Jeng jeng! XD aloha minna o/ saya datang untuk kembali meng-update chapter 4~
Tolong Aku
Terdengar jelas deru bus yang berisikan murid SMA itu. Beberapa siswa ada yang sudah tidur. Beberapa ada yang membaca novel atau komik. Ada juga yang sedang mendengarkan musik—seperti Hatsune Miku. Ia belum mengantuk. Tapi, tubuhnya terasa sangat lelah. Jadi, ia memilih untuk mendengarkan musik. Gadis berambut teal itu duduk di bangku sebelah kiri dekat jendela. Sudah jelas tirai jendelanya ditutup karena sudah malam.
"Kita akan sampai di sekolah 2 jam lagi! Sebaiknya kalian tidur agar tidak terlalu lelah!" seru seorang sensei berambut cokelat.
"Baik, Meiko-sensei," jawab beberapa anak yang belum tertidur. Kecuali Miku. Ia masih asyik mendengarkan music melalui headphone-nya. Lagipula, ia duduk paling belakang—bersama Megurine Luka. Luka sendiri sedang asyik membaca novel yang disukainya sekarang.
"Kau belum tidur?" Tanya Miku. Luka menoleh, lalu tersenyum.
"Belum. Aku masih belum mengantuk," jawabnya. Miku hanya mengangguk pelan.
"Aku bosan. Dan aku juga belum mengantuk," Miku mendengus pelan.
"Mau coba baca salah satu novelku?" tawar Luka.
"Tidak, terima kasih. Aku tidak begitu menyukai novel ," jawab Miku sambil merenggangkan otot-otot tangannya. Namun, beberapa saat setelah itu, Luka menutup novelnya.
"Aku tidur duluan, ya, Miku."
"Ya, tidur saja," Miku hanya tersenyum simpul ketika merespon ucapan Luka. Semakin lama, suasana di dalam bus semakin sepi. Miku tahu betul bahwa bus ini sedang melewati pegunungan.
Tak lama kemudian, turunlah hujan. Suhu pun bertambah dingin. Miku sedikit mengencangkan syalnya agar tidak kedinginan. Karena suasana betul-betul sepi, Miku mulai memejamkan matanya perlahan. Barangkali ia bisa tidur.
Namun—
Tuk… Tuk… Tuk…
"Hm?" Miku membuka sebelah matanya. Suara apa tadi? Mendadak suara itu menghilang. Miku kembali memejamkan matanya.
Tuk… Tuk… Tuk…
Mata Miku masih terpejam.
Tuk… Tuk… Tuk…
Miku menghela nafas."suara darimana itu?" gumam Miku. Miku sangat yakin kalau itu bukanlah suara air hujan yang mengenai bus.
…melainkan itu ketukan kaca bus.
Tak mungkin.
Kecepatan jantung Miku bertambah.
Tuk… Tuk… Tuk…
Berhentilah— batin Miku.
Tuk… Tuk… Tuk…
Miku ragu. Apakah aku harus membuka tirai ini? Apakah di luar ada keadaan yang sedang gawat? Tangan Miku gemetaran.
Tuk… Tuk… Tuk…
Oke, ini cukup. Apakah ada pengendara sepeda motor yang mengetuk jendela di sebelahnya ini? Entah karena dorongan apa, Miku menyibak tirai itu—
…matanya membulat ketika melihat sosok anak kecil yang wajahnya bersimbah darah. Serta salah satu matanya menghilang.
"Tolong aku, Kak…."
Miku mendadak pingsan.
Cermin di Kamar Mandi
Terdengar suara ketikan keyboard di lantai dua kediaman keluarga Kagamine. Seorang gadis berambut blonde itu rupanya masih sibuk berhadapan dengan komputernya karena masih ada tugas presentasi yang harus ia kerjakan. Gadis itu sempat melirik ke arah jam dinding yang tak jauh dari tempatnya duduk. Sudah jam 11 malam…, batinnya.
Kemudian, gadis yang bernama Kagamine Rin itu merenggangkan otot-otot lengannya yang terasa sangat pegal. Ia sudah duduk di sini selama dua jam—dan terus mengetik. Sesaat ia melepas kacamatanya. Tugas presentasi benar-benar menyebalkan! Rutuknya dalam hati. Mengapa guru jaman sekarang tak ingin bersimpati kepada muridnya? Apa mereka senang membuat para muridnya bergadang begini, huh?
"Sedikit lagi…," gumamnya sambil menghela nafas lega. Rin diam sejenak.
"Sepertinya aku sudah mulai mengantuk…," gumamnya."Mungkin aku harus cuci muka." Kemudian Rin berjalan menuju toilet. Rin mulai membasuh wajahnya di wastafel. Sesekali ia melihat ke cermin—untuk memastikan apakah wajahnya sudah segar kembali. Tapi, ketika ia mendongakan wajahnya ke cermin ketiga kalinya—
…Rin benar-benar syok dan mematung ketika melihat—
…sosok wanita yang sebagian wajahnya tertutupi rambut hitam legam. Tepat di belakangnya. Sekilas wajah pucat pasinya menunjukan… seringaian.
Supir Taksi
Tampak seorang gadis berambut cokelat berdiri di perempatan jalan yang cukup sepi. Ia membawa dua kantong plastik kecil.
"Apakah tidak ada taksi di sini?" gumamnya sambil melihat langit yang sudah memudar menjadi hitam. Kalau bukan karena adiknya mendadak sakit, ia takkan repot-repot keluar malam seperti ini. Sedangkan perempatan itu semakin lama semakin sepi saja. Mau tak mau gadis bernama Sakine Meiko itu harus melewati jalan ini agar lebih cepat sampai di tujuan. Ketika berangkat tadi, memang cepat karena perempatan ini masih ramai seperti biasanya—dan banyak taksi yang lewat tentunya. Tapi, ada apa sekarang? Mendadak lalu lintas menjadi sepi begini. Bukan hanya itu saja. Meiko tak menemukan satu taksi pun sejak 20 menit yang lalu. Tumben sekali.
Jika Meiko memutuskan untuk berjalan kaki, itu artinya ia harus melewati kuburan yang katanya angker. Meiko memang tidak terlalu penakut. Tapi juga tak bisa dikatakan berani untuk melewati kuburan sepi itu malam-malam seorang diri. Bagaimana ini? Meiko hampir saja menangis. Namun—
Tiba-tiba saja ada satu taksi yang berhenti di depan Meiko. Eh?
"Kau butuh tumpangan?" tawar supir itu ramah.
"Yo-yokatta!" Meiko sangat senang akhirnya bisa menemukan satu taksi.
.
.
.
"Mau kuantar sampai mana, Nona?" Tanya supir itu.
"Sampai depan kompleks xxxxx saja," jawab Meiko.
"Baiklah."
Meiko memperhatikan supir taksi itu. Tangannya tampak sedikit pucat. Bahkan wajahnya pun juga terlihat pucat.
"Maaf, apakah anda sedang sakit?" Tanya Meiko hati-hati.
"Tidak. Mungkin itu hanya perasaanmu saja, Nona," jawabnya. Entah mengapa Meiko merasa kedinginan di dalam taksi itu.
"Maaf…bisakah anda mengecilkan volume pendinginnya? Aku sedikit kedinginan…," ujar Meiko pelan.
"Maaf, ini sudah volume yang paling kecil, Nona. Tenang saja, sebentar lagi sampai," katanya selagi mengontrol lajunya taksi.
Tak lama kemudian, taksi itu berhenti di depan kompleks tempat Meiko tinggal."Terima kasih!" seru Meiko dari luar. Sedangkan supir taksi itu hanya menebar senyum tipisnya dan kembali membawa taksi itu pergi dari kompleks tersebut. Dengan segera Meiko melangkahkan kakinya dengan cepat. Ia tak mau membuat adiknya menunggu lebih lama.
.
.
.
"Tadaima..!" seru Meiko sedikit terbata karena sibuk berusaha mengatur nafasnya yang tersengal-sengal.
"Okaeriinasai, Meiko-nee," sambut seorang gadis kecil berambut hitam yang tengah terbaring di sofa.
"Maaf, aku lama…"
"Tak apa-apa. Kondisiku sudah agak baikan. Jangan terlalu memaksakan diri, Meiko-nee," adiknya tersenyum tipis.
"Tapi badanmu masih agak panas. Minumlah obat ini," Meiko mengeluarkan obat-obatan yang ditaruhnya di kantong plastik yang ia bawa tadi. Sedangkan sang adik hanya mengangguk pelan. Seperti biasa, adiknya selalu menonton televisi jika ditinggal di rumah sendirian. Meiko memang tak terlalu tertarik dengan televisi—dikarenakan alasannya—membosankan. Tapi kali ini Meiko menatap lekat-lekat televisinya itu. Pandangan tak percaya dilampiaskannya ke layar kaca di hadapannya. Tenggorokannya tercekat.
"Kecelakaan tersebut melibatkan dua kendaraan yang melintasi jalur yang berlawanan arah dan terjadi di dekat perempatan xxxxx. Polisi mengatakan bahwa sopir truk besar itu mabuk, sehingga kecepatan truk yang dikendarainya menjadi tak terkontrol dan menabrak sebuah taksi—"
Tak mungkin—
"—namun naasnya, supir taksi tersebut tak tertolong karena mendadak taksi yang dikendarainya terbakar—"
.
.
.
Foto itu. Meiko kenal betul wajah itu… tak mungkin—
…lalu tadi itu siapa?
Voila! Maaf lama update _ _)a jujur saya merinding sendiri waktu nulis chapter ini… kependekan ya? Itu ide yang mendadak muncul, terus saya buru-buru ketik /terus. Saya usahakan chapter selanjutnya lebih panjang ya ^^. Mungkin bakal lama update lagi karena bentar lagi saya UAS… /nangis darah/. Dan setelah UAS bakal update cepet lagi *w*)b /abaikanemot/.
Sekian. Boleh review?
