Klub drama SMA Konoha.
Klub drama ini memang termasuk salah satu klub yang diandalkan oleh SMA Konoha untuk mempopulerkan nama baik sekolah. Bukan hanya sekedar omong kosong atau narsis, namun klub ini telah membuktikan kemampuan para anggotanya lewat berbagai lomba teater. Bahkan peringkat di lomba teater nasional pun pernah mereka raih.
Tiga bulan lalu, klub drama ini telah memulai semester baru mereka dengan pertunjukan Romeo dan Juliet untuk promosi klub ke para siswa baru. Meskipun di pertengahan pentas ada sedikit masalah yang ditimbulkan oleh pemeran utama di pertunjukan itu, namun akhirnya setelah itu pertunjukan dapat berjalan dengan lancar sampai akhir. Hasilnya, 26 siswa baru telah melalui beberapa tes masuk klub dan akhirnya lolos masuk ke klub drama. Walaupun jumlah itu dirasa Anko, sang pelatih, terlalu banyak, namun antusias yang diberikan para siswa baru itu membuatnya menyerah dan menerima mereka.
Namun ternyata anggota-anggota baru itu datang di saat yang tepat. Tidak lama setelah pentas Romeo dan Juliet berakhir, klub drama mendapatkan surat permohonan agar mereka mau mengisi acara di sebuah sekolah.
Pertunjukan untuk menghibur anak-anak TK Momiji.
The Love that Ruined the Show
Disclaimer : Karakter©Masashi Kishimoto, Cinderella©Walt Disney;Cendrillon by Charles Perrault, lainnya©chiimao13
Rating : T
Pairing : Sasunaru
Warning : YAOI, OOC, TYPO, GARING, AU, bahasa kacau, no specific plot and no conflict, ETC
Genre : Romance, humor
DON'T LIKE, DON'T READ
Cerita ini murni untuk kepuasan pribadi Author saja. No bashing, please. Jadi, lebih baik segera tutup saja fic ini jika Anda merasa tidak suka dengan apa yang ada di dalamnya, apalagi untuk yang anti-yaoi. Mari buat dunia fandom ini dipenuhi kedamaian X)
Ini hanyalah tiga drabble yang akan diposting secara terpisah. Benar-benar untuk melepas stres saja sementara fanfic lain dalam proses pengetikan juga…
Momiji Youchien: Cinderella
Pelipis Sasuke sudah berkedut-kedut dari tadi. Ia ternyata memang tidak bisa tahan dengan betapa cerewetnya anak-anak. Ia pikir, gadis-gadis SMA di sekolahnya sudah termasuk golongan kaum paling cerewet. Namun sekarang ia paham bahwa ada kaum lain yang tidak kalah cerewetnya.
"Onii-chan ini punya Liko!" Seorang anak yang dikuncir dua menempel ke lengan kanan Sasuke yang sedang duduk di dekat pojok halaman TK.
Seorang anak perempuan lainnya menggamit lengan kiri Sasuke. "Kakak ini milih cewek yang sudah enggak cadel, tau! Jadi kakak ganteng ini punya Airi!"
"Bukan!" Seorang anak lain datang dan mendadak langsung memeluk kedua kaki Sasuke. "Nii-chan ini mirip anggota boyband Korea yang sering ditonton mama di rumah. Karena nii-chan keren, jadi pasti maunya sama cewek imut kayak Kumi!"
"Liko lebih imut dari Kumi!" bantah anak berkuncir dua tadi.
"Nggak! Airi lebih imut dari Riko sama Kumi!" bantah anak yang lain lagi.
Mereka terus saja beradu mulut tanpa mempedulikan satu-satunya korban yang sekarang sudah frustasi. Ingin sekali rasanya ia berteriak keras-keras, mengusir anak-anak itu dari dekatnya. Ide siapa sih yang menyebabkan para anggota klub drama harus mau bermain dulu dengan anak-anak TK sebelum pertunjukannya dimulai?
Untung saja satu suara akhirnya menyelamatkan Sasuke dari deritanya.
"Tuan putri yang manis-manis, disana ada ibu peri yang bagi-bagi coklat lho. Kalau mau, ayo kesana sama kakak!"
Ketiga anak tadi langsung saja menoleh ke arah pemilik suara, seorang 'gadis' anggun dengan rambut panjang yang tergerai. Mendengar kata 'ibu peri' dan 'coklat', mereka langsung saja lupa kalau sedang berebut si pangeran emo yang duduk dengan tampang muram itu.
Dengan semangat, ketiga bocah itu meninggalkan Sasuke yang akhirnya menghembuskan napas lega. Akhirnya ia bisa duduk dengan tenang. Ketiga bocah tadi belum ada apa-apanya dibanding pertama kali Sasuke duduk tadi. Banyak bocah perempuan langsung mendekatinya, acuh dengan tatapan tajamnya. Beruntunglah teman-teman lain yang sudah tahu ia tidak begitu suka dengan anak-anak langsung berusaha menarik anak-anak itu agar menjauh dari Sasuke, sebelum sosok pangeran itu berubah menjadi sosok iblis.
"Lihat tuh! Itu dia kakak sok keren yang tadi genit sama Aya-chan!" Belum ada semenit, mendadak hidup Sasuke sudah terganggu lagi. Seorang bocah lelaki menunjuknya dengan tatapan kesal.
"Pokoknya jangan sampai Aya-chan mau sama kakak itu! Dia kan paling imut di kelas!" Bocah lain memanas-manasi.
"Kakak itu juga genit sama Fumi-chan, anak paling imut dari kelas sebelah!" Mendadak ada bocah lelaki lain yang ikut bergabung dengan dua anak tadi.
Tunggu… Siapa yang genit? Bahkan Sasuke tidak merasa pernah mengenal anak yang bernama Aya dan Fumi. Kenapa ia harus dibilang genit? Dari tadi ia hanya duduk seperti patung disini dan anak-anak perempuan itu yang mendatanginya. Lagipula, siapa peduli dengan bocah terimut di TK? Sasuke sudah punya 'gadis' terimut pilihannya sendiri.
"Ayo kita serang saja si kakak itu biar dia kapo-" Seruan anak yang terakhir datang tadi langsung berhenti seketika. Mata Sasuke yang turunan dari Fugaku itu ternyata memang ampuh untuk mengusir pengganggu. Walaupun Sasuke merasa menatap mereka dengan biasa saja, namun nyatanya anak-anak itu melihat Sasuke dengan ekspresi horor, lalu mendadak lari dari tempat mereka tadi secara serempak.
Bukan mau Sasuke menakut-nakuti anak kecil, namun ia sudah jengkel dari tadi. Sudah begitu, masih dituduh genit pula! Mana minat dia dengan anak TK?
Kalau ingin genit, mending juga ia genit ke 'gadis' anggun yang tadi menggiring ketiga bocah perempuan yang datang ke tempatnya itu. Dari belakang, Sasuke hanya bisa menatap sosoknya. Sosok itulah sosok yang dari tahun kemarin menemaninya berlatih memainkan ekspresi yang diajarkan Itachi tanpa tertawa sekalipun. Sosok yang walau terlihat cengengesan, namun selalu serius jika menemani Sasuke berlatih. Ia bahkan dengan gamblangnya mengkritik dan mencontohkan ekspresi jika dianggapnya ekspresi Sasuke masih kurang. Dia memang orang yang walau lambat berpikir dan lambat mengingat, namun penghayatan dan ekspresinya paling bagus di antara anggota-anggota klub drama yang lain.
Sosok bernama Naruto Namikaze.
Yang membuat Sasuke bingung adalah kenapa Naruto bersikap biasa saja meskipun akhirnya hampir seluruh anggota klub drama pun tahu kalau Sasuke menaruh hati ke Naruto. Apakah itu karena Naruto menganggapnya teman biasa, jadi dia tidak akan peduli walau tahu Sasuke menyukainya? Atau jangan-jangan bukannya ia tidak peduli, namun ia tidak tahu sama sekali?
Yah, yang penting sekarang ia harus fokus untuk membuat sukses pertunjukan kali ini. Jangan sampai mendadak ia mengacau pertunjukan seperti pertunjukan sebelumnya lagi.
Untungnya, tanpa Sasuke harus berkoar-koar, teman-teman di klub drama sekaligus Anko lama-lama bisa paham kenapa Sasuke bertindak aneh di pertunjukan sebelumnya. Karena itu, akhirnya kali ini Anko memisahkan Sasuke dan Naruto. Sasuke dipilih menjadi sang pangeran, sedangkan Naruto dipilih menjadi seorang dari kakak tiri Cinderella. Dengan begitu, mereka berharap Sasuke akan bisa fokus ke perannya tanpa terpengaruh perasaan pribadinya.
Pertunjukan sudah dimulai dan berlangsung dengan baik sampai hampir mencapai bagian akhir. Naruto bisa bersikap dengan ketus dan menyebalkan selayaknya bagaimana kakak tiri Cinderella bersikap kepada Cinderella yang diperankan oleh Hinata, sang penulis naskah. Hinata yang memang lemah lembut itu memang seperti perkiraan Anko, cocok untuk peran Cinderella. Nampaknya Anko tidak ingin menaruh Naruto untuk peran lelaki asli karena muka Naruto yang cenderung manis, sayang kalau tidak dimanfaatkan.
Tapi ternyata bukan hanya Anko dan Sasuke yang berpikir Naruto itu sangat manis.
Pertunjukan telah sampai ke bagian penasehat pangeran memakaikan ulang sepatu kaca ke Cinderella. Sang pangeran sudah siap dengan kotak cincinnya dan hendak berjalan menuju ke arah Cinderella yang masih terduduk di kursi, ketika mendadak ia melihat sesuatu yang membuatnya naik darah.
Di daerah belakang tempat Cinderella duduk, seorang anggota baru yang berperan sebagai pengawal kerajaan dan berdiri di dekat Naruto mendadak menggesek-gesekkan bahunya ke bahu Naruto. Ia tahu Naruto tidak akan bisa berbuat banyak karena tahu ia masih ada di pertunjukan. Tangannya pun lalu merambat ke belakang tubuh Naruto. Sasuke dapat melihat ekspresi mesum dari si anggota baru itu, membuatnya tambah emosi. Mungkin si anggota baru itu mengira, karena semua sedang memfokuskan perhatian pada pangeran dan Cinderella, maka tidak ada yang sadar akan perbuatannya. Tapi itu salah besar.
Scene ini harusnya jadi scene yang romantis dimana pangeran melamar pujaan hatinya, yaitu Cinderella. Namun tidak dengan kali ini. Tanpa sadar Sasuke melangkahkan kakinya menuju ke arah Naruto, dengan begitu saja melewati Hinata dan tidak mempedulikan tatapan-tatapan heran pemeran lainnya.
Anko sudah akan melempar sound system dari samping panggung pertunjukan ketika Sasuke malah berdiri di depan Naruto, membuat anggota baru yang tadi berniat menistai Naruto itu menjadi kaku di tempat. Dengan satu tangan ia mendorong si pengawal dengan kesalnya untuk menyingkir dari dekat Naruto, membuat jarak di antara mereka. Setelah itu ia mengambil tangan Naruto, menggenggamnya erat. Semua perhatian jadi tersedot ke arah mereka.
Setelah berlutut, ditatapnya Naruto dengan penuh penghayatan. Sasuke menyodorkan tangan yang membawa kotak cincin ke depan Naruto, dengan tangan lainnya masih menggenggam tangan Naruto.
"Menikahlah denganku, princess."
Kalimat yang seharusnya dipakai pangeran untuk melamar Cinderella malah akhirnya terpakai untuk melamar kakak tiri Cinderella. Anggota klub yang bertugas mengatur sound system dan properti lainnya sekarang menahan Anko agar tidak muncul dan mengamuk di panggung. Mata Naruto membelalak, kaget dengan improvisasi ngawur dari Sasuke. Setelah sadar apa yang telah ia lakukan, Sasuke juga terkejut sendiri. Ia melamar Naruto untuk kedua kalinya di atas panggung. Sia-sia sudah anggota klub membuat mereka terpisah di pertunjukan.
"A-anu, pangeran…" Disaat yang lain sedang diam karena terkejut dan anak-anak TK pun melongo, akhirnya Hinata membuka suara dan membuat semua mata beralih padanya, termasuk Sasuke. "Sa-saya pikir sayalah yang harusnya dilamar oleh pa-pangeran. Bu-bukan kakak saya…"
Sasuke terdiam, berpikir sejenak. Memberi improvisasi lain bukanlah hal yang tidak bisa dilakukan seorang Uchiha. Ya, ia pasti bisa berimprovisasi lagi. Sang pangeran berdiri dan melepaskan tangan si kakak tiri, kemudian ia berjalan kembali ke arah Cinderella.
Diambilnya tangan Cinderella, lalu ia berlutut di depannya. "Maafkan saya, tuan putri. Saya tidak membawa kacamata saya sehingga salah melihat kakak Anda sebagai Anda. Jadi, maukah Anda menikah dengan saya?"
Pertunjukan akhirnya berakhir di ending yang seharusnya walau sempat terjadi kesalahan lagi. Namun pertunjukan itu sungguh berbekas di hati anak-anak TK, dimana mereka akhirnya paham kalau sosok sang pangeran yang terlihat sempurna itu ternyata punya rabun jauh yang membuatnya hampir melakukan kesalahan fatal dengan melamar kakak tiri Cinderella.
Acuhkan Anko yang sudah siap membuat Sasuke menjadi daging cincang, pokoknya Sasuke memenuhi panggilan Naruto ke lorong di dekat toilet area belakang aula. Sasuke baru saja akan mencari Naruto begitu melihatnya keluar dari toilet dengan muka basah-kelihatannya baru saja mencuci muka.
"Ah, maaf membuatmu menunggu." Naruto menyapa Sasuke dengan santainya. Ia masih mengusap wajahnya dengan handuk.
"Tidak, aku baru saja sampai sini," sahut Sasuke dengan hati berdebar, ingin tahu apa yang membuat Naruto memanggilnya kesini. Atau… bolehkah ia sedikit berharap dari Naruto?
"Nggg…" Naruto menggaruk belakang kepalanya dengan kikuk. "Aku ingin menyampaikan sesuatu padamu, teme."
"Hn." Sasuke makin penasaran saja.
Keraguan agak terlihat dari ekspresi Naruto. Namun akhirnya mulut itu kembali membuka. "Terima kasih, teme."
"Hn?"
Dengan ragu lagi, Naruto melihat sekelilingnya, lalu bergerak menuju ke arah Sasuke. Belum sempat Sasuke menyiapkan mental akan apa yang bakal dilakukan Naruto, mendadak Naruto sudah meraih wajahnya dan mencium pipinya sekilas.
"Terima kasih sudah membantuku waktu aku diganggu di panggung tadi," ucapnya pelan. "Ini ucapan terima kasih ala kakak tiri Cinderella ke sang pangeran. Hehehe." Ia terkikik sebentar sebelum melesat pergi, tanpa rasa bersalah meninggalkan Sasuke yang mematung dengan ekspresi wajah yang tidak dapat terbaca.
Tampaknya tindakan nekatnya di pertunjukan tadi tidak sia-sia…
To be continued...
Next: The Backstage
Akhirnya saya lanjut karena ternyata ada yang mau baca abal-abal ini x)) makasih buat yang sudah baca n review! kalian sangat berarti! xDD
Masih ada satu lagi yang tersisa... x)
Makin lama kok saya rasa ini makin panjang, makin enggak drabble. Tapi biarlah...
Buat balesan review yang ngga login:
aikhazuna117
ehehehehehe jujur aja, ini fic ngga ada konfliknya #dihajar massa xD
tapi kalo pacaran enggaknya, ntar tergantung sama mood saya waktu ngetik nih. kalo lagi baek, mereka bakal dibikin pacaran. #disambit batu
ehehehe makasih sudah baca sama review ya! /(^ x ^)\
sheren
ini dilanjut xD
makasih sudah baca sama review ya! /(^ x ^)\
nana-chuu
ehehehe jadi malu.. #ditabok xD
ini sudah post cerita keduanya. makasih sudah baca n review ya! /(^ x ^)\
ganbarimasu~
miss46
ehehe glad you like it! xD
thank you for reading and dropping review! /(^ x ^)\
sobri roseriey
ehe ehe ehe! xD
ini dilanjut! hohoho.
makasih buat dukungannya, makasih sudah baca n review juga! /(^ x ^)\
yuzuru
ehehehehe agak maksa... tapi biar deh. yang penting teme keliatan dudul #dichidori xD
makasih sudah baca n review yah! /(^ x ^)\
sekian cuap-cuap saya..
mind to RnR?
