Update!

Tidak akan banyak curcol karena mata yang sudah merem melek ingin cepat terpejam #halah!

Gomennasai belum bisa balas satu persatu review minna, authornya ngantuk berat #ngeliat jam yang udah nunjuk angka 4

Dari pagi nih ngetik ngga berenti-berenti, hiks kasiannya saya sebagai penulis T^T #plak! Tadi bilangnya nggak banyak curcol =="

Ya sud-lah, terima kasih untuk yang Log in terlebih dahulu :

devilluke ryu shin, MoodMaker, heriyandi kurosaki, NiMin Shippers, Jaylyn Rui, laila. , Gunchan CacuNalu Polepel, kinana, akagi akihito, Iria-san, kkhukhukhukhudattebayo, Kiseki No Hana, Kiroikiru no Mikazuki Chizuka, DL-Akevi II, devilojoshi dan KyouyaxCloud

Gomen belum bisa balas review, pundak rasanya udah mau jatuoh ngegelinding aja T^T

Untuk :

Guest(1), Guest(2), ca kun dan onyx shappireSEA

juga terima kasih reviewnya, nggak kuat nahan mata. Lama-lama lingkaran hitam di bawah mata tambah lebar nih T^T

untuk typo, gomennasai.

Tidak diedit dulu, ngga kuat mata nahan kantuk #dihajar karena dari tadi bilang ga kuat melulu

Wokeh!

Lets enjoyed Minna !

.

.

.

Sasuke : 17 tahun

Naruto : 24 tahun

Itachi : 25 tahun

Kyuubi : 25 tahun

Neji : 17 tahun

Gaara : 19 tahun

Deidara : 24 tahun

Sasori : 25 tahun

Sakura : 17 tahun

Disclaimer : Masashi Kishimoto sama

Genre : Romance(?), Drama(?)

Rate : M

Pairing : ItaKyuu (70% cerita), SasuNaru(25% cerita), slight SasoDei(4% cerita), NejiGaa(1% cerita).

Warning : Yaoi, Sho Ai, Lime kurang hot, aneh, gaje, Typo dan kawan-kawan sebangsanya.

!DON'T LIKE DON'T READ!

But,

You can try to read and don't flame!

"Namikaze Kyuubi, 25 tahun. Belum pernah menjalin hubungan dengan siapa pun karena terlalu fokus pada kuliah dan pekerjaannya. Menyukai warna merah, apel merah dan segala sesuatu yang berbau merah. Pengalaman kerja, pernah bekerja pada pemerintahan sebagai perakit senjata seperti bom, senapan dan nuklir dan terakhir masih ditekuninya adalah sebagai dokter di rumah sakit ternama di Konoha.

Tidak ada yang tahu kenapa seseorang yang biasa menjadi perakit senjata berakhir menjadi dokter. Baru-baru ini Namikaze Kyuubi bertemu dengan Namikaze Minato selaku sebagai ayahnya, diketahui jika Namikaze Kyuubi dipanggil karena rencana pertunangannya dengan seseorang bernama Sizune Senju selaku anak dari Nawaki Senju dan cucu dari Tsunade senju yang menjadi ibu dari Namikaze Minato. Yang berarti Namikaze Kyuubi akan bertunangan dengan saudara sepupunya sendiri. Pertunangannya sendiri-"

"Cukup." Interupsi dari pemuda berambut raven baru saja memotong penjelasan seseorang yang berdiri di depannya. Ia menatap datar orang yang baru saja mengatakan mengenai informasi terkini dari rubah incarannya dan mengibaskan tangannya memerintahkan agar orang itu segera pergi dari hadapannya. Orang berpakaian serba hitam itu pun menundukan tubuhnya sebelum berjalan keluar dari ruangan beraksen serba kuning itu.

"Semoga mereka bahagia un." Ucapan dari pemuda berambut blonde di sampingnya langsung membuat ia mengeluarkan deathglare super tajam yang ia arahkan pada pemuda itu.

"Apa? Lagi pula mereka serasi un." Ucap pemuda blonde itu lagi, terlihat acuh dengan deathglare tajam menusuk yang ter arah padanya.

"Dei, berani kau katakan itu lagi. Kupastikan aku tidak akan menahan diri untuk merapemu sekarang juga." Ucapnya pada sang pemuda blonde.

"Silahkan saja un, kau lupa terakhir kali kau berusaha merapeku kau berakhir di rumah sakit." Ucap Deidara yang lagi-lagi terlihat acuh.

"Dan apa kau lupa jika sekarang ini danna mu itu tidak ada." Ucap Itachi.

"Oh, jadi kau pikir aku tidak bisa melawanmu un?"

"Hn, kau mau mencobanya?"

"Ekhm!"

"Jangan coba-coba un, atau aku akan menghajarmu!"

"Bukankah kau tadi bilang silahkan saja?"

"Itachi!"

"EKHM!"Suara deheman keras mengalihkan perhatian kedua laki-laki yang sedang perang adu mulut itu. Itachi dan Deidara menatap asal suara barusan, layar laptop yang menyala menunjukan wajah seseorang yang tengah menatap datar dua orang itu. Meski terlihat datar tapi dalam hati ia sudah kesal karena sejak tadi dia merasa diacuhkan keberadaannya. Wajah yang terpampang dilayar itu menatap Deidara yang tertawa gugup padanya.

"Da danna," Ucap Deidara salah tingkah. Ia menggaruk belakang kepalanya untuk mengalihkan perhatiannya.

"Apa sudah cukup nostalgianya?" Tanya pemuda berambut merah yang memiliki wajah baby face itu pada kedua orang di depannya.

"Belum, kan diganggu olehmu." Ucap Itachi yang langsung mendapatkan deathglare dan kemplangan gratis dari Deidara.

"Apa sih!" Kesal Itachi yang tiba-tiba saja dikemplang Deidara. Si pelaku hanya menatap acuh dan mengalihkan pandangannya pada layar laptop di depannya.

"Danna, bagaimana kakimu? Apa sudah baikan?" Tanyanya dengan nada penuh perhatian, sangat berbeda sekali dengan saat ia berbicara dengan Itachi.

"Ya, sudah lebih baik." Jawab pemuda yang kita kenal dengan nama Akasuna Sasori.

"Ah, gomen ne danna. Aku jadi tidak bisa sering-sering menjengukmu~." Ucap Deidara.

"Tidak apa, aku senang kau mengkhawatirkanku Dei dan...Itachi bisa kau minggir sedikit." Ucap Sasori yang melihat Itachi yang memepet-mepet(?) di sebelah Deidara.

"Kenapa? Kau cemburu karena Dei chanmu mengajakku ke kamarnya?" Tanya Itachi yang malah mendekatkan tubuhnya pada Deidara.

"Minggir un!" Teriak Deidara yang langsung mendorong wajah Itachi menjauh hingga hampir terjengkal dari atas tempat tidur.

"Biasa aja kali." Ucap Itachi, ia mengelus wajahnya yang baru saja didorong Deidara. Sasori hanya memutar bola matanya malas melihat pertengkaran kekasihnya dan mantan dari kekasihnya itu.

"Jadi, bagaimana? Orang bernama Kyuubi itu." Tanya Sasori yang membahas hal sebenarnya yang menjadi masalah antara mereka-ralat-masalah Itachi. "Dia sudah dijodohkan, padahal kita sudah sejauh ini." Lanjutnya.

"Hn. Mengenai hal itu, kita lanjutkan saja rencana awal. Rencana berhasil, maka pertunangan itu juga batal." Ucap Itachi.

"Kau itu jahat sekali un." Deidara terlihat tidak menyukai 'rencana' yang disebutkan Itachi barusan. Walau bagaimana pun ia juga seorang uke, dan sesama uke dan (calon) uke ia bisa mengerti bagaimana nantinya perasaan Kyuubi jika rencana ini sampai terjadi.

"Tenanglah Dei, aku tahu apa yang kau pikirkan." Ucap Itachi, ia menatap kembali layar laptopnya yang menampilkan wajah Sasori. "Kita lakukan besok."

Mendengar perintah Itachi, Sasori hanya mengangguk kecil lalu menatap Deidara yang masih terlihat kurang suka dengan rencana mereka. "Dei," Panggilnya lembut, kekasihnya itu menatap ke arahnya dengan wajah merengut. "Aku tahu kau tidak suka, tapi kita harus tetap melakukannya." Ucap Sasori pada Deidara.

Deidara menghela napasnya dan mengangguk pelan, "Tapi jika ini gagal, kau akan benar-benar kuledakan hingga berkeping-keping un." Ucapnya seraya menatap Itachi serius.

"Hn." Ucap Itachi yang terlihat sangat malas menanggapi Deidara. 'Dasar ikatan batin antar uke.' Pikirnya.

"Kalau begitu, Dei tidurlah. Ini sudah malam," Ucap Sasori.

"Un, danna~ tapi aku masih rindu padamu~" Ucap Deidara-lebih seperti rengekan pada semenya itu.

"Dei."

"Baik-baik un. Tapi cium aku dulu," Ucap Dei, ia mendekatkan wajahnya ke depan laptop.

"Oyasumi." Ucap Sasori dan webcam pun terputus, menyisakan Deidara masih setia menempelkan wajahnya dilayar laptop.

"Ffft..." Itachi menutupi mulutnya dengan sebelah tangannya, mencegah agar tawa tertahannya tak keluar. Namun tatapan tajam dari Deidara membuat ia tak mampu lagi menahan tawanya.

"Berisik un!" Kesal Deidara, ia melempar sebuah bantal yang ada di dekatnya pada Itachi yang masih setia menertawakannya namun dengan mudah dapat dihindari oleh Itachi. "Lebih baik kau pergi dari kamarku Itachi!" Ucapnya dengan nada penuh tak suka.

Itachi berdehem kecil sebelum mengembalikan wajah stoiknya, sepertinya sudah cukup untuk menertawakan pemuda blonde itu. "Hn, tidak. Aku mau tidur." Ucapnya, ia langsung menjatuhkan dirinya di atas tempat tidur-milik Deidara- dan bergerumul dengan bantal empuk-milik Deidara-di tempat tidur itu.

"Itachi!" Deidara menarik-narik bahu Itachi, menjenggut rambut ravennya juga menyeret-nyeret kaki Itachi agar dia bisa membuat pemuda itu bangun dari atas tempat tidurnya. Sesekali bahkan ia menendang kaki Itachi karena merasa kesal pemuda itu tak juga menyingkir.

"Bangun un! Aku juga mau tidur!" Teriak Deidara, ia makin kesal saat hanya ditanggapi dengan gumaman tak jelas dari si raven.

"ITACHI!" Dan, dengan sangat terpaksa Deidara merelakan tempat tidurnya untuk ditiduri Itachi sedangkan ia, harus dengan terpaksa pula terusir dan mengungsi ke kamar lain karena tidak ingin tidur satu ruangan bahkan satu tempat tidur dengan Itachi. Baginya itu semua bagaikan ramalan dari suku maya yang tidak jadi kenyataan. Tidak terima kasih, ia tak ingin menjadi sasaran rape Itachi ketika si raven memimpikan hal-hal mesum dalam tidurnya. Memikirkan itu saja membuat bulu kuduknya meremang. Ia menarik satu bantal dari tempat tidurnya dan keluar dari kamarnya dan tak lupa juga membanting pintu kamarnya dengan sangat keras.

.

*##########*###########*##############*###############*###############*##########*

o.O. Kagari Hate The Real World.O.o

.

Mentari yang muncul dari ufuk Timur kini tengah dalam posisi 45 derajat di langit biru tanpa satu pun awan yang menaunginya. Cahayanya terlihat begitu menyilaukan meski hanya terpantulkan dari jendela kantin rumah sakit tempat seseorang yang tengah duduk membelakangi jendela itu, membuat punggung dan helaian orange rednya terlihat indah saat cahaya itu menerpanya. Pagi ini sangatlah cerah bahkan terlalu cerah untuk ia yang tengah menyangga dagunya dengan sebelah tangannya yang bertumpu pada meja, sedangkan tangannya yang lain ia gunakan untuk mengaduk-aduk jus apel yang entah sudah berapa kali ia lakukan namun tak juga menyeruput jus itu. Bahkan jus itu masih memenuhi gelasnya, sama sekali tak berkurang satu mili liter pun sejak jus itu diantarkan ke mejanya.

Pemuda itu memang tengah melamunkan sesuatu yang membuatnya lupa akan keadaan sekitar. Pikirannya kini tengah bergelut dan bergulat menentukan mana diantara ini dan itu yang harus ia ambil, juga mana antara ini dan itu yang harus ia lakukan.

Jas putih yang biasa dikenakannya telah ia lepas dan dibiarkan tergeletak dikursi sebelahnya. Juga kemeja yang dikenakannya terlihat sangat dengan terpaksa untuk dimasukan ke sela celananya karena banyak yang keluar dibeberapa sisi. Penampilannya sekarang benar-benar bukan penampilan dirinya yang seperti biasa, namun pemuda itu nampak terlihat tak mempedulikan hal itu karena yang terpenting sekarang adalah yang ada dalam pikirannya.

'Apa aku terlalu berlebihan padanya?'

'Apa seharusnya dari dulu aku memaafkan dia?'

'Bukankah ini sudah lebih dari cukup untuk menghukumnya?'

'Atau aku harus minta maaf padanya?'

Berbagai macam pertanyaan terus berputar di dalam otaknya, ia sendiri tidak tahu kenapa ia harus memikirkan sesuatu yang menurutnya tidak penting seperti ini. Apakah ia menyesal karena telah membuat dia terus memohon padanya selama tiga bulan ini. Sebenarnya dirinya ini kenapa sampai-sampai memikirkan orang macam si keriput itu.

Sudah beberapa hari ini pikirannya terus dihantui oleh satu hal yang sama, seseorang yang beberapa ini sangatlah berubah sikap terhadapnya. Semenjak hari itu, seseorang yang tiba-tiba saja datang dan ia langsung tahu jika orang itu bukanlah sekedar teman untuk dia.

Setelah itu dalam beberapa hari, Itachi berubah. Dia memang masih seperti biasanya mengikutinya kemana pun ia pergi. Tapi hal itu hanya sampai seseorang bernama Deidara datang dan Itachi pasti akan pergi begitu saja meninggalkan dirinya yang menatap bingung pemuda raven itu.

"Ha`ah." Akhirnya ia hanya menghela napasnya, lelah dengan pikirannya yang terus memunculkan pertanyaan-pertanyaan baru tanpa ia tahu jawabannya. Ia pun mengarahkan sedotan yang sejak tadi ia mainkan mendekati mulutnya dan menyeruput jus apel di depannya. Memikirkan hal ini membuatnya harus menyediakan tenaga ekstra.

"Ohayou, Kyuu~"

"Uhuk! Uhuk!" Kyuubi langsung tersedak minumannya hingga ia terbatuk-batuk saat sepasang tangan dengan tiba-tiba merangkul lehernya dari belakang. Dengan kasar ia menepis sepasang tangan itu dan menatap kesal pada seseorang yang telah membuatnya tersedak. "Apa yang kau lakukan keriput! Mau membuatku mati tersedak hah!" Bentaknya pada si pelaku.

"Aku melihatmu melamun Kyuu, apa yang sedang kau pikirkan sampai melamun begitu?" Tanya Itachi, ia mendudukan dirinya di samping Kyuubi namun segera dihalangi Kyuubi.

"Mau apa kau?" Tanya Kyuubi seraya mencomot(?) jasnya yang hampir saja diduduki Itachi.

"Duduk?" Jawab Itachi dengan nada yang lebih seperti bertanya. Baru saja Kyuubi membuka mulutnya, suara yang sangat familiar untuknya beberapa hari ini terdengar dari arah belakang.

"Itachi!"

Itachi yang merasa dipanggil langsung mengarahkan pandangannya pada pemuda berambut blonde yang tengah berjalan ke arahnya. Kyuubi menatap datar Itachi yang tersenyum seraya melambaikan tangannya pada pemuda itu.

"Tachi, Kyuubi san." Ucap si blonde itu begitu ia berdiri di samping Itachi. Kyuubi hanya menanggapinya dengan anggukan kecil tanpa menoleh.

"Dei, Ohayou." Ucap Itachi.

"Ohayou, kita berangkat sekarang?" Tanya Deidara yang terlihat bersemangat sekali.

Itachi hanya tersenyum kecil melihat Deidara yang sangat bersemangat, "Hn, baiklah. Tapi," Ia melepaskan Jas hitam yang dipakainya dan mengenakan jas itu pada Deidara. "Kau harus pakai ini. Cuacanya dingin nanti kau bisa sakit." Ucapnya seraya membenarkan letak jasnya yang kebesaran untuk Deidara.

Kyuubi hanya mendengus mendengar ucapan Itachi barusan, 'Dingin dari mananya, cuaca cerah begini.' Pikirnya seraya menyeruput jusnya dengan cepat.

"Terima kasih." Ucap Deidara, terlihat garis-garis merah yang nampak dikedua pipinya saat Itachi membenarkan posisi jas itu.

"Sudah lebih baik," Itachi mengalihkan perhatiannya pada Kyuubi yang sejak tadi diam memperhatikan mereka berdua. "Kyuu, aku-"

"Terserah!" Dengan tiba-tiba Kyuubi berdiri dan melengos pergi begitu saja tanpa sekali pun melihat Itachi yang memanggil-manggil namanya.

.

.

.

"Kyuubi! Apa yang kau lakukan!" Tersentak, Kyuubi menatap kedua tangannya yang sedang meramu obat dengan mata yang membulat seraya berteriak 'astaga!' saat melihat dirinya yang mencampurkan terlalu banyak obat penenang.

"Sebenarnya apa yang kau pikirkan sampai bisa ceroboh begini! Kau mau membunuh pasienmu!" Teriakan dari adiknya barusan sama sekali tak ia tanggapi, ia hanya menatap kosong pada obat-obatan yang tengah disingkirkan adiknya.

"...ubi! Kyuubi!" Berkali-kali pun Naruto memanggil kakaknya itu, Kyuubi tak sekali pun menjawab atau sekedar meliriknya. Naruto yang melihat kakaknya yang lagi-lagi melamun entah untuk keberapa kalinya hari ini hanya berdecak kesal. "Sebenarnya kau ini kenapa sih Kyuu? Berapa kali aku melihatmu melamun hari ini." Tanya Naruto lembut, ia sangat khawatir pada kakaknya itu. Ini bukan seperti Kyuubi yang biasanya.

"Aku baik-baik saja, maaf." Ucap Kyuubi pelan dan ia pun ikut membereskan kekacauan yang dibuatnya.

"Hah?" Dengan sedikit-sangat-tidak percaya dengan pendengaran dari telinganya, Naruto menatap Kyuubi yang tengah memberaskan meja di depannya dengan pandangan sulit diartikan. Ia mengangkat tangannya dan meletakan punggung tangannya pada kening Kyuubi dan satu tangannya yang lain pada keningnya sendiri.

"Apa sih!" Ucap Kyuubi yang melihat kelakuan aneh dari adiknya itu.

"Tidak panas," Ucap Naruto saat merasakan panas tubuhnya dan Kyuubi dengan punggung tangannya.

Kyuubi benar-benar ingin menjitak kepala kuning adiknya itu, dikemanakan gelar dokter yang disandangnya dan apakah dia tidak malu dengan jas putih yang dipakainya saat dia mengatakan 'tidak panas' setelah menyentuh keningnya. "Ck! Naruto. Kau ini dokter, sekali lihat pun seharusnya kau tahu aku itu tidak sakit!" Ucapnya dengan sedikit kesal.

"Habis kau hari ini melamun terus Kyuu, bahkan sampai mencampur obat saja kau sampai salah. Dan juga kau tadi bilang maaf, sesuatu yang tidak mungkin Kyuu. Sebenarnya kau kenapa?" Tanya Naruto.

Dokter berambut kemerahan itu mengangkat sebelah alisnya, hanya karena itukah adiknya itu mengira dirinya sakit. Karena sebuah kata maaf yang diucapkannya. Memangnya kenapa dengan dirinya yang mengucapkan maaf, sebegitu aneh kah hingga adiknya terlihat makin menunjukan muka khawatir padanya.

"Aku tidak apa-apa." Ucapnya menjawab Naruto, tapi sepertinya adiknya itu tidak terlalu percaya dengan ucapannya barusan. Terbukti dari tatapan selidik yang diterimanya.

"Lebih baik kau pulang saja Kyuu, biar aku yang menyelesaikan tugasmu." Ucap Naruto yang langsung diprotes Kyuubi. "Istirahat Kyuu, aku tidak ingin kau melakukan kecerobohan lain yang bisa membahayakan pasien." Ucapnya lagi karena memang tidak baik dan akan fatal bagi seorang dokter jika pikirannya sedang tidak fokus pada apa yang ada di depannya.

Kyuubi yang sebenarnya tidak suka diperintah hanya mengangguk menyetujui ucapan Naruto, benar adanya yang dikatakan oleh adiknya itu. Misalkan saja ia sedang melakukan operasi namun pikirannya tengah melayang entah kemana maka yang terjadi bisa saja ia memotong salah satu pembuluh arteri atau bahkan lebih parah dengan membunuh pasiennya itu. Oh, lebih baik ia mengikuti apa yang dikatakan adiknya saja.

"Bagus! Kalau begitu lekas bereskan barang-barangmu dan pergi." Ucap Naruto yang entah kenapa terdengar seperti ia sedang mengusir Kyuubi.

"Iya, cerewet." Kyuubi mengambil jas dokter yang ia letakan dikursi kerjanya juga tak lupa kunci mobil yang ia letakan di atas mejanya.

Setelah mengambil beberapa barangnya, Kyuubi pun melangkah pergi meninggalkan ruangan penuh obat-obatan itu. Tak lupa dangan melepas sarung tangan serta masker sterilnya sebelum keluar. Lalu berjalan menyusuri koridor rumah sakit dengan tatapan kesalnya.

Bukan apa-apa, hanya baru saja ia melangkah keluar. Ponselnya bergetar menandakan satu pesan yang masuk dan tebak siapa yang mengirim pesan itu, ayahnya. Namikaze Minato, dan betapa kesalnya ia saat membaca isi pesan itu.

'Kembali ke mansion utama besok pagi, calon tunanganmu akan datang untuk pertemuan keluarga. Datang dan temui dia, ini akan melancarkan pertunangan kalian.'

"Cih!" Dengan raut wajah penuh kekesalan Kyuubi mempreteli ponselnya dan memisahkan baterai dari ponselnya. Ia tidak ingin diganggu, tak peduli jika rumah sakit menelponnya atau ayahnya yang menghubunginya. Tak tahu kah ayahnya itu jika ia sedang sangat pusing, pikirannya sudah penuh dengan berbagai macam hal dan kini harus ditambah pula dengan pertuangan bodohnya dengan Shizune, saudara sepupunya sendiri.

Setelah mematikan alarm mobilnya, Kyuubi segera memasuki mobil berwarna merahnya dan menjalankannya meninggalkan parkiran rumah sakit. Ia ingin cepat-cepat sampai di apartemennya dan mengistirahatkan pikirannya. Mungkin dengan tidur atau hal lain yang mungkin bisa mengalihkan perhatiannya walau sejenak.

.

.

Klik!

Setelah mengunci pintu apartemennya, Kyuubi melangkahkan kakinya masuk ke dalam. Sebuah tempat tidur double king size dan sofa merah marun adalah hal pertama yang dilihatnya. Ia membuka satu persatu kancing kemejanya dan berjalan menuju lemari pakaian di sana, mengambil baju santainya dan mengenakan baju itu ditubuhnya. Ia melangkahkan kakinya mendekati tempat tidur di tengah ruangan, merebahkan dirinya di sana . Pikiran yang berat membuat tubuhnya ikut merasakan lelah, kalau bisa ia ingin mengosongkan isi kepalanya yang sudah hampir meledak ini.

Semuanya gara-gara dia, gara-gara satu orang yang terus menerus ada dalam otaknya hingga pikiran-pikiran lain ini bisa muncul dalam kepalanya. Sebenarnya apa yang dilakukan keriput itu padanya sampai-sampai otaknya ini tak bisa mengenyahkan eksistensi dirinya.

Jika ia memikirkannya secara balik, Itachi yang terus mengikutinya. Ia tak benci itu, malahan ada perasaan senang dalam hatinya saat dia mengatakan hal-hal aneh padanya. Pengecualian untuk bunga, ia benci itu. Kyuubi bukan perempuan yang menyukai wewangian dari tanaman seperti itu, ia laki-laki yang menyukai semua hal yang dilakukan laki-laki.

"Argh! Brengsek!" Dengan kesal Kyuubi melempar bantal terdekatnya hingga bantal itu teronggok di pojokan kamar. Padahal ia berencana untuk mengistirahatkan pikirannya dari semua itu, tapi kenapa ia malah terus dan lebih kepikiran tentangnya.

"Sebenarnya apa yang terjadi padaku?" Ia memijat keningnya yang terasa pening, ia benar-benar merasa seperti orang bodoh yang tidak bisa menjawab pertanyaan yang dibuatnya sendiri.

Lebih baik ia tidur, mungkin dengan tidur ia bisa mengenyahkan semua pikirannya ini. Kyuubi pun merebahkan tubuhnya kembali dan mulai memejamkan matanya. Merilekskan tubuhnya yang tegangnya untuk rehat sejenak.

"Kyuubi."

"Apa? Bukankah sudah kubilang jangan ikuti aku lagi keriput! Aku sedang bekerja-"

"Baik, aku tidak akan mengikutimu lagi."

"Hah?" Apa yang dikatakannya barusan, tidak akan mengikutiku lagi.

"Aku tidak akan mengikutimu lagi, maaf karena sudah mengganggumu selama ini." Tunggu kenapa, apa alasannya dia tidak akan mengikutiku lagi. Aku menatap Itachi yang balik menatapku datar, tatapan yang biasa ia berikan pada orang lain. Tatapan yang tak pernah dia arahkan padaku, tapi sekarang dia menatapku dengan tatapan itu.

"Oh, Baguslah."

"Aku tidak akan mengganggumu lagi Kyuu, aku menyerah. Aku sadar kau tidak akan menyukaiku dan selama ini aku hanya bertepuk sebelah tangan." Ucapnya padaku, aku melihatnya yang berbalik ke belakang dan di sana kulihat Deidara. Laki-laki yang beberapa hari ini kutemui.

Aku menatap Itachi lagi dan aku melihatnya tersenyum, menatap penuh lembut ke arah Deidara yang berjalan mendekatinya. Buruk, firasatku merasakan ini buruk. Itachi tersenyum padanya, Itachi menatapnya dengan lembut dan kini Itachi mengenggam tangannya.

"Aku sudah menemukan seseorang yang mencintaiku dengan tulus Kyuu," Lagi, aku melihatnya tersenyum pada Deidara. "Selamat tinggal Kyuu."

'Tunggu,'

'Tidak boleh.'

'Kenapa dia meninggalkanku.'

Dia berjalan menjauhiku, bersama dengan Deidara yang senantiasa ia genggam tangannya.

'Itachi.' Aku memanggilnya namun tak sedikit pun ia menoleh padaku, ada apa sebenarnya ini. Kenapa sesak sekali, aku meremas kemeja dibagian dadaku. Sakit, aku melihat dia yang berjalan menjauhiku.

"Itachi...kembali."

Dalam sekejap Kyuubi terbangun dari tidurnya, ia mengatur napasnya yang terengah-engah. Dadanya naik turun dengan cepat untuk mengambil oksigen sebanyak-banyaknya. Perlahan tangannya terangkat menyentuh dadanya.

Deg deg, deg deg, deg deg

'A apa-apan tadi itu?'

Ia merasakan jantungnya yang berdetak cepat tak beraturan, apa yang sebenarnya terjadi. Ia memimpikan hal yang buruk, ia melihat Itachi yang pergi meninggalkannya.

'Apa-apaan semua ini?' Pikirannya makin tak menentu, ia melirik kunci mobilnya yang berada di atas meja. "Aku harus memperjelas semua ini." Kyuubi menyambar kunci itu dan berjalan cepat menuju pintu depan.

Setelah mengunci kembali pintu apartemennya, Kyuubi bergegas ketempat dimana mobilnya terparkir. Sekarang dipikirannya hanya ada satu, memperjelas semua ini agar ia bisa menyingkirkan semua pikirannya yang lain.

Kyuubi memasuki mobil merahnya dan segera melajukannya dengan cepat ke jalanan ramai. Tidak mempedulikan jika hari sudah malam mengingat jam yang sudah menunjukan pukul sepuluh malam dan lagi hujan yang tengah mengguyur jalanan, Kyuubi mempercepat laju mobilnya hingga di atas tujuh puluh kilo meter per jam. Ia ingin cepat memperjelas semuanya.

.

.

.

Ting tong!

Di sinilah Kyuubi sekarang, di depan pintu mansion megah milik keluarga Uchiha. Ia terlihat menunggu dengan tidak sabaran, sesekali ia berdecak kesal karena sejak tadi ia membunyikan bel tak ada satu orang pun yang membukakan pintu untuknya. Ia tak habis pikir kenapa mansion sebesar ini tak ada satu orang pun yang mendengar bel yang sejak tadi berbunyi. Ia mengetuk-ngetukan kakinya, jika lima menit lagi pintu ini tak juga dibuka ia akan benar-benar mendobrak pintu di depannya ini. Tidak peduli jika itu tindakan kriminal karena masuk ke dalam rumah orang tanpa ijin.

Ting tong!

Cklek!

"Kyuubi?"

Mendengar namanya dipanggil, Kyuubi langsung menatap seseorang yang tengah berdiri di ambang pintu. Seorang yang sudah membuatnya pusing, laki-laki yang selalu menghantui pikirannya.

"Sedang apa kau di sini?"

"Keriput, aku tidak tahu harus berkata apa padamu. Aku tidak mengerti dengan semua ini. Kau yang selalu saja muncul dipikiranku. Kau tahu, itu membuat kepalaku serasa ingin meledak. Sudah lama aku memikirkan semua ini, tapi semakin aku memikirkannya banyak pertanyaan yang tiba-tiba muncul dalam kepalaku. Semakin banyak dan terus-terusan berputar. Argh! Itu membuatku tidak bisa memikirkan hal lain dan itu semua karena kau keriput!"

Kyuubi mengatur napasnya yang terengah-engah setelah mengucapkan apa yang menjadi tujuannya kemari. Ia menatap Itachi menunggu respon dari si raven itu.

"Kyuu, apa kau sakit?" Tanya Itachi yang melihat Kyuubi yang bisa dikatakan terlihat kusut dengan rambut yang acak-acakan dan pakaian yang juga kusut.

Twich!

Setelah ia mengucapkan begitu banyak kalimat yang terbentuk di dalam otaknya, Itachi hanya bertanya apa di sakit. Padahal ia sudah jauh-jauh kemari untuk mengatakannya, tapi yang dia dapat hanya Itachi yang bertanya apa dia sakit.

"Keriput. Kau! Argh! Aku tidak tahu apa yang kubicarakan!" Teriak Kyuubi, ia mengacak-acak surai orange rednya dengan frustasi. Tidak tahu harus mengatakan apa lagi pada laki-laki di depannya ini.

"Kyuu-"

"Itachi? Siapa yang datang?"

"Ah, Dei."

Deg!

Kyuubi mematung, matanya menatap seseorang yang berdiri tak jauh di belakang Itachi. Bukan karena orang itu adalah Deidara, seseorang yang beberapa hari ini terus saja bertemu dengan Itachi. Tapi karena keadaan Deidara yang dengan pakaian hampir terbuka sepenuhnya, juga ia dapat melihat beberapa bercak merah yang ada disekitar leher dan dada laki-laki itu. Rambut yang biasa dikuncir setengah itu kini tergerai dan yang membuatnya tambah kalut adalah keadaan Itachi yang baru ia sadari hampir sama dengan Deidara.

"Kyuubi san? Sedang apa anda di sini?" Deidara yang melihat Kyuubi, berjalan mendekati Itachi dan tersenyum ke arah dokter muda itu.

Tanpa sadar Kyuubi melangkah mundur, ia menundukan kepalanya dalam. Pikirannya terus secara berulang-ulang berucap kata tidak mungkin. Ia kembali menegakan kepalanya, memasang senyuman diwajahnya. "Sepertinya a aku mengganggu kalian." Ucapnya seraya terus melangkah mundur, "Pe permisi."

Kyuubi membalikan tubuhnya dan berjalan cepat menjauhi dari kedua orang itu, semakin lama kakinya semakin mempercepat langkahnya hingga ia akhir berlari. Yang ia inginkan sekarang adalah pulang ke rumahnya.

.

.

"Kenapa kau malah diam?" Deidara bertanya pada pemuda yang berdiri di sampingnya, sedangkan matanya terus melihat ke arah dimana Kyuubi baru saja berbelok di depan gerbang mansion. "Cepat kejar dia!" Kesal Deidara yang melihat Itachi tetap diam.

"..."

"Itachi!" Dengan kesal Deidara membalikan tubuh Itachi hingga menghadapnya, "Kejar dia!"

"..."

"Kalau kau tidak mau mengejarnya, biar aku saja!" Teriak Deidara, ia sudah akan mengejar Kyuubi jika saja tangannya tak ditahan Itachi.

"Belum saatnya." Deidara menatap si raven itu dengan pandangan bingung, apanya yang belum saatnya. Apa dia tidak melihat lebatnya hujan yang tengah turun dan Kyuubi yang meninggalkan mansion ini dengan berjalan kaki.

"Apa yang kau tunggu Itachi! Dia sudah jelas menyukaimu, kau tidak melihat matanya yang terluka saat dia melihatku denganmu!"

"Hn. Tapi masih belum." Itachi menatap penuh keseriusan, meyakinkan agar Deidara tak melanjutkan niatnya mengejar Kyuubi. Ia melonggarkan cengkramannya pada tangan Deidara.

Deidara langsung menyentakan tangannya dan memegangi pergelangan tangannya yang tadi ditahan Itachi, "Kukatakan sekali lagi un, jika rencanamu ini gagal. Aku akan meledakanmu sampai berkeping-keping Itachi." Ucapnya penuh ancaman.

Itachi berbalik memunggungi Deidara dan berjalan memasuki mansionnnya, perlahan kedua sudut bibirnya tertarik ke atas. 'Saatnya merasakan sakit Kyuu chan.' Seringai senantiasa terukir diwajah tampannya.

.

.

.

Kyuubi terus berlari menyusuri jalanan, terus berlari. Tak peduli jika tubuhnya sudah basah kuyup karena hujan yang turun cukup deras. Ia hanya ingin berlari sejauh mungkin ia bisa, kenapa ia harus melihat semuanya. Kakinya terus ia paksakan berlari meski rasanya seperti sudah mati rasa, ia tulikan umpatan yang diterimanya dari pejalan kaki lain yang tak sengaja ia tabrak. Ia hanya ingin mengenyahkan rasa sesak yang kini ada didadanya. Rasanya sakit, bukan hanya sesak. Sudah sejak tadi matanya terasa panas, ia ingin sekali menangis. Kenapa ia harus melihat semuanya. Kenapa rasanya begitu menyakitkan melihatnya, apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya.

.

.

*##########*###########*##############*#############*###############*############*

o.O. Kagari Hate The Real World.O.o

.

"Emmh...Sasu.."

"Yeah, ...like that Naru." Sasuke berdesis merasakan remasan-remasan ketat yang diterimanya di bawah sana. Begitu ketat memijat miliknya yang perlahan keluar masuk dan rongga hangat laki-laki yang tengah bermain dipangkuannya. Ia begitu menikmati pemandangan yang ada di depannya. Naruto yang mendesahkan namanya seraya melenguh nikmat dengan tubuh yang naik turun memainkan miliknya.

"Faster...Naru.."

"Ahn...angh..ah ah..ah..." Naruto mempercepat gerakan naik turunnya, ia menumpukan tangannya pada bahu Sasuke untuk menyeimbangkan gerakannya. Ia mendesah keras saat ujung milik Sasuke menyentuh sweetspotnya. "Ungh! Ah! Ah!...'Suke..ummmh."

Sasuke meraup bibir merah Naruto, membawanya kembali dalam ciuman panas yang menambah hasrat yang tengah saling beradu diantara mereka. Meliukan lidah seirama, saling bertautan mencampur saliva yang mulai menetes disudut bibir karena tak mampu menampungnya lagi. Saliva yang bercampur itu meluber membasahi dagu Sasuke menyisakan beberapa yang menetes jatuh mengalir didada bidangnya.

"Ummh...Sasu..ah! ah!...ah..ahah.." Naruto mendongakan kepalanya ke atas, merasakan jika sebentar lagi ia mencapai klimaksnya.

Sasuke yang mendengar desahan panjang Naruto segera menggenggam milik Naruto dan mulai mengocoknya, membuat Naruto menggelinjat nikmat dengan gerakan yang semakin cepat.

"Ungh..kau menikmatinya Naru?"

"Ah! Ah!...ah! ah..ah.." Naruto memejamkan matanya erat saat cairan yang lama tertahan itu keluar, menyembur membasahi perutnya dan Sasuke.

"Hah..hah..ah..hah.."

"Belum selesai." Ucap Sasuke, ia memegangi pinggang Naruto dan bersiap menggerakan laki-laki dipangkuannya namun harus tertunda karena bunyi bel yang terdengar dari depan rumahnya.

"Ada tamu." Ucap Naruto yang terlihat beranjak dari pangkuan Sasuke, namun segera ditahan oleh pemuda itu dengan menekan tangannya yang berada dipinggul Naruto sehingga membuat miliknya langsung menusuk sweetspot kekasihnya itu.

"Teme! Ada tamu!" Kesal Naruto saat Sasuke tak juga membiarkannya beranjak.

"Aku masih belum, lagi pula siapa yang bertamu malam-malam begini." Ucapnya yang terlihat sudah tidak tahan menunggu lagi.

"Biar aku melihatnya dulu, kita bisa melanjutkannya nanti kan?" Ucap Naruto lembut, ia mengecup singkat bibir Sasuke yang memasang wajah kesalnya dan beranjak dari pangkuan pemuda itu.

Sasuke hanya menatap datar Naruto yang keluar melewati pintu ruangan itu-sudah memakai pakaian seadanya- sedangkan Naruto hanya tertawa geli melihat sikap Sasuke itu. Naruto mendengar bel rumahnya berbunyi lagi, ia juga sebenarnya berpikir siapa yang bertamu malam-malam begini. Bayangkan saja siapa yang bertamu pada jam yang sudah menunjukan jam satu pagi. Bisa dikatakan tidak sopan bukan.

Cklek!

"Ya, sia-Kyuubi!"

Dengan terkejutnya Naruto melihat Kyuubi yang tengah berdiri di depan pintu rumahnya, dengan keadaan Kyuubi yang basah kuyup dan kepala yang tertunduk.

"Apa yang terjadi padamu Kyuu?" Naruto menghampiri Kyuubi yang masih terdiam mematung.

"..."

"Kyuu?" Naruto menyentuh bahu Kyuubi, sedikit menundukan tubuhnya untuk melihat wajah Kyuubi namun ia terkejut saat melihat mata Kyuubi yang memerah. Naruto langsung menuntun Kyuubi memasuki rumahnya dan mendudukan kakaknya itu di sofa.

"Tunggu di sini, aku ambilkan handuk dulu." Ucap Naruto, ia segera melangkahkan kakinya memasuki kamarnya.

"Siapa yang datang?"

Naruto melihat seseorang yang tengah menatapnya dari atas tempat tidur.

"Kyuubi." Jawab Naruto singkat, ia masih disibukan dengan mencari sesuatu di dalam lemari pakaiannya.

"Untuk apa dia kemari?"

"Sasuke, lepas! Kyuubi sedang membutuhkanku sekarang." Ucap Naruto kesal ketika Sasuke tiba-tiba saja memelukya dari belakang. Ia langsung berdiri dan melangkahkan kakinya keluar kamar.

Sasuke menatap pintu yang baru saja dilewati Naruto, ia berdiri dan mendekati pintu itu. Melihat Naruto yang tengah menggosokan handuk yang dibawanya pada seseorang yang tengah duduk di sofa. Ia menaikan sebelah alisnya, apa tidak salah Kyuubi seperti itu. Pakaiannya yang basah Kuyup, berarti dia terkena hujan bukan. Walau pun di luar sedang hujan, tapi mana mungkin bisa sampai basah begitu jika hanya dari depan jalan ke rumah Naruto. Ia melangkahkan kakinya mendekati kedua orang itu.

"Sasuke, tolong buatkan coklat panas." Ucap Naruto yang tengah mengeringkan rambut Kyuubi.

"Hn." Ucap Sasuke, ia melangkahkan kakinya menuju dapur di sebelah ruangannya sekarang. Ia melirik Kyuubi yang masih menundukan wajahnya tak merespon sama sekali pertanyaan-pertanyaan dari Naruto.

.

.

"Bagaimana?"

Naruto menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan dari kekasihnya barusan, "Aku tidak tahu, Kyuubi terus saja diam." Ucapnya, ia melihat Kyuubi yang tengah menekuk lututnya di atas tempat tidur dengan pandangan khawatir.

"Lebih baik biarkan dia sendiri dulu." Ucap Sasuke, Naruto mengangguk dan menutup kembali pintu kamar di depannya.

"Aku ke dapur dulu." Ucap Sasuke.

Setelah melihat Naruto memasuki kamarnya, Sasuke merogoh kantung celananya. Mengambil ponselnya dan memencet beberapa tombol sebelum mendekatkan ponsel itu ketelinganya.

Tuuut tuuut tuu-

"Otouto~ ada perlu apa menelpon anikimu ini~" Suara nyanyian nista langsung terdengar ditelinganya.

"Katakan apa yang kau lakukan?" Tanya Sasuke pada orang yang tengah menyenandungkan entah nyanyian apa itu.

"Memangnya apa yang kulakukan Otouto, aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan."

"Kyuubi. Dia datang ke rumahku dengan tubuh yang basah kuyup."

"Oh, kukira dia akan pulang ke rumahnya."

"Ck! Dia mengganggu Itachi!" Ucap Sasuke, ia benar-benar kesal karena kegiatannya terganggu di tengah-tengah. Bahkan ia harus menahan rasa tidak enak karena tidak bisa mengeluarkan cairannya.

"Sudahlah Otouto, tidak usah semarah itu."

"Jangan libatkan aku dalam rencanamu Itachi." Ucap Sasuke, sebenarnya ia tahu dengan pasti beberapa hari ini Itachi tengah merencanakan sesuatu pada rubah merah itu.

"Itu tidak bisa, karena sejak awal kau sudah terlibat Otoutoku sayang. Nah, sekarang buat dia merasakannya ok?"

"Hn." Jawab Sasuke, ia langsung menutup sambungan telponnya. Kakaknya itu benar-benar merepotkan, memangnya dia pikir dirinya tidak punya masalah. Bahkan masalahnya lebih banyak dari apa yang kakaknya itu miliki.

.

.

Cklek!

"Ini tentang Itachi, benar?"

"..."

"Tiga tahun lalu, Itachi dan Deidara memutuskan hubungan mereka karena Deidara pergi dari Konoha. Itachi sangat mencintai Deidara, lebih dari apa pun selama hidupnya. Karena itulah, setelah Deidara pergi yang dia lakukan hanya mengurung diri, jarang bicara dan..." Sasuke melirik Kyuubi yang masih menekuk lututnya.

"Setelah bertemu denganmu, dia mulai kembali."

"..."

"Kau tidak akan bisa membayangkan bagaimana kemajuan Itachi setelah bertemu denganmu."

"..."

"Meski pun aku tidak bisa bilang dia benar-benar kembali, karena dia jadi aneh seperti itu."

"..."

"Deidara memang kembali, tapi apa benar Itachi masih memiliki rasa itu."

"..."

"Kau akan biarkan dia kembali pada masa lalunya?"

"..."

Sasuke menegakan tubuhnya yang tadi menyender pada dinding dan membuka kembali pintu kamar itu. Ia melirik ke arah Kyuubi, "Pikirkan baik-baik apa yang kukatakan ini Kyuubi." Lalu melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu.

Kyuubi hanya terus diam seraya memeluk lututnya, ia mendengar semua yang diucapkan Sasuke tadi. Tapi dirinya sedang tidak ingin memikirkan semua itu, Kyuubi hanya ingin mengosongkan pikirannya.

*##########*###########*##############*#############*###############*############*

o.O. Kagari Hate The Real World.O.o

.

Sebuah mobil BMW hitam memasuki pekarangan sekolah bertuliskan Konoha High School pada depan gerbangnya, mobil itu berhenti tepat di ujung lapangan sekolah itu. Seorang pemuda berambut raven melangkahkan kakinya keluar dari mobil itu.

"Dobe," Pemuda raven itu menundukan tubuhnya di samping kersi kemudi.

"Apa? Sudah sana masuk," Ucap seseorang yang duduk dikursi kemudi.

"Kau baik-baik saja?" Tanya pemuda raven itu, Naruto hanya tersenyum mendengar pertanyaan dari kekasihnya itu. Ia menyentuh pipi Sasuke dan mengelusnya lembut.

"Ya, aku baik-baik saja. Sudah cepat masuk, aku juga harus berangkat ke rumah sakit." Ucap Naruto.

"Hn." Sasuke menggenggam tangan Naruto dan mencium lembut tangan itu, "Jangan terlalu memikirkan Kyuubi ok."

Naruto tertawa kecil mendengar ucapan sasuke, "Jadi, apa kekasihku ini sedang cemburu hmm?" Tanya Naruto.

"Tidak." Jawab Sasuke, ia mencondongkan tubuhnya lebih dekat pada Naruto dan mencium bibir dokter muda itu. Hanya ciuman sekilas dan Sasuke melepaskannya.

"Aku pergi." Ucap Naruto.

Sasuke memundurkan langkahnya membiarkan mobil di depannya melaju menjauhi tempatnya berdiri. Ia berbalik dan melangkahkan kakinya memasuki kawasan bangunan sekolah namun ia menaikan sebelah alisnya ketika sebuah sepeda motor berhenti tepat di depannya.

Pengendara sepeda motor itu melepas helm hitam yang dipakainya seraya mengibaskan rambut coklat panjang yang dimilikinya hingga mirip salah satu iklan shampo yang pernah dilihat Sasuke.

"Hai Sas, bagaimana kabarmu? Baik-baik saja?" Sapa pengendara motor itu, ia menuruni motornya dan berjalan mendekati Sasuke seraya bersenandung kecil.

Sasuke yang melihat temannya itu menaikan sebelah alisnya bingung, tidak biasanya Neji nama pengendara itu menyapanya apa lagi menanyakan kabarnya. Lebih aneh lagi temannya itu tengah menyenandungkan sebuah lagu, Neji yang notabene tidak suka musik tengah menyenandung. Pantas untuknya merasa aneh bukan.

"Hari ini cerah ya. Hari ini beruntung sekali aku memakai motor."

"..."

"Walau pun rambutku ini sedikit menekuk karena memakai helm, itu tidak masalah sih."

"..."

"Lagi pula pemandangannya bagus dan aku juga-"

"Kau 'sakit'." Pertanyaan lebih tepatnya pernyataan dari Sasuke membuat Neji menatap sahabatnya itu.

"Hah?"

"Kubilang kau 'sakit'." Ucap Sasuke, sepertinya pemuda Hyuuga di depannya ini sedang mengalami loading lama karena terlalu banyak makan(?) angin.

Setelah memproses apa yang dikatakan sahabatnya itu, Neji segera menatapnya dengan tajam, "Aku masih waras, Uchiha Sasuke." Ucapnya.

"Oh, baguslah."

"Yah, tapi mungkin aku memang sakit." Ucap Neji.

"Kau tahu, tadi aku hampir saja menabrak malaikat manis yang sedang menyebrang jalan. Kau tidak akan bisa membayangkan betapa indah matanya saat dia melihat ke arahku. Sangat jernih sampai aku bisa melihat pantulan diriku di sana."

"..."

"Dan cara bicaranya, meski pun datar dan sangat kasar tapi terdengar merdu sekali."

"..."

"Tidak seperti kau, dia itu manis sekali."

"Apa Hyuuga Neji sedang curhat mengenai 'love at the first sight' nya padaku sekarang?" Tanya Sasuke sambil menyeringai.

Neji mengedipkan matanya, bingung dengan ucapan Sasuke barusan dan sedetik kemudian dia menatap tajam sahabatnya itu. "Sialan kau." Ucapnya seraya berjalan mendahului Sasuke, meruntuki dirinya sendiri yang telah blak-blakan membicarakan sesuatu yang pribadi pada Sasuke.

"Jadi, siapa malaikat manis yang hampir kau tabrak itu?" Tanya Sasuke dengan seringai yang masih kentara diwajahnya.

"Berisik!" Kesal Neji, ia terus berjalan meninggalkan Sasuke yang masih menyeringai mengejek ke arahnya.

Mereka berdua melangkahkan kakinya memasuki gedung sekolah, tidak menghiraukan para wartawan yang lagi-lagi memberondongi berbagai macam pertanyaan pada mereka. Dengan cueknya Sasuke dan Neji melangkah menyusuri koridor sekolah. Tetapi tidak seperti Sasuke, Neji sesekali berhenti dan menyapa balik para siswi yang berpapasan dengannya. Terlalu merepotkan, mungkin itulah yang ada dipikiran Sasuke.

"Pagi Sasuke kun,"

Seorang gadis berambut merah dua berjalan mendekati Sasuke, roknya yang lebih pendek lima senti dari siswa lain berkibar-kibar sehingga pakaian dibaliknya terlihat dengan jelas saat ia behjalan.

"Film kita sukses Oto dan Suna, banyak yang bilang itu karena keserasian kita loh!" Ucapnya seraya berdiri di samping kiri Sasuke.

"Hn." Ucap Sasuke seadanya, ia menengok ke arah kanan melihat Neji yang tengah bersendau gurau dengan para siswi yang mengerubuninya. "Neji." Panggilnya.

Neji mengalihkan perhatiannya pada seseorang yang baru saja memanggilnya lalu kembali menatap siswi-siswi yang mengerubininya, "Sepertinya Prince of ice sudah memanggilku, kita lanjutkan nanti ya." Ucapnya pada para gadis itu.

"Ya~h, Neji kun kami kan masih ingin mengobrol banyak denganmu~."

"Iya, tidak bisa ya?"

Neji tertawa kecil mendengar permintaan gadis-gadis itu, "Aduh, bukannya aku tidak mau cantik. Tapi aku tidak suka melihat orang lain menungguku, lain kali kita ngobrol lagi ok? Nah, sekarang permisi." Ucapnya seraya berjalan mendekati Sasuke yang terlihat mulai tak nyaman dengan seseorang yang terus berbicara di sebelahnya.

"Lama menungguku," Ucapnya yang hanya dibalas gumaman tak jelas dari Sasuke, Neji menatap seseorang yang berdiri di samping Sasuke. "Pagi Haruno san."

"Pagi Hyuuga kun." Jawab Sakura seraya tersenyum ke arah Neji.

"Kita pergi."

"Tunggu sebentar Sasuke kun." Sakura menahan tangan Sasuke, namun segera ia lepas begitu Sasuke menatapnya dengan tajam. "Ini untukmu." Ucapnya seraya menyerahkan amplop seukuran buku pada Sasuke, ia mendekatkan dirinya pada Sasuke dan membisikan sesuatu ditelinganya. "Temui aku di atap sekolah pulang nanti, atau kau akan menyesal." Lalu menjauhkan dirinya lagi.

"Kalau begitu aku duluan ya, Sasuke kun, Hyuuga kun." Ucap Sakura, ia melambaikan tangannya sebelum melangkah pergi.

"Apa itu?" Tanya Neji yang melihat amplop yang diserahkan Sakura tadi ditangan Sasuke.

Sasuke mengangkat bahunya dan berniat membuang amplop itu, namun ia mengurungkan niatnya saat mengingat kembali apa yang diucapkan Sakura tadi. Ia pun menyerahkan amplop itu pada Neji, tidak berniat untuk membukanya sama sekali dan melangkahkan kakinya lagi.

"Hei, ini kan untukmu." Ucap Neji yang hanya dibalas dengan lambaian acuh dari Sasuke, karena penasaran dengan amplop yang ada ditangannya Neji pun membuka ikatan benang amplop itu dan membukanya.

Neji mengerutkan keningnya begitu mendapati isi amplop itu adalah lembaran foto, ia mengambil selembar foto dari dalam amplop itu dan seketika itu juga wajahnya berubah serius. Neji memasukan foto itu kembali ke dalam amplop dan berjalan cepat menyusul Sasuke yang sudah agak jauh darinya.

"Sasuke."

Sasuke menengok ke belakang, melihat Neji yang berjalan cepat ke arahnya. menaikan sebelah alisnya saat melihat wajah penuh serius Neji.

"Ikut aku." Tanpa memberikan Sasuke kesempatan bertanya ia segera berjalan cepat mendahului sasuke.

.

.

"Ada apa?" Tanya Sasuke, sekarang ini ia dan Neji tengah berada di belakang sekolah. Sasuke semakin menautkan alisnya saat melihat Neji yang celingak celingukan seperti mencari sesuatu.

"Neji?"

"Lihat apa isi amplop ini Sasuke." Ucap Neji, ia menyerahkan amplop ditangannya pada Sasuke.

Sasuke mengambil amplop coklat itu dari tangan Neji dan melihat isi di dalamnya, lembaran foto. Ia menaikan sebelah alisnya dan mengeluarkan selembar dari foto yang ada di dalam amplop itu. Wajah Sasuke mengeras begitu ia melihat gambar yang tercetak pada foto ditangannya. Ia memandang Neji yang juga berwajah tak kalah serius dengannya.

"Dari mana Sakura mendapatkannya Sasuke?" Tanya Neji, ia terlihat sangat serius.

"Kau pikir aku tahu!" Sasuke meninggikan suaranya, ia terlihat sangat marah setelah melihat foto yang ada ditangannya. Dari mana gadis itu mendapatkan foto ini, jika foto ini sampai bocor kepublik- tidak tunggu ia harus berpikir jernih. Pikirkan baik-baik, Sakura menyerahkan foto ini padanya dan memintanya untuk bertemu. Pasti ada sesuatu yang dia inginkan bukan.

"Apa kau akan menemuinya?" Tanya Neji, ia melihat sahabatnya itu mengangguk.

"Aku harus tahu apa yang diinginkannya dengan menunjukan foto ini padaku." Jawab Sasuke tidak yakin, lagi masalahnya bertambah dengan adanya foto ini.

.

*##########*###########*##############*#############*###############*############*

o.O. Kagari Hate The Real World.O.o

Naruto memijat keningnya pelan, kepalanya mulai terasa pusing lagi. Sudah beberapa hari ini ia merasakan pusing yang tak kunjung hilang dan malah bertambah parah. Mungkin ini akibat dari ia yang terlalu memaksakan dirinya untuk bekerja dan memporsir tubuhnya secara berlebihan. Bagaimana tidak, beberapa hari ini banyak pasien yang masuk dan ia juga harus melakukan pengecekan rutin pada pasien lain, juga melakukan pekerjaan kakaknya yang tidak kalah banyak darinya. Apalagi hari ini Kyuubi tidak masuk, ia sendiri bingung dengan kakaknya itu yang tiba-tiba saja berada di depan rumahnya pada tengah malam dan dalam keadaan basah kuyup pula. Ia sudah bertanya pada kakaknya itu mengenai apa yang terjadi padanya namun yang ia dapati hanya diamnya Kyuubi.

Sama seperti tadi pagi saat ia menanyakan kemana mobil merah yang selalu dibawa Kyuubi itu dan lagi-lagi yang ia dapat hanya Kyuubi yang terdiam. Naruto menyandarkan punggungnya pada sandaran kursinya, terlalu banyak memikirkan sesuatu bisa membuat sakit kepalanya ini bertambah parah.

Tok tok tok

Naruto menatap pintu ruangannya yang baru saja diketuk, ia segera membenarkan membenarkan duduknya. "Masuk." Ucapnya, ia melihat Gaara yang memasuki ruangannya.

"Maaf, aku terlambat." Ucap Gaara, ia segera berdiri di depan meja Naruto.

"Tidak apa," Naruto mengambil berkas yang disodorkan Gaara padanya, "Kita ke lantai empat untuk memeriksa pasien di kamar 204." Ucapnya yang mendapatkan anggukan dari asisten dadakannya itu.

"Tapi tidak biasanya kau terlambat Gaara, apa ada yang menghambatmu di jalan?" Tanya Naruto, sekarang mereka sedang menyusuri koridor rumah sakit.

"Hm."

"Apa sesuatu? Seseorang?"

"Pengemudi ugal-ugalan yang buta warna." Jawab Gaara.

"Pengemudi ugal-ugalan?" Naruto menautkan kedua alisnya bingung, apa maksud Gaara dengan pengemudi ugal-ugal- "AAAh! Gaara, apa kau terserempet motor? Tertabrak mobil? Kau baik-baik saja kan?" Tanya Naruto yang terlihat panik, ia memegangi nahu Gaara dan mengguncang-guncangnya dengan tidak pelan.

"Namikaze san, ka kau membuatku pusing." Ucap Gaara sedikit susah karena Naruto yang mengguncang tubuhnya.

Naruto menarik tangannya dan menunjukan cengirannya sebagai permintaan maaf, "Ah, maaf. Aku hanya khawatir kau kenapa-kenapa." Ucapnya.

"Tenang saja, kau tidak akan dituntun oleh pihak kampus meski pun aku mati tertabrak mobil." Ucap Gaara datar seolah yang diucapkannya itu adalah hal biasa dan melanjutkan langkahnya yang sempat berhenti. Sedangkan Naruto langsung cemberut setelah mendengar ucapan Gaara barusan.

"Sentimen banget sih, aku kan hanya khawatir." Ucapnya seraya terus bersungut-sungut.

"Hanya luka kecil dan tidak usah mengkhawatirkanku."

"Ya sud-ugh..."

Brugh!

Gaara menghentikan langkahnya saat mendengar suara jatuh dari arah belakangnya, ia berbalik dan matanya membulat melihat Naruto yang jatuh seraya memegangi kepalanya.

"Namikaze san!" Dengan panik Gaara menghampiri Naruto yang tak sadarkan diri, suster dan perawat yang berada paling dekat dengannya langsung menggotong Naruto dan membawanya ke ruang pemeriksaan. Gaara sendiri mengikuti perawat yang membawa Naruto dari belakang, ia terlihat begitu khawatir karena baru menyadari wajah Naruto yang begitu pucat dan terlihat mengernyitkan alisnya tak nyaman.

To be continue ~^^

Gomennasai, di chap ini ItaKyuu lebih banyak dari pada pair utamanya.

Soalnya kalau terlalu lama ItaKyuu bisa lebih panjang masalahnya dari pada SasuNaru,

Adakah yang kecewa dengan chapter ini?

Silahkan review ^^ flame juga boleh...tapi lebih baik log in dulu biar authornya tahu siapa sih yang ngeflame itu..

REVIEW!