Stand Apartement, Konoha.
Room 145.
.
.
.
Pagi ini tidak seperti biasanya, ponsel touchscreen Naruto bekerja ekstra keras. Disamping rutinitas harian membunyikan alarm dari pukul lima subuh sampai tiga puluh menit kedepan—dengan catatan, bahwa selama itu pula Naruto belum juga terbangun—dia pun kebagian tugas sebagai peneriak nada dering tanda panggilan masuk dari pemilik nomor bernama Uchiha Sasuke. Selang tiga menit sekali, benda persegi panjang hitam kusam itu bergantian bunyi. Saling menyahut menuntut Naruto untuk segera membuka mata.
Tapi sepertinya, Uchiha Sasuke—yang tengah berada entah di mana—sama sekali melupakan kebiasaan sobat sejak lahirnya itu. Naruto tidak akan pernah bangun pagi sebelum handphonenya kehabisan daya baterai—karena terlalu memforsir nyanyian alarm yang telah ia atur sendiri. Dan pada saat ia terbangun, jarum jam selalu menunjukkan pukul sembilan pagi. Itu sudah selalu.
Lantas bagaimana bisa pemuda itu lupa?
Satu penyebabnya, karena panik. Sejak dua belas menit dari pukul setengah enam pagi, ia berusaha menghubungi Naruto bersama dengan mata yang tidak sekalipun lepas dari jam tangannya. Untuk yang kesekian, Sasuke mengumpat pelan sembari menekan sisi kanan bawah layar ponselnya menggunakan ibu jari dimana tulisan 'End call' berada.
"Baka Naruto. Dia lupa ini hari pertamanya bekerja."
Sasuke berdecak gusar—lagi-lagi untuk yang entah sudah keberapa. Kepalanya yang bermodel rambut aneh itu kembali menunduk. Lurus pada arloji di pergelangan tangan kiri, sebelum mengalihkan tatapannya ke ujung lorong. Seperti yang telah diberitahukan oleh Hatake Kakashi mengenai jam kedatangan di hari pertama bekerja pada saat pelantikan kemarin, para karyawan baru harus sudah stand by duduk di kursi tunggu lorong kedap suara ini pada pukul enam pagi.
Dari lima puluh orang-orang baru yang telah bersama Sasuke, kursi panjang ini hanya menyisakan dua ruang kosong. Memang bukan Naruto saja yang belum datang, tapi kalau lelaki itu sampai telat hari ini, itu tak ada bedanya dengan mengulang sejarah lama. Bukan tanpa alasan mengapa bos restoran tempat Naruto bekerja dulu memecat pemuda tersebut.
Waktu semakin menuju pada pukul enam tepat dan kegelisahan Sasuke menggerakkan jemarinya untuk kembali memanggil Naruto. Nada sambung yang terdengar dua tiga empat dan seterusnya semakin mengencangkan urat-urat Sasuke. Dalam hati ia tak pernah melepaskan permohonannya kepada sang Kami-sama. Berharap keberuntungan berpihak padanya dan juga pada Naruto, dan ternyata Dewi Fortuna memang masih berpihak padanya.
'Oke, Sasuke. Aku akan segera berangkat.'
Bunyi sambungan yang langsung diputus oleh pihak di seberang beriringan dengan helaan napas berat Sasuke. "Baka."
Naruto © Masashi Kishimoto
This Fiction © Sakura Hanami
.
.
.
Mr. Taxi
.
.
.
Warning: Ooc (?), Miss Typo (?)
.
.
.
Always play your imagination
and happy reading^^
Mr. Taxi 4
Identity Code: U211M4K1 1V4R11T0
Part 1
.
.
.
Tanpa berpikir untuk sekedar meraupkan setangkup air ke wajahnya terlebih dahulu, Naruto bergegas membuka lemari coklatnya. Ia tergesa memakai celana panjang seragam kerjanya yang baru. Berwarna hitam dengan stripes kotak-kotak kuning dibagian samping. Tanpa ada niatan untuk mengancingkan kemejanya juga, ia langsung membuka pintu apartemen setelah terlebih dahulu menyambar skateboard dari kolong tempat tidur.
Ia biarkan kemeja berwarna serta bermotif senada dengan celananya itu berkibar mengikuti lari kakinya. Memperlihatkan kaos putih bergambar simbol NBA yang sejak semalam dibawanya tidur.
Ujung lorong adalah sebuah tangga yang menjadi tujuan Naruto menuju ke lantai dasar. Demi kepraktisan waktu, ia menggunakan skateboardnya untuk duduk meluncur melalui pegangan tangga. Dalam perjalanan, Naruto mengangkat pergelangan kirinya demi menilik pukul berapa sekarang dari jam tangan digital yang selalu ia pakai walau ketika mandi sekalipun—mengingat bahwa ia tidak mempunyai jam dinding.
05.43 a.m.
Tetap tidak ingin membuang waktu lebih banyak, sebelum ia benar mendarat pada ubin, Naruto menjejakkan kaki kanannya pada sisi kanan skateboard. Ia melompat bersamaan dengan bersaltonya papan beroda itu di udara tiga kali. Gerakan benda tersebut terhenti karena ia menggunakan tungkainya. Menjepit bagian atas dan bawah skateboard itu secara tepat. Sehingga roda belakang skateboard lah yang menggantikan tugas kakinya menapak lantai pertama kali.
Begitu sampai, Naruto meluncur semakin cepat ke luar berkat satu dorongan oleh kaki kirinya. Melewati pagar apartemen yang memang telah dibuka. Semakin jauh namun justru semakin mendekat pada jalan raya. Kayuhan ganti dilakukan oleh kaki kanannya.
Naruto mengangkat tangan kirinya untuk kali kedua.
05.46 a.m.
Lalu terdengarlah umpatan dari mulut pemuda jabrik itu. "Kuso."
Naruto menambah laju papannya dengan kaki kiri. Menyebabkan ia memasuki jalan raya lebih cepat. Secepat dengan refleknya mengelak dari sebuah sedan hitam yang melaju cepat.
Suaranya menjerit amatlah nyaring. Namun masih kalah melengking dari klakson yang ditekan keras pengemudi kendaraan tersebut. Ramainya mereka menambah semarak jalan.
Ada dua tiga detik Naruto dalam kebengongan usai selamat dari bahaya. Sampai akhirnya, sinar iris mata bak langit cerahnya yang sempat kosong itu ganti berkilat dalam sekejab. Sebuah ide untuk lebih mempersingkat lagi waktu perjalanannya muncul.
Naruto menyeringai. Kepalanya menoleh kesana kemari mencari sesuatu. Tak sampai semenit kedua irisnya menargetkan incaran. Sebuah mobil es krim merah mencolok tampak begitu bersinar dalam tatapannya. Dengan semangat, ia mendorong skateboard dengan kaki kiri. Berusaha mengejar mobil tersebut. Berkelok-kelok melewati beberapa kendaraan lain demi mencapai sang target. Jalan raya jadi semakin heboh oleh teriakan kekagetan kendaraan-kendaraan karenanya. Tapi Naruto tidak peduli. Prioritasnya adalah mobil es krim dan sampai sesegera mungkin.
Tanpa perlu ia cek, empat buah angka dalam jam digitalnya dapat ia lihat. Seolah terpampang amat jelas di depan matanya. Membentuk pukul berapa saat ini dan memang benar begitu. Waktu tidak akan berhenti hanya untuk menunggunya.
05.50 a.m.
Naruto menggeram. Ia menambah dorongannya.
05.52 a.m.
Ia makin dekat. "Aku harus bisa."
Jarak yang tersisa kini menyisakan beberapa senti saja. Naruto mengulurkan tangan kanannya. Berusaha meraih gagang pintu belakang mobil tersebut.
05.53 a.m.
"Harus bisa!" Dengan kaki kanan menjejak aspal. Memberi kecepatan lebih lagi.
05.54 a.m.
"Harus bisa!" Percikan api yang keluar dari roda belakang papan Naruto bagaikan kunang-kunang di pagi hari. Menjadi penghias usahanya yang sama sekali tidak sia-sia.
05.55 a.m
"Berhasil!"
Kepalanya menoleh ke kiri. Berhadapan dengan penghuni sedan hitam yang berada paling dekat darinya. Ia pamamerkan ibu jari kirinya sambil unjuk gigi pada pasangan suami istri di dalam mobil yang tengah terpukau.
Namun sayang. Wajah bahagia Naruto lenyap sekejab saat sebuah sedan hitam yang mengeluarkan sirine bising berada dua mobil di belakang sedan hitam pasutri tersebut. Warna putih bak tembok mengubah kulit kecoklatannya saat iris biru itu melihat benda apa yang tergenggam di tangan sopir kendaraan horor tersebut.
05.57 a.m.
Setelahnya, bunyi tembakan mengacaukan arus lalu lintas.
Senju Incorporation Station, Konoha.
Secretariat Office.
.
.
.
Umino Iruka memijat pangkal hidungnya sedangkan Hatake Kakashi mendesah berat. Keduanya tidak habis pikir dengan apa yang telah diperbuat oleh salah satu pegawai baru mereka.
Bagaimana bisa pemuda pirang dalam layar virtual seukuran LCD 40 inchi yang menghadap mereka itu berurusan dengan polisi? Pada hari pertamanya bekerja pula? Tidak, bahkan ia sama sekali belum bertugas. Meski perusahaan jasa ini berkerja dalam dunia 'kegelapan' dan orang-orang yang direkrut memiliki skill sekelas agen MI6 di Inggris Raya sana, tapi ada juga sebagian dari orang-orang tersebut yang memiliki otak seratus delapan puluh derajat terbalik dari kemampuan mereka. Contohnya sudah terlihat di depan mata.
"Bodoh sekali." Iruka telah kembali memaku pandangannya pada layar setelah bebapa saat lalu ia menunduk.
"Apa dia pikir seragam itu tidak dikenali polisi?" Ketika Kakashi berpaling menghadap Iruka, ia melihat lelaki itu mengeraskan rahangnya. Menahan geram.
Sudut-sudut mata Kakashi menyipit sebelum ia menolehkan wajah pada layar lagi. Diamatinya si pemuda yang belum putus asa meloloskan diri itu. Ia terus memacu skateboardnya bak orang gila. Kemeja kuning hitamnya telah basah kuyup oleh keringat.
Bibir Kakashi yang tertutup masker menyunggingkan senyuman kecil, tentu saja tanpa Iruka tahu. Kepala bersurai keperakannya berputar lagi ke arah pria pemilik bekas luka goresan di hidung yang duduk membelakangi sebuah meja besar. Tempat dimana Iruka menyelesaikan semua pekerjaannya.
"Uzumaki memang tidak pernah berubah. Harusnya kau tidak perlu semarah itu."
Iruka meliriknya sekilas kemudian kembali menonton aksi Uzumaki Naruto dari layar yang sesungguhnya telah terhubung dengan semua cctv jalan raya diseluruh Jepang itu secara ilegal.
Keheningan yang tiba-tiba hadir tak bertahan lebih dari dua puluh detik. Iruka menyuarakan kesangsiannya. Wajarlah ia merasa demikian, sekalipun seluruh hasil test Naruto mendekati skor gemilang.
"Menurutmu dia akan sampai dengan selamat?"
Kakashi mengedikkan bahunya. Lengan panjang tangan kanannya ia tarik sedikit. Memperlihatkan sebuah jam tangan hitam melingkar apik pada pergelangannya. Sengaja ia buat jeda demi mengkalkulasi waktu dan berbagai kemungkinan tiba tidaknya Naruto dengan selamat.
"Mungkin." Kakashi mengangkat tatapannya. Beralih lagi pada Iruka kemudian tersenyum lagi hingga matanya menyipit.
"Uzumaki punya seribu satu cara, kau ingat?"
Hening yang ada diisi oleh suara ramai dari layar. Kakashi mendengus, kemudian menoleh kembali ke layar. Naruto masih berusaha untuk lolos sedangkan mobil polisi yang mengekorinya sudah menjadi tiga buah.
"Kau tidak perlu memikirkan cara untuk membantunya selamat."
Ucapan Kakashi itu membuat mata Iruka jadi terarah penuh padanya. Kening lelaki itu berkerut dalam. Berusaha mencerna maksud perkataan seniornya itu.
Baru saja ia hendak menanyakan kejelasan, Kakashi sudah terlebih dahulu mencegahnya dengan lebih dulu berujar, "Lihat."
Perintah implisit Kakashi untuk melihat layar lagi dituruti Iruka. Sedetik kemudian, melebarlah kedua bola matanya.
Di sebelah Naruto, muncul seorang bermotor, berhelm full serta berpakaian hitam. Dengan satu isyarat berupa anggukan kepala dari orang misterius tersebut, Naruto paham. Ia pun mengayuh hingga masuk ke sebuah celah kecil diantara mini bus dan taxi.
Tak di duga, pemuda itu justru melakukan sebuah gerakan akrobatik. Kaki kirinya ia jejakkan di buritan skateboard dan melompat, membuat benda itu melompat ke atas. Sedangkan di udara, cepat ia menendang badan minibus yang berada di sebelah kanannya sembari menangkap papan tersebut. Dorongan yang ia lakukan membuat raganya terdorong ke atap taxi di sebelah kiri. Tanpa membiarkan kehilangan waktu meski sedetik, Naruto segera berpindah ke kap mobil pemilik warna abu-abu itu, lalu melompat dari sana menuju ke arah boncengan sepeda motor yang telah menunggu di depan kendaraan tersebut.
Tawa pelan Kakashi sama sekali tidak Iruka dengar. Ketakjuban akan aksi gila nan nekad Naruto telah menulikannya. Kini, layar tersebut hanya menyisakan jalan raya yang macet dengan tiga mobil polisi terjebak di sana.
Kemacetan mendadak itu dikarenakan olengnya sebuah mobil pengangkut pasir berkat ulah si misterius serba hitam—pengemudi motor tersebut—yang menyebarkan paku payung.
"Sudah kubilang, kan. Uzumaki punya seribu satu cara. Sekarang pukul 05.59. Pas sekali."
Iruka melirik Kakashi yang tengah memberikan sunggingan untuknya. Tawa pelan Iruka yang telat membuat Kakashi kehilangan garis melengkung terbalik tersebut dari bibirnya. Ia pandangi Iruka dengan heran.
"Uzumaki Karin ternyata."
Senju Incorporation, Konoha.
Brieving Room.
.
.
.
Sasuke hanya mampu mendeham pelan dengan kepala tertunduk. Ia gunakan kepalan tangan kanannya untuk menutupi sunggingan kecilnya yang terkembang otomatis.
Jauh di muka barisan, ekspresi Naruto sangat memprihatinkan. Dua manik birunya pasti sudah keluar jika tidak ada otot-otot mata yang menjadi penahan. Rahangnya jatuh kebawah begitu ia mendengar teriakan wanita berambut biru pendek di depannya. Suara si wanita yang melengking, memantul ke seluruh penjuru tempat berdinding baja ini. Menciutkan nyali para lelaki yang berbaris rapi di belakang Naruto. Sebagian besar begitu kelihatannya.
"Kau dengar apa kataku, Tuan Uzumaki? Kau akan menerima konsekuensi karena telah membuat kekacuan disepanjang jalanan."
Seorang pemuda pemilik tato di dahi mencuri intip melalui sela kepala-kepala. Meski jarak yang terbentang cukup jauh, matanya yang jeli mampu menangkap gemetar pada kedua kaki Naruto.
"Tapi...Nona Ko—"
"Keluar sekarang!"
Naruto reflek memejamkan mata sedangkan kepala merah pemuda tersebut langsung menunduk. Hampir bersamaan. Lima detik kemudian, kaki Naruto langsung bergerak kelewat cepat. Membawa tubuhnya berlari menuju pintu keluar.
Sentakan napas wanita cantik itu semakin memperkeruh suasana. Kesabarannya sudah habis sejak ia melihat ulah pemuda bermarga Uzumaki itu dari layar komputer di ruang kerjanya beberapa saat lalu. Konan bukanlah orang yang suka dengan tingkah menjengkelkan seperti itu. Apalagi sampai membuat kehebohan dan menarik perhatian para polisi. Perusahaan ini bisa terancam. Dampak lainnya adalah, nama baik Senju Incorporation akan tercemar di dunia bawah.
Konan mengumpat dalam hati. Ia membenci semua orang yang membuat masalah di tempatnya mencari nafkah.
Perhatian ia palingkan kepada para lelaki yang berbaris rapi. Siap membuka mulut untuk memberi wejangan bak seorang guru terhadap siswanya usai menemukan suatu contoh perbuatan yang tak patut ditiru. Sayang ia harus menelan kata-kata di ujung lidahnya begitu suara jeblakan pintu menyela.
"Konan Nee!"
Ia mendesah. Seorang gadis memakai kacamata berlari tergopoh-gopoh ke arahnya.
"Kumohon..."
Derap langkah si gadis yang berisik mampu membangkitkan rasa keingintahuan sebagian lelaki dalam barisan. Termasuk juga pemuda dengan wajah penuh rona kantuk tak jauh dari posisi Sasuke berdiri. Dahinya yang terlipat, cukup menjelaskan kejengkelan karena tidurnya yang terganggu. Jangan tanya bagaimana bisa Shikamaru Nara tidur sambil berdiri.
Lengan kanan Konan diguncang-guncang brutal gadis bersurai merah berkuncir pony tail itu ketika tiba di jarak setengah meter darinya.
"Kumohon jangan lakukan ini terhadap kakak sepupuku. Biarkan ia melakukan tugas pertamanya hari ini. Aku yang akan menanggung semua perbuatan yang ia lakukan tadi. Kumohon, Konan Nee."
Kedua alis Sasuke bertaut sedikit saat telinganya mendengar kata 'kakak sepupuku'. Tanda tanya perlahan-lahan mulai memenuhi otaknya. Membuat ia segera memutar otak untuk menganalisa 'kakak sepupuku' yang dimaksud gadis tersebut.
Tak adanya jawaban yang keluar dari mulut Konan selama hampir dua puluh detik membuat gadis berkacamata itu menggigit bibirnya. Hatinya mulai goyah.
"Konan Nee..." Ucapan gadis itu mendadak terputus saat kedua iris rubynya menangkap senyum pada wajah Konan. Senyum yang membuat nyalinya hancur seketika.
Tidak ada keberuntungan. Bukan kemarin sore ia bergabung dengan Akatsuki, sebuah kelompok berisi para karyawan terhebat Senju Incorporation dimana ada Konan juga didalamnya. Ia sudah teramat hapal dengan sikap serta sifat seniornya itu.
"Uzumaki Karin."
Suara gaduh mulai menyeruak diantara hening.
"Dia mempunyai marga yang sama dengan Uzumaki-san."
Dapat ditilik keterkejutan pada wajah masing-masing pria. Tak absen pula dengan Sasuke, walau samar. Kini secara otomatis ia mulai membandingkan ciri-ciri fisik Naruto dengan Uzumaki Karin. Lagi-lagi tanda tanya bermunculan dalam kepalanya. Justru kini semakin banyak saja dan sudah tidak lagi didasari oleh topik 'mereka sama sekali tidak mirip'. Tapi lebih spesifik lagi, pertanyaan yang muncul itu telah sampai pada, 'kenapa Naruto tidak memberitahuku kalau dia mempunyai saudara?'.
Sasuke menepis keingintahuannya yang terakhir itu setelah ia menyadari bahwa hal tersebut bukan merupakan suatu pertanyaan urgent. Ia bisa menanyakannya sendiri pada Naruto nanti.
Di sisi lain, iris hazel Akasuna Sasori melirik seorang pria yang baru saja berbisik pada teman disampingnya. Sama dengan Sasuke. Ia pun memiliki banyak pertanyaan. Namun keheranan yang mendominasi dirinya bukan berputar pada penampilan luar Uzumaki Karin dengan Uzumaki Naruto. Ia lebih memikirkan hubungan keluarga Uzumaki dengan Senju Incorporation. Karena bisa jadi—
"Jangan-jangan semua keluarganya mendarah daging disini."
—Sasori mendengus. Celetukan entah siapa itu sama dengan praduganya. Mungkin, kan?
"Jangan asal bicara!"
Shikamaru Nara berdecak kesal. Kedua matanya yang baru terlelap barang dua menit jadi terjaga lagi karena dengung suara disekelilingnya. Karena penasaran yang menyeruak ia pun memutuskan ikut mendongak. Ia mengerutkan alis sejenak dan terdengarlah decakan lagi. Keadaan di depan dengan mudahnya ia baca. Pancaran aura tak enak dari dua perempuan di muka barisan begitu kuat.
Kepalanya menunduk. Matanya menutup lagi. Siap untuk meluncur lagi ke dalam nikmatnya tidur. "Wanita memang merepotkan."
Kemudian, yang tersisa dari Shikamaru hanya hembusan napas teraturnya. Gaara yang berdiri tepat di depan Shikamaru tertawa geli dalam hati. Sudah sedari tadi ia mendengar gerutuan pemuda itu. Namun dalam penampakannya ia hanya melirik datar.
Selama waktu yang Konan biarkan berjalan, aura pekatnya semakin menguar. Meremangkan bulu tengkuk Karin. Sampai-sampai ia tak sadar genggamannya pada lengan Konan mengendur. Kini kedua tangan itu terkulai di samping tubuhnya. Hanya doa yang mampu ia panjatkan banyak-banyak dalam hati.
"Aku yakin kau sudah cukup mengenalku."
Karin mengangguk pelan.
"Kalau begitu, biarkan ini menjadi urusanku dengan kakak sepupumu."
Belakang bola mata Karin terasa panas. Ditelannya saliva dengan susah payah.
"Tapi—"
"Atau kau juga mau kudisiplinkan?"
Riuh rendah yang terdengar mendadak disapu hening saat semua mata pria-pria tersebut melihat anggukan kepala Karin.
Mereka tidak tahu alasan yang mendasari gadis itu untuk bersedia menerima hukuman juga. Spekulasi atas dasar kekeluargaan lah yang sebagian besar dari mereka simpulkan. Namun tidak dengan Sasuke. Ia tahu betapa merasa amat bersalahnya Karin apabila ia juga tidak ikut dihukum. Bagaimanapun, kekacauan di jalan raya tadi pasti telah menarik minat media massa dan sangat tidak mungkin kalau kedua orang tua Naruto di Ame tidak mengetahui berita ini. Perkembangan teknologi sudah berkembang pesat. Sasuke mengerti bahwa kedua Uzumaki itu pasti was-was. Apalagi Naruto.
Senyum Konan semakin lebar. Moodnya yang sempat buruk, mulai membaik berkat keberanian gadis ini. Ia sangat menyukai orang-orang yang bertanggung jawab macam Karin.
"Kalau begitu, bergabunglah bersama kakak sepupumu."
Sasuke tidak melihat gontainya Karin melangkah keluar ruangan karena ia sudah keburu menunduk. Sebetulnya tidak hanya Karin, ia sendiri turut merasakan kegundahan. Ia tahu betapa terancamnya posisi Naruto dan Karin. Apa yang mereka lakukan, selain membahayakan keamanan perusahaan juga mencemarkan nama baik keluarga. Kepolisan pasti sudah mendapatkan data mereka. Entah apa yang akan dilakukan Senju Incorporation untuk menindaklanjuti masalah ini.
Ia mendesah pelan. Semua jadi terlihat rumit. Kalau sudah begini, ia tidak tahu apakah rencana yang telah ia susun bersama sang kakak akan berjalan sesuai dengan perhitungan.
Sahabatnya itu memang berotak udang tapi ia tidak bisa menyalahkan Naruto. Apa yang terjadi hari ini sama sekali diluar perkiraannya dan Uchiha Itachi pasti mengerti.
Bagaimana pun juga, rencana mereka pasti bisa terealisasikan dan Naruto juga akan baik-baik saja. Karena ia sangat membutuhkan Naruto, sekalipun tujuan yang membangun mereka untuk berada dalam lingkaran gelap ini sama sekali berbeda. Sasuke yakin itu.
"Uzumaki."
Sepasang permata safir Naruto melirik Karin yang reflek memejamkan matanya saat pita suara Konan mendesiskan desahan beracun. Ia tak akan mendustai diri sendiri, bahwa ia pun sama takutnya dengan Karin. Bukan goyah dalam artian lemah terhadap wanita, semarah apapun Konan, perempuan yang kini menghujaninya dengan tatapan tajam itu tetap masih kalah seram dari ibunya.
Ibunya...
Kini ganti Naruto yang menutup mata. Sosok seorang perempuan paruh baya berambut merah, lurus nan panjang dengan kedua tangan saling menyilang . Paras ayunya yang dihiasi raut horor lebih mampu mengembang kempiskan nurani Naruto. Uzumaki Kushina pasti akan tampak sedemikian gelap apabila saat ini Beliaulah yang berada di hadapan Naruto. Ia yakin bahwa sekarang kedua orangtuanya sedang dalam perjalanan bertolak ke Konoha untuk menjemput dirinya. Ia merasa amat bersalah pada ayah dan ibunya.
Tak dapat dipungkiri bahwa kini hidupnya pasti terancam. Mereka bukanlah dua orang tua kolot yang sama sekali tidak bisa mengoperasikan IT. Ayahnya yang masih menjabat sebagai direktur perusahaan minyak bumi di Ame—meski ia sama sekali tidak pernah pergi ke kantor dan lebih suka bersibuk ria bersama laptop di rumah—tidak pernah sekalipun melewatkan berbagai berita dari seluruh penjuru dunia.
Naruto menghela napas pelan. Niatnya datang ke Konoha adalah untuk melanjutkan pendidikan sambil belajar hidup mandiri—bukan! Bukan itu saja alasannya. Otak Naruto memutarkan sebuah kenangan, namun dengan cepat kelebatan slide tersebut tersingkirkan oleh rasa bersalahnya.
Untuk pertama kalinya, ia menyesal telah menentang keputusan sang ayah. Sebenarnya, Beliau tidak memberikan Naruto izin untuk tidak memakai biaya sekolah yang sudah disiapkan. Kehidupannya sangat tercukupi sebelum ini. Maka dari itu kedua orang tuanya sangat khawatir saat ia memutuskan untuk hidup mandiri. Tanpa membawa atau menerima sepeser uang pun, meski dalam bentuk ATM ataupun kartu kredit.
Tidak ada orang tua yang ingin anaknya kesusahan. Tapi kekeraskepalaannya lebih mendominasi dan ia berhasil mengalahkan Minato Namikaze.
Ia bodoh, benar sekali. Ia bodoh dengan berani mengambil pekerjaan ini karena tergiur dengan bayarannya yang apabila dihitung dapat menghidupi kebutuhan plus biaya sekolahnya selama sebulan. Itu sudah lebih dari cukup. Sama mewahnya dengan materi yang orang tuanya berikan dulu. Memang sangat menguntungkan meski resikonya dua kali lipat lebih merugikan.
Naruto merutuk dalam hati. Ia pun sangat tahu kalau ia adalah tipe orang yang berpikiran dangkal. Tidak memperhitungkan semuanya dengan matang dan selalu terburu-buru dalam bertindak. Tapi sungguh, ia sama sekali tidak menyangka bahwa hal seperti ini akan terjadi.
Kalau Karin, mungkin tidak terlalu bermasalah karena tadi wajahnya tak terlihat. Sedangkan dirinya?
Naruto ingin sekali meminjam kalung jam Hermione Granger untuk dapat kembali ke pagi hari dan memperbaiki semuanya dari sana. Dengan bangun lebih awal maksudnya. Tapi itu konyol. Ia pasrahkan semuanya kepada Kami-sama.
"Kalian memang orang-orang yang unik." Ucapan Konan membuat Naruto membuka kelopak matanya. Masih tetap menunduk, ia memasang pendengarannya baik-baik.
"Dimulai dari Nagato sampai pada anak dari orang penting sepertimu, Naruto. Maaf karena kurasa aku tidak perlu menggunakan margamu agar lebih jelas disini."
Konan masih mempertahankan tatapannya. Dapat ia lihat keputusasaan memayungi kepala dua manusia berbeda gender tersebut. Dua orang yang ternyata masih memiliki hubungan keluarga dengan Nagato, rekan sesama senior dengannya.
Bayangan imajiner akan wujud lelaki pemilik rambut tak ubahnya darah serta bepupil ungu memenuhi pandangan matanya. Konan mulai membandingkan dalam hati, sambil menyiapkan sederetan kata-kata pedas.
Ia menangkap ada begitu banyak perbedaan, baik dari segi luar maupun dalam. Meski ia tahu bahwa tiap-tiap individu berbeda. Sayangnya, Konan sangat tidak menyukai orang-orang seperti Uzumaki Karin dan Uzumaki Naruto. Jadi, fakta bahwa karakteristik setiap manusia tidaklah sama sudah terkaburkan.
"Kalian ceroboh, seenaknya sendiri, tidak perhitungan, menggampangkan masalah, terlalu meremehkan dan main-main."
Naruto mendesah lagi. Ia membenarkan perkataan Konan dalam hati.
Senyum mengejek perempuan itu terkembang. "Kalian pikir pekerjaan seperti ini bisa dilakukan dengan sikap seperti itu? Kusarankan kalian untuk pulang saja ke rumah masing-masing. Terutama untuk putra tuan Namikaze."
Konan melihat bahu Naruto yang menegang. Setelahnya ia melihat sikap tubuh Naruto yang menunjukkan pemberontakan, namun tak mampu. Pemuda itu tak terima akan ejekan yang ia lontarkan, namun sadar akan posisinya. Pria bertanda lahir aneh itu tak punya kuasa sekalipun ingin melawan. Konan berbangga dalam hati atas keberadaan posisinya di perusahaan ini. Tapi, tak masalah baginya jika lelaki pirang itu nekat. Bukan urusan yang susah untuk menyingkirkan orang lemah sepertinya.
"Aku mengakui bahwa hasil tesmu sangat bagus. Kau berbakat menjadi seorang kriminal. Sungguh mengejutkan mengingat kau terlahir dari keluarga baik-baik."
Konan membenarkan satu fakta dalam batinnya. Bahwa orang-orang Uzumaki memiliki bakat alami yang menakjubkan.
Dimulai dari Nagato. Posisinya saat ini adalah ketua Akatsuki. Sebuah tim yang beranggotakan para profesional dengan jam terbang paling laris. Nagato bagaikan anak ajaib sejak pertama kali bergabung dengan Senju Incorporation. Ia salah satu karyawan yang ikut berpartisipasi dalam pembangunan nama baik perusahaan ini.
Kemudian ada Uzumaki Karin. Ia juga tergabung dalam Akatsuki dengan spesialisasi pelacakan. Gadis itu bagaikan ular. Licik, gesit dan berbisa. Ia selalu tahu bagaimana cara meloloskan diri dari kejaran aparat pemerintah sekalipun wujudnya tampak jelas, seperti keributan di jalan raya tadi misalnya. Ia hapal seluruh jalanan di Jepang. Itulah salah satu alasan mengapa barang bawaannya bisa tidak terdeteksi oleh patroli kepolisian ketika mengantarkan 'pesanan'. Kelebihannya dalam bongkar pasang benda-benda—termasuk kendaraan—juga menjadikan barang-barang haram tersebut aman di dalam genggamannya. Ia pun berbisa karena jika sudah terdesak, jarum kecil yang tersimpan rapi di tempat khusus dalam arlojinya akan menyebarkan racun mematikan apabila ia tembakkan. Memang wanita ular.
Lalu Uzumaki Naruto. Ia menguasai lima bahasa. Antara lain Jepang, Inggris, Prancis, Spanyol, China dan Korea. Nilainya pun mendekati sempurna dalam semua tes. Mulai dari tes ketahanan diri di alam bebas, tes fisik ala militer, tes beladiri, tes menembak jarak pendek dan jauh, tes mengemudikan kendaraan darat, laut maupun udara, tes merakit dan menjinakkan bom, sampai pada tes membobol pintu bersandi dan pintu berkunci ganda. Cacatnya hanya pada tes meng-hack keamanan perangkat lunak. Ia mendapat nilai B pada ujian itu.
Tapi terlepas dari semua kemampuan mereka yang amat dicari organisasi dunia hitam lainnya, kelebihan itu justru bisa menjadi bumerang bagi perusahaan tempat mereka bernaung. Mereka disini hanya merujuk pada Karin dan Naruto, tentu saja.
Sayangnya, Konan sama sekali tidak bisa menolak perintah dari Umino Iruka selaku penasehat direktur yang menginginkan Uzumaki Naruto tetap dipertahankan. Ia sama sekali tidak dapat memahami penjelasan mengenai keuntungan yang lelaki itu jelaskan padanya dengan tidak memecat Naruto. Mungkin lebih tepatnya, ia tidak mau mengerti. Persetan dengan semua tetek bengek itu. Kesimpulannya ia tetap tidak menyukai Naruto namun apa daya ia tidak bisa menolak keputusan si penasehat direktur itu. Jadilah pembalasan dendamnya ia limpahkan pada pendisiplinan yang Umino Iruka sendiri serahkan padanya. Sebuah keputusan yang menjengkelkan namun fair.
"Sesuai dengan perintah yang aku dapatkan, kalian akan menerima hukuman sebagai wujud pertanggung jawaban kalian. Kusarankan untuk berterima kasih kepada para hacker perusahaan ini yang telah bersusah payah menggagalkan berita penyiaran kalian."
Suara desahan napas lega Karin yang keras membuat Konan memicingkan matanya. Otomatis justru menambah tusukan tatapannya.
"Syukur—"
"Diam, Karin."
Dapat Naruto lihat kepala Karin yang buru-buru menunduk lagi dari sudut matanya. Kemudian Naruto mengulum senyum. Ia aman. Setelah kuliah ini berakhir, ia akan benar-benar pergi ke ruang informasi untuk mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah menutup kabar tersebut.
Untuk sesaat Naruto merasakan pundaknya meringan. Tapi ternyata, Konan tidak membiarkan ketegangan benar-benar lenyap.
"Hukuman untuk Uzumaki Karin. Carilah orang-orang yang ingin memesan opium dalam jumlah minimal satu lusin dan maksimal 30 lusin selama seminggu. Kurang dari itu, aku akan kembali memikirkan hukumanmu yang berikutnya."
Gadis itu mendongak cepat. Konan tetap melayangkan tatapan datar saat mendapati wajah shock Karin. Lalu, ia berpaling pada Naruto yang juga telah mengarahkan atensi padanya.
Ia mengerjab sekali. Menggambarkan keterkejutan yang sama sekali tak tampak. Bagaimana tidak sadarnya ia akan Naruto yang juga ikut mengangkat wajah berbarengan dengan Karin tadi. Sepertinya ia terlalu fokus hanya pada satu orang.
"Lalu Uzumaki Naruto..."
Karin menoleh dengan gerakan kaku. Sedangkan Naruto merasa rongga dadanya sesak ketika namanya disebut. Keringat dingin mulai jatuh satu per satu mengikuti garis wajah Karin dan berakhir di dagunya. Tangannya yang saling bertaut saling mengerat semakin kuat. Doanya tidak putus sedetikpun. Berharap bahwa kakak sepupunya itu tidak menerima hukuman yang lebih berat darinya.
"Selama dua bulan, kau harus mengantarkan pesanan dengan sepeda motor ke wilayah pelosok di seluruh Jepang. Tidak peduli dengan kondisi apapun, kau harus mengantarkan pesanan tersebut dengan cepat dan tepat waktu. Jangan sampai mengecewakan pelanggan, itu motto utama kita, kuingatkan."
Konan meninggalkan Naruto yang menganga bersama Karin yang terduduk. Namun hanya sampai beberapa langkah ia berhenti sebelum berbalik karena teringat sesuatu. Kedua kanta coklatnya masih mendapati posisi sepasang Uzumaki yang belum berubah. Hanya sedikit perbedaan pada Naruto—yang entah perasaannya saja atau memang benar begitu—jadi terlihat sedikit kaku. Berikut pula dengan ekspresinya—masa bodoh.
"Ingat, jangan sekalipun mematikan ponsel kalian. Selalu pantau email untuk mengecek tugas yang datang. Untuk Naruto, kalau sudah selesai segera ke garasi delapan."
Konan kembali melanjutkan langkahnya yang tertunda. Kali ini ia membiarkan pintu di belakangnya menelan sosok Naruto dan Karin. Tanpa ia tahu akan tatapan tajam Naruto yang tak berpaling darinya sepanjang perjalanan tadi.
To be continued...
A/N:
Terima kasih kepada kalian yang sudah ninggalin review untuk prolog kemarin. Maaf baru update :3 #ojigi #keterlaluan.
Sekolah saya mulai sibuk sekali ditambah dengan imajinasi yang timbul tenggelam. Untuk update berikutnya, saya tidak bisa memastikan tapi akan tetap saya lanjutkan kok :D
Lalu, masalah pairing. Saya belum menentukan. Karena cerita ini bakal berputar pada kehidupan suram anak-anak dunia hitam. Jadi untuk romansa cinta-cintaan bakal sedikit (mungkin). Tapi gak menutup kemungkinan akan ada, tapi dengan porsi minim. Atau mungkin ada usul dari kalian? Bisa diutarakan di kolom review :D
Oke, sampai jumpa di chapter depan. Terima kasih juga kepada kalian yang sudah berkenan dan menyempatkan baca. Semoga chapter ini memuaskan.
Salam,
Sakura Hanami
