A/N: Halo semua! :3
Noctem here! Dan Noctem membawakan chapter 2 dari "Feathered Wedding Dress"! Yuhuuuu! *tebar confetti*
Mungkin bagi para readers, updatenya terlalu cepat, ya? Soalnya, FWD udah ada di folder dokumen Noctem sejak tahun 2013 lalu, dan Noctem masih dalam proses ngelanjutin FWD di rumah. Jadi mungkin untuk beberapa chapter ke depan, Noctem bakal rada lama updatenya(salahkan kampus! *banting kamus Kanji*) =w=
Oh, daripada Noctem ngomel terus, mending langsung dinikmati aja chapter kedua ini! Terima kasih banyak buat yang sudah mereview di chapter 1! Balasan review sudah Noctem kirimkan ke inbox masing-masing! :3
Disclaimer: Dynasty Warriors punyanya Koei. Noctem cuma punya Liu Rin dan Liu Lianhua(OC Noctem yang lain, dia anak perempuan Liu Bei juga dan Lianhua adalah kakaknya Rin) :3
Dua remaja itu tiba di istana tidak lama kemudian. Liu Bei langsung panik ketika melihat putrinya pulang dalam gendongan sang sepupu, demikian pula ayah Zhang Bao, Zhang Fei.
"Rin! Zhang Bao! Apa yang terjadi?" tanya Liu Bei. "Rin, kau tidak apa-apa, nak?"
"Bao! Apa yang kau lakukan pada sepupumu, hah?" tanya Zhang Fei dengan suaranya yang menggelegar.
"Ayah dan paman, maafkan aku. Aku mengajak sepupu Rin ke barak pelatihan tentara dan mengajaknya belajar ilmu perang," Zhang Bao mengaku. "Sepupu Rin pingsan karena pukulan yang kuarahkan ke dadanya."
"Zhang Bao! Berani benar kau melakukan itu!" Liu Bei segera menyongsong putrinya setelah sang putri turun dari punggung Zhang Bao. "Rin, kau tidak apa-apa? Mana yang sakit? Kita harus segera periksakan dirimu pada tabib istana! Ayo, nak."
"Anak bodoh! Kau sadar apa yang sudah kau lakukan!" Zhang Fei langsung memukul anak laki-lakinya hingga terjatuh. "Kakak tertua, mohon maafkan anakku! Aku sebagai ayahnya akan bertanggung jawab dan akan mendisiplinkannya lebih keras lagi!"
"Ayah… paman Fei… sepupu Zhang tidak salah, kok…" Rin mencoba membela sepupunya, tetapi sang ayah sudah keburu menyeretnya masuk ke dalam istana. "Ayah…"
"Sudah, nak. Ayah harus pastikan kalau kau tidak terluka. Mengenai sepupumu, biarkan ayahnya yang mengurus."
"Ayah… tapi…"
Liu Bei tidak berkata apa-apa lagi dan membawa putrinya ke tabib istana untuk diperiksa.
"Tuan putri hanya mengalami sedikit memar, Yang Mulia," jelas tabib setelah selesai memeriksa Rin. "Hanya memar di perut dan dada, tetapi untuk bagian dalam tidak ada masalah. Memarnya pun ringan, jadi hamba yakin jika diobati secara teratur, memarnya akan hilang tanpa bekas."
Liu Bei menghembuskan nafas lega. "Syukurlah… aku pikir kau terluka parah…"
"Ayah jangan berlebihan. Sepupu Zhang memukulku dengan sangat pelan, jadi aku tidak akan kenapa-napa."
"Yang menurut sepupumu pelan bisa saja sangat keras untukmu, putriku," Liu Bei mengusap kepala Rin dengan lembut. "Baiklah, sepertinya tidak ada masalah pada tubuhmu. Aku akan katakan pada Zhang Fei untuk tidak menghukum Zhang Bao terlalu keras. Kau tahu kan tabiat pamanmu yang itu seperti apa."
Rin mengangguk. Pamannya yang satu itu mengerikan kalau sudah marah atau mabuk.
"Kau istirahat saja di sini. Tabib, tolong awasi Rin selama aku pergi."
"Baik, Yang Mulia."
Liu Bei bergegas keluar dari kamar. Dia harus cepat-cepat mencegah Zhang Fei sebelum adiknya itu melakukan hal-hal yang tidak diinginkan.
"Adik, boleh aku masuk?"
"Shan!" Rin segera berdiri untuk menyambut kakak laki-lakinya, Liu Shan. "Apa yang membawamu ke sini?"
"Ah, aku dengar kau terluka, jadi aku datang untuk memastikan. Apa kau baik-baik saja?"
"Iya… aku tidak apa-apa. Ayah terlalu khawatir padaku," Rin melambaikan tangannya sekilas pada tabib dan tabib itu langsung undur diri.
"Baguslah kalau kau baik-baik saja. Baik ayah, aku, ataupun Lianhua khawatir jika kau sampai terluka," ujar Liu Shan dengan senyum khasnya. "Ah, bicara tentang Lianhua, aku dengar dia akan pulang dari ekspedisi militernya hari ini."
"Benarkah?" Raut wajah Rin berubah cerah.
"Mm-hm. Kalau Lianhua sudah pulang, kau bisa minta dia mengajarimu ilmu perang," Liu Shan berkata dengan kilat nakal di matanya. "Tentu saja ayah tidak akan tahu soal ini. Lianhua juga sudah setuju untuk melatihmu."
"Bohong, ah! Atau jangan-jangan… kalian sudah merencanakannya dari awal?"
"Mm-hm. Jika untuk 'metode pertahanan diri', kurasa ayah tidak akan komplain."
Rin terkekeh. "Boleh juga."
Chengdu Inner Palace, Liu Bei's private residence, night
"Rin, kau yakin akan belajar ilmu perang?"
"Tentu saja, ayah! Lianhua dan Shan akan membantuku—lagipula, ini untuk pertahanan diri, kan?"
"Tentu saja, ayah tahu itu. Tapi…"
"Ayolah, ayah… aku kan tidak bisa terus-terusan mengandalkan kalian untuk melindungiku. Lagipula, aku sudah cukup besar untuk melatih diriku sendiri. Jadi… aku harap ayah mengizinkanku belajar bersama Lianhua dan Shan!"
"Hmm… baiklah kalau begitu. Tapi ingat, ini hanya untuk pertahanan diri saja. Ayah tidak akan mengizinkanmu turun ke medan perang, Rin. Ingat itu."
"Baiklah, ayah! Terima kasih banyak!"
"Rin! Kau akan mulai latihannya besok. Ayah mau kau ekstra hati-hati, nak!"
"Iya, ayah! Tenang saja!"
Rin memberi hormat sebelum meninggalkan kamar pribadi sang ayah. Liu Bei menghela nafas sambil mengurut dahinya, pusing karena kelakuan putrinya yang paling muda itu.
"Kakak, kau sekarang benar-benar terlihat seperti seorang ayah."
Liu Bei tertawa pelan sambil menoleh ke arah sosok pria berjanggut lebat yang memasuki kamar tidur pribadinya. "Ah, Guan Yu."
"Malam ini bulannya terlihat indah. Mari kita minum sambil mengenang masa lalu."
"Ya, itu ide yang bagus."
Guan Yu mengambil tempat duduk di hadapan sang kakak tertua dan mulai menuang arak ke cawan.
"Mengurus anak yang tengah memasuki masa pubertas itu sulit juga," Liu Bei membuka pembicaraan. "Bagaimana dengan Yinping? Bukankah dia seumuran dengan Rin?"
"Ya, mengurus anak yang tengah pubertas memang sulit. Apalagi anak gadis. Aku mengerti perasaanmu, kak," ucap Guan Yu sambil menyesap arak di cawannya. "Yinping juga terkadang seperti itu."
"Hmm… aku tidak mengerti kenapa anak gadis zaman sekarang malah ingin belajar ilmu perang. Seharusnya mereka berada di rumah, di tempat yang aman. Bukan menampakkan diri mereka pada bahaya."
"Haha. Kakak hanya belum mengerti jalan pikiran Rin saja," Guan Yu tertawa. "Aku rasa dia ingin mengikuti jejak kakak sebagai seorang ksatria."
Liu Bei menghela nafas. "Aku benar-benar tidak mengerti jalan pikiran anak-anak perempuanku. Dulu, ketika Lianhua mengutarakan niatnya untuk belajar ilmu perang, aku tidak bisa menolaknya. Dan sekarang, setelah Rin besar… dia juga ingin belajar ilmu perang. Kenapa mereka tidak belajar seni strategi saja dengan Kongming? Mereka kan tidak perlu maju ke garis depan."
"Kakak, seharusnya kau bangga karena kedua putrimu memiliki rasa nasionalisme. Mereka ingin membela tanah kelahiran mereka. Jika kau tanya padaku, aku bangga pada Yinping," angguk Guan Yu. "Tentu saja, sebagai orang tua, aku juga ingin melihat anak-anakku hidup dengan damai."
"Apa yang kau katakan ada benarnya juga, Guan Yu," Liu Bei menyesap arak di cawannya dan tersenyum. "Untuk saat ini, aku rasa lebih baik jika aku berpikir seperti itu."
Next day, Chengdu Inner Palace, training ground
Lianhua sudah menunggu di tempat latihan, lengkap dengan senjata dan pakaian latihannya. Dia ditemani oleh sang suami, Fa Zheng, yang sedang leyeh-leyeh di dalam paviliun sambil membaca beberapa gulungan berisi rencana militer selanjutnya.
"Hei, Lianhua. Kenapa adikmu belum datang?" tanya Fa Zheng yang kelihatannya masih mengantuk. "Kalau tahu begini, lebih baik aku tidur lagi saja tadi."
"Tuan Xiaozhi, aku kan tidak memaksa anda untuk ikut. Kalau anda mau kembali ke kamar, silakan saja," Lianhua menyabetkan riding crops hitam yang dipegangnya ke pilar paviliun. "Aku tidak keberatan jika anda tidak melihat latihan ini."
"Hei, hei… jangan sembarangan menyabet benda seperti itu, bahaya."
"Oh, tapi aku hanya menyabetkannya ke pilar," Lianhua tersenyum. "Aku kan tidak menyabetkannya ke tubuh anda, tuan Xiaozhi."
"Hoo? Hari masih pagi dan kau berani sekali menggodaku pagi-pagi begini, sayang."
"Hmph, anda terlalu percaya diri."
"E-ehem!"
Lianhua menoleh ke arah suara. "Oh, kau sudah datang, Rin. Dan penampilanmu ini…"
"Maaf, aku telat karena harus memotong rambutku terlebih dahulu," Rin meraba rambutnya yang sudah dipotong pendek. "Aku tidak ingin rambutku menghalangi ketika aku berlatih."
"Hmm, cocok juga," Lianhua tersenyum dan mengangkat riding crops miliknya. "Baiklah, Rin. Sebelum kita mulai berlatih, aku ingin tahu kau memakai senjata apa."
"Ah, tadi bibi Yueying menyarankanku untuk menggunakan ini," Rin menunjukkan sebilah chai. "Katanya ini ringan dan mudah digunakan, cocok untuk pemula sepertiku."
"Chai, hm? Bukan pilihan yang buruk," Lianhua menepuk-nepukkan riding crops ke telapak tangan kirinya. "Sebelum kita masuk ke latihan yang sebenarnya, aku ingin kau melakukan dasar yang paling dasar."
"Hah? Apa itu?"
Seketika tatapan Lianhua berubah sadis. "Latihan untuk memperkuat tubuhmu, adikku yang manis! Sekarang, lari sepuluh putaran! Cepat!"
"Ba-baik!"
Liu Bei datang bersama Zhang Bao ketika sesi latihan pagi itu dimulai.
"Lianhua, jangan terlalu keras ketika melatih adikmu," ujar Liu Bei. "Ayah tidak ingin kalau adikmu itu sampai terluka."
"Aduh, ayah. Luka itu hal biasa bagi seorang ksatria. Aku juga dulu penuh luka sehabis berlatih."
"Pokoknya—jangan sampai adikmu terluka. Ayah tidak mau tahu," tegas Liu Bei. "Kalau ayah sampai melihat adikmu terluka, maka—hmm? Apakah Rin memotong rambutnya?"
"Ding dong! Betul sekali."
"Ke—kenapa…" Liu Bei mendadak pusing.
"Paman terlalu khawatir pada sepupu Rin! Menurutku, sepupu Rin kelihatan… manis…" ucap Zhang Bao dengan suara yang semakin kecil.
"Ooh, Zhang Bao. Aku sudah dengar dari Shan, katanya kau yang akan menjadi calon suami Rin," Lianhua mendekati Zhang Bao dan mengamatinya dari atas sampai bawah. "Tapi… heh, kau masih anak-anak buatku."
"A… anak-anak!?" Zhang Bao terkejut, wajahnya mendadak berubah merah. "Sepupu Lianhua! Aku bukan anak-anak lagi! Aku adalah ksatria dari dinasti Shu sekarang!"
"Ya, ya, aku tahu. Reaksimu itu sungguh berlebihan," Lianhua menempelkan riding crops-nya di dada sang sepupu, dan perlahan turun ke bawah hingga berhenti di sabuknya. "Aku tidak yakin kalau kau mampu membahagiakan Rin di ranjang…"
GUBRAK!
Rin langsung terpeleset begitu mendengar perkataan sang kakak. Zhang Bao apa lagi, wajahnya semakin merah.
"Lianhua! Jaga sikapmu," geram Liu Bei. "Kau ini putri dinasti Shu, hargai kode moral yang sudah diajarkan padamu sejak kecil."
"Ayah, aku hanya bercanda… tapi aku rasa aku sedikit kelewatan. Maafkan aku, sepupu Zhang," Lianhua membungkuk di hadapan Liu Bei dan Zhang Bao. "Rin, kenapa kau malah tidur-tiduran di tanah begitu? Berdiri dan ulangi lagi! Sepuluh putaran! Cepat!"
"Ba-baik!"
Rin segera bangkit dan berlari mengelilingi lapangan sebanyak sepuluh putaran lagi.
Chengdu Inner Palace, later that evening
Rin tengah menyendiri di taman dekat tempat latihan sambil mengelap keringat yang turun dari dahinya. Kakaknya terlihat cukup puas dengan hasil latihan perdana ini, dan berjanji akan segera mengajari Rin hal-hal lain mengenai ilmu perang.
"Rin!"
"Ah, Ziang!" Rin tersenyum ketika melihat sang sepupu datang menghampirinya.
"Bagaimana latihanmu tadi?" Zhang Bao langsung duduk di samping Rin.
"Sangat melelahkan! Lianhua tidak tanggung-tanggung ketika melatihku," Rin tertawa. "Tapi, aku harap aku bisa menjadi semakin kuat… dan ketika saat itu tiba, aku akan menjadi kekuatan bagimu, Ziang."
"Hehe… aku menantikan itu, Rin," Zhang Bao tersenyum dan menepuk kepala Rin dengan lembut. "Tapi… sungguh disayangkan karena kau memotong rambutmu. Padahal aku sangat menyukainya."
"Oh, ini… aku sudah memikirkan soal ini semalaman, tetapi aku tetap harus memotong rambutku agar tidak menghalangi pandangan ketika aku sedang berlatih. Tapi… jika kau menyukainya, aku akan memanjangkannya lagi untukmu."
"Tidak perlu. Seperti ini pun kau terlihat… manis," Zhang Bao cepat-cepat mengalihkan pandangannya ke arah kolam ikan. "Ah, iya. Ada yang ingin kuberikan padamu."
Rin menatap tangan kanan sang sepupu yang terjulur ke arahnya. Zhang Bao membuka genggamannya dan menunjukkan sebuah pita berwarna hijau muda.
"Pita?"
"Tunggu… ini dibeginikan…" Zhang Bao mengikatkan pita itu di rambut Rin. "Sempurna. Ehm… pas sekali untukmu… untung tadi aku bertemu Yinping di pasar…"
Rin meraba pita yang baru saja dipasangkan oleh Zhang Bao. "Ziang…"
"Anggap saja itu ucapan selamat dariku… ehm… setidaknya aku ingin kau tetap terlihat manis meskipun kau berada di medan perang… eh, aku ini bicara apa sih…" Zhang Bao gugup sekali, dia tidak berani menatap Rin. "P-pokoknya, anggap saja itu hadiah dariku."
Rin tersenyum, dia memeluk lengan sepupunya yang kekar dan menyandarkan kepalanya di bahu sang sepupu. "Terima kasih, Ziang…"
"Eh… uh… hm, ya, sama-sama."
Dari balik dinding, terlihat ada tiga pasang mata sedang mengamati mereka. Pemilik tiga pasang mata itu adalah Guan Xing, Guan Yinping, dan Lianhua.
"Oh, jadi ini alasan kenapa Zhang Bao menolak ketika kuajak pergi memancing," ucap Guan Xing pelan.
"Kelihatannya mereka dekat sekali! Xing, kau dengar tadi mereka saling memanggil nama masing-masing?" tanya Yinping antusias.
"Fuh… untuk standar anak-anak, tekniknya boleh juga," angguk Lianhua. "Menurutku, dia tetap harus melakukan yang lebih dari itu, sih…"
"Nona Lianhua, ssh," Guan Xing memberi isyarat agar Lianhua memelankan suaranya. "Nanti kita bisa ketahuan."
"Ah, aku sudah tidak berminat untuk mengintip," Lianhua memutar tubuhnya dan berjalan menjauh. "Lebih baik aku menemani tuan Xiaozhi."
"Xing, kita juga lebih baik latihan saja, yuk!" ajak Yinping. "Apa serunya melihat nona Rin dengan Zhang Bao berduaan?"
"Yinping, kau masih kecil, jadi belum mengerti. Tunggulah sebentar lagi."
Tetapi Yinping sulit diajak kompromi. Dengan mudah dia menggendong Guan Xing di pundaknya dan membawanya pergi dari situ. "Sekarang kita latihan! Kita tidak boleh malas, nanti kita tidak bisa sehebat ayah!"
"Oi, Yinping…!"
-TO BE CONTINUED-
