Update telat! #busungin dada, bangga
#Dihajar rame-rame, masukin liang kubur
Gomen minna-san, perasaan dari kemarin minta maaf mulu ya ==
Ha'ah, author lagi stress nih.
Nilai rapot anjlok bener, ngeri ngeliat nilai sendiri.
Juga karena kabar kematian Hyuuga Neji yang membuat author ngga bisa nulis romance dan malah nangis-nangis alay abis baca chapter 614, hiks bener-bener ya Kishimoto sensei tega bener bikin Semenya Gaara mati.
Tapi yah,, author kan ngga bisa protes sama Masakishi..
Okeh, ngga banyak curcol karena author merasa bersalah atas keterlambatan update ini..
Langsung saja,, balas review~
Iria-san :
Yah, sebenernya author kasian juga ama Itachi. Tapi di chap ini gantian lho~ yang galau Kyuubi.
Ne UAS nya udah kan?
Cepet baca lemonnya #hajared karena nyuruh-nyuruh.
Yah, liat aja noh kata-kata Sai yang pas terakhir..
Untuk imbuhan, pasti diinget. Tapi ngga tau tuh apakah masih ada yang terlewat?
Makasih udah review ^^
kinana :
Ini udah lanjut~ baca okeh!
ecca. augest :
Nasibmu Sai jadi pengacau, ck! Ck!
Eh? Psico? Ini bukan horor, ah gomen ne kalo kerasanya begitu.
Makasih udah review ^^
ca kun(guest) :
coba tebak, sasu teme kuatnya berapa ronde. Hmm,hmm,hmm?
Naru sih asal seme puas seribu(?) kali pun rela. #buset dah mati duluan
Makasih udah review
Makasih udah review ^^
MoodMaker :
Uchiha kan dari dulu emang mesum #dihajar se klan Uchiha
Sasi, entahlah. Belum kepikiran bakal gimana nasibnya.
Yah, yang bikin aja ribet bangt nih. Entah mau dibawa kemana ni kisah percintaan.
Makasih udah review ^^
song min ah :
Owh kamu hentai ternyata #ngga nyadar kalo sendirinya hentai juga
Untuk konflik, di chap ini belum ada sih. Paling baru nongol dari ItaKyuu, untuk SasuNaru belum kepikiran soalnya ^^
Pake toys ya,, Um belum mahir soal sex toys, entar jadinya malah aneh.
Tunggu author pelajari dulu yah~ #smirk
Gomen telat update ^^
Makasih udah review ^^/
Gunchan CacuNalu Polepel :
Hohoho, iya nih Sasu kecil-kecil udah mecarin om-om #Rasengan
Kalau Sai, belum kepikiran dia mau apa..
Makasih udah suka sama fic aneh ini dan makasih udah review pula Gun chan~ #hug~
majiko harada :
Nih udah lanjut, yah walau telat
Makasih udah review ^^
laila. r. mubarok :
Rencana Itachi akan dimulai di chap ini, bisa nebak apa rencananya?
Yosh! Sasu semangat, jangan sampe uke mu di rebut Sai!
Makasih udah review ^^\
astia aoi :
Nih udah dilanjut,
Makasih reviewnya ^^
Aoi Ko Mamoru :
GaaNaru ya ^^\ dipikir dulu deh,,
Gomen kalau emang rada ngga nyambung~
Makasih udah review aoi chan
Misa-Kun. May. Micha007 :
Ah, sabar aja nungguin update yang super duper ngaret #gaploked
Nih, lanjutannya, makasih udah review ^^~
Two Brother Crazy Lady and Boy :
ItaKyuu kan masih marahan, Kyuu doang sih yang marah..
Eh tapi di sini udah ada kemajuan dikit sih dari ItaKyuu
Hiks, author ya yang salah..
Makasih udah review ^^
Ichkurorry :
Ah, gomen. Ngga suka Sai ya,, tapi dia di butuhin di sini.
Ah, Haruka udah gedenya jadi fujoshi kok tenang aja O,O
Makasih udah dibilang menarik, ah ada typo ya.
Hehehe, belum dibenerin, tapi nanti moga-moga kalau ngga males dibenerin deh
Makasih udah review ^^
Earl Louisia vi Duivel :
Hiks, nee chan.. makanya bantuin #ngarep tingkat dewa
Ha'ah, masalahnya jadi bejibun nih.. di chap ini aja muncul lagi masalah baru, otakku mumet TAT
DID ama utakatanya mogok ditengah chapter! Jadi tungguin aja okeh==d
Makasih udah review ya~~
Neterya imel :
Wew, ah ini ngga terlalu hot kok!
Cuma sebagian dari hot, minta di ajarin. Ne authornya aja masih belajar nih #belajar hentai maksudnya
Makasih udah review ^^
Yang nge-Fave n follow fic ini arigatou..ternyata ada juga yang suka sama fic aneh ini.
Sebagai permintaan maaf, chap ini saya panjangin -.-d
Ngga lama-lama lagi!
Enjoyed minna ~!
.
.
.
Disclaimer : Masashi Kishimoto sama
Genre : Romance(?), Drama(?)
Rate : M
Pairing : SasuNaru slight ItaKyuu, ItaDei.
Warning : Yaoi, Sho-Ai, Lemon kurang hot, aneh, gaje, Typo dan kawan-kawan sebangsanya.
!DON'T LIKE DON'T READ!
But,
You can try to read and don't flame!
Sequel My Lovely Doctor
Uzumaki Kagari present My Lovely Actor
#############*###########*##############*###############*###############*############*
O. Kagari Hate The Real World.O
.
Chapter 3
"Shun...suke," Wanita berparas bak seorang putri terkulai lemas dalam pelukan laki-laki disampingnya, kimono panjang putih bermotif bunga yang ia kenakan telah ternoda oleh banyaknya cairan merah yang mengucur deras dari luka diperutnya, helaian surai merah muda seindah bunga sakuranya telah bercampur dengan merahnya darah.
"Jangan bicara dulu Hime, hematlah tenaga anda!" Laki-laki itu berusaha keras menghentikan darah yang terus keluar, menekan tangannya untuk menutupi luka itu.
"A aku...ti..dak, apa..ap..pa." Ucap wanita itu terbata, rasa sakit diperutnya menjalar keseluruh tubuhnya dengan sangat cepat.
"Saya akan menyelamatkan anda, jadi tenanglah."
"Ssst, Shunsuke. Kau ti..dak akan bisa, deng..rkan aku Shun..suke." Dengan lemah, wanita itu menggerakan tangannya. Menyentuh wajah laki-laki bersurai raven di sampingnya. Jari jemari ringkihnya menyapu helaian surai hitam yang sedikit menutupi wajah laki-laki itu.
Laki-laki itu terdiam, wajahnya tetap datar namun jika dilihat lebih jauh lagi kau bisa menangkap guratan kekecewaan disana.
"Ini per..mintaan, terakhir..ku."
"Hime saya-" Dengan segera, laki-laki itu menyanggah ucapan sang wanita ia tak terima dengan ucapan yang keluar dari bibir pucat sang wanita namun ia langsung menghentikan ucapannya saat sebuah telunjuk menempel pada bibirnya.
"Ssst, bisa kah...kau hanya ukh!..deng..arkan aku." Wanita itu tersenyum, menyembunyikan kesakitan yang ia rasa. Mencoba menenangkan laki-laki yang menjadi pengawalnya itu.
"Aku...tidak mem..bencimu 'Suke, aku..."
"Hime, saya mohon."
"Sssst, sudah ku..bilang dengarkan aku.." Napasnya tersengal, pandangan sang wanita mulai mengabur. Perlahan bibir gemetaran itu menguntaikan satu kalimat terakhirnya, kalimat yang mengantarkannya pada sang kematian.
.
"Shunsuke,..panggil..nam..maku."
Dekapannya mengerat, laki-laki itu memeluk sang wanita dengan erat. Tubuh tak bernyawa yang telah ditinggalkan oleh jiwanya itu terkulai lemas dalam pelukannya.
"Sa..kuya-hime..." Lirih, bulir cairan hangat mulai mengalir membasahi pipi porselen laki-laki itu. Hingga jatuh mengenai pipi pucat sang wanita, menghapus beberapa bercak cairan merah di sana.
"SAKUYAAAAA!"
Raungan sakit itu menggema diseluruh hutan gelap tempatnya berpijak saat ini, ia bersama wanita yang dikasihinya. Wanita yang telah pergi meninggalkannya, untuk selamanya.
Ctrek!
Prok! Prok! Prok! Prok!
Suara tepukan tangan menggema di ruangan tertutup dengan deretan kursi yang menghadap kesebuah layar besar di depannya. Orang-orang mulai berdiri dan mengucapkan beragam pujian atas film yang baru saja mereka saksikan.
"Terima kasih untuk kalian yang telah menonton film ini," Membungkuk hormat, seorang laki-laki paruh baya berdiri tak jauh dari layar besar itu, menghadapkan dirinya pada puluhan orang-orang yang tengah bertepuk tangan.
"Dan sekarang kita sambut pemeran utama kita, Uchiha Sasuke dan Haruno Sakura!" Ucap laki-laki paruh baya itu.
Dua orang yang dimaksud langsung berdiri dari duduknya dan menghampiri laki-laki paruh baya itu.
Wanita bersurai pink panjang menampakan senyuman manisnya orang-orang yang tengah meneriaki namanya, melambaikan tangannya pada mereka. Wajah cantiknya tak diragukan lagi, ia adalah Haruno Sakura. Seorang aktris remaja berusia 17 tahun yang sedang naik daun, actingnya dalam beberapa judul film mampu memikat para penonton hingga ia mendapatkan berbagai penghargaan dari berbagai pihak.
Bukan itu saja, namun sikapnya yang lembut dan murah senyum membuat ia mudah untuk diterima oleh khalayak umum.
Di sebelahnya, pemuda bersurai raven melangkah bersamanya. Wajahnya terkesan dingin tanpa ekspresi, namun terkesan cool. Pemuda yang kita kenal sebagai Uchiha Sasuke.
"Kyaaa! Sasuke sama!"
"Sasuke!"
"Kyaa~ kyaa~"
Bisa ditebak pula oleh kita jika di situ ada Sasuke maka di situ pula para fans nya berkumpul.
"Terima kasih telah menonton film ini, saya Haruno Sakura sangat senang jika kalian menyukai film ini." Ujar Sakura, ia membungkukkan tubuhnya sedikit dan tersenyum ke arah para wartawan serta fansnya yang hadir di sana.
"Baiklah, untuk yang ingin bertanya silahkan angkat tangan kalian." Ujar pria paruh baya yang kita sebut saja ia Asuma Sarutobi.
Sesaat kemudian, banyak tangan yang terangkat ke atas dari para wartawan yang sudah haus akan berita itu.
"Ya, anda silahkan." Ucap Asuma mempersilahkan salah seorang dari wartawan itu untuk bicara.
"Sakura san, menurut anda bagaimana dengan film kali ini? Maksud saya, lagi-lagi anda dipasangkan dengan Uchiha Sasuke?" Tanya wartawan itu.
"Menurut saya, itu adalah suatu keberuntungan karena bisa bersanding dengan Sasuke kun disetiap judul film yang saya bintangi. Sasuke kun adalah aktor yang handal dan sangat mendalami peran, karena itu saya banyak belajar darinya." Jawab Saskura panjang lebar dengan senyum yang masih setia dibibirnya.
"Jadi bagi anda Sasuke sama itu spesial?" Tanya wartawan disebelahnya.
"Ya, dia adalah inspirasiku. Mungkin aku semacam fans nya." Jawab Sakura lagi.
Sasuke hanya mendengus malas mendengar penuturan Sakura.
"Ah, Sakura san. Boleh saya bertanya sesuatu?" Seorang wartawan yang duduk agak pojok mengangkat tangannya.
"Ya silahkan." Ucap Sakura.
"Dibagian tengah film saat adegan Shunsuke dan Sakuya-hime berciuman, kalian nampak tidak sedang ber acting. Apakah itu sungguhan?" Tanya wartawan dari Honoha TV itu.
"Ahaha," Sakura tertawa kecil atas pertanyaan yang di ajukan padanya itu, "Benarkah, kurasa yang berhak menjawab itu adalah Sasuke kun. Karena aku tidak bisa membaca itu hanya acting atau memang sungguhan seperti yang anda kira." Jawab Sakura, ia mengalihkan pandangannya pada Sasuke yang sejak tadi diam di sebelahnya.
Memutar bola matanya, Sasuke benar-benar tak habis pikir dengan perempuan permen kapas di sebelahnya ini. Apa dia tidak berpikir jika jawaban ambigunya akan banyak mengundang opini publik, gosip, dan hal lain-lain yang bisa merepotkan Sasuke selaku aktor yang beradu acting dengannya.
"Sasuke san, bagaimana dengan anda?" Tanya wartawan dari Konoha TV itu.
Oh, lihat. Sekarang para wartawan di depannya pasti akan bertanya yang macam-macam padanya, pertanyaan yang sungguh dapat ia tebak kemana arahnya.
"Aku hanya mendalami peranku." Jawab Sasuke dengan tidak niatnya(?).
"Jadi bagaimana rasanya saat kalian berciuman?" Tanya wartawan itu lagi dan mendapat beberapa anggukan persetujuan dari rekan sesama wartawannya.
Ini lagi, pertanyaan-pertanyaan yang mulai keluar dari konteksnya. Bukan bertanya tentang promo film yang baru saja mereka tonton, tapi malah menanyakan tentang masalah pribadi yang menurut Sasuke sangat tidak penting.
Sekilas Sasuke melirik Sakura yang sedang berusaha menutupi wajahnya yang terdapat semburat merah dikedua sisi pipinya dengan gugup.
"Ka kalian ini, lebih baik bicara mengenai film kami saja ya?" Ucap Sakura yang masih gugup.
"Sakura san tidak usah malu, kami kira anda dan Sasuke san adalah pasangan yang cocok." Celetuk salah satu wartawan di sana.
Nah, benarkan apa yang ia pikir tadi. Pasti akhir dari tanya jawab ini adalah mengenai dirinya dan Sakura.
"Terimakasih," Ucap Sakura dengan senyuman, "Tapi menurutku Sasuke kun pasti menginginkan gadis yang cantik." Lanjut Sakura tersipu malu.
"Apa maksud anda, anda kan gadis yang cantik dan pasti menarik perhatian Sasuke sama." Ucap sang wartawan setengah bercanda.
"Kuharap juga begitu." Ucap Sakura membalas candaan wartawan itu.
Sasuke hanya berusaha untuk sabar melewati waktunya yang akan diisi dengan celotehan tidak penting dari para wartawan itu dan juga perempuan di sebelahnya. Seperti menanyakan tentang film yang mereka bintangi lalu berlanjut menjadi pertanyaan yang bersipat privasi dan pasti berujung pada satu hal yang sama.
Skip time
Di luar gedung bioskop, seorang pemuda raven yang dijaga oleh guardiannya tengah melangkahkan kakinya untuk menuju kesebuah mobil hitam yang terletak sekitar lima belas meter di depannya. Langkah kakinya kadang dihentak-hentakan, kadang pula berubah lambat.
Sasuke yang sejak tadi tak tertarik sama sekali dengan keributan di sekitarnya pun berjalan begitu saja melewati para fansnya yang terus meneriaki namanya tanpa henti. Oh satu lagi, wajah setampan pangeran dari negeri impian itu terlihat merengut dan sesekali berdecak kesal seraya terus memainkan ponsel ditangannya. Entah itu memencet beberapa tombol, mendekatkannya ketelinga dan selalu berakhir dengan tatapan kesal pada sang ponsel yang tidak tahu menahu kenapa sang tuan marah terhadapnya.
'Kau dimana dobe?' Pikirnya dengan terus mengutak atik ponselnya yang sudah merasa lelah karena sejak tadi sang tuan tak henti-hentinya terus merapenya(?) dengan tidak sabaran, sepertinya author tahu apa yang terjadi dengan Sasu-teme yang satu ini*topang dagu ala detektif*#ya iyalah loe kan yang bikin fic! /dihajar berjamaah.
Rupanya setelah author-sama menelaah kembali sikap raven pantat ayam kita satu ini, sedari tadi Sasuke tengah menghubungi sang uke tercinta yang ternyata tidak bisa dihubungi, karena setiap ia menghubungi sang kekasih maka saat itu pula operator yang akan bercakap ria dengannya, hell! Enak sekali operator itu karena sudah membuat Sasuke menghubunginya selama puluhan kali.
Dengan tingkat kesabaran yang makin sempit(?) Sasuke pun menghubungi sang uke lagi. Ia kembali memencet beberapa tombol dilayar ponselnya dan mendekatkannya ketelinga entah untuk keberapa kali dalam tiga jam ini.
Tuut tuut tuu-
"Moshi-moshi."
Akhirnya do'a sang seme pun dijabah sang pencipta(?) dengan melantunkan suara sang uke yang sudah lama sekali ingin didengarnya sejak beberapa jam yang lalu.
"Dobe! Kemana saja kau? Kenapa kau matikan ponselmu? Aku sudah menghubungimu berkali-kali baka!"
Cerocos Sasuke dengan berbagai pertanyaan yang ada dikepalanya, wajahnya terlihat amat kesal dan butuh penjelasan dengan tindakan ukenya yang mematikan ponsel selama lebih dari tiga jam ia berusaha menghubunginya.
"Fu~h, teme. Kalau nanya satu-satu kenapa," Ucap Naruto yang seakan tidak terjadi apa-apa.
"D.o.b.e." Sasuke memanggil Naruto dengan penuh penekanan.
"Iya-iya, aku hanya tidak ingin diganggu olehmu yang pastinya akan terus menghubungiku. Aku hanya ingin menonton film dengan tenang," Jawab Naruto.
Setelah Sasuke mendengar ucapan Naruto, mata onyxnya memicing tajam lalu menggerakkan kepalanya keberbagai arah seperti mencari sesuatu.
"Kau dimana?" Tanyanya.
"Arah jam sembilan, seberang jalan." Jawab Naruto.
Dengan cepat Sasuke memfokuskan penglihatannya pada seberang jalanan yang ada di depannya, setelah terfokus ia dapat melihat surai kuning yang sedang melambaikan tangan padanya.
"Tunggu aku." Ucap Sasuke sebelum mematikan sambungan teleponnya.
Setelah sambungan telepon itu mati, Sasuke memasukan ponselnya kedalam saku dan mulai berjalan menyusuri keramaian yang terpusat padanya dan tentu saja dengan tujuh guardian yang dengan setia mengelilinginya sebagai tameng.
Sasuke melangkahkan kakinya masuk kedalam ruangan bertuliskan toilet pada daun pintunya, ia memerintahkan pada guardiannya untuk berjaga diluar selama ia berada di toilet. Setelah masuk, ia pun menunggu seseorang yang akan membebaskannya dari fansnya untuk sementara.
Selama beberapa saat ia menunggu, akhirnya pintu toilet itu terbuka menampakan seorang laki-laki berambut raven dengan ciri khas pantat ayam Sasuke.
"Gomennasai Sasuke sama, saya terlambat." Ucap laki-laki itu seraya membungkuk hormat.
Sasuke mulai membuka jaket berbahan jeans yang ia pakai termasuk juga T-shirt hitamnya, laki-laki yang satunya mengeluarkan sesuatu yang ada dalam tas slempang yang ia bawa dan menyerahkan benda itu pada Sasuke yang kini sudah toples.
Sasuke menerima benda yang ada ditangan laki-laki itu dan mulai membuka bungkusannya. Sebuah T-shirt biru tua dengan jaket tudung tanpa lengan juga sebuah kaca mata hitam. Dengan cepat ia memakai pakaian itu dan menyerahkan pakaian yang sebelumnya ia pakai pada laki-laki di depannya.
Laki-laki yang tidak perlu author beritahukan namanya karena dia tidak penting sama sekali itu pun memakai pakaian yang diberikan Sasuke padanya.
"Naik mobil dan pulang." Perintah Sasuke setelah selesai berpakaian pada laki-laki itu.
"Baik Sasuke sama." Ucap laki-laki itu, menutupi wajahnya dengan masker seraya membungkuk dan undur diri keluar dari toilet.
Diluar toilet, para fans Sasuke terus menggerumbun di sekitar pintu toilet. Menunggu sang idola mereka keluar dari sana.
Teriakan histeris langsung terdengar saat sang raven keluar dari pintu itu. Melangkahkan kakinya kembali tanpa mempedulikan teriakan dan jeritan histeris dari fansnya. Sasuke yang kita ketahui sebagai Sasuke palsu itu langsung memasuki mobil limosin milik keluarga Uchiha dan berlalu pergi dari gedung bioskop itu.
Setelah dirasa aman dari para fans yang sekarang mengikuti dirinya yang palsu, Sasuke pun melangkahkan kakinya keluar dari toilet. Tudung jaket yang ia kenakan menyembunyikan surai raven miliknya juga kaca mata hitam yang bertengger dipangkal hidungnya sebagai tambahan untuk penyamarannya.
Melirik ke kanan dan kirinya untuk melihat apakah masih ada fansnya yang setia, ia menghela napas saat matanya tak menemukan orang-orang itu. Ia pun mulai berjalan menyusuri luar gedung bioskop dan menyebrangi jalan raya di depannya.
Di seberang jalan,ia membawa langkahnya menghampiri seorang laki-laki bersurai cerah yang tengah terkikik geli saat melihatnya.
"Lagi-lagi pakai pengganti," Ucap laki-laki berambut pirang cerah itu.
"Apa yang kau lakukan di sini dobe?" Tanya Sasuke tanpa mempedulikan ucapan laki-laki yang sangat amat kita kenal dengan nama Namikaze Naruto.
"Yang kulakukan di sini, tentu saja menonton film. Memang apa lagi?" Jawab Naruto dengan santainya menyeruput minuman manis yang ada ditangan kirinya.
"Bukankah kau bilang kau tidak bisa libur?" Tanya Sasuke.
"Aku dapat libur tiga hari." Jawab Naruto.
"Kenapa tidak memberitahu ku jika kau kemari?" Tanya Sasuke.
"Ck! Teme bisa tidak sih kau hentikan menanyaiku seperti seorang polisi yang sedang mengintrogasi penjahat! Aku hanya ingin memberimu kejutan." Jawab Naruto yang mulai kesal.
"Hn, kau memang mengejutkan." Ucap Sasuke.
"Sudahlah, lebih baik kita jalan-jalan. Besok aku harus kembali ke Konoha." Ucap Naruto yang mulai melangkahkan kakinya.
"Kembali? Bukannya liburanmu tiga hari?" Tanya Sasuke, mensejajarkan langkahnya dengan Naruto.
"Kau ini, dimana sih otak jenius Uchiha mu. Perjalanan Konoha-Suna itu butuh satu hari, itu artinya hanya hari ini aku bisa menemanimu dan besok harus kembali jika tidak ingin dimarahi Kyuu." Jawab Naruto.
"Ah! Sasuke bagaimana kalau kita ke taman bermain? Sejak jadi dokter aku tidak pernah ke sana dan ku dengar dari Gaara, taman bermain di Suna itu salah satu yang terbaik di Negara ini." Ucap Naruto semangat, ia sudah membayangkan hal-hal menyenangkan yang akan ia lakukan disana seperti bermain air, roler coster, bianglala juga melihat kembang ap-
"Tidak, aku tidak suka tempat yang ramai."
Ucapan Sasuke barusan berhasil membumi hanguskan bayangan-bayangan menyenangkan yang ada dipikiran Naruto.
"Ke kenapa? Ayolah teme, aku sudah lama sekali ingin kesana." Pinta Naruto.
"Tidak, kau pikir berapa umurmu itu." Ucap Sasuke lagi menolak keinginan Naruto.
"Ini kan tidak ada hubungannya dengan umur teme, kita ke sana ya. Please~" Ucap Naruto, ia berdiri di depan Sasuke dengan mengepalkan kedua tangannya di depan dada ditambah dengan mata bilng-bling berkaca-kaca.
'So cute!' Batin Sasuke menjerit dengan sangat OOC nya. Berdehem pelan berusaha menghilangkan bayangannya yang sudah menjurus ke rate M karena melihat majah manis uke nya yang sedang memohon, Sasuke akhirnya menyeujui keinginan Naruto.
"Hn,"
Seketika sennyum cerah menghiasi wajah Naruto, ia segera menarik tangan Sasuke dan berlari menuju tempat perhentian bus terdekat.
"Ayo cepat teme! Aku sudah tidak sabar ke tempat itu!" Ucap Naruto semangat.
Sasuke yang diseret-seret hanya bisa pasrah dan mengikuti langkah Naruto, ia menunggu di tempat perhentian bus selama kurang lebih lima menit sebelum bus datang. Sasuke dan Naruto pun menaiki bus itu dan kebetulan bus itu sedang sepi, hanya ada dua orang sepasang kekasih yang duduk di belakang dan seorang nenek-nenek yang tengah tertidur di sisi kiri bus sehingga mereka bisa memilih tempat duduk mana yang mereka inginkan.
Taman bermain, seperti namanya tempat ini adalah tempat untuk bermain dengan puasnya. Menghabiskan waktu dari pagi hingga malam hari, mencoba berbagai permainan yang ada di sana yang jumlahnya tidak bisa dibilang sedikit.
Dari anak-anak hingga orang dewasa berbaur di tempat itu, melupakan sejenak beban pikiran hidup mereka dengan kembali menjadi anak kecil yang hanya tahu akan bermain. Di tempat itulah kedua pemuda kontras ini sekarang berada, ditengah-tengah keramaian orang yang berlalu lalang.
Mereka berjalan dengan semangatnya, lebih tepatnya hanya salah satu dari kedua itu yang terlihat bersemangat. Sedangkan yang satunya, hanya menatap datar puluhan orang yang melewatinya dari balik kaca mata hitam yang ia kenakan. Wajahnya yang tertutupi tudung jaket terlihat merengut dengan bosan melihat uke nya yang terus mondar mandir dari kios satu ke kios yang lain dengan tampang bodoh yang seakan tak pernah melihat semua yang ada di depannya sekarang.
"Teme, ayo ke sana!"
"Ah teme! Lihat ini lucu sekali!"
"Boneka ini namanya Kyubi, hahaha! Kalau Kyuu nii tahu pasti dia kesal sendiri!"
"Yang itu namanya apa ya?"
"Teme, kita beli itu ya!"
Grep
"Eh? Teme?"
Sasuke yang sudah kesal karena sejak tadi terus ditarik-tarik Naruto ke sana kemari pun sudah tak bisa meredam amarahnya lagi.
"Teme, kita mau kemana?"
Ia menarik Naruto yang sedang memandangnya bingung keluar dari keramaian, berjalan dengan cepat menuju sebuah bangku taman yang ada di luar area kios pernak pernik taman bermain.
"Duduk." Ucap-perintah- Sasuke.
"Kau ini kenapa sih teme?" Tanya Naruto yang bingung dengan sikap Sasuke, ia pun mendudukan dirinya di kursi taman yang ditunjukan Sasuke.
Menghela napasnya, Sasuke menatap Naruto yang terlihat bingung karena tiba-tiba membawanya pergi dari keramaian.
"Berikan tanganmu." Ucap Sasuke.
"Huh?" Naruto tampak memiringkan kepalanya tak mengerti.
"Bisa kah kau hilangkan sifat dobemu itu hanya untuk sekarang?" Tanya Sasuke.
Twich!
"Aku tidak dobe, teme!" Naruto melipat tangannya di dada dan membuang mukanya, " Memangnya apa yang mau kau lakukan dengan tanganku?" Tanyanya kemudian, matanya melirik Sasuke yang masih berdiri di depannya.
"Ck! Cepat kemarikan." Ucap Sasuke dengan tidak sabaran.
Naruto pun menjulurkan sebelah tangannya ke arah Sasuke dengan tetap membuang mukanya.
Sasuke menyangga tangan Naruto dengan sebelah tangannya sedangkan tangan lainnya ia gunakan untuk merogoh kantung celananya. Mencari sesuatu di dalam sana.
Setelah benda yang dicarinya telah berada dalam genggaman tangannya, ia membuka kaitan benda itu dan memasangkannya pada tangan Naruto.
"Hn, bagus." Ucap Sasuke menatap pergelangan Naruto yang terlingkari oleh benda darinya.
Naruto mengerutkan keningnya mendengar ucapan Sasuke, ia menarik tangannya yang telah dilepas Sasuke dan menatap sesuatu yang tersemat dipergelangan tangannya.
Cring!
Sebuah gelang perak dengan ukiran hati berbeda warna sebagai bandulnya, sebelah kiri berwarna hitam dan kanan berwarna kuning juga dengan hiasan lonceng kecil yang tergantung bersama bandul itu. Naruto menatap gelang perak itu seraya membolak balikan tangannya, membuat bunyian lonceng kecil itu terus terdengar.
"Bukan sesuatu yang mahal, tapi kuharap kau menyukainya." Ucap Sasuke dengan datarnya.
Mendengar penuturan Sasuke, perlahan bibir tipisnya menyunggingkan sebuah senyuman. Ia menatap Sasuke yang memalingkan wajahnya. Menutupi semburat merah dipipi porselennya.
"Arigatou, Sasuke." Ucap Naruto.
"Hn," Balas Sasuke, "Jadi, kita lanjutkan?" Tanya Sasuke, menjulurkan tangannya pada Naruto. menunggu sambutan darinya.
"Yosh! Ayo jalan-jalan lagi!"
Sasuke menggandeng tangan Naruto menuju keramaian, mencoba beberapa permainan yang ada di sana, seperti roler coster yang diberi nama rocket monster yang menyebabkan Sasuke hampir memuntahkan semua isi perutnya dengan tidak elitnya begitu permainan itu berhenti dan jangan lupakan rumah hantu yang membuat Sasuke harus menyeret-nyeret Naruto agar mau masuk ke dalam rumah yang dipenuhi oleh hantu palsu itu tentu saja dengan Naruto yang terus-terusan berteriak histeris ketakutan, heran kenapa sang uke sangat takut pada hal yang tidak logis macam hantu padahal ia sendiri adalah dokter yang banyak melihat kematian pasiennya.
Menjelang sore, mereka berdua masih mencoba permainan yang ada di sana. Dipilihnya permainan tembak sasaran sebagai penutup permainan mereka tentu saja yang berhasil Sasuke menangkan dan mendapatkan hadiah boneka rubah yang cukup aneh karena memiliki sembilan ekor berukuran besar hampir setinggi tubuhnya sedangkan Naruto yang kesal karena ia tak berhasil menembak satupun bebek mainan yang berputar-putar yang menjadi sasaran dipermainan itu.
"Argh! Kenapa tidak kena terus!" Kesal Naruto mengacak-acak surai cerahnya frustasi.
"Itu karena kau dobe." Jawab Sasuke yang langsung mendatapkan tatapan tajam dari Naruto.
"Tidak. Ini pasti ada apa-apanya, sejak tadi kau saja yang terus menangkan teme!" Tuding Naruto yang kesal. Masalahnya bukan hanya karena terus melesat saat menembak sasaran tapi juga karena boneka rubah yang ia idam-idamkan itu berhasil didapatkan oleh Sasuke, padahal ia ingin sekali menunjukannya pada Kyuubi kalau ia bisa jadi tuannya dengan mempunyai boneka rubah bernama Kyubi pula. Alasan yang sungguh tidak masuk akal.
"Ha'ah, " Sasuke hanya menghela napas maklum melihat sifat Naruto yang tidak mau kalah.
"Eh?"
Naruto menatap boneka rubah yang disodorkan Sasuke dengan bingung, ia melihat Sasuke yang memegangi boneka itu dengan sebelah tangannya.
"Untukmu." Ucapnya menjelaskan apa yang dilakukannya.
"Untukku?" Ulang Naruto, dengan cepat wajahnya menjadi ceria kembali disertai cengiran khas miliknya.
"Arigatou teme!" Ucap Naruto, ia memeluk boneka rubah besar itu dengan kedua tangannya.
"Lagi pula yang suka boneka hanya anak perempuan."
Twich!
"Maksudmu aku perempuan begitu?" Tanya Naruto yang kembali merengut.
"Aku tidak bilang kau perempuan." Ucap Sasuke.
"Tadi kau bilang yang suka boneka hanya perempuan kan teme?" Tanya Naruto lagi.
"Terus?" Sasuke seakan tak menanggapi wajah Naruto yang telah berubah merah.
"Itu artinya kau menyebutku perempuan!" Geram Naruto.
"Sudah tahu ngapain nanya."
"Teme!" Teriak Naruto, melupakan jika ia sekarang berada di tempat ramai.
"Tapi kau perempuanku."
Blush
Ucapan Sasuke barusan berhasil membuat wajah tan Naruto dipenuhi oleh warna merah padam.
"Te teme,"
"Sebentar lagi acara kembang api akan dimulai," Ucap Sasuke.
"Ayo." Sasuke menggandeng tangan Naruto yang masih menyembunyikan wajahnya di balik boneka rubahnya.
Mereka melangkah bergandengan, menyusuri jalanan setapak di samping taman bermain.
"Teme kita mau kemana?" Tanya Naruto yang merasa bingung karena mereka malah berjalan menjauhi tempat pesta kembang api diluncurkan.
Sasuke tak menjawab Naruto, ia hanya terus melangkahkan kakinya menyusuri jalan setapak yang terbuat dari batuan alam yang sengaja dideretkan itu. Semakin lama, jalan yang mereka lewati semakin sepi dari pengunjung hanya ada beberapa orang saja yang terlihat. Hingga jalanan yang mereka lewati semakin menanjak dan hanya diterangi oleh lampu taman yang temaram disetiap satu meternya.
"Teme? Kembang apinya ada disana." Ucap Naruto namun Sasuke tetap tak menjawabnya dan memilih tetap melangkahkan kakinya.
Sasuke menghentikan langkahnya begitu sampai di tempat yang menjadi tujuannya. Sebuah bukit dengan rerumputan yang menjadi hamparannya, ia mendudukan dirinya di bawah pohon sakura yang ada di sana. Ia menatap Naruto yang menatapnya balik dengan pandangan bingung, menepuk rumput di sebelah kirinya mengisyaratkan agar Naruto duduk di sana.
"Sasuke, sebenarnya apa yang kita lakukan di sini?" Tanya Naruto, memiringkan tubuhnya menghadap Sasuke.
"Hn, lihat saja sebentar lagi." Ucap Sasuke, ia mengarahkan pandangannya pada langit malam yang menaungi mereka.
Syuuut
Duaaar!
"Lihat? Lihat apa-"
Kata-katanya terputus, matanya terbelalak lebar hingga iris sapphire biru itu terlihat membulat sempurna, memantulkan percikan-percikan cahaya yang terlihat indah di kegelapan malam. Berwarna warni memenuhi langit dengan cahayanya sebelum mengecil dan kemudian menghilang.
Syuuut syuuut
Duaaar! Duaaar!
Naruto menatap puluhan kerlip cahaya itu dengan tak percaya, menatapnya dengan rasa penuh kekaguman. Tak sekali pun ia berkedip memandangi indahnya puluhan kembang api yang menyala-nyala dari kejauhan.
"Kau suka?" Tanya seseorang di sampingnya, Naruto mengalihkan pandangan pada remaja di sebelahnya. Sedikit terkejut melihat Sasuke yang tengah tersenyum ke arahnya terlebih lagi dengan kilatan cahaya yang menyinari paras tampan Sasuke, membuatnya bak lukisan di tengah gelapnya malam.
"Hmm, sangat indah." Jawab Naruto, ia menyenderkan kepalanya dibahu Sasuke seraya mengarahkan kembali pandangannya ke langit yang masih diramaikan oleh kembang api yang terus menyala-nyala.
"Naruto," Panggil Sasuke.
"Ya," Jawab Naruto tanpa mengalihkan pandangannya.
"Kenapa hari ini kau, terlihat manja sekali padaku?" Tanya Sasuke, ia membenamkan wajahnya diantara helaian surai Naruto. Menghirup aroma shampo yang menguar dari sana seraya memeluk pinggang kekasihnya itu.
"Benarkah? Memangnya tidak boleh aku manja padamu?" Tanya balik Naruto.
"Hn, hanya tidak biasanya saja." Ucapnya. "Jika kau mau aku, bisa memanjakanmu setiap hari." Sasuke mengeratkan pelukannya pada pinggang Naruto.
"Asalkan manja yang kau maksud bukanlah hal yang mesum." Ucap Naruto, ia terkikik geli ketika mendengar geraman kesal dari Sasuke.
"Memangnya kenapa? Aku kan kekasihmu." Tanya Sasuke yang sepertinya sedikit tak terima dengan ucapan Naruto.
"Ya, kau memang kekasihku. Kekasihku yang mesum." Jawab Naruto.
"Yang penting aku mesum hanya padamu." Ucap Sasuke yang dengan secara langsung mengakui jika ia mesum.
Keheningan terjadi saat topik pembicaraan seakan hilang, menyisakan kesunyian diantara dua laki-laki ini. Tidak ada yang membuka suara, mereka menikmati kesunyian itu. Saling meresapi dinginnya angin malam yang menerpa tubuh mereka, meski angin itu tak mampu menembus kehangatan yang sekarang mereka rasakan dari tubuh mereka yang berdekapan.
"Naruto," Panggil Sasuke lembut, nada yang sangat amat jarang ia gunakan.
"Hmm?" Naruto menjawabnya dengan sebuah gumaman, ia terlalu menikmati saat ini. Memejamkan matanya, merasakan terpaan lembut angin di kulit wajahnya.
"Bolehkah aku menciummu?" Tanya Sasuke.
Membuka matanya, Naruto membenarkan posisi duduknya yang tadi bersandar dibahu kiri Sasuke.
"Tidak biasanya kau meminta ijinku dulu." Ucap Naruto, memandang lurus onyx Sasuke. Menyelami gelapnya warna mata yang telah menenggelamkannya dalam pesona pemiliknya.
"Jadi, apa boleh?" Tanya Sasuke lagi, ia mengelus helaian surai kuning Naruto yang menutupi dahinya.
Seulas senyuman ia tunjukan sebagai jawaban dari permintaan kekasihnya, ia menutup kedua matanya perlahan saat Sasuke mulai mendekatkan wajahnya. Mengeliminasi jarak diantara mereka, merasakan betapa lembut dan hangatnya napas Sasuke yang menerpa wajahnya.
Rasa ketika sentuhan ringan mulai menyentuh bibirnya, memberikan sensasi hangat yang menjalar keseluruh tubuhnya. Sentuhan itu semakin menekan namun tidak mendominasi, menjilat bibirnya hingga basah. Ia tahu apa maksudnya. Perlahan ia membuka mulutnya, membiarkan lidah kekasihnya menerobos memasuki rongga mulutnya. Lidah itu menari, bergerak menyapu setiap sisi rongga mulutnya. Menjilati deretan gigi yang tertanam rapi dimulutnya.
"Nnnnnh..." Desahan pertama keluar dari mulutnya saat sang kekasih menyapu dinding-dinding rongga lembab miliknya, mengajak lidahnya yang diam untuk ikut menari bersama lidahnya.
Saling melilit, berpagutan satu sama lain. Dengan sesekali menarik lidahnya keluar dan menghisapnya dengan rakus, mengecap setiap saliva yang mulai memproduksi berlebihan.
"Nnnn..." Erangan itu semakin sering terdengar keluar dari mulutnya, membuat Sasuke semakin beringas menghisap lidahnya.
Ciuman itu entah sejak kapan telah berubah menjadi cumbuan yang dalam, memberi hasrat untuk mendominasi laki-laki yang berada di bawahnya. Terlentang dengan beralaskan rumputan hijau.
Menghentikan aksinya karena kebutuhan akan oksigen yang mengalir ke paru-parunya semakin sedikit. Sasuke menatap Naruto yang terengah engah dengan wajah yang memerah, ia menjilat dagu Naruto yang basah karena lelehan saliva yang keluar dari kedua ujung bibirnya.
Ia menginginkan lebih, terlebih lagi iris sapphire itu menatapnya sayu tertutupi oleh kabut nafsu. Sama seperti halnya ia sekarang, ia menatap lurus sapphire biru itu. Menemukan jika laki-laki di bawahnya juga menginginkan lebih.
"Naru, boleh aku menyentuhmu...lebih dari ini?" Tanya Sasuke dengan seduktif, napasnya terasa berat menahan hasratnya sekarang.
"Semuanya milikmu, Sasuke."
Dengan jawaban dari Naruto, Sasuke menggenggam tangan Naruto dan menuntunnya untuk berdiri. Ia masih cukup waras untuk tidak melakukannya di tempat terbuka seperti ini.
Ia mengecup bibir Naruto sekilas sebelum melangkahkan kakinya menyusuri jalan setapak yang tadi dilewatinya. Tangannya menggenggam erat tangan Naruto, seakan ia tak ingin melepaskannya barang sedetikpun.
Klik
Pintu auto lock itu terkunci dengan otomatis, menutup rapat sang pintu agar tidak ada yang mengganggu dua sosok yang kini tengah bercumbu mersa di atas sebuah ranjang kingsize di tengah ruangan bernuansa putih gading itu.
"Engh..."
Naruto tidak tahu sejak kapan ia sudah berada disalah satu ruangan hotel yang ia tempati sekarang padahal tadi rasanya ia masih berada di atas bukit dan melihat kembang api, ia tidak tahu sejak kapan Sasuke membawanya menuju ranjang kingsize di ruangan itu, menidurkannya dengan lembut. Ia tidak sadar kapan Sasuke melepaskan semua pakaian yang mereka kenakan, sehingga sekarang tak mengenakan apapun sebagai penutup tubuh mereka. Ia terlalu terhanyut oleh kelamnya mata Sasuke, terbawa oleh nafsu yang sudah membuat ia menulikan telinganya atas keadaan sekitar.
Yang ia tahu sekarang adalah, Sasuke yang kini berada di atasnya. Memberikan sentuhan-sentuhan lembut pada lehernya, menjilat dan menggigitnya hingga muncul tanda kemerahan yang menjadi tanda atas kepemilikan atas dirinya.
"Nghh..."
Sasuke terus memberikan kissmarknya di leher jenjang Naruto. menunjukan bahwa ia adalah pemilik dari laki-laki di bawahnya, hanya ia hanya miliknya dan hanya ia yang boleh melihat wajahnya yang tengah tertutupi kabut nafsu, hanya ia yang boleh berada di atasnya, hanya ia yang boleh menyentuh setiap jengkal tubuh indah Naruto. Karena, Naruto adalah miliknya.
"Angh...Sasu.."
Naruto mengerang saat Sasuke menjilati nipplenya, mengulum dan menggigit kecil titik kecoklatan di dadanya hingga mengeras. Memilin nipple sebelahnya dengan tangan hingga kedua nipple itu sama-sama mengeras.
Tangan satunya ia gunakan untuk mengelus milik Naruto, menggenggamnya dengan lembut. Menggerakan tangannya ke atas dan ke bawah, membuat desahan demi desahan meluncur mulus dari belahan bibir Naruto.
Ia melirik wajah Naruto yang telah berubah merah dengan peluh yang mulai membasahi tubuhnya, benar-benar eksotis. Menggairahkan, membangunkan sesuatu yang mulai tersiksa diselangkangannya.
Tangan yang tadinya memilin nipple Naruto, ia arahkan tepat di depan wajah Naruto. Ia tak perlu memberitahu apa yang harus dilakukannya dengan jemari yang ada di depannya kini.
Naruto menatap jemari tangan Sasuke yang terarah padanya, menatapnya dengan lapar. Perlahan tangannya menggenggam tangan Sasuke, membawanya pada rongga lembab di mulutnya. Menjilat jari itu hingga basah, mengulumnya. Jemari itu sesekali menjepit lidahnya, mangikuti gerakan lidah Naruto yang memanjakannya.
"Mmmh..."
Naruto terus menjilati jari Sasuke hingga sang empunya menariknya kembali, membuat erangan protes terdengar dari Naruto namun segara berganti dengan desahan saat bibir dan lidah Sasuke menggantikan jemari itu.
Membiarkan Naruto mengulum lidahnya sesuka hatinya, membebaskan Naruto yang mendominasi rongga mulut Sasuke dengan lidahnya.
"Angh!"
Naruto refleks melepaskan pagutan bibirnya saat merasakan sesuatu yang memaksa masuk ke dalam dirinya. Membuat dinding-dinding rektumnya terasa panas.
"Ssst, Naru..." Sasuke mengecup kening Naruto, mata, pipi dan kembali memberikan ciuman panjang pada bibir yang sudah kelihatan membengkak itu.
"Mmmh...mmmn.."
Sasuke menambahkan jumlah jarinya yang tertanam dalam Naruto menggerakannya keluar masuk, melakukan pelebaran pada otot ketat yang akan menjadi jalan masuknya.
"Mmmm...ah..ah..ah," Naruto melepaskan pagutannya saat jemari Sasuke mulai keluar masuk rektumnya dengan cepat.
"Ah..Suke.."
"Cium aku Naruto." Ucap Sasuke.
Naruto menatap iris onyx di depannya, mengalungkan tangannya di leher Sasuke dan menariknya dalam sebuah ciuman. Melumat bibir kemerahan itu hingga hampir membengkak.
"Mmmh...nnnn.."
Desah Naruto yang dengan rakus meraup bibir Sasuke, menerobos belahan bibir itu dan menjelajahi segala isi di dalam rongga lembab itu.
Sasuke mengeluarkan kedua jarinya dari rektum Naruto, mempersiapkan miliknya yang sudah menegang tepat di depan rektum Naruto. Memasukannya perlahan agar tak menyakiti Naruto.
"A ah, Sasuke. Sakit..."
"Aku mencintaimu Naruto," Sasuke berbisik tepat di sebelah telinga Naruto, menjilat telinga itu hingga sang empunya mengerang geli.
"Aku mencintaimu." Ulang Sasuke.
"A aku juga mencintaimu ah...ah.."
Sasuke mendorong pinggulnya, memasukan miliknya yang sudah mulai 'terlahap' sepenuhnya oleh rektum Naruto. Setitik air keluar dari mata indah Naruto merasakan rektumnya yang melebar, rasanya tetap panas dan sakit meski ia sudah melakukannya berkali-kali dengan Sasuke. Tak terhitung berapa kali Sasuke sudah memasukinya, sudah berapa banyak cairan yang memenuhi rongga dalam tubuhnya tetap saja saat melakukannya rasa sakit itu akan datang lagi.
"Angh...hah..hah..hah.." Naruto mengambil napas sebanyak-banyaknya saat Sasuke tak bergerak lagi, menunggu ia terbiasa dengan milik Sasuke yang memenuhi dalam dirinya.
Setelah dirasanya cukup, ia menganggukan kepalanya. Pertanda jika Sasuke sudah boleh bergerak. Dengan perlahan Sasuke menundurkan pinggulnya, menggesekan miliknya dengan rektum naruto lalu memajukan pinggulnya lagi dan kembali mundur.
Gerakannya mulai dipercepat begitu Naruto terbiasa dengan gerakan yang ia buat.
"Ah...ah..ah..Sasu..ah.."
Alunan desahan terus terdengar dari mulut Naruto, ia merasakan cairan mulai mengalir memenuhi miliknya. Ia akan klimaks.
"Sasu, ah...ah aku mau.."
"Keluarkan Naruto." Ucap Sasuke, ia mempercepat gerakan tangannya pada milik Naruto yang benar-benar sudah mengeras hingga cairan kental itu keluar dari ujung kepala milik Naruto.
"A angh!"
Sasuke menjilati tangannya yang berlumuran cairan Naruto, membersihkannya dengan lidah yang menyusuri setiap jengkal jemarinya. Kegiatannya terhenti ketika Naruto meraih tangannya dan mulai menjilati sisa-sisa cairan itu.
"Dobe?" Sasuke merasa sedikit tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Naruto menatapnya dengan pandangan nakal, menjilati tangannya dengan gerakan yang cukup erotis. Ia tak pernah melihat Naruto sebernafsu ini.
Melihat ukenya asyik menjilati jarinya, Sasuke kembali mempercepat gerakan pinggulnya. Membuat miliknya keluar masuk hingga menimbulkan suara kecipakan dan deritan pada ranjang yang menjadi alas mereka.
"Ah, ah...ah..anh.."
Desahan dan erangan memenuhi ruangan itu, membuat suasana malam yang dingin menjadi panas. Bersama dengan tetesan-tetesan peluh yang membanjiri tubuh mereka, mencapai puncaknya dengan menyebutkan nama mereka.
"Sasuke!"
"Naruto!"
Desahan lega terdengar dari Sasuke, merasakan setiap mili liter cairannya yang keluar memenuhi dalam rektum Naruto. Sasuke mengecup kening Naruto yang masih terengah-engah mengatur napasnya dan perlahan mencabut miliknya yang tertanam di lubang rektum Naruto.
"Nnnh.." Naruto mengerang saat Sasuke mencabut miliknya, ia mendudukan dirinya di samping Naruto yang tidur di sampingnya. Menyandarkan punggungnya pada sandaran ranjang dan mengatur napasnya cepat. Ia memejamkan matanya merasakan dinginnya AC di ruangan itu yang menurunkan suhu tubuhnya yang panas.
Tersentak, Sasuke membuka matanya dan menatap Naruto yang sekarang sedang menjilati miliknya.
"Na Naruto?" Panggilnya.
"More..." Ucap Naruto seraya melahap milik Sasuke, memasukannya ke dalam mulutnya.
"Nnnh.." Sasuke mendesah tertahan saat Naruto mulai memaju mundurkan kepalanya, mengeluar masukan miliknya dari mulutnya.
"Angh.." Sasuke menekan kepala Naruto, membuatnya melahap seluruh miliknya hingga pangkal dan menjambaki helaian pirang itu agar mempercepat gerakan blow job yang dilakukan Naruto.
"Ukh, nnn..." Naruto sedikit tersedak saat Sasuke mengambil kendali atas gerakannya hingga seluruh milik Sasuke berada dalam mulutnya, memaju mundurkan kepalanya dengan kecepatan yang tidak bisa dibilang pelan. Ia hampir tidak bisa bernapas karena gerakan itu benar-benar menutupi kerongkongannya untuk mengalirkan oksigen.
"Sssh...ah!" Sasuke menekan kepala Naruto dalam, membenamkan seluruh miliknya. Menyemburkan cairan kental itu langsung melewati tenggorokan Naruto yang langsung ditelannya.
Ia melepaskan cengkramannya tangannya pada surai pirang Naruto dan membiarkannya melepaskan kulumannya.
Cairan kental itu sedikit meleleh keluar dari ujung bibir Naruto, ia menjilat cairan itu hingga bersih dan menggerakan tubuhnya untuk bangun.
"..more...Sasuke.." Ucapnya dengan napas yang masih terengah. Ia mendudukan dirinya di pangkuan Sasuke, sedikit mengangkang. Meraup bibir Sasuke dengan rakus, menjilatnya dan memberikan gigikan kecil pada bibir itu.
"Angh!" Sasukemengerang keras saat miliknya digenggam Naruto, dan kembali memasukan milik Sasuke yang setengah menegang ke dalam rektum miliknya.
"Angh...Naruto.." Erang Sasuke, ia sangat menikmati ini. Sasuke membiarkan Naruto mengambil alih 'komando'.
Naruto memegangi pundak Sasuke, ia mulai menaik turunkan pinggulnya. Merasakan betapa luar biasanya hasrat yang ia rasakan sekarang.
"A ah..ah..ah..ah."
"Faster... sssh...Naruto." Sasuke berdesis nikmat saat sang uke mempercepat gerakan naik turunnya, ia memegangi pinggul Naruto dan menekannya ke bawah.
"Angh!" Mendesah keras, tubuhnya bergetar hebat saat sesuatu di dalam sana berhasil tersentuh ujung kejantanan Sasuke.
"Angh! Ah...ah..'Suke..ah.." Racaunya tak jelas saat gerakannya terlampau cepat hingga titik itu kembali tersentuh, tertabrak oleh milik Sasuke. Terus dan terus menabrak titik yang sama hingga cairan kental menyembur dari lubang milik Naruto. Membasahi dadanya dan Naruto, membuat tubuhnya yang telah lengket oleh peluh menjadi lebih lengket lagi.
Otot-otot rektum itu meremas kencang milik Sasuke, membuatnya mengerang keras merasakan miliknya dijepit erat. Tak lama, Sasuke pun menyemburkan cairan miliknya hingga kembali memenuhi dalam tubuh Naruto. Beberapa dari cairan itu menetes keluar saking banyaknya, meluncur melewati paha tan Naruto.
Sasuke mendekap tubuh Naruto yang bersandar didadanya ke dalam pelukannya. Naruto membalas pelukan Sasuke, melingkarkan tangannya pada leher kekasihnya itu.
"Aku mencintaimu, Naruto." Ucap Sasuke, mencium pucuk kepala Naruto.
"Me to, 'Suke." Naruto menegakan kepalanya dan mencium bibir Sasuke sekilas.
Senyum hangat diperlihatkan Sasuke, ia mengeratkan pelukannya pada Naruto.
Kita tinggalkan dulu pasangan SasuNaru yang sedang romantis-romantisan di atas dengan seseorang yang akan sangat berbanding terbalik dengan mereka karena akan segera mengalami yang namanya gundah gulana akibat cinta.
Hari yang sama di Konoha Hospital
11.34 siang
Seperti biasa, Namikaze Kyuubi dokter di rumah sakit Konoha ini sedang sibuk-sibuknya mengurusi pekerjaannya. Mengecek keadaan pasien, mengisi data yang diterimanya juga melaporkan perubahan apa yang terjadi pada pasien pada dokter kepala.
Namun, lagi-lagi seperti biasanya wajah tampan kitsune kita satu ini terlihat merengut kesal. Bukan karena ia harus bekerja dihari seharusnya ia libur, bukan pula karena tugasnya yang makin menumpuk karena sang adik Namikaze Naruto tengah mengambil liburannya yang entah sekarang sedang berada dimana. Tetapi tidak lain dan tidak bukan karena seseorang yang berjalan di sampingnya yang terus mengekorinya selama seharian ini. Ya seharian, bukan lagi hanya dipagi hari saja.
Hari libur bagaikan neraka bagi Kyuubi, karena dihari libur seseorang di sampingnya akan terus bersamanya selama seharian tanpa ada yang mengganggunya. Kyuubi tak bisa menyuruhnya untuk pergi bekerja atau apalah dan dengan sangat terpaksa ia membiarkan orang berwajah mesum itu terus mengikutinya sedari pagi hingga hampir siang ini, oh tak lupa juga dengan celotehan yang sama.
"Kyuu~ chan."
"Kenapa maafmu mahal sekali sih~"
"Kyuu~ marahnya sudah dong."
"Honey~ maafkan kakandamu ini ya."
Twich!
"Berisik keriput!" Bentak Kyuubi mendengar ocehan-ocehan Itachi yang semakin melenceng jauh.
"Kalau kau tidak mau aku berisik maka maafkan aku yah?" Ucap Itachi dengan gaya so imut so manisnya yang bikin author tepar karena begitu tidak pantasnya pose itu untuk sang seme.
"Ck! Apa sih maumu, kenapa kau tidak pergi saja bersama teman-temanmu! Ini hari libur kau tahu dan aku sangat mengharapkan KAU tidak mengganggu hari ini!" Teriak Kyuubi dengan mata yang sudah mengisyaratkan pergi atau mati dengan aura-aura gelap dan awan mendung yang berada di atas kepalanya, tinggal petirnya yang belum menggelegar.
"Tapi liburan ini aku ingin menghabiskannya bersamamu Kyuu~" Ucap Itachi.
Twich!
Demi kami sama dan Jashin sama yang bergandengan tangan jalan-jalan sama-sama, apalagi yang harus ia lakukan agar laki-laki di hadapannya pergi. Berapa kali lagi ia harus merapalkan umpatan agar laki-laki ini pergi.
"Kukatakan sekali lagi. Pergi keriput." Ucap Kyuubi dengan penuh penekanan.
"Kyuu jangan begitu kenapa," Ucap Itachi yang masih kekeh mengekori Kyuubi.
Sementara(calon) pasangan suami-suami ini sedang mengalami masalah rumah tangga, seseorang terlihat berjalan mendekati keduanya dengan ragu. Orang itu berjalan hingga berada di belakang Itachi dan menepuk pundak pria itu.
"Itachi?" Panggilnya ragu, takut-takut salah orang.
Itachi merasakan pundaknya yang di tepuk seseorang dan ketika mendengar namanya dipanggil ia pun menengokan kepalanya kebelakang dan mendatapi seseorang yang sedang berdiri di belakangnya.
"Dei?" Ucap Itachi begitu mengetahui siapa orang di belakangnya.
Seorang pemuda bersurai kuning panjang dengan sebagian dikuncir tengah tidak terlalu tinggi, pemuda berwajah 'cantik' itu tersenyum ke arah Itachi membuat parasnya yang cantik menjadi jauh lebih cantik.
"Ternyata benar, kau Itachi." Ucap orang yang dipanggil Dei itu.
"Dei apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Itachi.
"Apa kau sakit? Penyakitmu kambuh lagi?" Tanyanya lagi dengan nada terkesan khawatir?
"Ahaha, tidak kok. Aku ke sini untuk menjenguk temanku yang dirawat di sini. Un ngomong-ngomong kau juga, apa yang kau lakukan dirumah sakit ini?" Tanya Deidara pada Itachi.
"Itu..." Itachi menggaruk tengkuknya dengan mata melirik Kyuubi yang tengah menatap datar ke arah Deidara.
Deidara mengalihkan pandangannya pada seseorang di samping Itachi, ia tersenyum melihat pemuda bersurai orange red itu.
Kyuubi memandangi Deidara yang tersenyum padanya, tubuh yang ramping, wajah yang mengarah lebih kepada kata 'cantik' daripada tampan dan rambut kuning panjangnya yang menjuntai hingga sepanjang pinggang.
'Teman Itachi?' Pikir Kyuubi.
"E em, Kyuu ini Deidara. Temanku." Ucap Itachi memperkenalkan pemuda yang sekarang berdiri di sampingnya.
"Teman? Kenapa kau tidak bilang kalau aku mantan kekasihmu Itachi, un jangan-jangan takut kekasihmu marah ya?" Tanya Deidara sambil terkikik geli.
Twich!
Kyuubi tampak tak terima dengan kata kekasih-entah kata kekasih yang mana- yang diucapkan Deidara. Ia melirik Itachi yang hanya menggaruk tengkuknya.
"Aku Deidara, senang berkenalan denganmu Kyuu san." Ucap Deidara menjulurkan tangannya ke arah Kyuubi.
"Kyuubi, Namikaze Kyuubi. Senang berkenalan denganmu juga Deidara san." Ucap Kyuubi menjabat tangan Deidara.
"Un,Namikaze? Kau dokter Namikaze Kyuubi?" Tanya Deidara.
"Ya," Jawab Kyuubi sekenanya.
"Itachi, kenapa kau tidak pernah bilang jika kekasihmu ini manis sekali." Ucap Deidara.
Sebelum Itachi menjawab pertanyaan Deidara, Kyuubi terlebih dahulu menyanggahnya.
"Maaf, tapi aku bukan kekasih dari si keriput ini." Ucap Kyuubi seraya menunjuk wajah Itachi.
Itachi yang mendengar ucapan Kyuubi langsung terlihat lesu tak bersemangat.
"Keriput? Maksudmu Itachi?" Tanya Deidara seraya memandang Itachi yang mencoba tersenyum.
" 'Tachi ternyata ada juga yang berani mengataimu ya, tapi jika Itachi bukan kekasihmu. Kau mau makan siang denganku Itachi?" Tanya Deidara.
"Kitakan sudah lama tidak ketemu." Lanjutnya.
Wajah Itachi langsung terlihat murung begitu mendengar ucapan Deidara. Senyum yang ditunjukannya terlihat memaksa berada diwajah tampannya.
"Ya, sejak kau memutuskan pergi dari Konoha." Ucap Itachi.
"Tapi sekarang aku kembali kan?" Ucap Deidara, "Bagaimana un? Kau mau makan siang bersamaku?" Tanya Deidara dengan senyum yang masih setia melengkung di bibirnya.
"Hn, baiklah." Jawab Itachi, ia dan Deidara mulai berjalan meninggalkan tempat mereka berdiri. Melangkahkan kakinya bersamaan dengan diselingi obrolan-obrolan yang kadang mengundang senyuman di wajah Itachi.
Wait a second, sepertinya ada yang terlupakan. Kira-kira apa yang terlupakan ya? Ah! Ini dia, yang terlupakan tidak lain dan tidak bukan adalah seorang laki-laki berpakaian jas dokter yang tengah mematung dikoridor rumah sakit. Kedua mata rubinya terus mengikuti langkah dua orang pemuda yang baru saja beranjak dari tempatnya berdiri hingga hilang di antara belokan meninggalkan ia SENDIRIAN.
"Keriput." Gumamnya hampir tak terdengar.
Kyuubi mulai melangkahkan kakinya kembali pada pekerjaan yang belum ia selesaikan namun pikirannya masih saja tertuju pada laki-laki yang bersama Itachi tadi.
'Mantan kekasih Itachi,' Pikirnya seraya terus berjalan.
'Laki-laki itu sangat serasi dengan Itachi.'
'Tapi kenapa dia meninggalkanku begitu saja tadi.'
Tap
Kedip-kedip, tunggu sebentar. Bukankah tadi ia mengharapkan Itachi meninggalkannya, tapi kenapa sekarang ia seperti tidak ingin ditinggalkan Itachi.
"AARGH! Apa yang ku pikirkan barusan dasar sialan!" Teriak Kyuubi kesurupan seraya menjambaki rambutnya, membuat orang-orang yang berlalu lalang di koridor rumah sakit langsung lari terbirit-birit akibat teriakannya.
"Ini gila, ini gila ini gila!" Racaunya dengan tampang horor.
Tanpa ia ketahui, seseorang tengah menyeringai dibalik dinding tak jauh dari sana. Memperhatikan setiap gerak geriknya dari kejauhan.
"Its~ show~ time~ Kitsune~ " Ucap orang itu dengan nada sing a song.
"Suaramu jelek un." Celetuk seseorang di sampingnya.
"Untuk apa kau dengarkan."
"Aku punya telinga un,"
"Kalau begitu iris saja."
Perang deathglare pun dimulai antara dua orang itu. Melupakan tujuan mereka yang semula melihat Kyuubi yang tengah berteriak-teriak tidak jelas di tengah koridor rumah sakit.
To be continue~
.
.
.
Bagaimana? Apa romence n lemonnya terasa?
Kalau ngga, gomen ne. Diawalkan author udah bilang kalau lagi stress, ^^
Jadi, adakah yang mau mereview?
Kalau ada typo, kasih tau ya nanti kalau sempet di benerin,,
Bye~
review
