Minna, gomen ne baru update. m-.-m

Authornya sedang malas nulis, jadi ogah-ogahan waktu nulis.

Jadilah fic ini tertunda sangat lama dari jadwal update author, tapi semoga chapter dua ini bisa sesuai harapan kalian.

Kemarin author terkena WB, meski masih belum bisa dikatakan parah.

Satu lagi, koneksi modem lagi error.

Kadang lancar, kadang ngadat. Apalagi kalau udah ada tiga huruf Z didepan tulisan connected, udah pasti tidak bisa update ==''

Kayaknya author terlalu banyak curcol, kita balas review ok!

Balas review !

Guest :

Iya, Uchiha dari dulu emang pervert sih. Mau bagaimana lagi, naskah #so laku- author memang buat Sasuke jadi begitu.

Kyuu kan orangnya memang begitu, yang dilakuin lain dari yang dikatakan hatinya.

Makasih udah review. ^,^/

Kizuna :

Huweee! Gomen, hiks! Author masukin SasuNeji Cuma buat pembuktian jikalau #halah- Sasuke itu lebih seme dari Neji. Cuma itu dan tidak lebih!

Untung kamu lanjutin baca, arigatou ^^

Lagi pula author juga sama kok, ngga suka pair itu #kenapa diadain kalau ngga suka! ==''

Makasih udah review ^^/

Azumi :

Ini sudah dilanjut, makasih udah review ^^/

Han gege :

Eeeeh! Naru jangan diculik, nanti fic ini nasibnya gimana?

Hohoho #Tanaka mode on *napa bawa-bawa fandom lain!*

Ini sudah dilanjut, makasih udah review! ^,^/

Yang sudah log in :

arriedonghae, Earl Louisia vi Duivel, Daevict024, Chibi Chubi Diamond Gold Fujo,

Rin Miharu-Uzu, kinana, laila. , Gunchan CacuNalu Polepel,

Schein Mond, Iria-san, Aoi Ko Mamoru, MoodMaker, Neterya imel, Kim Victoria.

Thank to you very much, sudahkah author membalas kalian lewat PM?

Kalau belum, maafkan lah author. Mungkin author khilaf #plak!

Wokeh!

Lets enjoyed Minna !

.

.

.

Naruto : 24 tahun

Sasuke : 17 tahun

Itachi : 25 tahun

Kyuubi : 25 tahun

Neji : 17 tahun

Gaara : 19 tahun

Sai : 23 tahun

Kakashi : 24 tahun

Disclaimer : Masashi Kishimoto sama

Genre : Romance(?), Drama(?)

Rate : M

Pairing : SasuNaru slight ItaKyuu(tidak tampil), SaiNaru.

Warning : Yaoi, Sho Ai, Lemon kurang hot, aneh, gaje, Typo dan kawan-kawan sebangsanya.

!DON'T LIKE DON'T READ!

But,

You can try to read and don't flame!

Sequel My Lovely Doktor

Uzumaki Kagari present My Lovely Actor

Chapter 2

Berjalan dengan gontai memasuki sebuah gedung tinggi menjulang, seorang pemuda berambut raven nampak sangat tidak bersemangat meski jam dipergelangan tangannya masih menunjukan pukul sembilan pagi. Pakaian formal yang ia kenakan terlihat agak berantakan dan kusut, sangat menunjukan betapa tidak inginnya ia bekerja hari ini.

Beberapa orang yang melewatinya memberi sapaan namun hanya ditanggapi senyum kecut olehnya, membuatnya mendapatkan tatapan heran dari orang-orang itu.

Cklek

Membuka pintu ruangan pribadinya dan berjalan masuk, tak lupa untuk kembali menutup pintu itu. Ia melangkahkan kakinya menuju sebuah sofa panjang yang berada disudut kanan ruangan dan merebahkan diri disana.

"Kyuu..." Gumam pemuda itu, ia benar-benar bingung. Apalagi yang harus ia lakukan agar rubah itu mau memaafkannya. Ini sudah lebih dari dua bulan namun sikap Kyuubi terhadapnya sama sekali tidak berubah malah semakin sering mengamuk dan melempar berbagai macam benda kearahnya(Kyuubi gila ya? #ditembak bom biju).

Ia mendudukan dirinya disofa, kedua telapak tangannya menutupi wajah tampannya. Kenapa ia bisa OOC seperti ini hanya gara-gara rubah itu? Pikirannya sangat kacau.

Bug !

Menjatuhkan lagi punggungnya pada sofa, Itachi menutup matanya dengan sebelah tangan. Ini kah yang namanya depresi cinta? Apa istilahnya, galau? Mungkin itulah yang sedang dirasakannya sekarang, galau karena cintanya pada Kyuubi.

"Aku galau," Gumamnya sinting, ia memang sudah gila karena 'seekor' rubah yang sulit dijinakan.

"Cius?" Itachi mengerutkan keningnya, baru saja ia mendengar suara sesorang. Ia melirik kearah sumber suara, disana seorang pemuda berambut white silver tengah menyenderkan punggungnya pada pintu.

"Bukankah tidak sopan memasuki ruangan seseorang tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu?" Tanya pemuda itu-lebih tepatnya menyindir orang yang sudah seenaknya masuk kedalam ruangannya.

"Oh! Maaf, bukan salahku jika telingamu rusak." Jawab orang itu- membalas sindiran dari pemuda raven.

Beranjak dari sofa, pemuda itu berjalan menuju kursi dibelakang meja kerjanya.

"Ada perlu apa kau kemari, Kakashi?" Pemuda itu, Itachi menatap datar Kakashi yang melangkah mendekatinya.

"Aku hanya ingin menengok atasanku yang melalaikan tugasnya karena sedang galau cinta." Jawab Kakashi, ia meletakan setumpuk berkas dimeja Itachi.

"Jangan bertele-tele Kakashi." Itachi menatap tajam sekertaris pribadinya itu.

"Ha~ah," Helaan napas terdengar dari bibir dibalik masker yang digunakan Kakashi, "Ayahmu 'meledak' kemarin gara-gara kau tidak menghadiri rapat pagi, seharusnya kau bisa bersikap profesional. Jangan campurkan urusan pribadi dengan kantor," Ucap Kakashi sedikit menasehati Itachi.

"..." Itachi hanya diam mendengar ucapan Kakashi.

"Sepertinya Itachi yang jenius sudah digantikan oleh Itachi yang bodoh." Ucap Kakashi.

"Kau mengataiku bodoh?" Tanya Itachi dengan wajah stoiknya.

Kakashi hanya mengangkat bahunya acuh.

"Kau sudah tidak ada keperluan lagi denganku kan?" Itachi mengambil beberapa berkas yang ada di atas mejanya.

"Ha'ah, kalau begitu aku permisi." Ucap Kakashi, ia menundukan tubuhnya sebelum berbalik dan melangkah menuju pintu.

"Kau tahu Itachi, kau sudah menyia-nyiakan otak jeniusmu." Ujar Kakashi sebelum ia keluar dari ruangan itu.

Setelah kepergian Kakashi, Itachi menatap kosong berkas-berkas yang ada ditangannya. Lalu perlahan senyum misterius tersungging dibibir manisnya.

'Aku jenius, kenapa tidak terpikir olehku huh?' Pikir Itachi, ia mengambil sesuatu didalam saku kemejanya.

Ponsel hitam dalam genggaman Itachi membuat senyum misteriusnya semakin mengembang tatkala ia menemukan sebuah kontak nama milik seseorang. Ia menekan tombol call pada layar ponselnya dan mendekatkan ponsel itu ketelinganya.

Tuuut tuuut tuu-

"Hallo?" Ucap seseorang yang dihubungi Itachi.

"Sasori."


O. Kagari Hate The Real World .O


Seorang pemuda berjas putih berjalan disepanjang koridor rumah sakit dengan tidak lupa memberikan senyuman manisnya pada setiap orang yang berpapasan dengannya dan juga ia menyapa beberapa pasien rumah sakit yang tengah keluar dari ruang rawat mereka.

Tidak nampak raut kelelahan diwajah laki-laki berumur 24 tahun itu, meskipun ia baru saja tidur beberapa jam tadi malam atau bisa dibilang tadi pagi mungkin karena memang ia baru bisa tidur pada pukul empat pagi dan harus bangun pada pukul enam.

Disamping dokter muda itu ada seorang pemuda lain dengan pakaian perawat yang dengan setia mengikuti kemana pun sang dokter pergi. Pemuda itu bernama Gaara, nama lengkapnya Sabaku no Gaara. Ia adalah mahasiswa yang sedang melakukan praktik magang di rumah sakit, pemuda yang berumur sembilan belas tahun ini berkuliah dijurusan kedokteran dan karena itulah dia disini. Terjebak dengan seorang pembimbing childish yang ada disampingnya.

Mereka terus berjalan menyusuri koridor rumah sakit untuk mencapai tempat yang menjadi tujuan mereka, setelah beberapa lama mereka pun sampai disebuah pintu bertuliskan Doctor Namikaze Naruto's room. Pemuda bersurai cerah melangkah terlebih dahulu untuk membuka pintu itu dan berjalan memasuki ruangan dibaliknya.

Setelah asisten dadakannya masuk, pintu itu kembali ditutup. Dengan tiba-tiba sang dokter muda itu berlari menuju sebuah sofa panjang yang ada disana dan menjatuhkan dirinya diatas sofa itu.

"Huwaaa! Aku capek!" Teriaknya. Ia memijat-mijat kedua pipinya.

"Adu duh, otot wajahku rasanya kaku semua~. Siapa sih yang membuat aturan jika dokter harus terus tersenyum didepan semua orang! Jika aku tahu, akan ku robek bibirnya agar dia bisa merasakan bagaimana rasanya harus tersenyum selama berjam-jam!" Teriak Naruto edan, seraya memukul-mukul udara kosong didepannya.

Gaara yang melihat kelakuan tidak waras pembimbingnya hanya bisa memutar bola matanya malas. Ia melangkahkan kakinya mendekati meja kerja Naruto dan meletakan hasil pemeriksaan rutin hari ini.

"Ne Gaara?" Panggil Naruto.

"..."

"Gaara?" Panggil Naruto sekali lagi.

"..."

Twich !

Urat kesal bersarang dikening Naruto.

"Gaara cha~n." Panggil Naruto yang sukses membuat Gaara melempar sebuah spidol kearahnya.

"Jangan panggil aku dengan embel-embel –chan." Ucap Gaara dingin, Naruto hanya bisa merinding dan memegangi jidatnya yang memerah terkena spidol yang dilempar Gaara.

"Bu~h,Jahat banget sama pembimbing sendiri~." Ucap Naruto, sedikit memajukan bibirnya.

"Sudahlah, tugasmu masih banyak. Jadwal cek pasien dilantai tiga hari ini adalah tugasmu." Ucap Gaara.

"Aku capek Gaara~, aku juga manusia yang butuh istirahat." Ucap Naruto.

"Terserah, aku tidak tanggung jawab kalau ada pasienmu yang mati karena kau terlambat memeriksanya." Ucap Gaara cuek, ia melangkahkan kakinya ke pintu.

"Eeh! Gaara tunggu, tunggu! Iya aku kerjakan sekarang!" Teriak Naruto mengejar Gaara yang sudah berada diluar.

"Nah, buka kancing bajunya ya." Ucap pemuda bersurai pirang kepada seorang anak kecil yang ada didepannya.

"Iya doktel!" Ucap semangat anak kecil itu.

Naruto memberikan beberapa tekanan didada anak itu, "Kalau terasa sakit bilang sama dokter ya." Ucapnya.

"Iya!" Jawab anak itu riang.

"Apa disini sakit?" Tanya Naruto menekan bawah dada anak perempuan berambut kelabu itu.

"Tidak doktel." Jawab anak itu.

"Fu~h. Sepertinya kondisimu semakin baik ya Haruka!" Ucap Naruto.

"Benalkah? Jadi Haluka bisa cepat pulang?" Tanya anak itu bersemangat.

"Tentu saja, tapi Haruka harus mematuhi perintah dokter kalau ingin cepat pulang." Jawab Naruto, ia menggendong anak perempuan bernama Haruka itu.

"Holee! Haluka bisa main sama mama lagi!" Riang anak itu, melingkarkan lengannya pada leher Naruto.

"Hahaha, iya Haruka!" Naruto tertawa riang.

"Eh, doktel ini apa?" Tanya anak itu, jari telunjuknya menunjuk leher Naruto.

"Eh, apa?" Tanya Naruto balik karena tidak mengerti yang diucapkan anak itu.

"Ini, banyak melah-melah dilehel doktel." Anak itu menunjuk-nunjuk bercak merah yang ada dileher Naruto.

Blush

Seketika wajah Naruto memerah, ia menutupi lehernya dengan sebelah tangan.

"A a itu, cuma gigitan nyamuk." Jawab Naruto salah tingkah, apalagi disini ada beberapa suster yang mendengar ucapan anak itu.

"Huhuhu, dokter nakal juga ya." Ucap salah seorang suster.

Wajah Naruto semakin memerah mendengar ucapan dari para suster yang berbisik-bisik itu.

"Ba baiklah, a aku permisi dulu." Naruto menurunkan anak yang digendongnya dan berjalan cepat keluar dari ruangan itu.

"Doktel kenapa?" Tanya anak itu, ia memiringkan kepalanya karena merasa bingung dengan kelakuan sang dokter.

"Bukan apa-apa, cepat sembuh ya Haruka." Jawab Gaara, ia mengalihkan pandangannya pada para suster yang ada disana.

"Saya permisi." Ucap Gaara dan berjalan keluar mengikuti Naruto.

Disepanjang koridor rumah sakit, ada sesosok durian berjalan (N : maksud loe?!) yang tidak henti-hentinya merapalkan berbagai umpatan-umpatan kekesalan. Ia berjalan dengan menghentak-hentkan kakinya melupakan semua tatakrama tentang tersenyum dan hal lain sebagainya, sekarang ia merasa sangat kesal, ya kesal pada pantat ayam mesum yang sudah mempermalukannya err bukan secara langsung maksudnya.

"Sasuke sial! Teme! Brengsek! Bastard!" Umpat Naruto disepanjang jalan yang ia lalui.

"Berhentilah mengumpat, disini banyak orang yang mendengarmu." Ucap Gaara yang berjalan disamping Naruto.

Dengan wajah sangat tidak mengenakan, Naruto menatap Gaara dengan pandangan marah yang ditahan.

"Kau mau protes?" Tanya Naruto dengan so galak so seramnya.

"Kalau jalan lihat kedepan, nanti kau bisa-"

Brugh !

"-menabrak." Sebelum Gaara menyelesaikan ucapannya, Naruto sudah terlebih dahulu menabrak seseorang didepannya.

"Awh," Ringis Naruto, ia memegangi pantatnya yang terasa sakit akibat berbenturan dengan lantai.

"Ah, maaf. Kau tidak apa- Naruto senpai!" Seseorang yang ditabrak Naruto itu memegangi kedua bahunya dan langsung memeluk Naruto.

"He hei! Kau ini siapa!" Ucap Naruto kaget, ia mendorong-dorong orang yang memeluknya itu.

"Naruto senpai, ini aku. Kau tidak mengingatku!" Ucap orang itu semangat, ia melepaskan pelukannya dan menatap wajah Naruto.

"Kau..." Naruto menatap orang didepannya seraya mengingat-ingat siapa orang didepannya itu, laki-laki berkulit pucat berpostur tinggi, memiliki iris hitam kelam yang sama dengan warna rambutnya.

"Kau Sai!" Teriak Naruto, ia langsung memeluk orang yang dipanggilnya Sai itu.

"Na Naruto senpai, aku tidak kuat lagi-"

Brugh !

Karena beban tubuh Naruto yang menumpu padanya, Sai yang sedang berjongkok terjatuh karena tidak bisa mempertahankan keseimbangannya.

"Kau kemana saja! Aku rindu padamu~." Ucap Naruto yang terus memeluk Sai.

"Aku juga merindukanmu senpai, tapi kau berat." Ucap Sai sedikit meringis tertimpa beban tubuh Naruto.

"Ah! Maafkan aku, aku jadi terlalu bersemangat karena bertemu denganmu." Naruto melepaskan pelukannya dan membantu Sai berdiri.

"Tidak apa-apa senpai." Ucap Sai seraya tersenyum pada Naruto.

"Tapi kau kemana saja? Kau tahu tidak, aku sempat cemas karena kau pindah ditengah-tengah semester." Tanya Naruto.

"Aku hanya menuruti keinginan tou san yang ingin sekolahku pindah ke Inggris." Jawab Sai tersenyum.

"Harusnya kau beritahu aku dulu saat kau pergi." Ucap Naruto.

"Hahaha, iya maaf. Waktu itu juga dadakan, jadi aku tidak sempat memberitahu senpai." Ucap Sai dengan senyum diwajahnya.

"Ekhm." Bunyi-bunyian gaib yang sejak tadi merasa dicueki pun terdengar, mengalihkan perhatian dua orang yang tengah bercakap-cakap melepas rindu(?). Gaara menatap datar Naruto, tak mengucapkan sepatah kata pun.

"Hehehe, maaf Gaara. A aku jadi lupa kau ada disebelahku." Ucap Naruto, menggaruk belakang kepalanya. Agak ngeri jika melihat Gaara dalam keadaan marah.

Sai menatap pemuda bersurai merah bata itu dengan intens, senyum yang melekat diwajahnya sekarang hilang entah kemana. Ia melangkahkan kakinya kedepan Naruto, matanya tak lepas dari sosok Gaara.

"Kau siapa?" Tanya Sai datar, ia berdiri membelakangi Naruto dan berdiri tepat didepan Gaara.

"..." Gaara hanya menatap pemuda berpostur tinggi didepannya dengan datar.

"A Sai, kenalkan ini Gaara. Dia adalah asistenku, Gaara ini Sai. Dia adalah juniorku saat di SMA, sudah lama kami tidak bertemu." Ucap Naruto saling memperkenalkan dua orang yang nampak sedang adu tatapan datar didepannya.

"Aku Sai, Uchiha Sai. Salam kenal Gaara san." Ucap Sai, ia menjulurkan tangannya kedepan dengan senyum yang mengembang diwajahnya.

Gaara melirik tangan yang tergantung diudara itu, ia pun menjabat tangan Sai.

"Gaara, Sabaku Gaara." Ucap Gaara memperkenalkan dirinya.

"Senang berkenalan denganmu Gaara san." Ucap Sai seraya tersenyum.

"Boleh kutahu, kau ini 'hanya' asisten Naruto senpai kan?" Tanya Sai dengan penekanan pada kata hanya.

"Hm," Jawab Gaara malas, ia sudah cukup dicurigai oleh satu orang. Tidak terimakasih darinya jika harus dicurigai lagi oleh orang didepannya.

Gaara mengalihkan pandangannya pada Naruto, "Aku akan kembali lebih dulu." Ucapnya, ia membungkukan tubuhnya sedikit sebelum berlalu meninggalkan Naruto dan Sai.

"Senpai, mau kah kau mengobrol denganku dulu? Sekalian istirahat makan siang." Tanya Sai, ia tersenyum kearah Naruto.

Naruto melihat jam dipergelangan tangannya yang sudah menunjuk pada angka sebelas sebelum menjawab tawaran Sai.

"Baiklah, aku juga belum makan sejak pagi." Ucap Naruto.

"Baiklah, kita makan diluar." Ucap Sai.

"Tak kusangka kau masih ingat tempat ini." Ucap Naruto pada pemuda di depannya. Sekarang mereka tengah berada di sebuah kedai ramen bernama Ichiraku Ramen.

"Tentu saja, ini kan tempat favorit kita saat SMA tapi aku tidak menyangka kalau senpai masih setia menjadi ramen freak." Ucap pemuda bersurai gelap didepannya.

"Tentu saja! Ramen itu setengah hidupku!" Ucap Naruto semangat.

"Hahaha, senpai tidak berubah ya." Ucap Sai geli melihat tingkah Naruto.

"Huft, biar saja. Tapi kau berubah ya," Ucap Naruto, ia memperhatikan Sai dari atas ke bawah.

"Benarkah? Tapi ku pikir tidak ada yang berubah dariku." Sai menggaruk belakang kepalanya.

"Kau berubah, jadi terlihat lebih dewasa." Ucap Naruto.

"Senpai ini, tentu saja kan. Aku ini sudah 23 tahun, tidak mungkin aku akan terus bersikap kekanakan." Ucap sai.

"Kau menyindirku ya?" Tanya Naruto, ia memicingkan matanya.

"Tidak, tapi senpai sendiri yang merasa." Jawab Sai yang mendapat tinjuan ringan Naruto ditangannya.

"Tapi, aku benar-benar tidak menyangka kau masih ingat tempat ini." Ucap Naruto.

"Ya, semua yang berhubungan dengan senpai aku pasti mengingatnya." Sai memandang Naruto yang tengah meminum tehnya.

"Tapi kan ini sudah sekitar enam tahun berlalu sejak saat kau pergi." Ucap Naruto, ia melihat-lihat keadaan sekitar kedai itu.

"Ya, sudah lama sekali. Tapi tempat ini tetap sama seperti dulu," Ucap Sai kali ini suaranya sedikit menyendu, matanya ikut melihat keadaan sekitar.

"Senpai." Panggilnya, Sai menatap Naruto dengan intens.

"Hmm, ada apa Sai?" Tanya Naruto, ia memandang Sai yang menatapnya dengan serius.

"Senpai aku," Ucap Sai menggantung.

"Ada apa Sai? Kenapa kau tiba-tiba terlihat serius begitu?" Tanya Naruto lagi, ia sedikit bingung dengan sikap Sai yang mendadak berubah serius.

Sai menutup matanya sejenak sebelum kembali membukanya dan menatap langsung manik sapphire didepannya.

"Naruto senpai aku," Sai menyentuh tangan Naruto yang berada disamping meja dan menggenggamnya, "Perasaanku pun masih sama seperti dulu, tidak pernah berubah." Ucapnya dengan nada lembut.

Naruto menarik tangannya yang digenggam Sai dan menatap pemuda yang lebih muda satu tahun darinya itu.

"Sai aku," Naruto menggigit bibir bawahnya.

"Kenapa? Apa sekarang pun tetap tidak bisa? Sekarang apa alasanmu untuk menolakku senpai!" Sai sedikit meninggikan suaranya.

"Pelankan suaramu Sai, di sini banyak orang." Ucap Naruto, ia melihat sekeliling. Orang-orang menatap mereka karena suara Sai yang cukup keras.

Sai menutup matanya dengan sebelah tangannya, "Maaf, aku terbawa emosi." Ucap Sai yang kini sudah bisa mengendalikan emosinya.

"Aku hanya kesal, aku sudah menunggumu lama senpai. Dulu kau menolakku karena kau sedang bersama Hinata, aku bisa terima itu. Tapi sekarang, kenapa kau menolakku senpai? Apa alasanmu kali ini?" Tanya Sai penuh harap.

Naruto memalingkan wajahnya, ia lebih memilih menatap jalanan diseberang sana dari pada menatap wajah pemuda yang duduk didepannya.

"Lihat aku senpai, aku sedang bertanya padamu." Ucap Sai.

"Sai aku," Naruto menatap teguh tepat pada iris hitam Sai, "Aku sudah punya kekasih." Ucapnya.

"Siapa?" Tanya Sai, ia mengepalkan kedua tangannya.

"Dia sama denganmu, dia seorang Uchiha." Jawab Naruto, "Sai, tidak bisa kah kita hanya berteman?" Tanya Naruto, matanya menatap sendu Sai.

"Tidak." Tegas Sai, "Walau bagaimana pun kau akan menjadi milikku senpai." Lanjutnya. Kata-kata yang keluar dari mulut Sai membuat Naruto terkejut, Ia tak menyangka jika Sai tidak pernah merubah perasaan cintanya selama enam tahun ini.

"Jam makan siang sudah lewat, aku akan mengantarmu kembali kerumah sakit." Ucap sai seraya berdiri dan meninggalkan beberapa lembar uang di atas meja.

Naruto hanya diam dan mengikuti Sai yang melangkah keluar dari kedai, ia melihat Sai yang membukakan pintu mobil untuknya. Dalam diam Naruto masuk kedalam mobil, ia tetap diam saat Sai duduk disampingnya dan mulai menjalankan mobilnya.

Brrm ! "==a

Selama perjalanan tak ada satu pun dari mereka yang bicara, keduanya tenggelam dalam pikiran masing-masing. Membuat kesunyian diantara mereka, Sai hanya memandang lurus kedepan tanpa sekali pun melihat atau sekedar melirik Naruto. Begitu pula Naruto yang terus melihat keluar jendela, memandangi deretan bangunan yang mereka lewati.

"Kita sudah sampai." Ucap Sai, ia menepikan mobilnya didepan gedung rumah sakit.

Naruto melepas sabuk pengamannya dan membuka pintu mobil disampingnya, ia melihat kearah Sai yang masih menatap lurus kedepan.

"Sai-"

"Tidak, aku tidak baik-baik saja." Ucap Sai memotong perkataan Naruto, "Dengarkan aku senpai, aku tidak akan menyerah denganmu. Jadi kumohon pikirkan lagi," lanjutnya seraya tersenyum kearah Naruto.

Naruto hanya menghela napasnya mendengar ucapan Sai, ia pun keluar dari mobil itu dan kembali melihat Sai yang masih tersenyum kearahnya.

"Sampai jumpa lagi senpai." Ucap Sai sebelum ia kembali melajukan mobilnya menjauhi tempat Naruto berdiri.

"Kau akan menjadi milikku senpai." Senyum diwajahnya sirna, wajah datarlah yang sekarang nampak di paras tampan miliknya.

Cklek

Naruto membuka pintu ruangannya, ia memijat keningnya yang terasa pening. Ini benar-benar mengejutkan, kenapa Sai datang dengan perasaan cintanya. Ia hanya menganggap Sai sebagai juniornya, sebagai teman tidak lebih dan tidak kurang. Apa yang harus dilakukannya sekarang, apalagi jika hal ini sampai diketahui kekasihnya, ya benar bagaimana kalau Sasuke sampai tahu. Tapi beruntung Sasuke tidak tahu soal Sai.

"Dobe."

"Gyaaa!" Teriak Naruto, ia terkejut dengan suara pemuda yang tiba-tiba saja memanggilnya.

"Kau kenapa?" Tanya pemuda itu, menaikan sebelah alisnya heran saat melihat Naruto yang begitu kaget melihat dirinya.

"Sasuke! Jangan tiba-tiba mengagetkanku! Dan kenapa kau ada di sini!" Teriak Naruto kesal seraya mengelus-elus dadanya, jantungnya hampir saja copot saat melihat Sasuke yang ada diruangannya.

Twich !

Urat kekesalan nampak didahi remaja raven itu, ia sudah sangat sabar saat mengetahui Naruto tidak ada di rumah sakit ini saat jam makan siang dan ia harus menunggunya kembali tapi sekarang setelah ia susah payah kabur dari tempat kerjanya hanya demi bertemu sang pujaan hati dan lagi menunggu selama satu jam tigapuluh enam menit tiga belas detik. Ia malah diteriaki oleh sang pujaan hati tercinta(Lebay dech!).

Menghembuskan napas terakhirnya –ralat- menghembuskan napasnya berat, sang Uchiha muda berdiri dari duduknya dan berjalan mendekati sang pujaan hati ter- err ganti- kekasihnya.

"Dobe." Panggilnya dengan nada amat teramat rendah, menahan kekesalan yang sudah berada di ubun-ubun.

"Aku sudah kabur dari tempat kerjaku, aku sudah menunggumu selama satu jam tigapuluh enam menit tiga belas detik di ruangan ini, aku sudah sangat sabar untuk semua itu. Tapi sekarang kau malah berteriak padaku dan melihatku seolah aku ini adalah setan yang akan menerkammu." Ucap Sasuke penuh penekanan, ia terus berjalan mendekati Naruto.

"Itu salahmu sendiri yang tiba-tiba ada diruanganku!" Ucap Naruto.

"Jadi kau melamun itu adalah salahku begitu?" Tanya Sasuke, ia menyilangkan tangannya di depan dada.

"Aku tidak melamun, aku hanya sedang memikirkan sesuatu." Jawab Naruto.

"Memikirkan apa sampai kau tidak menyadari keberadaan 'kekasih'mu?" Tanya Sasuke dengan penekanan dikata terakhirnya.

"Ah, sudahlah. Kepalaku pusing, jangan buat aku tambah pusing Sasuke." Ucap Naruto.

Oh, baiklah. Ucapan Naruto barusan adalah batas dari kesabaran Sasuke, bisa-bisanya kekasihnya itu berkata seperti itu padanya. Lalu dengan perlahan bibirnya mulai melengkungkan sebuah senyuman penuh arti.

"Jadi 'uke'ku sedang pusing?" Ucap Sasuke, ia melangkahkan kakinya mendekati tempat Naruto berdiri.

Deg !

Naruto merasakan alarm dalam otaknya merasakan bahaya dari remaja di depannya ini, tanpa sadar ia memundurkan langkahnya. Membuat sebisa mungkin jarak antara ia dengan Sasuke namun lagi-lagi ia sial, kenapa disetiap fic selalu saja disaat seperti ini pasti akan ada dinding yang menghentikan langkah mundurnya. Oh, apakah Kami sama sangat membencinya ataukah ia perlu berpaling pada DJ agar ia bisa selamat kali ini.

"Teme kau mau apa?" Tanya Naruto.

"Mau ku?" Tanya balik Sasuke, ia tetap menunjukan senyum-yang menurut author sangat mencurigakan dan mesum- "Kau tahu, menunggu selama satu jam tigapuluh enam menit tiga belas detik itu sangat membosankan." Ucapnya.

"Dan aku tidak suka menunggu dobe." lanjutnya

"Te teme, aku minta maaf o oke?" Ucap Naruto namun Sasuke tetap melangkah mendekatinya.

"Teme, jangan marah. Aku hanya keluar untuk makan siang." Ucap Naruto, ia semakin merapatkan punggungnya ke dinding.

"Suke~," Naruto semakin merasakan bahaya saat Sasuke sudah berada tepat di depannya.

Sasuke menyeringai saat ia melihat Naruto dengan wajah memelas, "Hn, this is your punishment." Ucapnya.

"A- mmmp! Ah, Sasu- mmphh!" Naruto terlihat protes saat Sasuke dengan tiba-tiba menciumnya dan mulai melumat bibir ceri miliknya.

Sasuke tak mempedulikan erangan protes dari Naruto, ia tengah sibuk melepaskan jas putih dan kemeja yang dikenakan Naruto. Satu persatu kancing kemeja putih itu terlepas, menampakan tubuh bagian atas Naruto. Banyak bercak merah yang sudah lama dan mampir hilang juga yang baru disana.

"Nggh," Naruto mulai mengerang ditengah ciuman panasnya ketika Sasuke memilin nipple kecoklatan miliknya.

Jika sudah begini, tidak ada yang bisa menghentikan Sasuke. Dengan pasrah, akhirnya Naruto mengikuti permainan Sasuke. Ia melingkarkan tangannya pada leher sasuke, menariknya lebih dekat untuk lebih memperdalam ciumannya.

Sasuke menekan tubuhnya pada Naruto, kaki kanannya ia gunakan untuk menggesek selangkangan Naruto. Membuat erangan Naruto semakin jelas terdengar.

"Angh, Sukeh..." Desah Naruto saat ciuman itu diakhiri karena Sasuke mulai menyerang turun kesekitar lehernya.

"Ja jangan, jangan di situ nanti. Na nanti ti tidak engh bisa ditutupi." Ucap Naruto terbata.

Menghentikan aksinya, Sasuke menatap wajah Naruto yang sudah memerah.

"Biarkan saja mereka tahu kalau kau itu milikku." Ucapnya sebelum kembali menyerang leher Naruto.

"Ja jangan Suke, engh..."

Sasuke tidak mendengarkan Naruto, ia terus mengekspose leher jenjang Naruto dan memberikan tanda kepemilikannya disana. Ia mengarahkah sebelah tangannya kepunggung Naruto, menariknya dalam pelukan sedangkan sebelahnya ia telusupkan kebalik celana yang digunakan Naruto.

"Ngh, ah Sasukeh..." Desahnya lagi saat jari-jari dingin Sasuke menyentuh miliknya di dalam sana.

"Terus, keluarkan suaramu Naruto." Ucap sasuke ditengah-tengah kesibukannya membuat kissmark pada kulit tan Naruto.

"Angh..."

Sasuke menggenggam milik Naruto dan mulai mengelus lembut. Dengan sedikit gerakan, ia mulai menggerakan tangannya naik turun membuat sang empunya mengerang, mendesah karena perlakuannya itu.

Tangan yang tadinya berada dipunggung Naruto kini tengah berusaha membuka resleting celana Naruto, menyingkirkan penghalang yang tersisa ditubuh ramping Naruto. Celana itu melorot kebawah menyisakan tubuh polos Naruto yang sangat menggoda bagi Sasuke dan authornya sendiri.

Sasuke menghentian pekerjaannya sejenak untuk melihat tubuh sempurna Naruto, tubuh yang selalu disentuh, dinikmati, juga tubuh yang selalu bisa memuaskannya. Tubuh dari seseorang yang dicintainya, tubuh dari Namikaze Naruto miliknya.

Dengan tiba-tiba Sasuke membalikkan tubuh Naruto membuatnya menghadap dinding putih ruangan itu.

Kembali ia lanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda, menjilati punggung Naruto yang belum ia berikan tanda meski pun punggung itu sudah banyak bercak merah yang ia buat beberapa waktu lalu. Ia tersenyum saat melihat hasil karyanya itu yang akan dengan segera ditambah lagi dengan karya yang akan ia buat sekarang.

"Akh!" Pekik Naruto saat dirasanya satu jari Sasuke yang mulai memasuki rektum miliknya.

Sasuke mulai memaju mundurkan satu jarinya didalam Naruto, melonggarkan dinding-dinding ketat rektum itu untuk mempermudah jalan masuknya. Setelah dirasanya Naruto sudah tenang, ia menambah kan satu bukan tapi langsung dua jari kedalam rektum Naruto.

"Akh! Teme apa yang kau lakukan!" Protes Naruto, ia merasakan rektumnya yang direnggengkan tiba-tiba.

"Oh, ayolah dobe. Aku sudah berkali-kali melakukan ini." Ucap Sasuke, ia melau memaju mundurkan ketiga jarinya lagi.

"Angh, ah..." Naruto terus mendesah saat jari itu bergerak keluar masuk rektumnya.

"ANGH!" Desahnya keras saat Sasuke mengenai titik terdalam ditubuhnya.

Sasuke mengeluarkan ketiga jarinya dari rektum Naruto, ia membuka resleting celana jeans yang dikenakannya dan mengeluarkan miliknya yang sudah menegang sejak tadi. Dengan segera, ia mempersiapkan miliknya tepat didepan rektum Naruto dan dengan sekali hentakan ia memasukan seluruh miliknya.

"AKH!" Teriak Naruto saat rektumnya melebar dengan paksa, hingga menyebabkan ia klimaks tanpa disentuh Sasuke.

"Hn, begitu saja sudah keluar." Ucap Sasuke dengan nada meremehkan.

"Berisik! Ini karena kau langsung memasukan seluruhnya, aku jadi ah ah hah ah Sasuke!" Kata-kata Naruto berganti menjadi desahan tak terputus saat sasuke memaju mundurkan pinggulnya.

"Angh, ah ah hah." Naruto terus mendesah, mengiringi hentakan demi hentakan yang Sasuke lakukan dibagian bawah tubuhnya.

Kakinya sudah gemetaran menahan hujaman Sasuke, mungkin ia akan langsung jatuh ke lantai jika Sasuke tidak menahan pinggulnya untuk tetap berdiri. Ia merasakan satu tangan Sasuke beralih kedepan, menggenggam miliknya yang terabaikan sejak tadi.

"Ah hah ah ah Su Suh keh," desahnya semakin keras.

Sasuke terus menghujam titik terdalam Naruto, membuat sang uke berkali-kali melayang menuju kenikmatan. Sasuke merasakan milik Naruto yang semakin menegang, menandakan bahwa ia sebentar lagi akan mencapai klimaksnya.

"Su Suke, aku aku angh ap apa yang kau lakukan!" Protes Naruto saat lubang miliknya ditutupi oleh jempol Sasuke.

"Kau tidak boleh keluar sebelum aku." Ucap Sasuke, semakin mempercepat tempo gerakannya.

"Sasu ah ah ah, hah ah ah."

"Terus mendesah Naruto, sebut namaku." Ucap Sasuke.

"Sasu ah ah."

"Sasuke, ku mohon ah ah ahku tidak kuat la lagi." Naruto memohon untuk segera dibebaskan.

"Tidak." Ucap Sasuke, ia terus mempercepat gerakannya meski pun sang uke sudah dengan susah payah untuk tetap berdiri.

"Ah, ah ah. Su 'Suke aku hah ah,"

Gerakannya semakin ia percepat saat ia merasakan cairan itu mulai mengalir dalam miliknya. Dengan beberapa gerakan terakhir, Sasuke melepaskan cairan di dalam tubuh Naruto.

"Na Naruto!"

"Ah, Suke lepas. Lepaskan tanganmu," Ucap Naruto, ia sudah merasakan kedatangan klimaksnya lagi namun Sasuke masih belum melepaskan tangannya.

"Apa yang kau hah ah ah ah," Ucapan Naruto kembali berganti menjadi desahan saat Sasuke menggerakan tangannya naik turun.

"Aku tidak ku kuat, i ini sakit Suhkeh." Miliknya sangat terasa penuh oleh cairan, ia ingin mengeluarkannya segera namun lubang miliknya masih setia dihalangi oleh Sasuke.

"Kan sudah kubilang ini hukumanmu." Ucap Sasuke terkesan cuek.

"Ah ah aku mo mohon." Genangan air mata terlihat dimata Naruto, menahan sakit akibat tidak bisa klimaks.

"Hn." Ucap Sasuke seraya mencium bibir Naruto dan melepaskan tangannya dari milik Naruto yang langsung menyemburkan banyak cairan kentalnya yang menodai dinding didepannya.

"Aku akan kembali dulu." Ucap Sasuke yang berpakaian serba tertutup dengan tudung kepala yang dipasang.

"Terserah." Ucap sang dokter dengan ketusnya.

"Aku akan pulang sekitar jam sepuluh malam, kita lanjutkan nanti."

Prang !

Sebuah fas bunga melayang ke arah pintu yang baru saja tertutup, dengan kesal Naruto mengepalkan tangannya erat.

"TEME PERVERT!" Teriaknya kencang dengan penuh kekesalan.

Matanya beralih kembali pada dinding didepannya, ditangannya terdapat sebuah kain lap yang sudah dibasahi oleh air. Kain itu ia arahkan pada dinding yang basah terkena cairan miliknya yang terlihat sangat jelas karena cairan itu terciprat kemana-mana.

"Sekarang, bagaimana aku membersihkan ini!" Teriaknya seraya terus menggosok-gosokan kain basah ditangannya ke dinding putih didapannya.

To be continue ^,^


Lihatlah tulisan gaje ini, kenapa akhir chapter selalu terkesan tidak nyambung dengan awal maupun tengah,

Oh, untuk yang satu itu author menyerah. Ini bukan salah takdir #kemakan sinetron

Untuk masalah jurusan perkuliahan atau apapun yang disebutkan author soal Gaara, semuanya hanya asal-asalan dari otak dan pemikitan author ^,^V

Ini hanya kesalahan dari penulis.

Review ^^V