MIINNAAAAAA-SAAAAANNN! OGENKI DESUKAAA? DUAK! #di tendang kurama-san. "Gakki bukan itu hal pertama yang harus kau ucapkan bukan?!" ah iya! (pasang pose bersimpuh) pertama – tama wia minta maaf atas kehancuran cap. 3 kemaren! (bungkuk dalem-dalem karena kepalanya di teken Kurama-san) iitai yo kurama san! (o) wia ucapin juga BANYAAAAAKKK "kepanjangan Gakki!" diem deh Kurama-san! #kurama puntungdipojokan. Oke okeh wia ulangi, wia ucapin terimakasi BANYAAAAK! Buat reader dan senpai-tachi yang udah review fic wia sampai sini.. dan juga yang mau memaklumi kehancuran di cap.3 kemaren. Okeehh! Cuap cuapnya nanti aja kita lanjutin di autoh note! Janee minna! #Narik kurama-san buat di pindahin ke halaman terakhir cap.4
Ada yang masih inget kalimat : Naruto mencak – mencak tidak suka. Tapi kemudian berhenti untuk mengambil nafas, hari semaki sore dan ia semakin sulit untuk bernafasdi capter 1 kemaren gak? Kalian akan tau clue yang ingin wia sampaikan dari kalimat itu di sinii.
.
.
.
.
Disclaimer : Naru-can ituuuu milik wii-DUUUAAAAKKKKK #ditendangKurama-san. Okeh2, milik Masashi kishimoto-sensei tp bentar lagi bakalan jd milik si Sasutemee... hohohoho
Pairing : SasuNaru
Gender : family, friendsip(mungkin), romance(mungkin), hurt/comport
Warning : AU, OOC, Tyipo(s), alur yang kecepetan, menulisan bahasa yang amburadul, masih Sho–ai jadi aman di konsumsi(?) buat yang lulus(?), autor baruuuuu banget dan peringatan peringatan lainnya(?)
Reter : T (kayaknya)
I WILL DO EVERYTHINK FOR YOU
By. Himawari Wia (Dewi ruang dan waktu?)
.
.
.
.
Capter 4. Masalalu
.
.
Sebuah mobil hitam mengkilat barusaja terparkir di parkiran markas Hebbi cabang Konoha, pintu mobil tersebut terbuka menampilkan sosok Uchiha sulung. Uchiha Itachi barusaja tiba di konoha dan langsung menuju markas Hebbi, megitu menerima sebuah E-mail –dari bawahannya- mengenai rencana kecil seorang gadis berambut merah yang tidak tau bahaya.
Kaki jenjang itu melangka-sedikit lebih cepat dari biasanya- ia ingin sekali menemui sang adik kedua –Uchiha Sasuke- untuk memastikan kebenaran informasi yang di dapatnya. Tapi langkah pemuda berambut sehitam malam itu terhenti ketika melihat sosok sang adik revennya bersajalan dengan –sangat- tergesa – gesa. Matanya menatap lulus kedepan, tapi Itachi tau pandangan sang adik tidak tertuju pada objek di depannya. Ia bahkan ragu Sasuke menyadari keberadaanya saat ini.
"Sasuke apakah-"
Dan saat Sang adik melewatinya begitu saja, bahkan tanpa menyapa ataupun menoleh ke arahnya. Uchiha Itachi tau hal pertama yang akan di lalukannya setelah pulang dari Suna adalah memberi pelajaran kepada seorang gadis bernama Uzumaki Karin-penyebab semua masalah ini-.
.
.
-888-
.
.
'CEPAT! CEPAT! CEPAT!'
Hanya itulah yang ada di batin Uchiha Sasuke ketika melajukan mobil sport berwarna biru dongkernya dengan kecepatan di luar batas kewajaran seorang-pengemudi-yang-baik. Ia bisa merasakan kedua tangannya –yang saat itu memegang stir mobil- berkeringat dan gemetaran. Yang ada di benaknya adalah bagai mana agar sampai ke hutan Konoha secepatnya –tempat sang adik blonde berada-.
Sekilas pemuda bermata onixs itu melirik jam digital yang terpasang di pergelangan tangan kirinya -06.55pm- segala sumpah-serapah –yang tidak baik di dengar oleh anak baik- keluar dari bibir tipis si reven ketika melihat angka yang terpampang tersebut. Dari markas Hebbi menuju hutan Konoha –dengan kecepatan normal- memerlukan waktu satu setengah jam. Menyadari hal tersebut, kaki jenjangnya tanpasadar menekan lebih dalam pedal gas. Membuat mobil mewah tersebut melaju lebih cepat lagi.
.
.
.
Karena, batas untuk Uchiha Naruto berada di luar ruangan hanyalah sampai jam 8 malam.
.
-888-
.
Naruto mengerjapkan matanya beberapa kali, ia bisa merasakan hembusan angin yang cukup dingin –mengingat ini sudah memasuki pertengahan musim gugur- bocah pirang itu kini meringkuk di bawa pohon pinus besar -menahan rasa sakit yang menjalar di beberapa bagian tubuhnya –terutama bagian perut dan dada- nafasnya terengah - engah, ia baru menyadari tempat Karin dkk meninggalkanya adalah sebuah huntan-yang entah di mana-
"ahk!" Naruto meringis sakit ketika mencoba membuka kedua belahan bibirnya –untuk mengambil nafas tambahan- sepertinya ujung bibir si Blonde robek. Sebenarnya seluruh tubuh si Blonde terasa amat sakit saat ini, -terimakasi untuk anah buah Karin yang benar-benar membuatnya tidak dapat bergerak sama sekali- tapi yang paling dominan adalah bagian dada. Paru-paru lebih tepatnya. Rasanya seperti ada seutas tali tambang dengan duri yang mengikat paru – parumu, lalu tali itu bergerak, menggesekan duri – duri tajamnya.
"uhuk!" Naruto terbatu sekali. Ah, bahkan sekarang rasanya ada tangan yang menggengam paru – parunya –erat-. Membuat si pirang kesusahan untuk memasukkan udara kedalamnya.
Naruto merasa matanya kembali terasa berat, Ia mengantuk sekarang. Dan sebelu mata itu tertutup kembali, sebuah ingatan berputar di kepalanya. Ingatan di sebuah taman, 2 tahun yang lalu. Awal dari semua usaha seorang Uchiha Naruto untuk mengeluarkan sang kakak-Uchiha Sasuke- keluar dari Hebbi.
.
-888-
.
Itu adalah sebuah taman yang hanya terletak 2 blok dari rumah mereka, tempat di mana Uchiha bersaudar melewati sore hari mereka ketika masih di Sekolah Dasar dulu. Taman yang penuh dengan kenangan indah. Saat itu jam di taman menunjukan pukul 07.45 –Sore hari.
Grep!
Naruto menggeram kesal ketika kaki kanannya dengan mudah di tangkapoleh sang kakak –ketika ia menendag Sasuke-. Tanpa perlu repot – repot melepaskan sang kaki dari cengkraman sang kakak, pemuda pirang yang saat ini duduk di bangku kelas 1 SMP KHS itu mengayunkan kaki kirinya –mencoba memukul kepala Sasuke.
Grep!
Tapi lagi- lagi dengan mudah di tangkap oleh si reven dengan satu tangannya yang bebas. Sasuke sedikit menekuk lututnya –memasang kuda-kuda- lalu memutar tubuhnya 90 derajat dan melempar Naruto, membuat si pirang 'terbang' sesaat untuk kemudian menghantam tanah dengan punggungnya. Ia terjatuh tepat 3 meter di depan Sasuke yang hanya menatapnya datar.
"hentikan ini dan kita pulang dobe." Sasuke berujar datar. Pemuda itu tampak baik – baik saja, tidak ada kusut apa lagi debu di pakaiannya yang masih terpasang rapi.- Apa lagi lebam biru di wajah-
Bertolak belakang dengan si pirang, pakaiannya berantakan ada beberapa bagian yang sudah berwarnah coklat –akibat terkena debu dan tanah ketika jatuh- badannya terasa pegal dan ngilu, pergelangan kakinya sakit –akibat acara 'terbang jatuh'nya tadi-. Tapi tidak ada lebam di wajahnya, Naruto tau Sasuke tidak akan tega memukulnya. Terlihat dari pertarungan mereka saat ini, Naruto menyerang dan Sasuke yang bertahan dengan sesekali menangkis serangan si Blonde dan melemparnya seperti tadi.
"aku akan pulang jika kau bembatalkan niatmu untuk masuk Hebbi Teme!" Naruto berseru dan bangkit dari keterpu-eh! dari jatuhnya.
Dan ketika pemuda beriris sebiru langit musim panas itu tidak mendapatkan jawaban apapun dari sang kakak –yang saat ini baru saja menginjak mangku SMA- ia tau apa yang harus di lakukannya saat ini. (ciuuum Sasu aja Naruuu!#BLETAK! "gakki! Kau merusak suasananya lagi!" oke lupakan.) mengepalkan tanganna erat, ia berlari menerjang Sasuke –lagi- siap mendaratkan pukulan di wajah tampan sang kakak. Dan-
DUAK! –kena.
BRUK. Sasuke terjatuh, ujung bibir pucatnya berdarah dan membiru. –hasil dari pukulan sang adik yang tidak main – main. Kali ini Naruto mebelalakan matanya kaget. Bukan karena pukulannya yang mengenai target, tetapi fakta bahwa sang kakak yang dengan sengaja menerima pukulannya.
Sasuke masih setengah berbaring di tanah taman yang berdebu itu ketika si blonde –adiknya- berjalan kearannya. Bahkan ketika sang adik naik keatasnya, lalu duduk di perutnya untuk kemudian mencengkram kerah blaszer KHSnya ia hanya menatap datar wajah manis yang kini menunduk tepat 20 cm dari wajahnya.
"kenpa.." Naruto berujar lihir, tapi masih bisa didengar oleh sang kakak –mengingat begitu dekatnya jarak merka dekarang-.
"kenapa, kenpa,KENAPAAA!" Naruto mengguncang – guncang kerah blaszer sang kakak yang di cengkramnya.
"KENPA KAU BEGITU KERAS KEPALA HAAH?! Hiks..Hiks." Si blonde berteriak histeris untuk kemudian menangis terisak. Menempelkan kepala pirangnya di bahu lebar sang kakak, ia menangis di sana -dengan tangan yang masih mencengkram kerah blaszer Sasuke-. Sementara sang Uchiha emo itu sendiri memejamkan matanya. Ia berusaha keras untuk menahan kedua tangannya agar tidak memeluk tubuh sang adik yang bergetar karena isak tangisnya, berusaha untuk menulikan pendengarannya dari suara memohon si pirang.
"kenapa.. hiks.. hiks kenapa Nii-san.. hiks kena-ugh!" cengkraman di blaszer itu terlepas, tangan tan itu berpindah untuk mencengkram dadanya sendiri. Rasa sakit dan sesak yang di rasakannya dari tadi kini semakin menjadi – jadi. Seperti sebuah tali yang mencengkram paru – parumu.
Sasuke agak sedikit kaget –walaupun tidak terlihat- ketika cenkraman sang adik tidak lagi di rasakannya. Dan kali ini tangan seputih porselen itu bergerak, mencengkram bahu sang adik ketika di rasakannya kepala pirang yang bersandar di bahunya merosot jatuh.
"Naru! Kau kenapa? HEI!" Sasuke berteriak OOC, mengubah posisinya menjadi berlutut. Mebuat sang adik yang kini menjadi setengah berbaring. Satu tangannya melingkar di belakang puntak Naruto, dan satunya lagi berusaha menghentikan tangan si pirang yang masih –mencoba- memukul dadanya pelan –nyaris tak bertenaga-.
"hah.. hah.." Naruto tampak kesulitan bernafas. Wajah tan itu memucat, dan tangannya tidak henti – hentinya memukul dadanya pelan.
"Nii- hah.. sa.. ki..t.. Ugh!" Sasuke membelalakkan matanya kaget –benar-benar kentara kali ini-. oke, kali ini Uchiha Sasuke benar – benar panik ketika sang adik melenguh kesakitan dan tidak lagi membuka matanya satelah itu. Ia mendongakkan wajahnya, pandangannya mengitari taman itu –mencari jam yang terpasang di sana- 08.05 SH*T!
Dengan –sangat- tergesa-gesa Sasuke membuka blaszernya, memasangkanya pada sang adik. Sedikit mengeratkan pegangan pada pundak Naruto, lalu menyelipkan tangan yang satu lagi pada bawah lutut si pirang untuk kemudian mengangkat tubuh –yang ternyata sangat- ringan itu berlari meninggalkan taman menuju rumah sakit terdekat. Uchiha Naruto memiliki penyakit bernama radang paru-paru.
.
.
.
Dan, ketika Naruto membuka matanya kembali –dua hari kemudian-. Ia menemukan sebuah fakta bahwa sang kakak telah menjadi ketua Hebbi.
.
.
-888—
.
.
CKIIT!
Momil sport biru dongker itu berhenti mendadak, menimbulkan suara decitan yang memekakkan terlinga. Dengan –sangat- terburu-buru Sasuke keluar dari mobilnya, sesaat setelah mengambil sebuah botol oksigen yang selalu di simpannya di jok belakang mobil. Tidak banyak yang tau, atau lebih tepatnya hanya Itachi, Tuhan dan Wia yang tau jika seorang Uchiha Sasuke memiliki botol oksigen yang di taruhnya di beberapa tempat. Jok belakang mobil, lemari pakaiannya dan bagasi kecil yang ada di motornya. Benda yang akan sangat berguna untuk saat –saat terburuk seperti saat ini.
DRAP! DRAP! DRAP!
Ia berlari secepat yang ia bisa, menembus rimbunya pepohonan di hutan Konoha. Mencari keberadaan sang adik. E-mail yang di terimanya dari Suigetsu tidak hanya berisi rancana Karin tetapi juga waktu kejadian, tempat di mana gadis itu menjebak si pirang dan membawanya ke hutan Konoha, Sasuke sudah hapal letak di bana Karin membawa Naruto –terimakasiuntukotakjeniusnya-.
Langkah pemuda reven itu terhenti, nafasnya memburu -campuran karena berlari dan tegang-. Sepulu meter di hadapannya –di bawah sebuah pohon pinus besar- meringkuk sang adik. Masih dengan seragam musim dingin KHS, jaket orange yang tadi di kenakannya sebelum ke sekolah hilang entah kemana. Membuat tubuh yang seharusnya tidak boleh terkena udara dingin itu terkena hembusan angin musim gugur dengan mudahnya. Seragam KHSnya kotor dan berdebu, dan apakah beberapa warna merah itu darah?
Sasuke merasa ada seseorang yang mencekik tenggorokannya, (itu wia sasuu~ #BLEAK! "GAAKKIII!" maaf.. maaf..) begitu sesak dan sulit bernafas. Begitu segala kesadarannya terkumpul dan konspirasi hatinya(?) berakhir. Pemuda berkulit putih itu segera merlari menghampiri sang adik, duduk bersimpuh di sampingnya. Tangan Sasuke terulur, mentusup ke belakang pundak Naruto satunya lagi di sisipkan di bawak lutut –mengubah posisinya dari meringkuk menjadi setenga berbaring-.
Nafas Uchiha bungsu itu terengah-engah –kesulitan mengambil udara- tanpa membuang waktu lebih lama lagi, Sasuke membuka botol oksingen yang di bawanya. Memasang corong itu dan mengikatnya dengan karet hitam tebal membuat corong yang menempel pada hidung sarta mulit si Blonde tidak bergeser ataupun jatuh. Memudahkan Naruto untuk mengambil udara. Sebenatnya pemuda berambut reven itu ingin mengguncang-guncang bahu sang adik dan meneriaki namanya, tapi itu hanya akan membuang-buang waktu. –dan waktu yang ia miliki tidaklah banyak.
KROOEEK!
Sasuke tanpa pikir panjang merobek seragam Naruto –ketika menyadari pakaian sang adik basah-menampilkan kulit tan dengan dada yang naik turun dengan ritme yang tidak teratur. Melepas celana sang adik –yang juga basah- dan hanya meninggalkan Boxser yang –untungnya- kering menempel di tubuh mungilitu.
SRET. Sasuke membuka jaket musum dinginnya, lalu baju kaos berlengan panjangnya menampilkan kulit putih mulus dengan perut yang berbentuk sempurna. Hasil dari latihan selama bertahun-tahun. (NOOO! Jangan buat fic ini bereter M Sasukeee! #BLETAK! PLUNG! #dipukuldandimasukankekarungolehKurama-san. lupakan) Dengan tergese-gesa Sasuke mengelap tubuh basah Naruto mengggunakan kaosnya, kemudian melempar benda itu asal lalu membungkus tubuh menggigil sang adik dengan jaketnya –yang cukup tebal- ia sedikit bersyukur karena sang adik mempunyai tubuh yang –lumayan- lebih kecil darinya membuat si jaket dapat membungkus tubuh sang mungil dengan sempurna. –sampai selutut-
"Uhuk! Nii.. sa..n.." Naruto terbatuk –dan bergumam- lihir ketika Sasuke mengaitkan kancing-kancing di jaketnya.
"aku di sini, dan semua akan baik-baik saja." Sedikit mengeratkan genggamannya pada bahu si pirang lalu minyisipkan tangannya di bawah kedua lutut sang adik -lagi- untuk kemudian mengangkat tubuh itu. Bersiap untuk pergi.
"uhuk!" dan ia bisa merasakan sepasang mata onixnya memanas ketika mendapati bercak berwarna merah di corong yang tertempel di hidung dan mulut sang adik ketika si Blonde terbatuk.
.
.
.
-888—
.
.
"hah.. hah.. uhuk! Hah.." Karin bernafas dengan sangat sulit. Gadis berambut merah -yang kali ini sudah tidak panjang lagi- itu terduduk pasrah di salah satu sudut ruangan. Ada darah yang mengalir di pelipisnya, juga di ujung bibir dan hidungnya. Rambut merahnya yang tadinya panjang kini sudah terpotong denganberbagai ukuran, dan helaiannya berserakan kemana-mana. Pakaiannya sobek di berbagai bagian menambilkan kulit yang robek dan ada beberapa yang mengeluarkan darah. Kacamatanya pecah, tetapi masih bertengger di wajahnya yang kini sudah membiru di beberapa bagian. Dan tepat 2 meter di depat gadis itu –denganangkuhnya- berdiri Uchiha Itachi denganSuigetsu dan Juugo di belakangnya, pemuda itu sudah mengerti apa yang tersadi sekarang –dijelaskan Suigetsu-.
"kau beruntung Sasuke sedang mencari Naruto dan Kyuubi sedang berada di luar neger saat ini." Itachi berlutut, satu tangannya terulur ke wajah Karin dan menggenggam dagu gadis itu erat.
"jadi nyawamu bisa selamat." Itachi menghempaskan wajah Karin kesamping, membuat gadis itu mengaduh pelan. "pastikan gadis ini tidak pernah muncul lagi di Konoha, nahkan di cepang kalau perlu." Dan pemuda berambut hitam yang di ikat satu itupun pergi meninggalkan ruangan bawah tanah –tempat mereka berada sekarang-itu.
.
.
.
.
.
Suigetsu –di ikuti Juugo- berjalan pelan kearah Karin yang tertunduk. Kemudian dengan santainya pemuda bergigi runcing itu berjongkok di depan si gadis berambut merah.
"kau tau Naruto mengalami penculikan ketika dia berusia 5 tahunkan?" Suigetsu berbicara sambil menyingkirkan helaian merah –rambut karin- yang berceceran di sekitar gadis itu. Karin menganggu.
"dan apakah kau tau karena insiden itu dia mengalami radang paru-paru?" dan kali ini mata gadis itu terbelalak kaget. Ia tidak tau.
"kau harus berterimakasi Itachi-san menyuruh kami membuangmu keluar Jepang." Kali ini Karin menatap Suigetsu tidak mengerti
"Karena jika kau masih di sini-"
" Namikaze Kurama akan kejepang 3 hari lagi" tapi kali ini Juugo yang berbicar. Pemuda itu masih berdiri membuat sosoknya terlihat semakin besar di mata Karin yang menatapnya mendongak.
"-dia akan membunuhmu karena sudah menyakiti adik kesayangannya." Dan Suigetsu melanjutkan ucapannya yang tertunda dengan seringai yang munjul. Ketika mendapati pelototan stok dari Uzumaki Karin.
TBC
Ada yang ingin tau permulaan pertarungan Sasuke dan Naruto di taman?
.
.
OMAKE.
Sasuke menatap datar sang adik –yang saat itu hanya setinggi dadanya- di depannya Naruto berdiri menunduk memainkan kedua jari telunjuknya. Melakukan hal yang sama sejak 15 menit yang lalu. Ia bisa melihat telinga sang adik berwarnamerah. 'apa dia malu?' Sasuke membati.
Saat ini mereka sedang berada di sebuah taman-dekat rumah dualantai mereka- di ajak si pirang. Taman yang penuh dengan kenangan masa lalu yang indah. Tenpat yang baik untuk membicarakan sesuatu yang pribadi atau semacamnya. Seperti saat ini-
"kau mau bicara apa tidak dobe?" Sasuke berujar data. Tapi cukup untuk membuat si blonde di depannya tersentak kaget.
Tunggu! Pemuda itu hapal urutan ini!
Memanggilmu untuk bicara berdua.
Tidak melakukan apapun ketika sudah bertemu.
Memainkan jari-jari telunjuk.
Tersentak kaget.
"i..itu.. anuu.. Nii-Chan.."
Berbicara gagap.
Jangan – jangan..
"aku.. kamu.. ingin.." jangan – jangan ..
GREP! Sasuke memegang kedua bahu sang adik sebelum si blonde dapat melanjutkan kalimatnya.
"Naruto, aku tidak bisa. Kita sama-sama laki-laki, dan juga saudara.." Onixs Sasuke menatap kedalam safier si blone yang terbelalak kaget.
"kenapa.." naruto bergumam lihir bahunya sedikit bergetar.
"kita saudara Naru.." Sasuke berujar lembut, membawa sang adik dalam dekapan hangat. #mengambikkesempatandalamkesempitan#
"justru karena itu.."
"walaupun kau berwajah manis melebihi perumpuan. Tetap saja tidak bisa.." Ujar si reven alay. Tanpa menyadari perempatan muncul di dahi sang adik yang di katai manis.
"APA HUBUNGANNYA AKU MANIS DENGAN KELUAR TIDAKNYA KAU DARI HEBBI TEMEEE!" Naruto mendorong tubuh sang kakak. Membuat si reven mundur beberapa langkah. Eh? naru setuju kalu dia itu manis?
"JUSTRU KARENA KITA SAUDARA AKU MENYURUH MU KELUAR DARI HEBBI TEMEEEE!" lanjut si blonde lagi dengan suara yang meninggi beberapa oktap.
Eh?
Eh?
Eeeehh?
"Kau salah paham Sasuke.. ckckckck" Himawari Wia menepuk puntak Uchiha kedua sambil geleng - geleng kepala. Lalu pergi meninggalkan kedua saudara itu.
Owari~~
Autor Note :
Halooo Minna~~~ #lambailambai
"di capter ini cuman namaku saja yang muncul" Kurama-san menatap naskah dengan mata yang menyipit. Sabar kurama-san! Cap depan kemuncuan mu banyaaaakk kook! #mungkin
Yosh! Balaas riview...!
Guest(1) : terimakasi udah bilang fic abal wia baguss #hug! Ia, wia tau cap. kemaran pendek bangeeeett,,.. ini udah wia panjangiin.. kalau sempat read and rivie fic wia lagii yaaa..
Guest(2) :iya, dia penghianat! Soalnya udah nyakitin Naru jadi masuk golongan penghianat deeh... sebenernya Sasu pengen bunuh karin saat itu juga tp berhubung dia lagi buru-buru mo nolong naru cuman di tendang deh.. hehee tidak usah minta maaf! Wia dpt riview (dalam bentuk apapun) sudah sangat bersyuukuur kook! XD
kalau sempat read and rivie fic wia lagii yaaa..
Yuzuru : iya! Hajar! Ini Itachi uga udah ngasi pelajaran kok! Hehee ini udah lanjuuut... :D kalau sempat read and rivie fic wia lagii yaaa..
Shinobu: iaa.. sebenarnya fic cap.3 itu cuman 1/3 dari sketsa wia.. dan ini 2/3nya makanya sedikit. Wia benar-benar minta maaf untuk ituu Narunya baik-baik sajaaa itu sudah di tolong ama sasuu (nunjuk ke atas)! Wia juga! Wia juga! Suka sekali sasu yg sweet and posesif! Hehee kalau sempat read and rivie fic wia lagii yaaa..
Wia bisa update cepet karena semangta dan dukunga (serta teriakan) dari reader dan senpai tachi sekalian sampaikan lewat riview! Walau pun itu cuman satu kata (walaupun akal lebih baik jika banyak kata) "rakus kau gakki!" kurama-san! Kau mengacaukan pidato wia! Aduh sapai mana ya tadi.. #bolak balik teks bacaan#loh? Walau pun itu cuman satu kata mina-tachi sudah berhasil bikin wia senyum senyum kayak orang gila.. "kaukan memang gila Gakki.." Kurama-san! #okelupakan. Juga untuk yang sudah berbaik hati (dan bersabar) membaca fic wia samapi sini TERIMAKASII BANYAAAK! "aku juga ucapkan terimakasi" (bungkuk bareng kurama)
See you di cap 5 Minna!
Himawari Wia (dewi ruang dan waktu?)
RnR yaa~~
.
.
Pst. Kalian akan tau siapa naru yang sebenarnya di cap depan! "berhenti memberi spoiler Gakki!"
