A/N: MAKASIH BANYAK REVIEW-NYA! INI UNTUK KALIAN! MUAH~ /nggagitu/

Oh ya, disini GoM baru muncul dikit, terus baru chapter selanjutnya baru tuh, pas mereka pindah ke Teiko~~~ sabar dulu ya X3 /kausiapa/


Mission Accomplished

Presented by Blossoming Daisy

Warning(s): AU, OOC,Romance yang engga kerasa banget, sedikit Humor, abal, jelek, aneh, ide gaje yang pasaran, tidak layak baca, typo bertebaran, pace kelamaan, dll yang mungkin author tidak sadari

Rating: T

Summary:

6 agen. 6 target. 1 misi. Bisakah mereka menyelesaikannya? Penyamaran, pengintaian, persahabatan, pengkhianatan; semua berawal disini. [Bad & short summary. Multi-chapter, Rated T biar aman, GoM x OCs. Mind to read and review?]

Disclaimer: KnB bukan punya saya :D

Don't like? Don't read~

Enjoy!


Chapter 1: Arrival


"Uwaaaaaaah!"

Akhirnya, di hari Jumat ini, mereka sampai di Tokyo. Dan seketika mereka melihat rumah yang akan mereka tempati, semua terbelalak.

'Sangat besar!' batin mereka.

Kecuali Taiyou yang sedari tadi hanya menyipitkan matanya dan meletakkan tangannya di dagunya, membuat pose berpikir.

"Taiyou-chan kenapa?" tanya Hitori yang menyadari sikap Taiyou ini.

"Kita kan hanya berlima, kenapa diberi rumah sebesar ini?" kata Taiyou.

Hitori terdiam. Ia berpikir tentang perkataan Taiyou yang ada benarnya.

"Itu benar juga, sih… Tapi mungkin kepala direktur berusaha memberikan kita fasilitas yang bagus?" tanya Hitori.

"Tidak mungkin. Memangnya kita mau ngapain? Liburan? Kita kan hanya mau menjalankan misi." jawab Taiyou.

"Emmm… benar juga sih. Kita lihat saja nanti, siapa tau kepala direktur memberikan hadiah untuk kita." Hitori memutuskan untuk tidak memperpanjang masalah.

Namun mereka tidak tau seseorang yang mengintip kedatangan mereka dari jendela di rumah besar itu sedang menyeringai dan terkekeh.

Saat mobil itu berhenti di depan pagar, semua turun dari mobil itu, Taiyou yang paling terakhir keluar memperhatikan teman-temannya keluar dan akhirnya keluar dengan waspada dan hati-hati. Setelah mereka mengambil koper masing-masing dari bagasi mobil, mereka pun berjalan kearah rumah itu.

"Kukkyou-chaaaaaan!"

Sebuah teriakan panggilan yang disertai dengan suara hentakan kaki yang sangat keras terdengar dari arah rumah itu. Dan seorang gadis yang lebih pendek lagi dari Tsuki pun berlari keluar dari rumah itu dan menuju Kukkyou. Ia melompat dan mendaratkan kepalanya di dada Kukkyou.

"Kukkyou-chan empuk seperti biasaa~!" ujarnya puas. Semua pun sweatdrop.

"Oh, Rainbow Shade sudah datang. Selamat datang di Tokyo, Aisu, Hitori, Kukkyou, Taiyou, dan juga Tsuki." ucap sebuah suara lembut. Mereka pun menoleh dari gadis tadi dan mendapati seorang gadis bersurai pirang tersenyum kepada mereka.

"Hitori." bisik Taiyou.

"Oke, perasaanmu benar." Hitori mengangkat tangannya.

"Flora Radiance? Apa yang kalian lakukan disini?" tanya Aisu, mengerutkan dahinya.

"Kalian lupa? Kita kan sedang menjalani misi di Tokyo." jawab orang tadi.

"Tunggu, kalau begitu kita akan tinggal bersama kalian? Begitu?" tanya Tsuki.

"Tsuki, kau telat./Tsuki-chan telmi ah." ujar Taiyou dan Hitori berbarengan.

"Sebelum ada pertanyaan apapun lagi, kalian semua masuk saja dulu! Kamar kalian sudah dibersihkan, jadi kalian bisa meletakkan meletakkan barang-barang kalian dahulu!" ujar–lebih tepatnya seru sebuah suara, lain dari yang suara yang sebelumnya.

Hitori, Taiyou, dan Tsuki hanya menghela nafas mereka. Mereka tau, ketua masing-masing dari regu Rainbow Shade–yaitu Aisu–dan Flora Radiance–pemilik suara pertama tadi– tidak pernah akur.

Flora Radiance, mereka adalah saingan berat Rainbow Shade. Namun sayang, peringkatnya dibawah Rainbow Shade, ini dikarenakan mereka lebih suka menyelesaikan sedikit demi sedikit misi yang sangat susah, berbeda dengan Rainbow Shade yang suka maruk misi yang susah susah gampang. Walau peringkatnya dibawah Rainbow Shade tetapi tidak diragukan bahwa mereka kuat. Dan apabila mereka digabungkan dengan Rainbow Shade untuk menjalankan misi, mereka bisa membentuk tim yang sangat kuat dan tak tertandingi.

Kembali ke cerita, Kukkyou yang sedari tadi sibuk dengan makhluk yang menyangkut di dadanya(?) hanya sweatdrop melihat sejenis listrik diantara kedua ketua tersebut.


"Selamat datang di White Bridge's Hall of Fame Mansion Tokyo! Disini adalah tempat dimana regu-regu organisasi White Bridge yang bertugas di Kyoto berdiam jika mereka mendapat tugas di Tokyo! Kebetulan, yang tinggal disini sekarang hanya kami, Flora Radiance. Dan saat mendengar kalian akan datang untuk misi kali ini, kami berusaha menyiapkan pesta selamat datang yang meriah untuk kalian." jelas salah satu anggota Flora Radiance bersurai lavender yang sedang menuntun para gadis Rainbow Shade ke kamar mereka di rumah yang besar itu.

Lavender, pemegang peran pengobat di Flora Radiance. Sesuai namanya, kode nama anggota-anggota Flora Radiance diambil dari nama-nama bunga. Kemampuan mengobat lavender sebanding dengan Tsuki. Kode namanya diambil dari rambutnya yang berwarna lavender.

"Aku tidak tau kalau bangunan ini sebenarnya ada dan berdiri. Keluargamu memang sangat kaya ya, Kukkyou-chan." ucap Tsuki, sedangkan Kukkyou hanya tertawa.

"Daffodil." panggil Aisu pada ketua mereka.

"Ada apa Aisu-chan?" jawab si pirang.

Daffodil, ketua dari regu Flora Radiance. Ia pandai mengatur dan membagi tugas kepada anggota-anggota regunya. Orang tuanya adalah keturunan bangsawan London di Inggris, maka itu warna rambutnya pirang, tidak seperti orang Asia yang kebanyakan warna rambutnya gelap. Kode namanya, Daffodil, diambil dari bunga yang biasanya mekar pada musim ulang tahunnya –musim semi– di London.

"Apa misi kalian kali ini? Aku lupa." tanya Aisu.

"Ternyata Aisu -chan pelupa juga ya." sindir Daffodil.

"Aku hanya tidak peduli. Lagipula, aku hanya ingin tau apakah misi kalian yang kali ini akan berlangsung cepat dan kalian akan segera selesai dan kalian akan kembali ke Kyoto secepatnya." balas Aisu panjang lebar.

"Aku juga berharap begitu. Jadi aku tidak usah melihat muka masammu lagi."

"Syukurlah pemikiran kita sama. Tetapi mungkin aku lebih sudi berpikiran sama dengan seekor monyet daripada denganmu."

Tuh kan, mulai lagi. batin para anggota kedua regu.

"Sudahlah kalian berdua. Kita disini untuk menyelesaikan misi kita masing-masing, bukan untuk berkelahi." ucap seorang gadis bersurai magenta.

Himawari, penganalisis dari Flora Radiance. Walau 'sejenis' dengan Taiyou di regu yang bersaing satu sama lain, ia dan Taiyou sebenarnya dekat. Ia paling benci yang namanya 'keramaian', atau pokoknya apapun yang berhubungan dengan 'berisik'. Maka ini ialah yang biasanya menghentikan pertengkaran antara ketua Rainbow Shade dan Flora Radiance. Kode namanya, Himawari, diambil dari kegunaan biji matahari yang bagus untuk kulit.

"Himawari betul, lebih baik jika kau diam sampai kita sampai di tujuan kita." Daffodil berdecih.

"Kapten." Himawari mulai mengeluarkan aura gelap.

"–ehem, maksudku, kita berdua lebih baik diam." Daffodil hanya pasrah karena tak ingin memperpanjang masalah.

"Hei, bentar lagi kita sampai." ucap seorang gadis kali ini dengan surai merah muda yang sedang menunjuk sebuah pintu yang terlihat elit dan elegan karena dicat putih.

Rose, orang yang paling pintar dan berpengetahuan di Flora Radiance. Jika ia dan Megumi disatukan, tidak diragukan lagi mereka akan mengalahkan Einstein. Ia sangat mahir menghitung dan berpikiran dengan logika. Diam-diam di dalam hatinya, ia menyimpan rasa kepada Himuro Tatsuya. Bahkan sampai iri dengan para anggota Rainbow Shade karena terlalu dekat dengan Himuro. Namun White Bridge tidak membolehkan para anggotanya menjalin hubungan romantis. Ini dikarenakan bisa mengganggu dalam misi-misi mereka dan bisa membahayakan sifat kerahasiaan White Bridge. Kode namanya, Rose, diambil dari warna bunga mawar yang senada dengan warna surainya.

Anggota regu Flora Radiance hanya ada empat orang, tidak seperti Rainbow Shade yang anggotanya ada enam. Ini dikarenakan regu Rainbow Shade adalah regu headmaster's picks, artinya anggota-anggota regu ini dipilih sendiri oleh sang kepala direktur. Dipilihnya berdasarkan interogasi mereka saat masuk ke dalam organisasi–terkecuali untuk Kukkyou. Sedangkan Flora Radiance lahir karena para anggotanya mengenal satu sama lain sebelum mereka masuk dan memutuskan untuk membentuk sebuah regu baru.

Ketika mereka sampai di depan pintu tadi, Rose membuka pintu itu dan menunjukkan isi kamar itu.

Sedangkan pihak Rainbow Shade hanya cengo memelototi ruang itu. Gimana tidak? Kamar itu besarnya memang keterlaluan, sih... Tersedia enam kasur yang rapih berbaring di sudut kamar itu. Lalu ada lemari super besar yang terlihat sangat elegan karena dicat putih sama seperti pintu masuk kamar mereka itu. Di seberangnya ada meja rias yang senada dengan lemari tadi.

'Sungguh mewah' adalah kesan pertama mereka terhadap kamar itu.

"Baiklah, bengongnya cukup sampai sini saja. Kalian bereskan barang-barang kalian dulu. Sehabis itu kalian temui kepala direktur cabang Tokyo. Ia akan memberi tahu segalanya tentang misi kalian kali ini. Lalu nanti makan malam jam 9, kumpul di ruang tengah. Kalian akan dipanggil dan dituntun oleh salah satu maid di rumah ini." ucap Rose. Lalu akhirnya Flora Radiance pun meninggalkan mereka.


TOK TOK TOK

"Masuk."

CKREK

"Permisi. Kami Rainbow Shade, datang dari Kyoto untuk melaksanakan misi." ucap Kukkyou. Perkataan itu adalah kode jika para anggota organisasi White Bridge hendak melaksanakan misi diluar daerah mereka.

"Aku sudah dengar dari Shirohashi-san. Aisu, Kukkyou, Hitori, Tsuki, Taiyou, dan juga Yoru. Benar?" tanya seorang wanita muda yang sedang duduk manis di sebuah kursi besar. Mereka mengangguk.

Ia tersenyum. "Senang bertemu kalian. Aku Hanamiya Ryisha, kepala direktur cabang organisasi White Bridge di Tokyo. Dan aku memanggil kalian disini untuk membahas misi kalian yang akan kalian jalani. Sebelumnya silahkan duduk dulu." Ia menunjuk sebuah sofa besar yang dapat memuat enam orang. Mereka pun hanya mengiyakan dan menurut apa kata sang kepala direktur.

"Kalian sudah dengar tentang sekolah baru kalian, Teiko?" tanyanya.

"Sudah, namun kami belum mengetahui lebih dalam tentang itu." jawab Aisu. Sebagai ketua ialah yang berhak menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan.

"Baiklah. Teiko adalah sekolah yang elit, jadi penjagaannya lumayan ketat. Agar tidak terlihat mencurigakan, kalian akan masuk kesana dengan nama asli kalian masing-masing."

"Eh? Apakah itu tidak apa-apa?" tanya Tsuki.

"Selagi kalian tidak melakukan sesuatu sembarangan semua itu tidak akan apa-apa. Jadi ingatlah untuk selalu berhati-hati dan jangan terbawa apapun yang terjadi di sekitar. Jangan terlalu menjadi pusat perhatian di sekolah. Bertingkahlah seperti kalian anak sekolahan yang normal dan tidak terlibat apapun. Ini juga untuk kebaikan organisasi kita."

"Un, kami mengerti tentang itu." angguk Kukkyou.

"Dan ingat peraturan utama organisasi White Bridge, kalian dilarang menjalin hubungan atau status romantis dengan siapapun diluar organisasi ini."

Mereka mengangguk.

TOK TOK TOK

"Masuklah."

CKREK

Seorang laki-laki sebaya dengan Aisu cs masuk kedalam ruangan itu dan menutup pintu sebelum memberikan sebuah berkas kepada kepala direktur tadi.

"Ini dia, mah. Persis seperti yang kau minta." ujarnya.

"Terima kasih, Makoto." ia tersenyum.

Sejenak sebelum ia meninggalkan ruangan itu, ia mengurungkan niatnya dan bertanya. "Merekalah yang akan melaksanakan misi tentang menyelidiki kekuatan para Generasi Keajaiban?" tanyanya.

Ryisha mengangguk. "Oh ya, Aisu, Kukkyou, Hitori, Tsuki, Taiyou, dan juga Yoru, ini adalah anakku, Hanamiya Makoto. Ayo perkenalkan dirimu dengan benar, Makoto."

"Aku sudah bukan anak kecil lagi, mah." gerutu laki-laki yang dipangil 'Makoto' tadi. "Hanamiya Makoto, atau Bad Boy. Senang bertemu kalian. Jarang-jarang aku bertemu perempuan yang tidak terlihat tergila-gila dengan para ikemen[1] Generasi Keajaiban. Sepertinya kalian akan menyelesaikan misi ini dengan baik." katanya panjang lebar.

Aisu mengangkat alisnya dan menyingkirkan poni yang menghalangi mukanya ke belakang telinganya tanda orang yang terlihat sok. "Aiko Hitomi, Aisu. Shirohashi Megumi, Kukkyou, Daiyama Rachael, Hitori. Mizuno Natsumi, Taiyou. Mizuno Natsuko, Tsuki." Aisu memperkenalkan yang lains atu per satu dengan singkat. "Senang bertemu dirimu juga, Hanamiya-kun. Dan maaf, kami tak serendah itu. Mereka hanya kumpulan orang yang bermain basket dengan bakat berlebihan. Paling tidak itulah informasi yang kudapat."

"Heh. Pemikiranmu boleh juga, kalau bisa jangan diubah. Kalau begitu selamat mengerjakan misimu." ia pun hanya berjalan meninggalkan ruangan itu tanpa pamit ataupun hormat.

"Maafkan anakku ya Aisu, Kukkyou, dan juga yang lain. Terkadang ia tidak mempunyai etika sama sekali. Padahal aku sudah susah payah mendidiknya." kata Ryisha.

"Tidak apa-apa Hanamiya-san, sudah lama rasanya aku tidak mengatakan sesuatu seperti itu." balas Aisu.

"Baiklah, kalau memang begitu semua sampai disini saja. Aku akan memanggil kalian lagi jika ada sesuatu. Kalian boleh pergi melihat-lihat dan beradaptasi dengan kota ini dulu." ucap Ryisha.

"Tunggu. Aku punya pertanyaan." Kukkyou mengangkat tangannya.

"Ada apa, Kukkyou?"

"Bagaimana dengan nama keluargaku? Apa tidak apa-apa dipakai begitu saja?" tanyanya.

"Sudah kubilang tidak akan ada apa-apa. Ayahmu dikenal sebagai pemilik perusahaan White Bridge yang menjual beli rempah-rempah dengan negara-negara penuh kekayaan seperti Thailand dan Indonesia. Dan ia dikenal dengan orang yang punya banyak taktik dalam urusan berbisnis. Jadi tidak akan ada orang yang mengira bahwa keluargamu terlibat dalam semacam organisasi mafia seperti ini." jelas Ryisha.

Kukkyou hanya mengangguk. Dan dengan begitu pun mereka permisi dan meninggalkan ruangan itu.


Hitori's P.O.V

Kita sedang dalam perjalanan kembali ke tempat kami menginap selama di Tokyo dari kantor cabang White Bridge Tokyo. Posisi duduknya adalah di baris kedua dari paling kiri ada Kukkyou yang sedang mendengarkan musik dari telepon genggamnya, Aisu yang sedang membaca sebuah novel, dan aku yang sedang menganggur. Di baris paling belakang ada Taiyou dan Tsuki yang sedang ribut entah tentang apa, lalu disamping mereka ada Yoru yang dengan misteriusnya tahan dengan keributan yang dibuat kedua makhluk di sebelahnya.

Aku menatap keluar jendela, mengabaikan semua keributan yang dibuat rekan sereguku termasuk saat salah satu dari mereka memanggil namaku dan kedengaran meminta tolong. Jujur, aku agak khawatir kami akan memakai nama asli kami.

'Bagaimana jika aku bertemu dengannya, ya? Midorima Shintarou-kun? Tunggu, seharusnya aku lebih memikirkan tentang apakah identitasku akan ketahuan atau tidak… Hahaha, bagaimana mukanya jika ia mengenalku, ya?' batinku. Namun saat aku sedang asik dengan alam bawah sadarku–

DUAGH

–sebuah bantal mendarat secepat kilat di kepalaku dan tekanan itu membuatku terjedot di jendela mobil dengan sangat keras dan tidak elitnya. Jika kepalaku sekeras baja, aku yakin dengan sangat bahwa jendela itu akan pecah berkeping-keping dan kita akan dituntut untuk ganti rugi.

Aku merintis kesakitan sambil mengusap bagian kepalaku yang terjedot. Aku berani bersumpah kalau ini sakitnya keterlaluan.

Aku pun melirik kearah rekan-rekanku untuk menanyakan siapa yang melempar bantal itu dengan sangat kencang dan aku mendapati bahwa Taiyou sedang memasang muka panik.

"Lain kali kalau melempar jangan ke kepalaku atau kurebus kau menjadi sop buntut." ancamku setelah menghela nafas panjang. Dan hanya itulah yang kulakukan, tidak lebih. Sepertinya aku memang sedang senang dengan fantasiku. Buktinya, aku kembali membayangkan wajahnya yang tsundere itu saat aku menuntutnya untuk mengaku bahwa ia merindukanku.

Sedangkan yang lain sepertinya hanya menatapku heran. Namun mereka memutuskan untuk melupakannya dan kembali ke aktivitas yang notabene tidak jelas apa mereka masing-masing.

Namun aku menyingkirkan pikiran-pikiran itu dari otakku yang sempit ini dan tersenyum.

"Hitori, ada apa senyum-senyum seperti itu? Kau terlihat seperti orang bodoh. Tunggu, abaikan yang terakhir, kau kan memang bodoh." tanya Aisu-chan yang duduk di sebelahku sambil mengangkat sebelah alisnya dan menatapku heran.

"Tidak apa-apa Aisu-chan, hanya saja sesuatu yang lucu melintas sekejap di kepalaku. Dan itu sangat dalam, Aisu-chan." jawabku.

Aisu-chan hanya menatapku sebentar sebelum ia menghela nafas. "Oh, begitu. Kita akan berhenti di sebuah supermarket dulu, bersiap-siaplah." dan Aisu-chan kembali ke buku novel yang sedang ia baca.

"Oke kalau begitu!" aku menangguk.

Aku pun memakai tas selempangku di sekitar pundakku dan duduk manis menunggu kita sampai.

Aku mengalihkan pandanganku ke langit berwarna kemerahan yang tertutup gedung-gedung tinggi pencakar langit. Lebih baik aku tidak usah membayang-bayangkan apa yang terjadi. Masa depan memang sangat misterius. Dan saat tadi Taiyou entah bagaimana melempar bantal itu ke kepalaku mungkin tanda bahwa aku hanya harus menyerahkan semua kepada takdir dan melakukan apapun yang aku bisa sekarang, yaitu bersiap-siap untuk apapun yang akan terjadi.

Mobil pun berhenti dan kita semua keluar dan berjalan menuju supermarket yang disebutkan Aisu tadi.


"Dai-chan, cepatlah!" seru wanita bersurai merah muda yang menggembungkan pipinya kesal.

"Iya iya sudah selesai ini. Bisakah kau sabar sedikit, Satsuki?" tanya orang berkulit tan yang dipanggil 'Dai-chan' tadi.

"Kau memakan waktu terlalu banyak, Daiki." kali ini seorang laki-laki bersurai merah angkat bicara.

"Mm, Aka-chin benar. Aku malas dari tadi menunggu Mine-chin." bela seorang tiang listrik–ralat, orang setinggi tiang listrik malas sambil mengunyah sebuah snack.

"Tapi aku harus membelinya! Ini majalah Horikita Mai limited edition yang hanya dijual hari ini saja!" ucap orang berkulit tan tadi.

"Daiki." panggil si rambut merah dengan nada yang sangat mengintimidasi sambil memainkan gunting yang setia bergantung di tangannya dengan mulus.

Si tan hanya menghela nafas tanda menyerah.

"Kalau begitu, ayo pergi." perintah si kepala merah sambil berjalan meninggalkan supermarket itu, diikuti dengan yang lain.

Wanita bersurai merah muda yang sedari tadi hanya ikut dengan mereka para laki-laki mendapati sekumpulan perempuan berambut warna-warni yang sedang bercanda tawa sembari berjalan ke dalam supermarket yang mereka masuki tadi.

'Betapa enaknya, jika ada asisten manajer atau mascot jadi aku tidak sendiri mengurusi orang-orang ini…' pikirnya.

"Satsuki, kau lama." suara mengintimidasi itu terdengar lagi, sontak perempuan tadi mempercepat jalannya dan menggeleng-geleng kepalanya menyingkirkan pikiran tersebut.

'Itu tidak mungkin. Lebih baik aku sendiri daripada berurusan dengan fangirls kelaparan.'


[1] ikemen – cowok cantik/cakep

A/N: AKHIRNYA SELESAAAAAAI~~~!

Maaf update ngaret! Dari bulan kemaren tugas numpuk, trus sempet kehabisan ide, tambah lagi internetnya mati! Padahal sebenernya ini udah selesai dari bulan lalu! Maafkan akuuuuuuuu! /bungkuk/

Dimaafin ya? :') /kausiapa/

Makasih banget buat yang udah review, author seneng pake banget banget banget pas bacanya! Bikin semangat, sumfah! Walau ngga sempet bales semua karena internet keburu mati, tapi makasiiih! X')

Sekian!