Meja Rias

Ah, siapa yang tidak suka dengan liburan? Semua orang pasti suka dengan liburan. Tentu saja termasuk Kagamine Rin. Apalagi berlibur ke luar kota. Pastinya sangat menyenangkan, bukan?

"Ah, aku harus membawa ini juga." Rin memasukkan salah satu barang berharganya ke dalam tas ransel besar miliknya.

"Rin, kau terlalu banyak membawa barang," tegur kakaknya, Kagamine Len.

"Barang bawaan perempuan kan lebih banyak dari laki-laki!" seru Rin.

"Aku hanya mengingatkan karena tasmu hampir penuh. Nanti susah jika mau mengambil barang yang letaknya di bawah," tegur Len sekali lagi.

"Biarkan saja. Ini juga bukan masalahmu, kan?" Rin memanyunkan bibirnya.

Len hanya membalas dengan dengusan panjang ketika menghadapi adiknya yang keras kepala dan bisa dibilang ribet.


Keluarga Kagamine yang terdiri dari empat orang menuju ke salah satu pantai yang merupakan tujuan utama liburan musim panas. Pantai yang menjadi tujuan kali ini tidak terlalu ramai—cenderung sepi—tapi, pemandangannya sangat indah! Airnya jernih dan pasir putih yang lembut siap memanjakan telapak kaki yang menyentuhnya.

Mata Rin berbinar ketika melihat tempat penginapan yang besar serta luas di hadapannya. "Wah! Tempat penginapannya sungguh keren!" serunya takjub.

"Syukurlah jika kaumenikmatinya! Ayah sudah memesan tiga kamar dari hari sebelumnya. Jadi, kita hanya tinggal diberi kunci saja di sana," jelas Ayah dari kedua saudara itu. Rin mengangguk dengan semangat.


Namun, tentu saja sebelum menikmati keindahan pantai lebih lama, Rin harus menata barang-barangnya dahulu di kamarnya.

"Hm… jadi, ini ya kamarku. Tepat di sebelah kamar Len," gumam Rin sambil menatap pintu kamar penginapan yang cukup besar.

Rin pun membuka pintu kamar itu. Kamar yang akan ditempati Rin selama beberapa hari ini sederhana namun luas. Kesannya juga natural dan segar—suasana pantai tetap terasa kental di sini. Tentu saja penataannya rapi dan bersih. Ventilasinya juga besar, sehingga sirkulasi udaranya lancar. Di kamar itu juga terdapat satu pendingin ruangan.

Rin mulai menata beberapa pakaian yang ia bawa di lemari yang sudah tersedia di kamar itu. Setelah itu, Rin membasuh tubuhnya di kamar mandi. Kemudian, ia mengenakan baju pantai dan menutupinya dengan jaket bertudung.

Ketika melewati suatu koridor menuju pintu utama depan, Rin melihat satu pintu kamar yang terdapat tulisan 'JANGAN MASUK'. Rin heran dan bingung. Aneh rasanya—tak mungkin kamar untuk pengunjung sengaja ditutup. Rin tak menanggapi dengan serius, jadi ia terus berjalan ke depan dan segera menuju pantai.


"Tadi itu benar-benar menyenangkan!" seru Rin riang sambil menuju kamarnya bersama Len.

"Hm, iya." Len membalasnya sambil tersenyum. "Aku duluan, Rin," lanjut Len sambil memasuki kamarnya. Rin hanya mengangguk sebagai respon. Sama halnya dengan Len, ia memasuki kamarnya dan segera membersihkan diri setelah puas bermain di pantai.

.

.

.

"Aku masih lapar…," gumam Rin sambil merebahkan diri di atas kasur empuk. Padahal makan malam baru saja usai, tapi ternyata Rin masih merasa lapar.

Sebenarnya waktu sudah menunjukan pukul 8 malam. Tapi, Rin tetap saja ingin membeli makanan kecil di kantin lantai bawah. Dengan modal uang dan nekad, Rin menuju lantai bawah melalui koridor yang sebagian lampunya sudah dimatikan—koridor menjadi remang-remang.

Rin melewati kamar terlarang itu lagi. Ya, kamar yang dimaksud tak lain adalah kamar yang bertuliskan 'JANGAN MASUK' yang sempat dilalui Rin tadi siang setelah dari pantai.

Tapi, kali ini ada yang berbeda. Pintu kamar itu sedikit terbuka. Siapa yang membukanya malam-malam begini? Rin berpikir mungkin saja itu adalah petugas yang ditugaskan untuk membersihkan kamar itu. Namun pemikiran itu masih belum bisa menuntaskan rasa penasaran Rin. Rin pun memutuskan untuk mengintip dari celah pintu yang sedikit terbuka itu.

Kening Rin berkerut. Ia melihat seorang nenek di dalam. Tepat duduk di depan meja rias. Sosok itu tak terlihat wajahnya karena tertutup oleh daun pintu dari sudut pandang Rin. Sosok nenek itu tak melakukan apa pun—hanya menghadap cermin rias. Aneh. Padahal ada tulisan 'JANGAN MASUK', tapi kenapa bisa ada seorang nenek di dalam sana?

.

.

.

Rin masih penasaran. Ia memutuskan untuk bertanya lebih lanjut ke salah satu pedagang yang berjualan di kantin.

"Maaf, saya ingin bertanya kepada anda." Intonasi Rin menjadi serius.

"Apa yang ingin adik tanyakan?" jawab si pedagang yang ditanyai Rin. Dari penampilan dan suaranya bisa diperkirakan umurnya hampir mencapai setengah abad—penjual itu wanita.

"Ano… kenapa ada kamar yang diberi peringatan 'JANGAN MASUK'? Dan tadi pintu kamar itu terbuka… dan terdapat seorang nenek di dalamnya…." Jujur, sebenarnya Rin merinding ketika menanyakan hal itu.

Si penjual tampak sangat terkejut. "Ah itu… berpuluh-puluh tahun yang lalu, ada seorang nenek yang meninggal di situ. Setelah itu, banyak kejadian aneh bagi yang menempati kamar itu. Makanya, kami menutup kamar itu agar tak terjadi masalah lagi…," jelasnya.

Jantung Rin mencelos.


Garis Merah

"Hei, kautahu garis merah di depan tangga utara sana?" Tanya seorang gadis berambut pirang pucat.

"Iya, tentu saja. Memangnya kenapa?" Tanya seorang gadis berambut hijau.

"Itu bukan hanya sekedar garis merah! Garis merah itu menyimpan misteri sendiri!" seru gadis di sampingnya pelan.

"He… benarkah? Aku baru tahu…," gumam seorang gadis berambut hijau, Gumi.

"Aku sempat dengar kabar itu dari kakak kelas yang kebetulan bertetangga denganku. Rumahnya tak begitu jauh dari rumahku," jelas IA.

"Memangnya garis merah yang kau sebut-sebut itu seseram apa sih?" Gumi semakin penasaran.

"Teman seangkatan kakak kelasku itu, pernah mengalami kecelakaan ketika melewati garis merah itu. Awalnya dia hanya penasaran, lalu melewati garis itu. Tiba-tiba dia terpeleset dan kepalanya pecah…," jelas IA yang sedikit merinding. Gumi pun juga bergidik mendengarnya.

"… dia mati kehabisan darah dan garis merah itu semakin seram saja…," suara IA memelan.

"IA… suasananya semakin tidak enak…," tegur Gumi. Mereka berdua memang selalu berjalan ke rumah bersama. Karena perjalanan menuju rumah masing-masing satu arah—tidak begitu jauh juga.

Meski pun Gumi cukup menyukai hal-hal yang berbau misteri, entah mengapa kali ini nyalinya mendadak jadi ciut. Sedangkan, IA hanya bersikap biasa saja.

"Gumi?" Tanya IA yang menyadari perubahan sikap Gumi.

"Ah—ya? Maaf, tidak apa-apa…."

"Aku penasaran untuk melewati garis itu! Aku ingin membuktikan kebenarannya!" seru IA pelan.

"Sebenarnya aku juga penasaran sih… tapi…." Gumi menjadi bingung sendiri dengan pikirannya. Ia merasa Déjà vu sekarang. Tapi, kapan ia pernah berbincang seperti ini? Pikiran Gumi berkalut. Gumi memang penasaran, tapi hatinya berkata tak boleh melewati garis itu sembarangan. Gumi tak tahu harus melanggar nuraninya atau tidak.

"Ne, Gumi?"

"Iya?"

"Temani aku ketika melewati garis itu ya?" pinta IA.

"E—eh?! Tapi, bukankah sebaiknya jangan? Bagaimana jika kita cari informasi lebih dalam tentang kebenaran garis itu?" sanggah Gumi.

"Kurasa itu sudah tak perlu lagi, Gumi." IA tersenyum.

"Kenapa? Aku tidak mengerti maksudmu…."

Terdengar suara tawa kecil.

.

.

.

.

"Karena aku sudah melewati garis itu, jadi kita tak perlu menggali informasi lebih dalam, bukan? Ne… ayo temani aku, Gumi~"

Seketika wajah IA berlumuran darah dengan kepala pecah yang disertai seringaian lebar. Sedangkan Gumi hanya membeku di tempat dengan wajah pucat.


Jurit Malam

"Yuzuki-san, sepertinya kau menjadi pasanganku dalam jurit malam kali ini," ujar seorang pemuda bersurai biru laut.

"Hm. Begitu ya? Kita harus bersiap-siap kalau begitu," tukas Yuzuki Yukari yang kemudian mengangguk.

"Ya, setengah jam lagi jurit malamnya akan dimulai. Kita dapat giliran kedua," jelas Kaito, sosok bersurai biru laut tadi.

"Secepat itukah?" gumam Yukari. Meski pun pelan, gumamannya sampai ke telinga Kaito. "Tunggu sebentar, aku mau ambil senter dulu."

"Baiklah, jangan terlalu lama!" seru Kaito.


Seperti biasa, SMA tempat Yukari dan Kaito berada rutin diadakan jurit malam ketika sedang berkemah setelah ujian kenaikan kelas. Biasanya sekolah mereka berkemah di hutan atau tempat-tempat yang sepi. Sekalian untuk jurit malam. Pasangan diundi di setiap kelas. Bisa saja dapat perempuan bersama perempuan, laki-laki bersama laki-laki, atau perempuan bersama laki-laki.

Yukari dan Kaito sebenarnya tidak akrab. Walau pun begitu mereka pernah satu kelompok dalam tugas sekolah sekali. Tapi, mau tak mau, bagi yang ingin mengikuti jurit malam, harus menerima konsekuensi siapa pun pasangannya ketika maju nanti.

.

.

.

"Giliran pertama untuk kelas 1, Megurine Luka dan Kagamine Len. Silakan maju!" seru salah seorang guru yang berdiri di tempat awal untuk memulai jurit malam. Pos pertama berada sekitar 20 meter dari garis start. Peserta berikutnya boleh maju ketika peserta sebelumnya sudah mencapai pos pertama—dan tentu saja guru yang berjaga di pos tersebut akan menyampaikan informasi melalui handie talkie.

.

.

.

"Megurine Luka dan Kagamine Len sudah sampai di pos pertama. Peserta selanjutnya silakan maju."

"Sekarang giliran kita, Yuzuki-san," ujar Kaito. Yukari hanya mengangguk. "Pastikan kau tidak berteriak dan memeluk lenganku, ya," goda Kaito yang memang lumayan sering mengusili teman-temannya.

"Tidak akan, Shion-kun." Yukari hanya tersenyum tipis karena geli melihat tingkat Kaito. Toh juga lagipula Kaito tahu kalau Yukari itu memang pemberani.

.

.

.

Srek. Srek.

"Yuzuki-san, pos pertama 20 meter dari tempat awal tadi, kan?" Tanya Kaito.

"Ya, kenapa?"

"Bukankah kita sudah berjalan jauh sekali? Tapi, kenapa pos pertama belum muncul? Rasanya kita sudah berjalan lebih dari 20 meter, deh." Kaito menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Benar juga. Tapi, kau benar sudah mengecek petanya?"

Kaito mendesah. "Sudah!"

"Kalau begitu, kabari pos pertama dengan handie talkie saja agar kita mendapat petunjuk," saran Yukari.

"Baik, kucoba." Kaito berusaha berkomunikasi melalui handie talkie yang dibawanya. "Kok tidak bisa…," gumam Kaito selanjutnya.

"Benar-benar tidak bisa?" Tanya Yukari. "Sini biar kucoba."

"Bagaimana?" Tanya Kaito.

"Mustahil… apa jangan-jangan handie talkie milik kita rusak?" Yukari mengira-ngira dan membuat Kaito menjadi lebih panik.

"Hah? Lalu bagaimana nasib kita? Kompas yang kubawa juga sama sekali tak berguna…."

"Entahlah… aku tak tahu bagaimana caranya mencari bantuan di sini—"

"KYAAAAA!"

Hening seketika.

"Shi-shion-kun…."

"Ya…?"

"Kaudengar suara teriakan tadi?"

Kaito mengangguk. "Ya…."

"Mirip suara Luka… jangan-jangan dia juga tersesat dan terjadi masalah?!" Yukari mulai panik.

"I-iya sih memang mirip suara Megurine-san… tapi, apa itu memang benar?"

"Kita jalan pelan-pelan saja dulu…," saran Yukari berusaha untuk tetap tenang. Mendadak senter mereka mulai redup dan mati dengan sendirinya.

"Yuzuki-san, bagaimana ini…?"

"Aku tidak tahu…," suara Yukari melemah. Seberani apa pun orang pasti juga akan panik dalam keadaan seperti ini, kan?

SRAK!

"AAHHHH!"

"Yuzuki-san!"

"Shi—Shion-kun!" seru Yukari yang tiba-tiba terjatuh ke dalam jurang yang cukup dalam. Beruntung tangan Kaito segera memegang erat tangannya.

"Te—tenang! Aku akan menyelamatkanmu!" Kaito berusaha menarik Yukari dari dalam sana.

Namun apa boleh buat, tubuh Kaito malah seperti di dorong dan jatuh bersama Yukari ke jurang itu.

"AAAHHH!"

.

.

.

Pandangan Yukari memburam. Ia menyadari sesuatu. Bahwa Luka dan Len juga—

.

.

.

"Yuzuki Yukari dan Shion Kaito sudah sampai di pos pertama. Peserta selanjutnya silakan maju."


Yosh, selesai juga -_- maaf telat update (lagi). Berhubung saya mudik, dan pergi terus, belum lagi sinyal rada-rada sendet (?) di sini.

Setelah cek review ternyata ada yang request karakter toh owo ya udah deh saya lanjutkan sampai chapter 7 ^^ awalnya sih Cuma mau berhenti di chapter ini, tapi karena ada request, gapapa deh dilanjut XD. Idenya saya mikir lebih keras nanti owo)b Cuma saya gak tahu nih bisa cepet update atau gak… soalnya kelas 3 ini saya mulai sibuk -_-

Terima kasih bagi yang sudah mereview. Saya akan balas review kalian deh :D (meski pun agak malas, tapi saya ingin jadi author teladan /eak /ditabok).

Khusus untuk yang tidak login:

Mahou-Chan: saya juga merinding waktu ngetiknya XD sebelumnya makasih udah mau repot-repot mereview ^^ ya, saya juga lagi ngumpulin kisah2 horor di sekolah saya kok XD.

Guest: yak, terima kasih udah mau review!

neko-neko kawaii: arigatou XD wkwkwk ya… Cuma kebetulan ngalamin kok X3.

Budi dan Rini: iya, makasih atas dukungannya dan sudah mau mereview~ ^^.

Nah, yang login saya balas lewat PM ya ^^.