Maaf atas keterlambatannya Minna.. (u,u)

Disclaimer : Naru-can ituuuu milik wii-DUUUAAAAKKKKK #ditendangKurama-san. Okeh2, milik Masashi kishimoto-sensei tp bentar lagi bakalan jd milik si Sasutemee... hohohoho

Pairing : SasuNaru

Gender : family, friendsip(mungkin), romance(mungkin), hurt/comport

Warning : AU, OOC, Tyipo(s), alur yang kecepetan, menulisan bahasa yang amburadul, masih Sho–ai jadi aman di konsumsi(?) buat yang lulus(?), autor baruuuuu banget dan peringatan peringatan lainnya(?)

Reter : T (kayaknya)

I WILL DO EVERYTHINK FOR YOU

By. Himawari Wia (Dewi ruang dan waktu?)

.

.

.

Capter. 7 : apakah roda yang terhenti itu kini berputar?

"Tomat.."

Uchiha Naruto berani bersumpah ia melihat wajah sang kakak –Uchiha Sasuke- yang biasanya datar kini nampak cerah ketika pemuda reven itu berdiri di salah satu rak sayur yang penuh dengan tomat merah dan segar. Dan oh, apa mata onixs sekelam malamnya itu kini berbinar? Sunggh tidak Uchiha sekali.. (kau juga jauh dari kata 'Uchiha' lo Naru..)

Dan, tanpa perlu di komando oleh siapapun, bocah pirang itu melangkah mundur untuk kemudian berbalik dan berlari pergi, meninggalkan sang kakak –pantat ayam-nya yang kini sedang berkencan dengan sang kekasih (baca: tomat).

Mereka sedang berada di sebuah pusat perbelanjaan saat ini, membeli beberapa bahan makanan untuk di bawa ke rumah dua lantai mereka –yang selama seminggu ini terbengkalai- dan jika beruntung si pirang berniat menyelundupkan beberapa ramen instan selagi sang kakak tenggelam dalam imajinasi indahnya bersama tomat di rak-rak penuh buah dan sayuran sana.

Dengan lihai pemuda beriris sebiru langit musim panas itu menyusup(?) menuju deretan rak ramen instan yang sudah ia hapal tempatnya di luar kepala. Naruto berani bersumpah ia dapat pergi ke rak ramen dengan penutup mata tanpa halangan, saking hapalnya! Yeah, jika saja menabrak pengunjung pusat perbelanjaan yang sedang lalu lalang tidak di hitung sebagai 'halangan' tentunya.

Bruk!

Adik Uchiha Itachi dan Uchiha Sasuke itu baru saja berniat berbelok untuk kemudian masuk dalam rak-rak setinggi dua meter yang berisi berbagai merek dan jenis ramen. Namun langkah sang Blonde terpaksa terhenti ketika mendengar suara benturan dan beberapa benda yang jatuh, menoleh kesamping untuk kemudian iris safiernya mendapati seorang lelaki paruh baya –jika tidak mau di katakan tua- yang sedang tersungkur –jatuh- lengkap dengan barang-barang belanjaannya yang berserakan di lantai pusat perbelanjaan itu.

.

.

-888-

.

.

Ia adalah seorang kakek tua dengan rambut yang sudah memutih yang di biarkan sedikit memanjang, serta jenggot putih di dagunya. Hari ini ia pergi ke sebuah pusan perbelanjaan, selain untuk membeli cup teh faforitnya, juga untuk menghilangkat penatnya-mengingat begitu banyaknya pekerjaan yang menggunung di meja kantornya beberapa hari ini. Ia sengaja melepaskan jas mahalnya dan hanya memakai sebuah sweter yang agak besar dengan syal hangat yang melingkar di leher kurusnya. Melarang seluruh bawahan untuk mengikutinya, karena ia sangat ingin merasakan kembali perasaan menjadi seorang manusia biasa –dan menikmati saat-saat kesendiriannya.

Ia baru saja berniat untuk berbelok, keluar dari deretan rak-rak tinggi berisi daun teh kering berbagai merek dengan beberapa kotak teh di keranjang bawaanya ketika seorang pemuda –ia memperkirakan berumur 17 tahnun- berjalan dengan tergesa - gesa untuk kemudian menabraknya. Ia yang memang sedang dalam tingkat kewaspadaan terendah serta tubuh tuanya yang mulai renta terhuyun jaduh, menimbulkan bunyi bruk! Yang cukup keras. Dan oh, apakah itu tehnya yang berceceran di lantai?

Ia dapat melihat pemuda tidak tau sopan santun yang menabraknya menatapnya sesaat, untuk kemudian berlalu pergi meninggalkan ia seorang diri di sana. Terduduk di lantai di sebuah pusat perbelanjaan dengan barang belanjaan yang berceceran di mana-mana. 'apakah semua anak muda zaman sekarang tidak tau sopan santun?' ia membatin memunguti satu persatu belanjaanya.

"anda tidak apa-apa Jii-san?" namun ketika tangan kurusnya mencoba memungut objek kedua dari sekian banyak belanjaan yang di belinya, sebuah tangan tan mengambil objek itu dan memasukinya ke dalam keranjang bawaannya yang tadi terlempar ketika ia jatuh.

.

.

-888-

.

.

"anda tidak apa-apa Jii-san?" Naruto bertanya –dengan nada kawatir- ketika membantu memungut barang belanjaan seorang kakek tua yang baru saja terkena 'musibah' di hadapannya. Si pirang kini berjongkok, membantu memunguti barang sang kakek yang tercecer di lantai pusat perbelanjaan itu dengan lincah. Ia tak membiarkan kakek tua yang kini hanya ikut berjongkok menatapnya -termenung.

"Yosh! Sudah terkumpul semuakan Jii-san?" si Blonde berseru senang ketika tak lagi mendapati adanya barang lain yang tercecer, lalu dengan gesit pemuda berkulit tan itu menaruh kranjang belanjaan itu di lantai. Ia berdiri –tanpa berniat membersihkan celananya yang berdebu terlebih dahulu- tangan tan kurus dan kecilnya terulur, menuju tangan sang kakek –membantunya untuk berdiri.

"anda baik-baik saja? Apakah ada yang sakit?" Naruto berujar, pandangannya beralih melirik berbagai sisi tubuh si kakek di depannya –untuk memastikan tidak ada luka serius di sana. Sementara tangan tannya terulur –memberikan keranjang belanjaan kepada kakek di hadapannya. Yang kini menatapnya denga senyuman hangat.

"aku baik-baik saja anak muda." Pria tua itu tersenyum untuk kemudian mengacak-gemas- rambut si Blonde. Naruto agak terkekeh dengan kelakuan 'Jii-san' di hadapannya ini.

"kau sedang apa Naruto?" suara sang kakak menginterupsi kegiatan dua manusia yang memiliki usia terpaut cukup jauh tersebut.

"Nii-chan!" Naruto sedikit proter ketika lengan kanan sang kakak melingkar di kedua bahu mungilnya, ia sedikit mundur kebelakang ketika Sasuke mengeratkan pelukannya-membuat pundak belakang si Blonde bertemu dengan dada bidang berlapis jaket musim dingin sang kakak.

"ada yang bias aku bantu tuan?" Sasuke berujar dingin –tidak peduli dengan siapa pria di depannya itu-. Pemuda reven itu memang akan menjadi sangat sensitif dengan orang-orang asing yang berada dekat dengan si Blonde, dan Naruto hanya dapat menghela nafas pasrah dengan ke protektipan kakak keduanya itu.

"kau memiliki adik yang sangan manis dan baik hati anak muda."

Kakek tua itu hanya tersenyum, kemudian tangannya terulur untuk mengacak rambut si pirang. Sasuke yang melihat itu berniat mencegahnya tapi gerakannya terhenti ketika naruto memegang tangannya dan memberikan tatapan membunuh yang sangat gagal.

"Arigatou Jii-san! Hehee" Naruto mengeluarkan senyum limajarinya ketika si kakek tua menarik tangannya dari kepala si Blonde.

"semoga kita dapat bertemu di kesempatan dan suasana yang lebih baik lagi anak muda.." Sasuke merasa tersinggu dengan kata-kata sang kakek tua yang membuatnya merasa seolah olah menjadi perusak suasana di sini. Tapi niat protes si Reven terurungkan ketika ia mendapati kakek tua itu berlalu pergi.

.

.

-888-

.

.

Sang kakek tua tidak dapat menyembunyikan senyum senangnya ketika dalam perjalanan menuju parkiran. 'baik hati seperti Minato dan periang seperti Khushina' ia membatin. Siapa sangka idenya yang tadinya hanya untuk kabur dari tumpukan laporan dan saham itu membuatnya kembali bertemu dengan keturunan orang - orang yang di kenalnya dengan baik di masalalu.

"Rikudou-sama!" Tapi lamunan dan juga senyum sang kakek memudar begitu ia mendengar panggilan dari suara yang sudah tidak asing lagi di telinganya. Damn!

"apa yang anda lakukan di sini tuan? Tolong segeralah kembali kekantor anda." Salah satu anak buahnya menunduk hormat ketika berbicara dengannya, dan yah.. ia merasa sedikit lelah dengan sopan santun ini.

"aku? Aku hanya berencana untuk membalas budi seorang anak manis yang telah membantuku hari ini." Ujarnya santai, namun kata – kata itu sudah cukup untuk membuat anak buahnya terdiam –berpikir lebih tepatnya- siapa yang telah menolong Rikudou-sama mereka? Bating para anak buah dari kelompok mafia terkuat itu kompak. Dan kesempatan itu di gunakan oleh yang bersangkutan untuk masuk kedalam mobil, menginjak pedal gas sekuat-kuatnya dan kabur dari tempat kejadian perkara(?).

"RIKUDOU-SAMA TUNGGU! ANDA MAU KEMANA?!" -meninggalkan para anak buahnya kalang kabut mengejar sang ketua yang ternyata sangat kekanak-kanakan itu. #pooranakbuah

.

.

"teme kau tau? Kau terlihat seperti anak TK yang tidak mau mainannya di sentuh."Naruto bergumam pelan –setengah menyindir sang kakak- ia sangat kesal sekarang. Bagaimana tidak?! Kakak Reven-pantat-ayamnya- itu tidak mau melepaskan genggaman tangannya pada sang adik sejak pertemuan mereka dengan kakek tua di pusat perbelanjaan tadi, hingga sekarang ketika mereka menginjakan kaki di parkiran. Menyeretnya seolah-olah dia adalah anjing nakal yang jika tidak di tarik dengan rantai akan menghilang dan berkeliaran di sana sini. Hell no!

Si Blonde bukannya tidak menyadari sikap sang kakak yang lebih protektip dari biasanya itu, kejadian antara dia dan Karin beberapa hari yang lalu sudah menjadi pelatuk yang cukup ampuh bagi Uchiha Sasuke untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap adik Blondenya. Yaah.. sisi positifnya Sasuke terlalu sibuk untuk melarangnya membeli beberapa bungkus ramen di pusat perbelanjaan itu tadi–dan Naruto bersorak riang untuk itu-.

.

.

-888-

.

.

From : Sasu Nii-teme

Subject : (none)

Dobe, aku sibuk. Aku sudah menghubungi aniki untuk menjemputmu.

Haah.. Naruto menghela nafas 'apakah kau tidak bisa mengetik sedikit lebih panjang Nii-chan…' batinnya miris melihat E-mail sang kakak –yang menurutnya- mengenaskan itu. Tidak hanya dalam kata-kata, bahkan dalam E-mail pun Sasuke irit bicara ternyata…

Dan di sinilah si Blonde, duduk sendirian di taman dekat sekolahnya menunggu sang kakak pertama –yang ternyata mendapatkan rapat mendadak- untuk menjemputnya. Salju memang tak turun hari ini, tapi mengingat sudah memasuki pertengahan musim dingin duduk di taman seperti ini cukup untuk membuat si Blonde kedinginan. Naruto menoleh kanan dank ke kiri, senyumpun merekah di wajah manisnya ketika mendapati sebuah mesin penjual minuman otomatis di seberang jalan sana, dan tanpa pikir panjang si Blondepun melangkahkan kakinya menuju mesin penjual minuman itu.

.

.

Si pirang semakin mempercepat langkah kakinya ketika jarak antara dia dan mesin penjual minuman hanya tertinggal beberapa meter saja. Kini terlihat jelas jika di depan mesin penjual minuman itu berdiri seorang pria berambut putih di ikat satu dengan sebuah kacamata bulat bertengger di hidungnya, tengah memasukkan koin kedalam mesin. Namu koin itu terjatuh untuk kemudian menggelinding menuju kaki si pirang yang saat itu berjarak tiga meter dari pria berambut putih.

Naruto menunduk mengambil koin yang jaduh tepat di depan kakinya.

"maaf itu koinku yang terjatuh!" si Blonde dapat mendengar suara sang pemuda berambut putih untuk kemudian di susul dengan suara langkah kaki yang mendekat kearahnya, dan ketika sebuah sepatu tertangkap dalam jangkauan penglihatannya –yang masih menunduk mengambil koin- Naruto segera mendongak bermadsud mengembalikan koin tersebut kepada sang pemilik.

Deg!

Pemuda dengan iris sebiru langit itu merasakan jantungnya berhenti berdetak dan hawa dingin menjalar di permukaan kulitnya. Ia dapat merasakan tangannya bergetar dan koin dalam genggamannya jaduh kembali ketanah.

Uchiha Naruto merasa sangat ketakutan sekarang, dan ia sama sekali tak tau kenapa hal itu terjadi.

Yakushi Kabuto –pemuda berambut putih itu- sempat membatu sesaat melihat sosok pemuda di hadapanya, rambut pirang yang tertutup hodie orange, mata biru dan tiga garis tipis di masing masing pipi itu sudah lebih dari cukup untuk menjelaskan siapa sosok di hadapannya ini. Uzumaki-Namikaze Naruto! Anak yang seharusnya mati 11 tahun yang lalu. Dan tanpa sadar tangan putih pucatnya terulur, berniat memastikan objek di hadapanya ini benar-benar nyata.

"kau.."

Naruto semakin bergetar ketakutan ketika Kabuto mengulurkan tangan bermansud menyentuhnya, otot-otot kakinya terasa lemas dan kepalanya terasa sakit. Tangan itu, ia merasa tangan itu akan memukulnya, menjambak rambutnya serta memegang berbagai benda yang nantinya akan menimbulkan luka di tubuhnya. Semua bayangan - banyangan itu membuat si Blonde semakin takut, ia ingin menangis sekarang, ia ingin kakak-kakaknya sekarang…

Sret! Grep!

Sebuah lengan kekar berbalut jas hitam menarik bahu Naruto membuat si Blonde yang masih membeku di tempat itu berbalik dan masuk kedalam sebuah dekapan hangat dengan sebuah tangan yang melingkar di bahu mungilnya yang bergetar ketakutan, sementara tangan yang satunya mencengkram tangan Kabuto –yang ingin menyentuh Naruto- dengan sangat erat. Uchiha Itachi datang tepat pada waktunya. (Nice Job!)

"ada yang bisa aku bantu, tuan?" Itachi berujar datar, ia menekankan kata 'tuan' pada kalimatnya yang berarti dalam situasi ini mereka harus berpura – pura tidak saling mengenal.

Kabuto sedikit tersentak kaget ketika sosok yang muncul di hadapannya adalah seorang Uchiha Itachi, dalam hati ia mendecih pelan jika para Uchiha ikut campur usaha menghabisi Uzumaki-Namikaze terakhir ini akan jadi semakin sulit. Jadi pemuda dengan kacamata itu memutuskan untuk memilih jalan aman, mundur dahulu untuk kemudian menyusun rencana bersama Orochimaru di markas Hebbi.

"tentu tidak tuan, aku hanya merasa familiar dengan pemuda dalam dekapanmu itu." Kabuto menyeringai kecil ketika mendapati Itachi mengeratkan pelukannya pada Naruto. Yah, anggap saja kalimatnya barusan adalah peringatan kecil darinya. Lalu, pemuda berambut putih itu membalikkan badannya, berlalu meninggalkan kakak beradik Uchiha yang masih terdiam di sana.

.

.

"hah.." itachi menghela nafas lega, pemuda berusia 25 tahun itu tidak menyangka akan bertemu wakil ketua Hebbi di tempat dan dalam suasana seperti ini.

"kau tidak apa-apa Naru?" Itachi menunduk, memastikan keadaan adik pirang di dalam dekapannya yang masih saja gemetaran itu. Naruto hanya menggeleng dan semakin mengeratkan belukannya pada sang kakak pertama. Perlahan isakan kecil terdengar, dan sesaat kemudian Itachi dapan merasakan pakaian pada bagian dadanya basah. Naruto menangis disana.

"sstt.. semua baik - baik saja sekarang Naru.. kau tidak perlu takut.." dan kakak dari Uchiha Sasuke dan Uchiha Naruto itu hanya dapan mengeratkan pelukannya pada si adik bungsu.

.

.

-888-

.

.

"aku, akan menyiapkan makan malam." Gaara berujar agak kikuk –namun sukses tertutupi dengan sikap dasarnya yang datar- untuk kemudian keluar dari kamar bernuansa orange itu dan menuju dapur di lantai satu membuat makanan untuk para Uchiha bersaudara.

Pemuda berambut merah batta itu baru saja menyelesaikan sekolahnya beberapa jam yang lalu ketika menemukan duo Uchiha yang sedang err.. berpelukan? Di jalan yang ia biasa lalui ketika pergi ke markas Juubi. Untuk sesaat pemuda dengan tattoo 'AI' di dahinya itu mengira Uchiha bersaudara itu incest mengingat betapa bagusnya latar tempat dan waktu ketika mereka berpelukan. Hell no! musim salju ketika matahari setengah terbenam, apa lagi momen yang lebih begus dari itu? Tapi anggapan itu segera di tepis ketika telinganya mendengar isakan lihir dari si Blonde dan senyum janggung Itachi yang meminta tolong untuk mengendarai mobilnya yang terparkir di tepi jalan dan mengantar mereka pulang. Sabaku no Gaara hanya dapat mengangguk saat itu, dan sedikit banyak sesuatu yang kurang bagus –jika tidak dapat di katakana buruk- telah terjadi.

.

.

Itachi mengelus pelan surai pirang adiknya yang kini tertidur dengan kedua tangan yang masih mencengkram erat kemeja kantor sang kakak.

Kriuuuuukkk~

Ah,.. Uchiha Itachi dapat mendengar perutnya berbunyi, ia belum makan apapun selain sebuah roti dan secangkir kopi yang di berikan oleh Konan –sekretarisnya- sejak siang tadi. Tapi melihat sang adik pirang dalam dekapannya yang tenggah tertidur lelap, pemuda dengan dua garis halus di kedua pipinya itu tidak akan pernah tega membangunkan Naruto. Jadi, Uchiha Itachi hanya dapat mengeratkan pelukannya kepada sang adik, dan mencoba memejamkan mata menyusul si Blonde menuju alam mimpi..

*ndus,ndus,ndus*

Dan, Oh! Apa kah itu bau masakan Gaara yang tercium dari lantai satu? Batin Itach miris.

.

.

Berjuanglah Itachi!

-END-

.

.

.

Be,, becanda kok readers.. ini masih TBC.. heheee (tolong turunkan senjata kalian)

.

.

.

Inii diaaa~ maaf telat minna, usia, kelas/jabatan tiap-tiap karakternya ssu~ sebagai pengganti omake yang gaak ada di capter ini.. hehee

Uchiha (Uzumaki-Namikaze) Naruto : 16 tahun (10-3)

Uchiha Sasuke : 18 tahun (12-1) ketua team taka

Uchiha Itachi : 25 tahun anggota Akatsuki

Namikaze Kurama (Kyuubi) : 25 tahun ketua Juubi

Uzumaki Nagato : 25 tahun ketua Akatsuki

Sabaku no Gaara : 18 tahun (12-1) anggota Juubi

Uzumaki Karin : 18 tahun (12-1 tadinya)

Juugo dan Suigetsu : 18 tahun (12-1) anggota Team Taka

Nara Shikamaru : 16 tahun (10-3) anggota Anbu

Inuzuka Kiba : 16 tahun (10-3)

Hatake kakashi : 30-an ketua Anbu (setelah Minato)

Author note :

Kenapaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa…? #treak pake toa

Di capter kemaren tiap kali wia ngetik Namikaze(titik) krop. Pasti ilang dan kalimatnya jadi berantakan ssu~~ wia udah ganti berkali-kali tapi tidak ada perubahan juga ssu~ apa salah wia.. kenapa FFn kejam pada wia ssu~ hiks hiks #nangis di pelican Kurama-san#gambil kesempatan dalam kesempitan.

"tabah lah gakki~!" ikut meluk wia #terbawasuasana #wiacekikikan

Jadii~ wia sempat syok dan gak nyentuh Ffn selama beberapa waktu kerena itu..

"dan begitu bocah ababil ini bangkit dari keterpurukannya dia malah kena yang namanya UTS dan tugas!" #kurama ngedeatglere wia

Begitulah laporan mengenai alas an mengapa fic ini terlambat di publis dan membuat para reader kecewa, wia itu mana anak baru trus banyak kesalahan lagi… wia ampek sempet mutusin buat discontinue in ni cerita aja biar gak mengganggu feel para reader dan senpai tachi untuk membaca ffn author lainya gara-gara fic ancur wia ini.. tapiii~~ ia semangat lagi gara-gara comment dar : .9 di fic wia yang Neko days nanyain gimana kabar fic wia yang ini.. "dan si bocah ababil ini langsung mewek saat itu juga" Kurama-saan!

Dakaraaaa~~ capter ini wia persembahin utuk kalian semua yang telah mau bersabar menunggu lancutan fic gak jelas wia ini! \(^o^)/

Juga buat author faforit wia : Farenheit July yang mau komen panjang lebar dan nawarin jadi betta reader wia tapi gak jadi gara gara wia gak tau caranya girim E-mail.. tehee gomenne senpai!

Balasan review buat yang gaak loggin ssu~ :

Jink 1314 : begini Jink-san (boleh wia panggil begiru?) hubungan Kyuubi di sini itu dari segi darah, adalah sepupu dekat naruto, mereka satu nenek. Tapi kenaapa kyuubi mau nolongin Naru, itu karena Naru sudah Kyuu anggap sebagai adik kesayangannya (kyuubi di sini anak tunggal) apakah sudah mengerti? Jika belum silahkan tanya lagi wia bagian mananya yang belum mengerti ya.. terimakasi sudah review fic wia.. :D

Guest : ini wia sudah lanjuuuu….! :D semoga senang dan maaf telat,.. RnR lagi jika sempat yaa~~

Lee KIamho : itu memang sudah word standar wia Lee-san (boleh panggil begitu) tiap capter wia (usahakan) melebihi 2k kok.. hehee gomenne~ wia author baru soalnya, tapi kedepanya wia akan mencoma memanjangkan ceritanya! Nerimakasi sudah review fic wia~ wia tunggu review dari Lee-san di capter ini juga loo.. :D

Pst.

2-3 capter lagi akan tamat,.. mohon dukungannya sampai saat itu tiba ya ssu~

.

.

.

Pst.

Yang sempat liat fropil wia, yang ada di gambar itu wia yang lgi nulis Ffn dan kurama-san loo~~ kyaakyaakyaaa~~ original buatan wia hehe tp di warnai oleh temen wia yani kurostuki