Ini dia, chapter kedua! Ceritanya memang dibuat pendek, tapi aku bakal publish cerita baru yang judulnya For the First Time in Forever!

Dan beberapa cerita yang sedang dalam proses pembuatan yang akan diposting setelah selesai supaya readers nggak pada nunggu!

Enjoy! Jangan lupa di Review, yaa~ *kebanyakan minta

Disclaimer (yang telat) : KHR milik Amano Akira-san! Aku cuma punya plot dan OCnya saja!

Hibari tetap mengunjungi padang rumput itu. Padang rumput yang sama, bunga – bunga yang masih menghiasi padang tersebut dengan hamparan warna – warni. Pemuda itu berbaring di bawah pohon besar tempat biasanya ia dan Rasiel duduk sambil menikmati kesunyian yang nyaman.

Namun, kali ini terasa tidak benar.

Kesunyian kali ini terasa tidak benar. Biasanya, Hibari akan disambut oleh celotehan ekspres milik Rasiel yang ingin membuat sang Skylark segera memukulnya dengan tonfa. Kali ini tidak ada celotehan, yang menurut Hibari, bisa membuat gendang telinga pecah. Namun, Hibari sadar bahwa tanpa suara Rasiel suasana terasa sangat sepi.

Hanya gemerisik dari daun yang saling bergesekan akibat terpaan angin yang menjadi pembelah kesunyian. Setiap menit, Hibari akan melirik ke arah kirinya. Berharap, walaupun ia tidak akan pernah mengakuinya, Rasiel akan muncul dan tersenyum padanya lagi.

Hibari akan menunggu hingga senja pun hadir untuk menutup hari. Ketika langit berubah menjadi oranye, Hibari akan beranjak dari tempatnya berbaring dan berjalan pergi meninggalkan padang itu. Namun, ia akan dating untuk keesokan harinya.

Padang rumput itu menjadi tempat rahasia Hibari, tak sekalipun ia akan memberitahunya pada orang lain (author : siapa juga yang mau nanya? Itu, mah, cari mati #ditonfa). Namun, Hibari tidak melihat Rasiel muncul di padang itu lagi.

"Herbivore," gumam Hibari. "Ketika kau muncul lagi, kamikorosu,"

Itulah ancaman yang di gumamkan Hibari ketika ia menutup matanya untuk tidur di hamparan rumput hijau. Ancaman itu biasanya akan membuat Rasiel langsung memekik dan meminta maaf, tapi tidak kali ini. Bahkan suara nafas pun tidak terdengar.

Mahkota bunga Carnation putih yang terakhir Rasiel buat masih tersimpan rapi di kamar Hibari. Ia, meskipun tidak akan pernah mengakuinya sampai mati sekalipun, tidak tega untuk membuangnya. Mahkota itu selalu ia jaga, bahkan ia simpan dalam kotak kaca agar tetap dalam kondisi semula. Mahkota itu adalah hadiah pertama yang ia terima dari seseorang setelah bertahun – tahun lamanya.

Pada awalnya, Hibari sempat bertanya sekali dalam hati; kenapa Rasiel memilih bunga Carnation di banding dengan bunga lain? Setelah mencari informasi dari buku – buku tentang biotani, yang ia dapatkan setelah memerintah Kusakabe untuk meminjam dari perpustakaan sekolah, ternyata bunga Carnation melambangkan kasih saying ibu dan persahabatan.

Persahabatan.

Kata yang terdengar asing di telinga Hibari. Tentu saja, sang Skylark lebih menyukai kesendirian dan sangat membenci kerumunan. Menurutnya, berkerumun hanyalah untuk herbivoreherbivore lemah sedangkan ia adalah karnivora. Semua orang bukan menghormatinya, tapi takut padanya. Ia sudah terbiasa dengan itu. Namun, untuk pertama kalinya Hibari di anggap berbeda oleh seseorang, bukan sebagai monster atau semacamnya,

Ia di anggap sahabat.

Sebelum Hibari dapat mengerti, memahami arti persahabatan, sosok gadis yang mampu membuat ia menyadari itu telah hilang.

Hibari bahkan telah memerintahkan Kusakabe untuk mencari data seorang gadis bernama Rasiel. Hibari tahu itu mustahil karena Rasiel bukanlah orang Jepang. Ia bahkan tidak tahu nama marga Rasiel dan itu semakin mempersulit pencarian biodata gadis itu.

Namun, semuanya berbeda dari pemikiran seorang Hibari Kyoya.

"Hibari-san," Kusakabe meminta izin untuk masuk ke dalam ruang penyambutan. Hibari hanya menanggapi itu dengan 'hn' seperti yang biasa ia lakukan. Ia bahkan tidak repot – repot untuk menoleh pada pintu masuk, matanya terkunci pada tumpukan kertas yang menunggu untuk di tanda tangani olehnya.

"Ada apa," kata Hibari dengan datar.

"Saya dan komite kedisiplinan telah menemukannya," kata Kusakabe. Hibari langsung mengalihkan pandangannya dari tumpukan pekerjaannya pada sebuah amplop coklat besar yang ada di tangan Kusakabe. Sang wakil segera menghampiri meja kerja Hibari dan menyerahkan amplop itu.

"Saya masih tidak mengerti kenapa anda mencari biodata tentang Rasiel Nighthoven," kata Kusakabe.

Hibari mengabaikan penjelasan Kusakabe. Tangannya telah meraih beberapa lembar kertas yang berada di dalam amplop itu dan segera membacanya.

Kertas – kertas dokumen itu juga tidak bisa di bilang baru, karena ujung – ujungnya telah menunjukkan warna kekuningan dan tulisannya mulai kabur. Namun, sebuah foto berukuran 4cm X 3cm telah meyakinkan Hibari bahwa itu adalah biodata Rasiel.

Karena foto itu adalah foto Rasiel.

Ia membaca setiap kata yang ada dengan hati – hati. Beberapa fakta membuat hatinya di tampar rasa keterkejutan.

Rasiel adalah orang Jepang.

Ya, nama aslinya adalah Saroma Mirai. Bahkan di sebutkan juga nama kedua orang tuanya yang membuat rasa yakin mengekang Hibari; Saroma Hiroto dan Saroma Haruna.

"Saroma Mirai," gumam Hibari. Sebagai orang Jepang, ia tahu arti nama itu; masa depan.

Hibari membaca tanggal lahir Rasiel, sekolah – sekolah tempat ia menjenjang pendidikan, serta alamat rumahnya. Semua informasi itu nyaris membuat rahangnya terbuka.

Tempat tinggal Rasiel, setahu Hibari, adalah taman kota Namimori. Artinya, taman kota adalah rumah penduduk bertahun – tahun yang lalu sebelum di bangun ulang. Hibari memutuskan untuk membaca info lainnya, hingga suatu info membuat rahangnya terbuka sedikit.

Rasiel Nighthoven : 19xx – 2000

Sebuah fakta menampar Hibari keras – keras,

Rasiel sudah meninggal lebih dari sepuluh tahun lalu.

Yak, cerita masih berjalan! Semoga kalian sabar menunggu! Karena lagi bebas, chapter baka update lebih cepet!

Arigato, minna-tachi!