Halo XD akhirnya update juga~ kali ini aku panjangin chapternya, sesuai permintaan reviewer OwO)b semoga kalian suka, arigatou! *bow*
Toilet Sekolah
"IA-chan! Aku pulang duluan ya! Aku sudah ditunggu temanku di kelas sebelah!" seru seseorang dari pintu kelas.
"Iya, Yukari," sahut IA. Jika ada yang ingin pulang terlebih dulu, anggota piket harus izin kepada IA berhubung IA adalah ketua kelompok piket hari Rabu.
"Fyuh! Sepertinya tinggal dipel, IA," seru seorang gadis berambut hijau.
"Iya," jawab IA."Yang mengepel biar Luka, Rin, dan kau juga ya, Gumi." Gumi hanya mengangguk setuju.
"Kalian tunggu di sini! Aku ambil air dulu!" seru IA."Iya!" seru teman-temannya dari kelas. Kelas IA di kelas 9-5. Kelasnya sangat dekat dengan toilet anak laki-laki. Itu mengapa IA merasa kesal ketika gilirannya mengambil air—karena toilet anak perempuan jauh dari kelasnya. IA harus melewati beberapa kelas lagi—ditambah ruang guru.
Tap.
Langkah IA berhenti di depan toilet anak laki-laki. Aneh sekali. Padahal pegawai kebersihan sudah mengepel bagian depan dari toilet ini, tapi kenapa ada genangan air di sini? Lebih tepatnya ini seperti genangan air teh—darah encer. Terkadang IA penasaran ingin melihat ke dalam toilet itu ketika keadaan sepi begini. Ah, cukup. Kenapa ia malah memikirkan hal yang aneh-aneh? IA kan harus mengambil air secepatnya agar bisa pulang lebih cepat. IA pun kembali berjalan menuju toilet perempuan.
"IA? Tumben lama sekali?" Tanya gadis berambut pink. Ya, tentu saja. IA sempat berhenti di depan toilet anak laki-laki yang selalu dikunci itu.
"Maaf. Aku sedikit melamun tadi."
"Lebih baik kita cepat-cepat pel ruangan kelas ini," usul si rambut blonde. Gumi mengangguk setuju. Sedangkan IA mengelap kaca jendela di sisi kiri kelas. Rasa penasaran masih mengusiknya. Kenapa toilet anak laki-laki dekat dengan kelasku itu selalu dikunci?
"Kami pulang duluan ya, IA!" seru Gumi. IA masih sibuk membereskan alat-alat kebersihan dan memasukannya ke dalam lemari.
"Err… Iya iya!" seru IA. Seketika suara langkah kaki teman-temannya menjauh. Kini IA sendirian.
"Cih! Kenapa lemari ini sangat sulit untuk dikunci?" desah IA tak sabar. Di lorong itu hanya terdapat IA seorang. Karena hawa semakin tak enak, IA jadi semakin tak sabar ketika hendak mengunci lemari kecil itu.
"Hah, akhirnya!" IA mengambil nafas lega setelah berhasil mengunci lemari besi yang nakal itu. Tentu saja ketika akan menuruni tangga, IA harus melewati toilet anak laki-laki itu. Kini langkah IA berhenti lagi di depan toilet itu.
.
.
.
Terdengar suara keran yang menetes…. Padahal IA tahu betul kalau pintu besi depan toilet itu dikunci—bahkan digembok. Tapi, IA justru semakin penasaran. IA pun memutuskan untuk mengintip dari sela-sela pintu besi itu.
Tes… tes… tes…
Kini terdengar suara keran yang mulai dimatikan.
Tapi, bukan hanya itu saja yang membuat IA terkejut—atau lebih tepatnya… takut.
.
.
.
IA melihat sosok siluet laki-laki sebayanya, sedang berdiri di depan keran. Kepalanya menunduk, jadi wajahnya tak terlihat. Tapi di kakinya terdapat—
…genangan darah.
Darah IA terkesiap. Matanya mengerjap berkali-kali. IA memutuskan untuk berlari secepat mungkin dari tempat itu.
Keesokan harinya, IA menceritakan kejadian itu kepada salah satu temannya, Kagamine Len. IA meminta keterangan tentang toilet siswa laki-laki tersebut.
"Heh? Jadi kau belum tahu ya?" IA hanya menggeleng pelan dengan wajah pucat pasi. Jantungnya berdegup kencang. Berharap Len tidak mengatakan sesuatu yang—
"Beberapa tahun yang lalu, di toilet itu ada 2 siswa yang bunuh diri…. Karena itulah toilet itu ditutup dan dilarang dimasuki oleh siapapun."
Jantung IA langsung berhenti berdetak.
Sensei?
Laki-laki paruh baya itu masih sibuk menata kertas-kertas ulangan harian di kelas tempatnya mengajar. Kemudian, dia memasukannya dengan rapi ke dalam suatu map hijau yang bertuliskan 'Matematika'.
Kring! Kring!
Laki-laki berambut biru tua itu menengok. Kemudian, mengabaikan ponselnya begitu saja. Sekarang dia sedang memasukan nilai harian b. inggris ke dalam buku nilai.
Kring! Kring!
Dia masih cuek.
Kring! Kring!
Dia menghela nafas dan mengangkat ponselnya.
"Moshi moshi?" tanyanya dengan intonasi malas.
"Ah! Shion-kun! Tolong ke ruang guru sebentar! Ada yang ingin kubicarakan denganmu!" seru seorang wanita dari seberang telpon.
"Sakine-san? Tunggulah sebentar lagi. Aku masih mengisi daftar nilai murid-muridku," jawabnya dengan jujur.
"Baiklah. Tak usah buru-buru. Aku masih 20 menit lagi di sini. Jaa ne." pip.. pip.. pip…. Telponnya sudah diputus. Laki-laki yang bernama Kaito Shion itu hanya menghela nafas lega dan segera melanjutkan tugasnya.
"Ah, selesai," gumamnya sambil merenggangkan otot-otot lengannya yang pegal. Sekarang dia bisa keluar dari kelas 9-9.
Suara gaung yang ditimbulkan sepatu hitam itu terdengar jelas. Tapi, Kaito sempat berhenti di dekat tangga karena melihat sosok yang dia kenal—seorang guru berkacamata. Kaito menatap lekat-lekat punggungnya—guna meyakinkan dirinya apakah betul itu temannya. Kemudian sosok itu menutup ruang kelas 9-8 dan berjalan menuju kea rah ruang guru. Kaito terperanjat.
"Tu-tunggu!" seru Kaito. Namun, pria itu tak menoleh. Bahkan berjalan semakin cepat. Dan ketika dia berusaha menyusulnya—
…orang itu sudah menghilang di depan kelas 9-6.
"Sakine-san…." Yang dipanggil pun menoleh ke asal suara.
"Ya?"
"Apakah Kiyoteru-san ada di ruang guru ini?" tanyanya. Nafasnya sedikit tidak beraturan—setelah sedikit berlari.
"Apa maksudmu?" wanita berambut brunette itu mengernyitkan keningnya.
"Jawab saja," Kaito sedikit memaksa."Aku melihatnya keluar dari kelas 9-8, kemudian menuju ke arah sini. Tapi, tiba-tiba dia menghilang. Atau dia malah sudah pulang duluan?" wanita itu hanya bisa mengerjap tak percaya apa yang barusan dikatakan Kaito.
"Kau serius?"
"Tak mungkin aku salah lihat," tegasnya.
"Ano… Shion-kun—"
.
.
.
"—masalahnya Hiyama-kun sudah pulang sejak jam 2 siang tadi… sekarang pun sudah jam 3, kan?"
"A-apa?"
Mama!
"Ah! Yukari ketemu~" anak kecil berambut blonde bersorak riang. Anak yang bernama Yukari itu hanya berdecak.
"Baiklah…," sahutnya pasrah.
"Rin-chan terlalu jago main petak umpetnya!" seru seorang anak perempuan berkuncir dua.
"Tidak juga! Aku sempat kesulitan menemukan Yukari tadi kan?" anak berambut blonde menggaruk kepalanya yang tak gatal ketika mendengar seruan barusan. Yukari hanya terkekeh.
"Tapi, kaumenemukan kami dengan sangat mudah," sahut anak berambut panjang dan bergelombang di sela-sela keributan temannya.
"Salah sendiri kaubersembunyi di bawah mobil, SeeU," Rin membela diri.
"Habisnya tak ada tempat persenyembunyian lain…," gumam SeeU.
"Yukari hebat ya. Rin sampai kesulitan mencarimu," timpal anak perempuan berambut pink.
"Aku kan hanya bersembunyi di rumah Piko-kun. Apanya yang hebat?" Yukari menaikan salah satu alisnya.
"Rumahku empuk sekali dijadikan sasaran ya…," gumam Piko. Yukari hanya menjawabnya dengan anggukan.
"Ngomong-ngomong, sudah hampir malam. Aku pulang duluan ya!" seru anak laki-laki berambut blonde sambil menggandeng lengan adiknya, Rin. Yukari mengangguk. Satu demi satu temannya pulang karena waktu sudah menunjukan jam 6 sore. Kini hanya Yukari seorang diri di pinggir jalan itu. Kemudian, ia berjalan menuju rumahnya yang tak begitu jauh.
Tapi—
…ada seorang wanita yang menaiki sepeda motor. Wajahnya tak terlihat karena tertutup rambut. Ia mengenakan pakaian rumah biasa.
"Mama!" Yukari berteriak. Ia tahu betul kalau itu rupa ibunya."Tu-tunggu!" Yukari segera mengejar sosok itu dan ketika sampai di perempatan jalan—
Menghilang—
"Yu-Yukari?!" terdengar suara nafas tersengal-sengal di belakang Yukari."Sedang apa kau di sini? Ayo pulang!"
"Tapi Papa, aku melihat mama tadi—"
"Apa maksudmu?"
"Tadi, kan mama baru saja menaiki sepeda motor ke arah sana! Memangnya Papa tidak lihat?"
"Jangan bercanda Yukari—"
"Eh?"
"Mamamu saja sedang mandi di rumah…. Bagaimana kaubisa bilang ia naik sepeda motor?"
Teriakan Pilu
Kring! Kring! Kring!
"Nah, anak-anak, silakan istirahat!" murid-murid kelas 7-9 langsung bersorak ketika mendengar bel istirahat.
"Wah, bekalmu sepertinya enak ya," gumam gadis berambut blonde.
"Jangan ditanya. Gumi memang pandai memasak kan?" sahut seorang gadis yang rambutnya dikepang dua.
"Luka jauh lebih jago daripada aku," gadis yang bernama Gumi itu tersenyum.
"Ah tidak juga kok," ujar gadis berambut pink sambil membuka bento-nya.
"Kalian berdua sama-sama jago memasak, deh," sahut gadis berambut blonde."Hei, bagi bekal kalian ya! Sepertinya enak! Boleh tidak?"
"Boleh boleh saja," gadis yang dikepang dua membuka bento-nya.
"Bekal Miku imut ya," puji Luka.
"Bekalmu berkilauan," balas Miku."Bagi punya kalian juga ya."
"Ya ampun kaumembawa jeruk?! Bo-boleh minta tidak?"
"Boleh, Rin," Gumi terkekeh pelan.
"Ittadakimasu~!" seru mereka berempat bersamaan. Tak lama kemudian, Gumi menghentikan aktivitas makannya. Ia mendengar sesuatu dari arah timur.
"Kyaaaaaa!"
…suara teriakan dengan durasi sekitar 7-8 detik tanpa terputus. Seperti suara gadis yang disiksa—
"Ka-kalian dengar tidak?"
"Dengar apa?" Tanya Rin.
"A-ada yang teriak kan barusan? Lama sekali ia berteriak…," jelas Gumi.
"Aku tak mendengarnya, Gumi," sahut Luka.
"Mungkin kausalah dengar? Aku juga tak mendengar suara teriakan," ujar Miku.
"Ma-masa sih? Dari arah toilet perempuan tadi—errr lupakan," Gumi berusaha menjernihkan pikirannya dan kembali makan. Tak mungkin aku salah dengar kok….
Ketika pulang, Gumi mengunjungi kelas 7-3, yaitu kelas yang tepat bersebelahan dengan toilet anak perempuan.
"Hei, Meiko!" panggil Gumi.
"Hei juga, Gumi! Tumben kemari. Ada apa?" Tanya gadis berambut cokelat ramah.
"A-ano…. Tadi sewaktu jam istirahat pertama, dengar suara teriakan dari toilet ini, tidak?" Tanya Gumi ragu-ragu.
"Eh? Tidak ada apa-apa kok." Deg. Jawaban Meiko sukses membuat wajah Gumi menjadi pucat.
"Tapi Gumi…,"
A-apalagi?
"Rumornya kalau hanya kau yang dengar, itu artinya dia berteriak tepat di sampingmu…..,"
Gumi membeku.
Selamat Malam
"E-etto… Ayah yakin akan melewati jalan ini? Sepertinya menyeramkan….," ujar seorang gadis berambut teal sambil menatap jalanan gelap di depannya.
"Kita tersesat. Tak ada jalan lain, Miku," sahut seorang laki-laki berambut biru tua. Mobil yang dikendarainya terus melaju hingga melewati hutan yang gelap itu.
"A-aku menurut…," ujar Miku terbata-bata. Keringat dingin mulai menyelimutinya. Tubuhnya gemetaran. Suara burung hantu dan burung mayit semakin membuatnya merinding di situasi seperti ini.
"Panjang jalanan ini hanya 5 km, kok. Jangan takut Miku. Sebentar lagi kita akan menemukan jalur perkotaan," ayahnya menenangkan.
"Sebaiknya cepat. Lagipula, hanya mobil kita yang melewati jalur ini, kautahu," ujar Miku yang suhu tubuhnya mulai tidak stabil karena takut.
"1 km lagi, Miku. Bersabarlah," kata ayahnya sekali lagi."Lagipula bensinnya sudah mulai menipis." Miku menggigit bibir bawahnya. Suasananya begitu mencekam. 500 meter lagi—
"Ah, kuso!" seru ayah Miku.
"Ke-kenapa mobilnya berhenti, Yah?" Tanya Miku gemetaran. Arlojinya menunjukan jam 11 malam.
"Mogok. Bensinnya habis, Miku."
"A-apa?!" seru Miku tak percaya.
"Tunggu di sini. Jangan ke mana-mana! 500 meter lagi ada jalur perkotaan. Jadi ayah akan berjalan ke sana dan meminta bantuan," ayahnya mulai menyalakan senter dan keluar dari mobil.
"A-aku ikut!" seru Miku.
"Siapa nanti yang menjaga mobilnya, Miku? Hanya sebentar!" dilihatnya ayahnya berlari ke depan. Dan sampai tak terlihat lagi oleh mata Miku.
"Ugh…," gumam Miku. Matanya sudah berat. Tapi untuk tidur pun juga sulit. Ya Tuhan, kenapa aku terjebak disituasi seperti ini? Miku menyenderkan kepalanya ke kursi dan mulai menutup matanya. Tapi, ia merasakan pundaknya disentuh oleh sesuatu yang dingin—
…disertai hembusan yang dingin.
Tubuh Miku membeku. Wajahnya pucat. Pundaknya tampak dielus-elus oleh sesuatu yang sangat dingin. Auranya betul-betul tak enak. Miku tak bisa berteriak. Tenggorokannya tercekat. Miku menangis.
Ya Tuhan! Miku menjerit dalam hati. Kini tangan pucat mengelus pipi mulus Miku.
Dan terdengar suara bisikan yang menggaung di telinganya—
"Selamat malam…,"
Sudah kubikin lebih panjang XD er... kayaknya bagian ini kurang serem ya? Walaupun saya agak merinding gitu waktu ngetik chapter ini /jder. Insya Allah saya lanjutin sampai chapter 6 ya.
Oiya... Akan kuberitahu sesuatu.
Kisah nyata di chapter 1:
-Nenek
-Sebaiknya Kau Tidur [bagian akhir sedikit diubah] (ini kisah pengalaman pribadi)
Kisah nyata di chapter 2:
-Jangan Kembali Lagi [bagian akhir sedikit diubah] (kisah temen saya :v bedanya yang dia lihat itu tuyul unyu :v /bukan)
Kisah nyata di chapter 3:
-Toilet Sekolah (ini kisah di sekolah saya :v)
-Sensei?
-Mama! (saya hampir diculik sama 'dia' waktu maghrib-maghrib pas masih kecil)
-Teriakan Pilu (sumpah saya merinding denger itu)
Udah cuma segitu OwO terserah kalian sih mau percaya atau tidak... saya hanya ingin berbagi pengalaman OwO)b. Jaa matta ne~
