Yesung menutup pintu gerbang dengan buru-buru lantas kembali berlari masuk ke dalam rumahnya. Rambut dan seragamnya terlihat basah kuyup. Hujan tengah turun dengan deras ketika tadi ia sampai di halte yang berada tak jauh dari rumahnya. Karena hari sudah hampir gelap, akhirnya ia memutuskan untuk berlari ke rumahnya. Lagipula sepertinya hujan tidak akan berhenti dalam waktu dekat.
Tiin!
Yesung yang baru saja akan membuka pintu sontak menoleh, menemukan sebuah mobil berwarna hitam berhenti di balik pintu gerbang. Mengenali siapa yang berada di dalam mobil itu, ia segera berlari untuk membuka pintu gerbang, membiarkan tetesan gerimis kembali membasahi tubuhnya.
Mobil itu berjalan melewatinya. Ia kembali menutup pintu gerbang dan segera masuk ke dalam rumah.
"Kenapa tidak memarkirkan mobilnya di garasi, huh? Hujan-hujanan bisa membuatmu sakit, Sungmin-ah,"
Langkah Yesung terhenti di tengah ruang tamu. Caramel-nya menemukan seorang wanita yang tengah mengusap rambut namja di depannya dengan handuk kecil. Ia dapat melihat bagian bahu baju namja berambut cokelat itu memang sedikit basah, dan ia bisa menebak itu pasti karena namja tersebut berlari dari halaman sampai ke beranda rumah tadi.
"Aku hanya pulang untuk ganti baju, umma. Aku ada acara bersama teman-temanku malam ini,"
Yesung menatap tubuhnya yang basah kuyup. Bibirnya bergerak membentuk sebuah senyuman tipis. Ia segera menggeleng pelan sebelum kemudian kembali melangkah menuju kamarnya yang berada di lantai dua rumah besar itu.
.
Pairing : Yewon
Genre : Hurt/Romance
Rate : T
Disclaimer : Inspired by B2st's MV "Beautiful & I Like You The Best"
.
Pagi itu Seoul tak secerah hari-hari sebelumnya. Hujan baru reda dini hari tadi, menyisakan tetesan air hampir di setiap permukaan benda yang berada di bawah langit ibu kota Korea Selatan tersebut.
Namun bagi seorang Kim Jongwoon, hal itu sama sekali tidak menjadi masalah. Ketika para siswa lain merasa malas untuk keluar dari kamar mereka di saat cuaca seperti ini, namja bersurai raven itu justru dengan semangat melangkahkan kakinya memasuki halaman sekolah.
Jam besar yang diletakkan di hall sekolah tengah menunjukkan pukul 06.45 ketika ia tiba, tepat lima belas menit sebelum kelas pertama dimulai. Tetapi orang-orang yang terlihat mungkin belum ada setengah dari keseluruhan siswa di sekolah itu.
Yesung tersenyum kecil. Mungkin jika tidak memikirkan ia akan bertemu Sulli di sekolah, ia pasti juga akan lebih memilih tidur di dalam kamarnya.
Langkahnya terhenti di depan pintu kelas. Alisnya sedikit terangkat ketika melihat hampir semua siswa di kelasnya sudah berada di sana, sangat kontras dengan keadaan di luar.
Bibirnya kembali membentuk sebuah senyuman. Ia lantas melangkahkan kakinya masuk ke dalam kelas.
"Pagi!" sapanya dengan suara yang cukup keras, bermaksud agar semua siswa yang ada di kelas itu bisa mendengarnya. Namun tidak ada satu pun dari mereka yang melirik kearahnya. Bahkan mereka bersikap seolah tidak menyadari kedatangannya.
Yesung mengendikkan bahunya. Mungkin mereka memang sedang sibuk.
Ia mendudukkan dirinya di kursi paling depan, tempat duduknya bersama Sulli. Namun sepertinya Sullibelum datang. Selain karena ia memang tidak melihat Sulli di kelas, laci meja yeoja itu juga masih kosong.
Yesung membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna merah berisi kue yang ia buat tadi pagi. Sebenarnya ia ingin memberikan kue buatannya pada Sulli saat pertemuan pertama mereka, namun karena terlalu bersemangat, kemarin ia justru lupa membawa kue yang sudah ia persiapkan.
Waktu bergerak. Jarum jam merangkak melewati angka tujuh. Namun Choi Sulli belum datang. Sang Guru yang biasanya masuk tepat waktu pun belum juga terlihat. Akhirnya Yesung memutuskan untuk bertanya pada yeoja berambut sebahu yang duduk di sampingnya.
"Maaf—" perkataan Yesung terputus ketika yeoja yang tadinya tengah membaca buku itu tiba-tiba berbalik membelakanginya. Kedua alis Yesung bertaut.
"A-aku hanya ingin bertanya apa Sulli tidak datang hari ini,"
Melihat tidak ada tanda-tanda yeoja itu akan memberinya jawaban, Yesung memutuskan untuk bertanya pada namja yang duduk di belakangnya. Namun belum sempat Yesung membuka mulutnya, namja itu sudah lebih dulu berdiri dari tempat duduknya kemudian menghampiri seorang yeoja yang duduk di kursi belakang.
"Mereka kenapa?" Yesung bergumam pelan. Ia baru saja berniat untuk bertanya pada teman yang lain ketika matanya menangkap sosok Sang Guru masuk ke dalam kelas.
Yesung menghela napas. Apa Sulli benar-benar tidak akan datang?
"Maaf Ibu sedikit terlambat. Ada tugas yang harus Ibu selesaikan hari ini," Guru dengan name tag bertuliskan Mrs. Lee itu berkata seraya tersenyum, "Nah, seperti yang sudah Ibu katakan minggu lalu, hari ini Ibu akan memberikan tugas penting untuk kalian. Kalian harus membuat sebuah lagu dan mengumpulkannya pada Ibu. Tiga hasil terbaik akan ditampilkan saat acara ulang tahun sekolah nanti. Tugas ini harus selesai akhir bulan depan. Kalian bisa mengerjakannya secara berkelompok. Tetapi satu kelompok tidak boleh lebih dari tiga orang. Mengerti?"
Donghae mengangkat tangannya, "Kami boleh memilih kelompok sendiri kan, Saem?"
Mrs. Lee tersenyum, "Kalian boleh memilih sendiri dengan siapa kalian akan mengerjakannya. Tetapi ingat, kalian harus melakukan yang terbaik!"
"Arraseo, Seongsaengnim,"
"Baiklah. Sekali lagi Ibu meminta maaf karena hari ini tidak bisa mengajar kalian. Sekarang kalian bisa memilih teman untuk mengerjakan tugas ini dan mulai mendiskusikannya. Kalian boleh melakukannya di luar kelas. Selamat pagi.." Mrs. Lee kembali berkata sebelum kemudian keluar dari kelas itu.
Yesung menatap sekelilingnya. Dalam waktu kurang dari dua menit teman-temannya tampak sudah menemukan pasangan masing-masing.
"Hei, boleh aku bergabung bersama kalian?" Yesung bertanya pada dua orang namja di belakangnya.
"Maaf, kami akan mengerjakannya berdua. Terlalu banyak orang bisa mengurangi konsentrasi," salah satu dari mereka menjawab.
Yesung tersenyum kecil, "Baiklah, tidak apa-apa,"
Ia beralih pada namja dan yeoja yang duduk di sampingnya, "Apa aku bisa bergabung bersama kalian?"
"Kami sudah bertiga dengan Jihyun," si namja menjawab seraya menunjuk yeoja lain yang duduk di belakangnya.
"Ah, arraseo," Yesung kembali tersenyum. Meskipun sedikit ragu, ia berbalik pada yeoja yang tadi mengacuhkannya.
"Apa kau sendirian? Mau mengerjakannya bersamaku?" Yesung bertanya dengan hati-hati.
Yeoja itu sedikit terkejut mendengar pertanyaannya, "A-aku akan mengerjakannya bersama mereka bedua," jawabnya sambil melirik sekilas dua orang yeoja lain yang duduk di sampingnya.
Yesung mengangguk seraya tersenyum, "Ah, baiklah,"
Ia beralih menatap seisi kelasnya, berharap bisa menemukan teman yang mau mengerjakan tugas itu bersamanya. Namun sepertinya semua orang sudah memiliki pasangan masing-masing.
Yesung menghela napas seraya mengangkat bahunya. Mungkin ia memang harus mengerjakannya sendiri.
Ia baru saja akan berbalik ke depan ketika pandangannya bertemu dengan sepasang obsidian yang tengah menatap kearahnya. Ia juga dapat melihat seringai tipis menghiasi bibir pemilik mata obsidian tersebut. Namun tidak ada sepatah kata pun yang keluar di bibir namja di belakangnya itu.
"Ada apa dengannya?" Yesung bergumam pelan seraya membalikkan badannya.
.
.
~ 예 원 ~
.
.
Yesung berdiri di tengah kantin sekolahnya seraya memegang sebuah piring berisi makanan. Caramel-nya bergerak mencari kursi kosong yang bisa ia tempati untuk memakan makan siangnya. Bibirnya bergerak membentuk sebuah senyuman ketika matanya menemukan beberapa orang teman sekelasnya duduk di sudut kantin dan ada satu kursi kosong di samping mereka.
Yesung segera melangkah menghampiri mereka.
"Hei, boleh aku duduk di sini?" tanyanya seraya tersenyum.
Keempat namja di depannya itu segera menghentikan aktivitas mereka dan menatap kearahnya.
"Tidak ada yang menempati kursi ini, kan? Boleh aku duduk di sini?" Yesung kembali bertanya.
"I-ini—"
"Aku membutuhkan kursi ini untuk menaruh buku. Kau cari saja tempat yang lain," si namja berkacamata menjawab seraya mengambil buku yang tadinya terletak di atas meja kemudian menaruhnya di kursi kosong itu.
"Ah, baiklah. Terima kasih," Yesung kembali tersenyum seraya sedikit membungkukkan badannya.
Ia menghela napas pelan. Matanya kembali bergerak menatap sekelilingnya, namun sayang tidak ada meja yang benar-benar kosong di sana. Meskipun ada beberapa kursi yang terlihat kosong, tetapi ia tidak mungkin begitu saja meminta bergabung dengan orang yang belum ia kenal. Bahkan teman sekelasnya pun menolak untuk makan siang bersamanya, apalagi orang lain.
"Sepertinya aku harus makan di luar," Yesung bergumam pelan. Ia baru saja beranjak melangkahkan kakinya ketika tiba-tiba terdengar suara seseorang dari arah belakang.
"S-Sunbae.."
Yesung membalikkan badannya, menemukan seorang namja bertubuh mungil duduk sendirian di depannya.
"Kau memanggilku?" Yesung bertanya seraya menunjuk dirinya.
Namja mungil berambut hitam itu mengangguk kecil, "S-Sunbae bisa duduk di sini bersama—"
"Hah, sayang sekali sudah tidak ada meja kosong,"
Namja itu belum sempat menyelesaikan ucapannya ketika tiba-tiba sebuah suara menginterupsi. Melihat raut wajah namja mungil itu yang mendadak menegang membuat Yesung sontak menolehkan kepalanya.
Tepat di belakangnya terlihat Choi Siwon berdiri bersama Donghae, Kyuhyun, dan Kibum. Keempatnya membawa piring berisi makanan di tangan mereka.
"Su-sunbae bi-bisa duduk di sini. A-aku akan pergi," namja bertubuh mungil yang memanggil Yesung tadi segera pergi meninggalkan tempat itu setelah membungkukkan badannya beberapa kali pada Siwon dan teman-temannya.
"Kenapa hari ini kantin penuh sekali?" Donghae berujar seraya mendudukkan dirinya di kursi yang sebelumnya di tempati namja tadi. Kyuhyun dan Kibum segera menyusul duduk di sampingnya, sementara Siwon mengambil kursi di hadapan mereka.
Yesung masih berdiri di sana. Helaan napas pelan kembali terdengar dari bibir mungilnya. Sepertinya ia memang harus makan di luar.
"Yah, apa yang kau lakukan di situ?" seru Kyuhyun membuat Yesung sedikit tersentak.
"Oh?"
"Kenapa berdiri di situ? Cepat duduk. Makananmu bisa dingin kalau tidak segera dimakan," sahut Donghae.
"Aku boleh duduk di sini?" tanya Yesung dengan mata sedikit melebar.
"Kenapa tidak? Ada enam kursi di sini. Dan seperti yang kau lihat, kami hanya berempat," kali ini Siwon yang menjawab.
Yesung tersenyum senang. Ia menganggukkan kepalanya sebelum kemudian mengambil duduk di sebelah Siwon.
"Selama makan!" Yesung kembali berkata masih dengan tersenyum.
Kyuhyun dan Donghae mengangkat alisnya hampir bersamaan. Kim Kibum yang duduk di samping mereka hanya terlihat tersenyum kecil.
"Kalian tidak makan?" Yesung bertanya ketika menyadari keempat namja itu hanya menatap kearahnya.
"Aku sudah merasa kenyang hanya dengan melihatmu makan," jawab Siwon seraya sedikit memiringkan wajahnya kearah Yesung.
Yesung menatap Siwon tidak mengerti, "Oh?"
"Tidak ada," Siwon tersenyum, "Bagaimana hari ini?" tanyanya tanpa mengubah posisinya.
Raut wajah Yesung langsung berubah sayu, "Tidak terlalu baik. Entahlah, mungkin ini hanya perasaanku saja. Aku merasa teman-teman di kelas seperti menjauhiku. Mereka bahkan tidak mau berbicara denganku. Kau lihat di kelas tadi, kan? Tidak ada yang mau mengerjakan tugas denganku. Padahal sepertinya kemarin semua sangat ramah,"
"Hm, sepertinya mereka benar-benar melakukan perintahku dengan baik,"
Yesung kembali menolehkan wajahnya menatap Siwon, namun kali ini dengan mata sedikit melebar, "Kau yang menyuruh mereka semua menjauhiku?"
"Kau sama sekali tidak menduganya?" Siwon menatap Yesung dengan pandangan takjub, "Aku kira kau sudah tahu kalau aku yang melakukannya,"
"Kenapa kau melakukannya?"
"Apa aku perlu menjawab pertanyaan ini?"
Yesung sedikit mengerucutkan bibirnya, "Bukankah kemarin kau sudah setuju untuk bersaing dengan cara pria? Kau tidak boleh melakukan yang seperti ini!"
"Sekedar memberitahumu, arti cara pria di kamus Choi Siwon tidak sama dengan milikmu," sahut Donghae sebelum kemudian kembali fokus menyantap makan siangnya.
Yesung menatap Siwon tidak terima, "Ini curang! Bagaimana bisa kau menyuruh teman-teman untuk menjauhiku?"
Siwon menyeringai kecil, "Aku hanya ingin mengingatkanmu di posisi mana kau berada. Siapa kau dan siapa aku. Kau lihat kan, aku bisa membuat orang-orang menjauhimu dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam sejak kesepakatan kita dimulai. Dan aku bisa memastikan ini hanyalah awalnya. Aku tidak bercanda saat aku mengatakan aku bisa membuatmu merasa seperti hidup di neraka,"
"Kau—"
"Tetapi kalau kau mau memutuskan untuk menyerah sekarang, mungkin aku bisa kembali mempertimbangkannya,"
"Aku tidak akan pernah mengalah pada orang sepertimu! Choi Sulli terlalu baik untukmu."
Siwon mengangkat alisnya, masih dengan senyum meremehkan yang terukir di bibirnya, "Jadi menurutmu Choi Sulli berhak mendapatkan yang lebih baik dariku? Seperti siapa? Sepertimu? Ck, aku benar-benar ingin tertawa,"
"Meskipun tidak bersamaku, tetapi aku tidak akan membiarkan Choi Sulli bersama orang sepertimu!" Yesung menatap Siwon tajam.
"Yah, Kim Jongwoon, kau tidak sungguh-sungguh berpikir bahwa kau lebih baik dariku, kan? Bahkan dilihat dari sisi mana pun, kau tidak akan menemukan sesuatu di dalam dirimu yang terlihat lebih baik dariku,"
"Setidaknya aku tidak melakukan cara curang untuk mendapatkan orang yang aku sukai!"
Siwon tertawa sinis, "Jongwoon-ssi, ijinkan aku memberitahumu, orang lemah bisa mengalahkan orang jahat hanya karena kebaikan hatinya itu hanya ada dalam dongeng. Di dunia nyata, di dunia yang kita tempati ini, siapa yang memiliki kekuatan maka dia yang akan menang. Dan sepertinya aku tidak perlu memberitahumu siapa yang lebih kuat di antara kita, kan?"
Tiba-tiba Siwon merangkul bahu Yesung dan menariknya mendekat, membuat namja berambut raven itu menatapnya terkejut, "Apa kau tidak pernah mendengarnya? Everything is right in love and war," ujarnya seraya meraih segelas jus di atas meja, kemudian menumpahkan isinya di pakaian seragam Yesung.
"Yah!" Yesung berseru keras.
"Aku sudah kenyang. Jja, kita pergi!" ujar Kyuhyun seraya bangkit dari kursinya.
"Aku juga sudah kenyang. Yesung-ah, tolong nanti kembalikan piring kami ke sana, okay?" Donghae mengedipkan matanya pada Yesung sebelum kemudian berlari menyusul Kyuhyun dan Kibum yang sudah lebih dulu berjalan meninggalkan mereka.
"Permainan ini berlanjut atau tidak, semua terserah padamu," sudut bibir Siwon kembali bergerak. Ia menepuk bahu Yesung pelan lantas meninggalkan tempat itu.
Yesung menghela napas dalam. Ia hanya ingin belajar di sekolah dengan tenang seperti anak yang lainnya. Ia hanya ingin memiliki teman seperti orang lain. Ia hanya ingin berusaha mendapatkan yeoja yang ia sukai seperti apa yang biasa dilakukan orang lain. Tetapi kenapa Choi Siwon harus membuatnya menjadi serumit ini?
Ia menatap sekelilingnya, menemukan puluhan pasang mata tengah memandang kearahnya.
"Tsk, benar-benar menyebalkan," Yesung menggerutu pelan. Ia beranjak dari duduknya, membereskan lima buah piring di atas meja itu, lalu pergi ke toilet yang berada di dekat kantin.
"Choi Siwon menyebalkan! Lihat saja, aku tidak akan kalah darimu!" ia berseru seraya menatap tajam cermin besar di hadapannya. Namun tatapannya langsung berubah lesu ketika matanya beralih memandang jasnya yang terkena jus tadi.
"Bagaimana aku bisa mengikuti pelajaran kalau seragamku kotor seperti ini?"
"S-sunbae.."
Yesung segera menoleh ketika mendengar sebuah suara yang tak begitu asing dari arah pintu toilet, "Eh, bukankah kau yang memanggilku tadi?"
Namja bertubuh mungil itu mengangguk seraya berjalan mendekati Yesung, "Namaku Kim Ryeowook. Aku siswa tahun pertama di sini,"
"Oh," Yesung tersenyum, "Namaku Kim Jongwoon. Aku siswa baru tahun ketiga,"
Namja yang mengaku bernama Ryeowook itu mengangguk, "Apa seragam sunbae basah sampai ke dalam?"
"Molla. Aku belum memeriksanya. Tetapi sepertinya tidak," jawab Yesung seraya melepas jas bagian luar seragamnya. Dan ternyata jus yang ditumpahkan Siwon tadi memang tidak mengenai kemeja putih yang ia pakai dibalik jasnya.
"Sunbae bisa masuk kelas tanpa memakai jas. Katakan saja pada songsaengnim kalau tadi Sunbae tidak sengaja menumpahkan jusnya,"
Yesung langsung memasang wajah kesal, "Aku akan mengatakan kalau Choi Siwon yang melakukannya!"
"Se-sebaiknya jangan, Sunbae!" tanpa sadar Ryeowook sedikit meninggikan suaranya.
Yesung menangkat alisnya, "Kenapa tidak boleh?"
"Apa Sunbae tidak tahu kalau sekolah ini berada di bawah naungan perusahaan keluarga Choi Siwon? Melaporkan masalah ini pada songsaengnim tidak akan ada gunanya. Sunbae justru akan mendapat masalah baru dengan Choi Siwon,"
"Benarkah? Pantas saja dia sombong sekali," Yesung mengerucutkan bibirnya.
"Err, maaf kalau aku sedikit lancang. Tetapi bolehkah aku tahu kenapa Choi Siwon mengerjai Sunbae? Dia bahkan mengatakan pada anak-anak di sekolah ini untuk tidak dekat-dekat dengan Sunbae,"
Yesung mendesah kecil, "Siwon mengerjaiku karena kami sama-sama menyukai Choi Sulli,"
"Mwo?" nada suara Ryeowook kembali meninggi.
"Aku mengatakan pada Siwon kalau aku menyukai Sulli," Yesung kembali berkata seraya sedikit mengangkat alisnya, sedikit heran dengan reaksi Ryeowook yang menurutnya berlebihan.
"Haiz! Pantas saja Choi Siwon sampai seperti itu,"
"Memangnya kenapa? Mereka kan tidak berpacaran. Siwon tidak memiliki hak untuk melarang orang yang menyukai Sulli,"
"Sunbae lebih baik menyerah sebelum terlambat. Choi Siwon bisa melakukan apapun meski dia tidak memiliki hak untuk melakukannya,"
Yesung menggeleng cepat, "Aku tidak akan menyerah apapun yang terjadi. Aku akan menunjukkan padanya bahwa orang yang curang tidak akan bisa menang!"
"Ta-tapi—"
"Aku akan memberitahumu sesuatu, tetapi kau tidak boleh mengatakannya pada orang lain, okay?"
Ryeowook mengangkat alisnya.
"Sebenarnya tujuan utamaku datang ke sekolah ini adalah untuk bisa dekat dengan Sulli. Jadi aku tidak mungkin menyerah begitu saja,"
"Jadi Sunbae masuk sekolah ini hanya demi Choi Sulli?"
Yesung tersenyum, "Kau bisa menyebutnya begitu,"
"Apa Sunbae sudah tahu kalau Choi Sulli jarang datang ke sekolah?"
Senyuman di wajah Yesung langsung menghilang, "Mwo?"
Ryeowook menatap sekelilingnya, lebih dulu memastikan bahwa tidak ada orang lain di sana selain mereka sebelum kembali berbicara, "Sunbae tahu kan kalau Choi Sulli adalah seorang artis yang sangat terkenal di Korea?"
Yesung mengangguk, "Aku bahkan tahu dia terkenal sampai di luar Korea,"
"Bisa dikatakan Choi Sulli masuk ke sekolah ini hanya sebagai formalitas dan juga sekaligus untuk memberikan background pendidikan yang bagus bagi karirnya. Jadwalnya yang padat membuat Choi Sulli tidak bisa mengikuti sekolah seperti kita dan anak-anak yang lain. Dia hanya datang ke sekolah saat memiliki waktu luang di sela-sela jadwalnya. Keluarga Sulli juga memiliki peran yang cukup besar di sekolah ini, jadi membuat peraturan khusus untuk Sulli bukanlah hal yang sulit untuk dilakukan,"
"Jadi maksudmu tidak mudah bertemu dengan Choi Sulli meskipun kita berada di sekolah yang sama?"
Ryeowook mengangguk.
Yesung kembali mendesah pelan, "Pantas saja hari ini dia tidak masuk,"
"Maaf kalau aku terlalu ikut campur. Aku hanya khawatir Choi Siwon akan melakukan sesuatu yang lebih buruk dari ini pada Sunbae. Mereka berdua sudah saling mengenal sejak lama karena orang tua mereka berteman baik. Aku dengar Choi Siwon juga sudah mengejar Sulli sejak dulu, jadi pasti tidak ada hal yang tidak bisa dia lakukan untuk mendapatkan apa yang dia inginkan,"
Yesung kembali tersenyum, "Terima kasih. Tetapi kau tidak perlu mengkhawatirkan aku. Aku pasti bisa menjaga diriku dengan baik," ujarnya seraya menepuk bahu Ryeowook.
Ryeowook menghela napas, tahu bahwa apa yang ia katakan barusan sama sekali belum menggoyahkan niat Yesung untuk bersaing dengan Choi Siwon. Namun toh ia tetap mengangguk kecil. Ia yakin sebentar lagi Yesung pasti akan menyerah.
"Aku harus kembali ke kelas. Sekali lagi terima kasih, Ryeowook-ssi!" Yesung menepuk bahu Ryeowook sekali lagi sebelum kemudian berlari keluar dari toilet.
.
.
.
Wajah lesu Yesung langsung berubah cerah ketika ia sampai di dalam kelas dan melihat seorang yeoja duduk di mejanya. Meskipun posisi yeoja itu sedang membelakanginya, tetapi ia yakin ia tidak mungkin salah mengenali. Yeoja itu adalah Choi Sulli.
"Sulli-ssi!" Yesung sedikit berseru tanpa bisa menyembunyikan nada senang dalam suaranya. Ia mempercepat langkahnya masuk ke dalam kelas.
"Yesung-ah, kau darimana saja? Kelas sudah masuk sejak 10 menit yang lalu, kau tahu?" Sulli bertanya ketika Yesung sudah duduk di sampingnya.
"A-aku ada urusan sebentar tadi. Kapan kau datang? Aku kira kau tidak akan masuk hari ini,"
"Kau beruntung songsaengnim belum masuk," ujar Sulli seraya mencubit pipi Yesung, membuat wajah namja di depannya itu sontak memerah.
"Aku baru saja datang. Pemotretanku sudah selesai. Jadwal selanjutnya nanti sore, jadi aku bisa mengikuti kelas siang ini," lanjutnya menjawab pertanyaan Yesung.
"Ah, syukurlah kalau begitu. Duduk sendirian sangat membosankan,"
Sulli kembali tersenyum, "Aku akan ada di sini sampai kelas berakhir, jadi kau tidak perlu khawatir,"
Yesung balas tersenyum seraya mengangguk.
"Eh, kenapa kau melepas jasmu?"
"Tadi jasku terkena tumpahan jus. Untung saja tidak sampai bagian dalamnya," ujar Yesung seraya menunjukkan jasnya yang kotor.
"Kenapa bisa sampai terkena tumpahan jus?"
"A-ah, i-itu.. tadi aku terjatuh dan—"
"Apa Choi Siwon yang melakukannya?"
"A-apa?"
Sulli menghela napas, "Tsk, anak itu. Berikan jasmu!"
Yesung menatap Sulli dengan pandangan bingung, "U-untuk apa?"
"Tsk, berikan saja!" ujar Sulli seraya mengambil jas itu dari tangan Yesung. Ia segera bangkit dari kursinya dan berjalan menghampiri meja Siwon.
"Whoaa Choi Sulli datang ke sini!" seru Donghae ketika melihat Sulli menghampiri mereka.
"Bukankah tadi kau mengatakan padaku untuk jauh-jauh darimu?" Siwon menatap Sulli dengan pandangan kesal.
Srek.
Sulli melemparkan jas Yesung pada Siwon, membuat seisi penghuni kelas langsung menatap kearah mereka dengan pandangan terkejut, tak terkecuali Yesung.
"Kau yang mengotori seragam Yesung, kan?" Sulli menatap Siwon tajam.
Siwon memutar bola matanya, "Jadi dia mengadu padamu, huh?"
"Yah, Choi Siwon, bisakah kau berhenti bersikap kekanakan?!"
"Yah, berhenti membelanya! Kau tidak tahu apa yang dia katakan padaku!"
"Aku tidak ingin tahu. Aku hanya ingin kau mengembalikan jas itu pada Yesung dalam keadaan bersih."
"Kenapa aku harus melakukannya?"
"Karena kalau kau tidak mau melakukannya, aku tidak juga tidak akan mau berbicara lagi denganmu." Sulli berkata dengan nada final sebelum kemudian berbalik dan kembali ke mejanya.
"Su-Sulli-ssi, k-kau tidak perlu melakukan itu. Aku bisa mencucinya sendiri," Yesung berkata pelan seraya melirik Siwon yang tengah melemparkan tatapan membunuh kearahnya.
"Sekali-sekali dia harus belajar bertanggung jawab atas apa yang dia lakukan," jawab Sulli sambil mengeluarkan komik dari dalam tasnya, kemudian membacanya tanpa mempedulikan suasana kelas yang masih tegang akibat apa yang baru saja ia lakukan.
.
.
~ 예 원 ~
.
.
"Apa benar ini tidak akan merepotkan?"
Sulli melirik Yesung yang duduk di sampingnya. Saat ini mereka berdua tengah berada di dalam mobil Sulli meninggalkan area sekolah yang sudah berakhir sekitar 30 menit yang lalu.
"Bukankah tadi aku sudah mengatakan lokasi pemotertanku yang selanjutnya ada di sekitar tempat tinggalmu? Tentu saja tidak merepotkan," Sulli menjawab seraya tersenyum.
"A-aku tidak ingin kau terlambat hanya karena mengantarku. Aku bisa pulang naik bus,"
Choi Sulli mengerucutkan bibirnya, "Apa kau tidak suka pulang bersamaku?"
"Aniya!" Yesung menggeleng cepat, "Aku hanya tidak ingin merepotkan. Tentu saja aku sangat senang bisa pulang bersamamu."
Sulli kembali tertawa kecil. Tangan kirinya terulur mencubit pipi Yesung dengan gemas.
"Aku sama sekali tidak merasa direpotkan. Ah iya, bagaimana sekolah hari ini?"
"Me-menyenangkan," Yesung menjawab dengan suara pelan seraya menyentuh pipinya yang lagi-lagi memanas.
"Bohong. Aku yakin Choi Siwon pasti sudah membuat harimu menyebalkan,"
"Aku tidak berbohong. Ini benar-benar hari yang menyenangkan," karena sekarang Choi Sulli mengantarku pulang. Apa yang dilakukan Choi Siwon tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan ini.
Sungguh ia berharap ia bisa mengucapkan kalimat itu sekarang. Namun mengingat mereka baru saja kembali bertemu kemarin setelah pertemuan terakhir satu tahun yang lalu, sepertinya lebih baik untuk saat ini ia tidak perlu terlalu menunjukkan perasaannya. Semua membutuhkan waktu, kan?
Sulli kembali terdengar berbicara, namun ia tidak mendengarnya dengan jelas karena caramel-nya melihat seorang wanita berdiri di pinggir jalan. Di samping wanita itu ada sebuah mobil berwarna merah. Dari raut wajahnya, Yesung dapat menyimpulkan bahwa wanita tersebut tengah berada dalam masalah.
"Berhenti, Sulli-ssi!" Yesung berseru tiba-tiba, membuat Choi Sulli sontak menginjak rem mobilnya. Beruntung jalanan yang mereka lewati saat itu tengah sepi.
"Yah, kenapa tiba-tiba membuatku terkejut? Apa terjadi sesuatu?" Sulli menatap Yesung dengan pandangan bingung.
"A-anni. Tidak ada apa-apa. Aku baru ingat aku memiliki urusan di sekitar sini. Aku akan turun di sini saja,"
Sulli mengangkat alisnya, "Di tempat sepi seperti ini?"
Yesung mengangguk.
"Baiklah, aku akan mengantarmu,"
"Anni! Pemotretanmu sebentar lagi di mulai, kan? Aku bisa pulang naik bus," jawab Yesung seraya tersenyum.
Sulli menatap sekelilingnya dengan pandangan tak yakin.
"Aku akan baik-baik saja. Biar bagaimana pun aku tetap seorang namja, kau lupa?" Yesung kembali berucap seraya tersenyum meyakinkan.
Sulli menghela napas, "Baiklah. Kalau ada apa-apa segera hubungi aku, arra? Berikan nomor ponselmu,"
Yesung menggaruk belakang kepalanya, "A-aku belum membeli ponsel," jawabnya seraya tertawa kecil.
Sulli menatap Yesung dengan pandangan tidak percaya.
"Baiklah, aku harus segera pergi. Terima kasih sudah mengantarku!" Yesung berkata masih dengan tersenyum seraya keluar dari mobil Sulli.
"Hati-hati!"
Yesung melambaikan tangannya pada Sulli. Ia segera berlari menghampiri wanita yang ia lihat di pinggir jalan tadi.
"Ahjumma, ada yang bisa aku bantu?" Yesung bertanya ketika langkahnya berhenti di samping wanita yang terlihat berusia empat puluhan tersebut.
Wanita itu awalnya tampak terkejut dengan kedatangan Yesung. Namun kemudian ia segera menjawab, "Apa kau tahu tempat perbaikan mobil di sekitar sini? Mobil ini tiba-tiba berhenti. Ahjumma tidak tahu apa masalahnya. Ponsel ahjumma juga tertinggal di rumah,"
"Sayang sekali aku juga tidak mengerti masalah mobil," Yesung menghela napas, "Tetapi aku tahu bengkel yang paling dekat dari sini!" lanjutnya seraya tersenyum.
Wanita itu ikut tersenyum, "Apa kau bisa mengantar ahjumma ke sana?"
Yesung menggeleng, "Bengkel itu agak jauh dari sini, nanti ahjumma bisa kelelahan. Biar aku saja yang memanggil mereka. Ahjumma tunggu saja di sini, oh?"
"Tapi—'
"Aku tidak akan lama," lanjut Yesung seraya berlari meninggalkan wanita itu.
.
.
.
"Kau yakin tidak apa-apa?" wanita yang baru saja memperkenalkan diri dengan nama Hwang Miyoung itu menatap Yesung dengan raut wajah khawatir.
Saat ini mereka berdua tengah duduk di dalam sebuah restoran kecil yang berada tepat di seberang bengkel tempat dimana mobil Mrs. Hwang sedang diperbaiki. Tadi setelah pergi meninggalkan Mrs. Hwang selama kira-kira 25 menit, Yesung kembali bersama seorang pria dengan menggunakan mobil derek. Setelah membawa mobil Mrs. Hwang ke bengkel, Yesung segera berpamitan untuk pulang. Namun Mrs. Hwang tidak mengijinkannya.
Wajah Yesung saat kembali tadi terlihat agak pucat. Rambut raven-nya yang sebelumnya tertata rapi juga tampak dibasahi oleh keringat. Jika dalam waktu 25 menit Yesung bisa kembali bersama seorang pria dari bengkel, maka berarti setidaknya Yesung menghabiskan waktu 15 sampai 20 menit untuk berlari ke sana. Dan itu sama sekali bukan jarak yang bisa dikatakan dekat jika ditempuh hanya dengan menggunakan kaki.
"Aku baik-baik saja, Ahjumma," Yesung tersenyum seraya mengusap peluh di wajahnya dengan menggunakan sapu tangan yang diberikan oleh Mrs. Hwang.
"Kalau ahjumma tahu jaraknya sejauh ini, ahjumma pasti tidak akan membiarkamu berlari ke sini. Seharusnya tadi kita bisa menunggu orang yang membawa motor atau mobil," Mrs. Hwang kembali berkata masih dengan raut wajah cemas.
Yesung tertawa kecil, "Aku memang mudah berkeringat, ahjumma. Apa ahjumma lupa kalau aku ini seorang namja? Hanya berlari sejauh ini bukan masalah untukku. Ahjumma tidak perlu merasa bersalah,"
"Tapi kau terlihat seperti sedang sakit, Jongwoon-ah,"
"Aku benar-benar tidak apa-apa," Yesung melebarkan senyumannya, "Lagipula jalan itu biasanya memang sangat sepi karena bukan jalan utama, jadi kita tidak bisa memastikan kapan akan ada orang yang lewat sana. Dan tidak semua orang mau berhenti untuk membantu,"
Mrs. Hwang menggeleng kecil, "Kau benar-benar anak yang manis,"
"Umma-ku juga sering mengatakan seperti itu,"
Mrs. Hwang tertawa mendengar jawaban Yesung, "Umma-mu pasti merasa sangat beruntung memiliki anak yang manis dan baik sepertimu,"
"Umma juga sering berkata begitu," jawab Yesung masih dengan senyuman lebar di wajahnya.
"Berapa usiamu, Jongwoon-ah?"
"Aku 18 tahun, ahjumma. Waeyo?"
Mrs. Hwang menggeleng kecil, "Ahjumma juga memiliki anak laki-laki yang berusia 18 tahun. Sayangnya dia sangat berbeda denganmu. Pasti akan sangat menyenangkan kalau dia juga semanis dirimu,"
"Pasti dia sangat tampan,"
"Eoh?"
"Ahjumma kan sangat cantik. Jadi kalau anak ahjumma tidak manis, itu berarti dia pasti sangat tampan,"
Mrs. Hwang kembali tertawa, "Kau ini bisa saja. Tapi memang benar, dia sangat tampan,"
Yesung tersenyum.
"Ahjumma aku pulang duluan tidak apa-apa, kan? Ini sudah hampir jam 5," Yesung kembali berujar setelah melihat jam yang tergantung di dinding restoran.
"Kenapa tidak pulang bersama ahjumma saja? Sebentar orang yang menjemput ahjumma pasti kan segera datang. Ahjumma akan mengantarmu,"
Yesung menggeleng kecil, "Aku naik bus saja. Lagipula rumahku tidak jauh dari sini. Terima kasih untuk minumannya. Aku bawa pulang, ne?" ujarnya seraya meriah sebotol air mineral di atas meja.
"Benar tidak apa-apa?"
Yesung mengangguk, "Anyeong," ia membungkuk sekilas sebelum kemudian berjalan keluar dari restaurant.
Mrs. Hwang tersenyum kecil, "Pasti umma akan sangat senang kalau kau sering tersenyum seperti itu, Siwon-ah,"
.
.
~ 예 원 ~
.
.
Brak.
"Shit!" Siwon mengumpat seraya mendudukkan dirinya di atas tempat tidur Kyuhyun.
"Yah! Aku tahu kau sedang kesal, tapi siapa yang mengijinkanmu untuk menghancurkan meja belajarku?!" seru Kyuhyun tidak terima. Matanya menatap tajam Choi Siwon yang baru saja melemparkan tas ke atas meja belajar di dalam kamarnya.
"Seperti kau pernah menggunakannya saja," Siwon membalas tak kalah sengit.
"Seharusnya tadi kita pergi ke rumah Donghae," Kyuhyun menggerutu kesal.
"Tidak, terima kasih. Kamarku sudah terlalu sering menjadi korban," sahut Donghae yang masih berdiri di ambang pintu kamar Kyuhyun, "Jadi kapan kau akan mencuci benda ini, Siwon-ah?" lanjutnya seraya mengangkat jas berwarna cokelat di tangannya. Dan Choi Siwon tidak cukup bodoh untuk tidak dapat menangkap nada mengejek dalam suara itu.
"Bukankah aku sudah mengatakan padamu untuk membuang benda itu?" Siwon menatap Donghae kesal.
"Dan setelah itu Choi Sulli tidak akan mau lagi berbicara denganmu untuk selama-lamanya? Maaf, sahabat yang baik tidak akan melakukan itu," balas Donghae seraya tersenyum lebar.
Siwon mendengus.
"Lagipula kau bisa meminta pembantumu untuk mencuci benda ini. Choi Sulli pasti tidak akan tahu. Yang penting kau mengembalikannya pada Yesung dalam keadaan bersih. Mudah, bukan?" ujar Donghae lagi.
"Ini tentang harga diri, Donghae-ah. Kau seperti baru mengenal Choi Siwon kemarin sore saja," sahut Kibum seraya tertawa kecil.
"Sepertinya Choi Sulli menyukai Yesung," Kyuhyun kembali menyahut.
Siwon langsung melemparkan death glare.
"Wae? Aku hanya mengatakan yang sebenarnya. Sebelumnya Choi Sulli tidak pernah ikut campur saat Siwon mengerjai anak-anak di sekolah, kan? Tapi kalian lihat sekarang? Dia bahkan memperlakukan Yesung seperti kekasih wanitanya,"
"Benar sekali. Pasti akan sangat lucu kalau mereka berpacaran," sambung Donghae yang tampak berusaha menahan tawanya.
"Kalian benar-benar mau mati?"
"Yah, apa kau lupa kami ini teman yang baik? Kami mengatakan ini demi dirimu," sahut Donghae.
Kyuhyun mengangguk, "Sepertinya kau memang tidak sedang berada dalam posisi yang aman. Kalau kau tetap menggunakan cara yang seperti ini, aku bisa memastikan kau tidak akan berhasil,"
"Ah, benarkah? Apa kau memiliki saran yang lebih baik?" Siwon menatap Kyuhyun sarkatis.
"Berteman dengan Kim Jongwoon?"
"Mwo?"
"Maksudmu berteman dengan Yesung, lalu mencari kelemahannya, lalu menggunakan itu untuk menjatuhkannya, begitu?" Lee Donghae ikut menatap Kyuhyun dengan mata melebar.
Kyuhyun mengangguk.
"Maksudmu aku harus berpura-pura baik pada Kim Jongwoon agar dia mau berteman denganku? Apa kau gila? Aku tidak akan pernah melakukannya!"
Kyuhyun berdecak, "Kalau kau terus menggunakan cara kasar seperti ini, kau hanya akan membuat Choi Sulli semakin menjauh darimu. Aku hanya mencoba membantu,"
"Sepertinya itu bukan ide yang buruk," Kibum ikut menyahut, membuat ketiga namja lain di kamar itu langsung menatap kearahnya.
"Kau tahu, cara terbaik untuk menghancurkan musuhmu adalah dengan menjadi 'teman baik'nya," sudut bibir Kibum sedikit terangkat, "Menghancurkan dari dalam akan lebih mudah daripada menyerang secara langsung dari luar,"
"Yah, sejak kapan kalian berdua menjadi jahat seperti ini?" Donghae menatap Kibum dan Kyuhyun bergantian, "Lagipula apa yang akan kau dapatkan kalau kau berhasil menjatuhkan Yesung?" kali ini ia beralih pada Siwon, "Bukankah Choi Sulli sudah sering menolakmu sebelum Yesung datang?"
Siwon tampak terdiam sebentar sebelum kemudian menjawab, "Sepertinya itu memang ide yang bagus,"
Donghae melebarkan matanya, "Mwo? Yah, apa yang salah dengan kalian bertiga?"
Plak.
Kyuhyun memukul kepala Donghae dengan keras, membuat namja di sampingnya itu mengerang kesakitan.
"Kau tidak merasa kita ini orang baik, kan?" Kyuhyun menatap Donghae sinis.
Donghae mengerucutkan bibirnya.
"Donghae benar. Menjatuhkan Kim Jongwoon memang tidak akan membuat Sulli berbalik menyukaiku. Tetapi aku rasa ini akan berguna. Aku bisa menyingkirkan Kim Jongwoon, memberinya pelajaran sekaligus bersenang-senang. Aku sudah lama tidak bermain-main," Siwon menyeringai tipis.
"Padahal baru kemarin kau mem-bully Kim Ryeowook," Kyuhyun memutar bola matanya.
.
To Be Continued
.
A/N : Aduh maaf prolog sama chapter 1 jaraknya sampe sebulan /.\
Tugas numpuk terus tiap hari, sampe ga sempet mikirin FF ;;;;;
makasih buat yang masih mau baca
maaf juga kalo chap ini ngga memuaskan
ini baru aja selesai aku tulis hari ini, baca sekali langsung publish
mohon maklum kalo banyak typo ya xD
Ps : kalo ada yang ngerasa ga asing sama nama para OC pura-pura gatau (?) aja ya lol
aku paling pusing kalo suruh ngarang nama, jadi mending sabet nama sana sini
nama ngga perlu dijadiin visualisasi (?) kok xD
Thankyou ^^
