A/N: Halo all, Noctem here! :3

Sekarang Noctem bawain chapter 3 dari Feathered Wedding Dress! Iyeeeey! *syukuran, tebar-tebar koin emas*

Chapter 3 ini agak panjang, dan Noctem minta maaf kalau ada beberapa adegan yang seperti sinetron Orz padahal Noctem sama sekali gak berniat bikinnya kayak sinetron, suer! *sujud-sujud*

Untuk bagian Battle of Fancheng, Noctem ambil referensi dari gamenya, dan sedikit dari novelnya. Jadi... maafkan kalau abal... Orz

Ah, sudahlah! Daripada Noctem ngoceh terus, mending langsung dinikmati saja! :3

Disclaimer: Dynasty Warriors milik Koei, dan Romance of The Three Kingdoms milik Luo Guanzhong. Noctem cuma punya Liu Rin dan Liu Lianhua. :3


Half a year later.

"Ooi, Rin!"

"Ziang!" Rin tersenyum begitu melihat tunangannya. "Kau benar-benar datang."

"Tentu saja, aku kan sudah janji," Zhang Bao tersenyum lebar, senyum yang menjadi ciri khasnya. "Kita pergi?"

"Un!"

Hari itu, mereka janji untuk pergi ke bukit di dekat istana. Sebenarnya, Zhang Bao sudah janji beberapa hari yang lalu, namun tugasnya sedikit menumpuk dan itu membuat janjinya sedikit tertunda.

"Pegang tanganku," ujar sang sepupu sebelum Rin menaiki kuda. "Akan kubantu kau menaiki kudanya."

Rin mengangguk dan menggenggam tangan Zhang Bao erat. Setelah selesai menaikkan Rin ke atas kuda, Zhang Bao pun ikut menaiki kuda yang sama.

"E-eh… Ziang?"

"Ya? Ada apa, Rin?"

"A-aku pikir… kita akan naik kuda yang berbeda…" Rin menundukkan kepalanya.

"Eh… uhh… kau tidak suka naik kuda bersamaku? Ka-kalau begitu… biar aku ambil kuda yang lain."

"Eeh… b-bukan, bukan begitu…" Rin cepat-cepat menggelengkan kepalanya. "A-aku hanya gugup… a-aku tidak keberatan naik kuda bersamamu… mm…"

'Oh, Rin manis sekali ketika tersipu malu seperti itu,' Zhang Bao mendeham pelan. "Ka-kalau begitu… kita berangkat saja sekarang."

"I-iya…"

Zhang Bao menarik tali kekang kuda dan kuda berbulu kecoklatan itu langsung berjalan pelan meninggalkan halaman istana.

"R-Rin, kenapa?"

"Eh? Apa?"

"Tidak… habisnya, kau diam saja sejak kita meninggalkan halaman istana," Zhang Bao tersenyum, kali ini lebih lembut. "Aku pikir, kau tidak suka jalan-jalan denganku… jadi…"

"T-tidak, aku suka kok!" bantah Rin. "Sebenarnya… aku sudah menunggu-nunggu saat ini… tapi, kau selalu sibuk hingga terpaksa menunda janjimu. A-aku senang karena akhirnya kau memenuhi janjimu…"

"Ah—ehm, baguslah kalau kau merasa senang… ehehe," Zhang Bao langsung malu-malu kucing. "Ah, Rin… bagaimana kalau kita pergi ke pasar terlebih dahulu?"

"Eh? Pasar?"

"Iya. Itu tempat paling ramai di kerajaan. Ada banyak toko, pedagang… kau akan tahu ketika aku membawamu ke sana. Bagaimana?"

"Mm… baiklah kalau begitu."

"Oke kalau begitu… tujuan pertama kita, pasar!"

Kuda yang dikendalikan Zhang Bao perlahan mengarah menuju ke pasar. Rin yang belum pernah melihat pasar nampak takjub dengan keramaian yang mulai menyambut mereka sepanjang perjalanan.

"Aku tidak pernah tahu kalau tempat ini ramai sekali," ucap Rin tak lama kemudian. "Orang-orang ini… mereka kelihatan bahagia…"

"Tentu saja mereka bahagia. Ayahmu menjunjung tinggi keadilan dan sangat mementingkan rakyatnya, maka dari itu mereka bahagia menjadi bagian dari Shu."

Zhang Bao menghentikan kudanya tepat di depan pintu masuk pasar. "Kita tidak bisa menggunakan kuda di dalam, ayo turun."

Rin mengangguk dan turun dari kuda. Zhang Bao menggenggam tangan gadis itu dan mereka berdua masuk ke pasar.

"Ramainya… bahkan istana pun tidak seramai ini," Rin tercengang melihat orang-orang yang sibuk berlalu lalang di pasar. "Ah, ada toko yang menjual pakaian! Ziang, kita lihat sebentar, yuk."

"Baiklah."

Dua remaja itu berjalan menuju toko pakaian yang dimaksud.

"Selamat datang, selamat datang," sambut pemilik toko, seorang wanita setengah baya. "Oh, tuan putri Liu! Suatu kehormatan bagi saya, pemilik toko ini, karena anda berkunjung kemari."

"Terima kasih. Aku mau lihat-lihat dulu," Rin menyeleksi beberapa lembar pakaian yang dipajang di depan toko. Tidak lama kemudian, matanya tertambat pada sepotong pakaian tidur pria berwarna hijau muda. "Ah, aku ambil yang itu. Ada yang ukurannya lebih besar lagi, tidak?"

"Ada, tuan putri. Sebentar, saya ambilkan."

Wanita pemilik toko itu masuk ke dalam tokonya. Beberapa menit kemudian, beliau kembali lagi sambil membawa pesanan Rin. "Ini pakaian yang anda minta, tuan putri."

"Terima kasih. Aku ambil yang ini dan ini," Rin memberikan dua keping koin emas dan wanita itu langsung membungkus belanjaan Rin.

"Terima kasih banyak, tuan putri. Silakan datang lagi."

Rin melambai sekilas ke arah wanita itu sebelum pergi bersama Zhang Bao.

"Wow, aku sedikit tidak yakin ini pertama kalinya kau ke pasar," ucap pemuda itu setelah mereka meninggalkan toko.

"Sungguh, ini pertama kalinya aku ke pasar. Tapi entah mengapa, aku seperti sudah terbiasa," Rin menyerahkan salah satu bungkusan yang dipegangnya kepada Zhang Bao. "Ini untukmu."

"Ini… baju yang tadi?"

"Iya. Aku ingin memberikan sesuatu untukmu, tapi aku tidak tahu hendak memberikan apa… aku harap kau suka…"

Zhang Bao menyadari rona merah yang bersemu di pipi Rin. "Ah, ehm… terima kasih… ehehe… kau baik sekali, Rin. Aku beruntung bisa memiliki calon istri sepertimu."

DEG!

"Ziang…"

"Ah—ahaha… p-pokoknya, terima kasih, ya!" Zhang Bao mendadak salah tingkah. "A-aku pergi ke kios mantou itu dulu, ya! Kau tunggu saja di sini, aku akan segera kembali!"

Rin tidak sempat menahan Zhang Bao karena pemuda itu sudah lari duluan ke kios mantou yang tadi ditunjuknya. Tidak lama kemudian, dia kembali dengan dua buah mantou di tangannya.

"I-ini untukmu," Zhang Bao menyerahkan salah satu mantou yang dipegangnya pada Rin. "Paling enak dimakan selagi panas. Anggap saja sebagai balasan untuk baju ini… y-yah… ini, ambillah!"

"Terima kasih," Rin menerima pemberian itu dengan senyum. "Aw, panas…"

"Karena itu berbeda dari yang sering kau makan di istana, awalnya aku sedikit ragu kalau kau akan menyukainya," ujar Zhang Bao kemudian. "Tapi aku pernah melihat paman memakannya—jadi aku pikir kau juga pasti akan suka."

"Mm…" Rin menggigit mantou itu. "Enak…"

"Benarkah? Haha, dugaanku tepat! Kalau begitu, aku akan membawakannya untukmu setiap hari!"

"Kalau kau memberiku ini setiap hari, aku bisa gemuk nanti… oh…" Rin bengong sejenak ketika bertatap muka dengan sepupunya. "Pfft… hihi…"

"Ng? Ada apa, Rin?"

Rin mengeluarkan saputangan sutra miliknya dan mengelap ujung bibir Zhang Bao yang belepotan daging. "Makannya pelan-pelan saja, Ziang."

Wajah Zhang Bao spontan merona merah. "A-aah… m-maaf, cara makanku kasar sekali… u-um… karena aku terbiasa berada di luar istana, jadi… begitulah. P-pasti kedengarannya seperti alasan, t-tapi aku mengatakan yang sebenarnya… uhm… p-pasti aku memalukan sekali…"

"Hmm… tidak, kok. Kan hanya aku yang melihat," Rin tersenyum manis. "Aku senang karena bisa mengenalmu lebih dalam lagi. Dan aku berharap bisa melihatmu beraksi di medan perang."

"Rin…"

DUKK!

"Ah…" Rin menabrak seseorang dan menjatuhkan mantou serta bungkusannya. "Mohon maaf… aku sedang melamun…"

"Kurang ajar! Berani-beraninya kau menabrakku, hah!?" Orang yang ditabrak Rin langsung menginjak bungkusan baju serta mantou yang jatuh tadi. "Sekarang, kau harus membayar karena sudah berani menabrakku!"

Rin masih terbelalak ketika orang itu menginjak-injak belanjaannya. Tidak lama kemudian, Rin merasa tangannya ditarik dengan kasar.

"Hoo, kau cantik sekali. Kulitmu juga halus… dari rumah bordil mana kau berasal, manis?" tanya orang itu yang ternyata adalah seorang pria. Wajahnya dekat sekali dengan Rin, gadis itu bisa mencium bau arak yang menyengat. "Bagaimana kalau kau pergi menemaniku minum? Kalau kau melakukannya, aku akan melupakan semua ini~"

PLAK!

"Hentikan semua ini," Zhang Bao menampar tangan pria itu dan berdiri di depan Rin. "Kau tidak tahu siapa yang baru saja kau lecehkan, tua bangka!"

"Bocah brengsek! Kau mengajakku berkelahi!?" Pria itu nampaknya semakin marah. "Berikan gadis itu padaku, kalau tidak…!"

"Kalau tidak, kau mau apa? Menghajarku? Heh," Zhang Bao mendengus melecehkan. "Kau yang akan dapat kesulitan karena sudah berani melecehkan putri tuan Liu Bei!"

Dengan segera pasar menjadi hening. Obrolan mendadak berubah menjadi bisik-bisik.

"Putri tuan Liu Bei, katanya?"

"Ooh, aku ingat! Gadis itu putri kedua tuan Liu Bei! Tapi aku dengar, putri keduanya sangat jarang tampil di depan umum…"

"Wah, orang itu kurang ajar sekali, berani bersikap seperti itu pada putri tuan Liu Bei…"

"Pasti orang itu akan dihukum berat. Berani sekali dia menyamakan putri kerajaan Shu dengan gadis rumah bordil…"

Para pengawal yang berjaga di pasar segera datang karena mendengar keributan itu. "Ada keributan apa, tuan Zhang Bao?"

"Tangkap pemabuk itu. Dia sudah bersikap lancang terhadap putri tuan Liu Bei," perintah Zhang Bao sambil menunjuk pria pemabuk di hadapannya. "Dia sudah mengatai putri kedua kerajaan Shu sebagai gadis rumah bordil."

Pengawal-pengawal itu segera menangkap si pria. "Sungguh lancang! Beraninya kau mengatai putri terhormat kerajaan Shu sebagai gadis rumah bordil, hah!"

"A-aku tidak tahu! Aku sama sekali tidak tahu kalau dia putri tuan Liu Bei!"

"Sudah, jangan banyak alasan! Ayo ikut!"

Dengan dibawanya si pria oleh para pengawal, keributan di pasar pun usai. Orang-orang kembali pada kegiatan mereka semula.

"Baiklah, keributan di sini selesai, lebih baik kita segera pergi ke— oi, Rin! Kau kenapa?" Zhang Bao panik melihat sepupunya tiba-tiba saja menangis. "Rin? Apa kau takut karena kejadian tadi?"

"Eh…? A-aku tidak tahu… tiba-tiba saja… air mataku mengalir keluar…" Rin mencoba menghapus air matanya, namun semakin Rin mencoba menghapusnya, air matanya semakin tak terbendung. "Aku… maafkan aku… mantou yang kau belikan jadi sia-sia… uuh…"

"Sudahlah, itu bukan salahmu…" Zhang Bao mengambil bungkusan milik Rin dan menepuknya sedikit supaya tidak kotor. "Ini baju yang kau beli tadi. Memangnya, ini untuk siapa?"

"Aku bermaksud untuk memberikannya pada ayah… tapi aku rasa sudah tidak bisa lagi…"

"A-aah… tenang saja! Jika dicuci, pasti bisa bersih seperti semula! Kau bisa memberikannya pada paman setelah selesai dicuci," Zhang Bao mengusap air mata yang turun dari pelupuk mata Rin dengan ibu jarinya. "Jadi… jangan menangis lagi, ya?"

Rin tersenyum kecil dan mengangguk.

"Baiklah, ayo kita pergi ke tujuan utama kita untuk hari ini."

Rin kembali mengangguk dan dua remaja itu pergi menuju tujuan awal mereka; bukit di belakang istana.


"Whooo, anginnya kencang sekali di sini!" seru Zhang Bao ketika mereka sudah sampai di puncak bukit. "Coba kau lihat, Rin! Pemandangan dari sini indah sekali, lho!"

Rin melompat turun dari kuda dan menatap Chengdu dari puncak bukit. "Ya… indah sekali…"

Rin duduk di karpet rerumputan, matanya masih menikmati pemandangan seluruh kota dari puncak bukit. Chengdu adalah ibu kota kerajaan Shu, terletak di provinsi Yi. Ayahnya mengambil daerah ini dari kerabatnya, Liu Zhang, dan menjadikannya sebagai basis pergerakan untuk melawan Wei dan merebut dataran-dataran Pusat.

"Rin? Ada apa?" Zhang Bao pun ikut duduk di samping sepupunya. "Sepertinya kau sedang memikirkan sesuatu."

"Tidakkah kau pikir… akan sangat menyenangkan jika kita bisa terus begini selamanya," ucap Rin sambil memandang jauh ke hutan yang membatasi Chengdu. "Seandainya kehidupan seperti ini bisa terus berlanjut… tanpa perlu adanya peperangan yang menyedihkan…"

Angin kembali berhembus. Zhang Bao sedikit terpana melihat sepupunya; wajah cantik itu terlihat sedih, namun di waktu yang sama terlihat dewasa dan anggun.

"Rin… kau tidak perlu khawatir soal itu. Aku janji akan mewujudkan mimpi paman untuk mengembalikan kejayaan dinasti Han!" Zhang Bao meraih tangan Rin, menggenggamnya erat. "Hingga mimpi itu terwujud, kau tidak perlu sedih… tidak perlu khawatir… aku akan melindungimu! Aku akan selalu ada di sisimu!"

"Terima kasih, Ziang… aku bersyukur bisa menjadi pasanganmu," Rin tersenyum lembut dan balas menggenggam tangan Zhang Bao. "Tanganmu besar dan hangat… aku sangat menyukainya."

"Ta—tanganmu… lembut…" Mendadak wajah Zhang Bao jadi merah lagi. "Tangan ini… yang akan merawat dan membesarkan anak-anak kita kelak… tangan yang penuh cinta…"

"Ziang…"

Mata mereka bertemu. Mendadak wajah mereka berdua memanas, detak jantung pun tak bisa dikendalikan lagi.

"Rin… aku mencintaimu… aku bersumpah demi Tian, cintaku padamu tak akan pudar meski ribuan tahun berlalu."

"Ziang… a—aku…"

"Ssh. Aku mengerti, Rin… aku mengerti perasaanmu."

Bibir mereka berdua bertemu, bertaut dalam sebuah ciuman yang menyegel ikatan cinta di antara mereka.

"Ziang…" Rin menatap Zhang Bao dengan lembut. "Berjanjilah padaku kalau kau akan selalu kembali hidup-hidup… jangan pernah tinggalkan aku sendiri…"

"Tentu saja, Rin! Aku akan selalu kembali padamu… aku akan hidup untukmu, dan untuk anak-anak kita kelak…"

"Ziang…"

"Eh-hem!"

Dua sejoli itu terkejut mendengar suara dehaman dari belakang mereka. "T—tuan Shiyuan!?"

Pang Tong mendelik nakal ke arah dua sejoli itu. "Aku datang kemari untuk menyegarkan pikiranku dan apa yang kudapat? Putri tuan Liu Bei dan Zhang Ziang tengah bermesraan, hehe."

"Shiyuan, jangan menggoda mereka seperti itu," Xu Shu muncul dari balik pepohonan. "Mereka kan masih muda, jadi wajar saja kalau mereka butuh waktu untuk bermesraan."

"B—bahkan tuan Yuanzhi juga!?" Tidak terkira malunya Zhang Bao dan Rin karena kepergok tengah bermesraan oleh dua orang ahli strategi di Shu.

"Oh, ayolah~ tidak perlu malu-malu seperti itu," Pang Tong tertawa. "Sewaktu aku masih muda dulu, aku juga ingin bisa bermesraan seperti kalian berdua."

"Maaf, kami tidak bermaksud mengganggu waktu kalian berdua," Xu Shu tersenyum ke arah dua sejoli itu. "Kami kemari karena nona Lianhua bilang kalian ada di sini."

'Kakak…!' Rin merasa kepalanya berasap saat itu juga.

"Ada apa, tuan Yuanzhi? Apakah ada sesuatu yang terjadi?" tanya Zhang Bao serius.

"Lebih tepatnya, ini darurat," ujar Pang Tong. "Kita mendapat utusan darurat yang mengatakan kalau jenderal Guan Yu terperangkap di Fancheng. Kita akan pergi ke sana sebagai bantuan setelah semuanya siap."

"Kita tidak punya waktu, Zhang Bao. Kita harus bersiap sekarang juga," Xu Shu menatap Rin dengan menyesal. "Aku mohon maaf, nona Rin. Tetapi aku takut kalau waktumu bersama Zhang Bao untuk hari ini tidaklah lama…"

"Rin…" Zhang Bao kelihatan khawatir melihat Rin yang tidak bicara sepatah kata pun setelah mendengar kabar itu. "Rin, kau tidak perlu sedih… aku akan kembali padamu, aku janji…"

"A-aku juga akan ikut!"

Pang Tong, Xu Shu, dan Zhang Bao terkejut mendengar ucapan yang keluar dari bibir sang putri.

"Apa yang kau katakan, Rin? Kau tidak bisa ikut bersama kami, ini terlalu berbahaya untukmu!" larang Zhang Bao.

"Dia benar, putri. Kita akan menghadapi aliansi Wei dan Wu, ini tidak akan mudah," jelas Pang Tong. "Apalagi kau baru saja memulai latihanmu..."

"Putri… tuan Liu Bei melarangmu untuk turun ke medan perang, kan?" ucap Xu Shu dengan hati-hati. "Jika kau ikut, kami takut tuan Liu Bei akan murka dan menghukummu…"

"Tapi aku tidak bisa dan tidak mau diam saja di sini! Jenderal Guan Yu juga pamanku, aku akan ikut menolongnya!" seru Rin, suaranya terdengar mantap. "Aku mohon, biarkan aku ikut! Jika ayahku mengetahui soal ini, aku siap menerima hukuman darinya!"

Ketiga lelaki itu saling bertukar pandang.


Fancheng, Jing Province.

"Ayah, persiapan sudah selesai semua."

Sang Dewa Perang, Guan Yu, mengangguk. "Hm. Kita akan menerobos pengepungan ini dan pergi ke Chengdu. Pertempuran ini akan sulit, tapi kalian pasti bisa melewatinya!"

"Ya, ayah!" Empat orang remaja mengangguk mendengar perkataan Guan Yu. Mereka adalah anak-anak sang Dewa Perang; Guan Ping, Guan Xing, Guan Suo, dan Guan Yinping.

"Fuh, untunglah aku tidak terlambat."

"Hm? Xu Shu!" Guan Yu nampak terkejut melihat salah satu dari empat ahli strategi Shu tersebut. "Apa yang kau lakukan di sini?"

"Aku datang dengan sebuah rencana, tuan," jawab Xu Shu. "Dengan rencana ini, aku akan menyelamatkan tuan dari bahaya."

"Tuan Xu Shu, apa yang harus kami lakukan?" tanya Yinping.

"Hm. Seperti katamu tadi, musuh pasti akan menggunakan hujan ini untuk keuntungan mereka," angguk Xu Shu. "Kita akan menghentikan mereka sebelum mereka sempat menjalankan rencana mereka. Aku punya beberapa permintaan selama pertempuran nanti, maka dari itu—"

"Jenderal! Kami menemukan seorang penyusup di antara suplai yang dibawa penasihat militer!"

Dua orang prajurit datang sambil membawa si penyusup yang masih mengenakan tudung hitamnya. Begitu tudung si penyusup dibuka, terkejutlah semua orang yang ada di sana.

"Putri Liu Rin!?"

"Eh… hehe…" Rin cengar-cengir dengan terpaksa. "Ha—halo…"

"Kenapa anda bisa ada di sini!? Aku yakin kalau aku sudah menyuruh Zhang Bao untuk membawa anda pulang ke istana!" seru Xu Shu, wajahnya masih terlihat kaget.

"Ma—maaf… di tengah perjalanan pulang, aku terpaksa memukul tengkuk sepupu Zhang… begitu dia pingsan, aku segera menunggang kuda ke barak tentara dan bersembunyi di dalam suplai yang anda bawa, tuan Xu Shu…"

"Bagaimana bisa ini terjadi…" Xu Shu mendadak pusing karena tingkah laku putri sang junjungan. "Dan sekarang, kita tidak mungkin memulangkan anda ke Chengdu, karena itu akan menarik perhatian musuh…"

"A—aku tidak akan mengganggu, aku janji! Aku datang karena aku ingin menyelamatkan paman Guan Yu, jadi tolong izinkan aku! Aku tidak akan membebani kalian, aku akan berusaha sekuat tenagaku! Jadi, tolong…"

"Hm! Keberanian anda sungguh luar biasa, tuan putri!" puji Guan Yu. "Anda datang kemari untuk menyelamatkan paman anda yang sudah tua ini… anda benar-benar putri yang berbakti. Yinping, tuan putri akan pergi ke medan perang bersamamu dan biarkan dia belajar darimu."

"Baik, ayah!" sahut Yinping antusias.

Seketika wajah Rin berubah cerah, dia membungkuk dalam di hadapan Guan Yu. "Terima kasih, paman! Terima kasih banyak!"

"Tuan, mengapa anda mengizinkan tuan putri untuk tinggal? Tuan Liu Bei pasti akan menghukum anda dan tuan putri jika beliau mengetahui hal ini," ucap Xu Shu.

"Tidakkah kau lihat, Xu Shu? Tuan putri mewarisi jiwa keadilan dan hati yang baik seperti kakak pertama. Apa salahnya membiarkan tuan putri membantu? Di saat kita sedang butuh tambahan orang, situasi seperti ini haruslah dianggap menguntungkan."

"Iya, tapi… ah, baiklah," Xu Shu tahu kalau dia tidak mungkin menang di saat seperti ini. Pria itu kemudian menatap Rin. "Tuan putri, aku ingin anda berhati-hati di luar sana. Jika anda merasa tidak sanggup, segeralah lari. Aku akan mengawalmu."

"Aku tidak akan lari, tapi terima kasih untuk nasihatnya, tuan Xu Shu."

Xu Shu kemudian menatap Yinping. "Aku percayakan tuan putri padamu."

"Serahkan padaku, tuan Xu Shu!"

"Baiklah," Xu Shu menatap ke arah Guan Yu, yang sudah mengangkat senjatanya tinggi-tinggi.

"Maju! Kita akan pertahankan daerah ini demi kehormatan kakak pertama!"

Segera setelah suara sang Dewa Perang menggelegar, para tentara Shu langsung maju menerjang musuh dengan berani.

"Yinping dan tuan putri, kalian pergi ke garnisun utara dan rebut tempat itu," perintah Xu Shu. Dua gadis itu mengangguk dan mengarahkan kuda mereka menuju ke garnisun utara.

"Nona Rin, ini pertama kalinya anda pergi ke medan perang?" tanya Yinping ketika kuda mereka berlari bersebelahan.

"Iya! Aku tidak dapat mendeskripsikan perasaanku; aku merasa tegang dan senang di saat yang sama!" balas Rin. "Panggil aku 'Rin' saja, kita kan seumuran!"

"Baiklah! Sepertinya aku mulai menyukaimu, Rin!" balas Yinping sambil tersenyum. "Kau bisa andalkan aku untuk membantumu!"

"Terima kasih! Kalau begitu, bagaimana kalau kita bersumpah saudara begitu perang ini selesai?" usul Rin.

"Ide yang bagus! Seperti halnya ayah kita, kita pun akan melakukan hal yang sama! Dan sepertinya menyenangkan kalau punya saudara perempuan!"

"Sepertinya kita sepikiran!" sahut Rin. "Yinping, itu dia garnisun utara!"

"Baik! Ayo kita rebut tempat itu!"

Yinping dan Rin langsung menerobos masuk ke dalam garnisun dan membunuh letnan serta jenderal yang berjaga di sana. Setelah itu, Yinping menyuruh seorang tentara Shu untuk memberitahukan bahwa garnisun utara sudah berhasil direbut.

"Bagus sekali," puji Xu Shu yang datang ke garnisun utara. Di sana sudah disiapkan beberapa tangga kayu yang diangkut oleh beberapa pekerja kasar. "Bawa tangga-tangga ini ke perbukitan di sebelah utara. Dari sana, kita bisa mengambil jalan pintas menuju pintu tanggul air. Kalahkan jenderal yang menjaga pintu tanggul air, dan rencana mereka tidak akan terlaksana."

"Baik, tuan Xu Shu! Kami berdua akan menjalankan tugas ini."

Yinping dan Rin mengawal para pekerja kasar yang membawa tangga menuju ke perbukitan di sebelah utara. Para pekerja bergegas memasang tangga begitu tiba di lokasi dan setelah tangga terpasang, Yinping dan Rin segera memanjat tangga itu untuk mengalahkan jenderal yang menjaga pintu tanggul air.

Yang menjaga pintu tanggul air adalah Pang De, jenderal Cao Cao yang berasal dari kota yang sama seperti Ma Chao, salah satu jenderal Liu Bei.

"Rin, orang itu bukan lawan yang mudah, tapi kita pasti bisa melakukannya!" ucap Yinping sebelum mereka mendekati pintu tanggul air. "Orang itu adalah jenderal Pang De, dia pernah berduel melawan ayah. Kekuatan, keberanian, serta pengalamannya di medan perang tidak boleh diremehkan. Tapi, selama kita menyatukan kekuatan kita, pasti kita bisa mengalahkannya!"

Rin sedikit gugup dan takut mendengar penjelasan Yinping soal Pang De, tapi dia mengangguk dan menguatkan genggamannya pada chai yang menjadi senjatanya. "Baiklah, aku siap!"

Mendengar ada musuh mendekati pintu tanggul air, Pang De menyiapkan tentaranya. Namun veteran itu terkejut begitu melihat dua orang gadis datang menaiki kuda dan menyerang ke arahnya secara bersamaan.

"Wanita? Tunggu… mereka hanya anak-anak," gumam Pang De, namun gumamannya terdengar oleh Yinping.

"Kami bukan anak-anak! Kami adalah ksatria dari dinasti Shu!" seru Yinping. "Namaku Guan Yinping, putri dari Dewa Perang, Guan Yu!"

"Dan namaku adalah Liu Rin, putri kedua kaisar dinasti Shu, Liu Bei," seru Rin sambil mengacungkan senjatanya ke arah Pang De. "Kami akan mewujudkan mimpi ayah kami untuk mengembalikan kejayaan dinasti Han! Kau kaki tangan pemberontak, turun dari kudamu dan menyerahlah sekarang juga!"

"Tugasku adalah menjaga pintu tanggul air hingga rencana gubernur dapat dijalankan. Oleh karena itu, aku tidak bisa membiarkan kalian berada di sini lebih lama lagi," Pang De menyiapkan senjatanya. "Siapa dari kalian yang akan maju terlebih dahulu?"

Mulanya, Yinping hendak menjawab tantangan Pang De, namun Rin menghalanginya.

"Aku, putri dinasti Shu dan keturunan langsung dari dinasti Han, akan menghadapimu! Bersiaplah!"

"Hm. Kalau begitu, Pang De dari Xi Liang akan menghadapimu dengan senang hati."

"Rin!" seru Yinping begitu melihat sepupunya langsung menyerang ke arah Pang De. "Rin, jangan sampai lengah!"

"Aku mengerti! Tolong awasi belakangku, Yinping!"

Yinping mengangguk siap dan menghabisi tentara Wei yang mencoba mengganggu duel antara Rin dan Pang De.

Dua ksatria itu berduel diiringi rintik hujan yang semakin deras dan suara petir yang menggelegar.

'Hmm… gerakannya masih agak amatir, namun wanita ini memiliki potensi yang cemerlang,' pikir sang veteran selagi menahan dan membalas serangan Rin. Namun dia juga menyadari kalau penantangnya ini mulai kelelahan karena tidak terbiasa berduel dalam waktu yang lama.

"Kau punya keberanian dan potensi, aku mengakui itu," seru Pang De. "Tapi kembalilah jika kau sudah lebih kuat, tuan putri."

Dengan cepat Pang De menjatuhkan Rin dari kudanya, dan melukainya di bagian pinggang.

"RIN!" Yinping berteriak histeris melihat sang sepupu jatuh dari kudanya. "Rin! Rin! Bertahanlah, Rin! Kalian pemberontak! Kalian tidak akan menyentuh sepupuku seujung jari pun!"

Yinping menghabisi tentara Pang De dan langsung menyerang ke arah jenderal veteran itu. Rin, yang tergolek tidak berdaya di tanah, hanya bisa menatap nanar ke arah sepupunya yang tengah berduel.

"Yin… ping…" desah Rin sambil menahan darah yang mengalir keluar dari pinggangnya. "Yin… ping… maaf… aku…"

Wangi tanah yang basah mengiringi Rin masuk ke dalam kegelapan.


-TO BE CONTINUED-