"哥,我很怕,"

Brother, I'm so afraid.

"我就在这里—在你的身边永远永远,"

I'm right here. In Your side forever and ever.

.

.

.

Don't Go不要走

[AU || BL || 1/ ?]

Angst—Romance—Drama

PG

OTP12—slight Kray, ChenLay, KrisChen

Warning !

Chinese and English content

Backsound : EXO M—Moonlight

.

.

.

EXO sudah menjadi general trend di Korea, China bahkan di berbagai belahan negara lainnya yang tidak bisa disebutkan satu-satu. Memasuki tahun baru, mereka banyak disibukkan dengan konser-konser, comeback, Variety Show baru, dan lain sebagainya. Pujian demi pujian, netizen salurkan pada kedua belas pemuda bertalenta luar biasa itu.

Tetapi siapa yang tidak menyangka kalau dibalik senyum ternyata ada cerita yang begitu menyakitkan ?

.

Tao—maknae line yang memiliki kantung mata seperti panda terus menerus menempelkan dirinya dekat dengan kakak yang ia sayangi—sekaligus pria yang telah merenggut hatinya. Bahkan saat di LAX airport, ia tidak mau jauh-jauh dari Kris, pemuda asal Canada yang menyandang gelar leader bersamaan dengan rekannya, Suho. Walaupun ia tidak menggenggam tangan Kris seperti yang biasa ia lakukan, tetap saja ia terus menggikutinya dengan langkah panjang. Entah sejak mereka breakfast di hotel, keadaannya sudah seperti mayat hidup. Ever since Tao talked with him, Kris is always rub Tao's hair and weakly smiled to him. Ya, Tao yakin ada banyak yang dipikirkan oleh Kris saat ini. Walau si maknae itu tidak tahu apa yang menyebabkan kakak kesayangannya seperti ini, tetapi ia terus-terusan membuatnya tenang.

Perjalanan Los Angeles menuju Seoul menghabiskan banyak waktu mereka di pesawat, membuat Chen harus merenggangkan kaki dan tangannya di bangku Business Class. Beberapa kali ia juga tertidur cukup lama untuk melepaskan rasa lelahnya. Bahkan Lay berulang kali memijat bahu Chen—membantunya untuk semakin rileks. Entah Chen merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi.

"Hyung, aku butuh Minseok-hyung," lirih si main vocalist.

Lay tidak menjawab, dan menggangguk kecil. Ia beranjak ke tempat dimana para tetua di EXO itu duduk. Dilihatnya Luhan yang sedang tertidur pulas dan Xiumin menikmati film action yang ia nonton sekarang. Melihat Lay menghampirinya, Xiumin mendongak dan melepaskan salah satu headset-nya.

"Jongdae membutuhkanmu, hyung,"

Xiumin menggangguk—dan rela bertukar tempat dengan Lay. Ia pun langsung bergegas duduk di samping Chen berada. Xiumin sangat menyayangi adik-adik yang menjadi rekan kerjanya itu—walau ia banyak terlihat bersama dengan Luhan. Namun, ia sangat protektif dan menyayangi Chen—sebagai adik dan orang yang ia sukai.

"Gwaenchana ?"

Chen dengan manjanya, menarik lengan Xiumin sebagai senderan kepalanya. Ia juga menautkan tangan mereka. Curiga kalau-kalau Chen demam, ia menempelkan punggung telapak tangannya ke dahi mulus Chen.

"Kau tidak demam,"

Chen hanya diam.

"Apa kau mabuk udara-kah?"

Chen menggelengkan kepalanya.

"Aigoo, kau kenapa, Chen ?"

"Biarkan aku seperti ini, Hyung. Biarkan kau ada di sampingku, sebentar saja—temani aku,"

Xiumin tertegun, takut-takut melirik pemuda yang 2 tahun lebih muda darinya itu. Tidak biasanya, Chen semanja ini.

"Jebal, hyung."

Xiumin menaruh kepalanya di atas kepala Chen, mempererat genggamannya.

"Arraseo, tenang aku ada di sampingmu,"

.

.

.

Pesawat Korean Air mendarat mulus di Incheon Airport dengan para fans-fans yang siap bertempur untuk mengambil gambar yang bagus dari 6 visual dari member EXO-M. Dengan penjagaan ketat para security Airport dan para body-guard yang dikerahkan dari agensi mereka tidak membuat keenam orang ini aman, mereka juga harus hati-hati dengan kelakuan fans-fans mereka semakin lama semakin menggila. Belum lagi, Sasaeng fans yang tidak berhenti-henti meneror mereka setiap waktu.

Keadaan sekitar terlihat biasa oleh Kris—namun secara tiba-tiba segerombolan fans terlihat sangat brutal berusaha mendekati bias-bias mereka. Demi Tuhan, Kris dan member EXO sudah merasa gila dan muak harus menghadapi ini semua. Membuat Kris harus menggenggam tangan Tao agar ia aman. Banyak teriakan dan kekacauan di hari itu—Chen merasa pening secara tidak kendali. Ia berusaha berjalan terus hingga ke van dan manager mereka yang telah menunggunya di lobby. Tetapi, gerombolan chaos dari fans terus mengikuti arus kemana para member pergi.

.

.

.

"AWAS KAU ! KAU MENGHALANGI KU !"

.

.

.

Chen mendengar seseorang dengan nada kasar dan itu tertuju pada Lay, teman sekamarnya sewaktu di dorm. Ketika orang itu berniat memukul Lay dengan kamera slr yang berukuran jumbo itu—dengan cepat Chen berjalan kembali dan menyelamatkan rekannya mengidap penyakit Hemofilia itu—agar ia tidak terluka. Yang dipikirannya sekarang adalah—Lay, Lay,Lay, dan Lay.

.

.

.

Usahanya sia-sia, justru itu membuatnya terdorong dan terjatuh di atas aspal.

.

.

.

"CHEN !"

.

.

.

Teriakan Kris dan sebuah klakson panjang dari sebuah mobil sedan—lalu sebuah teriakan panik dari para fans kepada Main Vocalist.

Setelah itu, sebuah hantaman hebat antara mobil sedan dan tubuh Chen.

Tubuhnya tergeletak tak berdaya beberapa meter dari lokasi ia ditabrak.

Lalu, si pelaku langsung melarikan mobilnya dari tempat lokasi—membuat para Security dan berbagai pihak sulit mengejarnya.

.

.

.

"AAAARRRGH !"

Suara teriakan histeris dari para fans Chen melihat kejadian tersebut.

Xiumin yang melihat kejadian itu dengan mata kepalanya sendiri—rekan dan adik yang ia sukai selama 2 tahun ini. Lelaki yang barusan bersikap manja padanya. Harus—Oh, ia sudah tidak sanggup untuk melihat ini. Membuat Luhan harus menangkap tubuh Xiumin yang pingsan melihat kejadian yang memilukan. Ia dan Manager membantu Xiumin untuk masuk ke Van terlebih dahulu. Beberapa staff mengamankan lokasi dan telah memanggil Ambulance demi keselamatan Chen.

Kris menghampiri Chen dan memeluknya. Tanpa mempedulikan bercak darah yang mengenai baju mahalnya.

"Chen ! Chen ! Sadarlah ! Kumohon !"

.

.

.

Sedangkan, Lay hanya terdiam di tempat dan menangis.

.

.

.

Tao ?

Ia sudah meledak.

Tangisannya telah meledak. Keadaan semakin kacau. Para fans berhasil dijinakkan oleh para staff , walau kebanyakan dari mereka tinggal untuk melihat drama ini.

Tidak sedikit yang menangis melihat keadaan Chen dan teriakan Kris yang terus memanggil nama Chen.

.

.

.

'我阻止自己焦急地呼唤你
I stop myself from anxiously calling out for you'

.

.

.

Berita kecelakaan Chen terdengar di telinga para member EXO-K. Dan yang pertama kali meninggalkan ruang tamu adalah Baekhyun—ia tidak mau mendengar fakta kecelakaan yang menimpa Chen hingga koma—dan mendengar diagnose dokter yang mengatakan Chen mengidap penyakit radang otak yang membuat keadaan Chen semakin parah.

Si Happy Virus,Chanyeol menyusul teman kecilnya.

Suho memijat peningnya, dan menghela nafas berulang kali.

Kyungsoo membiarkan Jongin, kekasihnya memeluknya secara protektif.

Sedangkan—Sehun nyaris menangis di tempat. Bibirnya sudah bergetar ketika mendengar keadaan kakak yang ia anggap sebagai eomma-nya—sebuah pengakuannya di episode terakhir EXO Showtime.

"A—Aku ingin ke sana, hyung,"

"Tidak, Sehun. Aku tidak membiarkan di antara kalian pergi dari dorm, ini perintah dari manager," jawab Suho tegas—namun matanya sudah berair.

"Hyung," Kyungsoo kini bersuara.

Suho menunduk, "Biarkan aku sendiri dulu—Kumohon,"

Kyungsoo menggigit bibir bagian bawahnya, lalu Jongin mengajak Kyungsoo masuk ke kamarnya.

Tinggallah Sehun dan Suho di ruang tamu.

Mereka kehabisan seribu bahasa yang ingin mereka ungkapkan saat itu.

Lama-kelamaan, mereka tenggelam dalam rasa takut kehilangan yang begitu dalam—dan menangis tersendu-sendu. Kehilangan seorang Chen bukanlah pilihan yang adil bagi mereka semua.

.

.

.

"Kris,"

Kris terbangun dari tidurnya. Ia menolehkan kepalanya dan menemukan sosok manager-nya. Kemudian, melirik jam dinding yang menunjukkan jam 3 pagi. 12 jam setelah kejadian yang membuat semua orang menangis.

"Sudah malam, kau tidak pulang ?"

Kris mendengus dan menggelengkan kepalanya. Ia memijat keningnya kasar.

"Kau masih ada jadwal besok, Kris,"

Kris memejamkan matanya sebentar.

"Hyung,"

Manager-nya membiarkan anak didikannya melanjutkan kata-katanya.

"Tidak bisakah menunggu keadaan Jongdae pulih dulu—baru kita melanjutkan beraktifitas seperti semula,"

"Tidak bisa, Kris,"

Kris menatap tajam managernya sendiri dengan tajam. Tanpa mendengar jawaban Kris, ia melanjutkan kata-katanya.

"Kita tidak bisa menunggu Chen sampai sadar—,"

"Dia sedang terluka—aku tidak bisa melakukan jadwalku tanpanya, siapa yang menjadi main vocalist selain dia ? EXO 11 ? Nae style aniya," kata Kris dingin.

"Aku mengerti dengan perasaanmu, Kris. Tetapi Chen sedang koma, kita tidak tahu kapan ia akan bangun. Besok ? Besok lusa ? Tahun depan ? Tidak ada yang tahu."

Manager menepuk pundaknya. Sebelum akhirnya ia keluar dari kamar Chen, ia menoleh.

"Kris, sebaiknya kau kembali ke dorm. Aku akan menunggumu di lobby. Ini perintah,"

.

.

.

Kris menunduk dan merutuki dirinya sendiri,

"Sial ! Ini sama saja, ia membuang Chen."

Ia kemudian melihat Chen yang tertidur lelap dan mengenggam tangan Chen erat.

"Aku janji, Chen. Aku akan melawan ini semua, bersabarlah,"

.

.

.

TBC

Pendek, ya ?

Aku sengaja –ditimpuk massa-

Aku ngga kuat ngetiknya. Aku mau bikin FF ini buat fans-fans yang masih bingung dengan berita Kris kemarin. Bahkan, tepat tadi malam—mana si Tao galaunya minta ampun ampe nangis pula. Daku sampe ga bisa tidur sampe jam 3 gara-gara pantengin timeline twitter, instagram, tumblr, dan youtube. Tapi aku akan tetap percaya our galaxy fan-fan bakal kembali ke pelukan EXO.

#StayStrongEXO

#StayStrongEXOFANS

#EXO11NaeStyleAniya

#WeBelieveinYouKris

.

.

.

Believe in You Kris

Forever and Ever.

XOXO,

Lin

Review Juseyo