KURAMA-SAN! SELAMAT ATAS KEMUNCULANNYA DI CAP INI! (berasa menjadi ibu yang melihat anaknya pergi kesekolah) "be..berisik Gakki!" kyaa.. kuramasan grogii!

Errr.. sedikit penjelasan singkat. Konoha, Suna, Oto dll itu ceritanya salah satu perfrektur (bener gak tuisannya?) di jepang.. tetep dengan Tokyo sebagai pusat kotanya. Hehehe

.

.

Disclaimer : Naru-can ituuuu milik wii-DUUUAAAAKKKKK #ditendang. Okeh2, milik Masashi kishimoto-sensei tp bentar lagi bakalan jd milik si Sasutemee... hohohoho

Pairing : SasuNaru

Gender : family, friendsip(mungkin), romance(mungkin), hurt/comport

Warning : AU, OOC, Tyipo(s), alur yang kecepetan, menulisan bahasa yang amburadul, masih Sho–ai jadi aman di konsumsi(?) buat yang lurus(?), autor baruuuuu banget dan peringatan peringatan lainnya(?)

Reter : T (kayaknya)

I WILL DO EVERYTHINK FOR YOU

By. Himawari Wia (Dewi ruang dan waktu?)

Capter. 5 Akatsuki, Bijuu dan pondok di hutan Konoha

"Kuyama-Nii!".

"berhenti memanggilku seperti itu Gakki!"

"kau harus memanggilku Kyu-Niichan! Mengerti?"

"Hai! Onii-chan! Hehee "

.

.

-888—

Beberapa pasang mata menatap kagum, dan beberapa yang lain menatap terpesona pada dua sosok pemuda berambut merah –meski yang satunya sedikit kejinggaan - yang saat itu baru saja tiba di bandara internasional Jepang. Bandara Narita.

Uzumaki Nagato

Namikaze Kurama (Kyuubi)

Wakil ketua dan pewaris -atau dalam dunia gelap ketua Akatsuki dan ketua Juubi- Barusaja menginjakan kaki mereka di jepang.

.

.

.

Memulai rencana kecil mereka untuk mengghancurkan Hebbi.

-888—

"Nee~ Sasu-niichan. Aku mau ramen."

Uchiha Sasuke mendelik kearah adik Blondenya yang -dengan watados- meminta ramen untuk ke sembilan kalinya pagi ini.

"Hn" pemuda Reven itu menggumam. Menutup buku –yang baru lima halaman- di bacanya dan beranjak dari sofa berwarna orange –yang saat itu di dudukinya-menuju telefon rumah -yang terletak di samping kiri tempat tidur sang adik-. Berniat menelefon Ichiraku ramen.

Tapi dengan cepat Naruto menghentikan tangan putih sangkakak –dengan tangan tannya yang masih tertancap selang infus- ketika pemuda reven itu hendak mengambil gagang telefon.

"tidak mau yang delivery. Aku mau Nii-chan yang kesana." Kata si Blonde dengan watadosnya-lagi-

Ctak!

Rasanya urat kesabaran Sasuke sedang diuji ketahannya saat ini. Sasuke melirik kesamping memandang sang adik yang kini menatapnya dengan senyum malaikat andalannya. 'apa si Dobe ini sedang mengerjaiku?!' batinnya kesal. Kalau saja adik pirangnya ini tidak terkena radang paru-paru Sasuke benar – benar ingin membenamkan kepala pirang itu di teluk tokyo saat ini juga! (seperti kau tega saja Sasu!)

"hn" dan sebelum si pirang meminta yang aneh – aneh lagi, pemuda dengan mata sehitam malam itu segera menyambar jaket –yang saat itu di taruhnya di sofa- dan pergi meninggalkan sang adik yang terkikik geli melihat tampang kusut sang kakak.

.

.

"Hahahahaha.. adu.. !"

Naruto memegang perutnya yang sakit –karena terlalubanyak tertawa- melihat wajah masam sang kakak ketika menutup pintu tadi. Pemuda pirang itu menyandarkan punggungnya pada bantal-bantal yang sengaja di tumbuk oleh Sasuke untuknya –karen pemuda reven itu tau Naruto tidak begitu suka berbaring terlalu lama- kemudian menatap langit-langit kamarnya yang terasa begitu tinggi.-Mereka ada di mansion Uchiha sekarang-.

Naruto mengangkat tangan kirinya –yang berisikan selang infus- menatap bergantian langit- langit kamarnya kemudian tangannya. Pemuda pirang itu masih ingat dengan jelas ketika ia sadarkan diri –dua hari yang lalu- tepat pukul dua dini hari –sungguh waktu yang tidak elit untuk bangun-, yang pertama di lihatnya adalah rambut model pantat ayam sang kakak kedua, kemudian senyum ramah sang kakak pertama yang saat itu baru saja memasuki kamarnya- dengan membawa selibut –untuk Sasuke- dan segelas coklat hangat untuk dirinya sendiri.

Iris sebiru langit musim panasnya mengedarkan pandangan ke sekeliling ketika mendapati suasana yang sudah tak asing lagi baginya. Kamarnya di mansion Uchiha. Dan ketika ia menanyakan kenapa sang kakak tidak membawaja keruma sakit, Sasuke dengan gampangnya menjawab "untuk apa susah – susah kerumah sakit jika kau cukup kaya untuk membeli peralatan medis dan mempunyai dokter pribadi?" sekali lagi Naruto terkekeh, ia tau itu bukan alasan utama Sasuke tidak membawanya kerumah sakit. Alasan yang membuat si reven tidak membawanya kerumah sakit adalah karena Naruto benci ruangan berwarna putih, membuatnya merasa tidak nyaman. Warna putih itu membuatnya merasa sendirian, dan samar samar –jika dia terus-terusan berada di tempat berwarna putih- Naruto akan merasa mendengar makian dan teriakan, lalu rasa sesak di dadanya. Ia merasakan itu pertama kali ketika Sasuke membawanya kerumah sakit –sehabis perkelahian mereka di taman-.

Uchiha bungsu itu tersentak kaget ketika tangannya -yang bebas di udara- di genggam oleh tangan putih sesorang.

"apa yang sedang kau pikirkan Gakki?" kedua iris sebiru langit itu membola sempurna ketika melihat siapa yang ada di sampingnya. Menatapnya dengan senyum angkuh. Naruto tersenyum selebar yang ia bisa-

"KURAMAA-NII!" -untuk kemudia -meloncat- memeluk pemuda berseruai merah kejinggaan yang sudah setahun tidak di lihatnya itu.

Kyuubi yang belum sempat menerima pelukan tiba – tiba dari adik Uchiha Itachi itu terhuyun kebelakang, membuatnya terduduk secara paksa di lantai marmer yang keras dan dingin dengan naruto di pelukannya.

Duk!

"adaw" dan tiang infus lengkap dengan infusnya –yang saat itu juga tertarik dan jatuh- menimpa kepalanya. #pooryuubi

-888—

tempat itu begitu suram, Dengan penerangan yang sangat minim di tiaplorongnya yang panjang dan berliku. Terlihat begitu lembab, karena tidak ada jeldela untuk masuknya sinar mentari –hanya ada pentilasi kecil untuk penyarinan udara-. Sarang ular, markas utama Hebbi.

"Orochimaru-sama" Kabuto menghambiri pria berkulit pucat dan berambut hitam panjang yang sedang sibuk mengerjakan laporannya itu. Kemudian meletakkan beberapa map berbeda warna di sudut kanan meja –di depan tuanya-. "Nagato dari Akatsuki dan Kurama dari Juubi barusaja sampai di Konoha tuan" lanjutnya.

Orochimaru menghentikan kegiatannya –yang saat itu menandatangi beberapa dokumen- kemudia menatap Kabuto dengan sebelah alisnya yanng terangkat. "Konoha? Mereka berdua?"

"iya tuan" Kabuto menunduk hormat. Orochimaru mendengus, mengambil satu dari beberapa map yang di bawa Kabuto untuk kemudian membacanya. "hanya itu saja yang kau tau Kabuto?"

"sepertinya dua organisasi itu sedang melakukan kerjasama tuan"

"hem.. hanya dua saja ya?" dan Yakushi Kabuto tidak pernah mengerti makna dari senyuman yang bertengger di wajah tuannya itu ketika mendengar kata 'dua'. Bukankah ini sesuatu yang -seharusnya- gawat?

-888—

"kau makan seperti orang kesetanan Gakki." Kyuubi menatap datar bocah pirang yang sedang memakan ramennya dengan lahap –mereka ada di ruang makan sekarang-. "apa Uchiha bersaudara itu tidak memberimu makan?" lanjutnya –sambil melirik tumpukan mangkuk ramen Ichiraku yang menggunung di depannya- 'kenapa anak ini masih saja kurus walau makan sebanyak ini?!' batinnya horror.

"sudahlah Kyuu.. Naru-chan baru saja sembuh jadi wajarkan jika dia makan banya!" Nagato tersenyum maklum kedika mendapati sikap stundere Namikaze di depannya, pria berambut merah panjang itu tampak menepuk-nepuk pelan punggung si Blonde yang nampak suah payah menelan ramennya –ingin segera membalas perkataan Kyuubi-.

"dan kau juga lupa jika aku salah satu dari Uchiha bersaudara, Kurama-nii!" dan perkataan yang terlontar dari bibir cery si Blonde –ketika ia berhasil menelan makanannya-. membuat mood pemuda jenius yang berteman dekat sejak kecil dengan Uchiha Itachi itu untuk menemani bocah pirang di depannya hilang seketika. -Serta menimbulkan sebuah hantaman telak di rongga dadanya-

Kreek!

Suara kursi yang di geser menghentikan acara makan ramen sang Uchiha termuda. Naruto mendonga, menatap Kyuubi yang berdiri di depannya –bersiap untuk pergi-.

"kau mau kemana Nii-chan?" tangan berbalut kulit kecoklatan itu meletakkan bangkuk ramen untuk kemuian beralih menggenggam ujung kemeja merah dengan motif kotak-kotak hitam milik Kyuubi. Menatapnya tidak mengerti.(Naru! Kau belum cuci tangaan!)

Perlahan, Kyuubi menggenggam tangan kecilitu –menjauhkan dari kemejanga- pemuda berambut merah kejinggaan itu terseyum hangat-

"aku ada urusaan sebentar Gakki!" -kemudian mengacak-acak gemas ramput pirang si Uchiha bungsu. Dan sebelum si pirang sempat membalas, cucu dari Senju Stunade dan Namikaze Jiraiya itupun berlalu meninggalkan ruang makan mansion Uchiha.

.

.

"nee, Nagato-Nii.. apa Naru salah bicara?" Naruto menunduk, memutar mudar mie ramen dalam mangkuknya. Nafsu makannya hilang entah kemana begitu melihat teman sang kakak pertama pergi dari ruang makan.

"kenapa kau berpikir begitu Naru-chan?" cucu dari Namikaze Mito itu menepuk nepuk pelan kepala pirang si blonde, memiringkan kepalanya kesamping agar dapat melihat ekspresi dari bocah pirang yang menunduk di sampingnya itu.

"tidak tau.." dan ketika hanya jawaban sederhana itu yang dapat di dengar olehnya. Uzumaki Nagato hanya dapat tersenyum hangat dan memeluk pemuda manis yang lebih muda 9 tahun darinya itu.

.

-888—

"kau membuat Naru-chan sedih loo Kyuu~"

Namikaze Kurama menghentikan acara 'bertemu ramah'nya dengan Uchiha Itachi ketika mendengar 'sapaan' seorang pemuda berambut merah panjang –yang saat itu baru saja memasuki ruangan tempat mereka berada sekarang.

"kau apakan Otoutou manisku Kyuu?" pemuda dengan iris rubby itu hanya dapat mendecih pelan ketika melihat senyum –tidak- ramah dari pemuda keriput di depannya. "bukan apa-apa" untuk kemudian menjauh dan duduk di salah satu sofa panjang yang ada di ruangan tersebut. –atau untuk lebih jelasnya ruang CEO cabang Konoha.

Kyuubi memutar bola rubby merahnya –bosan- ketika mendapati Nagato juga ikut duduk di sebelah kanannya. Niatnya untuk bertemu sejara pribadi –dalam artian berdua saja- dengan kakak terdua Uchiha bersaudara hilang sudah.

"kenapa kau tidak sisakan si kacamata itu untuk ku habisi keriput?" dan ketika pertanyaan itu yang bertamakali terucap dari rubah tercintanya, Uchiha Itachi sadar ini akan menjadi pembicaraan yang panjang.

.

-888-

.

Tempat itu adalah sebuah pondok kecil di salah satu bukit yang terdapat di hutan konoha. Dan ketika musim salju turun, dedaunan dari pohon-pohon pinus yang mengelilingi pondok itu akan tertutup sempurna oleh putihnya salju, membuat seluruh objek yang dapat di tangkap oleh mata hanya putih, putih, dan putih.

.

.

.

Uchiha Itachi -yang saat itu masih berusia 14 tahun- turun dari mobil polisi yang di tumpanginya. Menoleh sebentar ke arah sang adik revennya -yang juga baru saja turun- rasanya jika saja saat ini mereka tidak dalam keadaan tegang, Itachi ingin sekali menertawakan tingkah sang adik yang nekat bersembunyi di bagasi belakang mobil polisi –karena tidak di ijinkan ikut oleh sang ayah untuk ikut- dan akhirnya setalah pedebatan yang sangat-tidak-uchiha-sekali dari kedua ayah-anak itu, Uchiha Sasuke di ijinkan untuk pergi kelokasi penculikan yang barusaja di kabarkan oleh sang paman –uchiha shisui- yang saat itu bekerja di kepolisian.

Itachi dapat melihat beberapa polisi yang lalu-lalang –keluar masuk pondok kayu di depannya-. Lalu sebuah mobil ambulace lengkap dengan lampunya yang menyala. Dan beberapa mobil polisi yang terparkir manis di sekitar pondok kayu.

"Naru.." gumaman lihir dari sang adik –yang berdiri di sebelahnya- menyadarkan Itachi dari lamunan –atau mungkin pengamatannya- mengenai keadaan sekitar. Untuk kemudian beralih menju sosok yang di pandang oleh sang adik dengan mata yang membulat sempurna.

.

.

Sosok bocah blonde yang tebaring lemah di atas tandu yang saat itu baru saja keluar dari pondok kayu –menuju ambulance-.

.

.

Yang ada di ingatan Itachi adalah sosok Naruto yang tersenyum ceria dan berkulit tan. Tapi kini yang ada di hadapannya adalah sosok bocah blonde yang berkulit pucatpasi dengan bibir yang nyaris membiru, tebaring lemah di kasur rumah sakit Konoha dengan selang infus dan alat bantu pernafasan. Oh, dan jangan lupakan alat pendeteksi detak jantung di sebelah kiri ranjangnya.

"perlakuan yang buruk dan udara dingin yang exsrim membuatnya terkena radang paru-paru" dan pemuda dengan rambut hitam panjang yang di ikat satu itu masih bisa ingat dengan jelas kata-kata salah satu perawat kepada ayahnya ketika ia –secara tidak sengaja – menguping pendengaran mereka.

Itachi –yang saat itu berdiri di dekat pintu- mengalihkan mandangannya dari Naruto ke arah sang adik revennya yang duduk di tepi ranjang dan menggenggam tangan si blonde. Perlahan Itachi mendekati bocah yang masih berusia 7 tahun itu dan memegan pundaknya.

"semua akan baik baik saja Sasuke" bisiknya pelan pada sang adik. –yang hanya di balas anggukan oleh yang bersangkutan.

.

.

.

.

"kalian.. siapa?" Itachi merasa ada benda tumpul yang menancap di dasar paru-parunya setelah mendengar kata pertama yang di ucapkan bocah pirang di hadapannya-yang barusaja bsadar setelah selama hampir seminggu mengalami koma-. Ah, dan iya dapat melihat mata sang adik revennya membulat sempurna dengat wajah yang memucat –tak percaya- dengan apa yang baru saja di dengarnya.

.

.

" aku Uchiha Sasuke. Lalu orang keriput yang berdiri bengong di belakangku ini adalah uchiha Itachi." Kalau saja suasana tidak setegang ini, Itachi benar benar ingin menjitak kepala pantat ayam adiknya itu karena berani- beraninya memanggilnya keriput.

"dan kami berdua adalah kakakmu. Uchiha Naruto." Dan Uchiha Itachi hanya dapat tersenyum lembut ketika mendapati sang adik memeluk pemuda pirang yang masih linglung di hadapannya ini.

'sepertinya mulai dari sekarang kau akan berkorban banyak hal Sasuke..' batinnya

.

.

Itachi menaruh selimut di pundak sang adik reven yang saat itu menatap si Blonde –yang tertidur- dengan pandangan kosong .

"aku akan menghancurkan mereka Anniki" dan kali ini Itachi tidak perlu repot-repot menerima deatgler dari sang adik ketika ia dengan sayang mengacak ngacak rambut Sasuke.

ia juga tidak terkejut ketika empat tahun kemudian –ketika Sasuke berusia 11 tahun- sang adik menaruh beberapa tumput dokumen mengenai Hebbi di atas meja kerjanya.

ia juga tidak terkejut ketika Sasuke lebih memilih menolak ajakannya untuk bergabung dengan Akatsuki dan memilih untuk menjadi penyusup di Hebbi dua tahun kemudian.

.

.

.

Kelopak mata putih itu terbuka perlahan, menampilkan onix yang memandang sendu sekelilingnya –ruang kerjanya-. Pemuda dengan sepasang garis halus –jika tidak ingin di katakan keriput- di wajahhnya itu menghela nafas, ia merasa lelah sekalli hari ini.

Pembicaraan yang panjang edengan duo Namikaze-Uzumaki itu cukup menyita banyak tenaganya. Dan ketika ia berniat untuk beristirahat, pikirannya –dengan baik hati- malah memutarkan memory tenteng kejadian yang menyebabkan adik bungsunya hilang ingatan.

Itachi menutup wajahnya dengan kedua telabak tangan lebarnya, untuk kemudian mengusapkan tangannya seperti membasuh wajah –bermadsud agar kantuk dan kejenuhannya pergi-. Pandangan anak pertama dari Uchiha Fugaku dan Mikoto itu beralih pada tumpukan dokuen yang menggunung di meja kerjanya –terbengkalai karena kedatanga Kyuubi dan Nagato-.

"Haah.." untuk kesekian kalinya, kakak dari Uchiha Sasuke dan Uchiha Naruto itu menghela nafas –tanpa mepedulikan mitos itu akan mengurangi kebahagiaanmu-.

Sepertinya ia harus lembur lagi malam ini.. #pooritachi

.

.

.

.

-888—

.

.

.

"Kuyama-Nii!" sepasang iris rubby itu menoleh, menatap seorang batita blonde yang berlari kearahnya. Tanpa sadar ia tersenyum.

"berhenti memanggilku seperti itu Gakki!" Kyuubi berkacak pinggang dan menatap Naruto –yang kini berada tepat di bawahnya-. Dengan seringai arogan andalannya.

"eeehh? Teyus nayu halus pangyil apya?" batita pirang itu memiringkan kepalanya –tidak mengerti- terlihat begitu menggemaskan di mata seorang Namikase Kurama.

"kau harus memanggilku Kyu-Niichan! Mengerti?"

"tapyi, kuyama-Nii kan tidyak lahil dayi Kaa-Chan Nayu.. berarti Bukan Nii-Chan nayu.." Kyuubi terkekeh, pemuda berambut kemerahan itu berjongkok –menyamakan tinggi dengan batita di hapannya-.

"untuk menjadi seorang kakak, tidak perlu hubungan darah Gakki" kedua telapak tangan lebar itu membingkai pipi tembeb dengan tiga garis tipis milik si pirang.

Perlahan, si seruai merah mempertemukan dahinya dengan dahi si seruai pirang. Naruto terkekeh, merasa nyaman dengan apa yang dilakukuan kakak sepupunya itu.

"Hai! Onii-chan! Hehee " masih dengan dahi mereka yang menyatu. Namikaze Kurama tersenyum hangat –hal yang sangat jarang di lakukannya-. Dan membatin,

'karana apapun yang terjadi, seorang Namikaze Kurama-Kyuubi- akan selalu menjadi kakak seoarang Namikaze-Uzumaki Naruto."

-TbC—

.

.

.

Ada yang ingin tau arti dari istilah 'temu ramah' yang wia bilang tadi?

.

.

Omake.

Uciha Itachi berjalan dengan malas menuju ruangannya. Rasanya seharian ini ia ingin sekali bolos kerja dan menemani adik pirang manisnya di mansion Uchiha. (Tapi itu tidak mungkin kan Itachi-san..)

Sesampainya di rangan pribadinya pemuda berparas tampan itu menyandarkan punggungnya di kursi kerjanya yang nyaman malas untuk memulai pekerjaan lebih awal-

BRAK! –untuk kemudian di kagetkan oleh suara pintu yang di buka secara paksa oleh seseorang. Kedua onix Uchhiha Itachi membulat sempurna ketika melihat siapa melaku pendobrakan dadakan(?) itu.

"ITACHII!"

"KYUU-CHAAN!"

"ITACHIIIIII!"

"KYUU-CHAAAAAANNN!"

DRAP!

DRAP!

DRAP!

Grep!

""BERPELUUUUUKKKKAAAAAANNNN!"" Dua orang pemuda –yang sudah terlalu tua untuk di katakan ABG labil- itu berteriak alay dan –sangat- OOC untuk kemudian berlari dan memeluk satu sama lain ala Teletubies. Dan menggoyang-goyangkan badan mereka kekiri dan kekanan –menambah efek dramatis-

BRUK!

Tanpa mempedulikan sosok gadis berambut biru –Konan, sekretaris Itachi- yang menjatuhkan tumpukan dokumen dan menatap mereka horor. #poorkonan

.

.

Ah, dan lupakan sosok Himawari Wia yang berjongkok di bawah mereka –kyuubi dan Itachi- sambil makan krupuk dan menebar beberapa jenis kembang (berniat mempermanis situasi) kearah kedua sejoli –sok- kasmaran itu.

.

.

Author notes :

"omakemu itu Gakki~~!" #kurama-san puntung di pojokan, hehee resiko artis Kurama-san!

Garing dan membosankan.. wia juga ngerasa cap ini tu ngebosenin bangeeet... jadi wia bener – bener minta maaf untuk itu, m(u.u)m "persis seperti sikapmu Gakki!"

Wia sedang dalam masa krisis kepercayaan diri sekarang, selain dari cumlah review dari reader dan senpai-tachi yang lebih sedikit dari cap.3 kemaren wia jadi berpikir, apa fic wia semakin membosankan yaa.. wia author baru sih, jadi masih sangat tidak PD untuk mempublis cap selanjutnya. Di tambah lagi kesalahan wia dalam penulisan yang banyaaakitu.. wia benar benar minta maaf untuk ituuuu... XO "aku juga sebagai wali anak ini di Ffn ini turut minta maaf atas kebodohannya"

Terimakasi untuk yang sudah mereview, mefavs dan mefollows, cerita wia sampai sini!

Balasan review :

#temedobe-chan : hehee terimakasi banyaaak.. "kau membuat anak ini melayang karena pujianmu!" wia sengaja nyisipi Omake yang (diusahakan) lucu biar sehabis baca reader bisa sedikir lebih rilexs.. syukurlah juka itu bisa bikin temedobe-chan senang! ^^ jika ada waktu read and review lagi yaa~

#Mel : hai! Ini wia udah lanjuut! Terimakasi sudah bilang cerita wia keren Mel-san! Kyuubi udah muncul (nyaris full) di capter ini.. semoga sukaa~ wia juga suka sama Kuramasan! Hehee "terimakasi karena sudah menyukaiku Mel-san.." typo akan wia usahakan lebih teliti lagi.. maaf soal itu, dan terimakasi atas perhatiannya! Sangat membantu.. hehe ^^ jika ada waktu read and review lagi yaa~

See you di Nexs capter Minna!

Silahkan tinggalkan sedikit jejak kalian, karena itu satu-satunya cara bagi wia untuk tau jika Minna dan senpai Tachi mampir kesini!

Dan untuk yang sudah menemani wia sampai sini.. wia ucapkan terimakasi banyak untuk itu!

Neks cap! (jika tidak ada kendala) Uzumaki-Namikaze Naruto!

.

.

"apa maksud mu dengan jika tidak ada kendala itu Gakki?!" buat jaga-jaga Kurama-san!

Himawari Wia (Dewi Ruang dan Waktu?)