Tittle : Pearls Of Namstar (Chap 4)

Main Cast : Kim Sunggyu

Other Cast : Nam Woohyun, Kim Myungsoo, Jang Dongwoo, Kim Yesung aka Sunggyu's father and others

Genre : School Life

Happy Reading ^^

Author POV

"Nam Woohyun bodoh, stupid, pabbo, bodoooohhh!" Sunggyu berkali kali meluapkan kekesalannya akibat bentakan Woohyun saat membuat origami sore tadi kepada teddy bear pemberian Sungyeol saat ulang tahunnya yang ke 15. Pemuda manis itu membanting, melempar, dan mengacak-acak(?) boneka malang itu hingga teddy bear Sungyeol kehilangan bentuk aslinya. Wajah Sunggyu sudah kusut dan merah padam. Ia merasa kesal dengan Woohyun tapi juga tak dapat menyangkal perasaan bersalah karena apa yang diucapkan Woohyun memang sepenuhnya benar. Sunggyu hanyalah orang asing bagi Woohyun dan Myungsoo dan tak seharusnya ia bersikap sok bijak dengan mencoba menasehati pewaris Namstar itu. Duh, kalau sudah begini, Sunggyu seperti menggali kuburannya sendiri jika Woohyun tak bisa memaafkannya.

Setelah beberapa menit menjadikan teddy bear Sungyeol sebagai pelampiasan, Sunggyu merasa lelah dan memilih untuk tidur di atas boneka tersebut. Perlahan ia mengambil nafas panjang dan mencoba mengatur perasaannya yang masih kacau balau. "Itu memang salahku?" gumamnya pelan, namun tak lama ia menggeleng dengan kencang. "Tapi tak seharusnya ia membentakku seperti itu! Dasar pohon jelek BODOH!" sedikit penekanan pada kalimat makian yang terakhir.

Mata Sunggyu menerawang pada langit langit kamarnya yang ditempeli stiker yang dapat menyala dalam gelap. "Park Taejun?" gumamnya pelan. Tak mau larut dalam rasa penasaran, Sunggyu meraih

laptopnya dan mulai menjelajahi halaman Daum. Ia menulis nama yang membuatnya penasaran setengah mati di kolom searching dan mulai menelusuri halaman demi halaman yang muncul. "Hmm, Park Taejun anggota boyband, bukan? Park Taejun ulzzang, bukan juga.."

Lama pemuda sipit itu menelusuri setiap halaman Daum hingga ekor mata sipitnya menangkap sebuah artikel yang menarik perhatiannya. "Eh, apa ini? Ini artikel berita kota empat tahun yang lalu?" gumamnya kembali kemudian membuka artikel tersebut. Dengan perlahan ia mulai membaca artikel yang ternyata sebuah web yang berisikan berita berita dalam kota.

"Park Taejun seorang warga lokal berusia 15 tahun, ditemukan tewas gantung diri di kamar apartemennya. Tak ada indikasi pembunuhan, kasus tersebut dinyatakan murni kasus bunuh diri. Hingga saat ini, masih belum diketahui penyebab bunuh diri korban. 25 Desember 2009 lalu, bertepatan dengan hari natal Hakim Kim Young Woon resmi menutup kasus tersebut sebagai kasus bunuh diri..." kening Sunggyu berkerut saat membaca nama hakim yang tercatat dalam artikel tersebut, ia merasa tak asing dengan nama itu. Setelah beberapa menit, ia berusaha membuat otaknya bekerja untuk mengingat tak lama matanya membelalak tak percaya. "Astaga, bukankah itu ayah Myungsoo Sunbae?"

. . .

"Masuk, tidak, masuk, tidak?" hampir sepuluh menit Sunggyu mondar mandir di depan ruang pribadi Woohyun. Ia merasa ragu, namun hati kecilnya terus memaksanya untuk melangkah meminta maaf kepada Woohyun, apalagi setelah ia membaca artikel semalam, Sunggyu semakin yakin permasalahan antara Woohyun dan Myungsoo terlalu complex. Pemuda manis itu menghirup nafas panjang dan lama, dengan gerakan pelan ia membuka pintu kayu ek yang kelewat besar itu dan berusaha mengintip ruangan pribadi Woohyun.

Sunggyu melihat Woohyun duduk di kursi santai yang membelakangi pintu masuk. Pemuda manis itu menelan ludahnya, dan memberanikan diri masuk ke dalam ruangan itu. Ia merasa sangat gugup bahkan melupakan adab untuk mengetuk pintu.

Setibanya di depan meja Woohyun, masih dengan Woohyun yang duduk membelakanginya..

"Hei, Nam Woohyun. A-aku mau meminta maaf. Aku sadar tak seharusnya aku mencampuri urusanmu dengan Myungsoo Sunbae. Yaa, walau tak sepenuhnya salahku karena memang tak seharusnya juga kau membentakku seperti itu.."

Hening, Woohyun tak bergeming dari posisinya.

"Ehm, Kau mau memaafkanku kan?" tanya Sunggyu kembali, ia sedikit kesal karena Woohyun terkesan seperti mengabaikannya.

"Oi, Nam Woohyun!" Sunggyu meninggikan suaranya. Sedangkan Woohyun masih belum berbalik.

Karena kesal, Sunggyu berjalan mendekati kursi Woohyun dan menarik pundak Woohyun dengan kasar.

"Hei, pohon jelek! Kau mendengarku tidak?" bentak Sunggyu.

"Apaaa?" sang objek bentakan terlihat kaget dan melepas earphone yang menempel di kedua telinganya. Rupanya saat Sunggyu mati matian menyusun kata kata untuk meminta maaf, Woohyun justru sedang mendengarkan musik dari ipodnya.

"Lupakan! Aku sudah tak ada niatan meminta maaf!" jawab Sunggyu ketus sambil berlalu dari hadapan Woohyun. Woohyun sedikit terkejut saat mendengar Sunggyu datang untuk meminta maaf, ada yang salah dengan otak pemuda manis yang sedikit keras kepala itu. Sejujurnya Woohyun sudah tak mempermasalahkan persoalan kemarin, ia sadar sedikit lepas kendali dengan membentak Sunggyu. Namun melihat Sunggyu yang meminta maaf dengan setengah hati membuatnya ingin sedikit mengerjai pemuda mirip hamster itu.

"Kau ingin meminta maaf?" tanya Woohyun kembali memastikan.

Sunggyu memutar bola matanya jengah, ia menyilangkan kedua tangan didadanya dan berujar "Yaa, saat kau sibuk dengan earphone sial itu. Aku sudah mengatakan smuanya, jadi kalau kau memintaku untuk mengulanginya sudah dipastikan 100% kalau aku sudah lupa!" jawabnya ketus. Woohyun menahan tawa melihat tingkah menggemaskan Sunggyu. Bagaimana tidak menggemaskan, baru kali ini Woohyun melihat seseorang meminta maaf dengan bersikap lebih galak daripada objek permintaan maafnya.

"Kau serius meminta maaf? Aku seperti melihat anak kecil yang terpaksa meminta maaf karena tak mau uang jajannya dipotong?" ledek Woohyun.

"Kau mau memaafkanku tidak sih?" Sunggyu kembali kesal karena Woohyun malah meledeknya.

Pemuda tampan di hadapan Sunggyu terlihat membuat pose berpikir, kemudian seringaian lebar tercetak di wajah tampannya membuat Sunggyu sedikit bergidik ngeri.

"Kau mau kumaafkan kan? Kalau begitu ikut aku!" ujar Woohyun kemudian menarik lengan Sunggyu.

"Eh!" Sunggyu hanya bisa melongo melihat tingkah pemuda tampan menyebalkan yang selalu seenaknya itu.

. . .

Mata sipit Sunggyu membelalak horor saat Woohyun membawanya ke tempat yang sangat membekas di dalam otaknya, butik tempat ia bertransformasi menjadi Kim Sung Ah. Sunggyu mencibir saat mengingat nama itu, kenapa sampai sekarang Woohyun masih memanggilnya dengan Kim Sung Ah? Mungkin ada yang salah dengan syaraf otaknya yang bertugas untuk mengingat atau memang pria menyebalkan itu memang suka membuatnya marah. Sunggyu mengendikkan bahunya, tak ingin tau lebih banyak dan melangkah masuk mengekor di belakang Woohyun.

"Oh, Tuan Muda Nam, selamat datang! Apa anda mencari gaun lagi?" wanita penjaga butik yang sama menyapa Woohyun dan Sunggyu. Dengan sedikit penekanan intonasi pada kata "gaun" ia melirik Sunggyu dengan tatapan bermaksud menggoda. Sunggyu menundukkan kepalanya karena terlalu malu.

"Tidak tidak, hari ini aku tak mencari gaun. Apa yang kalian punya untuk menyambut musim dingin?" tanya Woohyun tak menghiraukan Sunggyu yang masih menundukkan kepalanya.

"Mari saya antar ke bagian koleksi musim dingin" jawab wanita penjaga butik itu dengan ramah kemudian memandu Woohyun dan Sunggyu ke sudut lain butik mewah tersebut.

"Butik kami banyak mengeluarkan koleksi baru untuk menyambut musim dingin tahun ini.." Sunggyu kembali terpana dengan deretan baju hangat, jaket, sepatu boat, mantel ber'price tag di atas rata rata yang tersusun rapi di sebuah corner. Terlepas dari part dimana ia dipaksa Woohyun untuk berpenampilan seperti wanita, Sunggyu sangat menyukai koleksi butik mewah tesebut.

"Sial, ternyata kau sangat kaya Nam Woohyun!" umpat Sunggyu pelan.

"Memang sial!" jawab Woohyun dengan cepat.

"Dari sekian banyak koleksi baru yang designer kami keluarkan yang paling menjadi favorit pelanggan kami adalah ini.." wanita penjaga butik itu kembali menghampiri Woohyun dan Sunggyu setelah sebelumnya mengambil barang yang ia cari. Ia menyerahkan sebuah kotak berukuran sedang

ke hadapan dua customer di depannya. Kening Sunggyu mengkerut, merasa tak asing dengan kotak yang disodorkan sang penjaga butik.

"Sarung tangan ini adalah best seller kami. Terbuat dari bahan yang halus dan dapat menghangatkan kulit tangan dengan sempurna. Designnya juga kami sesuaikan dengan selera masyarakat korea saat ini, sarung tangan ini sangat classy dan dapat digunakan oleh pria maupun wanita karena designnya fleksibel.." Sunggyu melongo dengan rahang hampir copot. Tidak salah lagi, sarung tangan itu 100% mirip dengan sarung tangan yang Myungsoo hadiahkan kepadanya. Astaga ternyata Myungsoo menghadiahkannya barang mewah!

"Baiklah aku ambil satu, tapi jangan yang warna putih, aku mau yang abu abu" Woohyun membuyarkan lamunan Sunggyu saat memantapkan pesanannya. Wanita penjaga butik itu mengangguk kemudian sedikit membungkukkan badannya sebelum mencari sarung tangan dengan warna yang Woohyun inginkan.

"Hei, Nam Woohyun untuk apa kau membeli sarung tangan sendiri? Kurasa para pelayanmu tak akan lupa untuk menyiapkan kostum yang akan kau gunakan setiap musim?" Sunggyu bertanya dengan raut keheranan, dalam benaknya terngiang drama booming yang pernah ia tonton dimana sang pemeran utama bernama Gu Junpyo yang merupakan pewaris perusahaan kaya hanya tinggal duduk manis sedangkan para pelayannya sibuk memilihkan kostum yang akan digunakan pemuda angkuh itu. Hei, bukankah karakter Junpyo benar benar mirip dengan Woohyun, kaya, menyebalkan, kasar, angkuh, tampan? Untuk deskripsi yang terakhir membuat Sunggyu menggelengkan kepalanya.

"Kau terlalu banyak menonton drama picisan!" Woohyun menjitak pelan kepala Sunggyu.

"Ish, aku hanya menonton drama yang booming saja kok!" Sunggyu membela diri sambil mengelus kepalanya yang menjadi korban jitakan Woohyun.

Woohyun terkekeh, dan Sunggyu bersumpah bahwa ini adalah senyuman pertama yang diperlihatkan Woohyun (seringaian tak masuk hitungan) dan ternyata tak terlalu buruk, Woohyun terlihat lebih menyenangkan.

"Sarung tangan itu untukmu bodoh!"

"Eh?" Sunggyu kembali melongo.

"Aku? Untuk apa kau memberiku hadiah? Kau tak punya alasan apapun untuk melakukannya?"

"Ck, kau ini aneh sekali. Diberi hadiah mahal malah panik seperti itu. Anggap saja itu sebagai ucapan terima kasih karena kau sudah membantuku di acara perjodohan konyol tempo hari.. hmm, dan kuharap kau memakainya saat tour musim dingin nanti" jelas Woohyun panjang lebar.

Sunggyu terdiam, bukan karena kalimat Woohyun yang baru saja ia dengar namun karena ia teringat kembali dengan kado pemberian Myungsoo. Woohyun dan Myungsoo memberinya kado yang sama meski berbeda warna. Dan keduanya meminta Sunggyu untuk memakainya saat tour musim dingin nanti? Sunggyu merasakan panas pada kedua pipinya. Ia menyentuhnya perlahan, dan bergumam pelan "kenapa aku merasa seperti gadis yang diperebutkan seperti ini.. aaarrrgghh, benar benar memalukan" rutuknya sembari memukul pelan kepalanya. Woohyun hanya geleng geleng kepala melihat tingkah Sunggyu.

"Woohyun oppaaaa..." seorang gadis berpenampilan eye catchy menghampiri Woohyun dan Sunggyu dengan beberapa paper bag belanjaan ditangan kanannya.

Glek..

Sunggyu mengenali gadis itu di acara perjodohan Woohyun. Kwon Yura, saat nama itu muncul dalam ingatannya, Sunggyu perlahan bergerak mundur ke belakang tubuh Woohyun namun Yura terlanjur melihatnya.

"Kau!" tunjuknya ke arah Sunggyu.

. . .

"Kau!" Yura menunjuk Sunggyu. Bagian lain dari otaknya memberikan respon impuls saat ia melihat Sunggyu yang tak asing dalam ingatannya.

"Kau apa?" Justru Woohyun yang merespon tatapan horor Yura.

"Dia.. Dia, dia seorang pria Oppaa?" ucap Yura setengah berteriak tak percaya. Ia yakin Sunggyu adalah Kim Sung Ah yang sudah mengacaukan acara perjodohannya dengan Woohyun. Walaupun dengan penampilan yang berbeda, namun Yura tak dapat melupakan mata sipit yang menyerupai hamster tersebut.

"Hah! Seharusnya kakekmu membuat pesta besar untuk merayakan penyimpangan seksualmu Oppa!" terdengar ejekan dari nada suara Yura. Gadis yang sebenarnya manis jika mengurangi sedikit

make up pada wajahnya itu sedikit menaikkan ujung bibirnya menambah kesan meremehkan ke arah Sunggyu dan Woohyun.

"Lalu apa masalahmu?"

"Oppa! Kau sungguhan gay? Aku tak percaya kau menolakku hanya karena seorang pria? Seorang priaaa?" Yura kembali berteriak histeris membuat perhatian beberapa pelanggan butik yang tengah berbelanja teralihkan pada tiga anak manusia yang tengah berselisih paham.

Woohyun memutar bola matanya malas. Setelah membayar dan meraih bungkusan yang dibawa wanita penjaga kasir, ia segera menarik tangan Sunggyu keluar dari butik. Sunggyu hanya menurut dengan perlakuan Woohyun, ia benar benar tak tahu harus melakukan apa.

"OPPAA!" Yura berusaha menghentikan langkah Woohyun dengan menghadang jalannya.

"Apalagi? Kau kan sudah tau aku gay! Kenapa masih mengikutiku" ucap Woohyun dengan tak sabar, sedangkan Sunggyu sudah menampilkan wajah terkejut dengan mulut sedikit menganga.

"Oppa, kau masih bisa disembuhkan! Kita berpura pura tak ada yang terjadi. Aku tak mau pertunangan ini batal." Yura terlihat sedikit memelas.

"Dengar ya Kwon Yura! Meskipun di dunia ini wanita hanya tersisa kau saja, aku akan tetap menolak perjodohan ini. Got it? Ah dan ingat, kita belum bertunangan, itu hanya sekedar perbahasan konyol antar orangtua" Woohyun kembali berjalan dengan sedikit menabrak bahu Yura.

Yura melemas, paper bag yang dipegang tangan kanannya jatuh ke lantai.

"Aku tak akan memaafkan kalian!" ucap gadis itu pelan dengan mata yang sudah memerah dan berkaca kaca. Dan dalam hitungan detik ia menangis kencang diiringi tatapan simpati dari para pelanggan butik.

. . .

"Bagaimana ini, ini sangat buruk. Kenapa kau bisa sekasar itu sih Nam Woohyun!" Sunggyu komat kamit dengan bibir tipisnya. Ia berjalan mondar mandir di depan Woohyun yang sedang duduk di atas kursi santainya. Woohyun benar benar sudah pusing melihat Sunggyu yang hampir setengah

jam mondar mandir sembari bergumam tak jelas. Ia lebih memilih untuk memainkan game Flappy Bird di tabnya.

"Tenang saja, tak akan terjadi sesuatu" ujar Woohyun berusaha menghibur Sunggyu yang justru dihadiahi tatapan mendelik dari Sunggyu.

"Kau bisa sesantai itu karena kau cucu pemilik sekolah ini. Kemungkinan terburuk hanya kartu kreditmu yang diblokir oleh kakekmu, sedangkan aku? Sudah pasti aku akan ditendang dari sekolah ini. Kau dengar? DITENDANGGG NAM WOOHYUN!" teriak Sunggyu frustasi. Ia sudah berhenti mondar mandir, dan kini malah menjambaki surai madunya yang sudah acak acakan. Woohyun memutar bola matanya jengah, ia mendengus dan mematikan game Flappy Birdnya karena sudah game over akibat teriakan Sunggyu.

"Dengar Kim Sung Ah!"

"Sunggyu!"

"Terserah! Tak ada yang bisa mengeluarkanmu dari sekolah ini karena kau sudah terikat menjadi pelayanku sampai hari kelulusan nanti. Aku akan membuat gadis manja itu menutup mulutnya. Dan mengenai kakekku, kau tenang saja, dia sedang perjalanan bisnis ke Eropa dan baru akan kembali bulan depan. Aku jamin urusannya di Eropa lebih penting daripada perjodohan konyolku.."

"Kau serius?"

Woohyun mengangguk mantap. Sunggyu merasa sedikit lega namun, masih belum bisa menghilangkan ketakutannya. Bayangan wajah kakek Woohyun yang menyeramkan terus menari nari dibenaknya, ia bergidik dan menggelengkan kepalanya berusaha mengusir bayangan menyeramkan itu.

"Eh, Nam Woohyun. Kau tak takut dikucilkan keluarga Yura jika mereka sudah dengar soal kau yang mengaku... gay?" tanya Sunggyu pelan karena takut.

"Hahaha, kenapa aku harus takut? Lagipula aku hanya menggertaknya saja, perempuan itu akan terus mengangguku jika aku tetap terlihat straight dimatanya. Dan yang gay itu kau, karena kulihat kau mulai menyukaiku" ujar Woohyun santai dan mulai memainkan ponselnya.

"Mwo? Yang benar saja? Aku tak mungkin menyukaimu, karna aku hanya menyukai Myungsoo Sunbae!" Sunggyu menutup mulutnya yang keceplosan karena menyebut nama Myungsoo di depan Woohyun. Pemuda tampan itu bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri Sunggyu dengan raut wajah yang tak dapat ditebak.

"Y-yak, kau mau apa Bodoh?" refleks Sunggyu menghindari Woohyun dengan berjalan mundur, namun gerakannya terhenti saat kakinya menabrak meja yang ada di tengah ruangan. Woohyun tak menghiraukan kicauan Sunggyu dan malah mendekatkan wajahnya ke wajah pemuda manis itu. Sunggyu merah padam, wajahnya sudah seperti kepiting rebus karena gerakan agak 'sensual' dari Woohyun. Saat Woohyun mulai mendekatkan bibir tebalnya menuju bibir Sunggyu, dengan reflex Sunggyu menutup kedua matanya.

Satu detik. .

Dua detik. .

Tiga detik, Sunggyu sama sekali tak merasakan apapun. Pada detik ke enam ia memberanikan diri membuka matanya, dan ia bersumpah jika ia akan membawa Woohyun ke samudera Pasifik dan akan menenggelamkannya disana saat melihat Woohyun berusaha menahan tawa sambil memegangi perutnya.

"Kau tak berharap aku menciummu kan hamster?" tanya Woohyun masih dengan cekikin khasnya.

Wajah Sunggyu kembali merah padam, bukan karena malu dengan perlakuan Woohyun namun karena ia benar benar marah pada pria tampan di hadapannya. Well, rasa malu juga masih ada namun perasaan marah lebih menguasainya.

"Jangan bercanda Nam Woohyun, m-mana mungkin aku berharap dicium pangeran Siberian Husky sepertimu?" jawab Sunggyu ketus berusaha menutupi perasaan anehnya. Ia teringat Max anjing tetangganya yang merupakan ras Siberian Husky. Max seperti Woohyun, senang membuat Sunggyu kesusahan.

"Lalu kenapa kau menutup matamu saat aku mendekat?" tanya Woohyun kembali namun kini ia tak tertawa melainkan menyeringai tajam.

"I-itu ka-karena kaauu.."

"Aku apa?"

"Ah sudahlah, aku tak mau berdebat dengan pohon jelek sepertimu lagi. Aku masih ada jam pelajaran dengan Miss Moon" Sunggyu menghentakkan kakinya kemudian melangkah menjauhi Woohyun.

Woohyun hanya tersenyum melihat tingkah menggemaskan Sunggyu, ia memanggil pemuda manis itu sebelum Sunggyu membuka pintu ruangannya.

"Hey, hamster gendut!"

"Apalagi pohon jelek?" tanya Sunggyu tak sabaran, ia sudah gerah dengan Woohyun.

"Jangan lupa misi origamimu!" jawab Woohyun kemudian melambaikan tangan di atas kepalanya. Sunggyu mendengus, "Errggh, whatever!" umpatnya pelan.

. . .

Sunggyu membawa sebuah amplop yang diterima dari Miss Moon Geun Young, wali kelasnya di Namstar High School untuk diserahkan kepada Yesung.

"Ayah, kau bisa ke sekolahku besok?" tanya Sunggyu saat ia sudah berada di belakang ayahnya yang tengah mencuci piring. Yesung mendelik, kemudian dengan gerakan cepat ia berbalik dan menggenggam erat bahu Sunggyu. Sunggyu terlonjak dengan perlakuan Yesung dan hampir terjungkal ke belakang.

"K-kau kenapa Ayah?"

"Seharusnya aku yang bertanya kau kenapa? Kenapa aku harus datang ke sekolahmu? Apa kau membuat masalah? Apa kau berkelahi dengan geng gadis di kelasmu? Atau kau membuat orang lain bunuh diri dengan penolakan cinta darimu? Atau kau bermasalah dengan anak pemilik sekolahan?" tanya Yesung dengan ekspresi wajah berlebihan layaknya telenovela.

Glek, kalimat Yesung yang terakhir membuat leher Sunggyu tercekat. Memang ia bermasalah dengan cucu (bukan anak) dari pemilik sekolah, namun bukan itu yang membuat Miss Moon memberikannya surat panggilan untuk wali dari Sunggyu.

"Eyy, kau terlalu berlebihan Ayah! Miss Moon memanggilmu ke sekolah karena ada beberapa dokumen beasiswaku yang harus kau tanda tangani" ucap Sunggyu jengah.

Yesung menghela nafas lega.. "Siapa Miss Moon?" tanyanya.

"Ck, Miss Moon Geun Young. Dia wali kelasku yang baru! Masa kau lupa sih Ayah? Kami memanggilnya Miss karena dia juga guru bahasa Inggris Namstar" teriak Sunggyu membuat Yesung menutup kedua daun telinganya karena teriakan tiba tiba dari Sunggyu.

"Aku hanya bercanda, kau cepat sekali marah sih?" jawab Yesung dengan kikuk.

Kali ini Sunggyu yang menghela nafas panjang.. "Besok saat jam makan siang tolong sempatkan datang ya!" ujar Sunggyu.

"pasti Nak, apapun untukmu!" jawab Yesung dengan mantap.

. . .

Sebelum jam makan siang Yesung sudah tiba di sekolah Sunggyu...

"Hmm, ruang guru, ruang guru? Astaga, sekolah ini besar sekali sih. Orang awam bisa tersesat berhari hari disini" gumam Yesung tanpa menyadari kondisinya sendiri, bukankah dia juga sedang tersesat?

"Aigoooo, leherku jadi sakit. Apa sebaiknya aku menghubungi Sunggyu? Tapi pasti anak itu sedang belajar dikelasnya" Yesung kembali bergumam tak jelas kemudian mengacak ngacak rambutnya yang sudah acak acakan.

"Maaf, kau mencari sesuatu?" suara lembut seorang wanita menghentikan gerakan mengacak rambut Yesung. Yesung berbalik dan saat berbalik ia terkejut saat mendapati seorang wanita cantik bertubuh mungil sudah berdiri dibelakang tubuhnya dengan membawa beberapa buku di pangkuannya.

Sesaat Yesung merasakan dunianya berhenti berputar, ia seperti melihat malaikat tanpa sayap dihadapannya. Guguran bunga sakura memenuhi penglihatan Yesung diiringi lagu ballad mengenai percintaan. Yesung mual, ia merasa perutnya ringan tergelitiki ribuan kupu kupu yang tak kasat mata.

"So beautiful..." gumam Yesung tanpa sadar, masih dengan mata yang menatap lekat wanita cantik di depannya.

"Ehm, aku bertanya tadi? Apa kau mencari sesuatu?" suara lembut itu membuyarkan lamunan Yesung. Ia mengerjapkan bola matanya dan menggeleng pelan untuk mengumpulkan arwahnya yang sempat terbang ke langit ke tujuh ^^.

"Eh, Ohh, aku mencari guru yang bernama Miss Moon. Aku ayahnya Kim Sunggyu dari kelas XI-B!" jawab Yesung kikuk.

"Ya ampun, kau ayahnya Sunggyu? Maaf aku tak mengenalimu, aku belum hafal dengan wajah orangtua murid asuhku tahun ini. Akh, perkenalkan aku Moon Geun Young. Miss Moon yang sedang kau cari" sedikit kesulitan saat Miss Moon mengulurkan tangannya karena buku buku berat yang tengah ia pangku. Yesung kelabakan, dengan cepat ia menyambar uluran tangan Miss Moon.

"Senang berkenalan denganmu Miss Moon, kau lebih cantik dari perkiraanku. Ah, maksudku bukan begitu. Duh, bagaimana ya menjelaskannya" Yesung semakin kikuk.

"Tak apa, mari mengobrol di ruanganku. Seperti surat yang kuberikan pada Sunggyu, ada beberapa dokumen beasiswa Sunggyu yang harus anda tanda tangani" Miss Moom melepaskan genggaman tangannya dan berjalan menuju ruangan para guru.

. . .

"Okay, this is the last!" ujar Miss Moon kemudian menyerahkan lembar formulir beasiswa terakhir kepada Yesung. Yesung menerimanya dengan sumringah kemudian dengan gerakan tangan yang ringan ia membubuhkan sebuah tanda tangan di kolom wali murid. Setelah selesai, lembaran tersebut ia serahkan kembali kepada Miss Moon.

"Thank You Mr. Kim, smua dokumennya sudah lengkap. Beasiswa Sunggyu bisa diperpanjang sekarang!"

"Terima kasih juga sudah membantu anakku Miss.." jawab Yesung dengan tersenyum lebar.

"Sama sama.. oh ya, kemarin aku sempat melihat daftar murid yang akan mengikuti tour musim dingin nanti, dan aku belum melihat nama Sunggyu didalamnya. Kau bisa memberitahuku alasan Sunggyu belum mendaftar?" Yesung tercekat mendengar pertanyaan dari wanita cantik wali kelas

Sunggyu tersebut. Seingatnya Sunggyu memang pernah meminta izin untuk mengikuti tour musim dingin ke resort ski Yongpyong, dan Yesung menolaknya dengan tegas.

"Aku memang tidak memberinya izin Miss karena aku memiliki trauma dengan resort ski"

Miss Moon menaikkan kedua alisnya.

"Tapi Mr. Kim, dalam tour nanti setiap murid akan diberi tugas tambahan untuk nilai kenaikan kelas. Murid yang tak ikut sudah dipastikan akan kesulitan untuk menambah nilainya. Kau tak mau mempertimbangkannya?" tanya Miss Moon kembali.

Yesung telihat sedikit berpikir, ia tak mau melihat Sunggyu di resort ski karena itu akan membuatnya teringat dengan ibu Sunggyu, namun jika Sunggyu tak bisa mendapat nilai tambahan saat kenaikan kelas nanti bukankah beasiswa Sunggyu bisa terancam?

"Tapi.."

"Kau tenang saja Mr. Kim, aku juga akan ikut dalam tour itu. Dan akan kupastikan Sunggyu aman dalam pengawasanku. Atau kalau kau mau, kau juga bisa ikut untuk menjaganya.."

"Apa ini ajakan kencan?" tanyaYesung spontan kemudian menutup mulutnya.

"hahaha, kau berharap ini kencan?"

"Tidak Miss Moon jangan salah paham, aku hanya asal bicara" Yesung menjelaskan dengan kelabakan.

"Aku juga tak menganggapnya serius Tuan Kim" ujar Miss Moon masih dengan senyuman malaikatnya. Namun bagi Yesung kalimat yang terucap suara indah Miss Moon kali ini justru seperti alkohol yang membuat luka di hatinya perih? Ok, untuk yang satu ini Yesung terlalu berlebihan.

"Jadi bagaimana? Kau bisa memberikan izinmu pada Sunggyu?"

Yesung menghela nafas panjang dan pelan, "Jika ini bersangkutan dengan masa depan Sunggyu di sekolah ini. Kurasa aku yang harus mengalah" jawab Yesung lesu.

" Gwaenchana Tuan Kim, kau melakukan yang benar. Aku akan benar benar menjaga Sunggyu untukmu" tanpa sadar jemari lentik Miss Moon menyentuh punggung tangan Yesung yang terkepal

di atas meja membuat pria pendek itu seperti mendapat suntikan energi baru. Yesung mendongak untuk sekedar membalas senyum Miss Moon.

"Geun Young sshi. Kau mau makan siang bersamaku?" seorang pria mendekat kearah Yesung dan Miss Moon.

"Ah, Heechul sshi. Aku mau tapi aku masih ada urusan dengan orangtua salah satu muridku. Kau mau menunggu?"

"Tentu saja.." Heechul memandang tak suka ke arah Yesung. Ia merasa jam specialnya untuk makan siang dengan wanita yang menjadi incarannya terganggu karena kehadiran pria pendek di hadapannya. Yesung sendiri hanya mengendikkan bahu melihat tingkah angkuh Heechul yang menatapnya tajam.

. . .

Flashback

"Hyuunnggg, gantian! Aku juga mau memainkannya!" seorang anak kecil berusia 5 tahun merengek pada anak kecil lainnya yang tengah asik memainkan kapal terbang yang menggunakan remote control.

"Sebentar Myungsoo yaa, Hyung sedang asik main. Kita bertukar main setiap 10 menit sekali ya?" anak yang lebih tua menjawab protesan adiknya dan kembali memainkan remote control kapal terbang di tangannya.

"Huwaaaa, Taejun Hyung curaanggg" sang adik yang bernama Myungsoo menangis kencang setelah tak mendapatkan apa yang diinginkannya.

"Sebentar saja Myungsoo yaa, Hyung masih mau memainkannya sebentar lagi" Taejun mencoba tak menghiraukan tangisan Myungsoo.

"Aku mau sekarang!" protes Myungsoo kemudian mencoba merebut remote control di tangan Taejun. Terjadi aksi saling mempertahankan remote control kapal terbang hingga seorang wanita cantik menghampiri mereka.

"Ada apa ini? Taejun ah? Myungsoo ya?"

"Taejun Hyung tak mau meminjamkan kapal terbangnya, Ibuuu!"

"Yak, jangan mengadu yang tidak tidak"

"Ayo cepat gantian Taejun" ujar sang Ibu dengan lembut. Taejun cemberut mendengar kalimat sang Ibu dan dengan sengaja menerbangkan pesawat terbang itu hingga tersangkut di ukiran pilar lantai dua rumah.

"Huwaaa" Myungsoo kembali menangis histeris melihat kapal terbangnya tersangkut.

"Gwaencana Myungsoo ya. Ibu ambilkan dulu" Nyonya Kim berjalan menaiki tangga menuju ukiran pilar itu dan berusaha menjinjitkan kakinya agar dapat menjangkau kapal terbang yang tersangkut.

"Ibu hati hati.." teriak Taejun, ia mengigit bibir bawahnya melihat posisi ibunya yang bisa dikatakan rawan jatuh.

Nyonya Kim tersenyum kepada dua putra kesayangannya kemudian kembali berjinjit. Jarak jarinya dengan kapal itu hanya tinggal lima sentimeter, agar dapat menjangkaunya Nyonya Kim menaiki salah satu lubang di pegangan tangga, namun sayang ujung roknya tersangkut hingga membuatnya limbung.

"Aaaakkkkkhhh" wanita cantik itu berteriak histeris, kemudian..

Braak..

Brukk..

Pranggg.

Kejadian tersebut terlalu cepat untuk dikelola nalar dua bocah berusia 5 dan 6 tahun tersebut. Beberapa detik yang lalu, Ibu mereka sedang berusaha menggapai mainan mereka yang tersangkut di ukiran pilar, dan pada detik berikutnya tubuh sang Ibu sudah jatuh dari lantai 2 dan menghantam meja kaca yang terletak di bawahnya. Tubuh kedua bocah itu bergetar hebat melihat tubuh sang Ibu yang mereka sayangi sudah berlumuran darah segar.

"I-ibuu" pekik Taejun dan Myungsoo tertahan.

Drap drap, sebuah langkah kaki berat menghampiri mereka. "Apa yang terjadi?" Ayah mereka tiba dengan raut wajah panik setelah mendengar teriakan histeris istrinya.

Kim Young Woon mematung saat mendapati pemandangan menggenaskan di hadapannya. "Y-yeobooo" teriaknya frustasi kemudian berusaha merengkuh tubuh sekarat sang istri.

"Yeobo, kumohon! Berbicaralah, jangan membuatku takut!" Young Woon berusaha membangunkan istrinya dengan menepuk perlahan pipi mulus sang istri. Namun usahanya sia sia, karena nyawa Nyonya Kim sudah tak bisa diselamatkan.

"Hikss, jangan begini Kim Taeyeon. Kau tak boleh meninggalkanku sendirian.." teriak Young Woon lebih keras dari sebelumnya.

"A-ayaah.." Myungsoo berlari menghampiri ayah dan ibunya, sedangkan Taejun terpaku pada posisinya, berdiri dengan gemetaran menggenggam remote control. Seketika awan hitam menyelubungi Taejun, ia merasakan penyesalan yang amat sangat besar, seandainya saja ia tak berebut kapal terbang dengan Myungsoo tentu Ibu mereka tak akan berusaha meraih kapal yang tersangkut itu, dan kejadian mengerikan itu tak perlu terjadi. Taejun memang baru berusia 6 tahun, tapi ia sudah mengerti dengan kondisi yang dihadapinya.

"I-itu semua salahku.." lirihnya pelan masih gemetar memegang remote controlnya. Young Woon berhenti menangis dan memandang ke arah Taejun.

"Apa yang katamu?" tanyanya geram.

"Maaf Ayah, maaf aku tak sengaja. Aku memang menerbangkan kapal itu kesana agar Myungsoo tak merebutnya dariku. Aku tak bermaksud membuat ibu, ibuu hiks hiks" airmata Taejun sudah tak terbendung.

Amarah Young Woon memuncak, ia meletakkan tubuh istrinya kemudian menghampiri Taejun yang masih belum beranjak di tempatnya.

Plaak, satu tamparan keras ia layangkan kepada bocah berusia 6 tahun itu. Ia tak peduli jika ia dilaporkan ke polisi dengan tuduhan penganiayaan anak di bawah umur. Perbuatan Taejun benar benar tak dapat ia maafkan.

"Dasar anak sial! Aku dan istriku membawamu dari panti asuhan, dan merawatmu dengan baik namun apa yang kami dapat! Kau membunuh istriku! Dasar pembunuh!"

Taejun menunduk, tak berani menatap wajah ayah angkatnya yang sedang murka. Myungsoo bergidik ngeri, ia duduk di sebelah jasad sang Ibu sembari menggenggam tangannya erat.

Young Woon memejamkan matanya, airmata kembali mengalir saat kelopak matanya menutup. Ia menghirup nafas panjang kemudian berbalik memunggungi Taejun "Kemasi pakaianmu sekarang, aku akan mengembalikanmu ke panti asuhan. Dan ingat, jangan muncul lagi di hadapanku" ucapnya tegas.

"A-ayahh.." Taejun tercekat mendengar kalimat dingin Young Woon.

"Jangan memanggilku Ayah. Itu benar benar membuatku jijik.." Young Woon kembali menghampiri tubuh istrinya, kemudian membopong tubuh itu menuju kamar mereka. Myungsoo mengekor di belakang ayahnya, ia melirik sekilas ke arah Taejun namun langkah kecilnya tetap mengikuti langkah sang Ayah.

"Mianhae Hyung.." Myungsoo bergumam lirih.

Flashback End

"Ibuuuu" Myungsoo terbangun paksa dari tidurnya saat ia bermimpi mengenai kejadian mengerikan itu lagi. Nafasnya tersengal. Bajunya basah karena banjir keringat, ia mengusak wajah dan menyeka peluh yang mengalir di pelipisnya kemudian melirik jam digital yang ada di meja nakas. Pukul 02.00, hari masih malam. Myungsoo meraih remote ac kemudian menyalakannya, ia sangat berkeringat saat udara musim gugur yang dingin berhembus kencang diluar kaca jendela sana.

"Ibu.. Taejun Hyung.. aku benar benar merindukan kalian" lirih pemuda tampan itu kemudian memejamkan matanya berusaha untuk tidur kembali. Namun sia sia, karena bayangan mengerikan mengenai kematian ibunya terus membekas diotaknya.

TBC