Orange's Caramel Present "Autumn Story"
.
.
.
Warning : AU, OOC, Typo, etc.
.
Genre : Drama, Romance, Hurt /Comfort
.
Pairing : Naruto x Hinata x Sasuke
.
I'm just borrow the all character from Mr. Masashi Kishimoto for My Fanfiction.
.
Fanfic ini untuk hiburan semata, jika ada kemiripan cerita mohon di maafkan..
.
.
.
~Happy Reading~
Falling in love is like jumping off a really tall building..
Your brain tells you it is not a good idea, but your heart tells you,
You Can Fly.
(Jatuh cinta itu seperti melompat dari gedung tinggi.
Otak-mu berkata ini bukan ide yang bagus, tetapi hati-mu berkata,
Kamu Dapat Terbang.)
.
.
.
"Tidurlah.. Kamu pasti lelah setelah seharian ini." Sasuke memberikan kecupan singkat pada kening Hinata. Dirinya selalu menahan diri untuk meminta lebih. Dia benar-benar akan memberi ciuman pada bibir kecil Hinata saat hari pernikahannya.
Tanpa disadari oleh siapapun hanya Hinata, Naruto dan Tuhan lah, ciuman pertama itu telah menjadi milik Naruto.. Yaa.. Naruto seorang.
Hinata hanya tersenyum lemah saat Sasuke menyelimuti tubuhnya dengan duvet cover berwarna ungu muda.
"Lusa kita akan pindah ke London.. Disana hanya akan ada aku dan kamu, tanpa Naruto atau lainnya. Hanya Kita." Ujar Sasuke lembut.
Hinata hanya dapat membelalakan matanya terkejut, tapi segera dia sadar dan memandang arah lain dengan sayu. Dia sudah terlalu lelah untuk berdebat. Tidak akan ada gunanya melawan Sasuke.
"Tidurlah."
Sasuke memberi kecupan terakhir di kening Hinata dan beranjak pergi. Dia tau Hinata kecewa. Dia tau dan dapat melihatnya. Sekali lagi Sasuke diam.
"Sasuke-Kun.." Hinata bersuara lemah tanpa melihat Sasuke. Dirinya memilih untuk menghadap jendela besar dengan tirai putih tipis yang memisahkan kamar dengan balkonnya.
"Hm.?" Sasuke berhenti dan menatap punggung Hinata.
"Arigatou.. Hontou ni Arigatou.." Hinata berusaha menahan air matanya untuk jatuh.
'Terima kasih untuk semua yang telah kamu lakukan.'
'Terima kasih untuk cintamu.'
'Terima kasih dan maaf.'
"Hm." Sasuke hanya membalas singkat dan kembali beranjak dari kamar Hinata.
Sebelum dia benar-benar keluar, Sasuke melihat kalung yang diberikannya kepada Hinata tempo hari tergeletak rapi dan indah pada meja rias. Dia mengambilnya dan kemudian benar-benar keluar.
Hinata menghela nafas panjang lelah. Dia belum memberi kabar sedikit-pun kepada Naruto. Hari ini adalah yang paling melelahkan.
Hinata mengambil ponsel mungilnya yang berada di lemari kecil, tepat di samping tempat tidurnya.
One received Messages.
Begitulah yang tertera pada layar ponselnya. Hinata segera membuka pesan itu dan Naruto yang mengiriminya pesan.
Kali ini dia tidak dapat untuk tidak menangis. Hatinya terlalu sakit karena mencintai orang yang salah. Sebenarnya cintanya tidak salah, yang salah hanyalah keadaannya.
Setelah menghapus air matanya, dia membalas pesan Naruto dan tidak berharap Naruto akan membalasnya karena waktu sudah menunjukkan pukul 10.15 malam. Hinata akhirnya tertidur setelah pesan itu terkirim.
Berharap esok akan menjadi lebih baik.. Ya.. Semoga..
.
.
.
"Hei.. Ku dengar Hinata dan Sasuke akan segera pindah keluar negeri. Aku melihat mereka mengurus surat kepindahan di ruang yayasan."
"Benarkah itu?"
"Aku tidak mungkin salah melihat dan mendengar.. Aku ini masih muda.."
"Aduhh.. Kita akan kehilangan Sasuke-Kun.. Berkuranglah satu lagi pria tampan di sekolah ini.."
"Hei-Hei sudahlah.. Jika Sasuke-Kun tidak pergi, tidak akan ada bedanya. Dia itu sudah memiliki Hinata. Menyerah saja kau."
"Hahhh.. Kau benar.. Ayo kita ke kantin.. Aku butuh penyejuk hati.."
"Dasar kau ini.. Hahaha.. Ayo.."
Diam-diam Naruto mendengar percakapan antara kedua siswi di sekolahnya. Dirasa pendengarannya masih sangat baik. Dia tentu saja terkejut mendengar hal itu. Hinata dan Sasuke akan pindah keluar negeri.
'Kenapa?'
Hinata bahkan belum memberitahunya. Naruto harus meminta penjelasan dari Hinata. Tangannya mengepal, hatinya terasa ngilu.
.
.
.
"Sasuke-Kun.." Tanya Hinata takut-takut.
"Hm?" Sasuke melirik sekilas ke arah Hinata dan kembali memakan bekalnya.
"A-Aku ingin ke toilet.." Cicit Hinata pelan.
"Hm.. Pergilah dan segera kembali." Sasuke tau Hinata berbohong.
Hinata tersenyum dan segera pergi meninggalkan Sasuke.
Sasuke menatap langit biru cerah yang kini membentang luas tidak terbatas. Awan putih tipis turut menemani. Cuaca semakin dingin mengingat ini adalah pertengahan musim gugur.
Sasuke menghela nafas. "Maafkan aku Hinata." Lanjutnya lirih.
.
.
.
Perkiraan Sasuke benar. Hinata menjadikan alasan ke toilet hanya untuk mencari Naruto dan menjelaskan semuanya. Seharusnya informasi mengenai kepindahannya yang mendadak sudah tersiar cepat.
Sasuke secara sengaja mengijinkan Hinata untuk bertemu Naruto terakhir kalinya. Ya.. Setelah itu mereka akan menghilang dari Naruto.
Hinata dengan tergesa-gesa mencari sosok Naruto yang seharusnya mudah untuk ditemukan. Dia menghampiri kelasnya, tetapi Kiba berkata bahwa Naruto telah keluar entah kemana.
Kembali Hinata setengah berlari mencari Naruto.
Grep..
Hinata di tarik oleh seseorang.
"Na-Naruto-Kun.."
"Sttt.. Ikut aku.." Naruto mengacungkan satu jari di depan bibirnya dan meminta Hinata untuk mengikutinya ke belakang gedung olahraga. Di rasa tempat ini cukup aman dari jangkauan mata Sasuke yang berada di atap.
Hinata hanya mengikuti kemana Naruto membawanya.
Diam sesaat setelah mereka tiba.
"Na-Naruto-Kun.."
Banyak yang ingin Hinata sampaikan.
Bahkan terlalu banyak..
Tentang perasaannya..
Tentang cintanya..
Tentang keinginannya..
"Benarkah berita itu? Kamu dan Sasuke?" Naruto langsung menuju topik dan tidak ingin berbasa-basi. Wajahnya sungguh tersirat kekecewaan dan kesedihan.
Hinata hanya menundukkan kepalanya. Air mata kembali mengalir. Dia memberanikan diri menatap Naruto.
Dengan air mata terus mengalir, Hinata tersenyum lembut. Ya ini akan menjadi perpisahannya dengan Naruto. Besok dia tidak akan ada di Jepang. Ayahnya akan keluar rumah sakit nanti siang. Tidak ada lagi alasan untuk menolak permintaan Sasuke.
Senyuman ini yang Naruto sukai.
Senyuman yang membuat Naruto jatuh cinta..
Tangan Hinata terangkat pelan untuk menangkup wajah Naruto.
"Ma-Maaf.." Ujar Hinata lirih.
Hinata melihat sungguh Naruto sungguh tampan.
"A-Apa kau tau?". Hinata diam dan masih tersenyum. "A-Aku mencintaimu Naruto-Kun.. Aku mencintaimu.." Inilah perasaan Hinata yang sesungguhnya. Kini dia dapat mengutarakannya secara gamlang.
Naruto tersenyum hangat. Jantungnya berdetak lebih cepat. Dirinya seperti mendapat pengakuan cinta dari seorang gadis.
Dia yakin dan tau memang cintanya tidak bertepuk sebelah tangan.
Naruto menggenggam tangan dingin Hinata yang masih menangkup wajahnya. Perasaannya begitu bahagia.
"Jangan tinggalkan aku.. Ku mohon." Pinta Naruto lirih.
Lagi-lagi Hinata tersenyum.
"A-Aku mencintaimu Naruto-Kun." Dia mengulangi perkataannya, perasaannya kini lebih lega.
"Aku hanya ingin kamu tau semua perasaanku.. Aku tidak bisa meninggalkan Sasuke-Kun, dia terlalu baik untuk ku sakiti lagi.. Percayalah kamu akan bahagia dan menemukan yang lain, yang lebih baik dariku." Dengan penuh kesadaran dan keberanian yang melebihi cukup, dia berkata dengan jelas. Meski air mata enggan berhenti mengalir, dia tetap tersenyum.
Naruto menggeleng lemah. Bukan ini yang dia harapkan.. Tangannya semakin erat menggenggam tangan Hinata, takut gadis ini akan pergi meninggalkannya.
"Ku mohon.. Kita pergi dari sini.. Kita hidup berdua di luar kota, jauh dari Sasuke, jauh dari keluargamu, jauh dari semuanya.." Sekali lagi Naruto memohon. Dia sebisa mungkin menahan agar tidak menangis.
Kali ini Hinata yang menggeleng dan tersenyum.
"Cukup aku jujur pada diriku sendiri. Aku senang kamu memiliki perasaan sepertiku. Semoga di lain waktu kita dapat bertemu lagi, dalam keadaan yang baik-baik saja, tentunya."
Ingin rasanya Naruto berteriak.
Kenapa harus berakhir seperti ini.. Kenapa?
Tidak pantaskah dia bahagia?
"Aku mencintaimu Hinata." Naruto setengah mati menahan air matanya.
"Aku tau dan perasaanku akan terus sepertimu. Terima kasih Naruto-Kun." 'Dan maaf.' Hinata masih tersenyum.
Hinata sedikit berjinjit dan memberanikan diri untuk mencium Naruto. Singkat, tapi begitu berkesan. Dia kemudian melepaskan tangannya dan segera berlari meninggalkan Naruto yang masih diam mematung.
Air mata pun menetes. Naruto tidak dapat lagi membendung perihnya sakit di hati. Dia kesal tetapi entah kepada siapa. Pada akhirnya, cintanya begitu rapuh.
.
.
.
'Cause everything we've been through..
(Karena semua yang telah kita lalui..)
It's everything about You.
(Semuanya adalah tentang-mu.)
.
.
.
"Pesawat menuju London akan berangkat 10 menit lagi. Diharapkan semua penumpang segera menuju pesawat melalui koridor KH-1. Terima Kasih."
"Ayo Hinata, kita pergi." Sasuke menggenggam erat tangan Hinata. Dua karcis kelas VIP menuju London telah dipegang oleh Sasuke.
Hinata hanya menganggukan kepalanya dan mengikuti Sasuke.
'Selamat Tinggal Konoha.. Selamat tinggal Naruto-Kun.. Selamat tinggal Cintaku dan kenanganku.'
"Tidurlah.. Perjalanan akan memakan waktu cukup lama." Sasuke merapikan syal yang dikenakan Hinata.
"Sasuke-Kun juga tidurlah.. Aku tau akhir-akhir ini kamu sibuk."
Sasuke hanya tersenyum tipis dan hanya untuk Hinata.
Mereka berdua sama-sama tidur menunggu keberangkatan pesawat.
.
.
.
Tiga jam perjalanan dari Konoha menuju menuju London. Waktu menunjukkan pukul 8.15 malam. Tidak terlalu malam untuk sekedar berkeliling kota. Tetapi, Perjalanan yang cukup lama dan membosankan membuat tubuh ingin cepat beristirahat. Sasuke dan Hinata akhirnya memutuskan untuk segera pergi ke Apartment yang akan mereka tinggali selama di London.
Sasuke memesan taksi dari bandara. Dia berpikir mungkin besok baru akan membeli mobil baru di London. Hujan tiba-tiba turun dengan deras, orang-orang yang berada di bandara segera mencari tempat untuk berteduh dan mencari tempat yang lebih hangat. Cuaca bertambah semakin dingin, mengingat musim yang sama seperti Konoha.
Taksi yang mereka naikki berkendara cukup cepat. Entah karena sang supir mengejar setoran atau memang dia juga sedang terburu-buru. Sasuke hanya mengeratkan pelukannya kepada Hinata yang kembali terlelap. Wajahnya menampakkan kelelahan yang luar biasa. Sasuke mengusap setitik air mata yang lolos.
'Mungkinkah dia bermimpi tentang Naruto?'
Sasuke kembali menghela nafas lelah.
Hanya sekilas Sasuke melihat lampu dim dari Truk di depan taksi mereka. Dirinya segera memeluk Hinata erat.
Sang supir berusaha membanting setir dengan cepat. Namun, naas taksi yang mereka tumpangi terguling-guling karena gagal menghindar dari truk yang lawan arah.
Hujan turun cukup deras. Darah segar mengalir dari dalam taksi yang kini berada di posisi terbalik. Entah darah siapa, namun tercampur sudah menjadi satu dengan genangan air di aspal.
Warga serempak mendekati taksi dan segera mengamankan supir truk yang ternyata tengah mabuk berat. Mereka berhasil mengeluarkan sang supir yang sudah dalam keadaan tewas, serta Sasuke dan Hinata yang masih dalam keadaan sekarat.
Hinata pingsan, namun luka nya tidak separah Sasuke.
"Hina..taa.." Ucap Sasuke lirih dengan rasa sakit yang luar biasa. Darah di kepalanya terus mengalir. Seketika pandangan Sasuke menjadi buram dan segalanya menjadi gelap. Hal terakhir yang dapat Sasuke lihat adalah Hinata yang juga terbaring pingsan tidak jauh darinya.
.
.
.
Setelah kejadian naas itu, Sasuke dan Hinata segera dilarikan ke rumah sakit terdekat. Keluarga Hyuuga dan Uchiha yang mendapat kabar tersebut segera terbang menuju London dengan pesawat pribadi milik Uchiha.
Kondisi terparah di alami oleh Sasuke yang secara langsung dirinya melindungi Hinata. Sedangkan, Hinata hanya mendapat luka ringan, anehnya dia masih belum kunjung sadar.
Itachi segera memasuki kamar Sasuke.
"Nii..san.." Sasuke berusaha sekuat tenaga untuk berbicara.
"Jangan bicara dulu Sasuke.. Kamu masih lemah.." Itachi memandang sendu adik tersayangnya.
"Ku mohon berikan ini kepada Hinata. Katakan aku mencintainya, sangat mencintainya dan maaf." Ucap Sasuke lirih dengan tersendat-sendat. Setitik air mata lolos dari matanya.
Itachi menerima kalung yang jelas dia tau, karena dirinya ikut turut mengambil andil ketika Sasuke ingin membelikan kalung itu untuk Hinata. Seusainya ucapan Sasuke, Itachi melihat adiknya kini tidur dengan damai dan untuk selamanya.
Itachi menangisi kepergian adiknya dalam diam.
.
.
.
Dua Minggu Berlalu,
Hinata masih belum sadarkan diri. Entah apa yang membuatnya terlihat ingin tidur lama. Semua luka fisiknya telah sembuh dan berangsur hilang tanpa meninggalkan bekas, untuk luka dalam tidak ada yang serius.
Hiashi masih setia untuk menjenguk dan menjaga Hinata, Putri semata wayangnya. Dia baru tersadar bahwa dirinya selama ini telah salah, selalu memaksakan keinginannya tanpa tau keinginan putrinya. Dan Hiashi menyesal.
Seluruh saham Hyuuga pun telah dikembalikan oleh Itachi. Mereka merasa tidak ada lagi tanggung jawab atas Hinata setelah Sasuke meninggal.
"Bukalah matamu Hinata, Otousan janji akan berubah dan mendengar semua keinginanmu.." Hiashi menggenggam tangan Hinata.
Perlahan adanya pergerakan lembut. Hiashi tau, Hinata akan segera sadar. Mata amethyst-nya akan kembali memancarkan keindahan.
"Dokterrr..."
.
.
.
"Kamu sudah lebih baik?" Itachi menyempatkan diri untuk menjenguk Hinata yang memang berada di rumah sakit karena harus mendapatkan perawatan.
"I-Itachi-Niisan." Hinata segera menutup majalah yang sedang dibacanya.
"Arigatou, aku sudah lebih baik. Kemana Sasuke-Kun.. Kenapa dia tidak datang? Bagaimana keadaannya?" Berbondong-bondong pertanyaan yang Hinata ajukan.
Dia ingat Sasuke berada bersama dirinya pada saat kecelakaan. Dia bahkan sadar Sasuke memeluknya erat saat itu. Hinata berharap Sasuke baik-baik saja dan sudah keluar dari rumah sakit. Tetapi, sudah 5 hari sejak dirinya sadar, Sasuke belum kunjung menjenguknya dan jika dia bertanya pada Ayahnya atau suster dan dokter, tidak akan ada jawaban pasti. Semuanya mengalihkan pembicaraan. Ini aneh.
Hinata dapat melihat pandangan Itachi yang menjadi sedikit murung.
Itachi berjalan meletakkan bunga yang dibawanya dan dia mengambil posisi duduk di pinggir ranjang. Dia menghela nafas lelah.
"Dengar Hinata. Ini kenyataan yang harus kita hadapi." Itachi mengeluarkan kalung yang dulu Sasuke titipkan padanya. Dia mengambil tangan Hinata dan menyerahkannya kepada Hinata.
Hinata merasakan firasat buruk. Ini adalah salah satu hadiah dari Sasuke yang paling dia sukai, dirinya bahkan lupa untuk membawa kalung itu saat berkemas.
"Sasuke sudah meninggal. Dia pergi beberapa jam saat aku tiba dan dia menitipkan kalung ini untukmu dengan beberapa kata."
Hinata sangat syok mendengarnya. Tubuhnya bergetar, digenggamnya kalung itu sekuat tenaga.
"Sasuke sangat mencintaimu dan dia meminta maaf padamu. Hanya itu pesan terakhirnya. Ku mohon maafkanlah dia Hinata. Sasuke sudah menyusahkanmu terlalu banyak, hanya satu alasan dibalik semuanya. Karena dia benar-benar mencintaimu. Dirinya terlalu takut kehilanganmu."
Hinata menangis mendengar semua penuturan Itachi.
"Ti-Tidak mungkin.. Sasuke-Kun tidak mungkin meninggal.. Ti-Tidak.." Hinata memegangi kepalanya yang berdenyut sakit. Berita ini bagaikan palu 10 ton menghantam kepalanya.
"Tenang Hinata. Jangan seperti ini. Sasuke ingin kamu bahagia. Jangan seperti ini.." Itachi mengguncang bahu Hinata, berusaha menyadarkan Hinata.
Memang berat harus merelakan kepergian orang yang kita sayangi, meski Hinata tidak mencintai Sasuke. Perasaannya adalah sayang dan yang terpenting mereka tumbuh bersama sejak kecil.
"Nii-Niisan pasti bercanda.. Aku tau.. Iya kan?" Hinata mencengkram seprainya kuat.
Ini benar-benar berita buruk.
Sayangnya Itachi hanya menggeleng lemah dan bersamaan dengan itu Hinata menangis keras sambil memegangi kepalanya yang sangat sakit. Hinata pingsan.
.
.
.
Ini sudah tiga hari Hinata sadar dari pingsan dan dirinya divonis Amnesia Disosiatif.Dimana dirinya kehilangan sebagian ingatannya. Ya.. Hinata kehilangan ingatan mengenai Sasuke, tetapi dengan hal lain dia dapat mengingatnya dengan jelas, termasuk Naruto.
Ini gejala langka dalam dunia kedokteran. Dokter menjelaskan Hinata berusaha mencoba lari dari kenyataan yang ada. Mungkin ini yang terbaik..
Namun satu hal yang Hinata tau, dia merasakan adanya sesuatu yang hangat saat memakai kalung yang entah pemberian dari siapa. Tidak ada yang ingin memberitahunya. Mereka memilih bungkam daripada memaksa Hinata mengorek kembali kenangan mengenai Sasuke.
Mungkin ini yang terbaik.
.
.
.
Berita tentang kecelakaan Sasuke dan Hinata tersiar cepat melalui semua media sosial. Naruto sangat terkejut dan sangat khawatir dengan keadaan Hinata. Sudah hampir 3 minggu dia tidak lagi mendengar kabar mengenai Hinata, terakhir yang dia dengar adalah kematian Sasuke. Lagi-lagi Naruto dibuat terkejut.
Sungguh dia sangat merindukan Hinata. Seharusnya Hinata sudah kembali ke Konoha karena Sasuke sudah meninggal. Besok dia akan mencoba mengunjungi kediaman Hyuuga.
.
.
.
"Ano permisi Ojiisan.." Teriak Naruto.
"Hm.. Ada yang bisa ku bantu?" Wajah pengawal kediaman Hyuuga terlihat tegas.
"Hehe.. Aku teman Hinata, bolehkah aku mengetahui kabarnya?" Cengir Naruto berusaha menahan rasa gugupnya.
"Maaf.. Nona Hinata dan Tuan Besar Hiashi tidak akan kembali ke Konoha dalam jangka waktu dekat. Mereka berencana menetap sementara di London."
Lagi-lagi Naruto kecewa..
Benarkah harus berakhir seperti ini cintanya.
.
.
.
Dua Tahun Berlalu.
Musim Gugur Konoha.
Sudah dua tahun berlalu. Semua kisah cinta Naruto, Hinata dan Sasuke hanya melekat pada ingatan Naruto. Ini bukan sekedar cinta monyet yang akan mudah terlupakan. Ini adalah cinta pertama yang indah dan menyakitkan.
Naruto lulus dari Konoha Internasional High School dengan nilai yang memuaskan. Lukisan-lukisannya terkenal sampai ke beberapa manca negera. Usianya tergolong muda saat dirinya sukses. Semua inspirasi lukisannya berasal dari rasa cinta dan penantian yang begitu besar terhadap seorang gadis yang bahkan belum memberinya kabar.
Ini adalah awal bulan Oktober, terhitung beberapa hari lagi dia akan menginjak usia 18. Sahabatnya -Kiba- selalu membujuk dirinya untuk mencari gadis lain dari salah satu fans yang menggilainya. Semenjak kepergian Sasuke, Naruto menjadi incaran gadis-gadis di sekolah.
Naruto akui banyak gadis-gadis cantik dan memikat, tetapi hatinya selalu menolak untuk menghapus Hinata. Dia sadar dengan resikonya ini. Mungkin dia akan sulit jatuh cinta lagi. Baginya Hinata adalah cahaya dan semangatnya.
Hari ini tepat ulang tahun Naruto. Dia hanya memiliki sebuah permohonan kecil.
'Semoga Tuhan mempertemukan kembali dirinya dengan Hinata.'
Hanya se-simple itu.
Naruto menyusuri jalanan Konoha dengan sepedanya. Kembali teringat jelas kepingan-kepingan memori saat Hinata duduk di sepedanya.
Sore ini, angin berhembus sejuk. Rambut Naruto berkibas pelan.
Pandangan Naruto beralih pada sungai Konoha, tempat pertama pertemuannya dengan Hinata. Dia segera meletakkan sepedanya asal dan berlari pada sosok yang sedang membelakanginya. Jantungnya berdebar keras, senyum mengambang di wajah tampannya.
Dia menepuk pelan bahu gadis yang tengah membelakanginya. Senyuman masih terukir.
"Hinataa.." Pelan dan pasti gadis itu membalikkan tubuhnya.
Senyuman itu luntur, berganti dengan raut kecewa.
"Maaf.. Aku salah orang."
Gadis itu hanya tersenyum dan Naruto pergi meninggalkan gadis itu dengan perasaan sedih.
Bukan Naruto namanya jika patah semangat, sudah 2 tahun ini dia selalu rajin mengunjungi kediaman Hyuuga untuk menanyakan kabar kepulangan Hinata. Lelah memang, tetapi cintanya lah yang kuat membuat Naruto tidak akan kembali melepaskan Hinata.
Kini dia sudah mapan, tabungannya cukup untuk menata sebuah masa depan sederhana namun hangat dan indah. Bahkan Naruto sudah mampu mendirikan sebuah galeri kecil berdiri untuk memamerkan dan menjual hasil karyanya.
Kembali dirinya mengayuh sepeda mengitari Konoha. Harusnya kali ini dirinya tidak akan salah. Perasaannya berkata benar. Jantungnya berdesir hangat.
Sosok itu.
Hinata..
Hinata kini duduk di bawah pohon besar, di taman Kota Konoha.
Hinata belum berubah.
Naruto segera membuang sepedanya asal dan berlari menuju pohon itu. Dia memelankan langkahnya saat semakin dekat. Deru nafasnya tidak beraturan dengan jantung yang terus memompa lebih cepat.
Ini nyata. Kali ini senyum benar-benar terpancar.
"Hinataa.." Ujar Naruto pelan. Dia tidak percaya.
Hinata mencari asal suara yang memanggilnya. Matanya berkaca dengan senyum terukir.
"Na-Naruto-Kun.."
Hinata berdiri dan berjalan pelan, diiringi Naruto yang juga berjalan perlahan dan mereka kini berlari kecil.
Saling berhadapan, memandang satu sama lain. Rasa rindu yang selama ini menggerogoti jiwa, terbalas sudah.
Mereka sama-sama tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.
Hinata tersenyum dengan tangisan bahagia. Tangannya menangkup wajah Naruto. Tidak terlalu banyak berubah, hanya saja Naruto bertambah tinggi dengan wajah yang semakin tampan, rahang yang semakin tegas. Hinata merindukan semuanya. Dia membelai alis, hidung dan pipi Naruto.
Naruto juga menangkup wajah Hinata. Kecantikannya tidak pernah pudar selama Naruto sanggup mengingatnya. Betapa dia sangat merindukan Hinata, pandangan matanya, senyumannya. Semuanya..
Mereka sama-sama tertawa kecil dan Naruto segera membawa Hinata ke dalam pelukannya. Ini adalah nyata dan bukan mimpi. Tuhan mempertemukan mereka kembali. Kali ini Naruto bersumpah tidak akan membiarkan Hinata pergi lagi. Tidak akan.
Ini adalah hadiah ulang tahun yang terindah sepanjang hidup Naruto, meskipun di tahun berikutnya juga akan indah karena Hinata.
"Aishiteru.."
"Aishiteru mo.."
Kini yang ada hanyalah tangisan kebahagian..
.
.
.
I know I am not alone.
(Aku tahu, Aku tidak sendiri.)
I am not the only one who is broken.
(Aku bukan satu-satunya yang patah.)
I'll give you this offer.
(Aku akan memberikanmu penawaran.)
Take My hand and We'll run together.
(Sambut tangan-ku dan Kita akan lari bersama.)
And
(Dan)
I'll never let you go again.
(Aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi.)
- END -
...
Other Story 1 :
Taukah kalian arti kalung dari 'The Angel Drop Heart' yang Sasuke berikan kepada Hinata?
Artinya : 'Hati seorang Malaikat.'
*kalo translate biasa artinya berbeda*
Sasuke mendeskripsikan Hinata sebagai seorang Malaikat. Dia begitu memujanya dan mencintainya.
.
.
.
"Jika sudah besar nanti, Hina-Chan mau menikah denganku?" Tanya Sasuke kecil yang memang sudah dapat memahami apa arti dari kata yang dia ucapkan.
"Heh?" Hinata kecil hanya menatap Sasuke bingung.
"Jika kita menikah, kita akan bersama-sama terus." Terang Sasuke menjelaskan.
"Benarkah? Baiklah.. Aku mau menikah dengan Suke-Kun." Hinata hanya tersenyum manis tanpa tahu arti sesungguhnya.
Bagi Hinata, Dia dan Sasuke adalah sama. Kesepian dan saling melengkapi satu sama lain.
Begitupun dengan Sasuke.
*Just Other Story 1*
.
.
.
Other Story 2 :
Hinata mengenakan gaun putih gading, kepalanya berhiaskan mahkota kecil.
Ini adalah hari bahagianya. Pernikahannya dengan Naruto.
Senyum manis terus dia pancarkan. Dia benar-benar bahagia.
.
.
.
Hinata melangkah pasti bersama Hiashi. Keduanya terus saling melempar pandang dengan senyuman. Jantung Hinata berdetak sangat cepat, ketika melihat Naruto yang sudah menantinya dengan senyuman.
Hiashi menyerahkan Hinata kepada Naruto yang sudah menantinya. Keduanya tersenyum. Dan semua tersenyum bahagia.
Dihadapan Tuhan, Pastur, dan para Tamu undangan, Mereka (Naruto dan Hinata) telah resmi menjadi sepasang suami istri.
*just other story 2*
.
.
.
Heppy Endang deh..
Kalian jangan sebel-sebel sama Sasuke ya.. Maafkan aku yang buat Sasuke seperti ini.. Aku terlalu ragu buat pake Sakura yang jadi pihak 3..
Lagi-lagi aku ga jago buat sequel.. Jika memang ada yang mau buat sequel dari Fict ini, saya persilahkan.. Tapi nanti kasih tau saya, biar saya juga bisa baca dan review..
Semoga kalian suka.. \(^^)
Thanks for reading, fave and follow.. :*
Special Thanks To :
Sadness Angel, Vicestering, , uzumakimahendra4, Yuka Namikaze, all Guest, Mr. Xavier, Yuki, Kensuchan, , Dark naruto, n, ranggagian67, , Namikaze ares, Gilang363, Hokage, , and all silent reader, for fave and follow.
