Chapter 2 Update! Mianhae yeorobun kalau updatenya terlalu lama...

Happy reading ^_^

.

.

Chapter 2

Seorang namja manis bertubuh tinggi berjalan di koridor menuju kelasnya dengan sedikit tergesa-gesa. Bukan karena ia terlambat memasuki kelas, tapi ia...

"KAAAIII!" teriak namja manis itu saat ia tepat berada di depan pintu kelasnya.

Seisi ruangan kelas menatap padanya, tapi ia tidak peduli. Ia langsung menghampiri sahabatnya yang sedang membelalakkan matanya karena ikut terkejut.

"Kai, aku ingin cerita padamu! Eotteohke? Eotteohke? Eotteohke?" ucap Tao sambil mengguncang bahu Kai.

"I-iya.. tapi pertama-tama, berhentilah mengguncang-guncang bahuku Tao!" jawab Kai dengan susah payah.

"Oh? Hehehe... Mianhae..." Tao melepaskan tangannya dari bahu Kai sambil tersenyum kecil.

"Aigo Tao, aku tidak menyangka kalau tenagamu sangat kuat. Kepalaku sampai terasa pusing."

"Kan tadi aku sudah bilang mian..." Tao mem-pout-kan bibirnya imut sambil menundukan kepalanya. Melihat hal itu, Kai jadi sedikit merasa bersalah. Padahal sebenarnya ia hanya bercanda.

"Eh, jangan dimasukkan ke hati Tao, aku ini hanya bercanda. Hehehe..."

"Ya! Kim Jongin! Aku kira kau-"

"Sudahlah, katanya kau ingin cerita padaku. Ceritalah." Ucap Kai sambil duduk di kursinya. Kemudian Tao juga duduk di kursi yang ada di depan tempat duduk Kai.

"Kemarin, Kris-ge mengajakku jalan-jalan!" Tao memulai ceritanya.

Kai kembali membelalakkan matanya. Padahal baru kemarin Tao menceritakan kalau Kris mengatakan ia mencintai Tao. Dan tepat kemarin juga Kris mengajak Tao jalan-jalan. 'Sepertinya Kris hyung benar-benar serius dengan Tao,' batin Kai.

"Dia mentraktirku makan di cafe juga loh. Tapi aku sedikit bingung dengan Kris-ge. Saat aku sedang makan kueku, dia terus memandangku dan aku pun menegurnya, tapi dia bilang, kalau dia lebih suka memakanku daripada makan kue. Hwaa... Kai, itu sangat mengerikan!" Tao berteriak frustasi sambil mengacak-acak rambutnya.

"Mwo? MWO?! KRIS HYUNG BILANG BEGITU?!"

Tao segera membekap mulut Kai karena ia berteriak terlalu keras. Tao meletakkan jari telunjukknya di bibir, mengisyaratkan Kai untuk diam.

"Hehe, mianhae Tao. Tapi aku sangat terkejut. Lebih baik kau berhati-hati dengan Kris hyung mulai sekarang." Ucap Kai sambil menunjukkan smirk-nya.

"Eh? Memang kenapa Kai. Jangan berkata seperti itu... Kau membuatku takut.."

"Umm... kau akan mengerti kalau sudah waktunya. Mianhae.." jawab Kai sambil tertawa kecil. Tao mem-pout-kan bibirnya. Padahal ia sudah penasaran setengah mati. Ia kira Kai akan mengatakannya, tapi ternyata tidak.

Kai semakin tertawa melihat reaksi Tao. Ia tidak ingin mengatakan apa yang dimaksud Kris karena menurutnya, Tao itu sangat innocent.

"Lalu setelah itu Tao? Apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Kai setelah ia selesai tertawa.

"Oya, Kris-ge membelikanku boneka panda dan ini." Tao mengeluarkan handphone-nya yang sudah dipasang gantungan berbentuk naga.

"Naga?"

"Ne, sebenarnya aku memilihkan ini untuk Kris-ge, tapi dia malah mengambil milikku yang berbentuk panda dan menyuruhku untuk menyimpan yang ini. Dan setelah itu, Kris-ge mengelus kepalaku. Kau tau Kai? Jantungku berdegup kencang setelah itu! Aku ini kenapa?!"

Kai tersenyum. Ia yakin sahabatnya ini mulai menyukai Kris. Tapi, secepat itu kah? Pesona Kris memang tidak bisa dibantah.

"Kau mulai menyukai Kris hyung. Aku yakin itu." jawab Kai. Tao memiringkan kepalanya. Benarkah semua yang dikatakan Kai?

"Menyukai... Kris-ge?" Tao bergumam pada dirinya sendiri. Tapi ia masih belum yakin dengan perasaannya.

Tiba-tiba seluruh murid memasuki kelas. Sepertinya akan ada seonsaengnim yang memasuki kelas. Tao kembali ke tempat duduknya, masih sambil memikirkan kata-kata Kai.

.

.

Saat ini Tao sedang asik memakan makanannya di kantin sekolah bersama sahabatnya Kai dan juga Baekhyun. Sesekali mereka terlihat mengobrol dan tertawa bersama.

Dan tanpa mereka sadari, dari kejauhan ada seseorang yang memperhatikan mereka, tepatnya memperhatikan Tao. Ya, ia adalah Kris. Ia begitu senang ketika melihat Tao yang sedang menikmati makanannya, melihat tao tertawa, semua yang dilakukan Tao, menurutnya sangat imut.

"Ya! Kris-ge, apa yang sedang kau lihat? Kau pun belum menyentuh makananmu sedikitpun." Ujar seorang namja manis yang duduk di samping Kris.

Kris pun mengalihkan pandanganya pada namja disampingnya yang bernama Zhang Yixing atau yang biasa dipanggil Lay. Lay adalah sahabatnya sejak kecil, dan mereka sangat dekat satu sama lain. Tapi ada juga yang salah mengartikan tentang kedekatan mereka berdua. Tak jarang ada yang menganggap mereka sebagai pasangan kekasih.

"Ah! Kau sedang memperhatikan Tao ya?" tambah Lay lagi setelah ia melihat kearah pandangan Kris. Lalu Kris mengangguk sambil tersenyum.

"Hm, lebih baik kau kesana dan menemuinya. Daripada kau hanya diam disini sambil memperhatikan dari jauh seperti seorang stalker," saran Lay.

Kris menimbang-nimbang saran Lay dan kemudian ia mengangguk. Ia bangkit dari tempat duduknya dan menatap Lay.

"Tidak apa jika aku tinggal kau sendiri?" tanya Kris sedikit cemas meninggalkan sahabatnya sendirian.

"Kau kira aku ini anak kecil ge? Aku bisa jaga diriku sendiri. Sudah sana, sebelum Tao pergi!" Lay mendorong bahu Kris untuk segera menghampiri Tao sambil menggumamkan 'Hwaiting' pada Kris.

Kris mengangguk kemudian kembali berjalan menghampipiri Tao. Hatinya berdegup begitu kencang, meskipun semua itu tidak tercermin diwajahnya. Tapi kemudian ia menghentikan langkahnya. Ia merasa bingung, kenapa Tao malah bersikap aneh dan pergi menginggalkan teman-temannya. Wajah Tao terlihat panik dan terburu-buru. Padahal ia belum sempat mendekati Tao. Ia pun menghela napas. Sepertinya rencananya gagal kali ini.

*Tao POV*

Aku sedang asik memakan makananku saat ini dan juga mengobrol bersama Baekhyun hyung dan Kai. Tapi kemudian aku menyadari keberadaan seseorang yang akan menghampiriku. Dia sedang berjalan kearahku. Aku sedikit melirik pada orang itu dan ternyata orang itu adalah Kris-ge!

Aku kembali mengingat kata-kata Kai. Katanya aku harus berhati-hati dengan Kris-ge. Meskipun aku juga tidak tau kenapa Kai mengatakan hal itu padaku dan maksudnya pun aku tak tau. Tapi aku harus segera pergi dari sini. Sebentar lagi Kris-ge pasti menghampiriku. Aku yakin itu!

Aku bangkit dari tempat dudukku dengan perasaan panik. Baekhyun hyung dan Kai menatapku bingung.

"Baekhyun hyung, Kai, aku harus pergi sekarang. Ada sesuatu yang harus kukerjakan sekarang. Annyeong." Ucapku cepat dan setelah ityu aku bergegas pergi dari kantin.

"Tao, kau mau pergi kemana?" tanya Baekhyun hyung dengan sedikit berteriak.

Aku tetap berjalan cepat dan tidak menghiraukan pertanyaan dari Baekhyun hyung. Aku pergi tanpa melihat ke belakang. Takut-takut kalau Kris-ge akan mengejarku nantinya.

*END OF TAO POV*

.

.

*KRIS POV*

Aku tidak bisa seperti ini! Tidak bisa! Kenapa Tao jadi menghindariku seperti itu? Ada yang salah kah? Tao memang sulit untuk ditebak. Dan aku pun masih belum terlalu mengenalnya.

Aku pun menatap Lay yang berjalan santai di sebelahku. Aku dan Lay memang cukup sering pulang bersama, karena rumah kami yang searah. Tampaknya ia sedang asik mendengarkan musik menggunakan headset ditelinganya. Merasa kutatap, Lay mengalihkan perhatiannya padaku.

"Ada apa? Ada masalah dengan Tao?" tanya Lay yang sepertinya mengetahui raut di wajahku.

"Dia menghindariku tadi. Kau lihat?"

"Aniyo. Setelah kau pergi menghampiri Tao, makananku habis, jadi aku kembali ke kelas."

Aku menghela napas. Akhirnya aku menceritakan kejadian tadi saat Tao mencoba menghindariku. Tapi bukan saran yang kuterima, Lay malah menertawaiku. Apa yang lucu?

"Hahaha... Seorang Wu Yi Fan yang sempurna dan dikagumi banyak orang justru mendapat penolakan? Itu lucu sekali ge!" Lay tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya.

Aku memberikan glare andalanku yang membuatnya terdiam dan menggumamkan kata 'maaf'. Aku mengangguk sambil tersenyum menahan tawa melihat tingkah Lay. Padahal aku tidak marah padanya.

"Hm, lebih baik aku mengatasi semua ini sendiri dengan caraku," kataku penuh semangat sambil mengepalkan tangan kananku.

"Memang kau punya rencana apa? Kau yakin rencanamu itu akan berhasil?" tanya Lay ragu.

"Ya! Kau ini!"

"Hahaha... Aku hanya bercanda. Kau ini sensitif sekali Wu Yi Fan!" ucap Lay meledekku. Dan apa katanya tadi? Dia memanggilku dengan nama asliku tanpa menggunakan 'hyung' atau 'gege'. Dasar anak ini!

"Ya! Aku ini lebih tua darimu Zhang Yi Xing!"

.

.

*Tao POV*

Jam di dinding kamarku menunjukkan pukul 9 malam. Aku menutup buku pelajaranku dan membiarkannya tergeletak di atas meja belajarku. Aku membaringkan tubuhku sambil menatap langit-langit kamarku.

Sudah beberapa hari ini aku menghindar dari Kris-ge. Aku merasa ada sesuatu yang hilang dalam diriku, meskipun aku belum begitu mengenalnya. Aku masih mengingat jelas hari itu, hari saat Kris-ge mengajakku jalan-jalan. Dia memperlakukanku dengan sangat baik. Bahkan tidak sedikit pun ia protes atau menolak apa yang aku inginkan. Kris-ge memang sangat baik.

Eh, tapi tunggu dulu, kenapa aku malah menghindar dari Kris-ge? Apa aku terlalu mendengar kata-kata Kai waktu itu? Meskipun sampai sekarang, aku belum mengerti apa yang maksud Kai sebenarnya. Hwaa.. Kenapa kau membalas perilaku Kris-ge seperti ini? Dan seharusnya aku tidak menghindarinya! Aku kan merindukannya! Mwo? Kau baru saja mengucapkan dalam hatimu kalau kau merindukannya, Huang Zitao? Apa itu berarti, aku menyukainya?

Aku mengambil ponselku yang berada di sampingku, lalu kucari nomer kontak Kai. Kemudian aku pun meneleponnya.

"Hey Tao-"

"Kaaaiii! Eotteohke?"

"Waeyo? Ada masalah?"

Aku terdiam sejenak. Sebenarnya aku malu menceritakan hal seperti ini, dan untuk meminta saran dari Kai. Tapi sungguh, ini pertama kalinya aku begini. Memikirkan seseorang tanpa henti.

"Mmm.. Kai, sebenarnya aku.."

"Apa ini soal Kris hyung?" Aku membelalakkan mataku. Kenapa Kai bisa tahu apa yang akan aku ceritakan? Aku belum saja mengatakannya.

"Bagaimana bisa kau tau? Kau bisa membaca pikiran orang lain ya?"

"Aku sudah menduganya. Kau merindukannya ya Tao?" Sebuah pertanyaan dari Kai yang membuat wajahku memanas. Ya, aku tidak bisa mengelak kalau aku merindukannya.

"Ngg.. sedikit," jawabku pelan.

"Hwahaha.." aku mendengar Kai yang tertawa diseberang telepon. Aku mem-pout-kan bibirku.

"Ya! Aku meneleponmu bukan untuk ditertawai olehmu Kim Jongin!"

"Haha.. Ne, arasseo. Aku tidak menyangka kalau kau mulai menyukainya."

"Jinjja? A-aku tidak menyukainya Kai!" tanyaku memastikan.

"Ne, terserah kau mau bilang apa Tao. Tapi jika kau sedang menyukai seseorang, kau akan selalu memikirkannya, dan selalu ingin bertemu dengannya. Jika satu hari saja kau tidak bertemu dengannya, kau pasti merasa seperti ada sesuatu yang hilang dalam dirimu." Kata-kata Kai barusan memang benar-benar menggambarkan situasiku saat ini.

Semua yang dikatakan Kai benar-benar terjadi padaku. Terkadang Kai berkata lebih dewasa dibandingkan umurnya. Dia benar-benar sahabatku yang selalu mengerti tentangku.

"Gomawo Kai! Sekarang aku sudah mengetahui apa yang harus aku lakukan. Sampai jumpa besok ne? Annyeong"

"Ne, annyeong."

Setelah menelepon Kai, aku kembali berbaring di tempat tidurku sambil menatap gantungan ponsel berbentuk naga yang diberikan oleh Kris-ge. Memang Kris ge terkadang sedikit bersikap aneh, tapi mungkin aku tidak perlu menghindar dari Kris ge lagi.

.

.

*Author POV*

Tao memandang kosong ke luar jendela dan tak menghiraukan seonsaengnim-nya yang sedang menerangkan pelajaran di depan kelas. Ia masih memikirkan Kris. Sesekali ia tersenyum tipis ketika mengingat Kris.

"Zitao.." sebuah suara memanggil namanya. Tapi Tao tidak menyadarinya dan tetap memandang ke luar jendela.

"Huang Zitao!" suara itu memanggil nama Tao dengan sedikit lebih keras dan penuh penekanan. Kali ini ia menyadari sesuatu. Seisi kelas sedang menatapnya. Dan suara tadi adalah suara seonsaengnim-nya. Sedangkan sahabatnya, Kai menatap Tao dengan penuh rasa cemas.

"Zitao, kenapa kau tidak memperhatikan pelajaranku?" ucap seonsaengnim.

"Jeongmal mianhae seonsaengnim, a-aku.. Aku hanya kurang beristirahat tadi malam," jawab Tao berbohong. Tentu saja ia tidak bisa mengatakan yang sebenarnya kalau ia sedang memikirkan seseorang.

"Huh, sudahlah. Semuanya, kembali fokus pada pelajaran, dan Zitao, jangan ulangi lagi. Arasseo?"

"Ye, arasseo seonsaengnim."

.

.

Waktu istirahat sedang berlangsung. Hampir kebanyakan siswa tentu saja pergi ke kantin, tapi tidak untuk Tao. Ia memilih untuk pergi ke toilet sejenak. Pikirannya sedang kacau hanya karena seorang namja.

Tao mencuci tangannya sambil menatap refleksi wajahnya di cermin.

'Tao, ini bukan dirimu yang biasanya. Kenapa kau bisa seperti ini hanya karena Kris-ge?' tanya batin Tao.

Setelah itu, Tao berjalan keluar dari toilet dengan kepala menunduk, namun jalannya terhalang oleh seseorang. Tao terkejut. Saat ia mendongakkan kepalanya, ia menyadari kalau namja dihadapannya adalah Kris.

Jarak diantara mereka sangat dekat, dan mereka saling bertatapan. Tao merasakan kedua pipinya yang semakin panas karena tatapan tajam Kris. Napasnya tercekat, saat jarak dan dirinya Kris semakin dekat dan Kris meletakkan tangannya di pundak Tao. Tao memang tidak ingin menghindari Kris, tapi kalau situasinya seperti ini...

"Kyaaa!" Tao mendorong Kris dengan sekuat tenaga, membuat Kris jatuh ke lantai.

Tao segera berlari keluar toilet, masih dengan berteriak. Di tengah jalan, Baekhyun yang sedang berjalan di koridor bersama Chanyeol melihat Tao yang berlari sambil berteriak. Baekhyun heran, apa yang terjadi dengannya. Ia pun memutuskan untuk mengejar Tao.

"Chanyeol, aku harus mengejar Tao sekarang. Sepertinya ada yang tidak beres dengannya."

"Ne, gwaenchanhayo. Kita bisa bicara lagi nanti," balas Chanyeol.

Baekhyun menganggukkan kepalanya dan kemudian bergegas mengejar Tao. Ia terus mencari dan mencari, tapi belum berhasil menemukan Tao. 'Cepat sekali Tao? Kemana dia?' pikir Baekhyun. Tentu saja Tao berlari sangat cepat karena ia memiliki sepasang kaki yang panjang.

Baekhyun mengingat sesuatu. Tao sangat suka beristirahat di danau kecil belakang sekolah. Baekhyun pun berlari lagi menuju tempat itu, berharap ia menemukan Tao.

Setelah cukup lama ia berlari, akhirnya ia sampai di danau itu. Meskipun tidak begitu luas, air danau itu sangat jernih. Di sekitar danau itu ditumbuhi rumput-rumput hijau, dan beberapa pohon besar, memberikan kesan sejuk dan tenang.

Baekhyun melihat ada beberapa siswa di tempat itu. Ada yang sedang mengobrol bersama teman-teman, ada juga yang sedang menikmati makan siangnya. Dan setelah berkeliling sejenak, ia pun menemukan Tao yang sedang duduk bersandar di bawah pohon besar sambil memandang danau.

"Tao!" Baekhyun menghampiri Tao, masih dengan napas yang terengah-engah.

"Baekhyun hyung? Kenapa hyung bisa disini?" Tao cukup terkejut karena tiba-tiba Baekhyun muncul dibelakangnya.

"Seharusnya aku yang bertanya padamu. Kau kenapa Tao?" tanya Baekhyun cemas dan kemudian duduk di samping Tao.

Mendengar pertanyaan itu, Tao terdiam dan mengalihkan pandangannya dari Baekhyun. Tao tidak tahu harus menjawab apa, karena memang ia sendiri pun tiak tahu mengapa ia menjadi seperti ini.

"Apa ini soal Kris hyung?" tebak Baekhyun. Kini Tao mengangguk kecil. Tatapannya masih belum lepas dari danau di hadapannya.

"Ceritakan padaku. Mungkin aku bisa membantu."

Tao menatap Baekhyun sinis. Sesungguhnya Tao tidak begitu percaya pada Baekhyun meskipun mereka sangat dekat. Karena ia tahu, Baekhyun bukanlah seseorang yang bisa menjaga rahasia.

Tao menghela napas panjang. Ia akhirnya menceritakan semuanya pada Baekhyun.

"Aha! Kau menyukainya kan Tao?" seru Baekhyun setelah mendengar cerita Tao.

"Aniyo hyung! Kai juga mengatakan hal yang sama, t-tapi a-aku tidak menyukai Kris ge! " Tao mengelak.

"Oh? Jinjja? Tapi apa kau tidak sadar Tao? Kris itu sangat populer dan dia menyukaimu!" ucap Baekhyun sambil menunjuk-nunjuk Tao.

Tao menggigit bibir bawahnya. Ia tidak tahu harus bagaimana. Ini pertama kalinya Tao berurusan dengan hal yang sangat rumit. Tao tidak tahu bagaimana rasanya menyukai atau mencintai seseorang.

"Tao, kau harus menerima Kris hyung seba-"

"AH! Aku mau ke kelas dulu hyung! Aku pusing!"

"Hey Tao! Aku belum selesai!"

Tanpa mendengar kata-kata Baekhyun hingga selesai, Tao segera pergi meninggalkannya.

.

.

Jam pelajaran pun berakhir. Tao membereskan buku-bukunya dan memasukkannya ke dalam tas. Setelah itu ia berjalan keluar kelas dan bersiap untuk pulang. Dan baru saja Tao keluar dari gerbang sekolah, seorang namja tampan bertubuh tinggi memanggilnya.

"Tao!"

Tao membeku sejenak mendengar suara namja yang memanggilnya. Tao kenal betul dengan suara itu. Kemudian ia membalikkan badannya dan menatap namja yang memanggilnya.

"Ada a-apa kris ge?" tanya Tao gugup.

Kris dengan santainya merangkul pundak Tao dan mengajaknya untuk berjalan bersama. Sepertinya Kris tidak mengingat kejadian istirahat tadi karena ia sama sekali tidak mengatakan apa-apa tentang hal itu. Atau memang Kris tidak ingin membahas hal tadi? Entahlah.

"Kajja, kita pulang bersama," ucap Kris.

Tao tidak berkata apa pun. Ia hanya diam dan menundukkan kepalanya.

"Tao."

"Ne Kris ge?"

"Besok sepulang sekolah, kau ada rencana?"

"Hmm.. Memang kenapa gege?"

"Ayo kita jalan-jalan!" ajak Kris dengan semangat. Ia berharap agar Tao mau menyetujui ajakannya.

"Waktu itu kita kan sudah jalan-jalan ge.." jawab Tao.

"Oh?" Kris kaget mendengar jawaban Tao.

"Hmm.. Bagaimana kalau besok kita pergi dinner? Kau mau?" ajak Kris lagi.

Tao terlihat berpikir sejenak. Kris sudah harap-harap cemas menunggu jawaban Tao.

"Tidak bisa Kris ge.."

"Kalau lusa?"

"Tidak bisa."

"Malam minggu?"

"Tetap tidak bisa ge!"

"Memangnya kenapa Tao?" Kris mencoba bersabar setelah mendengar jawaban dari Tao yang terus menolaknya ajakan untuk dinner. Apa ada yang salah dengan dinner? Atau ada yang salah dengan dirinya?

"Kata mama dan papa, Tao tidak boleh keluar malam-malam. Karena itu, Tao bilang tidak bisa," jawab Tao polos.

'TTAANGGG'

Kris menendang sebuah kaleng kecil yang ia lihat tepat di hadapannya. Yang pertama, pernyataan cintanya di tolak oleh Tao. Dan sekarang, ajakan dinner nya juga ditolak. Kris mencoba menekan emosinya. Meskipun Tao menolaknya, Kris tidak pernah membenci panda kesayangannya ini.

"Eung.. Kris ge, kita sudah sampai dirumahku. Aku masuk dulu ne? Annyeong Kris ge!" Tao melambaikan tangannya dan masuk ke dalam rumahnya tanpa menunggu jawaban dari Kris. Kris hanya diam membatu. Kali ini ia ditinggal oleh Tao, bahkan sebelum ia sempat membalas kata-kata Tao.

Tapi Kris belum menyerah. Kris mendongakkan kepalanya menatap langit dan menarik napas dalam-dalam. Ia harus memikirkan berbagai cara agar Tao bisa menyukainya. Harus!

.

.

TBC..