Annyeonghaseyo yeorobun~~ pearlblue muncul lagi setelah lama ga update gara-gara tugas yang menumpuk -_- Ok, tanpa basa-basi lagi, langsung aja deh...

Happy Reading ^_^

.

.

Last Chapter

Hari minggu biasanya digunakan orang-orang sebagai hari untuk bermalas-malasan. Begitu juga dengan Tao. Hatinya sedang kacau saat ini. Tao berbaring di tempat tidurnya sambil memegang ponselnya. Namun Tao tidak sedang menggunakan ponselnya melainkan ia sedang memandangi gantungan ponsel bentuk naga pemberian Kris. Akhir-akhir ini ia tidak berbicara dengan Kris lagi setelah namja tinggi itu memiliki namjachingu. Bahkan janji Kris untuk mengajaknya ke cafe Bubble Tea pun akhirnya gagal.

Tao tidak mengerti kenapa ia merasa tidak suka saat melihat Kris bersama dengan Lay. Sayangnya mereka satu sekolah. Tidak mungkin jika Tao tidak melihat hal itu.

Tao sadar, ia sudah membuat Kris menunggu sangat lama. Itu karena Tao belum yakin dengan perasaannya, apakah ia menyukai Kris atau tidak. Tapi ketika melihat Kris bersama namjachingu nya, Tao pun menyesal.

Dengan kesal, Tao bersiap untuk melemparkan ponselnya, tapi kemudian Tao berhenti.

"Ah, andwae! Ponsel ini harganya mahal!" ucapnya sambil menurunkan tangannya dan meletakkan ponsel itu kembali.

Tapi sebagai gantinya, Tao melirik ke arah boneka panda pemberian Kris yang ada di sampingnya. Tao melemparkan boneka itu dengan sekuat tenaga.

"Aaaah! Eotteohke?!" teriak Tao lalu kembali berbaring di tempat tidurnya. Tao berpikir, entah apa yang akan terjadi esok hari.

.

.

"Pagi Tao!" sapa Sehun sambil menghampiri Tao.

"Eung... Pagi juga Sehun," jawab Tao dengan suara lemas.

Sehun mengernyitkan dahinya. Sepertinya Tao masih memikirkan Kris semalaman. Tubuh Tao kelihatan lemas, sama dengan suaranya. Matanya juga terlihat lelah seperti kurang tidur. Sehun tidak tahu harus mengatakan apa, tapi yang jelas, Sehun tidak ingin membicarakan kenapa Tao seperti ini. Itu karena ia sudah tahu jawabannya, dan karena Sehun tidak ingin mengingatkan Tao pada Kris.

"Ngg... Kaja! Kita berangkat sekolah!"

"Ne.."

.

.

Jam-jam pelajaran awal dilewati Tao begitu saja tanpa semangat sedikit pun. Bahkan saat jam istirahat pun Tao tidak bergerak dari kursinya.

"Ya Tao! Kau tidak bisa terus-terusan seperti ini!" ucap namja berkulit kecoklatan yang sedang merangkul namja bermata bulat di sampingnya.

"Cobalah untuk move on, Tao," Sehun memberikan saran yang justru membuat Tao bingung.

"Move on itu apa Sehun?" tanya Tao dengan polosnya.

"Move on itu... Ah, sudahlah lupakan saja Tao!" jawab Sehun yang sudah malas menjelaskan hal itu pada Tao.

"Bagaimana kalau sekarang kita ke kantin. Mungkin jika kau memesan sesuatu, itu bisa mengurangi stres mu," D.O mulai angkat bicara.

"Eung.. Baiklah..." jawab Tao lemas.

.

.

"Ayo kita duduk disana! Ada Baekhyun hyung dan Chanyeol hyung juga!" Kai menunjuk ke arah Baekhyun dan Chanyeol yang terlihat sedang makan sambil mengobrol.

"Hey! Baekhyun hyung, Chanyeol hyung!" sapa Kai.

"Hey! Wassup Kai, Tao, Sehun, D.O!" jawab Chanyeol.

"Tao, kelihatannya kau sedang murung? Kau kenapa? Apa ini karena-"

"Sssttt..." Sehun, Kai dan D.O memotong kata-kata Baekhyun secara bersamaan.

Baekhyun yang mengerti maksud ketiga namja tersebut akhirnya tidak melanjutkan kata-katanya. Ia kembali makan dan mengobrol dengan Chanyeol.

"Kau mau makan apa Tao? Biar aku yang pesan," tawar Sehun.

"Mmm... Aku ingin-"

'DRRTTT DDRRTT'

Tiba-tiba Sehun merasakan ponselnya bergetar. Ia mengambil ponselnya, mengecek siapa yang sedang meneleponnya.

"Luhan hyung? Ah, Tao.. Aku jawab teleponku dulu ne?" Tao pun mengangguk dan Sehun menjawab telepon dari namjachingu nya.

Tao terdiam sambil menundukkan kepalanya. Ia merasa kesepian meskipun saat ini sedang berkumpul bersama teman-temannya. Kemudian Tao mendongakkan kepalanya dan menatap teman-temannya.

Disamping kirinya ada Baekhyun dan Chanyeol yang duduk berhadap-hadapan. Mereka tampak asyik dengan dunianya. Disamping kanannya, Sehun masih mengobrol dengan namjachingu nya yang bernama Luhan. Disamping Sehun, Kai duduk bersama D.O yang ada di hadapannya.

Semuanya memiliki pasangan, kecuali dirinya. Tidak bisa dipungkiri, Tao merindukan Kris. Meskipun terkadang menurut Tao, Kris suka bertindak aneh, tetap saja Tao merindukan namja bertubuh tinggi itu.

Di saat yang sama, Tao melihat Kris yang sedang memesan sesuatu bersama... Lay. Tao bisa melihat kedekatan diantara keduanya. Mereka terlihat ceria satu sama lain. Dan rasa tidak suka itu muncul kembali.

Tao tidak bisa menahannya lagi. Ia pun berdiri, dan berjalan ke arah Kris dan Lay. Semua temannya tampak terkejut dan tidak mengerti apa yang akan Tao lakukan.

"Ya! Tao! Kau mau kemana?" sautan Baekhyun pun tidak Tao hiraukan. Ia tetap berjalan lurus ke arah Kris dan Lay.

Saat Kris sedang memberikan sebuah minuman pada Lay dan membalikkan badannya, mereka tampak terkejut dengan kemunculan Tao. Tiba-tiba saja dengan cepat, Tao menendang kaki Kris.

"AH!" teriak Kris sambil memegang kaki kirinya yang ditendang oleh Tao. Minuman yang Kris bawa pun tumpah ke lantai dan sedikit mengenai baju seragamnya. Teman-teman Tao, dan semua yang melihat hal itu tampak terkejut.

"Ini semua gara-gara Kris ge! Huh!" Tao pun berlari entah kemana, tidak menghiraukan Kris yang masih terlihat kesakitan.

"Ge, apa yang kau tunggu? Cepat kejar Tao!" teriak Lay pada Kris.

"Tapi..."

"Ppalli ppalli!"

"Ne," akhirnya Kris mendengarkan kata-kata Lay dan bergegas mengejar Tao meskipun cara jalannya terlihat sedikit pincang.

"Haha... Benar-benar pasangan yang lucu," gumam Lay.

"Hey, yixing..." Lay terkejut dengan seseorang yang tiba-tiba saja merangkul pundaknya. Tapi saat Lay melihat siapa orang itu, ia merasa lega.

"Kau mengagetkanku Suho hyung."

"Mianhae. Tapi aku pikir rencana itu sudah selesai," ucap Suho sambil tersenyum.

"Ne hyung, aku juga berpikir begitu."

.

.

Kris terus mencari Tao meskipun ia tidak melihat lagi kemana panda kesayangannya itu pergi. Tapi Kris tahu satu tempat yang biasa dikunjungi Tao, yaitu danau di belakang sekolah. Kris mempercepat langkahnya dan tak lama kemudian, ia sampai di tempat favorit Tao. Kris memandangi seluruh tempat dan mencari sosok Tao. Sampai akhirnya Kris menemukannya.

Tao duduk di tempat yang sering ia tempati. Tao memeluk kedua kakinya dan menelungkupkan wajahnya. Perlahan, Kris menghampiri Tao.

Ketika berada tepat di belakang Tao, Kris pun memeluk Tao erat. Tao merasa sangat terkejut, dan saat ia melihat siapa yang memeluknya, ia lebih terkejut.

"Kris ge? Kenapa gege bisa disini?"

"Kenapa kau menendang kakiku Tao?" tanya Kris tanpa melepaskan pelukannya dari Tao.

"I-itu karena..." Tao memandang ke arah lain, wajahnya terasa memanas saat ini. Ditambah lagi, Kris sedang memeluknya dari belakang.

"Karena apa Tao?" tanya Kris lagi. Tao menggigit bibir bawahnya. Tao merasa ragu untuk mengatakan perasaannya.

"N-nan neol neomu joahaeyo, Kris ge... Dan Tao merasa tidak suka melihat Kris ge bersama Lay ge... Mianhae..." Tao akhirnya mengatakan perasaannya. Tapi ia mengucapkannya seperti sedang berbisik. Namun Kris dapat mendengar hal itu dengan jelas karena jarak diantara mereka yang begitu dekat saat ini.

Kris ingin sekali tertawa mendengar pengakuan Tao yang menurutnya sangat lucu. Tapi Kris menahannya. Kris juga merasa sangat bahagia karena pada akhirnya Tao menyukainya dan itu berarti rencana yang ia lakukan bersama Lay tidak sia-sia.

"Nado joahaeyo, Tao. Aniyo, saranghaeyo..." Kris melepas pelukannya dan kemudian menatap mata Tao.

"T-tapi... Lay ge?" Kris menggelengkan kepalanya dan tersenyum.

"Aniyo.. Aku hanya menyukaimu Tao," jawab Kris dan kembali memeluk Tao. Dan seketika, wajah Tao pun memerah.

.

.

Kris dan Tao berjalan bersama sambil berpegangan tangan. Kris terlihat sangat bahagia dan sesekali ia melirik ke arah Tao yang terus saja menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajahnya yang memerah.

Banyak siswa dan siswi yang melihat hal itu tampak terkejut. Mereka bertanya-tanya bahwa bukankah Kris sudah memiliki kekasih? Dan banyak dari para siswi yang merasa patah hati karena mereka sudah tidak memiliki kesempatan untuk menjadi yeojachingu Kris.

"Nah, masuklah. Sepulang sekolah, aku akan menunggumu di depan gerbang. Kita pulang bersama," ucap Kris ketika mereka sudah sampai di depan kelas Tao.

"N-ne, gege..." jawab Tao begitu gugup karena pada akhirnya ia menjadi namjachingu Kris. Dan setelah itu Tao berjalan menuju tempat duduknya, tapi ia mendapatkan pandangan aneh dari kedua sahabatnya.

"Apa aku salah lihat?" tanya Kai.

"Kalian berpegangan tangan?" tambah Sehun.

"Apa kalian sudah berpacaran?"

"Tapi bagaimana bisa?"

"Apa yang terjadi?"

Kai dan Sehun terus saja melempar pertanyaan pada Tao secara bergantian, dan hal itu membuat Tao pusing. Tanpa menghiraukan pertanyaan dari kedua sahabatnya, Tao hanya duduk di tempatnya tanpa berkata apa pun.

"YA! Jelaskan pada kami Tao!" teriak Kai dan Sehun bersamaan.

"Eung.. Tapi aku harus menjelaskan apa?" tanya Tao bingung.

"Kau dan Kris hyung sudah berpacaran?" Kai kembali bertanya.

"Ne..." jawab Tao singkat seraya menundukkan kepalanya.

"JINJJA?!" Kai dan Sehun benar-benar terkejut.

"Memangnya apa yang sudah terjadi?" tanya namja berambut pirang.

'KRIIINGG KRIINGG'

Bel masuk pun tiba-tiba berbunyi. Kai dan Sehun menatap Tao tajam.

"Kau berhutang cerita pada kami, Tao."

.

.

Setelah jam pelajaran selesai, Tao dan Sehun berjalan keluar sekolah. Tao merasa sangat bersemangat karena Kris pasti sudah menunggunya di depan gerbang sekolah.

"Kris ge!" panggil Tao ketika ia melihat Kris yang sedang berdiri menunggunya.

Namja bertubuh tinggi itu melirik ke arah Tao yang memanggilnya. Awalnya ia merasa senang karena bisa pulang bersama Tao lagi, tapi Kris kecewa setelah melihat keberadaan Sehun yang berjalan di samping Tao. Tapi Kris mencoba bersikap senormal mungkin.

"Kris hyung, chukhaheyo, ne. Akhirnya kalian pacaran juga," ucap Sehun yang membuat pipi Kris memerah.

"Ne, gomawo," jawab Kris singkat.

"Jadi kapan rencana date kalian?"

"Date itu apa Sehun? Date itu kan artinya 'tanggal' dalam bahasa Inggris," ucap Tao dengan polosnya, membuat kedua namja yang mendengarnya pun tertawa.

"Yang Sehun maksud itu adalah kencan, Tao..." ucap Kris sambil mengacak-acak rambut Tao.

"Ooh... Kencan..."

"Tao, Kris hyung, aku pulang duluan ne? Aku tidak mau mengganggu kalian. Hehe.. Annyeong.." Sehun melambaikan tangannya meninggalkan Tao dan Kris.

Kris dan Tao saling menatap. Kemudian Kris meraih tangan Tao dan menggenggamnya. Tao pun tersenyum malu. Dan setelah itu mereka berjalan pulang sambil bergandengan tangan.

.

.

Kris berdiri di depan rumah namjachingu nya. Pakaian dan rambutnya sudah ia tata rapi. Hari Minggu ini, Kris sudah berjanji pada Tao untuk mengajaknya berkencan.

'Tok Tok Tok'

Kris mengetuk pintu rumah Tao. Dan tanpa menunggu lama, muncul seorang wanita yang kira-kira berusia 40 tahunan membukakan pintu.

"Aigo.. Siapa namja tampan ini?"

"Annyeonghaseyo Mrs. Huang. Wu Yi Fan imnida, namjachingu Tao," Kris memperkenalkan dirinya. Dan Mrs. Huang terlihat sangat terkejut.

"Kris ge?" Tao yang baru saja keluar dari kamarnya segera menghampiri Kris dan ibunya.

"Kenapa kau tidak memberitahu pada mama soal namjachingu mu, Tao?" Mrs. Huang bertanya dengan serius pada Tao. Tapi Tao tidak menjawab dan hanya mengangguk sambil tersenyum malu.

"Hm, sudahlah. Kalian pasti ingin jalan-jalan kan? Jadi tunggu apa lagi?" ucap Mrs. Huang lagi.

"Wo ai ni mama," Tao mengecup pipi ibunya.

"Aku akan menjaga anakmu Mrs. Huang," ucap Kris dengan yakin.

"Aku percaya padamu Wu Yifan," jawab Mrs. Huang dengan senyuman.

Dan setelah Kris dan Tao berpamitan, mereka berjalan bersama sambil berpegangan tangan. Tidak peduli dengan pandangan aneh dari setiap orang yang melihat. Mereka larut di dalam dunia mereka berdua.

"Jadi pertama-tama, apa yang ingin kau lakukan Tao?"

"Hmm... Bubble Tea!" seru Tao bersemangat.

.

.

Beberapa menit berjalan, akhirnya mereka sampai di cafe Bubble Tea. Dan setelah memesan, mereka duduk di kursi dekat jendela.

"Wah, bubble tea ini benar-benar seperti yang Sehun katakan!" ucap Tao dengan nada riang. Namun Kris yang mendengarkannya justru mengerutkan dahinya kesal karena nama Sehun kembali disebut.

"Oya ge... Masih ingat tentang waktu itu?" pertanyaan Tao membuat Kris merasa bingung.

"Tentang apa?"

"Kejadian waktu itu ge. Saat kita kabur dari-"

"Ah, ne! Aku ingat!" Kris cepat-cepat memotong ucapan Tao karena ia tidak ingin membicarakan kejadian memalukan yang dialaminya bersama Tao.

"Kris ge sudah membayar pesanan kita waktu itu?"

"Eoh.. I-itu.. Aku.. Belum.." jawab Kris dengan kaku.

"Ayo kita ke cafe itu lagi ge!" ajak Tao sambil memegang tangan Kris.

Kris menghela napas panjang. Tidak mungkin jika mereka pergi kesana lagi bukan? Itu sama saja dengan mencari masalah.

"Kenapa ge? Tidak mau?" Tao memasang wajah memelas. Dan Kris tidak bisa berkata tidak jika ekspresi wajah Tao seperti itu.

"Baiklah.." jawab Kris dengan lemas.

"Yeay! Katakan saja maaf, dan semuanya akan beres. Iya kan Kris ge?"

'Aku tidak berpikir seperti itu Tao...' ucap Kris dalam hati.

.

.

Setelah menghabiskan Bubble tea, mereka pun kembali berjalan menuju tujuan mereka selanjutnya. Kris berjalan dengan lemas. Sebaliknya, Tao berjalan dengan riang sambil menggandeng tangan Kris.

"Tunggu Tao!" Kris melepaskan tangannya yang digandeng oleh Tao.

Ia melihat ada sebuah toko yang menjual pakaian, aksesoris dan topi, tak jauh dari mereka. Kris masuk ke dalam toko itu dengan Tao yang mengikuti dari belakang.

"Kris ge, kenapa kita kesini?" tanya Tao saat melihat Kris yang sedang sibuk memilih-milih topi.

"Ini untuk penyamaran, Tao-ya," jawab Kris. Tao mempout-kan bibirnya, ia tidak mengerti dengan apa yang Kris pikirkan saat ini. Baginya, Kris tetap saja aneh meskipun sekarang Kris adalah namjachingu nya.

.

.

Setelah Kris membeli sebuah topi hitam, mereka kembali berjalan menuju tujuan mereka. Sekarang, Kris sudah bisa merasa sedikit tenang setelah membeli topi itu untuk menutupi identitasnya. Tapi tetap saja, ia merasa cemas. Takut jika pada akhirnya akan terjadi hal yang tidak mengenakkan.

"Kita sampai Kris ge! Ayo masuk!"

"Andwae!" Tao yang baru saja ingin membuka pintu cafe, menatap Kris yang tiba-tiba melarangnya.

"Waeyo ge?"

"Kau tunggu saja disini. Aku akan masuk dan membereskan masalah kita. Araseo?" Kris memegang kedua pundak Tao dan meyakinkannya untuk tidak masuk ke dalam cafe. Dan akhirnya Tao pun menganggukkan kepalanya.

"Tapi jangan lama-lama ya Kris ge..." ucap Tao pelan dengan semburat merah di pipinya. Kris tersenyum melihat Tao yang menurutnya sangat cute.

"Aku janji tidak akan lama," jawab Kris. Dan setelah itu ia pun masuk ke dalam cafe. Tak lupa dengan topi yang sejak tadi dipakainya.

Kris menundukkan kepalanya dan berusaha menutupi wajahnya dengan topi itu. Lalu ia berjalan langsung menuju kasir. Kris sangat yakin, pasti orang lain yang melihatnya akan menganggapnya sebagai seorang penjahat.

"Permisi tuan, anda ingin pesan apa?" tanya seorang wanita yang berdiri di belakang mesin kasir. Ia pun merasa curiga saat melihat penampilan orang yang ada dihadapannya.

Kris tidak mengatakan apa pun. Tapi ia langsung mengambil dompetnya, mengambil sejumlah uang yang cukup banyak dan memberikannya pada wanita yang menjaga mesin kasir itu.

"I-ini..."

"Apa maksud anda tuan?" tanya wanita itu tidak mengerti.

"U-untuk membayar yang waktu i-itu.."

"Ah, jadi anda-"

"Joeseonghamnida," Kris sedikit membungkuk dan kemudian ia pun berlari keluar cafe dengan cepat.

Kemudian ia menarik tangan Tao, yang sejak tadi menunggu di luar cafe. Lalu mereka berlari sambil berpegangan tangan. Tao tampak begitu terkejut. Ia mengira mereka dikejar lagi seperti waktu itu.

"Kris ge, apa kita dikejar lagi?" tanya Tao, masih sambil berlari.

"Mmm... Aku rasa tidak..."

"Tapi kenapa kita lari terus ge?"

"..." Kris tidak menjawab. Sebenarnya ia merasa sangat malu dan ingin cepat-cepat meninggalkan situasi tadi.

"Kris ge?" Tao memanggil Kris yang tiba-tiba saja terdiam.

"Eoh? Hmm... Aku hanya merasa senang ketika kita bergandengan tangan seperti ini, Tao."

Tao menundukkan kepalanya. Kata-kata Kris tadi membuat wajahnya memerah. Tao tak bisa memungkiri, ia juga menyukai saat-saat bersama Kris seperti ini.

.

.

"Sekarang kita mau kemana Kris ge?" tanya Tao penasaran.

"Sungai Han. Kau ingin kesana kan?"

"Ne, gege!" jawab Tao sambil menganggukkan kepalanya. Kris kemudian mengacak-acak rambut Tao karena gemas. Tao pun mem-pout-kan bibirnya seakan tidak suka dengan perlakuan Kris, padahal pipinya memerah bagaikan tomat.

'Cup'

Tiba-tiba Kris mencium pipi Tao dengan cepat. Tao sangat terkejut. Ia menatap Kris sambil memegang pipinya yang baru saja dicium oleh namjachingu nya itu.

"Kris ge?!"

"Ne?"

"K-Kris ge... men-cium... Tao?" tanya Tao terbata-bata.

"Ne~" jawab Kris singkat sambil terus tersenyum.

"T-tapi... Kenapa ge?" pertanyaan polos Tao membuat Kris ingin tertawa, tapi ia menahannya. Lalu, Kris mendekatkan wajahnya ke wajah Tao.

"Kau kan namjachingu ku chagi~ Dan itu hanya ciuman dipipi. Atau kau ingin aku cium dibibir?"

Kata-kata Kris itu membuat Tao tak bisa mengatakan apa pun. Dan Tao hanya bisa diam sambil mengedipkan matanya cepat, padahal Kris hanya ingin menggoda panda kesayangannya itu dan ia tertawa melihat reaksi Tao. Panda kesayangannya ini benar-benar cute!

"Kenapa kau diam saja Tao? Sebentar lagi kita sampai!" Kris pun menarik tangan Tao dan mereka kembali berjalan menuju sungai Han.

Dan benar saja, hanya beberapa menit berjalan, mereka akhirnya tiba di sungai Han. Terlihat banyak orang yang mengunjungi sungai Han. Ada yang sedang berkeliling menggunakan sepeda dan ada pula yang hanya sekedar duduk santai di kursi yang sudah disediakan.

Tao merasa sangat senang. Ia sudah mengunjungi sungai Han sebelumnya, tapi ini pertama kalinya ia pergi bersama Kris. Rasanya sangat berbeda. Dan sedari tadi, mereka terus bergandengan tangan.

"Kau lihat jembatan yang ada disana, Tao?" Kris menunjuk sebuah jembatan yang berdiri kokoh diatas sungai Han.

"Ne, memangnya kenapa ge?"

"Itu jembatan Banpo. Dan di jam tertentu, akan ada pertunjukan air mancur pelangi yang sangat spektakuler!" jelas Kris. Tao membelalakkan matanya.

"Jinjja? Kapan pertunjukannya ge? Kapan?" Tao berjingkrak-jingkrak sambil memegang lengan Kris. Namja berambut pirang itu pun melihat jam tangannya.

"Pertunjukan selanjutnya pukul 7 malam. Jadi kita harus menunggu dua jam lagi, Tao." Mendengar itu, Tao menggembungkan pipinya. Sayangnya Tao tidak diperbolehkan untuk pulang larut oleh ibunya.

"Bagaimana kalau kita berkeliling dulu sambil menunggu pertunjukannya mulai, hm?" ucap Kris lembut sambil mengelus rambut Tao. Dan Tao pun mengangguk pelan.

.

.

Hari sudah semakin sore. Kris dan Tao berjalan bersama memandang sungai Han. Tangan mereka masih saling bertautan, seperti tidak ingin melepaskan satu sama lain.

"Ge, ayo kita duduk disana!"

"Geurae, kaja!"

Mereka pun duduk di tepi sungai Han yang diselimuti rerumputan. Tiba-tiba Tao menyandarkan kepalanya di bahu Kris. Awalnya Kris terkejut, namun kemudian ia tersenyum menikmati moment ini. Meskipun tidak ada kata-kata yang diucapkan sedari tadi, mereka tetap merasa nyaman.

"Tao, bagaimana jika kita berfoto bersama?"

"Ne, Kris ge! Kita belum pernah foto bersama kan?" jawab Tao penuh semangat.

Kris mengangguk, kemudian ia mengambil ponselnya.

"Hana, dul, set!" ucap mereka bersamaan.

Foto mereka terlihat begitu manis. Kris tersenyum dengan gaya cool nya, sedangkan Tao menyandarkan kepalanya di bahu Kris dengan kedua tangan membentuk huruf 'V'.

"Uwaah! Foto kita terlihat bagus! Kirimkan pada Tao, ge!" Tao pun mengeluarkan ponselnya. Kris tertawa kecil melihat tingkah Tao yang selalu bersemangat, dan setelah itu Kris selca pertama mereka pada Tao.

"Tao..."

"Hm?" Tao yang masih tersenyum melihat selca mereka dengan cepat menatap Kris.

"Wo ai ni."

'Blush'

Pipi Tao memerah. Dan Tao menyembunyikannya dengan cara menundukkan kepalanya. Sayangnya, Kris memegang dagunya dan membuatnya kembali menatap Kris.

"Wo ye ai ni, Kris ge," ucap Tao pelan dengan wajah yang masih bersemu merah.

'Cute,' pikir Kris. Dan tanpa pikir panjang, perlahan Kris mendekatkan wajahnya ke wajah Tao, bersiap untuk mencium Tao. Sedangkan Tao hanya diam, tidak mengerti apa yang akan Kris lakukan dan tidak tau harus melakukan apa. Yang ia tau, jarak diantara mereka semakin dekat. Namun tiba-tiba saja, Tao mengingat sesuatu yang menurutnya penting.

"KRIS GE!" teriak Tao. Seketika itu juga Kris menjauhkan wajahnya, dan menatap Tao penuh tanya.

"Ada apa Tao?"

"Sudah pukul 18.30 ge! Tao harus cepat pulang! Mama akan marah!" ucap Tao panik sambil menunjukkan jam di ponselnya pada Kris.

"T-tapi Tao. Bagaimana dengan pertunjukan-"

"Kapan-kapan saja ge. Ayo ge, cepat! Kita harus pulang sekarang juga!" Tao menarik tangan Kris untuk segera menghela napas panjang. Ia pun menuruti keinginan Tao dan membawanya pulang.

Dan disepanjang perjalanan pulang, sambil berjalan dengn lemas Kris terus berpikir, bahkan ketika kini ia dan Tao sudah menjadi sepasang kekasih, mungkin perjuangannya belum akan berakhir.

.

.

-THE END-

Akhirnya selesai juga, meskipun kurang puas dengan ending nya -_- Semoga tidak mengecewakan ya. Hehehe

Buat yang udah baca ff ini, juga buat semua yang nge-review, favorite dan follow, neomu neomu gamsahamnida :D #bow

And see you next time~~ Annyeong :D