Author Note: jeongmal mianhae yeorobun... karena tugas kuliah yang menumpuk, ff ini jadi terbengkalai -_-" Tapi pearlblue bakal berusaha untuk tetep update! Semoga chapter ini tidak mengecewakan :)
Happy reading ^^
.
.
Chapter 5
Tao menatap lokernya. Seperti ada yang aneh. Tampak berbeda dari biasanya. Tidak ada satu pun sticky note yang menempel disana. Tao merasa sedikit kehilangan. Kenapa Kris tidak seperti biasanya? Kenapa ia tidak menempelkan sebuah sticky note dengan sebuah pesan didalamnya? Apa mungkin Kris masih marah?
Tao membuka lokernya. Mengambil beberapa buku lalu memasukkannya ke dalam tas. Tiba-tiba sebuah tangan merangkul pundaknya. Tao menoleh. Ternyata yang merangkulnya adalah Kris.
"Pagi Tao!" sapa Kris.
"Pagi gege," jawab Tao.
"Bagaimana tidurmu Tao? Nyenyak?"
"Ne gege. Sangat nyenyak. Umm.. Kris ge?"
"Ada apa Tao?"
"Umm..."
Tao ingin sekali bertanya kenapa Kris tidak menempelkan sticky note seperti biasannya. Tapi Tao tidak berani mengatakannya. Ia terlalu malu.
"Tao? Kau kenapa? Apa yang ingin kau katakan?" Kris merasa bingung karena Tao tidak melanjutkan kata-katanya.
"Umm.. tidak ada apa-apa gege. Hehehe..."
"Wah, ternyata kalian sudah pacaran?" Kai tiba-tiba muncul di belakang mereka.
"KAI! Kris ge bukan pacarku!"
"Lebih tepatnya, belum," timpal Kris cepat.
"Kris ge!" bentak Tao.
"Ne, my sweetie panda?" goda Kris. Ia mencolek dagu Tao.
"Argh!" Tao mengacah-acak rambutnya.
"Tapi kau menyukai Kris hyung kan Tao?"
"ANIYO!"
"Oh? Jinjja? Kris hyung, sepertinya kau harus berusaha lebih keras lagi," Kai menepuk-nepuk pundak Kris dengan wajah prihatin yang dibuat-buat.
Kris hanya memandang datar Kai yang berdiri disampingnya. Kai tidak tahu kalau Kris sudah mencoba berbagai cara. Bahkan ia hampir saja terjun dari atas gedung sekolah. Tapi tetap saja, mendapat hati Tao itu benar-benar sulit!
"Lebih baik aku ke kelas saja!"
"Hey Tao! Tunggu aku!"
Kris menghela napas. Lagi-lagi paginya bersama Tao harus diganggu dengan kehadiran Kai. Mungkin jika Kai tidak ada, ia bisa mengobrol atau menggoda Tao lebih lama lagi.
.
.
*SKIP TIME*
Tao saat ini sedang duduk di sebuah bangku yang terletak di dekat danau belakang sekolah sendirian. Ia sangat malas berada di ruang kelas saja. Kai mungkin sedang beristirahat dengan namja bernama Kyungsoo dari kelas 2-C. Tao tidak tahu ada hubungan apa sebenarnya antara Kai dan Kyungsoo. Ia malas untuk menanyakannya. Sedangkan Baekhyun, entahlah ia kemana. Mungkin sedang bersama namja jangkung bernama Chanyeol itu.
Jadi Tao hanya diam sendiri sambil memandang danau didepannya. Sampai akhirnya ia mendengar suara lagkah kaki dari arah belakang. Ia menengok dan melihat Kris di belakangnya. Ada perasaan senang dalam hati Tao karena ia tidak sendirian lagi.
"Kris ge? Kenapa gege bisa disini?"
"Kenapa Tao? Kau tidak suka? Yasudah, aku pergi saja." Kris berpura-pura akan pergi dan meninggalkan Tao. Namun tiba-tiba sebuah tangan memegang lengannya.
"Eh, jangan Kris ge!" cegah Tao. Tapi kemudian wajahnya memerah saat menyadari kalau ia masih memegang lengan Kris. dengan cepat Tao menjauhkan tangannya dari lengan Kris dan menundukkan kepalanya.
Kris tersenyum melihat tingkah Tao yang salah tingkah hanya karena memegang lengannya. Kris kemudian duduk di samping Tao. Ia mengelus wajah Tao dan menatap lurus ke mata Tao. Tapi Tao berusaha menghindari tatapan Kris.
"Kau tidak perlu malu-malu seperti itu Tao. Kau bisa memegangku kapan saja kau mau," goda Kris.
"Ish! Kris ge! Gege ini sedang bicara apa sih?" Tao mendorong pundak Kris hingga tercipta jarak diantara keduanya.
Selama beberapa menit tidak ada percakapan diantara mereka. Tao tetap fokus melihat pemandangan danau di depannya. Sedangkan Kris mencoba memikirkan hal apa yang sebaiknya dibicarakan oleh mereka berdua.
"Tao.." panggil Kris.
"Ne, gege?" Tao menengok ke arah Kris.
"Kenapa kau suka tempat ini?" tanya Kris basa-basi. Ia tidak begitu suka jika suasana mereka agak canggung.
"Umm... tempat ini membuat Tao merasa tenang. Tapi sebernarnya Tao lebih suka melihat laut."
"Laut?"
"Ne..."
"Bagaimana kalau kita ke Busan. Aku dengar laut disana sangat indah," Kris memberikan saran. Mungkin suatu saat ia bisa mengajak Tao ke Busan untuk berlibur.
"Terlalu jauh ge..."
"Eoh? Atau bagaimana kalau kita sekali-kali pergi ke sungai Han?"
"Boleh juga gege! Kapan-kapan kita kesana, ne?" jawab Tao bersemangat.
"Tentu saja kita akan kesana! Umm... Tao?"
"Ne?"
"Apa kau menyukaiku?" tanya Kris tiba-tiba. Tao mengerjapkan matanya dengan cepat, seperti terkejut dengan pertanyaan Kris.
"Tentu saja Tao menyukai Kris ge."
Dan sekarang Kris yang terkejut. Apa ia sedang salah mendengar? Ataukah ini hanya mimpi? Benarkkah Tao bilang bahwa ia juga menyukainya?
"Tao, benarkah?"
"Benar apa ge?"
"Tadi kau bilang kalau kau menyukaiku. Apa itu benar?" Kris mencoba meminta penjelasan. Berharap sesuatu yang baik akan datang padanya.
"Itu benar ge. Kris ge kan teman Tao. Karena itu Tao menyukai gege," jawab Tao dengan polosnya tanpa mengetahui bahwa Kris sedang merasa sangat kecewa dalam lubuk hatinya.
Tao hanya menganggapnya sebagai teman. Hanya teman? Tidakkah Tao memiliki perasaan lain terhadap Kris? kris sudah menunggu cukup lama. Dan di saat ia ingin mengatakan isi hatinya lagi, Tao malah menganggapnya hanya sebagai teman.
'Poor Kris.'
.
.
Seperti biasa, Tao dan Kris pulang bersama setelah jam pelajaran berakhir. Namun tentu saja Kris yang mengajak terlebih dahulu. Tao hanya menurut saja. Mereka berjalan berdampingan sambil bercakap-cakap tetang berbagai hal.
"Tao, kau lapar?"
"Sedikit ge. Memang kenapa? Kris ge mau mengajak Tao makan lagi?" tanya Tao riang.
Kris mengangguk. Apa pun akan ia lakukan untuk mendapatkan hati Tao. Uang menurutnya bukan masalah, yang penting ia mendapatkan cintanya.
"Kau mau kue?"
"Mau gege!"
"Ne, kajja!"
.
.
Tao makan dengan lahap. Makanan manis seperti cake memang sudah menjadi favoritnya sejak ia kecil. Kris tersenyum melihat Tao yang terlihat cute saat sedang makan. Namun kemudian, Kris mengingat sesuatu yang tidak mengenakkan.
Kris mengambil dompetnya yang ia letakkan di dalam tas ranselnya. Perlahan ia membuka dompetnya. Dan ketika isi di dompetnya sudah benar-benar terlihat, Kris membelalakkan matanya. Uangnya hanya tersisa beberapa won saja! Dan itu tidak cukup untuk membayar pesanan mereka. Ia ingin meralat semua pikirannya tadi. Kini, uang menjadi masalah baginya. Kris baru ingat, bahwa uangnya habis karena kejadian kemarin.
"Tao," Kris berbisik.
"Kenapa bisik-bisik gege?" Tao menghentikan kegiatan makannya sejenak. Kris menggigit bibir bawahnya. Ragu-ragu untuk mengatakan hal ini. Tapi ia harus mengatakannya.
"Apa... kau punya cukup uang Tao?"
Tao mengernyitkan dahinya. Ia tidak mengerti kenapa Kris tiba-tiba bertanya hal itu. Tapi ia kemudian membuka tasnya untuk mencari dompetnya. Kris berharap agar Tao memiliki uang yang cukup untuk membayar pesanan mereka. Karena jika tidak, masalah besar pasti akan terjadi.
"Aku lupa membawa dompetku Kris ge," balas Tao setelah ia mencari-cari dompetnya.
"Kau tidak sedang bercanda kan Tao?"
"Tentu saja tidak. Memangnya ada apa ge?" raut wajah Tao menjadi serius. Ia merasakan bahwa ada sesuatu yang tidak mengenakkan.
Kris menghela napasnya. Ia harus memikirkan cara agar ia dan Tao dapat lolos dari situasi ini.
"Tao, saat aku mengatakan 'tiga' cepatlah lari. Arasseo?"
"Mwo? Jadi Kris ge..." Tao mulai mengerti dengan situasi yang dihadapi mereka saat ini.
"Hana.." Kris memakai tas ranselnya.
"Tapi Kris ge.." Tao memandang Kris sdengan penuh kecemasan.
"Dul..." Kris menggenggam tangan Tao.
"Set!" Mereka pun berlari keluar dari cafe.
Beberapa pelayan yang ada di cafe itu menyadari bahwa ada dua orang pengunjung mereka yang belum membayar pesanan mereka. Ia segera berlari ke kantor pemilik cafe dan memberitahu hal itu.
"Tuan Kim! Gawat!" ujar si pelayan.
.
.
"HEY KALIAN! JANGAN KABUR!" teriak sang pemilik cafe.
Tao dan Kris mendengar hal itu, namun mereka tetap berlari. Tao sebenarnya ingin berhenti, tapi melihat Kris yang masih berlari, membuatnya ikut berlari juga.
"Kris ge! Sepertinya ini tidak benar!" ucap Tao.
"Aku tahu Tao! Tapi kita tetap harus berlari! Mereka mengejar kita!" jawab Kris.
"Lebih baik kita minta maaf saja ge!"
"Andwae! Aku janji, aku akan membayarnya, tapi tidak sekarang!" Kris menolak saran dari Tao.
"Ya sudah, terserah Kris ge saja, yang penting sekarang kita lari. Ayo ge!"
"Ne!"
Kris menggenggam tangan Tao dan mereka terus berlari sekuat tenaga. Pemilik cafe dan dua orang pelayannya pun masih mengejar Kris dan Tao. Mereka terlihat sudah mulai kelelahan, tapi sepertinya mereka tidak mau kehilangan dua namja muda yang sudah makan di cafe nya tanpa membayar.
Sesekali Kris dan Tao melihat ke belakang untuk mengecek tiga orang yang mengejar mereka. Tapi mereka juga terus berpikir, bagaimana caranya keluar dari situasi ini.
Kris dan Tao sebentar lagi akan menyebrangi jalan, namun tiba-tiba saja lampu rambu-rambu lalu lintas yang tadinya berwarna merah, berganti jadi hijau. Kris menggenggam tangan Tao dengan erat. Ia akan tetap menyebrangi jalan meskipun banyak kendaraan yang lalu lalang.
"KRIS GE!" Tao berteriak saat Kris menariknya untuk berlari lebih cepat di tengah jalanan yang padat dengan kendaraan.
'TIINN'
'TIIINN'
'TIINN'
Suara klakson terdengar dimana-mana. Tao terus-menerus menutup matanya, sambil mengikuti Kris yang masih menggenggam tangannya. Tao tidak berani melihat apa yang sedang terjadi.
Dan setelah melewati jalanan yang penuh dengan kendaraan, Kris menatap ke belakang. Ia melihat pemilik cafe dan dua pelayannya terlihat kesal karena tidak bisa mengejar targetnya. Jalanan masih ramai, mereka tidak berani menyebrang.
Kris tersenyum. Sepertinya Tao dan dirinya tidak akan dikejar-kejar lagi seperti tadi. Tao pun membuka matanya dan menatap Kris dan menyadari kalau situasi mereka sudah cukup aman.
"Ayo kita lari lagi Tao, mungkin mereka akan mengejar kita lagi."
Tao hanya mengangguk dan mengikuti kata-kata Kris. Tao melihat tangannya yang masih di genggam erat oleh Kris. Entah kenapa, rasanya sangat hangat dan nyaman. Bahkan ia tidak ingin melepaskannya. Tao menoleh ke belakang. Orang-orang yang mengejar mereka mungkin sudah menyerah. Tao tertawa kecil. Meskipun suasana tadi sangat menakutkan, saat Kris menggenggam tangannya, Tao merasa seperti begitu aman.
"Kau kenapa Tao?"
"Aniyo ge. Tidak ada apa-apa..."
.
.
Ketika sampai di rumah Tao, hari sudah mulai gelap. Kris melepaskan genggamannya dari tangan Tao. Sebenarnya ia masih ingin berlama-lama bersama Tao, tapi sayangnya mereka sudah sampai di depan rumah Tao.
"Kris ge, tadi itu benar-benar menakutkan. Tao takut sekali ge."
"Maafkan aku Tao, seandainya jika aku mengecek dompetku dulu, kita tidak akan begini," Kris merasa sangat bersalah karena telah membuat Tao merasa takut untuk kedua kalinya.
"Tapi... Tao juga merasa senang ge. Ini hari yang menakjubkan!"
"Jeongmal? Aku pikir aku sudah mengacaukan hari ini.." Kris menundukkan kepalanya.
"Aniyo ge. Tao sangat senang. Sampai jumpa besok Kris ge!" Tao melambaikan tangannya pada Kris.
"Sampai jumpa besok juga Tao," balas Kris.
Tao tersenyum. Kemudian ia masuk ke dalam rumahnya. Tao mendengar suara di rumahnya sangat ramai, tidak seperti biasanya.
"Baby, kau sudah pulang?" Nyonya Huang menyambut kedatangan anaknya. Tao melihat ibunya membawa sebuah nampan dengan dua gelas jus di atasnya.
"Itu untuk siapa mama?" tanya Tao sambil melepas sepatuya dan meletakkannya di rak sepatu.
"Oh, ini untuk tetangga baru kita. Mereka datang kesini untuk berkunjung. Kau harus menyapa mereka Zitao."
Tao ingat bahwa ada yang baru saja pindah di rumah sebelah. Ia segera mengikuti ibunya yang berjalan ke ruang tamu. Di ruang tamu, ia melihat seorang ahjumma yang terlihat seumuran dengan ibunya. Dan disampingnya, ada seorang namja berambut pirang yang terlihat cukup tampan. Tao berpikir, mungkin namja itu adalah anak dari ahjumma itu.
"Baby, ayo perkenalkan dirimu," ucap nyonya Huang sambil mengelus pundak Tao.
"Annyeonghaseyo. Jeoneun Huang Zi Tao imnida. Bangapseumnida," Tao memperkenalkan dirinya sambil membungkukkan badannya.
"Wah, lihat chagi. Kau punya teman baru. Ayo kenalkan dirimu juga," ucap yeoja yang Tao sebut sebagai ahjumma.
Namja berambut pirang itu mem-pout-kan bibirnya. Ia sebenarnya sudah tidak mood. Tapi ia mencoba untuk tetap menjadi anak yang baik. Apalagi di depan orang baru. Ia harus menunjukkan sifat ramahnya.
"Annyeonghaseyo. Jeoneun Oh Sehun imnida. Bangapseumnida."
.
.
TBC
