Tittle : Pearls Of Namstar (Chap 3)
Main Cast : Kim Sunggyu
Other Cast : Nam Woohyun, Kim Myungsoo, Jang Dongwoo, Kim Yesung aka Sunggyu's father and others
Genre : School Life
"Perkenalkan, namanya Kim Sung Ah. Dan dia adalah kekasihku.."
Author POV
Semua pasang mata di ruangan VVIP restaurant tersebut membulat sempurna. Tak terkecuali dengan Sunggyu, matanya yang selalu sipit kini berusaha melebar diiringi mulut yang juga terbuka karena terlalu terkejut. Yura, gadis yang kini tengah duduk bersama kedua orangtuanya di meja makan bahkan terlihat akan menangis dan memilih untuk menatap ke arah lain.
"Apa yang kau katakan? Kekasih?" Nada suara Tuan Nam mulai meninggi. Ia merasa dipermalukan habis habisan oleh Woohyun di hadapan keluarga rekan yang akan dijadikan besannya.
"Yaaaa, kau tak salah dengar Kek, dia kekasihku. Dan niatku membawanya kemari adalah memperjelas bahwa aku menolak perjodohan ini, karena aku mencintai gadis lain" ujar Woohyun dengan mantap. Ia menarik bahu Sunggyu yang sudah banjir keringat dingin agar merapat ke arahnya.
"Kau sudah gila. Lebih baik cepat pulang dan renungkan kesalahanmu!" Wajah Tuan Nam kini sudah merah padam menahan amarah.
"Aku tak akan pulang sampai kau menarik keputusanmu untuk menjodohkanku dengan Yura" Woohyun kini mendelik, menatap sang kakek dengan tatapan menantang. Dan seperti cerita dalam drama drama klasik, sudah dapat dipastikan apa yang akan terjadi antara dua orang yang berseteru tersebut.
PLAKK, Tuan Nam menampar Woohyun dengan keras hingga cetakan tangan pria paruh baya itu terlihat jelas di pipi kanan Woohyun.
Woohyun masih tenang, namun wajahnya kini sama terlihat marahnya dengan sang kakek. Ia mendengus.
"Aku pergi!" Ucapnya kemudian menarik tangan Sunggyu pergi dari ruangan tersebut. Menyisakan sang kakek yang masih berusaha mengontrol emosinya serta keluarga Kwon yang belum tersadar dari keterkejutannya. Yura merenggut dan menatap kepergian Sunggyu dan Woohyun dengan tatapan penuh kebencian.
. . .
"Kau baik baik saja?" Tanya Sunggyu pelan takut membuat Woohyun meledak lagi kemarahannya. Ia memandang khawatir ke arah Woohyun yang tengah duduk di atas kap mobilnya. Pemuda manis itu sudah ganti baju kembali menggunakan seragam sekolahnya.
"Seolah kau peduli saja!" Jawab Woohyun dingin.
"Huuuft" Sunggyu menghela nafas panjang dan lama menahan emosinya agar tak membludak mendengar jawaban dingin Woohyun..
"Misiku sudah selesai bukan? Kalau begitu aku pamit" Sunggyu membungkukkan tubuhnya dan mengambil tas miliknya yang sudah dibawakan bodyguard Woohyun.
"Aku akan mengantarmu.." Sunggyu tertegun, tak percaya mendengar ucapan yang menurutnya sedikit perhatian itu keluar dari mulut Woohyun. Hallooo, ini Nam Woohyun, pria yang selalu ketus dan membentak Sunggyu sejak mereka pertama kali bertemu.
Sunggyu memandang lama wajah Woohyun. "Kau… Tak kehilangan ingatanmu setelah ditampar kan?" Tanyanya polos.
"Ck, bodoh!" Ujar Woohyun sambil berlalu masuk ke dalam mobil mewahnya.
"Cepat masuk mobil, lamban sekali" teriak Woohyun membuat Sunggyu dengan reflex berlari masuk ke dalam mobil Woohyun juga.
. . .
Sunggyu berjalan dengan pelan menuju sekolahnya pagi itu. Ia berangkat lebih pagi dari biasanya hari ini, jadi ia bisa sedikit bersantai dalam perjalanannya. Pikirannya menerawang kembali pada peristiwa semalam. Saat ia melihat dengan mata kepalanya sendiri Tuan Nam, pemilik Namstar Corp dan Namstar High School menampar cucu semata wayangnya di hadapan orang lain. Selama ini ia berpikir hubungan antara orang kaya itu harmonis harmonis saja, hingga ia menarik kesimpulannya kembali.
Dan lagi, Woohyun itu sudah gila atau tidak waras sih? Tunggu, itu sama saja! Tapi memang apa yang dilakukan pewaris Namstar kemarin benar benar tak masuk akal, menyuruh Sunggyu berpenampilan seperti seorang wanita dan mengakuinya sebagai gadis yang dicintai Woohyun di hadapan orang yang akan dijodohkan dengannya. Sunggyu merutuki kebodohannya yang mudah tergoda dengan 10 juta won yang ditawarkan Woohyun hingga harus berada dalam situasi sesulit ini.
Sunggyu memegang pipinya yang membeku karena udara dingin dengan kedua tangannya. Pipinya sedikit memerah saat mengingat Woohyun yang mengakui Sunggyu sebagai orang yang dicintainya, walaupun Sunggyu tau itu hanya sebuah sandiwara picisan.
"Oppaaaa, awas! Max mengejarmu!" Saat Sunggyu masih sibuk dengan pemikirannya, terdengar dengan jelas teriakan gadis kecil tetangga Sunggyu. Ia berbalik dan terkejut saat melihat anjing peliharaan tetangganya tersebut sedang berlari ke arahnya. Refleks Sunggyu ikut berlari menghindari anjing yang terlihat seperti habis suntik rabies itu..
"Aaaahh, Max! Kenapa kau suka sekali mengejarku!" Teriak Sunggyu frustasi.
Nafas Sunggyu memburu dan saat tiba di perempatan, tanpa ragu Sunggyu naik pagar rumah besar bercat putih yang sering terdengar bunyi piano dari dalam rumahnya itu.
Hosh hosh, Sunggyu berusaha mengatur nafasnya yang terengah engah.
"Dasar anjing jelek!" Maki Sunggyu kepada Max yang menunggunya di luar pagar.
"Kau... Siapa?" Sunggyu hampir terkena serangan jantung kembali saat mendengar seseorang berbicara kepadanya. Seseorang yang baru saja keluar dari rumah menyeramkan itu.
Sunggyu salah tingkah saat melihat pemuda mungil tersebut sudah di belakangnya sambil memandangnya datar.
Ia ingat, pemuda mungil itu yang ia lihat saat malam hari bersama Dongwoo. Pemuda mungil dengan rambut berwarna pirang.
"Itu.. Aku.. Aku" ucap Sunggyu gelagapan.
"Kau, murid Namstar?" Tanya pemuda mungil itu kembali.
. . .
"Kau.. Murid Namstar?" Tanya pemuda bertubuh mungil di hadapan Sunggyu sambil melirik seragam yang dikenakan Sunggyu.
"I-iya.. Kau tau Namstar High School?" Sunggyu sekedar memastikan karena selama 2 tahun ia bersekolah di sekolah tersebut, ia bersumpah tak pernah melihat pemuda di hadapannya. Tak mungkin pemuda mungil itu sunbaenya terdahulu karena ia terlihat lebih muda daripada Sunggyu.
"Aku Lee Sungjong. Siapa namamu?" Pemuda imut bernama Lee Sungjong itu mengulurkan tangannya di hadapan Sunggyu. Sunggyu sedikit ragu untuk meraihnya namun tak lama, ia membalas uluran tangan Sungjong.
"Aku Sunggyu, Kim Sunggyu.."
"Kulihat kau sering lewat jalan ini? Kau tetanggaku" Sungjong sepertinya memiliki bakat berwajah datar, bahkan saat ia menanyakan apakah Sunggyu tetangganya atau bukan itu seperti gurauan konyol di mata Sunggyu.
"Ya, aku tinggal di blok III jadi sering lewat depan rumahmu, aku tau dari ayahku kalau kau baru pindah disini?"
Sunjong mengangguk, ia berjalan menuju teras rumah mewah tersebut dan duduk di bangku yang ada di situ. Karena penasaran Sunggyu bergerak untuk mengikutinya.
"Benar sekali, aku baru saja pindah kemari.."
"Kau tinggal sendirian? Yang sering memainkan piano di malam hari itu dirimu ya?" Sunggyu ragu, namun ia terlanjur penasaran dengan dentingan piano yang selalu ia dengar setiap kali pulang malam.
Lagi lagi Sungjong mengangguk..
"Aku tidak tinggal sendiri, aku bersama beberapa pembantuku tinggal di rumah ini. Dan memang setiap malam aku memainkan piano untuk memenuhi janjiku pada seseorang"
"Seseorang?" Sunggyu menautkan kedua alisnya,
"Hm, seseorang yang sudah pergi" terjadi perubahan pada raut wajah Sungjong. Sebelumnya pria manis itu selalu menampilkan wajah datar, namun kini wajahnya terlihat penuh kesedihan memunculkan rasa bersalah pada hati Sunggyu.
"Kau tak merasa sudah terlambat?" tanya Sungjong memecah keheningan yang terlanjur terjadi.
Sunggyu mendongak kemudian melirik jam tangannya. Matanya kembali membulat.. "Astagaaa.. Aku akan menjadi santapan empuk Sukjin Ahjussi lagi" ia menjadi panik sendiri, membuat Sungjong tak dapat menahan senyuman yang terbentuk di bibir tebalnya.
"Aku pergi dulu yaa Sungjong ah, senang berkenalan denganmu" Sunggyu mengulas senyuman kemudian pamit kepada Sungjong.
"Hati hati dijalan, sering seringlah main ke rumahku" ucapannya terdengar tulus dengan sedikit nada memohon.
"Tentu saja.." Jawab Sunggyu tanpa ragu.
. . .
Sepertinya sudah menjadi kebiasaan Sunggyu sekarang untuk beristirahat di bawah pohon maple di sisa jam istirahat sekolah. Berharap kembali mendapat momen indah untuk bertemu dan mengobrol bersama Myungsoo disana. Siang itu, setelah mendapatkan makan siangnya, Sunggyu kembali bersantai sejenak di bawah pohon maple. Ia memejamkan kedua matanya, merasakan semilir angin musim gugur yang masih terasa dingin, semakin dingin malah karena musim dingin hampir tiba.
Ia menghembuskan nafas panjang, berharap hidupnya yang rumit dapat kembali normal setelah melakukannya. Pikirannya masih berkecamuk, Sunggyu masih belum mendapatkan restu dari ayahnya untuk ikut tour musim dingin sedangkan janjinya kepada Myungsoo sudah terlanjur terucap, tak mungkin ia menarik kembali kata katanya yang dapat membuatnya selangkah lebih maju dalam usahanya melakukan pendekatan kepada Myungsoo.
Dan, Nam Woohyun. Untuk yang satu ini, membuat Sunggyu berusaha berpikir lebih keras hingga kepalanya bertambah pusing. Entah dosa besar apa yang ia perbuat di masa lalu sebelum bereinkarnasi hingga harus terlibat kontrak menjadi evil servant seorang Nam Woohyun. Tepat, Nam Woohyun memang seperti seseorang yang menyeramkan di mata Sunggyu, seperti hantu hantu wanita yang muncul dari sumur keramat yang mereka panggil Sadako!
Puuk, lagi lagi sesuatu yang hangat menyentuh puncak kepala Sunggyu. Pemuda manis itu tersenyum dalam kegiatannya memejamkan mata.
"Sepertinya sudah menjadi hobby mu melamun dibawah pohon maple Gyu?" Myungsoo kembali menghampiri Sunggyu dengan membawakan minuman hangat kalengan.
"Myungsoo Sunbae! Aku senang berada disini, membuat pikiranku sedikit lebih tenang." Sunggyu menegakkan tubuhnya yang bersandar di pohon maple, jantungnya kembali berdetak mendapati sang pujaan hati berada di dekatnya kembali. Myungsoo duduk di sebelah Sunggyu dan memberikan minuman hangat kalengan di tangannya.
"Kau benar. Duduk disini benar benar membuat hati tenang!" ucapan Myungsoo yang disertai senyuman malaikat khasnya membuat semburat berwarna merah muda itu kembali muncul di kedua pipi chubby Sunggyu. Pemuda manis itu kemudian menundukkan kepalanya, takut tertangkap basah Myungsoo karena pipinya merona.
"Gyu, boleh aku bertanya sesuatu?" Sunggyu yang sedang meneguk minuman hangatnya menoleh ke arah Myungsoo kemudian mengangguk.
"Kau punya hubungan apa dengan Woohyun?"
"Uhuk" Lagi lagi Sunggyu tersedak minumannya. Ia menatap Myungsoo dengan lekat, takut sang pujaan hati salah paham melihat hubungannya dengan Woohyun yang terbilang cukup aneh.
"A-aku dan Woohyun tak ada hubungan apa apa Sunbae. Hanya sedikit terikat karena ketidaksengajaan?"
"Maksudmu?" Myungsoo mengernyitkan alisnya karena tak mengerti ucapan Sunggyu.
Sunggyu menghela nafas perlahan..
"Beberapa hari yang lalu, secara tak sengaja sepatuku terlempar ke arahnya dan membuat dahinya sedikit membengkak. Ehm, bukan sedikit, dahinya benar benar membengkak sepertinya.." Sunggyu terlihat ragu untuk menjelaskannya kepada Myungsoo, ia meremas pelan jas seragam sekolahnya.
"Lalu..?" Myungsoo hanya tersenyum melihat tingkah Sunggyu yang menurutnya sangat imut, dan lagi apa yang diucapkan pria manis itu benar benar membuatnya tertarik untuk menyimaknya.
"Hmm, karena insiden itu, aku jadi terikat kontrak dengannya.." Sunggyu merenggut, teringat kembali ucapan Woohyun yang membuatnya kesal.
"Kontrak?"
"Iya Sunbae, aku harus mematuhi semua perintahnya selama aku bersekolah disini.."
"Terdengar mengerikan.." sahut Myungsoo.
"Sangat, ia bahkan lebih mengerikan daripada hantu Sadako!" ucapan spontan Sunggyu membuat Myungsoo terkekeh. Hoobaenya ini selalu membuatnya tersenyum tanpa sadar.
"Apa yang bisa kulakukan untuk membantumu Gyuyie?" kali ini giliran Myungsoo yang menatap Sunggyu lekat, seolah mewakili perasaannya yang tak senang saat melihat Sunggyu menghampiri Woohyun tempo hari.
"G-gyuyie?" Sunggyu tercekat mendengar panggilan yang mengalir mulus dari bibir Myungsoo. Ia terbiasa dipanggil seperti itu oleh ayahnya atau Sungyeol. Tetapi, mendengarnya dari mulut Myungsoo membuatnya merasakan sensasi berbeda. Ia seperti melayang diikuti ribuan kupu kupu yang menggelitik perutnya.
"Boleh kan aku memanggilmu seperti itu? Kurasa panggilan manis itu cocok untukmu"
Sunggyu tersenyum lebar kemudian mengganggukan kepalanya "Tentu saja Sunbae, kau boleh memanggilku seperti itu" ujarnya mantap.
Sunggyu meneguk minumannya lagi, kemudian ia teringat kembali ucapan Woohyun kepada Myungsoo tempo hari ketika ia ditarik paksa oleh Woohyun di bawah pohon maple.
"Aku boleh bertanya sesuatu juga padamu Sunbae?" tanya Sunggyu terdengar sedikit ragu.
"Apa?"
"Saat itu Woohyun bilang soal aib keluargamu. I-itu sedikit membuatku penasaran" Sunggyu kembali meremas jas seragamnya.
Myungsoo tersenyum, kemudian mengarahkan pandangannya ke lapangan soccer yang ada di hadapannya. Sorot matanya meredup seolah mengingat sesuatu yang tak ingin dia ingat kembali. Perubahan raut wajah Myungsoo memunculkan rasa bersalah dalam hati Sunggyu, ia merutuki kebiasaannya yang selalu penasaran terhadap segala hal yang berhubungan dengan pria bersenyum malaikat itu.
"Kalau kau tak mau cerita juga tak apa Sunbae.." ujar Sunggyu masih dengan kegiatan meremas seragam sekolahnya.
"Aku berteman baik dengan Woohyun dulu.." Sunggyu mendongak dan terkejut karna tak menyangka Myungsoo mau bercerita kepadanya.
"Bukan hanya dengan Woohyun, sebelum dia berangkat ke London untuk bersekolah disana, aku berteman baik dengannya juga dengan sahabat kami yang lain, Park Taejun. Tapi aku membuat kesalahan besar yang menyebabkan Taejun pergi meninggalkan kami. Woohyun marah padaku, dan memutuskan untuk menerima tawaran Tuan Nam untuk bersekolah di luar negeri.." Myungsoo mengambil jeda, ia memejamkan matanya berusaha mengatur tempo detak jantung yang semakin cepat. Sunggyu sendiri hanya memandang wajah Myungsoo dengan tatapan penuh kasih. Ia merasa bingung bagaimana baiknya menghibur Sunbae di hadapannya.
"Kurasa Woohyun hanya salah paham. Ia akan membaik setelah Taejun Sunbae kembali. Semangatlah Sunbaenim" Sunggyu berusaha menghibur Myungsoo dengan mengepalkan kedua tangannya ke udara dan membuat wajah seceria mungkin.
"Taejun tak akan kembali.."
"Eh?"
"Dia tak akan kembali Sunggyu yah, karena Tuhan sudah memanggil Taejun ke sisiNya.." Sunggyu tertegun, ia tak menyangka Myungsoo dan Woohyun ternyata memiliki masa lalu yang tak biasa. Kini Sunggyu hanya bisa menyesali keputusannya bertanya kepada Myungsoo karena ia seperti membuka luka lama pria tampan dengan senyuman malaikat itu.
Sunggyu terdiam bersama Myungsoo yang masih memejamkan matanya. Pemuda bermata sipit itu tak berani menanyakan lebih lanjut bagaimana Park Taejun bisa meninggal dan menyebabkan permusuhan antara Myungsoo dan Woohyun. Ia hanya menunggu hingga Myungsoo sendiri yang akan bercerita, saat ini ia hanya ingin Myungsoo tak kembali tertekan. Ya, hanya itu saja…
. . .
Woohyun menatap tajam dua orang yang sedang saling berbicara akrab di bawah pohon maple Namstar High School. Ia menatap mereka dari balik jendela kaca ruangan pribadinya yang berada di lantai teratas gedung sekolah tersebut. Pandangan Woohyun penuh amarah, kedua tangannya mengepal dengan keras hingga buku buku tangannya memutih. Ia masih menatap keluar hingga suara seseorang menginterupsinya.
"Tuan Muda Woohyun, anda ada kelas business management setelah ini" seorang pria paruh baya masuk dan mengingatkan Woohyun mengenai jam belajar khususnya. Khusus karena memang hanya Woohyun yang menjadi murid di kelas tersebut.
"Sebentar lagi, aku akan mempersiapkan bukuku dulu" ujar Woohyun sambil mengibaskan tangan kanannya memberikan isyarat agar pria paruh baya itu meninggalkan sendirian. Yang bersangkutan hanya mengangguk kemudian membungkuk dan berjalan keluar ruangan tersebut.
Woohyun kembali melayangkan pandangannya ke arah pohon maple sekolah, kemudian menggigit pelan bibir bawahnya.
"Taejun ah, apa yang harus kulakukan?" lirih Woohyun pelan.
Flashback
"Oi Park Taejun! Apa yang kau lakukan?" seorang anak laki laki berparas tampan menghampiri anak laki laki lain berparas ulzzang yang sedang sibuk melakukan sesuatu.
"Nam Woohyun, aku sedang sibuk. Jangan mengangguku!" anak laki laki bernama Park Taejun itu melancarkan protes saat kegiatannya terusik.
Woohyun semakin penasaran, ia berjalan mendekat ke arah Taejun dengan membawa kamera DLSR ditangannya. Matanya menyipit saat melihat kegiatan yang sedang dilakukan sahabat karibnya.
"Origami?" tanya Woohyun penasaran.
Taejun tersenyum sambil masih sibuk sendiri.
"Yup! Aku sedang berusaha membuat 1000 origami Tanchou!" sahut Taejun dengan semangat.
"Tanchou?" Woohyun menautkan kedua alisnya.
"Burung bangau, bodoh!"
"Ish, kau yang bodoh! Untuk apa membuang waktu dengan melakukan hal tak berguna begitu!" Woohyun berdecak kesal kemudian lebih memilih memainkan kamera DLSR di tangannya.
Taejun menghentikan sejenak kegiatan melipat kertasnya dan berbalik menghadap ke arah Woohyun.
"Kau tau? Membuat 1000 bangau diartikan sebagai 1000 harapan dalam hati manusia. Jika seorang manusia berhasil dalam usahanya membuat 1000 lipatan bangau kertas tersebut, kemudian mempersembahkannya kepada orang yang disayanginya, maka harapan kita terhadap orang kita sayangi itu akan terkabul" Taejun terlihat sangat bersemangat menjelaskan perihal origami kepada Woohyun.
"Itu hanya filosofi konyol. Jangan kau percaya! Kau bodoh jika percaya mitos itu di zaman modern seperti sekarang" Woohyun terlihat lebih tertarik dengan kamera di tangannya.
"Aku suka hal konyol!" cibir Taejun, ia berbalik kembali melipat kertas di atas meja.
"Tsk, kalau Myungsoo tau, dia bisa habis habisan menertawakanmu"
"Myungsoo tak kejam seperti dirimu. Aku yakin dia akan lebih mengerti.."
"Tak ada yang lebih mengerti dirimu selain aku Park Taejun!"
Taejun tersenyum.
"Ya, kau benar Hyun. Kau memang sahabat terbaikku dan Myungsoo sahabat terbaikku yang kedua! Kalian sama pentingnya untukku"
Woohyun kembali tersenyum, ia memandang intens ke arah Taejun.
"Lalu siapa yang akan kau selamatkan jika kami berdua terjebak di sebuah kapal yang akan karam"
"Tentu saja aku akan menyelamatkan kalian berdua!"
"Kau harus memilih karena kapal itu hanya bisa mengangkut 2 orang saja!"
"Kalau begitu aku akan menyelamatkan kalian berdua dan terjun ke laut agar kapal itu tidak karam, simple bukan?" sahut Taejun mantap. Woohyun tertegun kemudian berdecak tak percaya.
"Obrolan ini semakin membuatku takut."
"Ini hanya bentuk sayangku kepada kalian, karena kalian benar benar penting dalam hidupku yang menyedihkan ini."
"Berhenti mengasihani hidupmu sendiri Park Taejun!"
"Yess, Sajangnim" teriak Taejun mantap sambil memberi hormat kepada Woohyun membuat Woohyun terkekeh geli dibuatnya.
Flashback End
"Kau bahkan belum menyelesaikan rangkaian 1000 origami Tanchou itu Taejun ah" Lirih Woohyun semakin pelan hampir berbisik.
. . .
"Jadi bagaimana?" Baro berbicara serius.
"Lebih baik kita ke rumahnya saja!" sahut Jinyoung dengan mimic muka lebih serius.
"Ini tak akan berhasil!" Sungyeol terlihat lemas.
"Tak ada salahnya mencoba kan? Kau tau mau Sunggyu ikut tour musim dingin itu?" Sandeul menasehati Sungyeol yang mulai terlihat berlebihan.
"Kalian tak tau sejarah bagaimana Ayah Sunggyu bisa membenci ski" Sungyeol makin lemas.
"Oh ya, kau mengatakan kalau Ayah Sunggyu membenci ski karena Ibunya? Maksudnya bagaimana?" Sandeul semakin penasaran terhadap Sungyeol.
Sungyeol menghela nafas panjang dan mulai bercerita.
"Aku dan Sunggyu berteman sejak kecil. Saat usia Sunggyu 10 tahun, ia dan keluarganya pergi berlibur ke resort ski. Tapi Paman Kim melupakan peringatan dari penjaga resort tentang badai salju dan tetap meluncur bersama Bibi Kim hari itu. Sunggyu tak ikut karena sedang flu, dan badai salju pun datang…" Sungyeol sejenak mengambil jeda diiringi tatapan mata Sandeul, Jinyoung dan Baro yang setia mendengarkan kisah Sunggyu melalui cerita Sungyeol.
"Lalu.." suara Baro memecahkan keheningan tersebut.
"Mereka terjebak di puncak saat badai salju datang, hanya Paman Kim yang berhasil diselamatkan sedangkan Bibi Kim tak selamat karena terkena hipotermia akut, paru parunya membeku.."
"Aku tak menyangka, anak seceria Sunggyu punya masa lalu seperti itu" Jinyoung terlihat akan menangis saat Sungyeol mengakhiri ceritanya.
"Yaa, jadi menurutku biarkan Sunggyu yang berbicara kepada Ayahnya saja, jika Paman Kim masih belum memberikan restunya, kita harus menghormati keputusannya itu"
"Yeol, kau tau. Selama kita berteman, baru kali ini aku merasa omonganmu ada benarnya!" Sungyeol merenggut saat Baro terlihat dramatis dengan memegang erat bahu Sungyeol dan menampakkan wajah penuh keprihatinan.
"Ish, kau ini! Dengar ya, hanya Sunggyu yang boleh memegang bahuku!" hardik Sungyeol membuat Baro terkejut dan menarik kembali tangannya. Ia memanyunkan bibirnya kesal dengan teriakan Sungyeol.
"Dasar aneh" gumam tiga sekawan itu.
. . .
Malam hari selepas menyelesaikan jam belajar malamnya, Sunggyu menunggu Dongwoo untuk pulang bersama. Pemuda manis itu melongok ke kanan dan ke kiri, mencari keberadaan Dongwoo namun nihil ia sama sekali tak melihat sosok sepupu anehnya itu dimana pun. 30 menit sudah berlalu, dan itu cukup untuk membuat Sunggyu kesal dan memutuskan untuk menghubungi Dongwoo.
"Yeboseyo.." sahut Dongwoo di seberang panggilan.
"Hyung, kau dimana? Bukankah kau mau pulang bersamaku!" Sunggyu menjawab sahutan Dongwoo dengan nada kesal dalam suaranya.
"Oh, Sunggyu yah. Aku lupa memberitahumu, hari ini aku pulang cepat karena harus mengantar ibuku ke klinik"
"Bibi sakit apa, Hyung?" nada suara Sunggyu berubah menjadi khawatir.
"Tak apa, hanya penyakit karena sudah tua. Pinggangnya kambuh lagi. Maaf ya, tolong beritahu Paman Kim juga.."
"Ah, nde. Tentu saja, kabari aku kalau ada apa apa Hyung!"
"Okkkeee. Sudah yaa"
Sunggyu menutup sambungan telepon itu dan menghela nafas pelan, jika Dongwoo memberitahunya lebih dulu ia tak perlu repot menunggu lama di gerbang sekolah. Tapi, ia tak bisa menyalahkan kakak sepupunya itu karena pasti ia tak bisa memecah konsentrasinya saat mengantar Ibunya ke klinik.
Sunggyu kembali menghela nafas hingga tercipta kabut dari mulutnya. Ia akan berjalan pulang saat suara seseorang menahannya.
"Gyu!" Sunggyu menoleh dan mendapati Myungsoo berlari ke arahnya. Pipinya kembali memanas.
"Oh, Myungsoo Sunbae" pemuda bermata sipit itu menjawab panggilan Myungsoo dengan memasang sebuah senyuman manis di bibir tipisnya.
"Kau mau pulang?" tanya Myungsoo.
"Hmm" Sunggyu mengangguk.
"Ayo aku antar!" tanpa mendengar jawaban Sunggyu terlebih dahulu, Myungsoo menarik tangan Sunggyu menuju mobilnya yang sudah menunggu di depan gerbang.
"Eh!" Sunggyu hanya melongo saat tangan halus Myungsoo bersentuhan dengan tangannya. Jantungnya kembali berdetak cepat, dan ia hanya bisa tersenyum karena kembali mendapatkan keberuntungan bisa dekat kembali dengan Sunbae favoritnya itu. Tanpa Myungsoo ataupun Sunggyu sadari, sepasang manic tajam menatap kepergian mereka dari dalam mobil Lamborghini merah yang terparkir tak jauh dari mobil Myungsoo terparkir.
. . .
Setelah terjebak dalam kecanggungan selama 15 menit akhirnya Sunggyu dan Myungsoo tiba di rumah pemuda bermata sipit itu.
"Aku masuk dulu ya Sunbae, terima kasih sudah mengantarku" Sunggyu berusaha menampilkan senyuman terbaiknya sebelum masuk kedalam rumah.
"Gyu, tunggu!" tangan Myungsoo kembali menarik tangan Sunggyu saat ia akan berbalik.
Sunggyu menautkan kedua alisnya tak mengerti.
Myungsoo terlihat kikuk, ia mengelus tengkuknya sambil tersenyum tak jelas kemudian merogoh sesuatu dari saku mantelnya. Sebuah kotak berwarna putih salju.
"Ini.." lanjut Myungsoo sembari menyodorkan kotak berwarna putih itu kepada Sunggyu.
Sunggyu semakin tak mengerti, namun jantungnya semakin berdetak cepat karena menerima barang dari Myungsoo "A-apa ini Sunbae?"
Myungsoo tersenyum.
"Hanya kado kecil dariku. Kuharap kau mau memakainya saat tour musim dingin nanti"
Sunggyu tertegun, tak menyangka Myungsoo benar benar mengharapkannya ikut tour itu sampai sampai pria tampan itu memberikannya sebuah kado. Rasanya Sunggyu ingin menangis saat itu juga.
"Kau baik baik saja Gyu?" tanya Myungsoo khawatir karena Sunggyu hanya terdiam memandangi kado darinya. Ia mengibaskan tangannya di depan wajah Sunggyu.
Sunggyu tersentak "Ah, iya, aku tak apa apa. Terima kasih kadonya Sunbae, aku pasti akan memakainya!" Jawab Sunggyu kikuk.
"Ok, kalau begitu aku pulang dulu"
Myungsoo terlihat ragu, namun tak lama ia berjalan mendekati Sunggyu. Sunggyu hanya bisa memandangnya dengan mata yang berusaha melebar, detak jantungnya sudah tak karuan karena tatapan intens dari Myungsoo. Ia menggenggam erat kado dari Myungsoo, sedikit bergetar karena effect tatapan pria tampan di hadapannya. Saat jarak mereka semakin tereliminasi, bibir Myungsoo mendekati bibir tipis Sunggyu. Sunggyu terkejut kemudian menutup matanya saat hembusan nafas Myungsoo yang hangat terasa menyapu wajahnya yang membeku.
Chuu.. Myungsoo mencium Sunggyu di pipi. Ia berubah pikiran, saat bibirnya hanya tinggal berjarak satu centimeter dengan bibir Sunggyu, ciumannya ia alihkan ke pipi chubby Sunggyu. Cukup lama Myungsoo mengecup pipi mulus Sunggyu hingga kemudian pemuda tampan itu melepaskan ciumannya.
Sunggyu tertegun, ia membuka kembali kelopak matanya. Pipinya semakin terasa panas saat udara luar semakin dingin. Ia memberanikan diri menatap Myungsoo yang tengah memasang senyuman indah.
"Selamat malam Gyuyie. Mimpi indah" sapaan terakhir Myungsoo sebelum ia beranjak masuk ke dalam mobilnya. Kepergian Myungsoo menyisakan Sunggyu yang masih membeku di tempatnya sambil memegangi dadanya yang berdetak semakin tak karuan. Sunggyu memegang kedua pipinya sembari senyum senyum tak jelas.
"Ehem!" suara seseorang mengagetkan Sunggyu yang masih berkutat dengan pikirannya. Sunggyu terkejut kemudian berbalik.
"A-ayah.." ujar Sunggyu gelagapan. Sejak kapan Yesung berdiri di daun pintu sambil menyilangkan kedua tangannya? Dilihat dari seringaian yang terbentuk di wajah Ayahnya, Sunggyu yakin kalau sang Ayah melihat kejadian tadi.
"Kenapa kau gelagapan Gyu? Seperti maling yang tertangkap basah saja!" seringaian Yesung semakin melebar.
"A-aku tak apa apa!" Sunggyu berusaha menutupi gugupnya walaupun ia tau caranya sangat konyol.
"Aku melihatnya looohhhh!" Yesung kini menggoda Sunggyu dengan menaikturunkan kedua alisnya.
"A-aku, i-itu. Dia hanya temanku Ayah!"
"Lebih dari teman juga tak apa. Kulihat dia anak yang baik" ujar Yesung terdengar bijak namun belum menghilangkan seringaian di wajahnya.
Sunggyu kembali merasakan pipinya memanas, tanpa menghiraukan perkataan Yesung ia buru buru masuk kedalam rumah dengan menundukkan kepalanya.
Yesung tertawa kencang sebelum bergumam "Kenapa aku seperti memiliki anak perempuan?"
. . .
Sunggyu memandang tak suka ke arah pria di hadapannya dengan menyilangkan kedua tangan di dada. Kedua alis mengernyit dengan mulut tak henti hentinya komat kamit mengeluarkan kalimat makian yang tertahan. 15 menit yang lalu, Woohyun mengiriminya pesan di tengah jam pelajaran sejarahnya dan mengatakan kalau ia memiliki misi lagi untuk Sunggyu. Namun, setibanya di ruang pribadi Woohyun, ia melihat bertumpuk tumpuk kertas lipat dan kalimat yang dilontarkan Woohyun berikutnya membuatnya tak habis pikir.
"Buatkan aku 1000 origami burung bangau!" titah Woohyun dengan santai kemudian memainkan tab mahal di tangannya.
"Origami?"
"Kau tak tau origami? Aigoo, kau benar benar bodoh Kim Sung Ah!" ledek Woohyun.
Sunggyu mendelik.
"NAMAKU SUNGGYU, KIM SUNGGYU, dan jangan memanggilku bodoh, Bodoooh!" teriak Sunggyu membuat Woohyun hampir terjatuh dari kursi santainya.
"Yak, berani sekali kau berteriak padaku! Dan terserah padaku mau memanggilmu apa, kau tak memiliki hak apapun untuk protes!" Woohyun ikut memelototkan matanya ke arah Sunggyu karena Sunggyu belum menghilangkan tatapan kebencian dari sorot matanya.
Sunggyu hampir kehilangan detak jantungnya karena terlalu marah, ia menarik nafas panjang dan lama.
"Kau tau? Seharusnya kau ke psikiater Nam Woohyun, supaya jiwamu cepat sembuh" celetuk Sunggyu sinis namun tubuhnya bergerak menuju meja yang di atasnya terdapat bertumpuk kertas lipat. Ia kesal, namun tetap menuruti perintah Woohyun.
"Jiwaku baik baik saja, yang bermasalah itu dirimu. Mungkin Tuhan sedang kebingungan saat akan menciptakanmu apakah menjadi wanita atau pria? Karena aku sama sekali tak melihat pria di hadapanku." kalimat santai Woohyun tersebut mengakibatkan sebuah gumpalan kertas lipat berwarna kuning melayang ke keningnya. Sunggyu yang melakukannya. Ia terlanjur kesal dan dengan reflex kembali melempar benda ke kepala Woohyun. Woohyun mengelus keningnya yang kembali menjadi korban lemparan tangan Sunggyu.
"Yak, kalau keningku kenapa kenapa, aku akan menuntutmu ke pengadilan!" protes Woohyun sembari terus mengelus keningnya.
"Terserah saja padamu Tuan Muda Nam!" Sunggyu sudah tak mau mengiraukan Woohyun lagi. Ia mulai sibuk melipat kertas di atas meja menjadi burung bangau. Sekarang sudah yang kedua, dalam hati Sunggyu mengeluh, entah berapa waktu yang ia butuhkan jika 1000 bangau yang Woohyun minta. Ia melirik ke arah Woohyun yang kembali sibuk dengan tabnya.
"Hei, Nam Woohyun. Aku tak mungkin menyelesaikan ini sendirian. Bantu aku!"
"Kau harus menyelesaikannya sendiri, kalau perhari kau bisa membuat 50 burung bangau. Misi dariku ini bisa kau selesaikan dalam 20 hari, mudah kan?"
"Li-lima puluh? Yak yak, tanganku bisa keriting kalau begitu!" Sunggyu kembali melancarkan protes yang lagi lagi hanya direspon santai oleh Woohyun.
"Kalau kau keberatan, kau boleh segera keluar dari sekolah ini!"
"Ish, smoga Tuhan mengampunimu, smoga Tuhan mengampunimu" gumam Sunggyu berulang kali.
Woohyun hanya tersenyum puas melihat Sunggyu yang terus mengerutu. Ia meletakkan tabletnya kemudian bergerak mendekat ke arah pria manis itu.
"Oi, Kim Sung Ah"
"Sunggyu!"
"Terserah.. Kau tau sejarah bagaimana mitos 1000 burung bangau menjadi terkenal di Jepang?"
"Aku tak punya kepentingan untuk mengetahuinya" Jawab Sunggyu masih dengan nada ketus dan tangan yang terus melipat kertas.
Woohyun tak menghiraukan kalimat ketus Sunggyu dan melanjutkan ceritanya.
"Kau tau? Membuat 1000 bangau diartikan sebagai 1000 harapan dalam hati manusia. Jika seorang manusia berhasil dalam usahanya membuat 1000 lipatan bangau kertas tersebut, kemudian mempersembahkannya kepada orang yang disayanginya, maka harapan kita terhadap orang kita sayangi itu akan terkabul…"
"Hooo.."
"Sebenarnya itu hanya filosofi. Karena kisah sebenarnya berasal dari zaman perang dunia kedua saat seorang anak kecil bernama Sadako Sasaki terkena Leukimia akibat radiasi yang muncul setelah pengeboman kota Hiroshima, ia bertekad membuat 1000 origami burung bangau dengan harapan dapat sembuh dari penyakit mematikan itu"
"Sadako? Aku hanya tau nama itu seperti nama hantu dari sumur keramat?" gumam Sunggyu, ia kembali teringat panggilan untuk Woohyun yang ia lontarkan saat mengobrol dengan Myungsoo.
"Ck, otakmu hanya berisi hal tak berguna ternyata!" hardik Woohyun.
Sunggyu mencibir "Lalu apa yang terjadi?"
"Dia meninggal setelah membuat burung bangau ke 644, dan setelah kematiannya masyarakat Jepang membuatkan tugunya yang sedang memegang burung bangau emas sebagai symbol kegigihan, harapan dan perdamaian"
"Whoaa, Nam Woohyun! Aku tak menyangka kau bisa tau banyak hal seperti itu" Sunggyu berusaha semaksimal mungkin memuji Woohyun, namun sang objek pujian terlihat tak tertarik.
"Aku tau dari sahabatku, Taejun!" Ujar Woohyun santai kemudian meraih tabnya kembali.
Jemari tangan Sunggyu terhenti saat ia mendengar nama yang terlontar dari mulut Woohyun. Ia menggigit bibir bawahnya sebelum menoleh ke arah Woohyun yang masih asik dengan kegiatan memainkan tablet komputernya.
"Park Taejun?" tanya Sunggyu ragu.
Woohyun memicingkan matanya "Kau tau darimana?"
Sunggyu menatap Woohyun dengan tatapan, yang bisa dikatakan seperti tatapan seseorang yang berusaha mengasihani orang di hadapannya.
"Woohyun ah, sebaiknya kau berhenti memusuhi Myungsoo Sunbae karena kesalahan yang pernah dilakukannya pasti karena ketidaksengajaan. Aku harap kau bisa memaafkannya, dan aku juga yakin di alam sana Taejun Sunbae tak akan senang kalau kau bermusuhan dengan Myungsoo Sunbae. Bukankah kalian dulu berteman baik?" ucapan Sunggyu terdengar sangat lembut.
Woohyun meradang mendengar perkataan Sunggyu, kalimat yang dilontarkan pria manis itu membuat kemarahan yang sebelumnya sudah mereda kembali tersulut. Woohyun marah, ia merasa tak seharusnya Sunggyu ikut campur dalam urusannya dengan Myungsoo mengenai Taejun. Pria tampan itu kembali mendekati Sunggyu dan menarik Sunggyu dengan kasar.
"Akkhh!" Sunggyu meringis saat Woohyun menghempaskan dengan kencang tubuh Sunggyu ke dinding yang ada di dekat mereka hingga Sunggyu merasakan sakit di punggungnya.
Woohyun meletakkan kedua tangannya di kedua sisi kepala Sunggyu membuat pria manis itu kehilangan ruang geraknya.
"K-kau kenapa?" Sunggyu melihat mata Woohyun yang penuh sorot kebencian, itu membuatnya semakin takut.
"Dengar Kim Sung Ah! Sebaiknya jangan ikut campur mengenai urusanku dengan Myungsoo karena itu benar benar mengusikku!"
Sunggyu menelan salivanya perlahan.
"Damn, Brengsek!" maki Woohyun kemudian memukul dinding di sebelah Sunggyu dengan kencang membuat Sunggyu reflex menutup kedua matanya. Pria tampan itu segera pergi masih dengan langkah penuh amarah. Sunggyu membuka kembali kedua matanya, saat suara bantingan keras pintu yang dilakukan Woohyun membuatnya terlonjak.
Ia memegang dadanya, jantungnya masih berdetak dengan kencang. Tak terasa buliran air bening memenuhi kedua mata Sunggyu, tubuhnya melemah, Sunggyu jatuh perlahan masih dengan memegangi dadanya.
"Kenapa aku menangis?" lirihnya pelan sambil menyeka airmata yang menumpuk di pelupuk mata sipitnya.
TBC
