"Kau lihat gadis yang ada di sana?"

Aku hanya mengangguk.

" Dia targetmu berikutnya. Dalam sebulan kau sudah harus bisa mendapatkan nyawanya."

Menjadi seorang malaikat maut mengharuskan Sasuke Uchiha untuk membunuh Sakura Haruno bagaimanapun caranya, meskipun harus mengorbankan perasaannya sendiri.


Into The Dark by Reika Ishida

Pair : SasuSaku

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Rate : T

WARN : ABAL, ALUR CEPET, OOC maybe(?), typo(s)

Previous Chap.

"T-tunggu.. bagaimana bisa kau tahu hari ulang tahunku?" Tanya Sakura bingung. Disaat semua orang lupa akan hari ulang tahunnya, malah pemuda asing tak dikenal dan aneh inilah yang mengingatnya.

Sasuke memandang Sakura sekilas. Onyx dan emerald bertemu untuk sesaat.

Untuk sesaat itulah Sakura merasa dirinya telah terbawa kedalam pesona mata onyx tersebut, seakan-akan mata tersebut telah menghipnotisnya.

"Karena aku selalu memperhatikanmu." Jawab Sasuke sambil memalingkan wajahnya.

Sesudah mengucapkan kata-kata itu, sosok pemuda tersebut langsung menghilang.

Chapter 2 : Fake Boyfriend?

.

.

.

Sasuke POV

Aku merebahkan diriku di ranjang. Ya, akhirnya aku memutuskan untuk menginap di sebuah hotel. Seharusnya aku sudah bisa kembali keatas sekarang, bersama dengan teman-temanku sesama malaikat maut-grim. Tempat kaum kami berada di antara atas dan bawah. Di antara surga dan neraka. Yang penting tempatku bukanlah di sini.

Tetapi karena gadis itu aku jadi tidak bisa kembali ketempatku seharusnya. Dia-Sakura Haruno.

Ini pertama kalinya aku gagal mencabut nyawa seseorang dalam sekali pertemuan. Biasanya, hanya dengan sekali saja aku sudah bisa mencabut nyawa sasaranku tersebut.

Kenapa? Kenapa hanya dengan gadis itu aku gagal?

Mungkin.. karena dia sedikit menarik perhatianku.

Aku tersenyum kecil.

Sudah sejak lama tidak ada orang yang memarahi ataupun mengomeliku. Tugasku sebagai seorang grim selalu berjalan dengan sempurna, sehingga mereka tidak pernah mempunyai alasan untuk memarahiku.

Terakhir kali aku dimarahi adalah pada saat aku dengan tidak sengaja membuat Kaa-san marah, dan itu terjadi sebelum keluargaku meninggal karena kecelakaan tragis, saat aku masih sangat kecil.

Gadis itu tadi mengomeliku.

Menimbulkan sensasi yang sudah lama tidak pernah kurasakan.

Entah kenapa aku merasa sedikit senang mendengarnya menceramahiku, walaupun suaranya yang sangat nyaring itu hampir membuat telingaku tidak bisa lagi berfungsi dengan baik.

Gadis itu berbeda dengan sasaran-sasaranku yang lainnya.

Sudah lama aku tidak mendapatkan target yang seperti ini.

Menarik juga.

Sakura POV

Sinar matahari memasuki kamarku, seakan-akan mereka berusaha membangunkanku dengan cahayanya yang silau. Aku mengucek-ngucek mataku sejenak sebelum akhirnya benar-benar bangun dan keluar dari kamar tidur.

Kuturuni tangga secara perlahan, untung ini hari Minggu, jadi aku tidak perlu bangun pagi-pagi untuk berangkat sekolah. Tidur cukup memang sangat kubutuhkan mengingat banyak kejadian aneh sekaligus menyebalkan yang kualami belakangan ini. Salah satunya adalah bertemu dengan grim tersebut, Sasuke Uchiha.

Kalau mau jujur, sebenarnya aku merasa bahwa wajahnya terlalu tampan untuk dijadikan sebagai malaikat pencabut nyawa. Tetapi sayang, sikapnya memang amat sangat menyebalkan.

'Karena aku selalu memperhatikanmu.'

Mukaku memanas mengingat perkataannya tadi.

Selama aku hidup, aku hampir tidak pernah memiliki interaksi khusus dengan laki-laki.

Jadi wajar saja perkataan itu membuatku gugup.

Bagaimana pun juga, Sasuke itu termasuk seorang laki-laki , kan?

.

.

.

Normal POV

"Ada apa memanggilku kesini, Ino?" Sakura memainkan es krim miliknya dengan sendok.

"Eh? Tentu saja untuk mentraktirmu es krim, kan? Kenapa memangnya?" Ino bertanya balik sambil menyendokkan es krimnya kedalam mulut.

"Tidak pig, Tumben saja kau mentraktirku seperti ini. Aku kira kau merasa bersalah padaku karena tidak dapat menginap semalam." Jawab Sakura tertawa kecil sambil ikut menyendokkan es krimnya.

"Sebenarnya itu salah satu alasannya." Balas Ino nyengir.

"Sudah kuduga. Kau itu tidak pernah mentraktirku jika tidak ada maunya." Timpal Sakura sambil masih tertawa.

"Jangan seperti itu jidat, kami-sama tidak akan memberkatimu jika kau terus-terusan berpikiran negatif di hari ulang tahunmu ini." Dengus Ino kesal.

"Aku malah berpikir kau lupa akan hari ulang tahunku." Jawab Sakura datar.

"Tentu tidak, aku tidak akan melupakan hari ulang tahun sahabatku sendiri, kan?" ujar gadis blonde itu sambil tersenyum kecil.

Ya, ternyata Ino memang tidak lupa akan hari ulang tahun Sakura, bahkan ia berhasil membuat Sakura lumayan terkejut akan kehadirannya yang tidak diduga-duga dan sukses berat membuat gadis bersurai merah muda itu bermandi tepung pada saat jam masih menunjukkan pukul 5 pagi.

Tetapi Sakura tidak yakin bahwa hanya itu saja alasan Ino membawanya kemari.

Instingnya mengatakan masih ada alasan lain lagi, dan sejauh ini insting Sakura tidak pernah salah.

"Jadi, ada apa?"

"Hm?" Gumam Ino menanggapi pertanyaan Sakura, ia masih terlihat asyik berkutat dengan es krimnya.

"Kau bilang tadi adalah salah satu alasanmu memanggilku kemari. Berarti masih ada alasan yang lainnya kan?"

"Sepertinya aku harus diet setelah ini-Eeh? Kau memang selalu pintar menerka dalam hal seperti ini, Sakura. Tidak sia-sia kau memiliki jidat yang besar." Ino tersenyum meledek.

"Oh, ayolah pig, aku sedang tidak ingin bercanda sekarang." Tanggap Sakura agak kesal. Kejadian-kejadian menyebalkan yang menimpanya belakangan ini membuat mood gadis itu menjadi keburu jelek.

"Sudah lama aku merasa bahwa kau harus menambah selera humormu itu jidat! Lagipula tidak seru kan jika langsung kuberitahu sekarang? Coba tebak." Bukannya menjawab, si gadis blonde malah tersenyum misterius, membuat gadis bersurai merah muda di depannya itu mendengus. Sakura sedang tidak ingin bermain tebak-tebakkan.

"Kau menang undian mingguan majalah?"

"Bukan."

"Baju baru?"

"Bukan."

"Tawaran untuk bermain film bersama dengan bintang artis hollywood?"

Ino terdiam sejenak, sampai akhirnya menjawab.

"Sebenarnya aku berharap begitu.. Tapi…. Bukan."

Sakura mengerutkan keningnya. Lalu apa? Mungkinkah sahabatnya ini sedang merencanakan untuk memberinya kejutan di hari ulang tahunnya ini? Oh sepertinya bukan.

"Jadi apa?"

"Ah ayolah Sakura, masa kau sudah menyerah?" Ino memandang Sakura, terlihat kecewa.

"Kau tahu aku tidak sedang dalam mood untuk bermain tebak-tebakkan."

"Baiklah-baiklah… Kau tahu Shimura Sai?"

"Pelukis terkenal berwajah datar itu? Tentu saja. Siapa yang tidak mengenalnya. Ada apa dengan orang itu?"

"Seharusnya kau mengucapkan selamat kepadaku sekarang…" Ino sengaja menggantungkan kalimatnya, untuk membuat kesan misterius.

"…karena aku telah resmi menjadi kekasihnya semalam."

JEDUER

Seakan-akan ada petir yang menyambar kepala Sakura.

Ino sahabatnya.. telah resmi menjadi kekasih seorang pelukis terkenal, Sai Shimura?

"B-bagaimana bisa?" Sakura terlihat kaget.

"Kau ingat saudaraku datang tadi malam?" Balas Ino terlihat puas dengan reaksi sahabatnya itu.

"Tentu, kau menceritakannya ditelepon kemarin." Jawab Sakura malas.

"Nah, ternyata rumah saudaraku itu bersebelahan dengan rumah Sai sehingga mereka sudah berteman akrab sejak kecil."

"Jadi.. saudaramu yang memperkenalkanmu kepada Sai?"

"Tepat."

"Dan kau baru bertemu dengannya tadi malam?"

"Uhum.. ya."

"Dan kau langsung menjadi kekasihnya malam itu juga."

"Ya, itu benar. Aneh mungkin, tetapi beginilah takdir. Ada sensasi aneh yang kurasakan begiu melihatnya pertama kali. Dan mendadak saja aku langsung yakin bahwa dialah orang yang ditakdirkan kami-sama untukku." Kata Ino mendadak puitis.

"Ahh, pig! Selamat! Kau sangat beruntung! Aku turut bergembira untukmu." Sakura tersenyum tulus. Baginya, kebahagiaan Ino adalah kebahagiaannya juga, begitupula dengan sebaliknya.

"Terima kasih, sobat! Aku juga berharap kau segera menyusulku." Ino tersenyum sarkastik.

"Maksudmu?" Sakura menatap Ino curiga.

"Ya… Sai memiliki seorang sepupu.. Namanya Shimura Rei, kalau kuperhatikan sih dia cukup tampan walau tidak setampan Sai-ku yang pasti. Tetapi cukup lumayan juga. Bagaimana kalau kau mencoba untuk…"

"Tidak." Jawab Sakura tegas.

"Oh ayolah jidat, sampai kapan kau akan terus bertahan dalam status single-mu itu?" Ino mendengus kesal

"Yaampun pig, kita sudah sering membahas hal semacam ini. Aku sedang tidak ingin beradu pendapat denganmu. Lupakan topik ini. Benar-benar tidak penting." Kali ini giliran Sakura yang mendengus

"Tentu saja ini penting, aku hanya mencoba untuk mencari yang terbaik untukmu jidat. Tapi kau selalu menolak semua tawaranku! Lagipula kupikir Rei bukanlah permulaan yang buruk." Jelas Ino, ia terlihat kecewa.

"Bukan begitu Ino.. Lagipula ada alasan tersendiri yang membuatku menolak tawaran-tawaranmu itu ." Balas Sakura cepat saat ia menyadari ada kekecewaan yang tersirat dalam nada bicara sahabatnya itu.

"Coba sebutkan alasannya."

"Karena aku.. um…"

Sakura terdiam sejenak, ia berusaha mencari alasan yang masuk akal.

"…. sudah mempunyai kekasih sendiri."

Gadis blonde di depannya langsung membelalakkan matanya begitu mendengar ucapan Sakura.

"Apaa? Benarkah itu? Kenapa kau tidak pernah memberitahukanku, jidat? Teganya!"

Huh, Itu karena aku memang tidak mempunyai kekasih, pig.

"Haha.. aku hanya malu memberitahukannya kepadamu." Sakura menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Jadi siapa? Tunjukkan kepadaku!" cerca Ino tidak sabar.

"Dia itu… em…"

Sakura berusaha memutar otaknya dengan cepat, mencari nama pria yang masuk akal untuk disebutkan.

Shikamaru? Ah tidak, dia sudah mempunyai Temari-senpai.

Naruto? Juga tidak, lagian ia tidak ingin melukai perasaan Hinata-chan.

Chouji? Ugh, jangan harap.

Argh.. kau baka Sakura, kenapa memilih alasan yang tidak masuk akal seperti ini?

Lamunan Sakura terhenti saat ia melihat seseorang yang baru saja memasuki kafe tersebut.

Pemuda itu lagi.

Dia?

Tidak tidak…

Tapi kalau bukan dia, siapa lagi?

"Sudah, kuduga. Kau hanya membual, Sakura." Ujar Ino penuh kemenangan.

Sial.. tidak ada waktu untuk berpikir lagi.

"T-tidak!"

"Kalau begitu siapa? Ayo katakan padaku." Gadis blonde itu terlihat sudah tidak sabar.

Yah.. mungkin boleh juga. Ini terpaksa, kan?

Ini bukan berarti kau tertarik padanya, Sakura.

Sakura mengepalkan tangannya, meyakinkan dirinya sendiri.

Tapi tunggu.. bagaimana kalau pemuda itu terlalu-err-percaya diri?

Ah sudahlah, biarkan saja.

Setelah membulatkan tekad dan menahan malu akhirnya Sakura berlari menghampiri pemuda itu.

"Hei! Ternyata kau di sini juga." Seru Sakura sambil menggait lengan pemuda tersebut.

"Siapa ini, forehead?" Tanya Ino sambil mengamati pemuda yang berada di depannya ini, berusaha memberi penilaian. Pemuda yang diamati hanya bisa terdiam, menatap mereka berdua dengan pandangan bingung.

"Ini… um… ini pacarku, Namanya Sasuke Uchiha. Suatu kebetulan yang mengejutkan bukan?" Ucap Sakura sambil tertawa, ia berharap tawanya tidak terlalu kaku didengar sehingga orang-orang tidak menyadari bahwa sebenarnya ia hanya berpura-pura melakukan hal tersebut.

"…..?"

TBC.


A/N : Halooo semuanyaa, makasih ya yang udah mau luangin waktunya buat baca fic Reika yang abalan ini *cipokin satu2* /digeplak/ dan thanks yang udah mau review fic Reika kemarin. Walaupun ga banyak tapi Reika seneng banget loh waktu baca reviewnya satu-satu:')

Terus karena Reika lagi seneng buat fic dengan pair SasuSaku, akhirnya terbentuklah chap 2 ini, mueheheheh(?)

Menurut kalian gimana chap 2nya?

apakah udah mendingan dari chap 1?

Atau sama aja?

feelnya belum kerasa ya? iya, Reika juga ngerasa gitu kok. Reika gak pandai nyiptain feel yang greget di sebuah fanfic :') *nangis dipojokan*

Tapi Reika janji kok, untuk next chap, Reika akan banyakin adegan SasuSakunya *grins* (kalo masih ada yang mau baca sih #plakk)

wordnya dikit? gomeeen, untuk sekarang Reika lagi mau buat 1 chap 1k dulu, mungkin untuk kedepannya word(s) perchap akan Reika tambah.

Oh iya, Reika tau kalo fic Reika ini masih jauh banget dari kata 'sempurna' karena Reika juga masih newbie di sini. Belum nyampe satu tahun Reika gabung di FFn.

Reika masih sangat butuh kritik dan saran2. pengen nanya pendapat orang lain, Reika gatau mau minta pendapat siapa T-T *malah curhat* #abaikan.

Karna itu, boleh kan kalian membantu Reika dengan memberikan review kalian? kritik dan saran apapun pasti Reika terima:')

Thanks!


With love,

Reika Ishida