Okeeeeeeeeeeeeeeeeee! *ditampol* saya sudah update para readers sekalian! Dengan segala masalah yang menerpa, perjuangan menjunjung ter-publishnya fanfic(?), dan segala macam curcol author yang nggak penting *dilempar piso* akhirnya, Crown of Flowers bisa update!
Oh, ya, terima kasih untuk Hikage Natsuhimiko dan Silent-melody2413 yang telah mereview! Makaciiih, nyaaan~~ *ditampol*
Yak, sekian curcol author yang rada nggak waras ini (my friends : siapa yang bilang lo waras?)
Hope you'll like it and please review!
Rasiel Nighthoven : 19xx – 2000
Hibari masih tidak percaya dengan apa yang barusan ia baca. Namun, fakta tetaplah fakta dan tidak ada yang bisa mengubahnya. Mau seberapa kali pun pemuda itu membaca, kata-kata yang telah tercetak di atas kertas itu tidak akan berubah. Pemuda itu harus menahan diri untuk tidak membenturkan tangannya ke meja kerjanya.
Rasiel telah meninggal lebih dari sepuluh tahun yang lalu.
Iya, mungkin, Hibari sudah kehilangan akal sehatnya sekarang. Dia berteman dengan hantu? Roh yang masih mengelana di dunia ini?
Apakah ini mimpi?
Hibari berharap demikian. Mungkin, saat ini, ia dalam keadaan koma dan tidak bisa bangun sehingga terjebak di dalam dunia yang seolah-olah adalah asli. Mungkin, ia bermimpi tentang Rasiel yang pasti masih hidup jika ia terbangun nanti. Namun, sayang sekali, ini bukan. Realita memang kejam. Dunia terasa tidak adil.
Lagipula, jika ini mimpi, siapa yang orang luar biasa yang bisa membuat seorang Hibari Kyoya, yang notabene orang paling kuat di Namimori (atau seantero Jepang) jatuh bahkan mengalami koma? Jawabannya pastilah tidak ada. Jika pun ada, Hibari akan membuat orang tersebut koma terlebih dahulu sebelum orang itu dapat menyentuhnya.
"Kusakabe Tetsuya," kata Hibari dengan nada datar khasnya. Meskipun ia terlihat tenang, jantungnya berpacu dengan cepat seolah ia habis melakukan marathon. "Dimana kau mendapatkan berkas-berkas ini."
"Saya mengambilnya dari kantor sensus Namimori," jelas Kusakabe. "Ketika saya bertanya tentang keberadaan penduduk bernama Rasiel, pada awalnya, tidak ada yang mengetahuinya."
Hibari membaca ulang biodata tentang Rasiel secara intrinsik sebelum membalikkan kertas, memasuki lembar kedua berkas yang ia terima dari Kusakabe.
"Namun, ada seorang pria tua, berumur sekitar enam puluh tahun, yang bertanya pada saya," lanjut Kusakabe. "Ia bertanya siapa yang saya cari kemudian ia langsung pergi mencari berkas-berkas ini. Saya terkejut ketika ia bisa menemukannya dengan cepat."
…
"Saya mencari data penduduk Namimori yang bernama Rasiel, ini perintah dari Ketua." Kata Kusakabe ketika mendekati meja resepsionis kantor sensus penduduk Namimori. Resepsionis, yang ternyata wanita, nyaris memekik ketakutan begitu mendengar kata 'ketua' dari Kusakabe. Ya, ketua merujuk pada Hibari Kyoya yang notabene merupakan Ketua dari Disciplinary Committee.
"Ra-Rasiel?" Tanya wanita itu dengan terbata-bata. Ia segera mencari nama itu secepat kilat di komputer resepsionis. Setelah beberapa detik, wanita itu melaporkan hasilnya pada wakil ketua dengan regent hairstyle itu.
"Ma-maaf, tapi, di Namimori tidak ada seseorang yang bernama Rasiel." Kata wanita itu pada akhirnya. Dari tingkah lakunya, Kusakabe tahu bahwa wanita itu ketakutan setengah mati. Pemuda itu menghela nafas dan mungkin akan beranjak pergi dari situ jika saja seorang pria tua menghentikannya.
"Wah, wah, jarang sekali aku melihat anak muda datang ke kantor sensus penduduk, bahkan mungkin tidak pernah." kata pria tua itu seraya tertawa ringan. Kusakabe segera membungkuk dengan sopan kepada orang yang jauh lebih tua darinya itu.
Tatapan pria itu sangat ramah, dengan senyuman yang berwibawa terlukis di wajahnya yang telah memiliki banyak kerutan karena usia yang semakin bertambah. Meskipun usianya telah senja, pria itu masih dapat berdiri tegap. Rambutnya telah sepenuhnya berubah menjadi putih, kacamata tebal bertengger di batang hidungnya.
Aura ramah yang menguar dari pria itu dapat membuat orang-orang nyaman berada di dekatnya dan seolah bisa mengeluarkan segala yang mereka pikirkan kepada pria itu. Kusakabe merasakannya.
"Selamat siang," sapa Kusakabe dengan sopan. "Saya di sini mencari data penduduk Namimori bernama Rasiel, ini adalah perintah Ketua."
"Ah, jadi ini perintah Hibari-kun," kata pria tua itu tanpa takut menyebut nama Hibari dengan embel-embel '-kun'. "Ikutlah denganku,"
Tanpa keraguan, Kusakabe mengikuti pria itu ke dalam ruangan yang hanya bisa di masuki oleh petugas sensus saja. Rak-rak raksasa terbuat dari besi berjajar dengan rapi. Kusakabe terkesan dengan tinggi rak-rak itu yang seolah dapat menyentuh langit-langit ruangan tersebut. Setiap rak mempunyai penanda, seperti huruf alphabet atau tahun di laksanakannya sensus penduduk. Pria tua itu berjalan terus, terkadang berbelok ke kanan atau ke kiri dengan santai. Tidak heran karena pasti pria itu telah bekerja di kantor sensus penduduk selama bertahun-tahun.
"Nah, ini dia." Kata pria itu sembari menghentikan langkahnya di sebuah rak dengan alphabet 'S' dan tahun 19xx. Ia meneliti rak itu sebentar sebelum menarik keluar sebuah map yang telah usang dan berdebu. Pria itu membukanya dan membalik-balikkan beberapa halaman dan segera menarik keluar beberapa lembar kertas yang telah menguning karena termakan usia.
Kusakabe menerima lembaran berkas itu dan segera membacanya secara singkat, memastikan apakah itu adalah berkas yang di inginkan oleh Hibari. Ia mengangkat alis begitu melihat nama yang tertera;
Saroma Mirai.
"Mungkin, anda salah," kata Kusakabe. "Saya mencari Rasiel, bukan Saroma Mirai."
"Kau mencari Rasiel Nighthoven, itulah yang kau dapatkan, nama asli Rasiel; Saroma Mirai." Jelas pria tua itu. Ia menghela nafas, senyuman lembut terlukis di bibirnya. Ia menatap langit-langit yang berwarna kelabu dengan nostalgia.
"Dia adalah gadis yang baik dan sangat murah senyum, sayang sekali, hidupnya sangat sulit untuk di jalani." Kata pria tua itu.
"Apa maksud anda?" Tanya Kusakabe.
…
"Dia menjelaskan semuanya pada saya," kata Kusakabe. "Kehidupan yang di jalani Saroma Mirai secara rinci. Dia mengaku sangat mengenal Saroma Mirai."
Hibari hanya menatap Kusakabe dengan tajam. Meskipun kelihatannya tidak peduli, sang prefek mendengarkan penjelasan Kusakabe dengan serius. Sang wakil menegang ketika mendapatkan tatapan itu dan segera menutupi perubahan sikapnya itu dengan berdehem.
"Saya tahu, anda tidak akan percaya dengan penjelasan saya, tapi anda bisa menemukan semua penjelasan di dalam berkas-berkas itu." Kata Kusakabe.
Hibari tidak menjawab penjelasan Kusakabe. Pemuda itu segera membalikkan beberapa halaman dan menemukannya;
Riwayat hidup Rasiel.
Ia segera membaca bagian awal dengan teliti, memastikan bahwa ia mencerna setiap kata yang tertera di atas kertas yang telah menguning itu dengan baik. Ia tidak akan melepaskan satu kata pun dari sapuan matanya.
Saroma Mirai, tinggal di Namimori, Jepang. Putri dari Saroma Hiroto dan Saroma Haruna. Saroma Hiroto bekerja sebagai wirausahawan dan Saroma Haruna membuka toko bunga. Keduanya meninggal karena kecelakaan saat Saroma Mirai masih berumur 5 tahun. Sebuah truk berkecepatan tinggi menabrak mobil mereka. Mirai ikut bersama mereka, tapi dia selamat dan hanya mengalami luka yang tidak serius.
Masalah muncul mulai saat itu.
Hibari menaikkan alis ketika melihat kata-kata yang terpencil dan menjadi sebuah paragraf tersendiri. Ia segera membaca paragraf selanjutnya demi mendapatkan jawaban atas pertanyaan yang mengeliling benaknya.
Setelah kecelakaan itu, taman kanak-kanak tempat Saroma Mirai menempuh pendidikan pertama, terbakar. Setelah di usut, ternyata terjadi korsletan listrik yang menimbulkan bunga api dan membakar barang-barang yang mudah terbakar. Kepolisian menganggap hal itu hanyalah kecerobohan belaka.
Terjadi lagi kecelakaan beberapa hari kemudian, kecelakaan lalu lintas yang membuat nyawa seorang anak kecil terenggut. Anak itu tertabrak saat bersama dengan Saroma Mirai. Mulailah asumsi yang sangat kejam dan terlalu berat untuk di tanggung seorang anak berumur 7 tahun,
Anak itu pembawa sial.
Anak itu terkutuk.
Anak itu hanya membawa musibah.
Hibari mengeratkan genggamannya pada kertas yang ia pegang hingga punggung tangannya berubah warna menjadi putih. Nyaris saja kertas tak bersalah tersebut robek. Mungkin hal itu benar-benar akan terjadi jika saja Hibari berhasil menahan emosi yang mulai meluap dari dalam dirinya. Pemuda itu mendengus demi menenangkan diri sebelum kembali membaca.
Nyaris tidak ada orang yang mau dekat bahkan berada di sekeliling Saroma Mirai. Rumor dengan cepat menyebar bagaikan jamur di musim hujan. Orang-orang mulai bergosip yang tidak-tidak. Bahkan ada yang berpendapat bahwa kecelakaan yang menyebabkan orangtua Saroma Mirai juga disebabkan karena kesialan yang di bawa oleh Saroma Mirai.
Saroma Mirai di kucilkan karena rumor yang tidak bisa di buktikan kebenarannya.
Namun, masih ada orang yang sayang dan peduli padanya. Pamannya, Saroma Ryo, merupakan pengusaha yang memiliki usaha di Inggris. Dia membawa Saroma Mirai ikut dengannya ke Inggris dan mengubah namanya menjadi Rasiel Nighthoven. Saat itu, Saroma Mirai memasuki umur 11 tahun.
Saroma Ryo memasukkan Rasiel Nighthoven ke sekolah menengah swasta bernama Silver Moon. Rasiel Nighthoven menjadi murid yang pendiam dan sangat anti-sosial. Prestasi yang di capainya gemilang dan membuat guru-guru menyukainya.
Dia selalu sendirian, tapi seorang pemuda bernama Rick Daycore menjadi temannya. Pada awalnya pemuda itu melihat kesamaan antara dirinya dengan Rasiel Nighthoven. Dia pikir akan baik jika mereka bercerita satu sama lain.
Entah kenapa, Hibari merasa akan merobek bagian ini. Perasaan aneh menyelimuti hatinya ketika selesai mencerna bagian ini. Kusakabe hanya berdehem, berusaha menahan tawa ketika melihat Hibari di serang rasa cemburu.
Cemburu, ya, cemburu.
Kusakabe diam ketika Hibari memberikan hadiah berupa tatapan tajam.
Rasiel tetap menutup diri dari Rick. Namun, kegigihan pemuda itu dengan terus mendekati Rasiel membuahkan hasil, Rasiel mulai membuka hatinya untuk Rick. Mereka menjadi sahabat dan akrab dengan satu sama lain bagaikan lem. Kebersamaan mereka tidak tergoyahkan hingga Rick meninggal karena tertabrak truk.
Seseorang telah di renggut kembali dari Rasiel. Dia menderita trauma berat. Pamannya berusaha meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja. Namun, semua usaha pamannya sia-sia ketika Rasiel di diagnosa oleh dokter menderita sebuah penyakit mematikan.
"Dia menderita Leukimia," kata Kusakabe ketika melihat Hibari menggigit bibirnya. "Dokter mengatakan bahwa dia hanya punya waktu 3 bulan untuk hidup."
Hibari menutupi kedua matanya dengan satu tangannya.
"Selama di rumah sakit, pamannya selalu memaninya. Rasiel menghabiskan waktunya di rumah sakit dengan membuat mahkota bunga." Jelas Kusakabe. "Bunga carnation, mawar, hyacinth, daisy, nyaris semua bunga yang di bawakan oleh pamannya dia jadikan mahkota."
Hibari melirik mahkota bunga carnation yang ada di kotak kaca di Ruang Penyambutan.
"Rasiel meninggal saat berumur 14 tahun. Pamannya mengalami kehilangan yang luar biasa. Rasiel adalah anak yang tabah, peduli, baik, dan penurut, itulah yang di katakan oleh pamannya." Lanjut Kusakabe. "Dia sangat luar biasa dan sangat kesepian, mungkin itulah yang membuatnya berteman dengan Anda."
Kata-kata terakhir Rasiel mengiang di kepala Hibari. Rasiel mengatakan bahwa ia adalah teman Hibari. Ternyata, kesepian telah mendominasi hidupnya lebih lama dan,
Hibari tidak mengetahuinya sama sekali.
"…Kau boleh keluar." Perintah Hibari. Kusakabe menunduk sebelum berjalan keluar ruangan. Hibari langsung menahan kepalanya dengan tangan kanannya setelah Kusakabe keluar ruangan. Iya, ia tidak mau menunjukkan betapa frustasinya ia di depan orang lain.
Ia tidak mau di anggap lemah.
Ia tidak mau memiliki kelemahan.
"Mirai.."
Panggil Hibari dengan suara yang sangat kecil.
Hidupnya menjadi terasa lebih hampa dan kelabu.
Okay! Ini dia untuk chapter ketiga! Akan ada extended ending untuk satu ini! Thank you untuk para readers yang telah membaca cerita saya!
Please review!
Ciao, ciao.
