A/N: Yoooo! Noctem berhasil melewati webeh dan membawakan chapter selanjutnya dari Feathered Wedding Dress! Iyeeey! *ditimpukin readers*
Oh iya, sehubungan dengan banyaknya project yang Noctem lagi kerjain, kemungkinan Noctem akan selesaikan FWD dulu. Jadi kalau ada alur yang maksa dan typo, mohon ikhlaskanlah Orz
Ya sudah, daripada Noctem kebanyakan nyerocos, mending langsung dinikmati saja chapter ini! :3
Disclaimer: Dynasty Warriors milik Koei. Zhang Bao, Liu Bei, Guan Yu, Guan Yinping, Guan Xing, Guan Ping, Guan Suo, dan Pang De milik Tuhan. Liu Rin, Liu Lianhua, dan plot milik Noctem :3
Jingzhou, few days after the battle.
"Putriku yang malang."
Liu Bei yang tengah bertandang ke Jingzhou untuk mengucapkan selamat pada Guan Yu, langsung diserbu oleh rasa panik dan khawatir begitu mendengar putrinya terluka di medan perang. Cepat-cepat dia pergi ke kediaman gubernur dan melihat putri kecilnya terbaring di ranjang dengan perban membalut pinggangnya.
"Apa yang aku takutkan sudah terjadi. Putriku, dengan ilmu perangnya yang masih seumur jagung, nekat pergi ke medan perang dan dia melukai dirinya sendiri. Apa gunaku sebagai seorang ayah kalau aku tidak bisa menjaganya?" ratap Liu Bei di samping Rin yang masih belum sadarkan diri. "Ah, Tian! Tolong kasihani putri kecilku, dia baru saja tumbuh besar dan melihat dunia ini dengan mata kepalanya sendiri."
"Kakak pertama, tuan putri pasti sembuh," ucap Guan Yu meyakinkan sang kakak. "Yinping dengan cepat mengalahkan Pang De dan membawa tuan putri ke kemah utama. Pertolongan pertama pun sudah diberikan, dan dengan perawatan yang rutin, tuan putri pasti selamat."
"Aku tidak bisa berbuat apa-apa selain mengucapkan terima kasih, Guan Yu," Liu Bei tersenyum sedih ke arah adik keduanya. "Jika bukan karena Yinping, putri kecilku pasti sudah lebih dulu meninggalkan orang tuanya."
"Yang anakku lakukan tidaklah begitu berarti dibanding jasa tuan putri. Yinping mengatakan kalau tuan putri dengan berani menantang Pang De dan melemahkannya, memberi anakku kesempatan untuk menyerang."
"Anakmu sudah menyelamatkan nyawa anakku, bagaimana bisa kau bilang itu tidak berarti, Guan Yu?" ucap Liu Bei seraya menggenggam tangan Guan Yu dengan kuat. "Untuk itu, aku bermaksud menghadiahi Yinping dengan dua ribu gulung kain sutera Xichuan. Aku ingin kau menerimanya sebagai ayah Yinping."
"Dengan segala kerendahan hati, aku sangat berterima kasih atas kebaikan kakak pertama terhadap keluargaku. Yinping akan kuberitahu soal ini."
Di saat itu, seorang pelayan memberi hormat di depan pintu. "Putra jenderal Zhang Fei datang untuk menjenguk tuan putri."
"Zhang Bao? Suruh dia masuk."
Pelayan itu undur diri dan tidak lama kemudian masuklah Zhang Bao, yang langsung bersujud di hadapan kedua pamannya.
"Paman, aku betul-betul minta maaf! Aku telah lalai menjaga sepupuku sendiri!" ucapnya, kedengarannya menyesal sekali. "Seandainya waktu itu aku bisa lebih keras padanya, semua ini tidak akan terjadi! Padahal, waktu itu tuan Xu Shu sudah menitipkan sepupu Rin kepadaku, tapi aku tidak menduga kalau dia akan membuatku pingsan! Aku sungguh tidak peka! Sekarang, hal buruk ini terjadi dan aku sudah membuat paman sedih… aku sungguh tidak berguna! Aku benar-benar minta maaf!"
"Zhang Bao, angkatlah kepalamu," Liu Bei langsung menyongsong keponakannya. "Semua sudah terjadi, tidak ada gunanya menyesali yang telah lalu. Lebih baik kalau sekarang kita mendoakan kesembuhan Rin."
"Paman… jika paman ingin memberi hukuman, hukumlah aku. Sepupu Rin tidak salah apa-apa, akulah yang bertanggung jawab atas semua ini."
"Tidak, tidak. Aku tidak akan menghukum siapapun. Hal ini terjadi juga karena kesalahanku, aku terlalu mengekang Rin hingga akhirnya dia memberontak. Kau telah melakukan yang terbaik untuk menjaga Rin dan aku sangat menghargai itu, keponakanku."
"Paman… terima kasih."
Kemudian datanglah pelayan lain yang mengatakan kalau tabib yang merawat Rin sudah datang. Liu Bei, Guan Yu, dan Zhang Bao keluar dari kamar dan membiarkan tabib tersebut mengobati sang putri.
"Ayah…" Yinping muncul sambil membawa nampan berisi makanan. "Apa Rin sudah bangun?"
"Tuan putri masih belum sadarkan diri, nak," jawab sang ayah. "Sekarang tabib sedang merawatnya."
"Apakah lukanya begitu dalam? Padahal, aku sudah sengaja meminta ini dari dapur…" Yinping terlihat sedih.
"Terima kasih karena sudah mengkhawatirkan Rin, Yinping. Untuk saat ini, kita hanya bisa berdoa dan berharap," Liu Bei tersenyum ke arah keponakannya. "Sekarang, lebih baik kau istirahat saja."
Yinping pun pergi dari depan pintu kamar dengan kepala tertunduk.
"Kalau begitu, aku juga mohon pamit," Zhang Bao memberi hormat di hadapan kedua pamannya. "Aku akan kembali lagi jika sepupu Rin sudah sadar."
"Ya. Terima kasih karena sudah datang, Zhang Bao."
Zhang Bao pergi dari kediaman gubernur dengan perasaan yang tidak menentu. Pemuda itu menaiki kudanya dan bersiap untuk pergi ke Zitong. Mungkin ayahnya akan berbaik hati untuk membiarkannya tinggal sementara, selain itu Zitong adalah tempat terdekat dengan Jingzhou.
"Jenderal Zhang Bao?"
Zhang Bao menoleh ketika ada seseorang memanggilnya, dan ternyata itu adalah seorang pengantar pesan. "Hm? Ada apa?"
"Ini dari Yang Mulia," Pengantar pesan itu mengangkat sebuah kotak kayu kecil. "Beliau berpesan agar jenderal menggunakan ini sebaik mungkin."
Zhang Bao menerima kotak tersebut. "Terima kasih atas kerja kerasmu."
Pengantar pesan itu memberi hormat dan pergi.
"Padahal aku kan tidak melakukan apa-apa…" gumam Zhang Bao sambil membuka kotak itu. Isinya adalah dua ribu keping koin emas dan seribu lima ratus keping koin perak. "Aku tidak pantas mendapatkan ini."
Ketika Zhang Bao menutup kotak itu, tiba-tiba sesuatu terpikirkan olehnya.
"Iya, benar juga… aku bisa memakai uang ini untuk itu… aku dengar pasar di Xuzhou menjual yang terbaik, tetapi Xuzhou adalah daerah di bawah kekuasaan Cao Cao," gumam Zhang Bao lagi. "Ah, sekarang atau tidak sama sekali, kan?"
Kemudian, dengan tekad yang bulat ditambah segenap kenekatan anak muda, Zhang Bao menarik tali kekang kudanya dan pergi ke Xuzhou.
Jingzhou, two days later.
Rin mendapatkan kembali kesadarannya kemarin, dan pelayan yang menyaksikan itu bergegas memberitahu semua orang di Jingzhou. Liu Bei gembira sekali mendengar kabar ini dan bersiap untuk membawa Rin pulang ke Chengdu, namun Guan Yu mengusulkan agar Rin tetap tinggal di Jingzhou.
"Adik kedua, anakku sekarang sudah membuka matanya, untuk apa dia tetap tinggal di Jingzhou? Akan lebih baik kalau aku membawanya pulang ke Chengdu dan melanjutkan perawatannya di sana," ujar Liu Bei begitu mendengar usulan Guan Yu.
"Kakak, luka yang diderita tuan putri masih belum sembuh sepenuhnya. Membawanya dalam keadaan seperti ini akan sangat berbahaya. Percayakan tuan putri padaku dan biarkan tuan putri melanjutkan perawatannya di Jingzhou. Jika tuan putri sudah benar-benar sembuh, aku akan menyuruh anakku Ping untuk mengantarkannya ke Chengdu."
Mendengar usulan sang adik yang terdengar cukup masuk akal dan meyakinkan, Liu Bei akhirnya setuju meninggalkan Rin dalam asuhan Guan Yu, sementara Liu Bei sendiri pulang ke Chengdu bersama dengan beberapa orang tentara elitnya. Guan Yu mengantar Liu Bei sampai ke pelabuhan Jingzhou.
"Ayah, selamat datang kembali," sambut anak-anaknya begitu Guan Yu kembali dari mengantar sang kakak.
"Hm. Bagaimana keadaan tuan putri?"
"Menurut pelayan yang merawatnya, tuan putri baik-baik saja."
"Itu berita bagus. Lalu, apa di antara kalian ada yang sudah menjenguk tuan putri?"
Anak-anaknya berpandangan satu sama lain, lalu menggeleng. Tetapi sebelum sang ayah sempat menceramahi mereka, Guan Suo berkata, "Aku akan pergi ke kediaman tuan putri sore ini, ayah. Aku juga sudah membeli beberapa buah-buahan dan bunga untuk tuan putri."
"Hm! Bagus, Suo. Tuan putri itu masih sepupu kalian, ayah berharap kalian bersedia menemani dan menghiburnya supaya tuan putri tidak bersedih."
"Baik, ayah."
Guan Yu menyuruh Guan Ping untuk membawa kembali kudanya –Truwelu Merah- ke kandang para kuda dan menugaskan Guan Xing untuk berjaga di pintu gerbang Jingzhou. Guan Suo undur diri untuk bersiap-siap mengunjungi sang sepupu, sementara Yinping undur diri untuk menemui guru literaturnya.
"Berhenti! Siapa di sana?" tahan penjaga gerbang begitu Guan Suo tiba di kediaman sepupunya.
"Ini aku, Guan Suo. Aku datang untuk menjenguk tuan putri."
"Oh, jenderal Guan Suo. Kami akan segera membuka gerbangnya."
Pintu gerbang pun dibuka tak lama kemudian dan Guan Suo segera masuk ke dalam. Setelah memberitahu tujuan kedatangannya kepada kepala pelayan, Guan Suo segera diantar menuju ke kamar pribadi Rin.
"Adik sepupu, bagaimana keadaanmu?"
"Oh, kakak Suo!" Rin kelihatan senang sekali ketika menerima Guan Suo. "Aku merasa lebih baik. Ayo, duduk."
Guan Suo duduk di kursi kecil dekat ranjang dan Rin menyuruh pelayannya untuk membuatkan teh.
"Aku tidak percaya kalau aku masih hidup," ujar Rin, membuka pembicaraan. "Aku pikir aku akan mati saat itu juga, ketika jenderal Pang De menjatuhkanku dari kuda dan melukaiku."
"Adik, kejadian yang lalu tidak perlu dibahas lagi. Ayah sudah memenggal kepala pemberontak itu, kita sudah memenangkan Jingzhou, apa lagi yang perlu dikhawatirkan? Lebih baik kita membicarakan sesuatu yang menyenangkan," Guan Suo mengulurkan beberapa kuntum bunga lili putih yang didapatnya di pasar. "Ini. Aku harap bunga ini bisa membuatmu lebih bersemangat."
"Terima kasih," Rin menerima bunga lili itu dengan senang hati. Tapi kemudian, dia terlihat sedih.
"Adik, ada apa? Mengapa kau tiba-tiba bersedih?" tanya Guan Suo.
Rin menggeleng pelan.
"Adik, jika kau ada masalah, ceritakanlah. Aku akan mendengarkan ceritamu dan membantumu," ucap Guan Suo. "Jika kau kelihatan sedih seperti itu, maka tidak ada artinya aku datang kemari. Padahal, aku datang kemari kan untuk menghiburmu supaya kau tidak sedih."
"Kau benar… maafkan aku, kakak," Rin tersenyum tipis.
"Jadi… apa yang membuatmu sedih?"
"Aku rindu… pada sepupu Zhang," jawab Rin. "Aku tidak mendengar kabarnya sama sekali, dan menurut pengantar pesan yang kukirim ke Chengdu, sepupu Zhang tidak ada di sana. Aku khawatir padanya… mungkinkah ada pertempuran di suatu tempat, dan sepupu Zhang jadi salah satu jenderal yang memimpin?"
"Menurut mata-mata di Luoyang, Cao Cao tidak sedang merencanakan apapun. Begitu pula di Shu, tidak ada perintah khusus dari kaisar. Tenangkan dirimu, adik. Mungkin saja sepupu Zhang sedang pergi ke kota di selatan."
"Jika benar begitu adanya… aku harap dia baik-baik saja di perjalanan."
Suasana kembali cair berkat kedatangan pelayan yang membawa teh. Guan Suo dan Rin mengenang kembali masa lalu mereka, ketika mereka masih anak-anak yang senang bermain dan tidak peduli dengan konflik yang terjadi di tanah kelahiran tercinta.
"Masih ingatkah ketika kita bermain petak umpet di istana Xinye, adik? Aku dan saudara-saudaraku mencarimu kemana-mana dan menemukanmu terjebak di dalam sebuah gentong," kenang Guan Suo sambil tertawa. "Karena kami masih kecil, tangan kami tidak sanggup meraihmu dan kau pun mulai menangis. Akhirnya paman Zhang Fei datang dan mengeluarkanmu dari dalam gentong."
"Iya, aku masih ingat," Rin tersenyum geli. "Sehabis itu, aku dimarahi ayah dan dilarang bermain keluar lagi. Tetapi, ibu datang dan membelaku."
"Hahaha… ternyata, kita semua nakal sekali waktu itu," Guan Suo tersenyum dan menyesap tehnya. "Aku juga masih ingat ketika kau mencoba memanjat pohon, adik. Kau melihat kakak Ping duduk di atas pohon dan kau ingin menirunya."
"Ah, itu memalukan sekali, kakak," Rona merah jambu tipis menyapu wajah Rin. "Sebelum sampai ke tempat kakak Ping, aku terus-menerus terjatuh dan menangis. Ayah marah sekali begitu tahu aku memanjat-manjat pohon."
"Masa-masa itu adalah masa terindah," angguk Guan Suo. "Yang aku tidak habis pikir, kakak sepupu bisa berubah seperti itu setelah menikah dengan tuan Fa Zheng, padahal dulu kakak sepupu pendiam sekali, ya?"
"Iya, ya… karena kakak bilang begitu, aku juga jadi heran," ujar Rin sambil menyesap tehnya. "Dulu kak Lianhua benar-benar pendiam… selain itu, kakakku juga pemalu dan penurut, tidak pernah keluar rumah untuk bermain dengan kita. Aku tidak tahu apa yang merubahnya setelah dia menikah dengan tuan Fa Zheng… maksudku, kak Lianhua yang pendiam dan pemalu itu, tiba-tiba berubah jadi pemberani dan cerewet! Tapi aku tetap takut karena kak Lianhua sadis sekali…"
"Hahaha, benar juga. Tatapan matanya itu menyeramkan."
Ketika mereka sedang asyik mengobrol, tiba-tiba terdengar suara ringkikan kuda dan ribut-ribut di halaman depan, disusul dengan suara orang berlari di lorong.
"Siapa itu? Kenapa berisik sekali?" tanya Rin pada pelayan yang berjaga di depan kamarnya.
"Oh, itu… itu putra jenderal Zhang Fei, Tuan Putri…"
"Zia—ehm, maksudku… sepupu Zhang? Biarkan dia masuk."
Pelayan yang berjaga di luar mengangguk dan segera membuka pintu kamar. Zhang Bao masuk dengan tergesa-gesa, tangannya membawa dua gulung kain sutera berwarna merah dan emas.
"Rin! Aku sudah dapat kainnya! Sekarang kau mau membuatnya seperti apa?" tanya Zhang Bao tiba-tiba. "Apapun modelnya, katakan saja padaku!"
"Hah?" Rin menatap Zhang Bao heran.
Guan Suo tertawa. "Sepupuku, bicaralah dengan pelan. Kasihan adik, dia kelihatan bingung sekali."
"Eh… oh, iya, baiklah… ehem," Zhang Bao mendeham pelan. "Begini, dua hari yang lalu aku pergi mengelilingi pasar di Xuzhou untuk mencari kain yang bagus. Kemudian aku mendapat dua gulung kain ini! Masih ada beberapa gulung lagi di kereta, tentu saja…"
"Iya, lalu untuk apa kain sutera ini?"
"Untuk apa? Tentu saja untuk membuat gaun pengantinmu, Rin!"
Guan Suo bersiul. Rin merasa kalau wajahnya memerah saat itu juga.
"Jadi, katakan padaku. Kau ingin membuatnya seperti apa?" tanya Zhang Bao lagi.
"A—aku tidak tahu… ya, seperti biasanya…" jawab Rin gugup.
"Seperti biasanya? Tanpa hiasan apapun?"
"Hiasan… hiasan seperti apa?"
Zhang Bao nampak berpikir, kemudian dia menjentikkan jarinya. "Bagaimana kalau dihiasi dengan bulu?"
Lagi, Rin menatap Zhang Bao dengan heran. "Bulu…?"
"Iya, bulu. Seperti… bulu burung merak, misalnya?"
"Sepupu Zhang, jangan ngawur. Mana mungkin gaun pengantin dihiasi dengan bulu burung merak?" tanya Rin sangsi.
"Kau percaya saja padaku, hasilnya pasti bagus! Baiklah, aku pulang sekarang, ya!"
"Tunggu, sepupu Zhang…!" Rin memanggil Zhang Bao, namun pemuda itu sudah lari duluan meninggalkan kamar. "Apa ini akan berjalan lancar…?"
"Pasti berjalan dengan lancar. Kau tenang saja, adik. Meski sepupu Zhang serampangan seperti itu, dia punya rasa tanggung jawab yang tinggi."
"Hmm… kurasa kau benar, kakak…"
-TO BE CONTINUED-
