"Kau lihat gadis yang ada di sana?"
Aku hanya mengangguk.
" Dia targetmu berikutnya. Dalam sebulan kau sudah harus bisa mendapatkan nyawanya."
Menjadi seorang malaikat maut mengharuskan Sasuke Uchiha untuk membunuh Sakura Haruno bagaimanapun caranya, meskipun harus mengorbankan perasaannya sendiri.
Into The Dark by Reika Ishida
Pair : SasuSaku
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Rate : T
WARN : ABAL, ALUR CEPET, OOC maybe(?), typo(s)
Previous Chap.
Setelah membulatkan tekad dan menahan malu akhirnya Sakura berlari menghampiri pemuda itu.
"Hei! Ternyata kau di sini juga." Seru Sakura sambil menggait lengan pemuda tersebut.
"Siapa ini, forehead?" Tanya Ino sambil mengamati pemuda yang berada di depannya ini, berusaha memberi penilaian. Pemuda yang diamati hanya bisa terdiam, menatap mereka berdua dengan pandangan bingung.
"Ini… um… ini pacarku, Namanya Sasuke Uchiha. Suatu kebetulan yang mengejutkan bukan?" Ucap Sakura sambil tertawa, ia berharap tawanya tidak terlalu kaku didengar sehingga orang-orang tidak menyadari bahwa sebenarnya ia hanya berpura-pura melakukan hal tersebut.
"…..?"
.
.
.
Chapter 3 : Should I?
"Ini pacarmu? Wah boleh juga kau, Sakura. Kalau saja aku masih single dan dia belum menjadi milikmu aku pasti sudah mengambilnya." Seringai Ino menggoda Sakura.
"Apa-apaan ini? aku tid-…"
Sasuke yang hendak memprotes langsung diam begitu mendapat pelototan mematikan yang seakan-akan berarti sudah-diam-dan-menurut-saja dari Sakura.
"Bisa saja kau Ino, kau kan sudah memiliki Sai." Jawab Sakura menanggapi godaan Ino tadi.
"Yah.. tentu saja.. walaupun dia tampan, tapi tidak ada yang bisa mengalahkan ketampanan dan pesona Sai-kun. Pemudaku memang yang terhebat." Cerocos Ino bersemangat.
Sakura hanya diam mendengar cerocosan Ino tentang Sai-nya sambil memasang pandangan mau muntah.
"Jadi ayo kita duduk bersama, banyak hal yang harus kau ceritakan padaku, jidat." Ino memandang Sakura dan Sasuke dengan tatapan penuh arti.
"Oh, tentu saja. Ayo sini, Sasuke-kun." Kata Sakura sambil menggeret tangan Sasuke secara paksa.
.
.
.
"Kapan kau dan Sasuke mulai berpacaran?" Tanya Ino memulai pembicaraan.
"Tunggu dulu, ini semua salah paham. Aku tidak pernah berpaca—aduh.." Lagi-lagi omongan Sasuke terputus, kakinya baru saja mendapat hadiah injakan dari Sakura.
Siapa juga yang mau memiliki pacar yang ganas seperti ini, lebih baik mati. Batin Sasuke dalam hati.
"Tidak pernah berpacaran? " Ino mulai memasang tampang curiga.
"Ah, kami sudah berpacaran selama 2 bulan. Sasu-kun tidak mau membesar-besarkan hal yang berhubungan dengan semacam ini kepada sembarang orang. Dia agak.. er… pemalu, Iya kan Sasu-kun?" Sakura memandang Sasuke dengan senyum yang bagi Sasuke agak terlihat.. sedikit horror.
"Hn." Jawab Sasuke singkat sambil membuang mukanya.
"Pemalu? Wah aku benar-benar tidak menyangka kalau dia tipe yang pemalu seperti itu. Fisik bisa menipu juga, ya…" Gumam Ino sambil memandangi Sasuke.
"Tch.." Dengus Sasuke pelan mendengar ucapan gadis blonde di depannya. Pemalu? Ia benar-benar tidak sudi dikatakan seperti itu. Berani sekali Sakura terhadap seorang Sasuke Uchiha, yang merupakan grim terkuat, generasi Uchiha terakhir, serta memiliki segudang kelebihan tersebut.
Oh Sakura, nasibmu benar-benar tidak beruntung, sebentar lagi kau akan merasakan kengerian amukan seorang Sasuke Uchiha, lihat saja nanti.
"Sakura.."
"Um, apa?"
"Ada hal yang perlu kita bicarakan, aku akan pergi ke rumahmu nanti. Pastikan tidak ada orang saat aku datang."
.
.
.
"Jadi kenapa?" Dengus Sakura kesal kepada pria berambut emo di depannya itu.
"Kenapa? Kau masih bilang kenapa?" Tanggap Sasuke dingin.
"Ayo cepat. Kau mau bilang apa? Kalau tidak penting aku mau tidur sekarang." Balas Sakura malas sambil mulai menarik selimutnya.
Srakk!
"Kau—Apa-apaan kau Sasuke Uchiha?" Seru Sakura setengah berteriak sambil berusaha mengambil kembali selimut yang tadi ditarik oleh Sasuke.
"Apa maksudnya tadi?"
"Hm?"
"Maksudmu tadi, memperkenalkan aku sebagai kekasihmu kepada sahabat blondemu itu." Ucap Sasuke sambil masih memandangi Sakura dengan tatapan tajam.
"Kenapa ya? Ya.. mungkin karena kau satu-satunya pemuda yang kukenal dan kulihat saat itu. Aku harus segera mencari alasan yang cukup meyakinkan untuk meloloskan diri dari 'perjodohan' yang direncanakan oleh sahabatku itu." Jelas Sakura malas.
"Dan kau pikir, aku mau membantumu, berpura-pura menjadi kekasihmu di depan orang lain, hn?"
"Yah… mungkin saja kan?" Sakura mengangkat bahunya.
"Kuberitahu nona, kau salah besar." Kata Sasuke dingin sambil menarik kerah baju Sakura. Ia tetap memandang Sakura dengan tatapan membunuhnya.
Sakura terdiam sejenak. Mata onyx yang berada tepat di depannya itu seakan-akan siap menelannya. Entah kenapa gadis itu jadi merasa…. Takut.
"Kau harus tahu bahwa aku bisa mengambil nyawamu kapan saja."
Tidak Sakura, kau tidak boleh takut. Takut berarti kalah. Kau sudah terjebak akan perangkap makhluk menyebalkan ini. Suara dari dalam kepala Sakura berkata.
"Memangnya kenapa kalau begitu? Tidak ada pengaruhnya sama sekali dalam diriku. Aku tidak takut." Tantang Sakura.
"Kuakui kau perempuan terberani yang pernah kutemui, Sakura."
Sasuke melepaskan Sakura dan menjatuhkan gadis itu diatas ranjang.
"Baiklah.. Aku mau membantumu."
"Benarkah?" Sakura memandang Sasuke terkejut. Pemuda yang berada di depannya ini ingin membunuhnya kemarin, baru saja menolak habis-habisan untuk membantunya tadi, dan…. pemuda yang sama pula lah yang berniat untuk menolongnya sekarang.
"Hanya jika kau mematuhi satu syaratku ini."
"Apa itu?"
Hening sesaat.
"Kau harus menciumku."
.
.
.
Sasuke POV
Udara hari ini sangat panas. Cuaca di tempatku tidak pernah sepanas ini. Sebaliknya, iklim di sana sangatlah dingin dan mencekam. Hal ini membuatku tidak bisa menahan diri untuk tidak memasuki salah satu kafe yang berada dipinggir kota. Meminum secangkir cappuccino pastilah akan sangat menyenangkan.
Baru saja aku ingin duduk dan memesan pesanan, tiba-tiba saja lenganku sudah digait oleh seseorang yang tidak kukenal. Aku tidak dapat melihat wajahnya karena ia wajahnya membelakangiku.
Tunggu.. rambut bewarna pink ini sepertinya terlihat familiar.
Jangan-jangan..
"Hei! Ternyata kau di sini juga."
Cih, ternyata memang dia. Sakura Haruno.
Untuk apa ia mendatangiku?
"Siapa ini, forehead?" Kali ini giliran seorang gadis blonde yang menghampiriku. Ia terlihat tertarik.
"Ini… um… ini pacarku, Namanya Sasuke Uchiha. Suatu kebetulan yang mengejutkan bukan?" Gadis bersurai merah muda itu tertawa kecil. Tawa yang menurutku seperti.. agak dibuat-buat.
Tunggu.. dia bilang apa tadi? Pa-car?
"…..?"
Aku terdiam, masih bingung dengan ucapannya tadi.
"Ini pacarmu? Wah boleh juga kau, Sakura. Kalau saja aku masih single dan dia belum menjadi milikmu aku pasti sudah mengambilnya."
Perkataan gadis blonde tersebut membuatku mulai tersadar akan lamunanku.
"Apa-apaan ini? aku tid-…"
Ucapanku yang hendak memprotes perkataannya langsung terputus begitu mendapatkan tatapan deathglare dari perempuan tersebut.
Dan semuanya terjadi begitu saja, tiba-tiba aku sudah duduk bersama dengan mereka berdua. Menjalankan sandiwara yang konyol ini.
Sial, gadis itu berhasi mempermainkanku lagi.
Awas saja kau nanti, Sakura.
.
.
.
"Apa maksudnya tadi?" Tanyaku dengan nada ketus.
"Hm?"
Gadis itu terlihat tidak tertarik untuk menjawab pertanyaanku, bahkan mata emerald-nya sama sekali tidak memandangku.
"Maksudmu tadi, memperkenalkan aku sebagai kekasihmu kepada sahabat blondemu itu." Ucapku sambil memandanginya dengan tatapan tajam
"Kenapa ya? Ya.. mungkin karena kau satu-satunya pemuda yang kukenal dan kulihat saat itu. Aku harus segera mencari alasan yang cukup meyakinkan untuk meloloskan diri dari 'perjodohan' yang direncanakan oleh sahabatku itu." Jelas gadis itu malas. Ah, setidaknya ia membalas tatapanku kali ini.
"Dan kau pikir, aku mau membantumu, berpura-pura menjadi kekasihmu di depan orang lain, hn?" Aku tertawa sinis menanggapi perkataannya
"Yah… mungkin saja kan?"
"Kuberitahu nona, kau salah besar."
Aku memutus perkataanku, membiarkan suasana tegang memasuki ruangan ini.
"Kau harus tahu bahwa aku bisa mengambil nyawamu kapan saja."Lanjutku, menikmati keadaan kaku yang mulai tercipta di dalam kamar.
"Memangnya kenapa kalau begitu? Tidak ada pengaruhnya sama sekali dalam diriku. Aku tidak takut." Bukannya terlihat takut, gadis itu malah balas memandangiku dengan tatapan menantang.
Aku tersentak kaget mendengar ucapannya, tetapi langsung kututupi kekagetanku itu. Aku tidak mau terlihat lemah di depan gadis tersebut.
"Kuakui kau perempuan terberani yang pernah kutemui, Sakura."
Gadis ini memang benar-benar menarik. Sayang sekali kalau ia harus kubunuh langsung, seperti yang biasa kulakukan dengan sasaran-sasaranku sebelumnya.
Bermain-main dengannya sebentar pasti mengasikkan. Dalam waktu sebulan aku pasti bisa membuatnya terjerat kedalam pesonaku. Dan setelah ia jatuh cinta kepadaku, akan kuakhiri hidupnya. Akhir yang tragis dan kejam untuk seorang Sakura Haruno.
Ha, siapa suruh kau mempermainkanku. Lihat, aku dapat membalasmu bertubi-tubi kali lipat, kan?
Sekarang kita lihat siapa yang akan berkuasa, Sakura.
"Baiklah.. Aku mau membantumu."
"Benarkah?" Gadis itu terlihat terkejut mendengar ucapanku
"Hanya jika kau mematuhi satu syaratku ini." Jawabku sambil tersenyum penuh arti
"Apa itu?"
Hening sesaat.
"Kau harus menciumku."
.
.
.
TBC.
A/N : Holaa minna-san~ makasih banyak ya, yang udah mau luangin waktu buat baca fic Reika sampe di chap ini. semoga kalian gak kapok2 buat terus ngikutin perkembangan fic ini dan memberikan review(?) /langsung dilemparin sendal/ #okeabaikanaja.
Gimana chap 3 ini? SasuSakunya udah lumayan banyak kan ya?:3 apa feelnya masih belom kerasa? sudah mendingankah dari chapter-chapter sebelumnya? :| *krik krik*
Dan sekali lagi Reika minta maaf karena words chap ini lebih dikit daripada sebelum-sebelumnya. abis author lagi sibuk banget sih, karena author juga masih sekolah.. jadi ginilah.. ini aja author nyempet2in waktu buat nulis fic. jadi mohon dimengerti #eaak (kayak ada yang nungguin fic lu aja thor /plaks).
Oh iyaa, Reika juga mau juga bilang makasihh sama yang udah mau ngereview fic Reika.. yang login cek PM ya, karena Reika bales reviewnya di situ. dan ini balesan review untuk yang gabisa di PM :
lovsasusaku : ini udah lanjut,kan?^-^
Guest : begitukah? gomen :" chap selanjutnya akan Reika perpanjang wordnya ;;)
Zuka : hahaha, okee.. akan Reika usahakan untuk update cepet~ ikutin terus perkembangan fanfic ini, yaaa^^
Guest: okesipp! ini udah lanjut^^ thanks reviewnya yaa:D
Thanks yaa bagi semua yang udah berkenan untuk ngebaca dan ngeriview fanfic Reika. Reika masih sangat membutuhkan dukungan dan kritik/saran dari kalian. Karena review kalian adalah semangat bagi Reika untuk terus menulis fanfic ini *sok puitis*
Terakhir...
Mind to review?
With Love,
Reika Ishida.
