Maaf baru update _ _)a ada berbagai macam alasan sih yang bikin saya update-nya lama… /plak. Oke inilah cerita selanjutnya…

Btw, makasih atas favorit, review, dll ya *bow*


Jangan Kembali Lagi

"Baiklah anak-anak, kalian boleh pulang. Kegiatan klub selesai," seru sensei. Anak-anak itu pun bersorak girang karena kegiatan klub komputer mereka telah usai. Beberapa di antaranya menghela nafas lega. Beberapa juga ada yang mengeluh kelelahan.

Gadis berambut blonde itu tertawa puas setelah mendengarkan cerita salah satu temannya yang berambut teal. Sedangkan yang ditertawakan hanya merengut—itu justru membuat gadis di sebelah kirinya tertawa lebih puas. Gadis yang berambut teal hanya menatapnya dengan tatapan mengapa—kau—tertawa—puas.

"Ma—maaf—pfftt—habis foto-fotomu itu betul-betul menggelitik perutku! Aku geli," tawanya mulai mereda.

"Lucu, Rin," gadis berambut teal itu mendengus kesal. Wajahnya menjadi merah padam.

"Maaf Miku!" seru Rin pada Miku yang masih memalingkan wajahnya kesal.

"Jangan bertengkar seperti itu," gadis berambut pink berusaha menengahi.

"Ngomong-ngomong, bagaimana dengan foto hasil editan milikmu, Luka?" sepasang manik sapphire menatap Luka.

"Biasa saja."

"Milikmu pasti bagus," Rin menggembungkan kedua pipinya.

"Ah, tidak juga—" langkah Luka terhenti. Seperti berusaha mengingat sesuatu yang penting.

"Ada apa?" Tanya Rin.

"Luka?" Miku ikut-ikutan bertanya. Seketika Luka menepuk keningnya.

"Astaga! Aku baru ingat! Flashdisk-ku tertinggal di dalam ruang klub!" seru Luka terkejut."Aku bisa kena marah… Ada tugas presentasi di dalamnya—dan harus dipresentasikan besok!"

"Ya ampun! Mana kita sudah sampai di gerbang pintu sekolah! Aku juga ada kerja kelompok sore ini… Maaf Luka, aku tak bisa menemanimu…," Rin menunduk. Di depan juga ada beberapa teman Rin yang memanggilnya untuk kerja kelompok.

"Miku, mau temani aku ke lantai 3?" Tanya Luka ragu-ragu.

"Maaf… Aku juga ada les bimbingan belajar sore ini… Dan sepertinya aku sudah terlambat…," Miku menunduk.

"Ya sudah, aku sendirian saja… Maaf aku menganggu aktivitas kalian! Kalian duluan saja!" Luka berlari menuju koridor dan menaiki tangga dengan cepat.

"Miku… aku merasa ada sesuatu yang tak beres bila Luka sendirian…," gumam Rin.

"Sebenarnya aku juga… Tapi, aku harus buru-buru sekarang… Aduh, aku bingung!" desah Miku.

"Rin-chan! Jangan lama-lama! Aku akan mengikuti les setelah kerja kelompok! Kita tak punya banyak waktu!" seru seseorang.

"Maaf, Yukari! Kalian duluan saja! Aku sudah tahu alamatmu di mana! Aku menyusul Luka!" Rin berlari."Baiklah… jangan lama-lama, ya!"

"Ah, Rin—tunggu!" Miku juga menyusul Rin.


Akhirnya Luka sampai di depan ruangan klub komputer. Nafasnya tersengal-sengal setelah berlari menaiki tangga sampai lantai 3 di sekolahnya yang besar ini.

"Ugh… gelap sekali…," gumamnya setelah melangkah ke dalam ruangan tersebut. Luka terpaksa meraba-raba dinding untuk menemukan saklarnya. Dan… ah! Ini!

"Fyuh… sekarang tinggal mencari flashdisk milikku…," Luka segera berjalan menuju salah satu meja komputer yang bertuliskan namanya.

"Ah! Ini dia!" Luka mengambil flashdisk berwarna soft pink-nya dan menaruhnya di dalam tas. Kemudian, ia setengah berlari keluar dari ruangan itu dan mulai menulusuri koridor yang gelap. Namun, ada sesuatu yang menarik perhatiannya.

Ruangan apa itu?

Dilihatnya pintu ruangan itu dengan seksama. Tampak kotor, kumuh, serta rapuh.

"Eng…?" dilihatnya tulisan 'Ruang Kesenian' di atas pintu kayu itu. Luka sangat penasaran. Ia mencoba memasuki ruangan gelap itu.

Krit…

Pintu itu sudah terbuka. Gelap. Luka memutar bola matanya ke arah lukisan paling besar di dalam ruangan itu. Tak terlihat jelas karena di dalamnya gelap dan saklar lampu sudah tak berfungsi lagi. Oke, Luka kemari hanya ingin mengintip—tak lebih. Jadi ia memutuskan untuk pergi saja dari situ.

Luka mulai berjalan dan mulai melangkahkan kakinya di anak tangga pertama.

Krit…

Luka menoleh ke belakang. Ah, mungkin suara pintu tertiup angin… Luka berusaha meyakinkan dirinya sendiri. Ia pun berjalan lagi—dan sampai di anak tangga ke-enam dan—

BRAK!

Luka sangat terkejut dengan bunyi suara tadi. Ia yakin, itu pasti dari arah sana. Seketika tubuhnya kelu untuk digerakkan—seolah waktu berhenti. Wajahnya memucat.

.

.

Tak ada angin yang berhembus.

.

.

Dengan kaki gemetaran, ia melangkah lagi dan kini ia sudah sampai di anak tangga kedelapan—

DUK!

"KYAAAA!"

Teriakan.

Benturan.

Darah…


Nafas dua orang itu terengah-rengah dan akhirnya sampai—ah, tunggu?

"LU—LUKA!"

Gadis berambut blonde mendongak ke atas. Matanya membulat. Oh, Tuhan rasanya ingin pingsan ketika—

…melihat sosok di sana berdiri tegak. Dan seringaian kejinya terukir di wajah hancurnya yang berlumuran darah. Matanya yang juling—serta mulutnya yang sedikit sobek. Lehernya yang patah membuatnya tak bisa meluruskan kepalanya.

"Jangan kembali lagi…"


Hide and Seek

Tik… Tik… Tik…

Detik terus bergeser dan kini sudah menunjukan jam 10 malam. Seorang gadis kecil membetulkan posisi duduknya berkali-kali di sofa—dan terus mendongak ke arah jam dinding. Terkadang ia mondar mandir—atau berdecak—kemudian mendesah.

Atau ia akan menggumam,"Kapan kalian pulang?" gadis itu tentu merasa resah ketika ditinggal kerja orang tuanya sendirian malam-malam begini. Walaupun ia bukan tipe anak penakut—tapi bukan juga tipe anak pemberani.

Anak yang bernama Kaai Yuki itu kembali duduk di sofa. Ia ingin tidur—jujur matanya sudah berkantung dan sangat berat rasanya. Tapi, setiap kali ia memenjamkan mata, hanya rasa resah, gelisah, serta khawatir yang menghujamnya.

Sudah kupastikan. 5 menit lagi mereka juga tak datang, lebih baik aku tidur saja, Yuki membatin sambil menutupi mulutnya yang menguap lebar.

Tik… Tik… Tik…

Oke, Yuki akan benar-benar tidur sekarang. Ia hendak berjalan menuju kamarnya, tapi—

Tok… Tok… Tok…

Yuki menoleh ke sumber suara.

"Ayah? Ibu?" tak ada jawaban. Kalaupun ada, percayalah hanya jangkrik yang akan menjawabnya. Yuki sedikit sangsi. Karena itu, ia memutuskan untuk mengintip jendela.

Tak siapapun... Apakah itu suara ketukan tetangga sebelah? Yuki menghela nafasnya. Kemudian, ia kembali berjalan menuju kamarnya. Tepat pada langkah kelima Yuki berhenti. Apa benar, ini ketukan dari pintu rumahnya? Aneh sekali. Cuek, Yuki masuk ke dalam kamarnya.

Ketika ia akan memejamkan mata, lagi-lagi sesuatu terdengar.

Langkah kaki? Yuki terkejut. Mengira ada seseorang yang masuk ke rumahnya sebagai perampok. Karena tak ingin terjadi apa-apa dengan dirinya, ia mengunci pintu kamarnya. Yuki pun sedikit lega. Ia kembali memejamkan matanya di kasur yang empuk.

Tok… tok… tok…

Jantung Yuki berhenti berdetak. Biasanya perampok akan berusaha mendobrak dan membuka kunci kamarnya kan? Ini kenapa tidak—

Tok… Tok… Tok…

Seketika jantung Yuki berdetak melebihi batas normal. Ini adalah pertama kalinya ia 'diteror' seperti ini. Tak mau ambil pusing serta panik, Yuki menyenderkan tubuhnya di balik lemari bajunya. Hawa dingin langsung menyergap. Yuki ingin teriak. Ia ingin lari. Ia ingin melakukan sesuatu tapi—

…suara itu terkekeh seram dari sampingnya—

"Aku menemukanmu… Yuki…,"

Ya ampun T^T ini kenapa malah tambah abal gini ya? Oke, lupakan. Gomen banget karena update-nya lama *membungkuk*. Dan... aku bingung mau ngelanjutin atau enggak... tapi kemungkinan besar mau aku lanjutin sih /plak. Siapa tahu aku kesambet, dapat ide, terus masukin ke chapter 3 XD /gubrak. Maaf kalau kurang memuaskan ya...

Boleh review?