◊A Shingeki no Kyojin's fiction story◊

Warning : Out of characteristic, a little bit—or much—smut. Beware of it, Underages.

Disclaimer : Shingeki no Kyojin by Isayama Hajime


Rivaille menutup pintu kamarnya dengan gerakan kasar. Detik selanjutnya, ia menengadahkan kepalanya. Dibiarkannya sang pintu yang berada di belakangnya menjadi sandaran tubuhnya saat ini. Dengusan keras yang terdengar melalui bibirnya, menjadi tanda bahwa kini ia tengah benar-benar kesal. Dikepalkannya kedua telapak tangan miliknya dengan erat hingga terlihat bergetar.

Kedua kelopak matanya menutup.

"Maaf?" pemuda itu menggumam pelan. Perlahan, ia mendudukkan dirinya dalam gerakan singkat—mengikuti gaya gravitasi bumi—, dengan tubuh yang senantiasa bersandar pada pintu di belakangnya. "Jangan mengucapkan kata itu lagi,"

Kedua tangan yang sebelumnya terkepal, kini terlihat menggantung di kedua sisi lututnya. Ia menenggalamkan kepalanya di antara kedua kakinya yang tertekuk. Decakan demi decakan terdengar mengalun.

Ah, tentu. Ia bukan lelaki yang dengan mudah meneteskan airmata hanya karena masalah sepele seperti ini. Ia mampu bertahan untuk tak mengeluarkan sesuatu yang orang lain anggap perlu.

Airmata. Seberapa pentingnya hal tersebut?

"Khh," ia menekan pangkal hidungnya dengan keras. Sebelah tangannya yang menggantung, tetap dalam posisinya.

Jika ia boleh menyatakan sebuah kebenaran, ia tak suka berada dalam posisi seperti ini. Ia tahu bahwa setiap perkataan yang keluar dari bibirnya, hanya akan menyakiti lawan bicaranya—sebuah alasan di mana ia lebih memilih untuk diam, meskipun saat ia berujar, ucapannya terdengar lebih panjang dari biasanya.

Ia terbiasa hidup dalam dunia yang keras. Ia lahir tanpa mengenal siapa yang telah melahirkannya.

Dunia itu kejam, seperti itulah yang selalu ada di benaknya.

Namun, apakah selamanya bayangannya akan seperti itu? Apakah ia memang tak berniat mengubah cara pandangnya terhadap dunia?

Dendamnya pada sang gadis blonde telah membutakan seluruh inderanya. Ia, yang pada awalnya telah merasa memiliki keluarga—walau hanya terdiri dari anggota pasukannya yang berjumlah 5 orang—, kini telah kehilangan segalanya. Meski saat ini ia menempati rumah yang dulu dijadikannya sebagai tempat berkumpul bersama pasukannya, namun ia tidak menemukan sedikitpun kehangatan di dalamnya.

Hanya dingin dan kelam yang senantiasa menyertainya di dalam rumah besar tersebut; sangat sesuai dengan kepribadiannya.

Apakah ini yang sesungguhnya diinginkan olehnya?

Ia tahu bahwa apa yang dilakukannya adalah sebuah kesalahan besar. Mengedepankan rasa dendam dan mengesampingkan amanat yang diterimanya dari sang Raja. Walaupun ia berdalih, tetap saja hatinya tak bisa menipu. Ia dendam, tentu saja, pada sosok Annie Leonhardt. Pada sosok yang telah membantai habis anggota pasukannya yang sudah dianggapnya sebagai keluarganya sendiri. Teman, sekaligus keluarganya.

Seharusnya ia yang mengucapkan kata 'maaf', bukan gadis itu. Ia, yang tak menunjukkan usahanya sedikitpun untuk memperbaiki hubungan di antara dirinya dan sang gadis blonde, namun justru istrinya tersebut telah melangkah maju untuk membenahi segalanya. Jika benar ia adalah seorang prajurit pilihan, mengapa ia tak mampu menekan perasaan pribadinya?

Apakah egonya lebih menguasai pikirannya? Apakah selamanya ia akan selalu berkecimpung dalam dendamnya?

Apakah dengan dendam, semua masalah akan terselesaikan?

"Hah?" sebuah ketukan kecil pada pintu kayu di belakang tubuhnya, membuatya sedikit terlunjak karena terkejut. Ia terlalu larut dalam kemelut pikirannya, hingga tak menyadari derap langkah kaki seseorang yang tengah mengetuk pintu kamarnya.

"Apa kau sudah tidur?"

Suara itu lagi.

Rivaille tak berniat menjawab pertanyaan yang diajukan oleh sang penanya. Namun tubuhnya mulai bangkit, beranjak menuju salahsatu sudut yang ada di dalam ruangan tersebut. Dilemparkannya ke sembarang tempat jas yang tergantung di pundaknya sejak tadi. Tanpa suara, dilepaskannya satu persatu kaitan baju yang dikenakannya.

Merasa tak mendapatkan jawaban, orang itu mulai memutar pelan kenop pintu yang tadi diketuknya. Dan sosok dari Annie Leonhardt langsung menyedot perhatian pria tersebut.

Di antara sinar rembulan yang perlahan menyusup melalui jendela kamar tanpa tirai miliknya, Rivaille dapat melihat dengan jelas keberadaan sang gadis yang menatapnya.

Dan sejujurnya, ia sedikit terkejut dengan pemandangan yang ia dapatkan dari wajah Annie.

Gadis itu… tersenyum?

Bagaimana bisa?

Dengan langkah perlahan, Annie mulai mendekati sosok pria yang berada di depan lemari berkaca besar.

"Kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku?" langkahnya terlihat pasti. Sama sekali tak nampak keraguan di dalamnya.

Apa yang terjadi dengannya? Akankah ia merubah sosoknya menjadi seekor raksasa pemakan manusia saat ini? Di mana airmata yang tadi sempat mewarnai wajahnya?

Pertanyaan demi pertanyaan terus menerus berputar dalam pikiran Rivaille.

Ada apa dengannya?

"Hei," masih dalam keadaan mengamati, pria tersebut memanggil Annie dengan sahutan bernada datar. Kedua tangannya masih memegangi kemeja yang tadi dilepasnya, meninggalkan tubuh bagian atasnya dalam keadaan tanpa busana.

Perempuan itu menghentikan langkahnya ketika dirasanya jarak di antara dirinya dan pria tersebut telah terkikis sepenuhnya. Ditengadahkannya kepala mungilnya, menatap lurus pada iris mata kelabu milik sang suami.

"Aku hanya ingin kau menjawab pertanyaanku," ia mengangkat lengan kanannya, menampilkan salahsatu jemarinya yang dihiasi cincin besi, "kau masih mengingat ini, tentunya," dengan gerakan singkat, cincin itu berubah, menampilkan hiasannya yang runcing.

"Apa maumu?" masih berusaha mengontrol rasa takut yang mulai menjalar, Rivaille memandang tajam iris mata biru muda milik sang gadis. Suaranya terdengar tegas.

"Kau mengatakan padaku tadi," Annie memainkan besi runcing tersebut dengan ibu jari dari tangan kanannya, "jika aku berubah menjadi titan, kau akan membunuhku," gerakannya jemarinya terhenti sesaat, "tanpa ragu, bukan?"

Rivaille nampak berpikir sejenak. "Ya," adalah jawaban setelahnya, diucapkannya dengan mata yang terlihat sinis.

"Baiklah,"

Ibu jari yang semula bermain di atas hiasan cincin besi yang runcing itu, perlahan bergerak dengan lihai—seolah hendak merobek kulit yang melapisinya. Annie menutup kedua kelopak matanya, tak ingin memandang sosok perubahan dirinya ke dalam wujud seekor titan—untuk yang terakhir kalinya.

Sesaat, namun ia merasakan bahwa tubuhnya melayang jatuh, tertarik oleh gaya gravitasi.

"Hentikan," tepat di daun telinga miliknya, ia mendengar suara yang ia kenal sebagai suara milik suaminya mengalun.

Terdengar…

… lembut.

Rasa keingintahuannya yang tinggi, mendesaknya untuk segera membuka kedua kelopak mata yang menyembunyikan keindahan iris mata biru mudanya.

Dan betapa terkejutnya ia, saat menemukan tubuhnya kini terbaring di atas lantai, dalam rengkuhan tubuh Rivaille.

"Heichou—" Annie terkesiap, saat jemari hangat milik pria tersebut perlahan berusaha untuk saling bertautan di antara jemarinya.

"Kenapa—" hanya kalimat itu yang keluar melalui bibir Rivaille. Kedua telapak tangannya menggenggam erat jemari milik gadisnya.

Kalimatnya terdengar menggantung. Dan baru pertama kalinya sejak Annie mengenal Rivaille sebagai seorang pimpinan berwajah stoic, gadis tersebut mendapati wajah kacau sang 'heichou' di depannya.

"Kenapa aku masih belum sanggup melupakan masa lalu?!" sederet kalimat panjang bernada tegas diterima Annie melalui pemuda yang tengah berada di atas tubuhnya saat ini.

Hening. Tiada yang menjawab. Bahkan Rivaille sendiri seakan mematung.

"Kenapa… katamu?" Annie menutup kedua kelopak matanya, untuk kemudian menghembuskan napas pelan. Terkesan menghina.

Akan tetapi, di luar spekulasi pemikiran sang gadis, nyatanya Rivaille tak merasa terhina sedikitpun. Terlihat melalui sorot matanya yang sarat akan kehampaan emosi saat memandang Annie.

"Ya," Rivaille menjawab, "kenapa?" ia kembali mengulangi pertanyaannya.

"Lepaskan aku," Annie berujar dalam bisikan. Ia berharap posisi yang didapatkannya saat ini segera berubah, meskipun ia tak sedikitpun menyesali akibat dari perbuatannya terhadap Rivaille.

Namun, sepertinya sang pria tak mendengar permintaannya. Rivaille justru semakin memperkuat genggamannya.

"Jawab aku, Annie Leonhardt." Pria itu kembali berujar. Kali ini nada suaranya terdengar menuntut.

Annie membuang tatapan datar miliknya. Menghindari kontak mata dengan Rivaille. Dibiarkannya suasana hening yang seakan menyindir sikapnya yang bagai seorang pengecut.

"Karena kau tak pernah mencoba," akhirnya, setelah sekian lama terdiam, gadis tersebut angkat suara, "kau selalu mengurung dirimu sendiri dalam labirin yang kau ciptakan. Yang ada di kepalamu hanyalah para anggotamu yang sudah kubunuh saat itu—khh!" Annie menghentikan ucapannya, saat dirasakan oleh kedua tangannya bahwa jemari sang pria semakin memperkuat tekanan pada genggamannya.

Rivaille menundukkan kepalnya, menyembunyikan wajahnya dari wajah lawan bicaranya tanpa mengubah posisinya.

"Bagaimana caranya?" pria tersebut berujar. Ambigu.

"Apa maksudmu?" tanya Annie seraya menahan rasa kebas yang kini didapatkannya melalui tangannya.

Perlahan, Rivaille mengendurkan genggaman tangannya pada tangan Annie, tanpa melepaskannya.

"Bagaimana caranya… agar aku bisa melupakannya?"

Annie menghembuskan napas pelan. Kali ini, tak ada kesan merendahkan dalam dengusannya.

"Ajari aku," Rivaille berujar pelan.

Pria itu tahu, ia adalah seorang 'pengemban amanah' yang gagal. Ia juga sadar, bahwa untuk pertama kali dalam hidupnya, ia tunduk pada seseorang selain Ervin. Terlebih, ia menampilkannya pada seorang gadis yang dibencinya, hanya untuk hal yang ia anggap sepele. Entah, ia sendiri tak memahami apa yang tengah dilakukannya saat ini. Ia merasa seakan semua harga dirinya tak lagi ada, saat Annie berulangkali mengucapkan kata 'maaf' padanya.

Di mana wajah angkuh yang biasanya ia pasang di hadapan semua orang? Bahkan di depan seorang Petra Ral, ia masih sanggup memasang mimik datar di wajahnya.

Mungkin kisahnya akan berbeda, jika Annie tak membunuh seluruh anggota pasukannya, sehingga gadis tersebut—Petra Ral—masih dapat melanjutkan hidupnya dalam jangka waktu yang lama, dan ia tak perlu merepotkan dirinya hingga membenci si gadis blonde. Akan tetapi, ia juga sadar, bahwa dunia—tempat di mana ia berpijak—bukanlah dunia yang sepenuhnya berisi kedamaian.

Meskipun fisiknya sudah terlatih dalam menghadapi kondisi seperti itu, namun tidak untuk batinnya. Walau Rivaille tak pernah sekalipun menunjukkan emosi miliknya, akan tetapi hati kecilnya berkata lain.

Dan kini, ia menyesalinya. Menyesali setiap perbuatan yang telah ia berikan pada Petra. Menyesali dirinya yang tak cepat bertindak layaknya seorang pimpinan pasukan.

"Lepaskan aku," suara datar Annie kembali terdengar setelah sekian lama terdiam, menyadarkan Rivaille akan keberadaan sang gadis.

Bagai tersihir, pria tersebut bergerak menjauh, mengikuti instruksi perintah dari Annie. Jemarinya mulai melepaskan setiap tautan pada jemari mungil milik sang gadis.

Gadis itu perlahan memperbaiki posisi duduknya, seraya menyentuh setiap sudut tubuhnya yang terasa kaku.

"Jadi," Annie memandang ke arah Rivaille, yang terlihat sedang membuang pandangannya ke arah jendela kamar, "masihkah kau ingin kuajarkan?"

Pria tersebut tak menjawab, maupun menoleh. Wajahnya terlihat datar, berbanding terbalik dengan kondisinya beberapa saat yang lalu. Annie tak bisa menebak apa yang tengah dipikirkan olehnya, karena baginya, Rivaille terlalu lihai dalam hal menyembunyikan perasaan.

Walau ia telah memprediksi setiap gerak-gerik sang suami, nyatanya, ia kembali dihadapkan pada kenyataan mengenai kesalahannya dalam berspekulasi.

"Lupakan," ujar Rivaille seraya beranjak guna meraih kemejanya yang sempat terhempas, "aku ingin istirahat,"

Annie terkejut, tentunya. Namun, sorot matanya yang datar mampu menyembunyikan segalanya dengan sempurna.

Entah apa yang tengah meracuni pikirannya, tiba-tiba saja gadis itu melepas cincin besi yang sempat menghiasi salahsatu jemari kanannya—membuangnya sejauh yang ia bisa. Bunyi yang dihasilkan dari pergesekan antara besi dan lantai, cukup membuat sang 'heichou' menolehkan wajahnya ke arah sumber suara.

Dan detik selanjutnya, pria tersebut menyadari bahwa jantungnya berhenti berdetak untuk sesaat.

Dihadapannya, Annie—dengan gerakan yang terkesan kasar—mulai mengecap setiap rasa yang ia peroleh dari Rivaille. Emosinya tak dapat lagi dibendung. Ia sudah tak kuasa menahan segala siksaan batin yang diterimanya; terlihat dari bagaimana deretan gigi indah miliknya mulai ternodai oleh warna merah dengan rasa darah yang didapatkannya melalui bibir sang pria.

Dalam diamnya, Rivaille mulai mengumpulkan setiap kesadaran miliknya yang sebelumnya menguap. Kelopak matanya menyipit, memandangi sosok Annie dengan sorot mata yang sarat akan kepedihan. Tentu saja sang gadis tak menyadarinya, karena ia telah digelapkan oleh nafsu—dan Rivaille tahu akan hal itu.

Ia meringis pelan, saat dirasakan olehnya cengkeraman tangan Annie pada kedua sisi pundaknya, memaksanya untuk mempertemukan tulang punggungnya dengan temperatur dingin dari tembok yang berada di belakangnya. Pria tersebut bisa saja membalas setiap perlakuan lawannnya dengan perbandingan yang setara. Akan tetapi, menilik dari segi kondisi, ia lebih memilih menjadi seorang apatis.

Biarlah Annie melampiaskan seluruh rasa sakit yang ia derita akibat dari perlakuan darinya yang tak kunjung berubah. Sejauh ini, Rivaille juga menyadari, bahwa selama ini Annie telah berusaha menjadi istri yang baik baginya. Dan tentunya, gadis itu mempunyai hak untuk bersikap demikian. Namun, tidak untuk Rivaille. Pria tersebut tak memiliki hak apapun untuk melawan tindakan Annie.

"Shh—" Rivaille mendesis pelan, saat dirasanya jemari Annie mulai terasa agresif menyentuh tubuhnya. Kedua kelopak matanya mengatup.

Dalam gerakan singkat, sang gadis melepaskan pagutannya, guna mengambil napas yang sempat menguap.

"Kenapa kau tak menolaknya?" Annie bertanya, dengan napasnya yang sedikit tersengal.

Rivaille membuka kelopak matanya, menatap iris mata berwarna biru milik sang istri dalam diam.

"Kau…" pria itu menghentikan ucapannya. Ia menarik napasnya, untuk kemudian dihembuskan dalam sekali tiupan. Perlahan, ia mengangkat kedua lengan kekarnya, menangkap kedua telapak tangan milik Annie yang bertengger di kedua sisi pundaknya, "… apa yang kau inginkan?"

"Pengakuan," Annie berujar, "dan masa depan,"

"Apa maksudmu?" Rivaille menaikkan sebelah alisnya.

"Pengakuan darimu, atas keberadaanku," gadis tersebut mulai berusaha melepaskan telapak tangannya dari genggaman pria yang telah secara resmi menjadi suaminya itu, bersamaan dengan gerakan dari lengan Rivaille yang secara tidak langsung mengikuti arah pergerakan jemari Annie, "dan masa depan, atas perbaikan di masa lalu,"

Rivaille sempat terperangah, namun mimik wajahnya segera menutupi segalanya. Napasnya berhembus lagi, kali ini terdengar penuh kelegaan.

"Baiklah," Rivaille memejamkan kelopak matanya sejenak, "ada hal yang harus kau ketahui sebelumnya," pria tersebut kembali menguatkan genggamannya pada telapak tangan Annie.

"Katakanlah,"

"Aku," ia melepaskan salahsatu genggaman tangannya dari jemari sang gadis, untuk kemudian meraih tengkuk lawan bicaranya, menyentuhnya dengan segala kelembutan yang ia miliki, "masih belum bisa melupakan anggotaku, terutama untuk Petra," ia mulai memajukan wajahnya seraya menyentuh kening Annie menggunakan keningnya, "bisakah kau—"

"Aku mengerti," Annie bergerak mundur, "aku akan mencobanya,"

"Bagaimana caranya?" Rivaille menatap Annie. Dalam tatapannya, berisi kekaguman pada sosok sang gadis di dalamnya.

"Lakukan sesuai nalurimu,"

.

.

Malam itu adalah malam yang paling indah bagi Annie. Segala emosi negatifnya seakan sirna, tatkala sang suami telah menjadikannya seorang wanita seutuhnya. Tak pernah terpikir dalam benaknya, bahwa Rivaille akan bersikap terbuka padanya. Ia sangat bahagia, terlalu bahagia, pada dirinya dan diri sang pria, yang saat ini tengah sepenuhnya menguasai tubuhnya.

"Annie," pria tersebut menengadah, menatap wajah wanita di bawahnya dengan tatapan datarnya yang tak pernah berubah. Meski demikian, kali ini Annie tahu dengan pasti arti dari sorot mata yang diberikan sang suami padanya.

"Tak apa. Lakukanlah," Annie berusaha berbicara normal, meskipun napasnya sudah mulai tersendat.

Tanpa pembicaraan lebih lanjut, Rivaille kembali menyentuh bibir Annie menggunakan bibirnya yang penuh luka.

Annie menutup matanya, menikmati sentuhan yang diberikan oleh suaminya. Kedua lengannya terangkat, guna menautkannya pada leher sang pria.

Sebuah proses penyatuan yang sempurna. Sebuah irama yang menghentakkan jiwa. Sebuah kenyataan yang merobek alam mimpi.

Rivaille meneriakkan nama Annie, dan Annie meneriakkan nama Rivaille—tanpa pangkat.

Saling menegang. Saling terpaut. Saling merintih.

Napas yang menyatu. Keringat yang menyatu. Tubuh yang menyatu. Jiwa yang menyatu.

Menakjubkan!

Dalam desahan, mereka berkomunikasi. Dalam tatapan, mereka saling mengartikan isi hati masing-masing. Baru pertama kalinya sejak dirinya dilahirkan di dunia yang dianggapnya penuh akan hal fana, Rivaille merasakan sebuah kejujuran. Tak perlu sebuah ucapan berlebihan dalam mengungkapkannya. Gerakan yang ia berikan pada lawannya, cukup untuk menunjukkan segalanya.

Sejenak, pikiran keduanya melayang. Pandangan mereka kabur. Hingga pada detik berikutnya—dengan kelelahan yang luar biasa—Rivaille langsung menjatuhkan kepalanya di antara perpotongan leher sang istri. Dengan sisa-sisa kekuatan yang dimiliki olehnya, dihirupnya aroma yang ia peroleh dari sana. Kepalanya kini terlalu enggan untuk kembali memikirkan masa lalunya, saat ia kembali mencoba untuk mengingatnya.

Rasanya, ia bagaikan seseorang yang tengah terlahir kembali.

"Maaf," Rivaille merasakan sebuah gerakan dari Annie, saat ia mengucapkan kata itu, "maaf untuk keegoisanku,"

"Lupakan," ucapan dari wanita tersebut seakan mengembalikan kata-kata Rivaille sebelumnya. Sebelah telapak tangan mungilnya mulai mengusap puncak kepala suaminya dengan lembut, "kau harus berjanji untuk memperbaikinya,"

"Ya," pria itu semakin menenggelamkan kepalanya, seakan tak ingin melepaskan momen yang ia dapatkan saat ini, "aku berjanji,"

Annie tersenyum dalam diam. Sorot matanya terlihat berbinar saat memandangi langit-langit kamarnya.

"Terimakasih," ujar sang gadis kemudian, "dan maaf untuk luka pada bibirmu,"

"Tak masalah," kedua lengan Rivaille yang mendekap tubuh mungilnya terasa menguat, "terimakasih untukmu juga,"

"Ya," Annie menghembuskan napas pelan, "istirahatlah,"

"Begitupula denganmu," pria tersebut perlahan mengangkat kepalanya. Dikecupnya pangkal telinga sang istri dengan penuh kasih, "selamat malam,"

Rivaille mengubah posisinya, guna menyamankan tubuh Annie. Perlahan, Annie menyentuh bibir Rivaille dengan sebuah sapuan lembut dengan menggunakan indera pengecap miliknya.

"Selamat malam," Annie tersenyum kecil. Matanya menggambarkan kebahagiaannya, "dan lekas sembuh,"


Author's note :

Akhirnya! Selesai juga chapter terakhir dari fic ini! *tebar confetti* Gomen, Dlien telat banget update. Dlien tau alasan yang akan Dlien kemukakan, akan terdengar sama seperti alasan yang lain; kesibukan di dunia nyata. Mungkin baru ini saja yang akan Dlien update, dan fic yang lainnya menunggu. Gomen ne? :')

Nah, Dlien sama sekali ga bermaksud menulis adegan smut, tapi karena plot yang mendukung, Dlien menulisnya. Untuk sementara ini, Dlien masukkan ke rate T. Kalau ada yang ingin memberi saran dalam memasukkan rate, kalian bisa memberitahu Dlien lewat review; berikut dengan alasannya. Okeh? :D

Hope you like it. Semoga chapter ini bisa menebus kesalahan Dlien, ya. :"3

Then, mind to leave your review? :3