Maaf baru update == pertama saya kena wb -_- kedua saya pergi mulu sama keluarga -_- ketiga modem mati dalam waktu lama -_- keempat jatah buka kompie berkurang karena puasa & harus ngerjain soal2 untuk persiapan UN dan ujian2 lainnya dengan buku yang tebalnya hampir 2000 halaman /tebar bunga melati/ /kibar bendera putih/.

Sesuai saran reviewer, jumlah ceritanya harus sama owo)b makanya saya samain jumlah cerita di chapter sebelumnya, dan di chapter depan juga akan begitu.

Terima kasih _ _)/


Lampu Kamar Tidur

Tik. Tik. Tik.

Gadis bersurai hijau itu masih asyik membaca novel yang baru saja ia beli. Bantalnya sedikit ditegakkan—dan punggungnya sedikit direbahkan di bantal itu—dengan posisi setengah duduk. Matanya masih sibuk mambaca kalimat-kalimat yang tercantumkan di dalam novel itu. Tak sadar, ia sudah membaca novel sampai larut malam. Tertera sebuah nama di sampul novel itu. Yaitu 'Gumi'.

Tik. Tik. Tik.

Gadis itu sempat menoleh.

Tik. Tik. Tik.

Oh. Bukan larut malam lagi. Ini sudah dini hari. Gadis itu menghela nafas. Ia hampir saja lupa. Waktu sudah hampir menunjukan pukul satu pagi. Kemudian, ia beranjak dari ranjangnya dan menuju kamar mandi. Sudah menjadi kebiasaannya sebelum tidur, ia akan menyikat gigi dan membasuh wajahnya.

Tik. Tik. Tik.

Tap. Tap. Tap.

Krik. Krik. Krik.

Suara jam berdenting bercampur dengan suara langkah kakinya yang selaras dengan bunyi jangkrik di luar. Terkadang juga terdengar suara cicak yang ikut campur.

Gadis itu mulai membuka pintu kamarnya. Langkahnya berhenti tepat di ambang pintu cokelatnya. Matanya membulat. Bulu kuduknya meremang. Keringat dingin mulai mengalir di pelipis mulusnya.

Siapa—

—siapa yang mematikan lampu kamarnya…?


Rumor

Belakangan ini beberapa tetangga tengah ribut membahas beberapa rumor yang entah dari mana asalnya. Ada yang tentang kesahatan, keselamatan, aneh, bahkan sampai ada yang horror sekali pun. Namun, Kaito sama sekali tak peduli masalah kebenaran rumor-rumor itu. Rumor memang bukan berarti mitos, sih. Tapi, tetap saja. Terkadang dirinya gemas sendiri ingin membuktikan rumor-rumor itu. Tapi, selama ini niatannya itu ia pendam.

"Kata temanku, jangan masuk ke kamar mandi tengah malam sendirian!" seru adik Kaito yang masih duduk di Sekolah Dasar.

"Hah, kau percaya saja sama rumor begituan," balas Kaito acuh disertai helaan nafas.

"Tapi, salah satu temanku bilang akan terjadi sesuatu apabila memasuki kamar mandi tengah malam sendirian. Dan sudah pernah ada yang menjadi korbannya," tanggap adiknya, Len.

"Memangnya bagaimana ceritanya?"

"Eh, belum jelas."

"Kalau begitu belum terbukti benar kan?" Kaito kembali bersender pada sofa empuk sambil meneguk sirupnya. "Lagipula bagaimana jika ada yang ingin buang air tengah malam dan tak bisa ditahan lagi? Apa dia perlu menahannya sampai pagi atau bahkan mengompol di kasur? Itu tak baik untuk kesehatan."

"Bisa buang air sebelum tengah malam, Kak," jawab Len kalem.

"Bagaimana jika orang itu lembur karena tugasnya sampai tengah malam dan ingin buang air saat itu juga? Atau ada orang yang tiba-tiba terjaga tengah malam karena ingin buang air?"

"Kau berisik." Len mulai kesal.

"Aku kan hanya berkomentar," jawab Kaito santai.

"Entahlah. Tapi, aku tak mau kena resiko yang aneh-aneh." Len pun berkata demikian sembari melangkah ke dalam kamarnya.

Sebenarnya Kaito memanas ketika mendengar kata-kata adiknya. Rasa penasarannya semakin memuncak. Ia sudah tak bisa menahan diri lagi untuk membuktikan rumor yang sedang panas dibicarakan oleh tetangga—juga adiknya. Setelah itu, Kaito memutuskan untuk membuktikannya nanti malam.

Sambil menunggu tengah malam tiba, Kaito berkutat di depan komputernya. Kadang ia main game, atau setelah itu ia mencari informasi tentang rumor yang sedang beredar belakangan ini. Terutama tentang rumor kamar mandi itu. Tapi, hasilnya nihil. Tak ada yang menjelaskan secara detail sebagian besar rumor-rumor tersebut. Terutama rumor kamar mandi itu. Misterius sekali.

Berkali-kali ia melirik jam dinding kamarnya.

Dan akhirnya tengah malam pun tiba.

Dengan langkah tanpa gentar, Kaito berjalan ke kamar mandi. Yang ia lakukan? Hanya sekedar mencuci tangan barang kali.

Kaito berpikir, Fuh, dasar anak itu. Lihat tak ada apa-apa—

Lho—

Kaito berusaha membuka pintu kamar mandi itu.

Hei—hei, sejak kapan pintu kamar mandi ini terkunci?! Aku tidak menguncinya tadi!

Ceklek. Ceklek.

Nihil. Kaito gagal membukanya. Suara Kaito tercekat.

Sial—

Terkutuk dirinya terkunci di situ. Hawa dingin mulai menyergapnya.

"Ugh—Len!"

"Jangan bercanda! Buka pintunya!" Kaito tahu mana mungkin adiknya tega mengunci dirinya sendirian di sini. Kaito hanya berusaha mengumpulkan keberanian.

Kaito berusaha mendobrak pintu itu. Nihil. Sudah belasan kali ia berusaha mendobraknya, tapi tetap saja pintu itu masih bersikukuh tak mau terbuka. Kaito lelah. Kaito ingin bersender di pintu itu. Jadi, otomatis ia membalikan badannya. Sayang sekali itu adalah sebuah pilihan yang salah besar.

.

.

.

Kedua lutut Kaito langsung lemas ketika melihat sosok tanpa wajah tepat berdiri di hadapannya.


Tengah Malam

Tubuhnya terlentang di atas ranjang. Sepasang matanya terfokus pada sebuah tab yang kini dipegangnya. Tanpa menghiraukan suara jam yang berdetik, ia terus fokus pada sebuah cerita horror yang sukses membuatnya penasaran.

Takut? Tentu tidak. Ia sangat pemberani. Tak kenal dengan yang namanya takut. Tapi, jika membaca cerita horror tengah malam apakah itu tidak—lumayan nekad? Oh, tunggu. Ini berbeda dengan yang namanya jurit malam.

Pendingin ruangan menambah suasana mencekam dan merinding. Gadis berambut pink itu tak menghiraukan perkataan Ibunya untuk agar tidak tidur sampai larut malam—terutama besok harus berangkat ke sekolah. Tapi, apalah. Gadis itu terkalahkan oleh rasa penasarannya sendiri.

GLUP.

Mendadak kamar gadis bermarga Megurine itu menjadi gelap gulita. Cahaya dari layar tab yang dipegangnya menyinari wajahnya. Tanpa sengaja ia mengarahkan tab itu ke samping kanannya.

Mendadak sekujur tubuhnya menggigil. Tanpa sadar genggaman tangan pada alat eletronik itu melonggar sehingga tab yang dipegangnya terjatuh.

.

.

.

.

Meski seorang pemberani sekali pun….

.

.

.

.

Siapa yang sanggup melihat sosok berwajah rusak tepat terlentang di sampingnya?


AAHHHHH MAAF BANGET KALAU TELAT UPDATE /NANGIS.

Yah alasannya sudah saya kasih tahu di atas—tolong ampuni saya…. Dan apa banget chapter ini gaje ya? Apa boleh buat, Cuma itu ide yang mendadak nongol dari otak saya tehehehehehe /ditabok.

Masih berlanjut di chapter selanjutnya :"

Terima kasih banyak bagi yang sudah mau membaca :')