasaan yang ganjal. Sasuke… sampai semarah itu…

Setiba di rumah hantu, antrian ternyata memang banyak yang takut ke menguntungkan untuk mereka sehingga bisa langsung yang pemberani itu masuk sambil curi-curi kesempatan memeluk lengan Sai. "Ah, Ino…" Sakura memanggil tapi Ino sudah masuk duluan ke dalam pintu masuk. Oh, ya, tentu saja dia harus berpasangan dengan Sasuke.

Naruto dan Hinata pun akhirnya masuk ke dalam duluan, sementara Sakura masih gemetar. Astaga, apa yang dia fikirkan. Tadi baik-baik saja dia berfikir untuk ke rumah hantu, tapi kenapa sudah tiba di sini sekarang justru… Sakura menengok kea rah Sasuke, "A-aku…"

"Aku tidak memaksa, tapi jika kau takut pegang lenganku." kata Sasuke memejamkan mata, tangannya masih setia di dalam saku menarik nafas dalam-dalam, "Baik, ayo, kita masuk!"Tanpa memeluk lengan Sasuke, Sakura masuk mendahulukan Sasuke, tapi kemudian lelaki emo itu segera menyusul.

Baru tiga langkah di dalam, Sakura menghentikan langkahnya mendengar suara wanita tertawa dari kejauhan. Kakinya gemetar hebat, dan ia bisa menjamin wajahnya terlihat begitu bodoh saat ini. Ruangannya gelap sekali, sekeliling tersusun meja makan layaknya ruang makan rumah yang sudah berhantu dengan cahaya remang-remang, ditambah bau kemenyan yang tajam tercium menambah kesan horror menjadi lebih terasa.

"Sakura?"Sasuke melihat Sakura yang mulai gelisah bak anak kecil yang tak tahan ingin buang air gadis gulali itu tak menghiraukan sebuah tangan hantu ibu rumah tangga—yang pastinya telah didandani dengan efek pucat—menyentuh lembut pundak Sakura, membuatnya bergidig dan refleks teriak, "UWAAAAAAA!" Kemudian ia lari meninggalkan Sasuke.

"Sakura!"Panggilan Sasuke pun terabaikan karena Sakura sudah berlari hingga tak terlihat karena hanya mendengus, "Dasar…"

oOo

Suara menyeramkan di mana-mana, asap efek kabut, dan hantu-hantu buatan yang menjahili gadis itu semakin membuatnya lari kencang. "WAAAAAA!"Sakura terus saja teriak sambil menutup mata. Seseorang di depannya menengok dan kaget, "Saku—"

Bruk!

Sukses, Sakura menabrak pemuda itu yang ternyata yang menyadari itu suara Naruto langsung membuka matanya, "Naruto?"

Naruto berdiri dan menarik tangan Sakura untuk , di mana Hinata?Sakura menengok ke kanan dan kiri, yang ada justru boneka-boneka hantu dan manusia berkedok hantu yang posisi mereka di ruang kamar keluarga.

"Itu yang membuatku tiba-tiba menghilang, aku menunggu di sini dari tadi, tapi dia tidak datang-datang. Mungkin dia sudah keluar," Naruto memegang kepalanya pusing, "kau sendiri kenapa…? Mana Sasuke?" lanjutnya dan bergantian, kini ia yang melihat kanan kiri.

"Aku terpisah takut jadi aku lari. Ehehehe…" Sakura tertawa garing, membuat si pirang itu sweatdrop."Yasudah, mau bagaimana pasti bisa keluar sendiri, Hinata mungkin sudah di , kita keluar sama-sama." ajak Naruto sambil nyengir, Sakura tersenyum. Pintu keluarnya tinggal di depan mata.

oOo

Suara efek gemercik air shower membuat gadis bermata lavender itu semakin membuatnya di bagian kamar mandi ini tidak ada hantu manusia, hanya ada efek suara dan boneka yang diberi angin hingga terlihat seperti justru gadis itu masih duduk meringkuk menutupi bergetar, dan terdengar suara lembutnya yang ketakutan. "Ukh… Hiks…"

Tak lama terdengar suara langkah sepatu, membuatnya semakin meringkuk dan menutup matanya sekuat mungkin hingga air matanya tak tahan ingin tumpah. Dan sosok itu ternyata…

"Hinata?"Sasuke sedikit terkejut melihat posisi Hinata yang saat ini terlihat begitu ketakutan. Dia memang masuk diam saja, tapi dia tidak mengatakan kalau dia berani, kan. Dia pasti lebih takut disbanding Ino dan kenapa Naruto tidak ada?Apa bocah kuning itu meninggalkannya? Keterlaluan kalau itu fikir Sasuke.

Hinata yang merasa familiar dengan suara itu langsung membuka mata, menengok ke atas, "Sa-Sasuke…"

Walau gelap, Sasuke bisa melihat mata Hinata sudah menumpuk air mata yang belum sempat mengaliri Sasuke mengulurkan tangannya ke arah Hinata, "Ayo, bangun."Ingatlah, walau Sasuke cuek, dia masih perduli pada tak mungkin tega membiarkan Hinata di sini sendirian ketakutan.

Hinata meraih tangan Sasuke dan mulai berdiri. Hinata menunduk, "Maaf, Sasuke… Aku takut saat melihat boneka-boneka seram itu dan tanpa sadar aku jatuh duduk, Naruto tidak menyadarinya dan terus berjalan. A-aku…" Hinata yang cukup mengerti hanya menatapnya, "Aku paham. Yasudah, ayo, kita keluar. Selanjutnya hanya tinggal ruang kamar keluarga." ucap Sasuke, Hinata hanya mengangguk dan mulai berjalan di samping Sasuke.

oOo

Keluar dari rumah hantu, Sasuke dan Hinata dikejutkan oleh dua , Sakura dan Naruto yang Naruto sedang menenangkan Sakura yang ketakutan. Oh, ternyata mereka sudah keluar. Naruto dan Sakura sama terkejutnya dengan Sasuke dan Hinata. Mereka bisa keluar bersama?Dan lebih terkejutnya mereka keluar sambil… bergandengan saja, dia pasti takut.

Naruto langsung menyambar Hinata, "Hinata!Astaga, aku fikir kau sudah di khawatir!"

"Ano… Maaf, Naruto… Aku takut dan tertinggal olehmu…" Hinata menundukkan Naruto mengusap kepala Hinata masih memasang wajah khawatirnya, "Aku yang minta maaf karena , ya, harusnya aku menggandeng tanganmu." katanya.

menyadari Sasuke sudah berjalan ke arahnya. Tapi ini tetap salahnya, maka ia menatap Sasuke merasa bersalah, "S-Sasuke…"

"…"

"Aku… Maaf," Sakura sedikit salah tingkah, "aku lari ketakutan dan kemudian aku bertemu Naruto, dan kita keluar sama-sama."Dan Sasuke hanya diam.

Ino dan Sai yang hanya melihat dari belakang saling malah jadi begini? Ah, rencana mereka untuk mempersatukan semuanya kembali gagal…

Ino menghampiri semuanya, "Teman-teman, sudah sore, kita mengantri wahana kicir raksasa terakhir sebelum kita pulang!" seru Ino masih mencoba membuat suasana tidak hanya setuju, taka da yang menolak.

Di jalan, taka da obrolan apapun selain ocehan Ino yang bercerita tentang momennya di rumah hantu bersama Sai. Ino memang pemberani masalah hantu, tapi tetap saja ia menggandeng lengan Sai agar terlihat romantis. Sementara Sasuke, Sakura, Naruto, dan Hinata diam. Termenung pada perasaan mereka masing-masing.

Naruto menggandeng tangan , kenapa tadi Sasuke jadi menggandengnya?!Naruto benar-benar Hinata sendiri berfikir… kenapa bukan Naruto yang menemukannya tadi? Ah, perasaan apa ini…? Hinata memang senang akhirnya bisa ditemukan Sasuke, tapi mungkin lebih tepatnya hanya senang ia bebas dari ketakutan. Kenapa? Kenapa bukan Naruto yang… Perasaan ini… Hinata pun membalas genggaman tinggalkan gadis ini lagi, merasa nyaman dengan genggaman itu. Jangan tinggalkan ia lagi…

Sementara itu, Sasuke dan paling belakang di antara mereka memegang lengan seperti Ino yang memegang lengan Sai, tanpa bergandengan erat seperti Naruto dan Hinata, mereka hanya berjalan seperti orang Sasuke benar-benar marah pada Sakura karena tadi ditinggal? Bukan, Sakura. Bukan karena itu! Sasuke marah melainkan karena melihatmu begitu lepas melepaskan ketakutanmu di depan pria kuning itu. Kenapa bersama Naruto ia bisa begitu lepas, tapi bersama Sasuke—yang notabene adalah pacarnya—tidak bisa?

Apa mungkin benar Sakura hanya menjadikan Sasuke pelampiasannya? Apa firasat Sasuke ini benar? Jangan-jangan Sakura mencintai Naruto?Bertubi-tubi pertanyaan memenuhi otak Uchiha melirik sekilas ke arah Sakura kesal. Apa gadis yang ia cintai ini akhirnya tega memperlakukannya seperti ini? Hey, itu sangat kejam!

Sakura meremas baju di area nyeri di dalam. Tepatnya sejak tadi ia melihat Sasuke menggandeng Hinata yang kerakutan. Tidak, bukankan harusnya Sakura biasa saja. Yang ia cintai itu kan Naruto. Bahkan ia senang kan, bertemu Naruto dan Naruto pula yang menenangkannya.

… ternyata memang bukan itu hanya membohongi dirinya perasaan itu yang dirasakannya. Bodoh! Sekarang napasnya terasa air mata bodoh ini ingin keluar dari matanya? Sampai berkaca-kaca begini…

Ternyata… Sakura memang terlanjur mencintai Sasuke. Kali ini ia tidak bisa mengelaknya.

Rasa ini…

Cemburu.

Ya, bersama-sama dengan Sasuke yang selalu membuatnya selalu membanjiri hari-harinya dengan mengerti dirinya yang terkadang kebaikan Sasuke yang teramat banyak diberikan, membuat Sakura menjadi egois dan meminta ingin memiliki Naruto.

Sebenarnya apa yang ia fikirkan? Rasa ingin memiliki dan mencintai ternyata memang rasa ingin memiliki, Sakura menjadi egois dan menyesal. Akhirnya ia sadar... bahwa rasa mencintainya adalah untuk Sasuke. Ia mencintainya. Ia tidak ingin Sasuke dekat dengan gadis lain. Baru ia sadari setelah tadi melihat Sasuke menggandeng Hinata. Padahal selama ini tidak ada gadis yang Sasuke gandeng selain Sakura.

Ia ingin selalu dimanja Sasuke, dicintai Sasuke, dan ingin selalu bersama seperti ini sebagai kekasihnya. Tapi awal hubungan ini begitu jahat… Apa boleh Sakura mulai berpacaran dengan Sasuke… dengan rasa cinta yang sesungguhnya kali ini. Bolehkan?Terlambatkah?

Biarlah kisah ini berjalan seiring waktu yang tak pernah menunggu. Detik yang terus berjalan, dengan kejam tidak memperdulikan apapun masalah setiap umat manusia, meninggalkan semua kesalahan yang menjadi penyesalan di kemudian hari…

.

.

Tsuzuku...

.

.

Baiklah, baiklah, aku tau karena aku memantau ripiu fic ini juga. Di chap lalu banyak yang komen SasuSakunya dikit. Jadi kita ingatkan lagi, dari awal kita emang udah bilang pairingnya di sini bukan cuma mohon maaf, plotnya emang udah pemeran utamanya tetep SasuSaku, jadi ficnya tetep tertuju fokus cerita mereka. Nanti ada masanya chapter yang bener-bener SasuSaku, jadi readers harap sabar dan ngerti ya~ ^^

Semoga chapter ini memuaskan. Sampai jumpa di chapternya Rima-chan, minna~

Sign,
Mey dan Rima