Wokeh!

Lets enjoyed Minna !

.

.

.

Sasuke : 17 tahun

Naruto : 24 tahun

Itachi : 25 tahun

Kyuubi : 25 tahun

Neji : 17 tahun

Gaara : 19 tahun

Deidara : 24 tahun

Sasori : 25 tahun

Sakura : 17 tahun

Shizune : 24 tahun

Minato : Terserah reader mau umurnya berapa ^^

Kabuto : 28 tahun

.


Disclaimer : Masashi Kishimoto sama

Genre : Romance(?), Drama(?)

Rate : M

Pairing : SasuNaru, ItaKyuu, slight SasoDei, NejiGaa.

Warning : Yaoi, Sho Ai, Lime kurang hot, Lemon tidak bermutu, aneh, gaje, Typo dan kawan-kawan sebangsanya.

!DON'T LIKE DON'T READ!

But,

You can try to read and don't flame!


.

Kelopak dari mata seindah sapphire yang sudah beberapa jam ini tertutup dengan rapat mulai mengerjap beberapa kali, mencoba membiasakan penglihatannya yang terasa mengabur untuk kembali dalam keadaan normal. Erangan tak nyaman terdengar dari belahan bibir pucatnya yang mengatup, matanya yang lama kembali pada titik normal membuatnya memutuskan untuk membiarkan matanya terpejam beberapa saat lagi sebelum ia kembali membukanya.

Yang pertama kali terlintas dalam penglihatannya adalah putih yang sangat familiar untuknya, putihnya dinding rumah sakit. Ia menggerakan kepalanya ke kiri, sedikit mengernyit saat kepalanya langsung berdenyut sakit karena perbuatannya barusan. Tangan kanannya terangkat dengan perlahan untuk menyentuh pelipisnya, memijat pelan daerah sekitar keningnya meski tangan itu terasa lebih berat dua kali lipat dari biasanya.

"Naruto kun, jangan banyak bergerak dulu." Ucap seseorang yang dirasa Naruto tengah berada di sampingnya.

"Siapa?" Tanyanya memastikan.

"Ini aku, Kabuto." Jawab seorang di sampingnya itu seraya membantunya yang tengah berbaring untuk duduk.

"Minum ini, kau akan merasa baikan." Ucap Kabuto, menyerahkan segelas air putih dalam gelas bening pada pemuda di sampingnya.

Dengan segera ia meminum air dalam gelas yang diberikan padanya dengan rakus, tenggorokannya terasa sangat kering seperti sudah lama ia tak merasakan air yang mengalir ditenggorokannya. Ia meneguk air dalam gelas itu hingga tinggal tersisa setengahnya dan menyerahkan gelas itu kembali pada Kabuto.

"Kabuto san, apa yang terjadi padaku?" Ia bertanya, menundukan kepalanya yang terasa berat dan semakin berdenyut sakit.

"Kau pingsan, Gaara kun bilang kau terlihat gelisah dan terus memegangi kepalamu." Jawab Kabuto.

Ia mengangguk pertanda ia mendengarkan jawaban dari pria berkacamata itu. Tidak tahan, ia memutuskan untuk kembali membaringkan tubuhnya karena sakit kepalanya yang tak juga mereda.

"Naruto kun...bisa aku, tanya sesuatu padamu?" Ucap dokter senior itu padanya, dari suaranya jelas terdengar ada keraguan dalam ucapannya barusan.

"Ada apa Kabuto san? Apa ada sesuatu yang terjadi padaku?" Tanyanya pada seniornya itu, gerakan dari seniornya nampak tak nyaman dengan apa yang akan dikatakannya selanjutnya.

"Aku... mungkin ini pribadi, tapi...aku menemukan ah tidak, maksudku...tubuhmu..." Ucap Kabuto terputus-putus, nampaknya dokter berkacamata ini tidak menemukan kata ataupun kalimat yang tepat untuk menyampaikan maksudnya.

Ia hanya dapat tersenyum sendu melihat senpainya yang kehabisan kata untuk berbicara. Ditatapnya langit-langit putih rumah sakit dengan pandangan yang terlihat kosong. "Kabuto san," Kabuto melihat Naruto yang tersenyum seraya memandang lurus ke atas. "Tidak apa-apa, aku sudah tahu." Ucapnya, ia menatap lurus pada mata beriris hitam milik Kabuto, membuat mata dokter berumur 28 tahun itu membulat sempuna. Sebegitu terkejutkah seniornya ini hingga menampakan tatapan tertegun melihat iris shappirenya yang nampak menyimpan semuanya. Menutupinya dengan senyuman yang ia ukir dibibirnya.

"Naruto kun," Kabuto membalas senyuman sendunya dengan khawatir. Sebagai dokter, dirinya tak bisa begitu saja berdiam diri acuh saat melihat seseorang seperti Naruto sekarang.

"Tuliskan saja obat apa yang harus kuminum." Ujarnya terdengar sedikit tidak jelas.

"Apa kau sudah memberitahu ayah dan ibumu?" Tanya Kabuto seraya berjalan menuju meja yang berada tak jauh dari tempat tidur pasien dimana Naruto berbaring.

"Belum, menurutmu bagaimana aku bisa memberitahukan hal ini pada mereka sedangkan aku sendiri..." Naruto tak melanjutkan ucapannya, ia lebih memilih memejamkan matanya erat dan mengelus lembut sesuatu yang tak lama lagi akan terlihat.

Kabuto menghela napasnya, ia kembali berjalan mendekat kearah tempat tidur dan menaruh secarik kertas di atas meja kecil di samping tempat tidur. "Lalu, dengan kekasihmu?" Tanya dokter berkacamata itu.

"Tidak," Naruto tertawa pelan, "Bagaimana bisa aku memberitahunya tentang hal ini..." Ia meremas kemeja dokternya. "...tidak...semudah itu." Ucapnya yang lebih seperti gumaman.

Dokter berkacamata itu hanya menatap Naruto maklum, mengenal bungsu Namikaze ini selama empat tahun bukanlah waktu yang singkat. Ia jadi sangat tahu sifat dari pemuda bersurai pirang itu dan kali ini memanglah sifatnya, selalu memaksakan diri, menyimpan masalahnya hanya untuk dirinya. "Baiklah jika itu keputusanmu Naruto kun, ini obat yang bisa kau minum. Aku sudah mengurangi dosisnya, jadi aman untuk tubuhmu." Ucap Kabuto.

Naruto hanya memberi anggukan kecil tanda ia mengerti, kepalanya sakit dan itu membuatnya sulit untuk sekedar berucap lagi. Ia memilih untuk kembali memejamkan matanya, mengistirahatkan tubuhnya yang memang sangat membutuhkan itu.

"Aku akan keluar, kembalilah istirahat. Aku akan katakan pada dokter kepala jika tugasmu dialihkan padaku." Ujar Kabuto, tangannya dengan sibuk merapikan beberapa barang miliknya.

"Hmm... arigatou... Kabuto san..." Gumam Naruto, matanya mulai terasa berat hingga ia tak bisa menahan rasa kantuk yang menyerangnya. "Kabuto san, rahasiakan ini...dari ayahku." Ia pun membiarkan dirinya terlelap.

"Seenaknya sendiri, itulah dirimu Naruto kun." Ucap Kabuto sebelum ia meninggalkan ruangan itu.


.

*##########*###########*##############*###############*###############*##########*

o.O. Kagari Hate The Real World.O.o


.

"Katakan apa yang kau inginkan Sakura." Ucapan datar nan dingin itu mengalun dari bibir pucat pemuda raven yang tengah menatap dengan datarnya pada gadis yang kini merasa dirinya-gadis itu- paling berkuasa atas dirinya-Sasuke-.

Gadis itu menyandarkan punggungnya pada jaring kawat besi yang dipasang mengelilingi sisian atap bangunan sebagai pengaman. Iris emeraldnya memantulkan bayangan dari sang penuda raven yang tengah berdiri beberapa meter di hadapannya.

Gadis itu tersenyum lembut-yang menurut si pemuda raven terlihat sangat licik- padanya, menatap dengan angkuh pada sosok di depannya. Tidak sadarkah pemuda raven itu jika sekarang dirinyalah yang seharusnya bicara, ia yang berkuasa. "Yang kuinginkan?" Ulang gadis itu.

"Tidak ada yang spesial, hanya sesuatu yang kecil." Ucap gadis itu lagi, ia membalikan tubuhnya, menautkan jemarinya pada setiap lubang jaring besi di depannya.

"..."

Gadis itu tertawa kecil, sungguh menyenangkan berada di atas. Apa lagi di atas pemuda yang berdiri tak jauh di belakangnya sekarang. Ia sangat tahu jika pemuda itu sejak tadi telah menahan amarahnya. Membuat seolah-olah ia bisa tetap tenang dihadapan dirinya.

"Baiklah, aku tidak akan basa-basi lagi." Ucap gadis itu, ia berbalik kembali hingga berhadapan dengan pemuda di depannya. Melangkahkan kaki langsingnya mendekati pemuda yang tengah terdiam menunggu lanjutan kalimat yang akan terucap dari bibir cerry pinknya.

"Aku ingin kau menjadi kekasihku, Sasuke kun."

Sasuke langsung menatap dengan tajam gadis pinky di depannya, menunjukan ketidak sukaannya secara langsung akan ucapan dari gadis itu. Bagaimana ia bisa menyukainya, gadis yang sangat licik ini telah memanfaatkan 'kelemahannya', begitu merasa tinggi kah gadis permen kapas ini.

"Jangan menatapku begitu Sasuke kun, aku masih belum menyelesaikan ucapanku." Ucap gadis itu, "Aku ingin kau jadi kekasihku 'di luar', aku tidak peduli dengan urusan pribadimu itu." Lanjut Sakura seraya berjalan ke belakang Sasuke.

"Dan...jika kau menolak...um..." Gadis itu mengetuk-ngetukan jari telunjuknya pada bibir berlapis lip ice pink berminyaknya. "Tidak akan ada yang menyangka jika 'Uchiha' Sasuke, seorang yang menjadi bintang remaja mempunyai ketertarikan yang erotis pada sesamanya. Menjalin kasih dengan laki-laki yang lebih tua darinya. Melakukan seks dengan laki-laki, aku sempat berpikir kau itu gila Sasuke kun." Gadis itu tertawa kecil, "Coba ku pikir, apa...yang akan terjadi jika foto ini kuberikan pada stasiun TV ya?" Ucap Sakura, ia mengibas-ibaskan tangan kanannya yang tengah memegang tiga lembar kertas persegi dengan tiga gambar yang berbeda.

Pada gambar pertama terlihat seorang pemuda bersurai raven tengah menggandeng tangan seorang pemuda bersurai pirang, gambar kedua seorang pemuda raven yang sama tengah mencium intens pemuda pirang yang sama pula dengan posisi si pirang tertidur direrumputan dan si raven yang berada di atasnya. Gambar ketiga, dua pemuda yang sama tengah berjalan memasuki lobi sebuah hotel meski yang terlihat hanya si pirang sedangkan si raven tersembunyi dengan baik di balik tudung jaketnya.

"Gosip beredar, kariermu hancur, dikucilkan...ah! Aku melupakan sesuatu!" Gadis itu mencondongkan tubuhnya pada punggung Sasuke hingga mendekat ketelinga Sasuke, "'Kekasih'mu itu juga akan han-cur." Ucap gadis itu dengan penekanan pada kata terakhir. Ia menjauhkan tubuhnya dan tersenyum puas melihat tubuh pemuda itu menegang kaku. Dalam hati gadis itu bersorak kemenangan, ia yang menjadi raja-dalam hal ini ratu karena dia perempuan - dalam permainan ini.

Sasuke memejamkan matanya, mencoba menetralisir amarah yang demi Tuhan ia ingin sekali menampar wajah polos bermake-up menor muka dua iblis permen kapas barbie gagal gadis dihadapannya ini sekarang juga, saat ini, di sini.

Membuka matanya perlahan, dengan satu tarikan napas berat ia menjawab gadis pinky itu, "Hn." Ucap Sasuke.

"Bagus! Kita akan mulai diperhelatan ulang tahun TV Konoha." Ucap Sakura riang, ia menyerahkan beberapa lembar kertas yang entah ia dapat dari mana ke depan Sasuke. "Mainkan peranmu dengan baik, Sasuke kun." Gadis itu tersenyum dan berjalan ke belakang Sasuke, "Oh, dan kau bisa katakan pada Namikaze Naruto jika ini hanya untuk menutupi hubungan kalian." Hingga terdengar suara pintu yang terbuka dan kembali tertutup.

.

Sasuke menatap lembaran kertas yang kini berada ditangannya dengan datar. Gadis itu pikir dia ini siapa, seorang aktor yang bekerja padanya. Dengan seenak jidat lebarnya memberikan ia naskah untuk memainkan peran dalam dunia kepalsuan yang sebentar lagi dibuatnya.

Segila apa gadis itu, hingga memikirkan sesuatu seperti ini. 'Shit!' Umpat batin Sasuke. Ia benar-benar terlalu cerobohnya hingga tak menyadari adanya paparan(?) kamera yang terus memperhatikan gerak-geriknya selama ini. Memotret dari kejauhan bagaimana ia dan 'kekasih' yang seharusnya menjadi rahasia bisa terbongkar seperti ini.

Drap

Drap

Drap

Braak!

"Sasuke!"

"APA!"

Neji benar-benar merasakan jantungnya yang tengah berpacu cepat karena berlari menaiki tangga langsung mendadak berhenti bahkan hampir copot saat mendengar bentakan dari sahabat ravennya ini. Sasuke yang biasanya berwajah datar itu kini tengah menatap kesal dengan amarah yang tak tertahankan lagi kearahnya. 'Bad mood.' Batin Neji merasa sedikit ngeri karena ia tidak pernah dan baru pertama kali melihat Sasuke yang semarah ini hingga tak bisa mempertahankan wajah stoiknya.

Ia meneguk ludahnya sebelum menyampaikan maksud awal mengapa ia terburu-buru menemui Sasuke. "Aku mendapat telepon dari Naruto san, maksudku assistennya jika Naruto san mendadak pingsan." Ucap Neji dengan bulir keringat besar mengalir dari pelipisnya.

Sasuke menggeram kesal, apa lagi sekarang. Apakah ia sedang dipermainkan oleh Kami sama, setelah gadis pink yang 'meminta'nya menjadi 'kekasih' sekarang ia harus mendengar dobe-nya pingsan. Ia ingin sekali membenturkan kepalanya pada dinding terdekat, berharap itu bisa mengeluarkan pikiran semerawut yang kini bersarang diotak jeniusnya.

"Kuso!" Geram Sasuke yang segera berlari melewati Neji dan pintu, terus menuruni anak tangga yang menjadi jalan satu-satunya ke atap. Dasar, kenapa jalan ke atap tidak dipasangi lift saja sih tidak seperti jika ke lantai lain di dalam gedung ini.

'Dobe, kau kenapa?' Batin Sasuke.


.

.

.

*##########*###########*##############*###############*###############*##########*

o.O. Kagari Hate The Real World.O.o


.

Namikaze Kyuubi, dokter muda berumur 25 tahun ini kini sedang mengalami 'penyakit' kau bicara apa peduliku pada seseorang yang sejak dua jam yang lalu tengah terus-terusan bicara panjang lebar tanpa koma dan titik hanya tanda seru padanya.

Ia hanya memandang lurus dinding cream ruangan tempatnya berada sekarang dalam diam, sama sekali tak menanggapi ucapan-lebih tepatnya ceramahan- dari sang ayah Namikaze Minato. Hanya lewat begitu saja ke belakang kepalanya, tidak masuk mau pun keluar dari telinga kanan dan kirinya.

"Namikaze Kyuubi, kau mendengar apa yang kuucapkan barusan!" Ucap sang ayah dengan geraman kesal.

"Terserah apa yang tou san katakan." Ucap Kyuubi.

"Cukup. Pertunanganmu akan dipercepat menjadi bulan depan, ayah akan menyebar undangannya mulai besok. Dan kau sendiri yang harus mengantarkan undangan itu." Putus sang ayah, Kyuubi hanya diam tanpa menyetujui ataupun menolak keputusan ayahnya itu.

Ia bahkan tak peduli dengan rencana pertunangannya ini, kepalanya sudah cukup penat memikirkan semua tentang pemuda bermata onyx yang tak ada kabarnya sejak malam itu. Kenapa ia sampai seperti ini memikirkan dirinya, yang belum tentu juga pemuda itu memikirkannya.

"Sekarang, kembali ke kamarmu Kyuubi." Perintah Minato.

Kyuubi bangun dari duduknya, tanpa mengatakan apa pun ia melangkah menuju pintu coklat yang menjadi jalan keluar bagi Kyuubi. Tak peduli jika sang ayah menatapnya sudah seperti harimau kelaparan.

.

.

Cklek!

.

Sreeet

Punggung berbalut T-shirt merah Kyuubi merosot bersamaan dengan dirinya yang terduduk memunggungi pintu dengan sebelah tangan yang memeluk lututnya, membuat T-shirt itu sedikit tertarik ke atas dan menampakan pinggang putihnya. Ia akan bertunangan, ia tersenyum begitu pikiran itu terlintas disela rumitnya gulatan pikiran tentang dia.

Ia menggerakan tangannya untuk merogoh kantung depan celana jeans yang ia kenakan, mengambil ponsel orangenya. Matanya menatap dalam diam layar ponselnya, dan ia menggerakan jarinya memencet beberapa tombol yang tertera dilayar ponselnya.

Tak lama ponselnya berkedip dua kali, tanda jika ada pesan yang masuk. Kyuubi membuka pesan itu dan membaca isinya, ia tersenyum ketika melihat isi pesan itu.

'Jangan merengek, kau bukan bayi Kyuubi.'

Kyuubi kembali mengetik sesuatu pada layar ponselnya dan menekan tombol sent untuk mengirim pesan yang ia tulis. Ia meletakan ponselnya di samping kanan, mendongakan kepalanya hingga ia dapat melihat langit-langit kamarnya yang telah ia rombak mejadi entah seperti apa.

Sudah lama ia tidak pulang ke mansion Namikaze lebih dari dua bulan, tidak termasuk dengan kunjungannya beberapa hari yang lalu. Ia hanya duduk dan ayahnya mulai bicara mengenai pertunangannya dengan sepupunya Shizune yang sudah direncanakan sejak ia berumur lima belas tahun. Fuck! Sungguh ia seperti hidup sebagai alat yang dikendalikan ayahnya. Sekolah, kuliah, pekerjaan dan sekarang ayahnya mengatur siapa yang akan menjadi pendamping hidupnya.

'Sempurna' sekali hidupnya ini jika saja ia memang seseorang yang berpikir masa depan yang bahagia dengan istri dan dua orang anak yang akan memberinya masing-masing cucu. Ia menatap ponselnya yang kembali berkedip membuat ia kembali dari lamunannya yang sudah entah melayang membayangkan hal yang malah menambah pelik pikirannya.

Ia kembali membuka pesan yang baru saja masuk itu, alisnya berkerut begitu membaca isi pesan singkat itu.

'Ada apa? Kau seperti seseorang yang baru saja patah hati.'

Kyuubi berdecak sebelum membalas pesan yang membuatnya sedikit kesal itu. Orang ini seolah tahu saja apa yang dialaminya sampai-sampai menyimpulkan jika ia patah hati. Sejak kapan Namikaze Kyuubi patah hati, jika ada pun ia akan menghapuskan kalimat itu dalam kamusnya.

'Jangan menyangkal, aku tahu kau. Ada apa?'

Ia mendengus remeh saat membaca balasan pesan yang ia kirim, ia kembali membalas pesan itu seraya beranjak dari duduknya dan memilih untuk menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur King sizenya.

'Kalau begitu kenapa kau mengirimi ku pesan? Kau bilang aku menyebalkan kan.'

Kyuubi merengut saat ada pesan lain yang masuk saat ia tengah membaca isi pesan pertama. Ia membuka pesan kedua itu dan wajahnya kembali tertekuk dalam, orang ini benar-benar sangat ingin menunjukan bahwa ia tahu dirinya.

'Apa ini mengenai pertunanganmu? Shizune?'

'Kenapa dengan mudahnya kau membaca pikiranku, tapi dia tidak huh?' Batin Kyuubi bertanya dengan penuh sindiran.

Tok tok tok

Ketukan pintu mengalihkan perhatian Kyuubi, ia menatap pintu kamarnya denngan datar. "Siapa?" Tanyanya pada si pengetuk.

"Kyuubi, Shizune menunggumu di bawah. Temui dia,"

Kyuubi memejamkan matanya lelah, tidak bisakah sehari saja ia tak diberikan masalah. Ia beringsut dari tempat tidur dan berjalan menuju pintu kamarnya. Ia memutar kunci pintu itu dan membukanya, melihat sang ayah yang masih setia berada di depan pintunya.

"Hn." Ucap Kyuubi sekedarnya, ia menutup kembali pintu kamarnya dan berjalan melewati Minato tanpa sekali pun menengok atau sekedar melirik sang ayah.

.

.

"Kyuubi kun," Gadis bersurai hitam pendek yang tengah duduk dengan manisnya disofa ruang tamu langsung berdiri begitu ia melihat Kyuubi yang berjalan kearahnya. "Selamat siang," Sapa gadis itu.

Tanpa menanggapi sapaan ramah gadis itu, Kyuubi mendudukan dirinya di sofa single tepat disebelah dimana gadis itu duduk. "Ada apa kau kemari Shizune?" Tanya Kyuubi tanpa menatap gadis di sampingnya itu.

"Aku, ingin mengajakmu jalan-jalan." Jawab Shizune.

"Wah, itu bagus. Kyuubi pergilah, sebagai tunangan kau juga harus lebih mendekatkan dirimu dengan Shizune."

Kyuubi melirik ayahnya yang menepuk pundaknya pelan, tersenyum dengan wibawanya pada gadis yang tengah tersipu malu karena ucapan ayahnya barusan.

"Benarkan Kyuubi?" Tanya Minato pada anak sulungnya itu.

Remasan pada pundaknya membuat Kyuubi kembali melirik ayahnya, sepertinya ayahnya ingin ia untuk menjawab 'Ya' atas keinginan gadis di sampingnya ini.

"Hn." Jawab Kyuubi.

Minato tersenyum mendengar jawaban dari putranya itu, ia menatap Shizune yang tampak tengah tersenyum bahagia. "Nah, kalau begitu apa lagi yang kalian tunggu?" Ujar Minato.

Shizune melirik Kyuubi yang bangun dari duduknya dan melangkah melewatinya, ia hanya tersenyum melihat sikap Kyuubi yang cuek padanya itu.

"Minato jii-san, aku permisi dulu." Shizune mendudukan tubuhnya pada pamannya yang tak lama lagi akan menjadi ayahnya. Ia oun segera menyusul Kyuubi yang sudah berada di depan pintu mansion.

.

Shizune tersenyum saat melihat Kyuubi yang membukakan pintu mobil untuknya, sikap sopan yang selalu membuat hatinya berdebar saat berada didekat sulung Namikaze satu ini. Pintu mobil itu tertutup dan Kyuubi melangkahkan kakinya kesebelah pintu lain, mendudukan dirinya di depan kemudi.

"Kita mau kemana?" Tanya Kyuubi.

Gadis berambut hitam itu agak tersentak, terkejut mendengar suara Kyuubi. Ia bahkan tak menyadari jika sejak tadi ia selalu menatap sang pemuda. Mengalihkan pandangannya ke depan, Shizune berdehem pelan untuk mengusir rasa malunya.

"Te terserah, tapi sebenarnya aku harus mengecek gaun yang sedang kupesan." Jawab Shizune sembari menutupi blushing diwajahnya dengan sebelah tangan yang berpura-pura mengusap pipinya.

Kyuubi hanya mengangguk dan mulai menyalakan mesin mobilnya-milik ayahnya-. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan standar, menatap lurus jalanan di depannya dengan datar.

.

.

"Kyuubi kun, bagaimana menurutmu?" Shizune meliuk-liukan tubuhnya di depan tiga cermin full body di depannya, ia melirik Kyuubi yang tengah terduduk di sofa panjang di sebelahnya. Meminta pendapatnya akan gaun malam yang tengah ia kenakan.

"Kyuubi kun?" Panggilnya lagi, ia menatap Kyuubi yang tengah berpandangan lurus ke depan. Mengerutkan alisnya, gadis berambut hitam itu menatap arah pandangan Kyuubi. Alisnya semakin berkerut begitu melihat tak ada sesuatu yang menarik di sana. Hanya lalu lalang orang dari balik kaca besar tempat mereka berada.

"Kyuubi kun, apa yang sedang kau lihat?" Tanya Shizune.

Terkejut, Shizune hanya bisa mengikuti Kyuubi yang menarik tangannya dengan cepat dan membawanya melewati pintu toko yang mereka masuki. Ia terus berusaha menegur dan memanggil namanya, namun Kyuubi tetap melangkah dengan ia yang berjalan cepat di belakangnya.

"K Kyuubi kun! A ada apa? Kau mau kemana?" Tanya Shizune dengan gugup.

"Masuk!"

Terkesiap, Shizune hanya bisa melihat Kyuubi yang menatapnya garang. Raut yang selama ini tak pernah ia lihat dari calon tunangannya itu. Tak mau membuat Kyuubi menambah amarahnya, Shizune pun segera memasuki mobil yang ada di depannya. Membungkam mulutnya saat Kyuubi membanting keras pintu mobil di sampingnya.

.

.

.


*##########*###########*##############*###############*###############*##########*

o.O. Kagari Hate The Real World.O.o


.

Cklek

Naruto yang baru saja mendudukan dirinya di atas tempat tidur langsung menatap pintu rawatnya yang terbuka. Melihat seseorang yang berjalan memasuki ruangannya itu, ia hanya dapat mengerutkan alisnya saat tahu siapa orang itu.

Grep

"Sasuke?"

Dengan terbengong-bengong, Naruto menatap Sasuke yang tiba-tiba saja langsung memeluk dan membenamkan wajahnya pada ceruk lehernya. Agak ragu, ia pun membalas pelukan kekasihnya itu. Naruto mengelus punggung Sasuke, ia tak pernah melihat Sasuke seperti ini. Bukan karena kekasihnya itu tiba-tiba memeluk dirinya, tidak itu sudah biasa. Tapi ada yang berbeda, yang ia tak tahu apa itu.

"Ada apa?" Tanya Naruto selembut mungkin.

"Naruto."

"Nnh..Suke! I-ini bukan ruanganku." Naruto segera mencengkram lengan Sasuke dan berusaha menjauhkan tubuhnya saat ia merasakan tangan Sasuke yang menyelinap masuk ke balik jas dokternya dan meraba punggungnya pelan.

"Jangan hentikan aku." Ucap Sasuke serendah mungkin seraya terus menyapu leher Naruto dengan bibirnya. Menghirup dalam-dalam aroma kekasihnya itu, citrus yang terkontaminasi bau dari obat-obatan.

"Ruangan ini, ti-tidak..nnah.."

Sasuke mengelus lembut kulit punggung Naruto, mengarahkan tangannya naik dan kembali turun hingga kepinggang, menggelitik Naruto dengan jemarinya. Tangan satunya ia gunakan untuk membuka ikat pinggang pada jeans donker yang Naruto kenakan.

Kekasihnya itu mengerang saat ia menekan tangannya diantara selangkangannya. Dengan pelan, Sasuke mendorong Naruto ke belakang. Menidurkan ia di tempat tidur yang tengah didudukinya. Sasuke menatap wajah kekasihnya yang sudah dihiasi semburat merah, ia menunduk dan mengecup singkat kening Naruto.

"Aku mencintaimu." Bisiknya pada Naruto, membuat kekasihnya itu menatap ia dalam diam.

Segaris senyum nampak dibibir Naruto, ia mengangkat kepalanya dan mengecup pelan bibir Sasuke. Menjauhkan wajahnya, ia menatap lembut pemuda di atasnya itu. "Aku juga mencintaimu, Sasuke." Ucapnya seraya mengelus pipi Sasuke yang tengah memejamkan matanya, menikmati setiap sentuhan lembut pada pipinya.

Kembali Sasuke menyapu leher Naruto, menyusurinya dengan lidahnya. Menggigit kecil daerah sekitar lehernya hingga tanda kemerahan muncul pada setiap bekas gigitannya. Desahan Naruto membuatnya semakin ingin mempercepat kegiatannya. Ia menarik celana Naruto turun hingga berada di bawah pahanya, menggunakan sebelah kakinya untuk melepas seutuhnya celana itu dari kaki Naruto.

"Ngah!" Naruto mencengkram pergelangan tangan Sasuke yang dengan tiba-tiba menggenggam sesuatu diantara selangkangannya.

"Kau sensitif sekali Naruto." Bisik Sasuke, ia merendahkan suaranya. Menghembuskan napas hangatnya disekitar telinga dan leher Naruto, membiarkan napasnya menggelitik kulit tan itu.


.

.

.

.


Ckiit!

Mobil hitam itu berhenti dengan mengerem tajam, membuatnya hampir saja terselip kearah kiri. Pengendara mobil itu hanya menatap datar seekor kucing yang tengah berlari pontang panting terkaget dengan adanya mobil yang hampir menabraknya. Tidak mempedulikan seseorang disebelahnya yang sudah menampakan wajah pucat pasi, ketakutan dengan cara mengemudinya.

"K Kyuubi ku kun," Panggilnya dengan takut-takut.

Kyuubi memejamkan matanya pelan, ia memukul setir di depannya dan menggeram kesal. Membuat wanita disebelahnya lebih ketakutan sekaligus khawatir padanya. Wanita itu menepuk pundak Kyuubi dengan ragu, mencoba mengajak bicara pemuda itu.

"A ada apa? Kenapa kau seperti ini?" Tanya wanita itu.

"Ck!" Kyuubi menyentakan tangan yang bertumpu dipundaknya dengan kasar, ia menatap dengan tajam wanita disebelahnya itu namun sedetik kemudian ia membelalakan matanya saat melihat air mata yang mengalir dikedua pipi calon tuangannya itu.

Grep

Mata Shizune terbelalak, ia menatap Kyuubi yang tiba-tiba saja memeluknya erat. Sakit, hatinya seakan tertusuk saat melihat Kyuubi yang hampir saja memukulnya.

"K Kyuubi kun, jika a aku hiks.. punya salah. Ma maafkan aku, go gomennasai." Shizune menenggelamkan wajahnya pada dada pemuda yang tengah memeluknya itu. Ia sungguh sangat takut, khawatir melihat sikap Kyuubi yang seperti ini.

Kyuubi melonggarkan pelukannya, menatap wajah wanita yang tengah menangis dalam dekapannya itu dalam diam. Tangannya terangkat, ia mengusap lembut pipi Shizune. Menghapus aliran air mata yang ada dipipi wanita itu.

"Shizune, kau tahu aku tidak mencintaimu." Ucapnya dengan penuh perasaan, ia tidak ingin menyakiti sepupu sekaligus teman masa kecilnya ini. Ia juga mencintai Shizune, namun rasa cintanya sangat berbeda dengan apa yang dirasakan Shizune padanya. Ia mencintai wanita ini hanya sekedar sebagai saudara, sebagai sepupunya yang manis.

"A aku tidak peduli, hiks... aku mencintaimu. Aku akan berusaha membuatmu juga mencintaiku, Kyuubi kun!" Wanita itu terisak, ia menatap iris merah pemuda di hadapannya dengan sendu. Penuh dengan harap agar pemuda itu mau menerimanya.

"Kau wanita yang baik, aku tidak ingin melukaimu." Ucap Kyuubi, ia memejamkan matanya saat jari tangan Shizune menyentuh lembut pipinya.

Menggeleng, Shizune tersenyum pada pemuda di hadapannya. Ia menarik tubuhnya lebih dekat hingga beberapa centi di depan wajah pemuda beriris merah itu. Ia tak peduli jika ia harus merasakan sakit dengan Kyuubi yang tak merasakan hal yang sama dengannya. Ia mencintainya, sangat. Dari dulu hingga saat ini ia masih merasakan hal yang sama, cinta yang semakin besar pada dokter muda di hadapannya ini.

Shizune memejamkan matanya, menikmati setiap hembusan napas yang menggelitik kulit wajahnya. Membuka matanya kembali, ia menatap penuh keteguhan pemuda di depannya.

"Take me."

.

.

.

Desahan demi desahan terus terdengar dari kamar hotel bernuansa malam yang kini tengah dihuni oleh sepasang manusia. Bergerumul di atas ranjang besar yang berada di tengah ruangan. Pemuda bersurai orange red yang tengah menindih seorang wanita yang sejak tadi mengalunkan namanya dalam setiap desahan yang keluar dari kedua bibirnya.

Ia sakit, menyaksikan dirinya yang tengah menyetubuhi seseorang yang sudah ia anggap saudara. Sungguh, ia sangat tidak menginginkan ini. Sejak tadi perutnya terus-terusan berkontraksi mendorong naik isi lambungnya. Andai, andai saja ia membuka matanya dan melihat apa yang tengah ia lakukan sekarang. Sudahlah pasti ia akan mengeluarkan semua isi lambungnya itu.

Ia tidak ingin mengecewakan Shizune, seorang wanita baik-baik yang telah lama ia kenal hanya karena keegoisan dirinya yang tak membalas perasaan wanita ini. Setuju dengan pertunangan ini bukan karena ayahnya, ia sudah cukup muak dengan kehidupannya yang selalu dipasangi benang yang terhubung ketangan ayahnya.

Ia ingin hidup dengan caranya sendiri. Menjalaninya juga dengan keinginannya sendiri. Bukan hidup yang diatur oleh Namikaze Minato yang bergelar sebagai ayahnya. Namun sekali lagi, tak ada niatan darinya untuk melukai wanita ini.

"Ah!... Ah! Kyuubi kun!"

Sangat ingin ia tutup kedua telinganya saat ia mendengar namanya yang dilantunkan oleh sang wanita. Tidak ingin mendengar erangan dan desahan erotis yang sangat asing baginya ini. Ia merasakan tangan yang kini berada dilehernya menarik ia untuk mendekat, membuat bibir mereka bertemu dengan lumatan nafsu yang membumbung.

Panas

Matanya serasa sangat panas dikala ia yang tengah melakukan sex dengan calon tunangannya ini malah mengingat orang lain. Memikirkan orang lainlah yang melakukan ini padanya. Ironis, kenapa ia bisa berpikiran seperti itu. Dia saja... bahkan tak pernah memikirkan bagaimana perasaan yang kau rasakan Kyuu, Namikaze sulung itu tak bisa menahan air di sudut matanya hingga ia membiarkan setetes air yang lolos dari pertahanannya.


.

.

.


Shappire Naruto tak mampu lagi untuk membuka dengan Sasuke yang kini tengah melakukan sesuatu dengan –sesuatu- diantara selangkangannya. Rambut ravennya terus bergerak naik turun secara berulang-ulang membuat dirinya tak bisa menahan desahan yang keluar dari celah mulutnya. Merasakan bagaimana miliknya yang masuk ke dalam ruang lembab mulut Sasuke, lidahnya yang mengelus dan meliuk memberinya sensasi yang membuatnya sungguh terbuai dengan permainan Sasuke.

"A-ah!.. 'Suke..." Gigitan-gigitan kecil yang ia dapat membuatnya tergelitik dan refleks menjambak raven kekasihnya. Membuat Sasuke berdesis merasakan sakit karena rambutnya yang ia tarik. Pemuda raven itu menghentikan aktivitasnya dan beralih menatap wajahnya yang sudah seperti kepiting rebus.

Naruto hanya bisa mengalungkan kedua lengannya pada leher Sasuke saat kekasihnya itu merangkak naik ke atas tubuhnya. Mengecup bibirnya singkat dan ia menatap iris kelam di hadapannya dengan penuh rasa. "Kau tidak tahu betapa aku sangat mencintaimu, Sasuke." Ucapnya tulus.

Wajah datar di depannya melembut, memberikan sebuah senyuman yang tak pernah ditunjukan selain padanya. Senyuman yang hanya untuk dirinya seorang, bolehkah ia berpikir seperti itu. Mengklaim seluruhnya Sasuke hanya untuknya.

"Ahh!"

Ia mengerang, rektumnya mulai terasa panas dengan jemari Sasuke yang mulai memasukinya. Mendorongnya masuk lebih dalam hingga dinding rektumnya mulai meremas dan melahap setiap jari itu. Membuatnya masuk lebih jauh dalam tubuhnya. "Ngah!..."

"Nnnh..."

Naruto menggigit bibir bawahnya, berusaha untuk menahan suaranya agar tidak keluar. Menatap Sasuke yang mengisyaratkan ia untuk membiarkan suaranya terdengar. Naruto menggeleng, ini bukan ruangannya yang dipasangi peredam. Ia tidak ingin suaranya terdengar hingga ke luar dan menimbulkan kecurigaan.

"Buka mulutmu, Naruto." Ucap-perintah- kekasihnya itu padanya, tapi lagi-lagi ia menggeleng. Menolak untuk mengeluarkan suaranya.

Menggeram kesal, Sasuke mempercepat gerakan jarinya pada rektum Naruto. Membuat Naruto refleks berteriak tertahan karena terkejut dengan perbuatannya.

"Ah! Ah! Suke! Cu-cukup!..." Desah Naruto, ia menggelengkan kepalanya seraya menatap Sasuke yang menyeringai padanya.

"Hn, aku tidak suka kau menahan suaramu dobe." Ucap Sasuke, ia mencabut keluar jarinya dari rektum Naruto dan segera menggantinya dengan miliknya. Sekali hentakan dan langsung masuk secara keseluruhan.

"HYAAKH! A-Ah! Sasuke!"

Naruto segera menutup mulutnya dengan sebelah tangan, mengerang frustasi saat suaranya tetap keluar meski ia telah menghalangi mulutnya dengan menggigit kecil lengan jas dokter yang ia kenakan.

"Guh..." Sasuke menutup sebelah matanya erat merasakan miliknya yang dijepit dengan keras oleh dinding rektum Naruto, membuatnya bahkan sulit mengatur napasnya. "Na-Naruto, rileks. Jangan menghimpitku terlalu kencang."

"Ngeh! HAH! A-AH!" Naruto menggeleng keras, sakit saat kejantanan Sasuke yang memasukinya terlalu dalam. Air matanya mengalir turun pada bantal putih yang menyangga kepalanya.

"Keluarkan suaramu Naruto."

Naruto menggeleng, ini bukan ruangannya. Ia bahkan tahu jika suara teriakannya barusan dapat terdengar dari luar. Tapi ia juga tahu jika kekasihnya ini tidak suka penolakan, apa lagi disaat melakukan sex seperti ini dan tatapan tajam dari kekasihnya membuktikan hal itu.

Perlahan Naruto menyingkirkan lengannya yang ia gunakan untuk menutupi mulutnya. Dengan sedikit sesenggukan ia menatap wajah kekasihnya yang mulai melembut. Ia mengangguk mengiyakan saat Sasuke mulai menarik sebagian miliknya keluar. Ia melenguh menikmati gesekan pelan antara dinding rektumnya dengan milik Sasuke.

"A-ngh! ...Ah...Ah!"

Sasuke mendorong pinggulnya, menyentakan miliknya lagi dalam tubuh Naruto. Menarik dan kembali mendorongnya secara berulang-ulang, menikmati bagaimana lenguhan, desahan dan erangan yang keluar dari bibir Naruto. Menikmati setiap ekspresi puas saat ia lagi dan lagi menyentuh sweetspotnya, menyentuh tepat diprostatnya.

Jari-jari tangan Sasuke merayap(?) ke belakang pinggang Naruto, membuat tubuh di bawahnya itu sedikit naik dan menariknya hingga tubuh itu tersentak hingga terduduk di pangkuannya.

Napas Naruto terengah-engah dengan kepala yang tersandar pada bahu Sasuke, ia berusaha mengatur napasnya namun mengerang protes saat Sasuke meremas bokongnya dengan tidak pelan. Ia sedikit mendongak menatap kekasihnya yang tengah sibuk menciumi pucuk kepalanya.

"Kau membuatku mabuk." Bisik Sasuke. Ia menjilat telinga Naruto, melumatnya dengan gemas hingga Naruto mendesah seraya mencengkram pelan pundaknya. "Kau tidak tahu betapa tubuhmu sangat memabukan," Ucapnya disela lumatan yang ia lakukan.

"Betapa kau membuatku ketagihan,"

"Nneh..." Naruto mengerang, Sasuke memegangi pinggulnya dengan erat. Menekannya hingga rektumnya melahap milik Sasuke hingga pangkalnya.

Sasuke mengangkat sedikit tubuhnya hingga bertumpu pada kedua lututnya, sedikit mengangkang dan mulai menggerakan miliknya lagi. Keluar lalu masuk dan keluar lagi, memperdengarkan desakan nafsu yang ada dalam dirinya keluar. Menghentakan pinggulnya ke atas hingga tubuh dalam pangkuannya ikut terlonjak naik turun.

"Ha-ah! Ah!... A-ah! 'Suke..."

Naruto memejamkan matanya erat, percuma saja untuknya meredam suaranya. Gelonjakan nafsu tak bisa lagi membuatnya berpikir rasional, yang ia tahu sekarang hanyalah mendesah sekeras mungkin saat kekasihnya memberikan kenikmatan pada rektumnya.

Tubuhnya mengejang, ia tak bisa lagi menahan hasratnya yang sejak tadi ingin keluar. Tangan Naruto beralih menyentuh miliknya namun segera dihalangi oleh tangan Sasuke yang menggenggam tangannya.

"Kau tidak boleh menyentuhnya." Ucap Sasuke seraya membawa tangan dalam genggamannya mendekati wajahnya.

"Nnh...ta tapi, aku-"

"Atau aku akan membuatmu mendesah lebih keras."

"U-ungh..." Naruto melenguh saat jari jemarinya yang ada ditangan Sasuke dijilat dengan gerakan menggoda, membawa lidah itu menyusuri setiap buku-buku jarinya dan berakhir denngan memasukan jarinya ke dalam rongga basah diantara belahan bibir Sasuke.

Naruto menggigit bibirnya sendiri melihat setiap gerakan lidah Sasuke pada jarinya. Matanya yang menatap tanpa berkedip dengan wajahnya yang sudah memerah sempurna.

"Aku ingin melihatnya menyembur tanpa sentuhan." Setelah mengucapkan hal itu ia kembali menidurkan Naruto, membuatnya terlentang dengan sebelah kaki yang diangkat Sasuke di pundaknya.

Desahan-desahan erotis pun kembali terdengar saat Sasuke kembali menggerakan miliknya, menambah erangan nikmat kekasihnya itu. Mengalun, meluncur mulus dari kedua bibirnya. Sasuke mendekatkan wajahnya, meraup bibir basah Naruto dengan rakus. Memasukan lidahnya ke dalam mulut Naruto, mengadu lidahnya menghisap kuat lidahnya hingga erangan Naruto semakin keras terdengar ditelinganya.

"Nnnnh!... A-ah! HAAH!"

Naruto melepaskan ciuman itu secara sepihak, ia mengerang keras saat cairan milknya menyembur keluas dan membasahi daerah sekitar perutnya dan juga Sasuke. Napasnya terengah menikmati klimaksnya.

"Aku belum selesai Naruto." Naruto menatap Sasuke dengan mata yang setengah terbuka, ia mengangguk dan mengalungkan tangannya pada leher Sasuke. Namun ia mengernyit saat Sasuke menarik keluar miliknya dan beranjak dari tempat tidur.

"Sasuke?" Ia memanggil kekasihnya yang tengah berdiri di samping tempat tidur dengan bingung namun ia sedikit terkejut saat Sasuke menarik pinggangnya dan memposisikannya sejajar dengan dengan tempatnya berdiri.

"AAH!" Naruto berteriak merasakan rektumnya yang melebar paksa karena Sasuke yang langsung memasukan seluruh miliknya. Meski pun rektumnya itu telah basah, tapi tetap saja dipaksa melebar itu sakit.

"AAAAH...AH!"

Sasuke terus menggerakan miliknya, merasakan setiap gesekan dan remasakn yang diberikan rektum Naruto padanya. Ia terus bergerak dengan mata yang memandangi wajah Naruto. Saliva yang mengalir disudut bibir Naruto sangat menggodanya untuk kembali mencumbunya. Ia menundukan tubuhnya dan menjilat lelehan saliva yang mengalir di sudut bibir Naruto, menjilat pipi penuh peluh itu dengan gerakan menggoda.

"A ah! A-AH!"

Sasuke berdesis saat cairannya mulai mengalir memenuhi miliknya. Ia kembali menegakan tubuhnya dan mempercepat gerakan pinggulnya, menubruk belahan pantat Naruto hingga tubuh di bawahnya itu terhentak maju beberapa kali, seirama dengan hentakan yang ia lakukan pada bagian bawahnya. Ia kembali berdesis begitu cairannya keluar, menyembur membasahi dalam raktum Naruto.

"Ka-kau hah terlalu ba-banyak." Ucap Naruto disela napasnya yang terengah.

Sasuke menyeringai mendengar ucapan kekasihnya barusan, ia menunduk dan mengecup singkat bibir yang tengah terbuka itu. "Aku bisa memberimu lebih banyak jika kau mau."Dan ucapan Sasuke barusan sukses membuat Naruto membeku dengan apa yang Sasuke lakukan setelahnya.

Kita tinggalkan pasangan yang tengah memadu kasih gula merah dan putih di atas dengan seseorang yang ingin sekali menyumbat telinganya di luar ruangan yang digunakan pasangan Sasuke-Naruto. Siapa lagi jika bukan pemuda bersurai coklat panjang dengan iris langkanya yang tengah dengan Bad Mood-nya mendengar desahan-desahan dari balik dinding tempatnya duduk.

Hyuuga Neji yang sudah tak bisa menahan racun pikirannya itu segera melangkan kakinya menjauh dari TKP dan memilih berdiri di depan kaca besar rumah sakit seraya melihat keluar, memperhatikan jalan raya yang tengah dipenuhi kendaraan bermotor yang berlalu lalang. Ia jadi teringat dengan kejadian tadi pagi, sungguh kejadian yang takkan pernah bisa ia lupakan.


.

.

.

Neji mengendarai motornya dengan kecepatan di atas rata-rata, masih pagi dan belum terlalu banyak kendaraan yang turun kejalanan. Sudah lama sekali ia tak mengendarai motornya ini karena kesibukannya yang sebagai seorang model dan ia tak mau keahlian bermotornya dengan tiba-tiba menjadi kaku hanya karena ia jarang menggunakannya.

Ia mengernyit saat merasakan getaran kecil pada kantung kiri celananya, ia menunduk dan meraba kantung celananya itu. Mengambil ponselnya dari sana dan menatap dengan malas pada layar ponselnya, lagi-lagi manager cerewetnya itu menghubunginya.

Memasukan ponselnya kembali, ia memutuskan untuk mengabaikan panggilan dari managernya dan mengembalikan perhatiannya pada jalanan di depannya namun matanya langsung membulat sempurna dan dengan cepat ia mengerem motornya hingga ban belakangnya terangkat cukup jauh dari jalanan. Neji segera turun dari motornya dan menghampiri seseorang yang tengah terduduk ditanah sembari menepuk-nepuk kedua telapak tangannya.

"Kau baik-baik saja?" Tanya Neji pada pemuda bersurai merah bata yang kini tengah sibuk memunguti kertas-kertas yang tergeletak tak jauh darinya.

"Apa kau terluka? Perlu ke rumah sakit?" Tanya Neji lagi seraya membantu memunguti kertas yang berada paling dekat dengannya.

Pemuda bersurai merah bata itu mendongak, menatap Neji yang memasang wajah khawatir padanya. Ia memutuskan untuk berdiri dan menolak ketika bocah SMA-yang ia lihat dari seragam yang dikenakannya- di depannya menjulurkan tangan untuk membantunya.

Neji menatap pemuda di depannya dengan wajah khawatir, melihat pemuda di depannya mendongak dan menatapnya balik dengan pandangan datar. Namun, ia menelan ludahnya dengan paksa saat melihat iris bagai batu emerald yang sangat-sangat 'Indah.' Batin Neji tanpa sadar.

Pemuda itu menatap dengan datar bocah yang sekarang malah melongo dengan tampang yang menurutnya aneh di depannya. "Jika kau buta, tidak usah memaksakan diri untuk naik motor."

Jleb!

Neji mengerjap-erjapkan matanya saat mendengar untaian kalimat yang ia dengar dari pemuda di depannya. Kata-kata yang tepat untuk membuatnya jatuh setelah naik sangat tinggi kelangit. Ia menatap pemuda itu dengan bingung. "Maaf?" Ucapnya yang sepertinya masih belum mengerti.

"Dan jika kau buta warna kusarankan secepatnya pergi kedokter."

Tidak seperti biasanya, sekarang Neji merasa ia mengalami loading lama yang sangat bukan dirinya. Ia menatap pemuda di depannya dengan alis berkerut.

"Ha hah?"

"Aku tidak punya mengurusi pemuda buta dan tuli sepertimu, permisi." Pemuda itupun melangkah menjauhi Neji yang masih sangat lamban untuk mencerna situasi keadaan dan ucapan dari sang pemuda.

"Dia manis sekali~" Gumam Neji seraya melihat punggung pemuda yang sudah mulai menjauh dari pandangannya, "Hati-hati di jalan!" Ucapnya yang tentu saja tidak akan bisa di dengar oleh pemuda tadi dan jangan lupa dengan tangannya yang melambai-lambai bak mengatakan 'sampai jumpa lagi' itu.

'Ya Kami sama, chara Kishimoto sama satu ini telah dengan berhasil dan suksesnya dibuat nista oleh saya sebagai penulis tidak bertanggung jawab' Batin author yang tengah merana meratapi kenistaannya.

.

.

.


Neji menghela napasnya, benar-benar. Sebenarnya siapa pemuda itu, ia benar-benar merasa bodoh jika melihat dirinya yang bersikap sangat memalukan saat itu. Kenapa juga ia tidak menanyakan nama pemuda itu. Pemuda bersurai merah bata dengan iris emerald-nya yang indah dan sekarang ia seperti orang frustasi karena terus menghela napasnya sejak beberapa jam lalu.

Ia melirik jam ditangannya yang sudah menunjukan pukul lima sore dan menolehkan kepalanya ke ujung koridor, ruangan tempat Sasuke masuk tadi. Dalam hati Neji hanya bisa tertawa gugup mengetahui betapa prevert sahabatnya itu. Sudah berapa jam mereka melakukan ini dan itu di dalam sana.

Menggelengkan kepalanya, Neji memilih untuk tidak memusingkan pemikirannya barusan. Lebih baik ia pergi ke kantin, membeli minuman dan sesuatu untuk mengganjal perutnnya yang mulai membunyikan alarm. Memasukan kedua tangannya dalam kantung celana, Neji melangkahkan kakinya menyusuri koridor untuk mencapai lift terdekat dari tempatnya.

Sembari menunggu pintu lift terbuka, ia memutuskan untuk memanikan ponselnya untuk sekedar iseng namun lagi ia harus menunjukan tampang malasnya pada sang ponsel karena didepatinya dua puluh tujuh panggilan tak terjawab dan empat puluh lima pesan yang masuk.

Ia mendongak begitu mendengar bunyian dari lift di depannya, ia memasukan ponsel hitamnya kembali ke dalam kantung celananya dan melangkahkan kakinya memasuki lift saat-

Brugh!

Grep!

Sraak!

Neji terpaku menatap seseorang yang tengah berada dalam pelukannya dengan satu tangannya yang berada dipinggang dan tangan yang lain menahan lift agar tetap terbuka. Seseorang yang dengan tatapan datar yang sama, rambutnya yang sama, seseorang dengan iris emerald-nya yang indah.

Sebelum itu, mari kita perjelas apa yang sebenarnya terjadi beberapa detik sebelumnya.

Neji melangkahkan kakinya memasuki lift saat dengan tiba-tiba setumpukan kertas sudah berada di depannya dan tentu saja sangat bisa dipastikan jika tumpukan kertas itu akan menambak dirinya. Kertas itu berjatuhan dengan seseorang yang dilihat Neji limbung ke belakang dengan posisi akan jatuh. Ia segera menarik orang itu kearahnya, menahannya agar tidak jatuh hingga akhirnya sebelah tangan Neji melingkar dengan manis pada pinggang ramping orang itu.

"Bisa lepaskan aku."

Tersentak, Neji segera menarik tangannya yang masih setia melingkar pada pinggang orang di depannya. Ia segera menunduk dan memunguti kertas-kertas yang berserakan di dalam dan luar lift, sepertinya ia merasakan de ja vu dengan apa yang tengah ia alami sekarang hanya saja kali ini lebih baik. "Maaf, aku tidak melihatmu." Sesal Neji, sebenarnya bukan sepenuhnya salahnya juga sih.

Orang di depannya hanya mengangguk dan memunguti kertas-kertas yang tersisa dan mengambil kertas yang berada ditangan Neji. "Permisi." Ucapnya sebelum melangkah keluar dari lift.

'Manis.' Batin Neji. Ia mengerjapkan matanya saat ia hampir melupakan satu hal, ia menyembulkan kepalanya keluar lift dan melihar orang tadi sudah lumayan jauh darinya. "Hei! Siapa namamu!" Ucap Neji dengan sedikit mengeraskan suaranya tapi orang itu tetap melangkahkan kakinya menjauh tanpa menyahuti Neji.

"Gaara kun!"

Neji menoleh ke asal suara barusan, melihat seseorang dengan jas dokter berlari-lari kecil melewatinya dan berjalan menuju orang yang kini menghentikan langkahnya dan sepertinya menunggu sang dokter berkacamata itu.

Ia tersenyum penuh makna sebelum pintu lift benar-benar menutup sempurna, 'Gaara, nama yang bagus.' Batinnya.


.

.

.

Kyuubi terduduk di samping ranjang besar yang kini nampak sangat berantakan, menangkup wajahnya dengan frustasi dengan kedua tangannya yang menumpu pada lututnya. Apa yang telah ia lakukan, kenapa ia mengiyakan begitu saja pemintaan wanita yang kini tengah tertidur akibat kelelahan setelah 'bermain' di depannya.

Ia melirik wanita yang tengah tertidur pulas di sampingnya, sekarang ia ingin sekali tertawa hingga perutnya terasa sakit. Menertawakan betapa bodohnya ia yang terbawa suasana. Sekarang bukankah ia tak bisa lagi untuk menghindar. Haruskah ia terima itu.

.


To Be Continue

.

Omake 1

Kyuubi tengah menatap dengan malas lalu lalang pejalan kaki yang berada di balik kaca besar tempatnya berada sekarang. Ia terlalu malas untuk memperhatikan Shizune yang tampak sedang asyik sendiri dengan pakaian yang tengah ia coba. Namun napasnya langsung tercekat saat ia melihat sesuatu di sebrang jalan di depannya. Seseorang, tidak dua orang yang amat ia kenal tengah bergandengan tangan keluar dari sebuah cafe. Seseorang yang selalu muncul dalam pikirannya, seseorang yang membuatnya merasa bukan dirinya lagi.

Menahan rasa sakitnya, ia menarik paksa wanita yang nampak tengah berbicara sesuatu padanya dengan cepat dan keluar dari tempat itu. Membuka pintu mobilnya dan menyuruh wanita yang tadi ia tarik untuk masuk kedalam mobil. Membanting keras pintu itu dan segera memasuki mobilnya, menyalakan mesin mobilnya dan menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Sakit, kenapa dadanya sangat sesak hingga ia sulit untuk sekedar bernapas. Kenapa ia harus melihat kebersamaan dia dengan orang lain.

.


Omake 2

Kedua tangannya terkepal dengan erat pada stir mobilnya, menyalurkan amarahnya yang sudah cukup lama ia tahan saat mengetahui di mana ia berada sekarang. Iris onyx-nya terlihat berkilat tak suka dengan apa yang dilihatnya, seorang pemuda bersurai orange red yang kini tengah memasuki lobi hotel dengan menggandeng seorang wanita di belakangnya.

Ia mengeratkan genggamannya pada stir hingga jari-jarinya memutih pucat. Semua rencananya memang berjalan sesuai keinginannya dan hanya melenceng satu tahapan dari apa yang dipikirkannya. Marah, ia sangat marah pada dirinya yang bisa-bisanya tak menduga hal seperti ini akan terjadi.

"Well, selamat untuk rencanamu Itachi."

Kata-kata yang keluar dari pemuda blonde panjang di sampingnya tak lagi ia hiraukan. Sekarang tidak ada yang bisa membuat amarahnya ini mereda, meski ia sudah menetapkan hatinya dan pikirannya jika ini semua untuk keberhasilan dari rencananya.

Itachi memejamkan matanya dengan berat, ia harus tenang jika tidak semuanya akan hilag dari kendalinya. Tidak apa-apa, ini hanya bagian dari rencananya. Itulah yang sekarang coba ia terapkan dalam pikirannya agar ia tak melakukan hal yang sangat ingin dia lakukan sekarang. Ingin sekali ia menerobos masuk ke dalam hotel itu dan mendobrak paksa pintu kamar yang digunakan dia dan menyeretnya keluar dari tempat itu.

Tapi ia tidak bisa, jika ia bertindak sembrono seperti itu. Rubahnya tidakakan pernah benar-benar menjadi miliknya.

.

.

.


Benar-benar TBC XD

Balas Review :

ristia15 :

Nih sudah dilanjut!

Makasih sudah review ^^

Gunchan CacuNalu Polepel :

Eh? Bling-bling kenapa? -,-a

Mau M-Preg nih ceritanya~ hmm? Wani piro! #plak!

Kita kihat nanti ya~ ^^
Yang ItaDei silahkan tanya sama Mbah Oro yang ngumpet di kolong meja, nggak ada hubungannya sama penulis. Terima kasih *lha? lu kan yang nulis!*

Makasih sudah review ^^

kkhukhukhukhudattebayo :

Ckck,
Iya tuh, Si Kyuu Tsundere sih. Ngerasa sendiri kan tuh gimana sakitnya dikerjain Itachi!
Mengenai bersatu atau nggaknya, um belum kepikiran XD

Iya Itu foto Sasu ma Naru, mengenai dapat dari mana. Di sini dijelasin kok! #Dikit
Kalau Naru sih, sedikit berbeda masalahnya dengan Kyuubi, bukan dijodohkan tapi yah hal lain lah..

Makasih sudah review ^^

KyouyaxCloud :

Sama! Aku juga suka ItaKyuu! ^^ #Tosh!

Mengenai Naru, tebak-tebak buah kelapa aja ok! Nanti juga dapat gambarannya kalau baca chapter ini. XD

Makasih sudah review ^^

devilojoshi :

Yep! Aku nggak suka Sakura, jadi yah wajar kujadiin antagonis XD #hajard Sakura fan

Mengenai setuju apa nggak tuh Si Kyuu tunangan, nih jawabannya ada di sini XD
Untuk foto juga.

Tapi untuk Sai... ==a

XC aku belum kepikiran~ hiks... tadinya mau dimunculin di sini, ta tapi karena WB aku lupa plotnya T^T, gomenne~~~!

Makasih sudah review ^^

ainiadira :

Untuk kejadian NejiGaa, aku dah buat khusus buat kamu~ #plakkk!

nggak deh, buat semua reader biar adil XD

Naru emang kecapean ngelayanin si Teme Ayam Mesum itu.. buu~h, kalau aku jadi Naru mending jadi seme Gaara deh! #Dikroyok Sasuke sama Neji.

Makasih sudah review ^^

laila. r. mubarok :

Tenang, di sini Kyuu bakal lebih depresi #plak!

yang bagian Neji ma Sasu tuh aku sendiri ketawa.. ampun deh ni Chara Kishimoto sama dibikin ancur sama author sableng =="

Makasih sudah review ^^

kinana :

Kinana san! Tanggung jawab, kamu dah bukin aku WB akut! #plakkk! *nyalahin orang*

Just Kinding XDDD

Hati-hati ntar di chidori Sasu loh ngomong begitu~

Makasih sudah review ^^

onyx shappireSEA :

Ok!

Ah, Kyuubi mah kapan tau sadarnya ==" #plakkk!

Di chapter ini dia malah tambah ngerumitin diri sendiri, buuh~ -3-

Makasih sudah review ^^

shizu indah :

Makasih :")
Eh? Berpikir? Ini kan bukan fic misteri yang banyak teka-teki ==a

Hehehe XD Makasih sudah review ^^

Ra-chanMiawMiaw :

Siiip dah! Di chapter ini ada dua lemon yang err... Satu Yaoi satu lagi straight XC

Aku nggak suka lemon straight! #Teriak pake salon

Tapi sayang itu dibutuhin buat ke depannya

Makasih sudah review ^^

virgi. t. andini :

Yosh! Udah dilanjut nih!
Baca ya! Jangan panggil senpai, panggil Kagari atau Nick aja ok!

Makasih sudah review ^^

No name :

Wah, banyak yang ngira Naru hamil ya, entahlah.. belum bisa kujawab sekarang XD

Makasih sudah review ^^

Iria-san :

Hohoho, tenang saja. DI chapter ini yang ngegalau bukan cuma Kyuubi tapi sang seme alias Itachi juga ikutan ngegalau.. hehehe..

Yuph! Di sini ada NejiGaa~ *melambai-lambai*

Hu'um, Kyuu emang bawa mobil kok! Tenang aja mobilnya masih aman di rumah kakanda 'Tachi n belum n ga bakal balik sampai nanti Kyuu sendiri yang nyamperin. XD

Makasih Iria-san reviewnya ^^

Indahyeojasparkyuelfsarangha e Kim Hyun Joong :

Aku shok liat namamu yang panjangnya naujubilah *geleng-geleng kepala*

Iya nih, do'ain ya semua NejiGaa-nya jadi #plak!

Aduh O..O, kamu tega bener ya bilang Naru kena kanker otak! Tapi nggak papa, ntar genre-nya ku ganti jadi angst *diinjek rame-rame*

Makasih sudah review ^^

nasusay :

Tenang, di chap ini SemeUke pada ngegalau semua kok!

Nggak Kyuubi, Nggak Itachi serba galau deh!

Naru nggak apa-apa kok, tenang saja XD

Iya, Ntu si buta dari jalan raya nya Neji XD

Makasih sudah review ^^

.

.

A/N : Jadi apa kalian kecewa dengan chapter ini?

Saya lagi kena WB parah karena baru saja menyadari jika semua cerita yang saya buat ternyata tidak ada yang masuk dalam kategori bagus T^T, gomennasai jika chapter ini terasa sangat dipaksakan plotnya.

Yang masih bersedia membaca, Doomo Arigatou m(-,-)m