Tittle : Pearls of Namstar (Chap 2)
Main Cast : Kim Sunggyu
Other Cast : Nam Woohyun, Kim Myungsoo, Lee Sungyeol, Jang Dongwoo, Kim Yesung aka Sunggyu's father and others
Genre : School Life
Happy reading ^^
Author POV
"N-Nam Woohyun.." Sunggyu tergagap saat menyadari sepatu yang dilemparnya ke arah Key, justru mendarat cantik di atas kepala Nam Woohyun. Ia menelan salivanya berat, membayangkan apa yang akan terjadi pada hidupnya setelah membuat kening cucu pemilik sekolah tempatnya belajar menjadi merah, mungkin dengan sedikit pembengkakan di area sepatu itu mendarat.
Woohyun berjalan mendekati Sunggyu sembari mengelus keningnya, ia berdecak kencang "Kau..!" Tunjuknya ke arah Sunggyu..
"A-apa?" Sunggyu semakin gelagapan karena terlalu takut.
"Kau, siapa namamu? Dan di kelas berapa?" Tanya Woohyun kembali dengan nada semakin sarkastik.
Sunggyu menelan salivanya perlahan, ingin kabur, namun itu akan semakin memperumit masalahnya.
"Sunggyu.." Sangat pelan bahkan hampir tak terdengar oleh Woohyun.
"Namaku Kim Sunggyu, kelas XI-B" ujar Sunggyu akhirnya.
Woohyun mendengus kemudian berjalan menjauhi Sunggyu.
"Tamat riwayatmu, Kim Sunggyu!" Key mengikuti Woohyun meninggalkan Sunggyu yang terduduk lemas diikuti kedua partner in crimenya.
"Astaga, apa yang harus kulakukan?" Sunggyu merasakan tubuhnya semakin melemas sepeninggal Woohyun. Padahal Woohyun tak berbuat apa apa padanya. Berteriak pun tidak apalagi membalas Sunggyu dengan melemparkan kembali sepatu kepadanya. Namun tatapannya yang tajam dan sedingin es membuatnya terlihat jauh lebih mengerikan daripada pembunuh berdarah dingin semacam Jack The Ripper. Sunggyu rasanya ingin mengubur diri dalam dalam di tanah agar tak bertemu Woohyun lagi. Yaa, itu lebih baik menurutnya..
. . .
"Hahaha, harusnya aku bersamamu agar tak melewatkan adegan langka itu. Aku benar benar penasaran dengan ekspresi anak orang kaya itu" Sungyeol larut dalam tawanya setelah mendengar curahan hati Sunggyu tentang peristiwa di loker tempo hari. Sunggyu bersumpah jika saja Sungyeol bukan sahabatnya, ia ingin sekali melempari Sungyeol dengan benda benda tajam karena sudah menertawakan nasib tragisnya.
"Seharusnya aku mencari teman curhat yang bisa memberikanku sedikit empati" keluh Sunggyu kemudian membenturkan kepalanya berulang kali ke meja.
"Hei hei Gyu, hentikan.. Kau bisa gegar otak kalo begitu.." Sungyeol menghentikan sejenak tawanya dan mengulurkan tangan di dahi Sunggyu agar ia berhenti mengorbankan kepalanya.
"Apa yang harus kulakukan Yeol, nasibku di sekolah ini sudah di ujung tanduk. Apa yang harus kukatakan pada Ayah? Dia pasti sangat kecewa padaku karena harus berhenti dari sekolah yang menjadi harapannya ini"
Sunggyu memandang Sunggyu dengan iba, ia akhirnya menyadari kesalahannya yang telah menertawakan Sunggyu karena Sunggyu terlihat benar benar depresi.
"Tenanglah, tak akan terjadi apa apa. Berdoa saja agar cucu pemilik sekolah itu kehilangan ingatannya dan melupakanmu serta masalah sepatu itu" ujar Sungyeol berusaha menghibur Sunggyu.
Sunggyu merenggut, ia baru sadar Sungyeol ternyata sangat buruk jika menghibur orang.
"Yo, Sung brother! Romantis sekali kalian pagi ini!?" Baro, Sandeul dan Jinyoung datang ke kelas Sungyeol dan Sunggyu di saat yang tidak tepat, karena Sunggyu sedang dalam level sangat tidak mood untuk bertemu makhluk penuh keributan seperti mereka.
"Tsstt, jangan berisik" Sungyeol memperingati tiga sekawan itu dengan menempelkan telunjuk pada bibirnya.
"Kenapa dengannya?" Tanya Sandeul.
"Tak apa, hanya punya masalah dengan sepatu dan pewaris Namstar" Jawab Sungyeol dengan santai. Baro, Sandeul dan Jinyoung saling melirik, kemudian mengendikkan bahu mereka.
"Hei, sekolah akan mengadakan tour ke resort ski Yongpyong musim dingin nanti. Kalian sudah punya rencana?" Baro berbicara dengan mata berbinar mungkin jika dalam adegan komik sudah banyak bintang bintang yang berkumpul di matanya.
"Rencana apa?" Tanya Sunggyu polos, semangat hidupnya belum membaik hingga ia hanya memandang datar ke arah mereka.
"Ck, ini kesempatan kita untuk mendekati para gadis itu. Kudengar Minah dan Naeun tak bisa bermain ski. Ini saatnya aku unjuk gigi kemampuan ski ku pada mereka!" Sahut Baro mantap diikuti gelak tawa Sandeul dan Jinyoung.
"Otaknya bermasalah" ujar Jinyoung sambil memain-mainkan pulpen bergambar hamster milik Sunggyu.
"Gyu, kau akan ikut tour tahun ini kan? Tahun lalu kau sudah tak ikut, ayo bersenang senang. Kita sudah tak bisa bersenang senang lagi jika sudah akan ke universitas" Kali ini Sandeul yang bertanya pada Sunggyu.
"Entahlah.. Aku sama sekali tak tertarik dengan ski. Apa bagusnya berada di luar saat salju turun, lebih baik menghangatkan diri di rumah" jawab Sunggyu malas.
"Memang tak menarik, tapi lain cerita jika ski itu disatukan dengan gadis gadis cantik seperti Minah dan Naeun, akan jadi pemandangan indah" Lagi lagi Baro berbicara soal wanita dengan semangatnya.
"Tetap tak menarik di mataku.."
"Sunggyu tak berminat dengan wanita, dia hanya menyukaiku" Sungyeol menyela perkataan Sunggyu dengan kepercayaan diri yang tinggi dan dibalas Sunggyu dengan lemparan pulpen yang sedang dimainkan Jinyoung.
"Ck, bukan begitu. Aku hanya berpikir, mungkin akan sulit meminta izin pada ayah. Karena ayah sangat tak suka salju. Ia pasti berpikiran buruk kalau aku akan tertelan longsor salju di resort sana"
"Karena ibumu?" Tanya Sungyeol ragu yang berbalas anggukan Sunggyu.
"Akan kupikirkan lagi nanti.." Sunggyu mengakhiri percakapan mengenai tour musim dingin itu, kemudian memilih untuk kembali mencari cara menyelamatkan diri dari Nam Woohyun..
. . .
Sunggyu tengah mencoba melupakan masalahnya dengan Nam Woohyun dengan berbaur makan siang bersama Sungyeol, Sandeul, Baro dan Jinyoung. Sesekali gurauan yang dilontarkan sahabat sahabatnya membuatnya dapat tersenyum kembali. Ia juga merasa smuanya terasa baik baik saja karena tak ada yang dilakukan Woohyun beberapa hari ini setelah insiden sepatu tersebut.
"Gyu, aku baru saja menemui gadis gadis itu untuk untuk mengajak mereka pergi bersama saat tour ski nanti. Saat aku menemui Minah dan Naeun, Eunji juga sedang bersama mereka" Baro berbicara dengan mulut penuh makanan. Ck, anak itu tak sadar apa? Berbicara dengan mulut penuh bisa membuatnya mati tersedak.
"Lalu?" Sunggyu menjawab tak tertarik.
"Eunji bertanya apa kau ikut dalam tour itu atau tidak? Aku jawab kau ikut, dan dia dengan semangat mengatakan akan ikut juga dan memaksa Minah dan Naeun untuk menemaninya" Ucapan santai Baro membuat mulut Sunggyu menganga. Seiingatnya ia sama sekali belum setuju untuk ikut tour itu, bahkan ia belum meminta izin pada ayahnya.
"Heol, siapa yang memastikan aku ikut? Aku bahkan belum mendapat lampu hijau dari ayahku"
"Ayolah Gyu, kau harus ikut! Kau tak mau mengecewakan Eunji kan?" Jinyoung ikut dalam pembicaraan antara Sunggyu dan Baro. Sebelumnya anak itu tak bersemangat dengan strategi mendekati gadis cantik saat tour ski nanti, kenapa sekarang dia ikut ikutan? Mungkin dia sudah terkena virus Baro, pikir Sunggyu.
"Tak janji. Malam ini kubicarakan dulu dengan ayahku" sahut Sunggyu.
Sunggyu meraih botol minuman, dan meneguk air didalamnya. Mata sipitnya mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan kantin Namstar High School dan tak sengaja menemukan sosok angkuh yang memandangnya dengan tajam di sudut ruangan. Nam Woohyun, sedang menatapnya dengan tatapan menusuk.
"UHUKK.." Sunggyu tersedak minuman dan hampir menyemburkannya ke arah Sungyeol yang ada di hadapannya.
"Kau kenapa Gyu?" Sungyeol terkejut karena hampir mendapati hujan dadakan di atas nampan makan siangnya. Ia langsung melindungi nampan tersebut takut takut mendapat semburan kedua.
"Aku duluan.." Sunggyu segera beranjak dari duduknya meninggalkan makan siang yang baru separuh ia santap diiringi tatapan heran dari sahabat sahabatnya.
"Aneh.." Gumam Sandeul, kemudian lanjut mengunyah kimbap.
. . .
"Sudah kuduga, dia dendam padaku, dia dendam padaku. Apa yang harus kulakukan, Ibuuuu... ?" Sunggyu berbicara tak jelas sambil menelungkupkan kepala di kedua lutut yang ia tekuk. Pemuda bermata sipit dan berpipi merah merona itu kini tengah berada di bawah salah satu pohon maple yang ditanam di halaman Namstar High School.
Setelah beberapa menit bermonolog tak jelas. Ia mendongak kemudian menghembuskan nafas pelan. Sangat pelan, hingga ia merasakan sesuatu yang hangat menyentuh puncak kepalanya.
"Sedang bad mood Gyu?" Myungsoo berdiri di hadapan Sunggyu, sambil meletakkan kaleng minuman hangat di atas kepalanya. Kembali Sunggyu terhipnotis ketampanan seorang Kim Myungsoo dan memandang Myungsoo dengan mulut menganga, ia seperti merasa melihat malaikat dihadapannya.
"Kau baik baik saja?" Tanya Myungsoo khawatir, takut Sunggyu gegar otak dan ia yang menjadi tersangka penyebabnya.
Sunggyu tersadar dari mimpinya, dan mengerjapkan mata sipitnya berulang kali. Myungsoo terkekeh melihat wajah lucu Sunggyu saat mengerjapkan kedua matanya.
"Eoh, S-sunbae. Aku baik baik saja" jawab Sunggyu sambil mengelus tengkuknya. Ia merasa merinding karena bisa mendapat anugerah kembali disapa malaikat Tuhan. Terima kasih Tuhan, aku mencintaimu, aku mencintaimu, batinnya berulang kali.
"Sedang apa disini?" Myungsoo mengambil posisi untuk duduk di sebelah Sunggyu dan gerakannya itu membuat jantung Sunggyu kembali berpacu dengan cepat. Sepertinya ia butuh bantuan oksigen.
"Sedang menghindar dari setan..." Ucap Sunggyu dengan tersenyum manis.. 'dan malah bertemu malaikat disini' lanjutnya dalam hati.
"Hahaha, kau ada ada saja." Myungsoo kembali terkekeh dengan ulah Sunggyu dan mengacak surai madu Sunggyu perlahan. Sedangkan Sunggyu sudah hampir pingsan sekarang..
"Oh ya Gyu, kau ikut tour musim dingin nanti?"
"Belum tau Sunbae, memangnya kenapa?" Sunggyu meraih kaleng minuman hangat yang sebelumnya disodorkan Myungsoo. Ia membuka kaleng tersebut dan meminum isinya.
"Kupikir kau ikut. Aku menjadi salah satu panitia penyelenggaranya. Dan kurasa akan menyenangkan jika bisa berlibur denganmu"
Sunggyu kembali tersedak..
"A-aku ikut, hanya saja belum meminta izin ayah. Kurasa dia tak akan keberatan memberikan izinnya" sahut Sunggyu dengan mantap, padahal sebelumnya ia ragu karena tak suka dengan dinginnya salju di musim dingin.
"Benarkah? Kalau begitu kita bisa berlibur bersama" Myungsoo kembali menghadiahi Sunggyu dengan senyuman malaikat andalannya. Dan jangan tanyakan keadaan Sunggyu sekarang, ia sudah kembali tak sadarkan diri.
"Heh, kau. Hamster besar.." Seseorang menginterupsi adegan bahagia yang sedang dirasakan Sunggyu.
Sunggyu dan Myungsoo menoleh bersamaan ke arah sumber suara dan terkejut saat mendapati Woohyun berdiri dihadapan mereka berdua sambil berkacak pinggang.
"A-aku?" Tanya Sunggyu seperti orang tolol kemudian menunjuk dirinya sendiri.
Woohyun berdecak kemudian memandang sebal ke arah Sunggyu "Ck, iya kau. Memangnya siapa lagi disini yang sudah mencari masalah denganku selain kau dan sepatu jelekmu itu!" Hardik Woohyun.
Sunggyu komat kamit dan memanyunkan bibirnya. Ia merasa sebal karena tak seharusnya Woohyun menghina sepatunya seperti itu. Ia membeli sepatu tersebut dengan tabungan yang dikumpulkannya dengan susah payah.
"Ikut aku" kata Woohyun kembali, tak menghiraukan komat kamit Sunggyu.
Sunggyu terdiam dan merasa ragu. Begitupun dengan Myungsoo, ia hanya memperhatikan adegan selisih paham dua orang di hadapannya.
"Ck, ternyata selain membuatku kesal. Kau juga tuli ya?" Kali ini Woohyun menarik kencang Sunggyu hingga pemuda manis itu bangun dari duduknya..
Myungsoo menahan tangan Woohyun "Bersikaplah lebih lembut" ucapnya mengingatkan diikuti anggukan kepala dari Sunggyu.
Woohyun memicingkan matanya kemudian berujar "Jangan campuri urusanku Kim Myungsoo ssi. Atau kau ingin aib keluargamu kubongkar sekarang juga"
Tatapan mematikan Woohyun bersambut tatapan tajam dari Myungsoo. Dua manik sedingin es itu masih saling adu kekuatan sampai suara Sunggyu menginterupsi keduanya. Sunggyu tak mengerti maksud Woohyun dengan aib keluarga Myungsoo. Sepertinya kini giliran Sunggyu yang harus menyelamatkan Myungsoo.
"S-sunbae. Aku tak apa apa. Aku ada perlu dulu dengan Woohyun. Sudah yaaa" Tangan halus Sunggyu menarik perlahan tangan Woohyun yang masih intens memandang ke arah Myungsoo dan bergerak perlahan menjauhi pria tampan yang masih memandangi kepergian dua orang yang terlihat seperti Tom and Jerry tersebut.
. . .
"O oi, kau mau membawaku kemana!?" Sunggyu berusaha sedikit meronta saat Woohyun membawanya masuk jauh kedalam gedung Namstar High School. Ia belum pernah ke bagian tersembunyi gedung ini. Berada di lantai teratas yang bahkan guru guru biasa tak diizinkan masuk apalagi murid beasiswa seperti Sunggyu.
Pemuda manis itu terpukau saat memasuki sebuah ruangan yang sangat luas dan besar. Mungkin lebih besar dari luas rumahnya. Dengan berbagai ornamen dan furniture yang dapat dipastikan berharga nilai tinggi, juga lukisan lukisan indah yang menggantung memenuhi dinding ruangan tersebut. Sunggyu sangat penasaran dengan pelukis lukisan indah itu. Namun, rasa kagumnya seketika menghilang saat Woohyun mendorongnya hingga jatuh terjembab di atas sofa yang berada di tengah ruangan.
"Awww, kau kasar sekali! Tak usah didorong juga aku bisa duduk sendiri" ucap Sunggyu kesal sambil mengelus bokongnya yang sakit setelah bangkit dari posisi terjerembab.
Woohyun tak memperdulikan rintihan Sunggyu. Pria tampan itu duduk di sofa lainnya sambil menyilangkan kaki kanan ke kaki kirinya. Kedua tangannya bertumpu, kemudian menatap Sunggyu tajam. Kenapa dia suka sekali memberi tatapan membunuh ke arah Sunggyu?
"Jadi hukuman apa yang kau inginkan?" Tanya Woohyun masih dengan tatapan dingin.
Sunggyu mengernyit, baru kali melihat orang yang akan memberi hukuman pada orang lain namun menanyakan jenis hukumannya terlebih dahulu pada sang korban. Konyol!
Karena tak juga mendengar jawaban Sunggyu, Woohyun kembali bersuara.
"Aku bisa memberimu dua opsi. Kau dikeluarkan dari sekolah ini atau mengikuti smua perintahku selama sisa waktumu disekolah ini"
"Keduanya terdengar kejam!" Sungut Sunggyu. "Lagipula aku tak memiliki kejahatan apapun yang bisa kau jadikan alasan mengusirku dari sekolah ini" lanjut Sunggyu kemudian.
"Melempar sepatu ke arahku hingga keningku membengkak itu kejahatan besar, bodoh" Sunggyu semakin merenggut karena bentakan Woohyun.
"Sepertinya opsi kedua lebih baik. Asal kau tak memberiku perintah yang macam macam atau aku akan senang hati mengundurkan diri dengan sendirinya dari tempat ini"
"Bagus, kau bisa diajak bekerjasama rupanya!" Tercetak senyum kemenangan di wajah tampan Woohyun.
"Akhir minggu ini, aku akan memberi misi pertamamu. Jadi sebaiknya kau bersiap!" Sunggyu menghela nafas berat dan perlahan, sepertinya hari harinya kedepan di sekolah ini akan lebih berat karena kini ia terikat dengan pria berkepribadian psikopat seperti Nam Woohyun.
"Sekarang keluar!" Lanjut Woohyun tiba tiba.
"Eh?" Sunggyu mendelik, setelah menculiknya ke ruangan antah berantah ini, kini Woohyun mengusirnya dengan seenaknya. Ia tak mau ambil pusing dan langsung mengambil langkah keluar dari ruangan megah tersebut.
"Smoga Tuhan mengampunimu" gumam Sunggyu.
. . .
"Hyung, kau kenal dengan Nam Woohyun?" Sunggyu dan Dongwoo berjalan bersama menuju rumah Sunggyu karena Dongwoo sudah berjanji kepada Paman Kim untuk mengantar Sunggyu jika ia mendapat jam belajar malam.
"Cucu Tuan Nam pemilik sekolah?" Sunggyu mengangguk mengiyakan pertanyaan Dongwoo.
"Aku tak begitu mengenalnya, hanya tau dia dari internet dan obrolan para sunbaeku sebelumnya. Tapi kudengar dia teman baik Myungsoo dulu. Wae? Kau suka padanya ya? Lalu mau kau kemanakan Myungsoo, Hah?" Dongwoo membelalakan kedua bola matanya sambil menunjuk ke arah Sunggyu hingga membuat Sunggyu sedikit bergidik ngeri. Ia terlihat seperti dinosaurus yang menyeramkan.
"Ck, bukan begitu Hyung. Aku ada sedikit masalah dengan orang itu dan jadi penasaran dengan kepribadiannya. Sejauh ini yang dapat kutangkap hanya dia itu seperti psikopat berdarah dingin. Dan lagi, apa hubungannya dengan Myungsoo Sunbae? Kau berbicara seolah kami memiliki hubungan saja?" Sunggyu merasakan pipinya memanas, beruntung hari sudah gelap hingga ia tak perlu tertangkap basah oleh Dongwoo karena pipinya menjadi merona. Walaupun dalam hati Sunggyu, ia tak dapat menolak rasa senang karena dikira berpacaran dengan Sunbae kesayangannya itu.
"Kukira kalian berpacaran. Karena kau sering salah tingkah jika berada di dekat Myungsoo. Begitu juga dengan Myungsoo.."
"Eh, kau serius Hyung?"
"Hm, Myungsoo tak pernah menanggapi obrolan orang lain lebih dari 5 menit, kecuali padaku karena aku memang sahabatnya. Tapi tadi siang aku melihatnya menghampirimu di bawah pohon maple sekolah.."
"Dia memberikanku minuman hangat kalengan"
"Kurasa benar, dia menyukaimu.." Dongwoo bergumam sambil menguyah kripik kentang yang dibawanya. Sunggyu sendiri hanya tersenyum tak jelas mendengar perkataan dari Dongwoo, sungguh indah jika apa yang dikatakan Dongwoo benar benar terjadi. Dan saat mereka melewati perempatan, kembali terdengar dentingan piano dari rumah mewah bercat putih itu.
"Hyung, kau dengar itu?" Tanya Sunggyu sambil mengguncang pelan bahu Dongwoo, membuat pemiliknya menoleh ke arah Sunggyu dengan mulut penuh kripik kentang.
"Aphhaaa?" Sahut Dongwoo masih dengan kegiatan mengunyah kripik kentangnya.
"Itu.. Dari rumah itu terdengar lagi dentingan piano. Kau dengar? Benar kan, lagu ini lagu pemakaman" Sunggyu merasakan bulu kuduknya berdiri. Dentingan piano itu mengalunkan lagu yang lebih dari sekedar menakutkan. Tersirat ketakutan dan keputusasaan dari setiap nada yang dimainkan.
"Itu hanya perasaanmu saja Gyu. Kurasa lagunya tak seseram yang kau katakan"
"Issshh, kau tak peka skali sih Hyung!"
"Sudah sudah, ayo lebih cepat jalannya. Nanti Paman Kim mengira kau diculik alien karena belum pulang juga" ujar Dongwoo kemudian berjalan sendirian meninggalkan Sunggyu yang masih menatap ke arah rumah mewah itu. Kedua mata sipit Sunggyu membelalak saat lampu salah satu ruangan di lantai dua menyala dan sesosok makhluk asing, bukan, bukan makhluk asing melainkan seorang pria mungil yang mengenakan pakaian tidur serba putih mendekat ke arah jendela dan memandang kosong ke arah langit malam.
Sunggyu memicingkan mata sipitnya berusaha menangkap lebih jelas sosok tersebut, ternyata benar bukan hantu karena sosok tersebut masih setia dengan kegiatannya memandang sendu langit malam. Kenapa dengan anak laki laki itu? Aneh? Pikir Sunggyu.
"Gyu, ayooooo" Teriak Dongwoo dari kejauhan.
"I-ya Hyungg" Jawab Sunggyu kemudian berlari menyusul Dongwoo. Tanpa ia sadari sosok tersebut kini menatap balik ke arah Sunggyu. Menatap dua orang sahabat yang mengenakan seragam sama dan berjalan berdampingan, terlihat begitu akrab.
Ia hanya bisa menghembuskan nafasnya perlahan, teringat ia dulu pernah sebahagia itu..
. . .
"Kau sudah mandi Gyu?" Yesung baru saja keluar dari kamar mandi dan menghampiri putranya yang sedang asik memandang layar laptop di hadapannya.
"Nde" Jawab Sunggyu tanpa mengalihkan wajahnya dari layar laptop.
Yesung mengernyit melihat tingkah putra semata wayangnya yang terlihat fokus pada apa yang diperlihatkan layar laptop itu. Ia curiga kalau kalau Sunggyu sedang melihat adegan panas 18++. Oh tidak, Sunggyu masih terlalu polos untuk itu, dia hanya boleh menonton acara dengan kode BO! Dengan gerakan cepat, ia mendekati Sunggyu dan menutup kedua mata Sunggyu menggunakan tangannya.
"Kau melihat apa bocah?" Hardiknya mencoba menjadi orang bijak.
"Aaah, apa yang kau lakukan Ayah? Kau mengagetkanku!" Sunggyu berteriak kemudian melepaskan tangan ayahnya yang sudah membuyarkan fokus penglihatannya.
Yesung menghembuskan nafas lega saat melihat layar laptop Sunggyu hanya menampilkan sebuah artikel dari Daum.
"Hei Ayah. Apa kau tau? Akhir akhir kau terlihat semakin tampan?" Sunggyu yang sebelumnya terlihat merenggut kini berbalik menghadap ke arah Yesung sambil tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang berjejer rapi. Rupanya dia sedang mencoba beraegyo.
Yesung menautkan kedua alisnya, ia khawatir putranya terkena epilepsi stadium akhir yang sama sekali tak bisa disembuhkan. Ia menempelkan punggung tangannya ke kening Sunggyu kemudian bergantian menempelkannya ke keningnya sendiri.
"Normal" gumam pria bersuara merdu itu.
"Yak, aku baik baik saja Ayah! Kenapa kau menganggapku seperti orang sakit?"
"Hahaha, maaf. Kau tiba tiba mengatakan aku tampan kalau bukan karna sakit keras pasti karena menginginkan sesuatu" Yesung tertawa dengan keras mendengar protesan Sunggyu diselingi helaan nafas lega.
"Aku memang menginginkan sesuatu" Berharap cara yang ditempuhnya dapat berhasil. Sunggyu berusaha membuat matanya selucu mungkin agar dapat meluluhkan hati ayahnya. Apa yang mereka sebut? Puppy eyes?
Yesung mendelik kemudian menatap layar laptop yang sebelumnya diperhatikan Sunggyu. Artikel yang ditampilkan pada layar tersebut ternyata memuat tulisan tentang Resort Ski Yongpyong.
"Tidak tidak. Tidak, bahkan dalam mimpimu Nak" Ujarnya kemudian beranjak sambil mengusak perlahan surai Sunggyu.
"Tapi ini kesempatan terakhirku untuk bersenang senang dengan teman temanku! Tahun depan kami sudah harus fokus dengan ujian masuk universitas" Protesan Sunggyu terdengar lebih mendesak. Ia bangkit dari posisi tidurnya dan melangkah mendekati Yesung yang sedang mengambil air di kulkas.
"Aku akan mengizinkanmu asal bukan ski.."
"Kenapa?"
"Kurasa aku tak perlu menjelaskannya"
"Apa karena ibu? Kau masih trauma Ayah?" Yesung berbalik dan menatap sendu ke arah Sunggyu. Sunggyu terkejut karena ini pertama kalinya ayahnya terlihat serius, bukan Yesung yang konyol seperti biasanya.
"Aku pernah berbuat bodoh dengan membiarkan ibumu meluncur di atas salju saat kami berlibur di resort ski. Dan berakhir dengan kehilangannya. Jangan paksa aku untuk melakukannya lagi. Aku tak sanggup jika harus kehilanganmu juga Sunggyu yah!" Lembut dan mengalun indah, bahkan Sunggyu kehilangan kata katanya saat sang ayah mengeluarkan jurus pamungkasnya. Ia menggenggam lembut tangan Yesung dan berkata lirih.
"Kau tak akan kehilanganku.."
. . .
"Jadi, bagaimana?" Sungyeol menatap Sunggyu lekat, berharap banyak sahabatnya itu membawa kabar baik tentang izin mengikuti tour ke Yongpyong.
"Big zero. Bahkan aku membuat ayahku sedih karena teringat kembali pada ibu." Sahut Sunggyu malas dan memilih untuk tidur di atas mejanya.
"Haaah, Bagaimana inii? Jika kau tak ikut, tour itu terlihat tak menyenangkan di mataku" Entah apa yang merasuki Sungyeol karena pria tinggi itu kini seperti sedang menangis dengan memijat keningnya yang tak pusing, menirukan adegan adegan telenovela yang pernah Sunggyu tonton. Namun akting Sungyeol itu justru semakin membuat Sunggyu semakin larut dalam tidurnya. Takut tertular.
Drrt, Sunggyu merasakan ponselnya bergetar. Ia merogoh benda tersebut dari saku jasnya dan menautkan alisnya saat melihat panggilan dari nomor tak dikenal.
"Hallo.." sapa Sunggyu.
"Cepat ke parkiran" sahut suara di seberang dengan kasar.
"Eh, siapa ini? Beraninya kau me-" tuuut, sambungan terputus menyisakan Sunggyu yang masih terlihat tak percaya. Seseorang menelponnya dan menyuruhnya untuk datang ke parkiran dengan nada intimidasi. Namun Sunggyu merasa tak asing dengan suara itu.
Drrtt, ponsel pemuda manis itu kembali bergetar. Hanya getaran singkat karena bukan panggilan yang masuk melainkan sebuah pesan.
5 menit kau tak segera datang, aku bersumpah akan membuat hidupmu menderita! PS : NWH
Kreekk, Sunggyu meremas ponselnya hingga terdengar bunyi retakan pada ponsel tersebut. Nam Woohyun, iya siapa lagi manusia dengan inisial seperti itu dan senang membuat Sunggyu kesusahan.
"Gyu, kau terlihat menyeramkan" Sungyeol mencolek lengan Sunggyu saat mendapati tatapan mata Sunggyu seperti seseorang yang siap berperang, ditambah ia mendengar suara retakan pada ponsel yang dipegang pemuda bermata sipit itu.
"Yeol, aku keluar dulu. Tolong izinkan aku pada Miss Moon ya!"
"Oo, Kim Sunggyu! Kau mau kemana?" Sunggyu berlari keluar ruangan kelas tanpa memperdulikan teriakan Sungyeol.
Setibanya di pelataran parkir, terlihat pria angkuh bernama Nam Woohyun itu sedang duduk di atas kap mobil lamborghini merahnya. Kacamata hitam kembali melekat di mata indahnya. Sambil menyilangkan kedua tangannya ia memandang angkuh ke arah Sunggyu yang datang sambil terengah karena berlari.
"5 menit, 30 detik. Ck, lamban!" umpatnya.
"Bisakah kau tak menghinaku! Cepat katakan apa maumu? Aku masih ada jam pelajaran" ujar Sunggyu lebih dari sekedar kesal. Woohyun berjalan mengitari mobil menuju bangku kemudi mobil.
"Cepat masuk! Aku akan memberikan misi pertamamu!"
"Eh, t-tapi. Aku masih ada jam pelajaran lagipula aku tak membawa tasku!"
"Kau tak perlu khawatir, aku sudah mengurus izinmu. Dan mengenai tasmu, aku akan menyuruh salah satu bodyguardku untuk membawakannya!" jawab Woohyun santai kemudian masuk ke dalam mobil tanpa memperdulikan wajah Sunggyu yang sudah penuh raut tak percaya dan kesal setengah mati.
"Hazz. Jinjja. Aku tak percaya ada manusia yang lebih mengesalkan daripada Sukjin Ahjussi!" decaknya tak percaya.
Sunggyu menghentakkan kakinya dan masuk ke dalam mobil Lamborghini itu, duduk di sebelah bangku pengemudi.
. . .
Myungsoo berjalan menyusuri lorong kelas hendak menuju kelas Sunggyu. Bibirnya menyunggingkan senyuman indah, sedangkan tangannya menggenggam sebuah kotak. Kotak berwarna putih itu berisi sepasang sarung tangan yang ingin dihadiahkannya kepada Sunggyu agar dikenakannya saat tour musim dingin nanti.
Langkah Myungsoo tertahan saat ia tak sengaja menemukan Sunggyu tengah berlari tergesa gesa. Sepertinya pemuda manis itu sedang terburu buru menuju pelataran parkir sekolah. Membuat Myungsoo penasaran dan berakhir dengan mengikuti Sunggyu.
Myungsoo mengikuti Sunggyu, dan ia tak dapat menyembunyikan keterkejutannya saat melihat Sunggyu menghampiri Woohyun. Apa yang Sunggyu lakukan? Kenapa Sunggyu seperti mengikuti apa yang Woohyun perintahkan? Apa terjadi sesuatu saat Woohyun menarik tangan Sunggyu ketika mereka di pohon maple waktu itu.
Myungsoo meremas kotak putih yang digenggamnya dan memandang tajam ke arah mobil Woohyun yang bergerak menjauh menuju gerbang keluar.
. . .
Hening, Sunggyu tak berani bersuara apalagi melancarkan protes terhadap pria dingin yang tengah mengemudi disebelahnya. Woohyun sendiri seperti tak menghiraukan keberadaan Sunggyu, pikirannya terlihat tak fokus karena berada di tempat lain. Di tempat dimana ia akan membawa Sunggyu untuk melaksanakan misi pertamanya.
Setelah 20 menit Lamborghini merah Woohyun memecah jalanan Seoul, mobil mewah tersebut menepi di salah satu butik mewah dikawasan Hongdae.
"Ayo turun!"
Sunggyu memanyunkan bibirnya, karena Woohyun slalu memerintahnya tanpa memberi penjelasan apapun.
Woohyun berjalan memasuki butik tersebut dengan Sunggyu yang mengekor di belakangnya. Sunggyu terhipnotis dengan deretan baju mewah yang dipajang butik tesebut. Dilihat dari model dan bahan yang digunakan sudah dapat dipastikan baju baju itu tak sekelas dengan dompet Sunggyu. Sial, Nam Woohyun itu sangat beruntung bisa mendapat barang mewah seperti ini dengan mudah! umpat Sunggyu dalam hati.
"Tolong berikan aku koleksi gaun terbaik kalian!" Woohyun menghampiri seorang wanita yang bertugas melayani tamu, dan duduk di salah satu kursi yang berada di sudut butik. Sunggyu mengikuti pria tampan itu dan duduk disebelahnya.
"Hei, Nam Woohyun. Untuk apa kau mencari gaun?" tanya Sunggyu penasaran.
"Untuk kau pakai.." jawab Woohyun santai.
"MWO? Yak apa maksudmu gaun untuk kupakai?" Sunggyu setengah berteriak tak percaya.
"Malam ini, aku akan membawamu ke sebuah jamuan. Tapi aku akan membawamu sebagai seorang gadis. Parasmu cukup melebihi kata manis untuk disejajarkan dengan wajah para gadis!" Sunggyu merah padam, di satu sisi ia merasa tersanjung karena Woohyun menyebut parasnya manis. Namun, pria ini gila atau apa? Kenapa ia ingin mengubah gender Sunggyu seenaknya tanpa membuat kesepakatan apapun sebelumnya!
"Aku pria dan aku tampan, bukan manis. Seharusnya kau yang lebih pantas memakai gaun itu karena gerakan gemulaimu!" ucap Sunggyu tak percaya.
"Apa perlu kutarik cermin itu agar menegaskan tubuh siapa yang lebih menyerupai tubuh wanita, hah?" Woohyun terdengar tak mau kalah.
"Ck, aku tak mau jadi wanitamu! Beri aku misi yang lain" Sunggyu membalikkan tubuhnya, tak mau memandang Woohyun lebih lama. Itu bisa membuatnya lebih gila,
"Aku akan memberikanmu uang!"
Sunggyu mendelik, namun ia berpikir sejenak.
"Ck, lama sekali otakmu berpikir? Kuberikan sepuluh juta won! Apa itu cukup untuk menutup mulutmu yang sering protes itu?"
Sunggyu terdiam dengan mulut menganga. Dengan mudahnya pria menyebalkan di hadapannya mengeluarkan uang sepuluh juta won?
"Silahkan dicoba gaunnya Tuan!" wanita yang sebelumnya dihampiri Woohyun kembali dengan membawa beberapa gaun ditangannya.
"Diammu kuanggap persetujuan!" ujar Woohyun kemudian menarik Sunggyu menuju fitting room. "Coba yang berwarna merah ini dulu" Woohyun mengambil sebuah gaun berwarna merah dan memberikannya kepada Sunggyu. Ia mendorong Sunggyu ke dalam bilik ganti baju itu dan menunggu di luar. Tak lama Sunggyu keluar dengan memakai gaun tersebut, wajahnya masih cemberut karena belum bisa menerima perlakuan Woohyun.
"Bagaimana?" tanya Sunggyu sebal.
"Jelek, coba yang warna hitam" Woohyun kembali memberikan gaun lain kepada Sunggyu dan menyuruhnya untuk mencobanya. 5 menit kemudian Sunggyu keluar dari bilik tersebut.
"Bagaimana?" tanyanya lagi masih dengat raut wajah tak ikhlas.
"Kau seperti wanita pemakaman yang sering mencarikan jodoh untuk para hantu!" astaga ingin sekali Sunggyu mencekik Woohyun saat itu juga dan melemparkannya pada kerumunan buaya di hutan amazon.
"Apa tidak ada yang gaun yang bagus? Bukankah ini butik mahal? Kenapa gaunnya jelek semua?" protes Woohyun sambil mengobrak abrik kumpulan gaun ditangannya. Ia berhenti saat menemukan sebuah gaun berwarna putih minimalis dengan bahan kain sutra.
"Coba yang ini!" lanjutnya.
Sunggyu kembali memasuki fitting room, setelah selesai berganti baju, tak lama ia menyembulkan kepalanya dari balik pintu bilik.
"Ini mengerikan. . ." ujar Sunggyu pelan, Woohyun terlihat bingung. "Aku bahkan berpikir kalau aku benar benar seorang wanita" lanjutnya kemudian keluar dari fitting room tersebut.
Woohyun terpana dengan pemandangan indah di hadapannya. Sunggyu terlihat begitu cantik dan elegan dengan gaun sutra berwarna putih yang minimalis tersebut! Kulit putih mulus seperti porselen, ditambah wajah manis dengan pipi merah merona. Woohyun benar, paras Sunggyu bahkan terlihat lebih manis daripada paras seorang gadis. Sejenak pria tampan itu seperti tertarik ke dunia alam bawah sadarnya hingga Sunggyu menjentikkan jarinya di hadapan Woohyun.
"Jangan memandangku seperti itu, nanti kau bisa jatuh cinta" Sunggyu terkekeh melihat ekspresi Woohyun yang seperti terpukau dengan tranformasinya.
"Konyol!" Woohyun tak mau terlihat seperti orang bodoh, dan beranjak menuju kasir untuk membayar gaun yang sudah dipilihnya.
. . .
Sunggyu dan Woohyun berjalan berdampingan memasuki sebuah restaurant mewah yang berada di dalam sebuah hotel megah. Sunggyu yang sudah bertransformasi menjadi seorang gadis cantik dengan sedikit polesan make up yang didapatnya di butik tadi terlihat begitu gugup. Ini pertama kali baginya memasuki tempat semewah itu.
"W-Woohyun.." panggilnya pelan, namun si pemilik nama tak memperdulikan panggilan Sunggyu dan tetap fokus berjalan.
Setelah diantarkan seorang waiter, mereka tiba di ruangan VVIP restaurant tersebut. Tanpa ragu Woohyun membuka pintu ruangan tersebut diikuti dengan langkah Sunggyu di belakangnya.
Terlihat beberapa orang sudah berkumpul di ruangan tersebut. 4 orang jika Sunggyu tak salah hitung karena pemuda manis itu lebih memilih untuk menundukkan kepalanya.
"Maaf aku terlambat.." sapa Woohyun sambil membungkukkan tubuhnya pada 4 orang di hadapannya.
"Woohyun ah, dari mana saja kau? Tuan dan Nyonya Kwon serta Yura sudah menunggumu lebih dari setengah jam!" seorang pria paruh baya menjawab sapaan Woohyun dengan nada sedikit tak suka. Ia melirik ke arah Sunggyu yang masih menundukkan kepalanya di belakang tubuh Woohyun
"Siapa gadis itu?" Deg, Sunggyu tak percaya ia berhasil mengelabui orang lain dengan transformasi gendernya.
Woohyun tersenyum penuh kepuasan sebelum mengucapkan kalimat yang membuat semua orang yang berada di ruangan tersebut terkejut setengah mati, tak terkecuali Sunggyu.
"Perkenalkan, namanya Kim Sung Ah. Dan dia adalah kekasihku!"
TBC
